Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 39


__ADS_3

Setelah membawa Lingga ke rumahnya, Farrand langsung memapahnya ke dalam kamarnya. Tak ada pilihan lain baginya, kamar tamu masih kotor karena belum ia bersihkan, dan untuk memakai kamar ayahnya, ia tak mau. Ia tak ingin nanti jejak aroma Lingga tercium hidung sensitif milik ayahnya dan berakhir dengan kemarahan sang ayah karena membiarkan Lingga menginap tanpa pengawasan.


Setelah memastikan Lingga tertidur dengan tenang, ia pergi untuk mengganti mobilnya dengan motor sport sang ayah yang tadi ia gunakan. Malam sudah larut, dan ia yakin jika jalanan sangat sepi. Ia tak peduli jika perutnya lapar karena belum makan malam sama sekali. Tapi biarlah, ia tak mau ambil pusing tentang hal itu. Ia bisa makan malam setelah tugasnya mengantar mobil itu ke kandangnya.


Tak butuh waktu lama, Farrand telah kembali ke rumahnya dan mendesah lega saat melihat Lingga telah tertidur pulas. Ia tenang melihat raut wajah itu, raut wajah Lingga yang menyiratkan kenyamanannya namun di sana juga terdapat beberapa bulir keringat. Farrand tak tau mengapa, karena setahunya suhu di kamarnya cukup normal. Apakah kurang dingin atau Lingga demam?


Puas memandangi wajah damai Lingga, ia bergegas ke meja makan dan mulai menghangatkan beberapa makanan yang sudah mendingin. Ia menyantap dalam diam dan menyimpan sisanya di kulkas karena sisanya masih terlalu banyak dan sayang untuk dibuang. Ia tak bisa makan lebih banyak seperti biasa, kondisi waktu yang telah larut membuatnya hanya bisa makan sedikit. Bukan karena diet atau apa, ia hanya tak terbiasa makan di larut malam.


Kejadian beberapa jam lalu yang menurutnya sangat singkat itu ternyata bisa membuatnya terus berpikir dan tak bisa tidur. Di kepalanya masih terbayang bagaimana tersiksanya Lingga dan bagaimana wajah syoknya saat melihat Farrand memakai mobil itu. Ia menghela nafas pelan, berjalan perlahan dan mengambil duduk disamping ranjangnya yang kini ditempati Lingga.


"Fa-Farrand...."Bisik Lingga dalam tidurnya. Farrand mengernyit, entah Lingga mengigau atau apa. Yang jelas bisikan itu cukup bisa didengar oleh kedua telinganya.


"Aku disini." Balas Farrand. Ia menjulurkan tangannya dan meraih tangan kiri Lingga yang terkulai lemah disisi tubuhnya.


Mata Lingga perlahan terbuka dan menampilkan sepasang mata kelam miliknya. Ia menoleh ke penjuru ruang, dan matanya berhenti tatkala ia menemukan Farrand berada disisi ranjang yang ia tempati.


"Di mana aku?" Lirihnya.


"Di kamarku. Aku tak bisa membawamu ke apartment karena aku akan cukup kesusahan membawamu kedalam. Kau tau bukan jika apartmentmu dilantai atas?."


Lingga mengangguk maklum, dengan perlahan ia mencoba bangkit dan dengan sigap, Farrand membantunya hingga posisi Lingga menjadi terduduk dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Kau masih merasa pusing?" Tanya Farrand. Lingga mengangguk pelan. Sejujurnya ia tak hanya merasa pusing, namun juga merasa lapar karena bagaimanapun juga ia tak makan malam. Ingin ia katakan hal itu pada Farrand, namun sebuah ego seperti melarangnya.


"Mau ku buat kan susu hangat?"


Lingga mengangguk.


Ia merasa senang karena Farrand dengan sebegitu pengertiannya menawarinya hal yang ia inginkan. Tak apalah jika ia lapar, mungkin segelas susu bisa mengganjal perut kosongnya.


"Tunggu sebentar ya, aku akan membuatkannya untukmu."


Lingga mengangguk lagi. Setelah kepergian Farrand ia mengedarkan pandangan kembali dan menelusuri setiap jengkal ruang kamar Farrand. Tak banyak foto disana, hanya ada sebuah foto sendiri milik Farrand dan sebuah lagi foto keluarganya saat masih lengkap. Disana Farrand terlihat menggemaskan, ia tebak mungkin saat foto di ambil usia Farrand belum mencapai 6 tahun.


Setelah puas melihat foto Farrand, matanya bergulir pada jam di dinding. Disana menunjukkan waktu pukul 1 dini hari. Wajar saja jika suasana terasa begitu sepi dan mencekam.


Cklek...


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Farrand yang berjalan dengan nampan di tangannya. Bibir Lingga tersenyum tipis kala ia melihat senyuman juga bertengger di bibir milik Farrand.


"Aku bawakan kue kering juga. Ku pikir tak enak jika meminum segelas susu hangat tanpa kudapan." Ujar Farrand.


"Tak masalah. Terimakasih sudah mau merawatku, Fa."


"Apa yang kau bicarakan, Ling. Sudah sewajarnya aku merawatmu. Biar bagaimanapun juga aku turut andil dalam buruknya kondisimu sekarang ini."


Lingga menunduk.


"Jika saja aku langsung menuruti permintaan Ava, tentunya ia pasti tak akan menargetkanmu sebagai sandra untuk memancingku." Sambung Farrand.


"Tidak. Itu bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga terlalu lemah hingga tak bisa berkutik saat dua orang itu melakukan sesuatu padaku."


"Ngomong-ngomong tentang hal tadi, Ava mengatakan padaku jika dia memberimu viagra. Benarkah itu?"


"Dari mana...."


"Aku tau karena aku sempat bervideo call dengannya dan melihatmu dalam kondisi yang menurutku tak baik."


Lingga menghentikan memakan kudapannya dan meminum susunya hingga tandas separuhnya,"Aku tak tau. Yang ku ingat hanya setelah kedatangan Ava dan dua orang itu, ia menyuntikkan sejenis obat padaku dan setelah itu aku kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit. Setelahnya tubuhku terasa panas, kepalaku pening dan....."


"Dan....?" Ucapan yang terhenti dari Lingga membuat Farrand merasa penasaran akan kelanjutannya.


"Aku merasa bagian bawahku berdenyut nyeri. Kau tau, maksudku..."


"Aku mengerti. Tapi bagaimana keadaanmu untuk saat ini?" Farrand langsung memotong ucapan Lingga dan mengalihkan pembicaraan dengan bahasan yang lain.


"Sudah lebih baik. Tapi masih terasa pusing meski tidak sesakit tadi."


"Mau ku ambilkan obat pereda sakit kepala?"


Lingga menggeleng,"Nanti bisa hilang dengan sendirinya." Ucapnya.


"Benar tak masalah?"


Lingga kembali menggeleng.

__ADS_1


"Susunya habiskan ya? Kalau lapar, aku bisa menghangatkan makanan untukmu."


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin mandi. Mau ikut?" Seringai jahil muncul di wajah Farrand. Lingga yang melihat seringai itu entah mengapa juga ingin menjahili Farrand.


"Boleh. Aku bisa menggosokkan punggungmu nanti."


Blusshhhh...


Wajah Farrand memerah sempurna, ia tak menyangka jika Lingga akan menanggapi gurauannya. Ia tadi berfikir mungkin Lingga akan tersipu malu dan berakhir dengan wajah memerah. Namun khayalan itu hanya tinggal khayalan, nyatanya Lingga bisa membalik keadaan dan berakhir dirinya yang tersipu malu.


"Bodoh." Bisiknya.


"Siapa yang kau sebut bodoh? Bukankah kau tadi yang mengajakku? Aku hanya menerima tawaranmu."


Farrand melenggos, ia mengucutkan bibirnya dan berbalik meninggalkan Lingga yang masih duduk bersandar di ranjangnya.


"Habiskan susu dan kudapannya. Jika aku selesai mandi belum habis juga, akan ku jejal kan paksa kedalam mulutmu."


Glup.


Lingga merinding saat mendengar ucapan bernada horor dari Farrand. Ia memilih menurut saja, toh bagaimanapun juga dia sedang lapar. Jadilah ia menghabiskan kudapan itu dengan sukarela.


Jujur saja Lingga masih dalam keadaan belum sehat sepenuhnya. Efek obat yang disuntikkan padanya masih belum hilang meski Ava mengatakan jika ia telah memberi penawarnya. Kepalanya terasa pening, dan entah bagaimana bagian bawahnya kini terasa berdenyut kembali.


Mencoba mengalihkan rasa sakitnya, Lingga mencoba mengingat kembali apa yang telah ia alami tadi. Matanya terpekur dan ingatannya terpaku pada saat Farrand selesai balapan. Ia pasti tak salah mengingat, dan ia yakin juga dengan pandangannya saat itu meski ia tidak dalam kesadaran yang penuh. Saat itu, saat di mana Farrand keluar dari mobil yang ia cari-cari. Mungkinkah? Jika orang yang selama ini Lingga cari-cari sebenarnya ada di dekatnya?


Mencoba mengingat lebih jauh, ia yakin dengan postur tubuh itu, postur tubuh orang yang menolongnya itu cocok dengan paman Arasya. Dan..... ya! Lingga ingat! Orang yang menolongnya juga memiliki iris dan postur tubuh sepertinya. Sial! Mengapa ia baru menyadarinya sekarang? Jika saat itu adalah paman Arasya, bukan mustahil jika Farrand memiliki kemampuan hebat sebagai pembalap maupun navigator. Ingatan-ingatan kembali tentang Farrand kini berkelabat ringan dipikirannya. Ia ingat lagi sekarang, Farrand pernah mengatakan jika ia sering menemani ayahnya berkendara. Apa mungkin ia di ajak saat mengikuti balapan juga? Jika iya, tentulah masuk akal akan semua kemampuan Farrand di balik kemudi yang menurutnya menakjubkan itu.


Sreeekkkk..


Pintu geser kamar mandi itu terbuka dan menampilkan Farrand yang sudah memakai pakaian lengkap. Tak ada pakaian yang biasa Lingga lihat. Di sana, Farrand terlihat menawan dengan piyama tidurnya yang berlengan pendek dan celana panjang berwarna biru. Rambut panjangnya terurai dan membuatnya terlihat semakin menggoda dengan tetes-tetes air yang mengalir dan jatuh dari ujungnya. Melihat itu, rasa panas di tubuh Lingga kembali bangkit.


Mencoba menghilangkannya atau setidaknya menguranginya, Lingga berpaling dan mengambil posisi membelakangi Farrand. Farrand tak ambil pusing, ia malah dengan santainya duduk di meja rias dan mengeringkan rambut basahnya dengan pengering rambut. Ia cukup puas saat melihat Lingga telah menghabiskan kudapan yang ia bawa tadi.


"Ling, kau tidur?" Tanya Farrand. Ia yang melihat Lingga masih memunggunginya tak kuasa menahan pertanyaan yang mengganjal dibenaknya.


"Belum." Jawab Lingga. Ia hanya menjawab singkat, dan Farrand yang melihat hal itu hanya bisa mengernyit heran.


Ingin Lingga protes atas perintah Farrand, namun ia urungkan begitu saja saat Farrand menepuk pelan punggungnya. Persetan dengan libidonya yang meningkat, kali ini akan ia gunakan kesempatan untuk mengorek informasi dari Farrand. Dan untuk itu, ia kembali berbalik dan mengambil posisi seperti tadi.


"Farrand...." panggil Lingga.


"Hm?"


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"


"Tanya apa?"


Lingga ingin segera menanyakannya, tapi yang terjadi sungguh di luar dugaannya. Lidahnya terlalu kelu untuk sekedar mengeluarkan pertanyaan yang tadi telah disusunnya.


"Ling, boleh aku duduk dan bersandar di sebelahmu?" Pinta Farrand. Lingga menelan ludah karena gugup. Libidonya belum ia tekan sepenuhnya tapi Farrand meminta untuk duduk di dekatnya. Cobaan macam apa ini? Apa Farrand memang sengaja berniat menggodanya?


Tak sanggup menolak, Lingga hanya bisa menganggukkan kepalanya. Farrand beringsut mendekatinya dan mengambil tempat persis disebelah kiri Lingga.


"Aku tak tau harus bagaimana Ling, tapi ini pertama kalinya ada yang menemaniku di ranjang seperti ini selain ayahku."


Farrand memulai pembicaraannya, dan Lingga yang sedari tadi sudah penuh dengan pemikirannya kini hanya bisa terdiam dan mencoba mendengarkan.


"Ku kira ini masih mimpi. Tentang kau yang ternyata telah di tunangkan denganku, tentang orang tua kita yang sedari dulu berniat menyatukan kita, dan tentang hal lain yang telah mempertemukan kita."


"...."


"Maaf jika aku telah menyembunyikan suatu fakta padamu, Ling. Tapi percaya lah. Ku lakukan hal itu karena aku tak memiliki pilihan lain."


"Fakta apa, Fa?"


"Aku tau ini terdengar mendadak. Tapi aku ingin mengakui satu hal yang tanpa sengaja ku sembunyikan darimu. Aku mohon, jangan benci aku setelah ini."


"Katakan lah. Dan aku ingin mendengar hal itu langsung darimu."


"Ayahku, orang yang selama ini kau cari, Ling. Aku yakin kau mengingat mobil yang ku gunakan tadi meski itu ingatan yang samar."


Deg....

__ADS_1


Jantung Lingga berdetak semakin kencang saat Farrand mengakuinya. Tapi ia lega, setidaknya ia tak perlu menanyakannya lagi nanti.


"Mengapa kau sembunyikan hal ini dariku, Fa? Kau tau jika aku telah lama mencarinya, bukan?"


"Aku tau, Ling. Tapi ayah melarangku untuk mengatakan perihal ini ke sembarang orang."


"Mengapa? Kau tau, aku hampir gila mencarinya. Dan ternyata orang yang kucari malah berada dekat denganku."


"Maafkan aku. Ayah punya alasan kuat untuk menyembunyikannya. Dan kepadaku pun, ayah tak memberitahukannya. Aku hanya diberitahu agar aku menyimpan ini rapat-rapat."


"...." Lingga terdiam. Ia ingin mendesak Farrand untuk mengatakannya, namun hal itu di urungkannya karena ia merasa tak ada sedikitpun kebohongan di mata Farrand.


"Maafkan aku, Ling. Aku ada di dalam mobil saat ayah membantumu. Aku melihatmu, tapi aku memutuskan untuk tidur dan tak keluar dari mobil ayah karena aku tak ingin ada yang mengenaliku."


"Katakan padaku, apa kau yang ku lihat di puncak bukit saat balapan waktu itu? Saat dimana Dion balapan untuk yang terakhir kalinya, yang saat itu aku kejar dan ku hentikan?"


Farrand mengangguk pelan,"Kau tau saat itu ayahku berada dirumah sakit, bukan? Aku terpaksa mengikuti balapan untuk mendapatkan hadiah yang tentunya bisa ku gunakan untuk membayar biaya rumah sakit. Aku tak bisa memakai mobil Dhiaz. Jadi kuputuskan untuk memakai mobil ayah, tentunya juga dengan idenditasnya."


Lingga mengangguk. Ia faham mengapa Farrand melakukan hal itu, namun ia masih tak faham mengapa ayah Farrand menyembunyikan idenditasnya.


"Lalu, bagaimana dengan Ava? Ia memiliki mobil yang sama dan mengatakan jika ia telah mengalahkan pengemudinya."


"Untuk penjelasan itu, kau tau pengendara yang mencelakakan kita? Yang membuat kau dan aku masuk rumah sakit?" Lingga mengernyit atas pertanyaan Farrand, namun setelahnya ia mengangguk lemah.


"Kemungkinan dia lah yang Ava kalahkan. Ayahku tak pernah menerima tantangan dan tak pernah ikut balapan lagi beberapa waktu setelah bertemu denganmu."


"Jadi siapa dia?"


"Ayah pernah bercerita jika dia adalah rival ayah dalam memperebutkan cinta ibuku. Dia masih memiliki dendam pada ayah hingga berniat menghancurkan citranya."


"Tapi mengapa setelah itu dia hilang bak ditelan bumi?"


"Ayah telah menemuinya dan berbicara padanya. Dia juga menemuiku, mengatakan permintaan maafnya dan mengatakan jika dia tak akan melakukan hal itu lagi."


"Fa, apa mobil orang itu yang di pakai Ava?"


Farrand mengangguk dan Lingga mendesah kecil. Ia sudah menduganya, namun hatinya memungkiri dan tetap menyangka jika mobil yang Ava pakai itu adalah mobil yang dicarinya selama ini.


"Sudah lah. Aku bersyukur setidaknya orang yang ku cari telah kutemukan dan aku telah berada di dekatnya. Aku juga bersyukur jika dia ternyata orang yang bersamaku. Aku seakan merasa bodoh, mengapa aku tak menyadari jika postur tubuh yang ku temui di puncak itu sama denganmu? Jika aku menyadarinya lebih awal, tentunya aku tak akan sebingung ini."


"Maafkan aku, Ling."


"Sudahlah Fa, aku sudah memaafkannya."


Suara Lingga memelan seiring berjalannya waktu. Di sampingnya, Farrand dapat merasakan hembusan nafas Lingga yang memberat. Ia menoleh, dan betapa terkejutnya saat ia mendapati wajah Lingga yang memerah dengan beberapa bulir keringat jatuh dari pelipisnya. Lingga terengah, dan Farrand merasakan genggaman tangan Lingga semakin mengerat.


"Ling, kau kenapa?"


"Aku..... aku....."


"Akan ku ambilkan kompres."


Farrand beranjak dari tempatnya namun dengan cepat Lingga menahan tangannya. Ia menggeleng, matanya terpejam dan hal itu membuat Farrand mengurungkan niatnya untuk mengambil kompres untuk Lingga.


"Aku ... tak tau jika ... efek obatnya kembali."


Wajah Farrand berubah horor, ia tau maksud dari ucapan Lingga. Dengan perlahan ia melepas pegangan tangan Lingga. Ia bimbang, ia ingin mencari penawarnya namun terlalu takut untuk keluar malam. Lagi pula ia juga tak tau obat apa yang telah Ava berikan pada Lingga. Sebersit ide muncul, dengan cepat ia mengambil ponselnya dan men-dial nomor Ava. Ia harus memintanya dari Ava, dan Ava harus memberikannya apapun yang terjadi.


"Shit!" Umpat Farrand. Ia membanting ponselnya saat ia mendengar suara yang menyatakan nomor Ava sedang tak aktif. Untung saja bantingannya pelan, jadi ponselnya masih baik-baik saja setelah dibanting.


Farrand duduk di pinggiran ranjang dan meremat rambutnya secara kasar. Di belakangnya, Nafas Lingga terlihat memburu dan ia yakin, Lingga tengah mati-matian menahan hasratnya.


Seakan kembali teringat, Farrand beranjak dan berjalan menuju meja riasnya. Ia menarik salah satu laci kecil disana dan mengambil benda yang ingat tadi. Nafasnya memburu, ia remat benda itu dan berlari keluar seakan mencari sesuatu.


Lingga mendesah pasrah saat melihat Farrand keluar dari kamarnya, tubuhnya terasa tersiksa, namun ia juga tak ingin menyalahkan Farrand. Ia akan mengerti jika saat Ini Farrand berusaha lari darinya agar Farrand tak menjadi korbannya. Dengan kepala yang terasa berat, ia bangkit. Meski terhuyung ia harus bisa mencapai  kamar mandi. Ia perlu mengeluarkannya bagaimana pun caranya. Dan ia yakin jika ini adalah cara terbaik meski nantinya ia akan tersiksa.


"Ling."


Lingga menoleh ke arah pintu dan mendapati Farrand yang menatapnya dengan tatapan cemas yang kentara. Nafasnya terlihat memburu, dan setelah itu Farrand menarik tangan Lingga dan menghempaskannya ke ranjang. Dengan posisi Lingga yang berada di bawah kungkungan Farrand, Farrand ******* kasar bibir Lingga. Naluri kuat Lingga yang sedang diluar kendalinya bergejolak kuat. Ia membalasnya dan membalikkan keadaan hingga Farrand berada di bawahnya tanpa melepas pagutan mereka.


Karena kebutuhan pasokan oksigen mereka menyudahi kegiatannya. Mata Lingga berkilat penuh emosi dan menatap mata Farrand yang telah berubah menyayu.


"Farrand, maaf. Tapi aku tak bisa berhenti." Lirih Lingga


Tbc

__ADS_1


__ADS_2