Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 9


__ADS_3

Arasya masih terjaga. Ia kini sendirian dikamar inapnya karena


Madhiaz telah ia suruh pulang. Ia sengaja menyuruh Madhiaz pulang dan tak ingin merepotkan putra


sahabatnya itu lebih banyak lagi. Obat tidurnya yang diberikan oleh dokter


telah habis karena kondisi badannya sudah mulai membaik. Ia juga sudah tak


khawatir lagi jika ada orang yang mencelakainya. Satu-satu nya orang yang


mempunyai ambisi untuk mencelakainya sudah melakukan tanda damai dengannya,


jadi untuk apa ia khawatir? Untuk urusan jika ada orang lain yang membencinya,


biarlah itu menjadi urusan terakhir saja.


Farrand yang diantar Lingga telah sampai dilorong rumah sakit.


Ia sendirian tanpa kehadiran Lingga disisinya. Sebenarnya Lingga menawarkan


diri untuk ikut menginap menemaninya menunggu Arasya. Namun Farrand dengan


kekeras kepalaannya menolas secara halus. Ia mengatakan jika ia tak enak jika


harus membuat Lingga terlalu lelah. Besok masih harus sekolah, dan ia berasumsi


jika dirinya tak ingin melihat Lingga besok dalam kondisi kelelahan.


Dengan pelan ia menyusuri koridor sepi rumah sakit. Suara


decak kaki berbalut flat shoes yang beradu dengan lantai dingin rumah


sakit terasa begitu jelas. Tak ada orang yang lewat, dan ia memaklumi itu.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dini hari saat ini.


Setelah sampai di depan ruang inap ayahnya, Farrand tak


langsung masuk. Ia masih berhenti sejenak dan menghirup nafas dalam-dalam. Ia


tak boleh terlihat lelah dihadapan ayahnya. Meski yang ia yakini pastilah


ayahnya telah tertidur untuk saat ini. Dan, sepertinya ia harus membuang


jauh-jauh keyakinannya itu setelah melihat ayahnya masih terjaga sambil duduk


menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang.


"Kau pulang telat, putriku." Sapa Arasya sambil


tersenyum kecil. Farrand menelan ludah gugup. Sepertinya ia butuh asupan


adrenalin untuk menghadapi senyum penuh makna dari ayahnya. Akan marahkah


ayahnya? Kecewakah? Atau, banggakah ayahnya jika ayahnya tau apa yang telah ia


lakukan? Dan berbagai pertanyaan serta kemungkinan jawaban atau kata-kata yang


ia perlukan untuk menjelaskan kepada ayahnya sedang ia siapkan difikirannya.


"Maafkan keterlambatanku, ayah. Mengapa ayah tak juga istirahat?" Jawab Farrand. Lantas ia


mendudukkan diri di kursi samping ranjang ayahnya dan mengambil sebuah apel


disisinya.


"Ayah merindukan putri kecil ayah."


"Farrand tadi keluar karena ada urusan sebentar." Farrand


menunduk. Menatap langsung wajah Arasya saat ini tentu bukan hal yang baik.


"Ayah sudah tau apa yang telah putri ayah lakukan."


Mata Farrand membola. Ia mendongakkan wajahnya dan mendapati wajah Arasya


tersenyum kepadanya.


"Ayah bangga pada Farrand. Yah... meski sedikit kecewa


karena Farrand telah membuat lecet kesanyangan ayah. Tapi ayah yakin. Farrand


melakukan itu untuk ayah, bukan?" Farrand terkesiap mendengar penuturan


ayahnya. Ia hanya bisa mengangguk lemah tanpa mengeluarkan kata.


"Seharusnya ayah yang meminta maaf. Jika saja ayah tak begini,


pasti Farrand tak akan melakukan hal itu. Benarkan?" Lagi. Farrand hanya


bisa menganggukkan kepalanya saja mendengarnya.Sebenarnya ia sedikit terharu karena ayahnya tidak memarahinya dan


malah mengatakan jika ayahnya bangga padanya.


Pluk.....


Arasya mengusap puncak kepala Farrand. Lalu mengelusnya dengan penuh kasih


sayang. "Meskipun mobil itu kesayangan ayah. Tapi putri ayah jauh lebih


berharga dari mobil itu. Jadi...... maukah putri ayah yang cantik ini


menceritakan pengalaman yang ia jalani kemarin kepada ayah?" Tambahnya.


Arasya menatap putrinya dengan


pandangan hangat. Ada sedikit rasa sesak didadanya saat tau jika putrinya


mempertaruhkan hal yang begitu besar demi kesembuhannya. Sebenarnya ia tadi


ingin marah saja pada putrinya, mengingat apa yang dilakukan putriya itu bukan


sesuatu yang sepele dan bisa saja membuat nyawa putrinya dalam bahaya. Tapi apa


mau dikata, jika I mengikuti egonya dan memarahi putri semata wayangnya, yang


ada nantinya putrinya itu akan menjauh dan menjaga jarak padanya. Tidak! Tentu


ia tak mau hal itu terjadi.


"Tentu, ayah." Farrand tersenyum. Rasa canggung yang


menggelayuti hatinya tadi perlahan memudar begitu mendapat perlakuan seperti


itu dari ayahnya. Ayahnya yang baik hati. Ah.... sepertinya ia sudah merasa


cukup meski hanya dengan orang tua tunggal saja. Kelembutan dan kasih sayang


ayahnya mampu mengisi kekosongan hati akibat ketiadaan ibunya.Dulu ia sempat merasa sedih akan ketiadaan


ibunya, namun sepertinya hal itu sudah tidak berlaku lagi padanya.


"Ayah tau, aku menang di balapan pertamaku." Senyum


mulai terpatri diwajah manisnya sambil diselingi mengupas apel yang tadi ia


ambil. Arasya yang melihatnya pun ikut tersenyum. Hatinya terasa menghangat.


"Lalu"


"Ini pertama kali aku mengemudi lagi setelah kita pindah


kesini, ayah."


"Kau tak gugup?"


"Tentu saja aku gugup, ayah. Tapi tiba-tiba ucapan ayah


yang dulu tak pernah kumengerti terlintas begitu saja dikepalaku saat aku


memegang kemudi."


Farrand tersenyum. Ia lalu menyuapkan potongan apel yang tadi


ia kupas ke Arasya. Dan hup.. Arasya menerima apel itu dan sedikit menggigit ujung


jari Farrand.


"Ayah..... sakit." Ucap Farrand sedikit menjerit


saat Arasya menggigit tangannya.


"Jadi... bagaimana yang lainnya. Ayah rasa ceritanya


bukan hanya itu."


"Ya.. ya... ya.... ayah selalu bisa membuatku cerita


panjang lebar. Ayah tau... aku mengalahkan Agera ditikungan tajam dengan

__ADS_1


menggunakan teknik yang pernah ayah pakai."


"Inertia drift kah?"


"Gotcha... ayah benar."


"Tapi kau hanya melihat ayah melakukannya sekali."


"Ayah lupa aku anak siapa?"


"Hm... ayah hanya lupa bagaimana kau berfikir hingga


sejauh itu. Mengingat kau selalu bertingkah ceroboh...." Arasya sedikit


terkikik. Dan Farrand hanya bisa mendengus mendengarnya.Dan, apa itu tadi? Ceroboh? Hey, ia tak


ceroboh. Hanya saja terkadang ia bertingkah di luar batas. Camkan itu.


"Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, ayah. Dan cuti


dua tahun bukan waktu yang lama hingga aku melupakan semuanya begitu


saja."


"Yah.... kau benar-benar mirif ibumu. Dia bisa belajar


hanya dengan melihat saja. Dan dengan adanya kau disisi ayah, membuat ayah


selalu merasa jika ibumu tak benar-benar meninggalkan kita."Arash menunduk, ia sedikit merasa sesak saat


kembali mengingat mendiang istrinya. Jika di fikir lagi, bukankah semakin hari


putrinya itu semakin mirip dengan ibunya? Mendiang istrinya?


"Apa ayah begitu mencintai ibu?"


"Tentu. Dia salah satu perempuan yang paling


kucintai."


"Salah satu


perempuan yang dicintai?Apa ayah punya wanita lain? Lalu salah satu lainnya


itu siapa? Katakan, ayah. Siapa dia. Biar aku memberinya pelajaran karena telah


menggeser kedudukan ibu sebagai satu-satunya wanita dihati ayah." Nada


emosi terselip dicara bicara Farrand. Ia ingin marah. Ia hanya ingin ibunya menjadi


satu-satunya wanita yangdicintai ayahnya.


Sedang Arasya, ia terkekeh melihat putrinya yang emosi seperti


itu. "Kau. Wanita selain ibumu yang begitu ayah cintai."


Dan blushh....


Pipi Farrand


merona mendengar penuturan ayahnya. Ia tak menyangka jika ayahnya bisa


merayunya seperti itu.


"Lalu... apa putri ayah ini sudah mendapat laki-laki yang


bisa menggeser posisi ayah?"


"Tentu belum, ayah. Ayah masihlah satu-satunya


pria yang Farrand cintai."


"Bagaimana dengan pemuda bermobil Ageraitu?" Pertanyaan dari Arasya


membuat bibit Farrand mengucut dan mencebik kesal.


"Aku sudah memutuskan untuk menjauh darinya."


"Kenapa? Setau ayah kau begitu mencintainya."


"Dia lemah. Aku tak suka pria lemah sepertinya."


"Kenapa? Apa


maksudmu dengan pria yang lemah?"


"Aku ingin pria yang kuat seperti ayah. Yang bisa


"Lalu, jika tak juga kau dapatkan?"


"Tentu saja aku akan menunggunya bahkan jika aku harus


menjadi perawan tua."


"Hahahhahaa" Arasya tergelak. Ia tak menyangka jika


putrinya bisa melontarkan kata-kata itu.


"Bagaimana jika itu benar terjadi?"


"Tak masalah. Aku bisa bersama ayah lebih lama."


"Dan bagaimana kau bisa hidup jika ayah pergi lebih


dulu?"


"hye....ayah... jangan bicara seperti itu."


"Hei. Tak ada yang tau hari esok, bukan?".


"Aku kuat. Aku bisa melanjutkan hidupku meski sendirian."


"Ya.ya.yah.... anak ayah itu hebat. Saking hebatnya


bahkan tak butuh lelaki disampingnya."


Arasya menggeleng pelan. Tapi sungguh,


bukan itu maksud Farrand. Ia hanya belum menemukan lelaki yang enarik di


pandangan matanya. Itu saja. Dan tentunya juga tak berniat menjadi perawan tua.


"Aku hanya belum menemukan alasan yang tepat untuk


membuat diriku bergantung pada lelaki."Ujarnya.


"Hm.... lalu, siapa saja yang kau kalahkan malam


itu?"


"Banyak. Ayah. Ayah tak kan percaya jika aku bisa


mengalahkan beberapa mobil dengan kekuatan diatas kesayangan ayah."


"Oh ya?"


"Ya... ada Agera milik Dion, rx-8 milik Matsuri, sil-14


milik Nagato, dan GT-R milik Lingga. Lalu...." Mata Farrand berbinar cerah


saat menceritakan nya. Ia ingin melanjutkan. Namun ia teringat sesuatu dan


tidak jadi melanjutkan ceritanya.


"Lalu?"


"Tunggu..ayah.. apa ayah kenal Lingga?"


"Lingga? Kenapa?"


"Aku heran padanya, ayah. Begitu balapan selesai dia


menghampiriku dan mengatakan hal yang tak kuketahui. Dia menanyakan tentang


janji. Tapi aku tak tau janji apa yang ia maksud."


"Lingga kah?" Arasya


menopangkan tangan dibawah dagunya, memasang pose memikir serius. "Coba


ayah ingat-ingat." Lanjutnya. Farrand yang menunggu jawaban ayahnya


sedikit agak kesal. Lama sekali ayahnya mengingat.


"A...... tidak tau." Arasya nyengir. Padahal dalam


hati ia sangat tau siapa itu Lingga. "Bagaimana penampilan dan


rupanya?" Pancing Arasya.

__ADS_1


"Rambut raven lurus. Mata onyx. Tinggi


putih. Dan.... apalagi ya?"


"Tampan." Celetuk Arasya. Dan blushh... rona merah


samar terukir dipipi Farrand.


"Masih ayah yang paling tampan. Dia tak setampan


ayah."


"Hehehehe... jadi.... yah. Ini hanya asumsi ayah saja.


Tapi mungkin dia pemuda yang ayah temui di jalan menuju Kota Halu dulu.


"Kota Halu?"


"Iya. Bukankah saat itu kau pun ikut? Ingat saat ayah


berhenti dijalan untuk membantu seorang pemuda yang mobilnya macet?"


"Huum..." Farrand mengangguk. Ia sedikit ingat


tentang hal itu. Saat itu ia ikut ayahnya. Namun ia duduk dibelakang. Pastilah Lingga


tak melihat


kehadirannya.


"Mungkin itu dia."


"Tapi janji apa yang ayah ucapkan padanya. Hingga ia


sebegitunya mengejarku. Saat itu aku melihatnya seolah ia telah lama mencari


ayah."


"Itu..... untuk kau cari tau sendiri. Hehehehehe." Arasya


nyengir kuda. Dan Farrand hanya bisa mendengus mendengar ayahnya yang seperti


itu. Sepertinya ayahnya sedang dalam mode jahil.


"Sudahlah, yah. Istirahatlah. Sekarang sudah masuk waktu


dinihari. Ayah harus banyak istirahat untuk pemulihan kondisi ayah."


"Tentu. Tapi putriku pun harus istirahat juga."


Farrand tak menjawab. Hanya senyuman dan anggukanyang ia


berikan untuk ayahnya. Setelah itu ia membantu ayahnya berbaring dan dengan


lembut menyelimuti tubuh ringkih ayahnya. Tak lupa, sebuah kecupan ringan ia berikan


dikeningnya.


 


 


.


.


.


Arasya telah benar-benar terlelap. Sedang Farrand masihlah


belum bisa memejamkan matanya. Fikirannya masih berkeliaran sekarang. Ia masih


mengingat-ingat perbincangannya dengan Lingga saat dijalan tadi. Lingga, nama


pemuda itu selalu ia rapalkan dalam hati. Sebenarnya janji apa yang ayahnya


buat dengan Lingga? Mengapa ia tak boleh tau akan hal itu?


Lalu fikirannya kembali menerawang. Teringat lagi akan


permintaan Lingga yang ingin menjadikannya navigator.


Flashback


"Maukah kau menjadi navigatorku?" Tanya Lingga.


"Navigator?"


"ya.. aku rasa kau punya kemampuan yang lumayan


mumpuni untuk kujadikan navigator ku. Kita bisa mendapatkan banyak keuntungan


untuk bersama."


Farrand mengernyit. Navigator? Selama ini ia sama sekali


tak pernah bermimpi untuk jadi navigator. Apalagi jadi navigator pemuda itu.


"Memang apa yang kita dapat dari itu."


"Kau bisa belajar langsung dengan mengikutiku balapan.


Dan kau pun bisa mengarahkan ku tentang kondisi mobilku, dan kondisi jalan.


Bukankah itu seperti simbiosis mutualisme? Aku punya navigator, dan kau bisa


belajar sekaligus."


"Apa aku dapat bayaran?" Farrand menoleh kearah Lingga,


dan Lingga masihlah memfokuskan pandangannya kearah depan.


"Kuberi kau sepertiga dari hadiah jika kita


menang."


"Lalu untuk bekal makan siang?"


" Bekal makan siang?"


"Iya. bekal makan siang yang kubuatkan untukmu sebagai


bayaran kau mengajariku."


"Tetap buatkan aku. Itu beda hal dengan aku memintamu


menjadi navigatorku."


"Kau curang. Aku jadi navigator saja hanya kau beri


hadiah sepertiga."


"Hahahahahahahahaa. Aku hanya minta bekal makan siang sebagai


bayaran mengajarimu. Kurasa itu bukan hal sulit, bukan?"


"Memang tak sulit. Tapi mengapa kau hanya memberiku


sepertiga hadiahnya?"


"Hei... sepertiga itu tidaklah sedikit. Aku bisa saja


memberimu separuhnya. Tapi aku yang susah menyetir disini. Lagipula yang


dipakai juga mobilku. Dan bahan


bakar juga aku yang menanggungnya."


Kekehan kecil telontar dari bibir Lingga. Ia cukup merasa


puas telah men-skak gadis disampingnya itu. Sedang Farrand hanya bisa


menyilangkan tangan didadanya dan mendengus.


End flashback


Farrand mendengus kembali jika ia ingat hal itu. Navigator katanya? Ia sedikit ragu dengan tawaran Lingga. Tapi ia juga tertarik. Tertarik


dengan hadiah yang ditawarkannya. Siapa tau dengan hadiah itu ia bisa menabung


dan membeli mobil sendiri. Dan ia bisa bebas mengendarai mobil diarena balap


tanpa menggunakan mobil ayahnya, dan tentu idenditas ayahnya pula.


Huh..... membayangkan beberapa hal mengenai Lingga membuatnya


susah tidur. Mungkin esok ia akan terbangun dengan kantung mata yang tebal dan badan yang pegal karena tidur di sofa


rumah sakit.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2