
Arasya masih terjaga. Ia kini sendirian dikamar inapnya karena
Madhiaz telah ia suruh pulang. Ia sengaja menyuruh Madhiaz pulang dan tak ingin merepotkan putra
sahabatnya itu lebih banyak lagi. Obat tidurnya yang diberikan oleh dokter
telah habis karena kondisi badannya sudah mulai membaik. Ia juga sudah tak
khawatir lagi jika ada orang yang mencelakainya. Satu-satu nya orang yang
mempunyai ambisi untuk mencelakainya sudah melakukan tanda damai dengannya,
jadi untuk apa ia khawatir? Untuk urusan jika ada orang lain yang membencinya,
biarlah itu menjadi urusan terakhir saja.
Farrand yang diantar Lingga telah sampai dilorong rumah sakit.
Ia sendirian tanpa kehadiran Lingga disisinya. Sebenarnya Lingga menawarkan
diri untuk ikut menginap menemaninya menunggu Arasya. Namun Farrand dengan
kekeras kepalaannya menolas secara halus. Ia mengatakan jika ia tak enak jika
harus membuat Lingga terlalu lelah. Besok masih harus sekolah, dan ia berasumsi
jika dirinya tak ingin melihat Lingga besok dalam kondisi kelelahan.
Dengan pelan ia menyusuri koridor sepi rumah sakit. Suara
decak kaki berbalut flat shoes yang beradu dengan lantai dingin rumah
sakit terasa begitu jelas. Tak ada orang yang lewat, dan ia memaklumi itu.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dini hari saat ini.
Setelah sampai di depan ruang inap ayahnya, Farrand tak
langsung masuk. Ia masih berhenti sejenak dan menghirup nafas dalam-dalam. Ia
tak boleh terlihat lelah dihadapan ayahnya. Meski yang ia yakini pastilah
ayahnya telah tertidur untuk saat ini. Dan, sepertinya ia harus membuang
jauh-jauh keyakinannya itu setelah melihat ayahnya masih terjaga sambil duduk
menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang.
"Kau pulang telat, putriku." Sapa Arasya sambil
tersenyum kecil. Farrand menelan ludah gugup. Sepertinya ia butuh asupan
adrenalin untuk menghadapi senyum penuh makna dari ayahnya. Akan marahkah
ayahnya? Kecewakah? Atau, banggakah ayahnya jika ayahnya tau apa yang telah ia
lakukan? Dan berbagai pertanyaan serta kemungkinan jawaban atau kata-kata yang
ia perlukan untuk menjelaskan kepada ayahnya sedang ia siapkan difikirannya.
"Maafkan keterlambatanku, ayah. Mengapa ayah tak juga istirahat?" Jawab Farrand. Lantas ia
mendudukkan diri di kursi samping ranjang ayahnya dan mengambil sebuah apel
disisinya.
"Ayah merindukan putri kecil ayah."
"Farrand tadi keluar karena ada urusan sebentar." Farrand
menunduk. Menatap langsung wajah Arasya saat ini tentu bukan hal yang baik.
"Ayah sudah tau apa yang telah putri ayah lakukan."
Mata Farrand membola. Ia mendongakkan wajahnya dan mendapati wajah Arasya
tersenyum kepadanya.
"Ayah bangga pada Farrand. Yah... meski sedikit kecewa
karena Farrand telah membuat lecet kesanyangan ayah. Tapi ayah yakin. Farrand
melakukan itu untuk ayah, bukan?" Farrand terkesiap mendengar penuturan
ayahnya. Ia hanya bisa mengangguk lemah tanpa mengeluarkan kata.
"Seharusnya ayah yang meminta maaf. Jika saja ayah tak begini,
pasti Farrand tak akan melakukan hal itu. Benarkan?" Lagi. Farrand hanya
bisa menganggukkan kepalanya saja mendengarnya.Sebenarnya ia sedikit terharu karena ayahnya tidak memarahinya dan
malah mengatakan jika ayahnya bangga padanya.
Pluk.....
Arasya mengusap puncak kepala Farrand. Lalu mengelusnya dengan penuh kasih
sayang. "Meskipun mobil itu kesayangan ayah. Tapi putri ayah jauh lebih
berharga dari mobil itu. Jadi...... maukah putri ayah yang cantik ini
menceritakan pengalaman yang ia jalani kemarin kepada ayah?" Tambahnya.
Arasya menatap putrinya dengan
pandangan hangat. Ada sedikit rasa sesak didadanya saat tau jika putrinya
mempertaruhkan hal yang begitu besar demi kesembuhannya. Sebenarnya ia tadi
ingin marah saja pada putrinya, mengingat apa yang dilakukan putriya itu bukan
sesuatu yang sepele dan bisa saja membuat nyawa putrinya dalam bahaya. Tapi apa
mau dikata, jika I mengikuti egonya dan memarahi putri semata wayangnya, yang
ada nantinya putrinya itu akan menjauh dan menjaga jarak padanya. Tidak! Tentu
ia tak mau hal itu terjadi.
"Tentu, ayah." Farrand tersenyum. Rasa canggung yang
menggelayuti hatinya tadi perlahan memudar begitu mendapat perlakuan seperti
itu dari ayahnya. Ayahnya yang baik hati. Ah.... sepertinya ia sudah merasa
cukup meski hanya dengan orang tua tunggal saja. Kelembutan dan kasih sayang
ayahnya mampu mengisi kekosongan hati akibat ketiadaan ibunya.Dulu ia sempat merasa sedih akan ketiadaan
ibunya, namun sepertinya hal itu sudah tidak berlaku lagi padanya.
"Ayah tau, aku menang di balapan pertamaku." Senyum
mulai terpatri diwajah manisnya sambil diselingi mengupas apel yang tadi ia
ambil. Arasya yang melihatnya pun ikut tersenyum. Hatinya terasa menghangat.
"Lalu"
"Ini pertama kali aku mengemudi lagi setelah kita pindah
kesini, ayah."
"Kau tak gugup?"
"Tentu saja aku gugup, ayah. Tapi tiba-tiba ucapan ayah
yang dulu tak pernah kumengerti terlintas begitu saja dikepalaku saat aku
memegang kemudi."
Farrand tersenyum. Ia lalu menyuapkan potongan apel yang tadi
ia kupas ke Arasya. Dan hup.. Arasya menerima apel itu dan sedikit menggigit ujung
jari Farrand.
"Ayah..... sakit." Ucap Farrand sedikit menjerit
saat Arasya menggigit tangannya.
"Jadi... bagaimana yang lainnya. Ayah rasa ceritanya
bukan hanya itu."
"Ya.. ya... ya.... ayah selalu bisa membuatku cerita
panjang lebar. Ayah tau... aku mengalahkan Agera ditikungan tajam dengan
__ADS_1
menggunakan teknik yang pernah ayah pakai."
"Inertia drift kah?"
"Gotcha... ayah benar."
"Tapi kau hanya melihat ayah melakukannya sekali."
"Ayah lupa aku anak siapa?"
"Hm... ayah hanya lupa bagaimana kau berfikir hingga
sejauh itu. Mengingat kau selalu bertingkah ceroboh...." Arasya sedikit
terkikik. Dan Farrand hanya bisa mendengus mendengarnya.Dan, apa itu tadi? Ceroboh? Hey, ia tak
ceroboh. Hanya saja terkadang ia bertingkah di luar batas. Camkan itu.
"Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, ayah. Dan cuti
dua tahun bukan waktu yang lama hingga aku melupakan semuanya begitu
saja."
"Yah.... kau benar-benar mirif ibumu. Dia bisa belajar
hanya dengan melihat saja. Dan dengan adanya kau disisi ayah, membuat ayah
selalu merasa jika ibumu tak benar-benar meninggalkan kita."Arash menunduk, ia sedikit merasa sesak saat
kembali mengingat mendiang istrinya. Jika di fikir lagi, bukankah semakin hari
putrinya itu semakin mirip dengan ibunya? Mendiang istrinya?
"Apa ayah begitu mencintai ibu?"
"Tentu. Dia salah satu perempuan yang paling
kucintai."
"Salah satu
perempuan yang dicintai?Apa ayah punya wanita lain? Lalu salah satu lainnya
itu siapa? Katakan, ayah. Siapa dia. Biar aku memberinya pelajaran karena telah
menggeser kedudukan ibu sebagai satu-satunya wanita dihati ayah." Nada
emosi terselip dicara bicara Farrand. Ia ingin marah. Ia hanya ingin ibunya menjadi
satu-satunya wanita yangdicintai ayahnya.
Sedang Arasya, ia terkekeh melihat putrinya yang emosi seperti
itu. "Kau. Wanita selain ibumu yang begitu ayah cintai."
Dan blushh....
Pipi Farrand
merona mendengar penuturan ayahnya. Ia tak menyangka jika ayahnya bisa
merayunya seperti itu.
"Lalu... apa putri ayah ini sudah mendapat laki-laki yang
bisa menggeser posisi ayah?"
"Tentu belum, ayah. Ayah masihlah satu-satunya
pria yang Farrand cintai."
"Bagaimana dengan pemuda bermobil Ageraitu?" Pertanyaan dari Arasya
membuat bibit Farrand mengucut dan mencebik kesal.
"Aku sudah memutuskan untuk menjauh darinya."
"Kenapa? Setau ayah kau begitu mencintainya."
"Dia lemah. Aku tak suka pria lemah sepertinya."
"Kenapa? Apa
maksudmu dengan pria yang lemah?"
"Aku ingin pria yang kuat seperti ayah. Yang bisa
"Lalu, jika tak juga kau dapatkan?"
"Tentu saja aku akan menunggunya bahkan jika aku harus
menjadi perawan tua."
"Hahahhahaa" Arasya tergelak. Ia tak menyangka jika
putrinya bisa melontarkan kata-kata itu.
"Bagaimana jika itu benar terjadi?"
"Tak masalah. Aku bisa bersama ayah lebih lama."
"Dan bagaimana kau bisa hidup jika ayah pergi lebih
dulu?"
"hye....ayah... jangan bicara seperti itu."
"Hei. Tak ada yang tau hari esok, bukan?".
"Aku kuat. Aku bisa melanjutkan hidupku meski sendirian."
"Ya.ya.yah.... anak ayah itu hebat. Saking hebatnya
bahkan tak butuh lelaki disampingnya."
Arasya menggeleng pelan. Tapi sungguh,
bukan itu maksud Farrand. Ia hanya belum menemukan lelaki yang enarik di
pandangan matanya. Itu saja. Dan tentunya juga tak berniat menjadi perawan tua.
"Aku hanya belum menemukan alasan yang tepat untuk
membuat diriku bergantung pada lelaki."Ujarnya.
"Hm.... lalu, siapa saja yang kau kalahkan malam
itu?"
"Banyak. Ayah. Ayah tak kan percaya jika aku bisa
mengalahkan beberapa mobil dengan kekuatan diatas kesayangan ayah."
"Oh ya?"
"Ya... ada Agera milik Dion, rx-8 milik Matsuri, sil-14
milik Nagato, dan GT-R milik Lingga. Lalu...." Mata Farrand berbinar cerah
saat menceritakan nya. Ia ingin melanjutkan. Namun ia teringat sesuatu dan
tidak jadi melanjutkan ceritanya.
"Lalu?"
"Tunggu..ayah.. apa ayah kenal Lingga?"
"Lingga? Kenapa?"
"Aku heran padanya, ayah. Begitu balapan selesai dia
menghampiriku dan mengatakan hal yang tak kuketahui. Dia menanyakan tentang
janji. Tapi aku tak tau janji apa yang ia maksud."
"Lingga kah?" Arasya
menopangkan tangan dibawah dagunya, memasang pose memikir serius. "Coba
ayah ingat-ingat." Lanjutnya. Farrand yang menunggu jawaban ayahnya
sedikit agak kesal. Lama sekali ayahnya mengingat.
"A...... tidak tau." Arasya nyengir. Padahal dalam
hati ia sangat tau siapa itu Lingga. "Bagaimana penampilan dan
rupanya?" Pancing Arasya.
__ADS_1
"Rambut raven lurus. Mata onyx. Tinggi
putih. Dan.... apalagi ya?"
"Tampan." Celetuk Arasya. Dan blushh... rona merah
samar terukir dipipi Farrand.
"Masih ayah yang paling tampan. Dia tak setampan
ayah."
"Hehehehe... jadi.... yah. Ini hanya asumsi ayah saja.
Tapi mungkin dia pemuda yang ayah temui di jalan menuju Kota Halu dulu.
"Kota Halu?"
"Iya. Bukankah saat itu kau pun ikut? Ingat saat ayah
berhenti dijalan untuk membantu seorang pemuda yang mobilnya macet?"
"Huum..." Farrand mengangguk. Ia sedikit ingat
tentang hal itu. Saat itu ia ikut ayahnya. Namun ia duduk dibelakang. Pastilah Lingga
tak melihat
kehadirannya.
"Mungkin itu dia."
"Tapi janji apa yang ayah ucapkan padanya. Hingga ia
sebegitunya mengejarku. Saat itu aku melihatnya seolah ia telah lama mencari
ayah."
"Itu..... untuk kau cari tau sendiri. Hehehehehe." Arasya
nyengir kuda. Dan Farrand hanya bisa mendengus mendengar ayahnya yang seperti
itu. Sepertinya ayahnya sedang dalam mode jahil.
"Sudahlah, yah. Istirahatlah. Sekarang sudah masuk waktu
dinihari. Ayah harus banyak istirahat untuk pemulihan kondisi ayah."
"Tentu. Tapi putriku pun harus istirahat juga."
Farrand tak menjawab. Hanya senyuman dan anggukanyang ia
berikan untuk ayahnya. Setelah itu ia membantu ayahnya berbaring dan dengan
lembut menyelimuti tubuh ringkih ayahnya. Tak lupa, sebuah kecupan ringan ia berikan
dikeningnya.
.
.
.
Arasya telah benar-benar terlelap. Sedang Farrand masihlah
belum bisa memejamkan matanya. Fikirannya masih berkeliaran sekarang. Ia masih
mengingat-ingat perbincangannya dengan Lingga saat dijalan tadi. Lingga, nama
pemuda itu selalu ia rapalkan dalam hati. Sebenarnya janji apa yang ayahnya
buat dengan Lingga? Mengapa ia tak boleh tau akan hal itu?
Lalu fikirannya kembali menerawang. Teringat lagi akan
permintaan Lingga yang ingin menjadikannya navigator.
Flashback
"Maukah kau menjadi navigatorku?" Tanya Lingga.
"Navigator?"
"ya.. aku rasa kau punya kemampuan yang lumayan
mumpuni untuk kujadikan navigator ku. Kita bisa mendapatkan banyak keuntungan
untuk bersama."
Farrand mengernyit. Navigator? Selama ini ia sama sekali
tak pernah bermimpi untuk jadi navigator. Apalagi jadi navigator pemuda itu.
"Memang apa yang kita dapat dari itu."
"Kau bisa belajar langsung dengan mengikutiku balapan.
Dan kau pun bisa mengarahkan ku tentang kondisi mobilku, dan kondisi jalan.
Bukankah itu seperti simbiosis mutualisme? Aku punya navigator, dan kau bisa
belajar sekaligus."
"Apa aku dapat bayaran?" Farrand menoleh kearah Lingga,
dan Lingga masihlah memfokuskan pandangannya kearah depan.
"Kuberi kau sepertiga dari hadiah jika kita
menang."
"Lalu untuk bekal makan siang?"
" Bekal makan siang?"
"Iya. bekal makan siang yang kubuatkan untukmu sebagai
bayaran kau mengajariku."
"Tetap buatkan aku. Itu beda hal dengan aku memintamu
menjadi navigatorku."
"Kau curang. Aku jadi navigator saja hanya kau beri
hadiah sepertiga."
"Hahahahahahahahaa. Aku hanya minta bekal makan siang sebagai
bayaran mengajarimu. Kurasa itu bukan hal sulit, bukan?"
"Memang tak sulit. Tapi mengapa kau hanya memberiku
sepertiga hadiahnya?"
"Hei... sepertiga itu tidaklah sedikit. Aku bisa saja
memberimu separuhnya. Tapi aku yang susah menyetir disini. Lagipula yang
dipakai juga mobilku. Dan bahan
bakar juga aku yang menanggungnya."
Kekehan kecil telontar dari bibir Lingga. Ia cukup merasa
puas telah men-skak gadis disampingnya itu. Sedang Farrand hanya bisa
menyilangkan tangan didadanya dan mendengus.
End flashback
Farrand mendengus kembali jika ia ingat hal itu. Navigator katanya? Ia sedikit ragu dengan tawaran Lingga. Tapi ia juga tertarik. Tertarik
dengan hadiah yang ditawarkannya. Siapa tau dengan hadiah itu ia bisa menabung
dan membeli mobil sendiri. Dan ia bisa bebas mengendarai mobil diarena balap
tanpa menggunakan mobil ayahnya, dan tentu idenditas ayahnya pula.
Huh..... membayangkan beberapa hal mengenai Lingga membuatnya
susah tidur. Mungkin esok ia akan terbangun dengan kantung mata yang tebal dan badan yang pegal karena tidur di sofa
rumah sakit.
__ADS_1
Tbc