Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 43


__ADS_3

Farrand tak bisa lagi membendung air mata yang merengsek keluar dari sarangnya. Di sana, di depan matanya yang berjarak beberapa meter darinya, telah terbaring ayahnya yang kini tengah berjuang hidup dengan ditopang beberapa alat medis. Kondisi ayahnya begitu memprihatinkan, begitu ia datang tadi ia telah disuguhi pemandangan yang sanggup membuat hatinya berdenyut nyeri seperti ini.


"A-ayah...." lirihnya.


Lingga dengan sigap segera menopang tubuhnya yang akan limbung. Di sampingnya, Ariana –ibu Lingga- terduduk dengan keadaan yang begitu mengenaskan dengan kepala yang disandarkan pada pundak Jason. Keadaan Ariana begitu berantakan, dengan air mata yang terus menerus mengalir di kedua matanya hingga sayu. Ucapan penenang selalu Diandra ucapkan padanya, namun seperti tak mempan, Ariana terus saja menangis.


Sebenarnya Lingga ingin memeluk tubuh ringkih wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. Namun jika ia lakukan, Farrand akan kehilangan penopang karena kekasihnya itu tak punya siapa-siapa untuk tempat bersandar.


"Sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi, Pa?" Tanya Lingga.


Jason berdehem kecil, dengan sekali tarikan nafas ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Tadi kami bertemu di restoran untuk makan siang dan membicarakan beberapa hal, setelah itu dia mengajakku ke perusahannya. Dia mengendarai mobil sendiri tepat di depanku. Dan saat mencapai perempatan, mobilnya yang sedang menyebrang langsung terhantam truk pengangkut barang yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga mobilnya terguling. Untung saja tak ada kebocoran, dan setelah aku mengeluarkannya dari mobilnya, ia telah tak sadarkan diri dengan keadaan yang mengenaskan."


Lingga bungkam. Pantas saja ibunya begitu histeris saat ini. Dia menyaksikan kecelakaan sahabatnya itu tepat di depan matanya. Tentunya hal itu membuat jiwanya tergoncang begitu hebat.


"Dokter mengatakan pada kami jika Arasya tengah koma. Dokter tak tau dengan pasti kapan dia akan sadar."


Farrand semakin terisak setelah mendengar penjelasan dari Jason. Kepalanya terasa berat, dan tanpa sadar kakinya terasa lemas untuk digerakkan hingga ia jatuh tersimpuh. Lingga di sampingnya tak bisa berbuat banyak, ia bahkan tak sigap lagi saat Farrand terjatuh karena mendengar berita itu.


"Aku tau sebenarnya ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya pada kalian. Tapi pertemuan kami di restoran itu adalah untuk membahas pernikahan kalian yang akan di adakan tiga minggu lagi."


"Mengapa terlalu cepat?" Lingga tercekat, ia seakan mendapat beban berat yang tiba-tiba di timpakan pada pundaknya.


"Aku sudah berkali-kali mengatakan pada Arasya jika itu terlalu cepat. Tapi ia bahkan mengatakan jika sebenarnya ia ingin menikahkan kalian seminggu yang lalu. Atas desakan Ariana lah akhirnya Arasya mengundurnya satu bulan. Dan jika mungkin kami menurutinya begitu saja, kalian sudah menjadi sepasang suami istri saat ini."


"....." Semua masih hening. Terutama Farrand meski isakannya berkurang sedikit demi sedikit.


"Dari dulu Arasya tak pernah berubah. Firasatnya selalu tajam dan tepat sasaran."


"Apakah... apakah ayah menitipkan sesuatu pada Papa?" Suara Farrand terdengar lirih dan diselingi dengan isakannya. Ia memang memanggil Jason Papa seperti hal nya Lingga. Hal itu dikarenakan permintaan Ariana yang merasa jika Farrand telah menjadi anaknya sejak ia kecil.


"Ya. Dia menitipkan beberapa surat padaku tepat sebelum ia kecelakaan. Kau tau, dia sudah menyiapkan segalanya seolah ia tau jika akan terjadi sesuatu padanya."


"Seperti itulah ayah. Aku yakin, kesibukannya belakangan ini juga pasti berkaitan dengan hal itu." Tersenyum miris, Farrand mengusap pelan air matanya dan beranjak ke ranjang tempat ayahnya di rawat. Ia duduk di kursi sebelah ranjangnya, tangan mungil nan lentiknya itu kini terayun menggenggam tangan kekar milik ayahnya yang kini tergolek lemah.


"Aku yakin ayah tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Bodohnya aku yang tak menyadari itu." Tambah Farrand. Air mata kembali mengalir di kedua pipinya.


"Fa....."


"Aku tak ada di sisinya selalu, Ling. Aku seorang anak yang bahkan belum bisa membahagiakannya. Ayah, ku mohon bangunlah. Biarkan aku melihat kembali pandangan teduhmu yang kau tujukan padaku. Kembalilah, yah. Jangan tinggalkan aku sendiri dan pergi menyusul ibu. Aku tau ayah mencintai ibu, tapi ku mohon cintai aku juga dengan tetap disini menemaniku, yah. Tahanlah sebentar keinginanmu untuk kembali bersama ibu."


Lingga memalingkan wajahnya ke samping. Ia tak sanggup melihat sosok rapuh Farrand yang terlihat begitu menyedihkan di matanya. Ia bingung, ia harus bagaimana sekarang? Ia tak bisa menghibur, dan ia juga tak pandai menenangkan hati orang


"Ayah." Isak Farrand semakin menjadi-jadi. Ia menggenggam tangan lemah miliki Arasya dan menyandarkan kepalanya disamping tangan itu. Airmata yang terus menerus keluar membuat wajahnya sayu dan mulai memucat. Farrand tak tahan jika terlalu lama menangis, dan sepertinya Lingga lupa akan hal itu. Hingga saat isakan Farrand tak terdengar dan tangannya terkulai lemas di sisinya, barulah Lingga sadar dan segera berlari mencari bantuan.


.


.


.

__ADS_1


Farrand masih tak sadarkan diri di ranjang rawat sebelah Arasya. Jason memang sengaja meminta hal itu, karena ia tau Farrand tak akan mau berada jauh dari ayahnya. Di sofa, Ariana sedang terlelap karena terlalu lelah menangis. Diandra sendiri telah di pulangkan dan di titipkan pada sanak saudara. Dan kini Jason serta Lingga duduk di kursi yang ada di antara Arasya dan Farrand. Mereka duduk saling berdekatan, hal langka yang sangat amat jarang mereka lakukan.


"Arasya menitipkan beberapa surat untukku. Dia bilang itu untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya." Jason yang bosan atas keheningan kini membuka suaranya untuk memulai percakapan.


"...."


"Salah satunya untukmu." Sambung Jason. Lingga terhenyak, ia yang sedari tadi seperti tak tertarik untuk mendengarkan kini malah menunjukkan minatnya yang dalam.


"Apa isinya?"


"Aku tak tau. Aku belum membukanya sama sekali."


"Lalu apa saja yang paman katakan, Pa?"


"Dia mengatakan padaku untuk menyampaikan surat itu pada masing-masing nama yang tertera di sana. Tak hanya itu, dia juga mengatakan tetap menyelenggarakan pernikahan kalian apapun yang terjadi."


"Jadi?"


"Yah. Kalian tetap menikah tiga minggu dari sekarang. Dengan atau tanpa adanya Arasya."


"Lalu bagaimana dengan Farrand? Ia pasti merasa terpukul karena menikah tanpa di dampingi ayahnya."


"Biar nanti hal itu kita bicarakan baik-baik. Aku yakin jika Farrand tak berpikiran sependek itu dan menolak mentah-mentah keinginan ayahnya. Lagi pula Arasya ingin sesegera mungkin menikahkan kalian adalah semata-mata untuk kebaikan Farrand juga."


"Kebaikan Farrand?"


"Ya. Kau pikir Arasya tidak tau perbuatanmu dengan Farrand di belakangnya?"


Wajah Lingga langsung memerah sempurna. Bagaimana bisa calon mertuanya itu tau hal yang seperti itu? Bukankah selama ini mereka main aman?


"Kau tau, Lingga. Arasya adalah pria dengan perasaan yang teramat peka. Instingnya tajam, dan perkiraannya hanya sebagian kecil yang meleset."


"Bagaimana bisa?" Lingga menggeleng pelan. Jika di pikir-pikir lagi, bukankah kekasihnya juga seperti itu? Selama ini ia selalu mendapati insting Farrand yang hampir tak pernah meleset. Dan mungkin, instingnya itu turunan dari ayahnya.


"Dia sudah mengalihkan kendali perusahaannya atas namamu."


"Papa bercanda?"


"Tidak, Lingga. Aku sama sekali tak bercanda. Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Dia mengatakan jika kau sudah siap untuk melakukannya. Kau tak sendiri nanti. Sekretaris Arasya akan mendampingimu dan menuntunmu. Selama hampir setahun ini kau sudah menunjukkan peningkatan yang drastis."


"Tapi bagaimanapun juga aku masih butuh kuliah, Pa."


"Arasya telah mendaftarkanmu di Universitas Kota jurusan bisnis. Perusahan inti sudah dia pindahkan ke sini. Jadi kau bisa kuliah sambil mengendalikan perusahaan."


"Lalu bagaimana dengan Farrand?"


"Arasya telah mengabulkan permintaannya dengan mendaftarkannya di Universitas Dafan jurusan arsitek. Karena itulah permintaan Farrand."


"Itu berarti setelah kami menikah kami akan tetap terpisah? Tak mungkin Farrand menetap disini sementara dia mengambil kuliah di Kota Dafan. Jarak dari sini ke sana tak dekat, butuh waktu 5 jam perjalanan dengan kecepatan normal untuk sampai kesana."


Puk.

__ADS_1


Sebuah surat beramplop putih Jason letakkan di meja yang terletak di antara ranjang Arasya dan Farrand. Disana Lingga melihat jika namanya tertera di amplop putih itu. Lingga tebak, amplop itu adalah amplop yang berisi tentang surat yang tadi dibicarakan oleh Jason.


"Bacalah. Ku yakin nanti kau akan mengerti dengan sendirinya." Perintah Jason.


Lingga mengangguk, ia merobek segel amplop dengan hati-hati agar isinya tidak ikut tersobek. Setelah terbuka, Lingga membacanya perlahan dan mengernyit heran dengan wajah tertekuk yang nyata.


"Apa yang di tulisnya?" Tanya Jason.


"Sebagian besar telah ayah katakan tadi. Dan sebagai tambahan aku harus merelakan Farrand sementara jauh dariku agar aku bisa bersikap lebih dewasa. Paman juga memintaku untuk menyembunyikan perihal pernikahan kami. Dan kami diminta menikah dengan pesta kecil yang hanya di hadiri oleh keluarga saja."


"Dia mengatakan alasannya padamu?"


Lingga menggeleng. Ia tak menyangka jika masalah yang ia hadapi akan serumit dan sepelik ini. Ia memang menguasai beberapa hal di perusahaan, namun ia juga tak bisa memungkiri jika ia akan merasa keberatan berada jauh dari Farrand. Entah apa yang telah calon mertuanya persiapkan untuknya, yang jelas, ia harus mulai berhati-hati jika calon mertuanya itu sadar nanti.


"Aku yakin ayah menginginkan dirimu untuk menjagaku, Lingga."


Dua pasang mata berwarna kelam itu menoleh serentak ke arah Farrand. Di sana, Farrand yang terbaring lemah di ranjang rawatnya hanya bisa menatap Lingga dengan pandangan sendu. Tak ada yang tau jika ia telah sadar beberapa waktu setelah mereka membuka percakapan.


"Fa, kau mendengar semuanya?"


Farrand mengangguk lemah,


"Akan ku panggilkan dokter untuk memeriksamu dengan segera."


Lingga yang akan beranjak langsung dicegah oleh Farrand. Lingga menatapnya iba, dan hal itu tak urung membuat Farrand menitikkan air matanya.


"Aku baik-baik saja, Ling. Aku hanya merasa lelah, itu saja."


Lingga memilih menurut dan mengurungkan niatnya untuk memanggil dokter. Ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Farrand yang tergolek lemah di sisi tubuhnya.


"Aku menerima keputusan ayah, karena aku yakin ayah tak sembarangan dalam menentukan keputusan untukku." Ujar Farrand. Jason mengangguk, ia merasa sependapat dengan apa yang Farrand ucapkan.


"Kita akan menikah dengan pesta kecil saja. Aku rela jika ayah tak bisa menjadi wali untukku. Tapi, Papa. Aku meminta pemberkatan pernikahannya di adakan di sini, di ruangan ayah jika nanti ayahku belum bisa keluar dari sini."


Jason kembali mengangguk, dan di balas dengan senyuman lemah dari Farrand.


"Ayo, Ling. Kita berjuang bersama. Ayo kita buktikan pada ayah jika kita bisa melewatinya."


Dan kini Lingga lah yang mengangguk.


"Akan ku penuhi harapan ayah jika ayah menginginkan hal itu. Aku akan menuruti semua perkataan ayah dan menjadi anak baik. Aku akan belajar serajin mungkin dan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Ling."


Lingga bungkam, begitu juga dengan Jason. Namun sebenarnya di hati pria paruh baya itu terselip rasa bangga akan sikap yang di tunjukkan Farrand. Ia merasa tak salah menuruti perkataan Ariana dan mendiang Kushina yang bersikeras menjodohkan mereka berdua. Farrand dan Lingga, dua orang yang kini ia rasa benar-benar anaknya. Bukan maksudnya tak menganggap Lingga anak sedari dulu, namun ia merasa jika baru kali ini perasaan bangga begitu membuncah untuk sang anak. Ah, terima kasih untuk Arasya atas hal ini.


"Lalu bagaimana hidup kita, Fa? Kau ada di Dafan dan aku ada di sini"


"Kita bisa mengatur waktu bukan? Aku akan berusaha memangkas waktu sependek mungkin agar bisa pulang lebih cepat."


Lingga tersenyum tipis. Seperti biasa, kekasihnya itu selalu bisa membuat dirinya berpikiran tenang. Beruntung ia bisa menjeratnya dan sebentar lagi akan mengikatnya. Setelah mengusap lembut punggung tangan Farrand, Lingga membawa tangan itu ke rengkuhan bibirnya, mengecupnya pelan dan lembut seakan takut jika tangan itu akan hancur. Ah, entah mengapa Jason seperti nyamuk sekarang.


 

__ADS_1


tbc


__ADS_2