
Lingga masih tak bisa menahan gejolak emosi yang menguasai dirinya. Bibirnya terkatup rapat dan sedikit bergetar. Bahkan Farrand yang kini sedang mengusap punggung besarnya bermaksud untuk menenangkan pun diacuhkannya. Dan kini, kesunyian merayapi keadaan mereka berdua yang saat ini masih di dalam mobil setelah mengantar Nadeen dan Madhiaz pulang.
"Ling, kau masih sedih?" Tanya Farrand. Ia mencoba memecah kesunyian diantara mereka berdua. Sebenarnya ia sedikit merutuki mulutnya, niat hati ingin menghibur sang kekasih, namun yang keluar hanya ucapan sepele yang sudah diketahui jawabannya.
"Aku masih tak percaya aku telah melepas mobilku begitu saja." Balas Lingga. Farrand menatapnya sendu, nada frustasi terdengar begitu jelas di nada bicara Lingga. Bahkan saat membalas ucapan Farrand pun, Lingga sama sekali tak menoleh ke arahnya.
"Kalau kondisimu belum stabil, biarkan aku saja yang menyetir."
"Tidak. Aku masih sanggup."
"Kalau begitu kita berhenti di minimarket tempat dulu kau menjemputku. Disana buka 24 jam. Selain itu disana juga menyediakan minuman hangat."
"Tidak. Aku akan mengantarmu pulang kerumahmu. Hawa diluar masih terasa dingin dan kau tak kuat dingin, bukan?"
"Jika begitu maumu, maka menginap lah! Dan aku tak menerima penolakan darimu, Ling."
Lingga melirik Farrand dari ekor matanya. Menginap katanya? Apa ia tak salah dengar Farrand mengucapkan kata itu? Baginya, menginap di rumah seorang perempuan sangatlah, yah, kau tau dengan maksudku, bukan?
"Menginap?" Tanya Lingga berusaha memastikan.
"Ya. Ayahku sedang tak ada dirumah."
Ckiiittttt......
Lingga menginjak pedal rem dalam-dalam saat mendengar Farrand mengucapkan kata itu. Untung saja suasana malam yang sunyi membuatnya aman-aman saja berhenti mendadak seperti ini. Karena jika tidak, mereka bisa saja membuat kerusuhan dengan menjadi penyebab kecelakaan beruntun.
"Farrand, dengar! Aku laki-laki, dan kau perempuan."
"Iya. Aku tahu. Aku juga yakin jika aku perempuan dan kau laki-laki. Lalu?"
"Lalu kau bilang?"
Farrand mengangguk. Dan Lingga hanya mendengus nafas keras karena merasa kekasihnya itu tak peka sama sekali. Demi apa, ia tadi berusaha mengatakan jika hal itu bukan hal yang biasa untuk dua orang berbeda kelamin yang tak terikat pernikahan tidur di satu atap. Tapi justru sepertinya kekasihnya ini sama sekali tak peka dengan urusan seperti itu. Apa sebaiknya ia mengatakan hal yang lebih frontal saja? Atau langsung ke intinya, begitu?
"Jika yang kau maksud kita sudah dewasa. Aku tau itu, Ling. Tak perlu mendengus dan mengumpatiku dalam hati seperti itu."
Sial.
Lingga lupa jika kekasihnya itu pandai membaca dirinya.
"Aku hanya khawatir padamu, Ling. Suasana hatimu sedang kacau saat ini. Dan bukan tak mungkin jika kau tak fokus berkendara. Kau tau, aku hanya ingin tak ingin hidupku berakhir malam ini ." Lanjut Farrand. Dalam hati Lingga membenarkannya, dan kini entah mengapa rasa bersalah muncul di hatinya karena telah berpikiran negatif tentang Farrand. Entahlah, terkadang ia merasa jika Farrand itu sangat pintar membawa dirinya. Yah, meski beberapa kali ia terkena imbas kelakuan sedikit absurdnya sih.
"Baiklah. Aku akan ikut. Dan aku akan menginap di rumahmu." Farrand tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Lingga. Ia tak menyangka jika Lingga mau mengikuti ajakannya. Dan setelahnya, ia hanya harus memikirkan bagaimana ia bersikap nanti saat Lingga menginap di rumahnya.
.
.
Setelah mereka berdua menyelesaikan makan di tengah malam, Farrand mengajak Lingga pergi menuju balkon kamarnya yang berada di lantai atas. Mereka berdua merasa belum mengantuk sama sekali, saling terdiam dan berkutat pada pikiran masing-masing sambil menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Maafkan aku, Ling. Seharusnya aku saja yang datang kesana. Bukan kau." Ucap Farrand memecah kesunyian. Ia merasa menyesal, dan kini ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Sudahlah. Hal itu sudah terjadi. Lagi pula, jika kau datang, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika nanti kau kembali sakit."
Grep....
Farrand menerjang tubuh Lingga dan memeluknya erat dari belakang. Kepalanya ia sandarkan kepunggung bidang milik Lingga.
"Sudahlah. Aku tak apa-apa. Lagi pula, bukankah kita bisa mengatur strategi lagi dan berusaha mengambil kembali apa yang telah mereka ambil?" Lingga berusaha membuat nada bicaranya terdengar normal. Ia tahu wanita ini tengah terbebani rasa bersalahnya. Padahal jika di tilik lebih jauh lagi, itu sama sekali bukan kesalahan Farrand. Hal ini mernang karena kesalahan Lingga sendiri.
"...."
"Sungguh, Fa. Aku tak apa. Aku tau kau menangis. Berhentilah menangis, tangisanmu bisa membuat hatiku terasa semakin sakit dan rasa bersalahku menjadi semakin dalam karenanya."
Farrand terisak, ia yang tadinya hanya menangis dalam diam kini mulai mengeluarkan isak tangisnya.
Set...
Lingga melepas pelukan Farrand dan langsung berbalik menghadapanya. Ia menatap sendu kearah Farrand yang wajahnya telah berurai airmata. Lagi-lagi hatinya berdenyut sakit melihat kondisi Farrand yang sebegini hancurnya. Dan setelahnya, ia mengecup bibir Farrand yang gemetar menahan isak tangisnya.
Mata Farrand membola, ia tak menyangka jika Lingga akan menciumnya dan ********** pelan. Isakannya tertahan, dan airmatanya yang mengalir kini memberi rasa lain untuk ciumannya.
"Tak apa jika aku kehilangan mobilku. Setidaknya aku tak kehilanganmu, itu sudah lebih dari cukup untukku." Bisik Lingga.
"...."
__ADS_1
"Berhentilah menangis, tangisanmu membuat hatiku merasa sakit." Lanjutnya.
Farrand mengangguk pelan, diusapnya airmata yang mengalir di pipinya dengan gerakan kasar. Lingga yang melihatnya langsung menghentikan tangan Farrand dan menggantikan usapan tangan Farrand dengan tangannya. Ia mengusap pipi lembut Farrand yang terbasahi airmata, menatap matanya pelan, dan kemudian mengecup dahinya.
"Hanya ada kita berdua disini. Kau tak takut padaku, Fa?"
Farrand menggeleng pelan.
"Aku bisa saja menyerangmu saat ini. Dan kita bisa berbagi kehangatan di ranjang empuk milikmu." Bisik Lingga.
"...." Farrand masih terdiam. Ia kini hanya bisa menatap manik kelam milik Lingga yang kini berkilat tajam.
Melihat Farrand yang hanya bisa terdiam, Lingga merasa gemas. Ia lalu menggendong tubuh kecil Farrand dan membawanya masuk kedalam. Dan setelahnya, ia merebahkan tubuh Farrand diranjang yang tak jauh darinya. Dengan gerakan cepat Lingga naik, megukung tubuh terlentang Farrand dan menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Mengapa kau diam, Fa? Apa kau akan menyerahkan dirimu padaku?"
Farrand tak menjawab, ia mengalungkan tangannya keleher Lingga dan mengulum bibirnya. Membuat Lingga mati-matian menahan gejolak dalam dirinya yang ingin dibebaskan.
Cup.
Lingga melepaskan ciuman mereka dengan kasar. Beruntung, akal sehat masih menemaninya hingga saat ini. Karena jika tidak, ia yakin pastilah tangannya sudah berkelana kesana kemari untuk melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Kau tak menginginkanku, Ling?" Ucap Farrand sendu. Lingga masih terdiam, namun ternyata diam-diam ia menengguk ludahnya.
"Bukan begitu. Hanya saja, tidak malam ini." Nada parau keluar dari bibir merah Lingga. Farrand mencebik kesal, ia mendorong dada bidang Lingga yang masih mengungkungnya dan membalik keadaan. Dan kini, posisinya berada diatas tubuh Lingga yang terlentang karena bergulir akibat dorongan dari Farrand.
"Aku menginginkanmu, Ling." Bisik Farrand. Ia berbicara dengan nada yang mendayu tepat di samping telinga Lingga. Tubuh Lingga terasa lemas. Ia seperti kehilangan tenaganya saat ini. Dan seketika, tubuhnya mengejang saat ia merasakan Farrand mengecup leher jenjang miliknya.
"Kuharap kau tak menyesal dengan perkataanmu, Ru. Karena setelah ini aku tak akan bisa dihentikan." Tanpa basa basi lagi, Lingga langsung membalikkan keadaan dan langsung menghujami Farrand dengan ciuman buasnya.
.
.
.
"Ling...."
"Lingga...."
Mata Lingga mengerjap pelan saat dirasanya ada yang menggangu tidur lelapnya. Matanya terasa silau, sinar matahari yang mengenainya mau tak mau membuatnya harus membiasakan matanya terhadap cahaya yang berada di sekitarnya.
"Kau tertidur sangat pulas sekali. Karena ku takut kita terlambat, jadi kuputuskan untuk membangunkanmu. Ayo, bergegaslah. Lagi pula kau masih harus mampir ke apartment mu dan berganti baju, bukan?"
Lingga berusaha terduduk meski ia merasa jika badannya masih lemas. Ia mengerjap pelan, di hadapannya kini berdiri sosok Farrand yang telah rapi dengan seragamnya.
"Makanan telah siap. Dan ku tunggu di ruang makan ya." Senyuman manis bertengger di bibir Farrand. Lingga tertegun, wajahnya serasa memanas saat ia mengingat kejadian semalam.
Tunggu,
Kejadian semalam?
Seakan tersadar, Lingga segera mengecek kondisi tubuhnya. Ia bernafas lega saat ia merasa jika dirinya masih memakai pakaian lengkapnya. Melihat gelagat Lingga, Farrand tersenyum dan berbalik lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.
Sesampainya dipintu kamar, Farrand berhenti dan menolehkan kepalanya kearah Lingga, "Oh iya, segera bersiap saja. Biar aku yang akan membereskan sisanya." Ucap Farrand.
Blushhh..
Rona merah menjalari wajah Lingga. Ia menyingkap selimutnya secara kasar dan jantungnya berdegup kencang saat menyadari celana yang ia pakai terlihat basah. Farrand terkikik geli. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya dan berjalan menuju dapur.
Lingga mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang kamar yang ditempatinya. Pikirannya masih belum bisa memproses kejadian yang terngiang-ngiang dibenaknya sedari tadi. Ia ingat dengan pasti jika ia melakukannya di kamar Farrand. Tapi mengapa kamarnya berbeda? Mungkinkah?
Aarrrgggghhhhhh...
Lingga mengacak surai kelamnya frustasi karena ia telah sadar dengan apa yang terjadi. Kini ia merasa malu. Malu karena di malam pertamanya menginap dirumah kekasihnya, ia memimpikan hal 'itu' dan berakhir mengotori salah satu ranjang dirumah itu.
"Mengapa aku harus bermimpi seperti itu saat aku menginap di rumahnya? Ini memalukan. Pantas tadi ia bersikap seperti itu." Bisik Lingga.
"Eh.... tapi. Apa dia tau ya? Huaaaaa" Lingga berguling dan semakin merasa frustasi karena ia tertangkap basah oleh kekasihnya. Wajahnya semakin memerah, ia menggeram kesal dan seketika berlari menuju kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.
Setelah mandi, ia mendapati ranjang yang semula berantakan kini telah rapi, dengan bedcover bersih dan satu set pakaian yang terlipat rapi diatasnya. Ia mengernyit lagi, mungkinkah Farrand telah menggantinya? Jika iya, bukankah itu berarti Farrand melihat bekas mimpinya semalam yang tercecer disana?
.
.
__ADS_1
.
"Duduklah, Ling. Jangan hanya berdiri disana."
Lingga mengangguk pelan dan langsung mengambil tempat yang bersebrangan dengan tempat Farrand terduduk. Wajahnya masih memerah. Dan kini lidahnya seakan kelu untuk berkata karena malunya masih menguasai dirinya.
"Ayo, kita harus bergegas jika tak ingin terlambat."
Lagi-lagi Lingga hanya bisa mengangguk patuh.
"Jangan terlalu di pikirkan, Ling. Aku masih bisa mencucinya."
"Maaf." Lingga berkata dengan nada selirih mungkin.
Farrand terkikik geli, ia tak menyangka Lingga akan terlihat semenyesal itu.
"Sudahlah. Aku merasa risih jika kau terus menerus meminta maaf padaku."
Mau tak mau, Lingga hanya bisa menurut saja. Ia mengangguk, dan kemudian sarapan dengan tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun hingga mereka berangkat menuju sekolah.
Ah, seperti seorang suami yang ketahuan selingkuh saja.
....
"Jadi, apa yang ingin kalian berdua sampaikan?" Farrand bertanya dengan nada malas. Bagaimana tidak? Ava yang tadi di sekolahnya begitu menggebu-gebu dan penuh semangat mengatakan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya sepulang sekolah. Dan kini, di sinilah mereka berada. Farrand, Ava, Samuel -orang yang dimaksud oleh Ava- dan Lingga-pacar posesif yang takut pacarnya di apa-apakan oleh Ava- berkumpul di sebuah cafe sambil meyesap minuman hangat dan beberapa kudapan ringan.
"Sebenarnya hanya Samuel yang ingin menyampaikan sesuatu. Aku hanya mendampinginya saja." kata Ava.
Lingga memandang Samuel dengan pandangan menyelidik. Ia heran, mengapa Samuel yang baru mengalahkannya kini duduk di depannya dengan maksud dan tujuan ingin bertemu dan berbincang dengan kekasihnya? Apakah ia ingin menantang Farrand? Jika iya, berarti ia harus waspada mulai sekarang.
"Sebenarnya aku ingin menanyakan beberapa hal tentang kakakmu." Ujar Samuel.
"Kakak?" Farrand mengernyit heran. Bagaimana bisa Samuel menanyakan seorang kakak padanya? Sedangkan ia selama ini menjadi anak tunggal dan hanya satu-satunya yang dimiliki oleh ayah dan ibunya. Ngelantur kah pemuda di depannya ini?
"Iya. Laki-laki berambut sama denganmu yang mengendarai mobil NSX malam-malam itu."
Farrand mengernyit bingung, begitu pun dengan Lingga. Pria yang duduk di sampingnya itu menoleh ke arah Farrand dengan tatapan meminta jawaban, namun Farrand hanya balas menatapnya seolah mengatakan jika ia yang mengurusnya. Ah, sepasang kekasih memang begitu, tanpa mengucapkan kata pun mereka bisa menyelami maksud masing-masing.
"Atas dasar apa kau menyimpulkan dia kakakku? Dan mengapa juga kau tak langsung menemuinya saja?" Nada tenang nan santai keluar dari ucapan Farrand, ia ingin tau, sebenarnya sampai mana pemuda ini salah paham dengan apa yang terjadi?
"Sebenarnya cerita ku akan sedikit panjang untuk diceritakan." Ucap Samuel.
"Aku akan mendengarkan." potong Farrand.
Samuel menghela nafas pelan, mencoba mencari kata yang pas untuk menjabarkan awal pertemuannya hingga ia berakhir disini menghadapi Farrand.
"Sebelum aku balapan dengan kekasihmu itu," Samuel menjeda dan melirik kearah Lingga, "Aku disalip oleh orang di jalur gunung dengan menggunakan mobil NSX merah ditengah malam. Setelah ku ikuti, dia kudapati keluar dari apotik di kaki gunung dan langsung melesat begitu saja."
Farrand mencoba mengingat saat itu, apakah mungkin saat tengah malam ia demam dan ayahnya keluar untuk membeli obat? jika ya, mungkin saat itulah yang dimaksud Samuel. Dan sepertinya Samuel telah salah menyangka.
"Awalnya ku pikir dia sedikit lebih tua dariku, tapi aku sudah mencari beberapa info dan malah mendapatimu yang duduk dihadapanku. Kau tau, aku sempat mengira jika pria yang ku temui itu bernama Farrand Ainsley. Tapi ternyata bukan ya. Jika melihat dari fisik kalian, pasti kalian kakak beradik kan?"
fffffttttttt.
Sebisa mungkin Lingga menahan tawanya. Ia ingin menertawakan Samuel, namun hal itu di urungkannya saat mendapati pelototan tajam dari Farrand dan remasan kuat di tangannya.
"Ano, Samuel. Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang? Apa kau ingin ku pertemukan dengan 'kakakku'?" Setengah mati Farrand menahan kedutan di bibirnya akibat menahan tawa. Namun hati jahilnya yang merasa masih ingin bermain-main sebentar membuatnya merasa harus menutupinya dan berusaha 'bermain' sebaik mungkin.
"Tidak usah. Aku hanya ingin menyampaikan tantanganku padanya. Aku akan menunggunya dibawah bukit Falenca dua hari setelah natal. Dan kuharap ia datang dan melawanku dengan menggunakan NSXnya."
"Dan kalau tidak datang?"
"Aku hanya berharap dia akan datang. Karena jika dia bisa menang dariku, dia bisa mengambil mobil mana yang dia suka."
"Benarkah?" Begitu mendengar bisa mengambil mobil yang disukainya, mata Farrand berbinar cerah. Ia merasa, ia memiliki kesempatan untuk mengambil kembali mobil Lingga dan berharap bisa membuat Lingga senang.
"Ya. Aku tak akan mengingkari janji yang ku buat."
"Baiklah. Tunggu disana jam 9 malam. Akan kubuat dia datang. Tapi apapun keputusannya nanti, kuharap kau tak berharap terlalu banyak. Dan juga, boleh aku minta nomor ponselmu? Yah, untuk menghubungimu jika nanti ada perubahan."
Samuel mengangguk, sementara Lingga dan Ava yang sedari tadi hanya bisa terdiam mendengarkan kini menghela nafas, merasa lelah dengan pikirannya masing-masing. Ava yang merasa jengah dengan Samuel yang suka dengan tantangan, dan Lingga yang jengah dengan sikap Farrand yang terkadang suka berbuat jahil. Tapi biarlah, ia akan mengikuti apa yang akan kekasihnya itu lakukan. Dan juga ia ingin melihat, seberapa jauh Farrand ingin menjahili Samuel.
tbc
__ADS_1