
Arasya berjalan dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Ia yang sedang
enak-enaknya tidur dikagetkan oleh suara dering teleponnya yang ternyata panggilan
dari Madhiaz. Rasa kantuk dimatanya menguap seketika saat ia mendengar suara Madhiaz
yang mengatakan jika Farrand mengalami kecelakaan. Huhhhh... baru tadi saat
makan malam ia khawatir Farrand mengalami kecelakaan, dan sekarang kekhawatiran
itu telah menjadi kenyataan. Sebenarnya apa yang terjadi hingga putrinya itu
mengalami hal ini? Balapankah ia? Bukankah setidaknya butuh skill yang lebih
untuk menumbangkan putrinya itu?
Sreekkk...
Pintu geser diruang rawat inap Farrand terbuka dan menampilkan sosok Arasya
dengan nafas terengah-engah. Arasya mengedarkan pandangannya. Ia mengernyit
heran, dihadapannya, terdapat 2 orang terbaring lemah diranjang yang berbeda
dengan Madhiaz yang berada ditengah-tengahnya sedang duduk menautkan jari-jarinya
dan menunduk.
"Paman!" Seru Madhiaz.
"Bagaimana keadaan Farrand, Dhiaz?"
"Sudah lebik baik. Tadi dia sudah siuman dan sekarang sedang tertidur
akibat obat penenang."
"Syukurlah..." Arasya mendesah lega mendengarnya.
"Lalu, siapa pemuda itu? Mengapa kau menempatkan mereka berdua dalam
satu ruang inap? Bukannya lebih baik jika mereka di letakkan di ruang yang
berbeda? Jangan khawatir masalah biayanya, aku akan mengurusnya nanti."
Tambah Arasya.
"Maafkan aku, paman. Bukan aku kebingungan akan biayanya. Tapi aku
sengaja mengambil satu ruang inap dengan dua ranjang agar mereka bisa satu
ruang."
"Apa maksudmu?"
"Dia Lingga, tidak punya siapapun dikota ini. Jadi aku berfikir untuk
mengumpulkan mereka disatu ruang agar aku bisa menjaga dia dan Farrand
sekaligus."
"Ya sudahlah jika memang begitu keadaanya. Tak apa. Lalu, bagaimana
keadaannya?"
"Cederanya lebih parah dari Farrand. Tulang kakinya sedikit retak dan
mungkin akan pincang beberapa waktu."
"Lalu bagaimana dengan Farrand?"
"Dia hanya syok dan mendapat benturan ringan di dahinya." Oh my
God. Hanya syok dan mendapat benturan ringan katanya? Arasya mengelus dada.
Ingin ia menjitak kepala kuncir Madhiaz dan menyentil mulut kurang ajarnya jika
tak ingat ia putra temannya. Hei. Putri kesayangannya baru saja kecelakaan dan
seakan dia bilang cedera yang dialami putrinya adalah cedera ringan? Huh....tak
tau saja, ia bahkan hampir jantungan saat mendapat kabar itu.
"Kau lelah? Biar aku saja yang menjaga mereka. Kau bisa
istirahat."
"Tak apa kah, paman?" Arasya menggeleng dan tersenyum kecil. Ia
tau jika putra temannya, yang sudah ia anggap putra sendiri itu sedang
kelelahan. Terlihat dari matanya yang sayu dan penampilannya yang sedikit
berantakan. Tapi, tunggu dulu? Bukankah mata Madhiaz memang terlihat sayu dan
mengantuk setiap saat? Ah, entahlah. Terkadang ia bingung membaca ekspresi
putra temannya itu. Antara biasa dan kelelahan terlihat tak ada perbedaan sama
sekali.
"Kau lapar? Aku membawakan beberapa roti dan minuman. Hanya itu saja
yang bisa kudapat dalam perjalanan kesini. Sudah taka da restoran yang buka. Yang
bisa kutemukan hanya minimarket 24 jam."
Madhiaz mengangguk dan beranjak menuju tas plastik yang berisikan beberapa
bungkus roti dan minuman itu. Diambilnya dua bungkus roti dan sekotak susu
coklat dan setelah itu beranjak keluar ruangan. "Tolong jaga mereka,
paman. Jangan hanya Farrand yang kau jaga, tapi pemuda disebelahnya juga."
Ucapnya sebeluam ia keluar dan menutup pintu ruang inap.
"Tentu." Arasya yakin Madhiaz sudah tidak bisa mendengar
perkataannya. Tapi ia tetap menjawab saja. Tak ada salahnya menjawab bukan?
Arasya mengelus rambut pirang panjang milik Farrand dengan lembut. Ia juga
memandangi wajah damai milik putrinya yang sedang terlelap itu. Sudah lama ia
tak melakukan hal ini, memandangi wajah damai putrinya ketika sedang tertidur.
Entah kapan terakhir kali ia lakukan itu, ia sudah lupa saking lamanya.
"Eh... aku lupa menanyakan bagaimana mereka berdua bisa
kecelakaan." Monolog Arasya. Ah, belum juga punya cucu, Arasya sudah
terserang penyakit pikun saja.
Setelahnya, pandangannya ia alihkan ke pemuda diranjang lainnya. Lama ia
mengamati wajahnya. Namun sesaat setelahnya senyum terukir tipis dibibir Arasya.
'Ariana kah?' batinnya.
.
.
.
Lingga mengedarkan pandangannya ketiap sudut ruang inapnya itu. Ia melirik
jam yang tergantung di dinding, waktu masih menunjukkan pukul 05:00am saat ini.
Sekilas ia melirik Farrand yang masih terbaring dengan perban yang melilit
didahinya. Ia mencoba merubah posisi hingga setengah duduk. Agak susah dengan
keterbatasannya saat ini. Namun ia akhirnya bisa melakukannya setelah berusaha
agak keras.
Matanya terpaku pada sesosok manusia paruh baya yang tertidur disofa. Ia
mengernyit, siapa dia? Ayah Farrand kah? Ia tak bisa melihat dengan jelas
karena orang itu memunggungi posisinya.
"Kau sudah sadar?" Lingga memalingkan wajahnya saat dirasanya ada
suara pergerakan dari samping ranjangnya.
"Eem... bagaimana keadaanmu?" Ucap Farrand. Suaranya terdengar
lemah, dan tatapan sayu khas orang bangun tidur masih menghiasi matanya.
"Bodoh. Kau masih menanyakan keadaan orang lain saat dirimu pun
tergolek lemah diruang inap."
Farrand terkikik pelan." Aku rasa tubuhku baik-baik saja. Sedangkan
kau? Aku masih teringat saat kau dan mobilmu terguling didepan mataku. Dan baru
sekarang aku benar-benar bisa melihat keadaanmu secara detail."
"Aku baik. Meski mungkin aku akan membutuhkan tongkat untuk membantuku
berjalan Karen kata dokter, tulang kakiku sedikit retak. Lalu kau? Kudengar
dari Dhiaz jika kau tak sadarkan diri setelah tabrakan."
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan ingatkan aku." Farrand memalingkan wajahnya.
Semburat merah menghiasi pipi mulusnya.
"Aku malu jika mengingatnya." Lanjutnya.
"Mengapa harus malu?"
"Mengalami kecelakaan seperti itu saja aku sudah tak sadarkan diri. Memalukan.
Aku bahkan pernah mengalami kecelakaan lebih parah dan masih sadar. Kau pun
juga begitu, bahkan setelah mobilmu dan dirimu ikut terguling saja kau masih
bisa mempertahankan kesadaranmu." Lingga tersenyum tipis, ternyata selain
pribadinya yang pendiam itu, Farrand juga wanita yang punya harga diri yag
tinggi hingga ia gampang merasa malu meski nyatanya hal itu bukan yang teramat
memalukan.
"Lalu kau ingin mengharap lebih? Kau tidak tau betapa ayah sangat
menghawatirkanmu setelah mendengar kau kecelakaan?" Kedua pasang mata itu
menoleh kearah sofa dimana Arasya menidurkan dirinya. Dilihatnya Arasya telah
bangun dan mengambil posisi duduk diselingi mta yang mash terlihat mengantuk
tentunya.
"Ayah...." cicit Farrand.
Hati Lingga terasa nyeri melihat interaksi dua orang dihadapannya itu. Ia
rindu, rindu saat dimana ia dikhawatirkan keadaannya dan dipandang dengan
pandangan yang menyiratkan kekhawatiran yang teramat dalam seperti itu. Ah, ia
juga merindukan ibunya. Ibunya yang lemah lembut selalu menanyakan kondisinya
jika ia pulang telat dengan nada cemas. Ingin ia pulang dan meminta maaf kepada
ayah dan ibunya, namun ego nya melarang keras akan hal itu. Jauh dilubuk
hatinya ia masih merasa takut. Takut akan kemarahan sang ayah yang akan
berimbas pada kehidupannya lagi. Bukan hal mustahil juga jika ketika dia
kembali ayahnya akan menghadiahinya hukuman dan mengurungnya tanpa boleh keluar
dengan membawa mobil. Huh, membayangkannya saja sudah membuat batinnya ngeri. Cukup
dulu saja ia tak diperbolehkan keluar rumah dan menyita mobilnya. Tidak kali
ini.
Arasya beranjak kekamar mandi, bermaksud mencuci muka dan mungkin sedikit
mandi untuk sekedar menyegarkan badannya yang terasa amat lelah dan punggung
yang sakit akibat tertidur di sofa semalaman. Ah, tidak. Maksudnya separuh
malam.
"Dia ayahmu?" Ucap Lingga. Setelah ia jelas melihat wajah Arasya,
ia merasa wajah Arasya cocok untuk disebut kakak Farrand.
"Tentu saja. Hanya orang buta yang tidak menyangka dia ayahku."
"Ketus sekali jawabanmu. Bisa saja dia kakakmu atau mungkin pamanmu. Lagipula,
apa kau tidak bisa berkata lebih lembut sedikit saja?"
"Aku heran. Tidak bisakah kau lebih kreatif dalam memilih pokok bahasan
untuk memulai percakapan? Aku rasa tanpa jawabanku pun kau pasti sudah menduga
dia ayahku. Mengingat fisik kami yang begitu mirif. Dan untuk kakak? Hei, aku
ini anak tunggal. Kakak darimana?"
"Aku hanya bertanya sedikit dan jawabanmu sepanjang itu."
Farrand mendengus. Ia benci keadaan ini. Keadaan dimana ia harus berhadapan
dengan pertanyaan bodoh yang jawabannya terlalu simpel. Bukan karena apa. Sudah
berulang kali ia ditanya begitu. Dan begitu ia menjawabnya, jawaban mereka pun
selalu sama. Pantas saja mirif. Begitu. Lalu? Jika mereka sudah tau jawabannya
mengapa mereka masih bertanya? Membuang-buang waktu saja.
"Oi oi..... tak bisakah kau menghargai sedikit saja perjuanganku
banyak bicara."
"Tak usah dipaksakan jika tak mampu." Lingga cengo. Sungguh. Apa
perempuan itu sedang dalam masa menyebalkannya? Dia hanya berbicara sedikit
namun balasan wanita itu? Sungguh menyakitkan hati sekali kata-kata yang di
ucapkannya.
"Ehm.." suara deheman dari Arasya yang telah selesai dari
urusannya di kamar mandi membuat pertengkaran lecil dua insan itu berhenti.
"Kalian lapar?" Tanya Arasya.
Farrand mengangguk lemah. Sedang Lingga hanya bisa berdiam dan menundukkan
pandangannya. Dalam hatinya ia ingin mengutarakan rasa laparnya. Tapi ia tak
bisa. Ia yang juga memiliki ego tinggi tak bisa begitu saja mengatakan jika
dirinya juga lapar.
Arasya menangkap gengstur tubuh Lingga yang juga lapar namun malu mengakui
itu dengan baik. Ia tersenyum tipis dan memakluminya. Biar bagaimanapun juga
dirinya dan Lingga sebelumnya belum pernah dekat. Bisa saja Lingga sungkan
untuk meminta tolong dan menunggu Madhiaz datang saja. Atau menunggu pihak
rumah sakit yang memberi makan meski ia tau jika makanan rumah sakit sama
sekali tak cocok dilidahnya.
"Aku akan beli makanan. Tunggu ya." Ucap Arasya. Setelah itu
beranjak dan meninggalkan dua remaja itu, lagi.
Sepanjang perjalanannya, Arasya sedikit merenung dan memikirkan bagaimana
kronologi dua remaja itu bisa kecelakaan. Ingin ia memaksa Farrand untuk
bercerita panjang lebar kepadanya. Namun mengingat putrinya yang tergolek lemah
diranjang dengan perban yang melilit dahinya membuatnya mengurungkan niatnya.
Ingin ia bertanya pada Madhiaz, tetapi ponsel Madhiaz tak bisa dihubungi sedari
ia bangun tadi.
Suasana kantin rumah sakit masih terlihat senggang. Hanya ada beberapa
dokter dan perawat yang sedang membeli sarapan. Maklumlah, di jam ini masih
terlalu pagi untuk mencari sarapan. Beruntung, ia menjumpai ada tukang bubur
disana. Jadi ia tak perlu repot-repot mencarinya lebih lama. Lagipula, ia yakin
dengan pasti jika putrinya itu tak akan mau memakan makanan dari rumah sakit.
.
.
.
Pagi ini penampilan Nadeen terlihat lebih buruk dari biasanya. Kantung
matanya terlihat tebal dan hampir sebelas dua belas dengan Dion yang memang
terlahir dengan ciri seperti itu. Fikirannya masih kalut dan masih melekat
detik demi detik uraian kejadian semalam. Dimana dia yang tiba-tiba memaksa
ikut serta ke arena balap, melihat Lingga, Farrand dan Madhiaz yang mengejar
mobil Silvia 15, dan kecelakaan itu. Masih segar di ingatannya saat mobilnya
disuruh berhenti mendadak oleh Madhiaz yang membantu Lingga keluar dari
mobilnya. Dan yang paling membuatnya syok adalah kondisi Lingga yang terjepit
di dalam mobilnya yang terbalik. Lalu setelah itu, belum pulih dari rasa
terkejutnya ia kembali dihadapkan kejadian lain. Kejadian dimana ia melihat Farrand
kecelakaan menggunakan mobil milik Madhiaz.
__ADS_1
Fyuuhhhh...
Sungguh. Semalam adalah malam yang berat untuknya. Dan mungkin semalam itulah
malamnya yang paling berat selama beberapa belas tahun ia hidup dunia ini.
Fikirannya serasa penuh. Perutnya terasa kenyang padahal sedari kemarin dia tak
makan. Sarapan yang dihidangkan oleh maid pun tak ia makan. Hanya ia aduk-aduk
dan di hancurkan tanpa ia cicipi barang sesendok pun.
Setelah dirasanya lelah mengaduk-aduk makanan yang tak membuatnya selera
itu, ia mengambil ponsel pintarnya yang ia letakkan disampingnya, dan mencari
salah satu nama dikontaknya. Madhiaz. Ya, dia merasa harus menghubungi Madhiaz
saat ini.
"Ya, Hallo. suara Madhiaz saat menjawab telpon darinya terdengar lemah
seperti orang bangun tidur. Atau, memang Dhiaz baru bangun dari tidurnya?
"Dhiaz. Bagaimana kondisi Farrand? Baikkah ia?"
"Hoaaahhhh.... dia baik-baik saja. Paman sudah datang semalam untuk
menggantikanku menjaga mereka."
"Tunggu. Apa maksudmu dengan mereka?"
"Tentu saja Lingga dan Farrand. Memang siapa lagi?"
"Paman menjaga mereka berdua sekaligus? Bagaimana bisa?"
Diseberang, Madhiaz hanya bisa menapok dahi lebarnya itu. Ia lupa mengatakan
jika Farrand dan Lingga berada dalam satu ruang inap.
"Aku lupa mengatakan padamu jika Lingga dan Farrand berada dalam
satu ruang inap."
"HUAPAAA?" Telinga Madhiaz serasa berdenging karena mendengar
suara super keras milik Nadeen. Untung saja ia langsung reflek menjauhkan
telinganya dari ponselnya saat merasa Nadeen akan mengeluarkan teriakannya.
Jadi efek telinga berdengingnya tak terlalu terasa.
"Bisakah kau bicara dengan nada normal saja? Gendang telingaku
hampir pecah mendengar teriakanmu."
Nadeen terkekeh kecil mendengar nada protes dari Madhiaz. Sesungguhnya ia
tak bermaksud berteriak. Teriakan itu reflek ia keluarkan begitu saja.
"Maafkan aku, Dhiaz. Aku hanya tak habis fikir denganmu yang
mengumpulkan mereka diruangan yang sama. Mereka itu lawan jenis, Dhiaz. Kutekankan
sekali lagi, lawan jenis! Farrand perempuan dan Lingga laki-laki."
"Aku juga tau hal itu. Tentu saja aku sudah perhitungkan hal itu
sejak awal. Ada paman Arasya disana. Jadi aku tak perlu khawatir. Lagipula kau
tau sendiri bukan? Jika Lingga pasti tak ada yang menjaga. Jadi aku bermaksud
mengumpulkan mereka disatu ruang agar Lingga juga ada yang menjaga."
jelas Madhiaz. Nadeen yang mendengarnya mendesah lega. Ia tak menyangka jika Madhiaz
punya pemikiran sampai kesana. Ia piker jika mereka dikumpulkan di satu ruang,
mereka akan melakukan hal yang iya-iya.halahhh… apa-apaan dengan pikirannya
ini.
"Nanti siang sepulang sekolah ajak aku menjenguk mereka, Dhiaz. Aku
ingin tau keadaan mereka."
"Ok". Klik. Suara Madhiaz terputus. Fikiran Nadeen telah sedikit
tenang mendengarnya. Setidaknya sahabat pirangnya itu tak mengalami hal berat
dan juga Lingga ada yang menjaga. Tak apalah mereka satu ruang. Toh, disana ada
Arasya. Pastilah Arasya dengan sifat posesifnya mampu menolak kejadian lanjutan
yang dilakukan dua orang berbeda gender dalam satu ruangan bukan?
.
.
.
Dion mengedarkan pandangannya kepenjuru kelas. Bel masuk akan berbunyi
beberapa menit lagi, namun ia tak juga menemukan pria berambut nanas yang
biasanya datang setengah jam sebelum bel masuk itu. Fikirannya nampak bingung.
Untung saja Zennie sedang tidak masuk karena orangtuanya mengajaknya pulang ke Kota
Halu untuk sepekan. Jika tidak, pastilah ia telah merecoki pemuda surai merah
itu dari tadi.
Sreekk....
Suara pintu geser membuat pandangan Dion menoleh. Sedikit sudut dihatinya
merasa lega karena orang yang ditunggunya mulai tadi telah menampakkan batang
hidungnya. Ia meneliti penampilan Madhiaz dari ujung kaki hingga kepalanya.
Terlihat pemuda itu lebih berantakan dan kantung matanya lebih tebal dari
biasanya.
"Dhiaz. Kau jelaskan padaku tentang semalam." Cerca Dion saat Madhiaz
telah duduk ditempatnya. Memang, tempat duduk Madhiaz berada disebelah
kanannya, jadi dia bisa memberondong pertanyaan kepada pemuda malas itu dengan
leluasa.
"Apa yang kau ketahui, Dion." Balas Madhiaz.
"Apa benar semalam Farrand kecelakaan?"
"Kau tau darimana?"
"Tak penting aku tau darimana. Yang terpenting adalah berita itu benar
atau tidak?"
"Ya. Benar."
"Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?"
"Dion. Kalian sudah putus dan kau masih peduli padanya? Tidakkah kau
seharusnya lebih peduli pada tunanganmu itu?" Terselip nada jengkel di
suara Madhiaz. Ia jengkel setengah mati atas sikap Dion pada Farrand. Setelah
pemuda itu menyakiti Farrand, ia masih menampakkan kepedulian padanya? Cih....
sebenarnya dirinya ingin menghabisi Dion saat itu juga. Tapi niat itu di
urungkannya begitu saja. Ia masih waras. Dan ia sadari itu.
"Apa aku salah jika aku menghawatirkannya? Biar bagaimanapun juga aku
masih memiliki rasa sayang padanya."
"Sayang kau bilang. Persetan dengan rasa sayangmu jika yang bisa kau
lakukan hanya menyakitinya."
"Aku tau aku salah. Tapi setidaknya. Biarkan aku mengetahui kondisinya
untuk sekarang." Pinta Dion. Ia menunduk. Sesalnya makin bertumpuk
dihatinya kala mendengar ucapan Dhiaz.
"Nanti setelah pulang sekolah kau ikut denganku dan Nadeen. Kami akan
menjenguknya."
Wajah Dion sumringah. Ia lega mendengar jika Madhiaz mengajaknya menjenguk Farrand.
Biarlah ia datang bersama Dhiaz dan Nadeen meski dihatinya ingin menjenguknya
sendiri. Tak apa. Setidaknya ia masih di izinkan menjenguk oleh Madhiaz,
mengingat pria itu sudah menganggap Farrand sebagai adiknya sendiri.
"Thanks. Dhiaz. Aku akan membalas kebaikanmu lain waktu."
__ADS_1
Ucapnya tulus.
***tbc***