Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 47


__ADS_3

Felix berjalan di koridor kampus sambil merutuki kebodohannya. Ia ingin minta maaf. Ia berasa bersalah karena semalam ia telah berkata yang tidak-tidak tentang Farrand. Setelah ia pergi, tak lama kemudian Abel menelponnya dan mengatakan jika ada yang perlu dia bicarakan. Felix menurut, ia yang baru saja masuk ke klub malam dan menenggak beberapa gelas minuman memabukkan itu langsung pergi begitu saja. Tentunya setelah ia membayar apa yang menjadi kewajibannya.


Setelah sampai di apartment Farrand, ia sudah tak mendapati Farrand di sana. Dan menurut Abel, Farrand telah pergi dengan Lingga beberapa menit sebelum kedatangannya. Ia menghela nafas maklum, lalu Abel menceritakan perihal mengapa Farrand bisa sampai semarah itu. Ia merasa wajar, bagaimanapun juga secara tak langsung telah menghina ibu Farrand yang telah tiada dan ayah yang tengah kritis. Ia menyesal, dan penyesalan itu datang karena ia belum mencari tau tentang seluk beluk kehidupan Farrand.


Dari cerita Abel, ia bisa mengambil kesimpulan jika Farrand telah menambatkan hatinya pada pemuda yang ia lihat semalam. Ia juga bisa melihat betapa raut bahagia terpancar dari pandangan Farrand saat pemuda itu datang. Akan tetapi ia tak akan menyerah. Selama Farrand masih belum berstatus sebagai istrinya, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk merebut Farrand dari pemuda berambut emo itu. Bila perlu, ia akan membuat Farrand tidak bisa menolaknya dengan cara menitipkan benihnya, mungkin. Terdengar licik, tapi begitulah Felix. Ia tak akan berhenti sebelum mencapai apa yang ia inginkan.


Setelah mencari agak lama, akhirnya ia menemukan siluet Farrand. Tak susah menemukannya, Farrand yang memiliki rambut panjang itu mudah ditemukan karena rambutnya yang lebih panjang dari wanita kebanyakan. Dengan langkah yang dipercepat, ia menyusul Farrand yang seperti akan melangkah menuju ruang rektorat. Ia bersyukur lagi, setidaknya beberapa keberuntungan mengiringinya karena lorong menuju rektorat pasti melewati lorong yang menuju gudang. Itu berarti ia bisa menyeret Farrand kesana.


Set,


Kena!


Dengan secepat kilat ia langsung menyeret Farrand ke dalam gudang yang berbau pengap itu. Farrand ingin berteriak, namun bibirnya telah dibungkam oleh tangan kanan milik Felix.


"Aku mohon, berikan aku waktu untuk berbicara."


Sejenak Farrand terdiam untuk menimang permintaan Felix. Tapi setelah itu, ia mengangguk dan Felix melepaskan bungkaman tangannya atas bibir Farrand.


"Aku minta maaf." Ucapnya. Felix menunduk, ia tak mampu menatap lekat wajah Farrand.


"Untuk apa?"


"Aku tak tau jika ibumu telah tiada dan ayahmu sedang koma. Aku telah berkata buruk tentang mereka."


"Jadi kau meminta maaf karena telah mengetahui tentang kemalanganku? Konyol. Kalau begitu kau pasti tak akan meminta maaf jika tak tau sama sekali, bukan?"


Hati Felix terasa tertohok, Farrand benar. Dan entah mengapa hatinya merasa sakit karena ia mendapat tatapan meremehkan dari Farrand. Maksud hatinya yang ingin memperbaiki pandangan Farrand padanya kini sepertinya hanya angan belaka.


"Tapi aku sungguh menyayangkan dirimu, Fa..."


"Jangan panggil aku dengan nama itu."


"Kenapa? Apa kau lebih suka jika pria brengsek itu yang memanggilmu dengan panggilan itu?"


Plak...


Sebuah tamparan di pipi kiri Felix membuatnya sedikit oleng. Ia tak menyangka jika ia akan mendapat tamparan seperti itu dari Farrand.


"Jangan sebut dia pria brengsek."


"Lalu apa? Dia kan yang membiayai hidup dan pengobatan ayahmu dengan cara mengambil alih perusahaan ayahmu? Lalu dengan itu dia memanfaatkan tubuhmu untuk menjadi pemuasnya."


Plak....


Tamparan kedua kembali melayang ke pipi Felix. Pipinya memerah, ia tak menyangka jika Farrand memiliki kekuatan lebih untuk menamparnya hingga pipinya terasa ngilu seperti ini. Saat ia melihat ke arah Farrand, ia bisa melihat kilat kebencian dari sana. Mengapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?


Set,


Dengan penuh emosi Felix mencekal kedua tangan Farrand dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Mata Felix menyalang, tangan kirinya segera mengambil alih kendali atas kedua tangan Farrand yang telah di satukan.


Dengan sekali tarikan Felix langsung menyingkap kerah yang menutupi lehernya dan menampilkan beberapa bercak lebam disana. Ia tersenyun sinis, dan menunjukkan seolah perkataannya tadi benar adanya.


"Lihat, aku benar bukan? Semalam dia membawamu keluar, dan jika dilihat dari bekas ini, sepertinya dia juga menandaimu."


Farrand menggigit bibir bawahnya. Ia tak sanggup berkata lagi. Ia ingin berkata jika hubungan mereka telah sah namun terhenti karena seakan suaranya tercekat di tenggorokan. Setelahnya, mata Farrand membulat saat dengan kasar Felix ******* bibirnya. "Jangan berteriak, atau semua orang di rektorat akan tau kelakuan rendahmu ini." Ancam Felix. Farrand terdiam, air matanya mengalir semakin deras saat ia menggigit bibir bawahnya.


"Kheh. Aku benar bukan? Semalam kau telah menghabiskan malam panas dengannya. Sisa-sisa malam percintaan kalian bahkan belum habis sepenuhnya. Dibayar berapa kau dalam semalam, he? Aku bisa memberimu lebih banyak darinya jika kau mau menjadi wanitaku. Dan akan ku pastikan kau akan menjadi satu-satunya." Lanjut Felix.


"Kau lah pria brengsek itu, Fe. Aku telah menikah dengannya dan aku tak serendah yang kau tuduhkan padaku."


Lolos sudah.


Farrand kini bersiap dengan segala kemungkinan jika Felix akan menyebar luaskan perihal pernikahannya pada seluruh warga kampus. Hal ini ia rasa bukanlah masalah lagi, yang penting ia bisa lolos dari makhluk iblis macam Felix.


"Cih. Kau fikir aku sebodoh itu untuk mempercayai ucapanmu? Lihat? Tak ada cincin di jarimu. Tak ada saksi dari teman-temanmu, dan tak ada satupun foto yang kutemukan saat pernikahanmu. Lagi pula usia kalian masih 18 tahun. Tak usah menyangkal, aku masih akan menerimamu meski kau sudah bekas sekalipun."


Farrand mengumpat dalam hati. Wajar jika Felix menyangkalnya, ia menikah dengan sangat sederhana dan dilakukan di ruang rawat ayahnya. Hanya beberapa orang yang datang, bahkan teman-teman mereka pun tak ada yang mengetahui perihal saat itu.


Bibir Farrand masih terkatup rapat. Ia ingin sekali merobek mulut kotor Felix yang dengan seenaknya sendiri mengatakan hal itu. Melihat seulas kabut nafsu di mata Felix, ia sedikit mendapat ide untuk lari dari kungkungan pria di depannya itu.


"Kau mau? Baik. Ayo lakukan disini."


Tak mempedulikan air matanya, Farrand berkata dengan nada yang wajar. Ia melihat Felix menyeringai, dengan perlahan ia membuka resleting celananya dan menujukkan sesuatu yang telah berkembang disana. Farrand mengambil ancang-ancang, ia menyiapkan kakinya saat Felix melonggarkan kuncian di kakinya.


Duak....


Sebuah tendangan yang tak main-main Farrand lancarkan ke arah ************ Felix. Felix syok, ia langsung melepaskan genggaman tangannya pada Farrand dan langsung terduduk lemas sambil memegang benda yang telah Farrand tendang tadi. Felix sudah tak bisa bergerak, dan hal itu dijadikan sebuah kesempatan Farrand untuk kabur dari Felix. Persetan dengan keperluannya di ruang rektorat, ia akan mengurusnya kapan-kapan. Asal sekarang ia bisa pergi sejauh mungkin dari pemuda yang tengah gila itu.


Sepatu berhak 5cm itu tak bisa membuat Farrand melambatkan larinya. Ia akui jika kakinya sedikit sakit, namun ia yang sudah biasa berjalan cepat menggunakan higheels kini merasa tak masalah akan hal itu. Ketika sampai di depan kampus, ia merasakan jika ponselnya berdering dan segera mengangkatnya setelah tau itu telpon dari Lingga.

__ADS_1


"Ayah sekarat......"


Sebuah nada singkat yang di ucapkan Lingga membuat lututnya terasa lemas. Ia tak mendengar lagi kata selanjutnya karena ponselnya telah mati kehabisan daya. Ia berpikir jika dirinya harus sampai ke sana secepat mungkin. Taksi dan kereta tak akan cukup cepat, dan ia juga tak membawa kendaraan apapun kesini. Diam-diam ia merutuki Lingga yang dengan seenaknya melarang dirinya membawa kendaraan.


Setelah mengedarkan pandangannya ke penjuru parkir, ia tersenyum. Ia seperti mendapat sebuah solusi saat ia melihat Ava sedang membuka pintu mobilnya. Yah, Ava memang mengambil pendidikan disini juga. Ia tak tau apa sebabnya, dan ia juga tak tau jurusan apa yang Ava ambil.


"AVA!!" Dengan teriakan supernya Farrand segera berlari menghampiri Ava. Ia terdiam dan mengernyit saat melihat Farrand tengah berlari dengan tergesa-gesa menghampirinya.


"Aku pinjam mobilmu. Aku dalam keadaan genting sekarang." Dalam sekali sambar Farrand telah merebut kunci mobil Ava dari tangannya. Ia bersyukur, setidaknya Ava membawa mobil sport ke kampus.


Seolah mengerti, Ava langsung mengangguk dan berlari ke arah pintu mobil penumpang dan langsung duduk di kursinya. Farrand tak banyak berbicara lagi. Ia langsung menginjak dalam pedal gas begitu mesin mobil menyala dan membawa mobil dengan kecepatan yang gila. Beberapa pengemudi yang hampir menabrak dan ditabraknya hanya bisa berteriak mengumpatinya. Wajah Ava memucat, ia memang sering berkendara dengan kecepatan penuh bersama dengan Samuel, namun ia tidak pernah sekalipun dalam kecepatan dan keadaan ramai seperti ini.


.


.


.


"Bagaimana keadaan ayah?" Tanya Farrand pada Lingga yang sedang terduduk di kursi depan ruang inap Arashya.


Lingga mendesah pelan, ia melirik ke arah Farrand yang terlihat kacau dan mendapati Ava di belakangnya dengan keadaan yang lebih mengenaskan dari Farrand. Wajah Ava pucat, ia bahkan terlihat seperti menahan muntah.


"Ava, kau bisa memakai kamar mandi di ruang rawat ayah." Ujar Farrand. Ava mengangguk, ia langsung bergegas masuk ke dalam disusul kemudian Farrand dan Lingga.


"Keadaan ayah telah stabil, tadi aku akan mengatakan keadaan ayah yang membaik namun ponselmu telah mati terlebih dahulu."


"Ponselku kehabisan daya. Aku lupa untuk mengisinya karena terburu akan keruang rektorat."


Hati Farrand terasa perih. Ia masih mengingat kejadian tadi saat ia akan keruang itu. Bayangan sikap buruk Felix menjadi melodi mengerikan yang membawa beban tersendiri di hatinya. Ia belum berani menceritakannya pada Lingga, karena ia merasa jika ia telah menghianati Lingga. Biarlah, ia akan bercerita jika ia siap dan dalam waktu yang tepat.


Farrand berjalan perlahan dan mengambil tempat duduk disamping ranjang ayahnya. Ia mengelus tangan lemah itu. Tangan yang dulunya selalu mengusap puncak kepalanya dan memberikan ketenangan padanya, tangan yang kini hanya bisa terkulai lemas di samping sang empunya.


"Ayah. Cepatlah sadar. Ada banyak hal yang ingin Farrand bicarakan pada ayah. Cepatlah sadar, yah."


Air mata Farrand kembali membanjiri wajah wajah cantiknya. Ia membawa tangan lemah itu kedalam dekapannya dan sesekali menciumnya.


"Kau habis menangis?"


Farrand menggeleng pelan, ia tak mungkin mengatakan pada Lingga jika Felix sedikit menyentuhnya. Dan melihat kondisi Farrand, hati Lingga mencelos sakit. Ia sebenarnya tak tega melihat keadaan Farrand yang begitu mengenaskan. Ia sudah berusaha, dan ia juga tak tau lagi harus berbuat apa.


.


.


.


"Ayah. Jangan tinggalkan aku." Bisik Farrand. Farrand tengah mengigau, dan igauan Farrand membuat Ariana tak kuasa menahan tangisnya.


"Mama, aku membawa makanan untukmu juga." Suara Lingga terdengar pelan, Ariana mengerti, mungkin Lingga tak ingin membangunkan Farrand.


" Mama sudah makan. Untukmu dan Farrand  saja ya."


Lingga mengangguk patuh. Ariana tersenyum penuh arti, semenjak putranya mengenal Farrand ia menjadi pribadi yang penurut dan tak memiliki emosi yang meluap-luap seperti dulu. Ia senang, Lingga yang sekarang sudah terlihat semakin dewasa dan lebih berpikir sebelum bertindak. Ah, jika Arashya sadar nanti, ia mungkin akan berterimakasih akan hal itu.


"Apa Farrand tak terbangun setelah aku memindahkannya tadi?"


Ariana menggeleng, dia mengelus rambut panjang Farrand dengan lembut dan menatapnya dengan senyuman.


"Dia cantik, ya?"


Lingga mengangguk membenarkan perkataan ibunya.


"Aku bersyukur dia mau menjadi menantuku."


"Apa Mama sedang berusaha mengolokku?"


"Apa maksudmu "?


"Yah. Entah mengapa dari nada bicara Mama aku menangkap seakan-akan dia pasti tak mau kepadaku."


Ariana terkikik,


"Bukan begitu, hanya saja aku masih tak menyangka akan semua hal yang terjadi. Awalnya, aku tak percaya akan keyakinan Arashya. Tapi karena aku mempercayai itu, aku mendapatkan hal yang selama ini aku impikan."


"Begitu kah?"


"Ya. Dan kau tau, Lingga? Dia menyiapkan segalanya begitu rinci hingga Mama tak percaya jika hal yang terjadi sekarang ini adalah dengan campur tangannya."


"Apa maksud Mama?"

__ADS_1


"Jujur saja, Lingga. Apa kau selama ini tak berpikir jika banyak kebetulan di antara kalian? Tentang pertemuan pertamamu dengan Arashya yang pada saat itu menyembunyikan idenditasnya?"


"......"


"Kau pergi ke Kota Fallen untuk mencari orang yang menyelamatkanmu malam itu bukan? Malam dimana kau mengalami mobilmu macet di tengah jalan dan Arashya membantumu."


"Dari mana Mama tau tentang hal itu?"


Ariana hanya tersenyum mendengar reaksi Lingga. Lingga mengernyit, ia merasa jika ibunya tau banyak hal tentang apa yang ingin ia cari tau.


" Mama, boleh aku bertanya? Ini tentang keluarga kita."


"Hm?"


"Bagaimana cerita tentang masa lalu kalian? Maksudku, ayah, ibu, Mama serta Papa. Aku ingin tau. Bolehkah aku mendengarnya, Mama? Dan bukankah kalian telah lama berteman baik?"


Ariana kembali tersenyum, ia sedikit menerawang ke langit-langit kamar dan memejamkan matanya sejenak.


"Kau tau, kurasa inilah saat yang tepat aku memberitahukan kebenarannya padamu. Mama rasa kau sudah cukup dewasa untuk mendengarnya."


"...." Lingga masih terdiam. Ia saat ini sedang mencoba mencerna baik-baik apa yang akan ibunya katakan.


"Mama akan mulai bercerita tentang Arashya padamu. Tapi setelah dia sadar nanti, pastikan kau sama sekali tak menyinggungnya. Mama tak tau harus memulainya dari mana. Dan sepertinya bercerita tentang Papa dulu tak masalah."


Dan Lingga hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Papamu, dia merasa jengah karena tidak bisa mendidikmu untuk menjadi penerusnya di perusahaan. Bukan karena apa, meski Papamu bisa saja menetapkan kepenerusannya pada adikmu, ia mengkhawatirkanmu sama seperti Janitra mengkhawatirkan Arashya dulu. Tentang Arashya yang tergila-gila pada balap jalanan dan mengesampingkan kehidupannya yang lain. Maka dari itulah ia meminta bantuan Arashya diam-diam."


"Tunggu, Janitra? Bukankah itu ibu Farrand dan berarti ibu mertuaku?"


"Ya. Dia mengenal Arashya sejak di bangku SMP. Mereka memiliki ketertarikan yang sama pada dunia balap. Arashya yang yatim piatu dengan segala kepandaiannya mendapat beasiswa, dan Janitra putri seorang mantan pembalap yang menerima bakat dan kepandaian ayahnya di jalanan. Papamu, Elon dan Arashya telah menjadi rival sejak saat itu. Menyusul kemudian aku dan Janitrayang bergabung dengan mereka bertiga."


"...."


"Hubungan mereka berlanjut, meski awalnya keakraban mereka karena Janitra, driver yang tak terkalahkan dan Arashya yang menjadi mekaniknya. Namun setelah akhir masa SMA mereka, mereka berganti posisi. Arashya menjadi driver dan Janitrasebagai navigator. Keduanya menjadi duo tak terkalahkan, dan seiring waktu hal itu menjadi pembatas persahabatan antara Arashya dan Elon karena Elon juga memiliki perasaan pada Janitra."


"...." Di dalam hatinya Lingga membatin, pantas saja Farrand memiliki kemampuan yang mengerikan, dia di lahirkan dari dua orang penggila jalanan.


"Tapi untungnya Elon tak terlalu mengedepankan egonya. Dia pergi dan merelakan Janitra bersama Arashya. Namun tak lama setelah itu, Janitra ternyata dijodohkan oleh orangtuanya. Arashya berusaha mempertahankannya, namun karena asal usul Arashya yang tak diketahui dan tak adanya penopang dirinya, membuat Arashya tersingkir dari keluarga Janitra. Ayah Janitra merelakannya bersama Arashya, tapi tidak dengan ibunya. Hingga dengan ancaman keluarganya yang berkata akan memisahkan mereka berdua, Janitra akhirnya pergi dan menikah dengan Arashya secara sembunyi-sembunyi. Mulai saat itu, Arashya maupun Janitra menyembunyikan idenditas mereka saat balapan dengan memakai jubah dan masker."


"..."


"Arashya berpikir jika dirinya tak mungkin hidup selamanya dengan bergantung pada keberuntungan dan tekniknya di jalanan. Diam-diam dia mulai merintis usaha dengan dibantu oleh Papamu. Namun sepertinya keluarga Janitra mulai mengetahuinya. Dengan kekuasaannya mereka bergerak perlahan dan sedikit demi sedikit mereka menghancurkannya. Berharap jika Arashya habis Janitra bisa kembali ke keluarganya. Arashya yang sudah mempersiapkannya sejak awal, ia berpura-pura jatuh agar keluarga Janitra puas dan diam-diam menjalankan usaha lain yang ia sembunyikan. Setelah itu keluarga Janitra seakan menyerah, mereka tak muncul hingga usaha Arashya berkembang. Hingga saat kematian Janitra pun, mereka tak juga muncul."


"..."


"Setelah Farrand mulai beranjak remaja, mereka muncul kembali. Entah apa penyebabnya, yang jelas mereka mengutus keluarga Dion untuk kembali menghancurkan Arashya dengan dalih mereka tak setuju Dion menjalin hubungan dengan Farrand. Memang, sejak awal kami menjodohkan kalian berdua, namun Arashya mencegah kalian dekat hingga kalian akan mencari jalan sendiri untuk pertemuan kalian."


" Dion yang itu? Mantan kekasih Farrand yang kini ke luar negeri?"


"Ya. Dion. Putra Yoga. Mereka masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Janitra. Mereka juga mengutus orang untuk memberi obat Arashya agar kesehatannya menurun. Saat itulah akhirnya Arashya mengatur pertemuannya denganmu. Dia tau banyak hal tentangmu yang di dengarnya dari cerita Papamu. Dia membengkel mobilmu, membuatmu tersesat dan dia datang saat mobilmu mogok seolah-olah kalian orang yang tak saling kenal."


"Jadi pertemuan itu sejak awal telah terencana."


"Ya. Mengagumkan bukan? Jujur saja Lingga, apa kau tak merasa heran jika ada orang yang menawarimu dengan penawaran yang bagus seperti itu? Apalagi dia datang dengan penampilannya yang misterius?"


Lingga terdiam, namun dalam hati ia sangat membenarkan hal itu,"Tapi mengapa ayah melakukan semua ini?"


"Dia melihat dirinya dulu dalam dirimu. Dimana kau yang terobsesi dengan segala macam balap jalanan dan mengesampingkan masa depanmu. Papamu mendidikmu dengan keras karena ia tau, kau harus melindungi Farrand dari keluarga Janitra. Dan kau butuh penopang yang kuat untuk itu."


"..."


"Tapi sepertinya Papamu gagal. Ia menyerah dan mengembalikan semuanya pada Arashya. Hingga pertemuan kalian dan hubungan kalian, dia sedikit ikut andil. Dan tak disangka jika semua berhasil, bukan? Kau mau memegang kendali perusahaan dan berusaha melindungi Farrand sekuat tenagamu."


"Ayah, benar-benar melakukan semua hingga sejauh ini?"


Ariana mengangguk.


"Dan aku bersyukur karena akhirnya kau menemukan jalanmu, Lingga. Mama sangat bahagia saat akhirnya kau dan Farrand bersatu."


Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Ariana. Lingga berusaha menenangkan ibunya dengan merangkulnya, ia tau dan benar-benar menyadari sekarang. Jika sebenarnya, ia sangat disayangi oleh keluarganya.


Lingga ingin menangis bahagia, namun egonya melarang keras dan dirinya hanya bisa mengucapkan terimakasih secara berulang-ulang pada Arashya yang masih terbaring koma. Tanpa tau Farrand telah mendengar semua percakapannya dengan Ariana.


Tbc


 


 

__ADS_1


__ADS_2