Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 12


__ADS_3

Farrand memilih duduk ditepi jendela karena ia suka akan hal ini.


Pemandangan seperti ini membuatnya tenang, apalagi ditambah dengan keheningan


disekitarnya. Sekarang masihlah sore dan suasana cafe lenggang di jam segini.


"Sudah lama?" Sebuah suara seseorang membuatnya menoleh, ia


terpaku, seorang pemuda tampan menghampirinya. Tapi, tunggu dulu. Jika


difikir-fikir, bukankah itu Lingga? Orang yang mengajaknya bertemu di cafe ini?


'Astaga'... Farrand hampir saja menelan serangga jika ia tak


buru-buru mengatupkan mulutnya yang menganga akibat melihat penampilan Lingga.


Ia tak menyangka, hanya dengan memangkas rambut dan mengubah modelnya sedikit


bisa membuat pria itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.


"Hei... aku bertanya padamu." Lingga langsung duduk begitu saja


tanpa mempedulikan jika Farrand mengangakan mulutnya dan menutupnya secepat


kilat seperti orang gugup.


"Be-belum lama." Ucap Farrand sambil menormalkan detak jantungnya


yang mulai tak stabil.


"Sudah pesan?" Farrand mengangguk. Sedikitpun ia tak mengeluarkan


suaranya akibat sibuk meneliti penampilan Lingga yang lebih tampan itu.


"Hentikan tatapan menjijikkanmu itu. Kau seperti nenek-nenek tua mesum


kurang belaian."


Raut muka Farrand berubah. Hei... ia baru saja disebut seperti nenek-nenek


tua mesum kurang belaian? Tidak salahkah telinganya mendengar? Atau kalimat itu


bukan ditujukan untuknya? Oh, jika memang kalimat itu untuknya, ia akan membuat


perhitungan dengan pemuda itu nanti.


"Aku hanya memangkas sedikit rambutku dan kau sudah terkagum-kagum


begitu kepadaku? Tau begini tadi aku tak akan memangkasnya dan membiarkannya


panjang saja. Jika perlu ku ikat dua sekalian."


"Ck.... Kau ingin meniru si golden maknae itu? Lupakan! Yang ada malah


kau seperti seorang transgend yang gagal.”


“Jahatnya! Padahal kan aku juga tak kalah tampan dari sigolden maknae itu.


Kau saja yang kelilipan bus kecil yg bisa bicara dan katanya ramah itu


sampai-sampai tidak bisa melihat betapa tampannya aku ini.”


“Sudahlah! Berdebat dengnmu membuat mood ku turun saja. Cepat katakan


apa yang ingin kau sampaikan." Ujar Farrand. Ia mensidekapkan tangannya


karena gondok akan ucapan Lingga tadi yang mengatainya nenek-nenek. Heol,


padahal kan ia hanya tidak terbiasa dengan tampilan Lingga yang seperti itu.


"Aku ingin memberikan bagianmu. Bagaimanapun juga kerjamu semalam


sangat membuatku terkesan. Jadi aku menambahnya sedikit."


 Farrand mendecakkan bibirnya kesal, "Kau


terkesan dan hanya menambahnya sedikit? Cih... kau menyebalkan. Tau begitu


semalam aku menyetir sendiri saja."


"Jadi kau memutuskan akan berhenti dan berkarir solo karena bayaran


dariku kurang, begitu maksudmu?"


"Ya."


Lingga terkekeh. Ucapan Farrand terdengar seperti guyonan ditelinganya.


Apa-apaan itu? Ia menyangsikan atas apa yang telah ia dengar barusan, Farrand


akan balapan sendiri? Apa yang akan dipakainya? Ia bahkan tak punya mobil yang


bisa ia gunakan untuk balapan. Memang, ia akui skll balapan Farrand mampu


membuatnya berdecak kagum. Tapi dengan balapan sendiri? Heh, ia bahkan tak bisa


melihat Farrand mampu membawa sebuah mobil pun untuk balapan. Bukannya mau


merendahkan Farrand, tapi bukankah hal itu merupakan sebuah kenyataan?


"Kau ingin balapan dengan apa jika sebuah mobil pun tak kau


punyai." Sebisa mungkin Lingga menahan tawanya hingga pundaknya bergetar.


"Aku akan berusaha. Aku akan mengumpulkan uangku sendiri dan membeli


mobil dengan uang itu."


"Dan itu akan memakan waktu cukup lama."


"Aku akan berusaha memangkasnya secepat mungkin. Aku akan berhenti


belajar darimu."


"Kenapa?"


"Setelah kufikir-fikir, aku akan belajar dengan caraku sendiri


saja." Farrand mengatupkan mulutnya dan mensidekapkan tangannya. Ia kesal,


ucapan-ucapan Lingga terdengar seolah-olah jika dia meremehkan tekad Farrand.


"Aku akan menemukan gaya mengemudiku sendiri." Lanjutnya.


"Itu bagus. Dan setelah kau punya mobil sendiri, akulah orang pertama


yg akan mengalahkanmu." Dengan ucapan penuh percaya dirinya Lingga


menantang Farrand. Ia yakin pada dirinya sendiri jika dia tidak akan kalah dari


wanita itu. Apalagi kondisi Farrand yang saat ini saja belum memiliki mobil.


Pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk Farrand memilikinya dan dijeda


waktu tersebut, Lingga akan terus mengasah kemampuan mengemudinya.


"Lalu bagaimana dengan posisiku sebagai navigator?"


"Lanjutkan saja. Kudengar mereka masih belum menyelenggarakan lagi


selama satu bulang kedepan."


"Haa? Kau bercanda?."


"Aku tak bercanda sama sekali dengan itu."


"Lalu bagaimana dengan mimpiku punya mobil?"


"Kau sungguh-sungguh ingin punya mobil?"


"Tentu saja."


"Aku punya Ford Mustang GT. Kau mau pakai? Itu mobil pertamaku. Mobil


yang kupakai untuk memenangkan GTR itu."


"Heee???? Kau punya mobil itu?"


"Kau tak pernah tau? Oh... ya. Yang kau tau aku sudah balapan dengan


GTR ini."


"Tapi aku tak begitu suka mobil impor." Farrand menunduk dan


memelankan suaranya. Sebenarnya ia mau saja menerima tawaran Lingga mengingat


ia tak punya mobil untuk dipakai. Tapi benar apa yang ucapkan tadi, ia memang


tak suka mobil impor. Mau memakai s15 itu? Itu hal terakhir jika ia sudah


kepepet saja dan tak ada jalan lain selain maju menggunakannya. Ah, atau ia


meminta ayahnya mengizinkannya memakai mobil itu? Siapa tau saja diperbolehkan.


Tapi bagaimana? Setaunya mobil itu bukan mobil yang bisa gunakan secara


sembarangan. Karena bagaimanapun juga di mobil itu terselip juga harga diri


ayahnya sebagai orang yang mengendarainya. Atau dia meminta tolong pada Madhiaz


saja? Tapi, sudahlah... dia hanya bisa berdoa semoga cepat bisa membeli mobil.


"Ya sudah kalau tak mau kupinjami Ford Mustang nya." Sebenarnya


hati Lingga agak tercubit melihat wanita itu murung. Tapi mau bagaimana lagi?


Ia pun tak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Yah, mengesampingkan jika


dirinya juga justru senang dengan keadaan itu.


.


.


.


Farrand masih setia dengan pekerjaan didapurnya. Senandung kecil terlantun


dari bibir mungilnya saat mengikuti alunan musik yang ia putar. Ia memang

__ADS_1


terbiasa memutar musik saat memasak. Karena baginya dengan memutar musik bisa


membuat suasana hatinya lebih baik. Jadi dia bisa menyajikan makanan dengan


baik pula.


Saat Farrand asyik berkutat dengan kegiatannya, Arasya datang dengan pelan


hingga kedatangannya tak disadari oleh Farrand. Ia sengaja tak ingin Farrand


tau akan kehadirannya karena dirinya ingin memberikan kejutan untuk Farrand.


Farrand berbalik, dan terlonjak kaget saat melihat siluet ayahnya telah


duduk tenang dimeja makan. Biasanya, ayahnya itu akan sampai setelah ia selesai


masak.


"Ayah mengagetkanku. Sudah lama?"


Arasya menyunggingkan senyumannya. Ia tau pasti putrinya akan melontarkan


pertanyaan itu.


"Belum lama. Apa suasana hatimu sedang bagus? Ayah lihat kau semangat


sekali kali ini."


"Mou.... ayah. Biasanya juga aku seperti ini. Dan ayah, tak


seperti biasanya ayah datang lebih awal?"


"Apa tak boleh?"


"Tentu saja boleh. Bahkan Farrand senang ayah bisa selesai bekerja


lebih awal. Farrand bisa berlama-lama berbincang dengan ayah."


Arasya tersenyum, ia tak menyangka jika Farrand begitu merindukannya hingga


merasa senang bahkan hanya dengan ia pulang lebih awal. Ia sebenarnya menyadari


hal itu sudah sejak lama sekali. Kan tetapi lagi-lagi waktu belum


mengizinkannya hingga ia baru bisa meluangkan waktunya saat ini.


"Besok-besok ayah akan pulang lebih awal seperti ini lagi ya."


Farrand terkejut. Ia tak menyangka ayahnya mengabulkan permintaan


langsungnya begitu saja. Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui? Karena jujur


saja, biasanya ayahnya sangat sulit untuk meluangkan waktunya barang sejenak.


"Oh iya,... ayah. Apa


ayah menyembunyikan sesuatu dariku? Soalnya, melihat dari gelagat ayah, sepertinya


iya."


Arasya terkekeh. Putrinya itu selalu saja bisa menebaknya. "Ada yang


ingin ayah bicarakan. Tapi sebelum itu, ayo kita makan malam dulu."


Farrand hanya bisa mengangguk. Segera ia menyelesaikan pekerjaannya dan


menatanya di meja makan. Arasya membantunya. Dan itu membuatnya semakin curiga


atas sikap ayahnya yang tak seperti biasanya ini.


"Ayah akan memangkas waktu buka tempat pencucian mobilnya." Ucapan


Arasya membuat denting sendok yang beradu dipiring Farrand menjadi terhenti.


"Apa ayah terlalu capek dengan jam kerja yang panjang?"


"Tidak. Ada yang ingin ayah beritahukan kepadamu tantang perusahaan


kita dulu."


"Perusahaan kita dulu? Bukankah ayah sudah menjualnya?"


"Tidak sepenuhnya. Ayah tidak benar-benar menjualnya. Ayah hanya


menitipkannya pada seseorang. Dan ayah jalankan secara diam-diam." sebisa


mungkin Arasya mempertahankan raut wajahnya. Ia tak ingin bumbu kebohongannya


terbaca putrinya.


"Lalu?"


"Perusahaanya sudah kembali seperti semula. Dan ayah rasa, akan ayah


pindahkan saja kesini. Tak masalah kan jika kita tak tinggal di kota kita dulu?


Bagaiamana, apakah kau setuju usulan ayah?"


"Terserah ayah saja. Jika ayah ingin memindahkannya, tak masalah.


Lagipula kita sudah terlalu nyaman tinggal disini. Bagiku tak masalah tinggal


“Tapi bukankah di kota Halu banyak kenangan tentang ibumu? Bagaimana pun


juga sedari kecil kau tumbuh disana.”


“Sudahlah Yah, tak masalah bagiku. Aku masih bisa mengunjungi Halu kapanpun


aku mau. Lagipula tak hanya knangan yang manis saja yang ada disana. Bukankah


ada kenangan buruk juga?”


"Baiklah. Lalu, apakah kau tak ingin pindah ke apartment yang lebih


baik dari ini?"


Farrand terdiam mendengar ucapan ayahnya. Pindah katanya? Pindah apartment


yang lebih baik? Apa tak sebaiknya mereka membeli rumah saja? Karena jujur


saja, a lebih nyaman tinggal di rumah daripada apartmen.


"Ayah, apa tak sebaiknya kita membeli rumah saja? Aku tak masalah jika


rumahnya kecil. Asal nyaman untuk ditempati, memiliki pekarangan, dan garasi.


Kurasa itu cukup untuk tempat tinggal kita berdua."


"Begitukah? Ayah fikir kau akan meminta ayah membeli rumah besar


seperti rumah kita dulu? Dan mempekerjakan beberapa pelayan di dalamnya."


"Tidak. Aku tak ingin ada pelayan. Cukup rumah sederhana saja. Yang


penting aku bisa merawatnya sendiri."


"Ah, anak ayah rupanya sudah besar ya."


Arasya terkekeh geli mendengar jawaban putrinya. Tadinya, ia fikir Farrand


akan meminta sebuah rumah besar dengan beberapa pelayan seperti rumah mereka


dulu. Namun nyatanya tidak, justru sebaliknya. Farrand ingin mandiri dan


memiliki sebuah rumah kecil saja. Ia tak menyangka jika Farrand akan dewasa


lebih cepat dari perkiraannya. Ah ya, sebenarnya ia masih ingin menikmati kemanjaan


Farrand lebih lama. Tapi sudahlah, salahnya juga yang terlalu sibuk pada


pekerjaan hingga mengabaikan tumbuh kembang putri manisnya itu.


"Ano, ayah. Boleh aku meminta sesuatu padamu?"


"Hm?"


"Maukah ayah mengajariku mengemudi lagi seperti dulu?"


Dalam hati Arasya masih menimbang-nimbang keinginan putrinya itu. Bukan


karena apa, tapi ia sanksi dengan putrinya. Bagaimana jika ada sesuatu hal yang


terjadi? Seperti kecelakaan, mungkin?


"Ayah akan mengajarimu, tapi dengan beberapa syarat. Dan sebelum itu, ayah


ingin bertanya sesuatu. Boleh?” Tanya Arasya. Farrand tersenyum dan mengangguk


kecil yang menandakan jika ia menyetujuinya.


“Apakah kau ikut balapan semalam?"


Farrand tersenyum kikuk. Ia memang ikut balapan. Namun ia hanya jadi


pendamping. H, tapi tunggu! Darimana ayahnya tau?


"Em.... hehehe..."


"Jadi, anak ayah tak mau bercerita lagi tentang apa yang telah


dilakukannya seperti dulu lagi? Apa secepat ini anak ayah tumbuh dewasanya


hinggalebih memilih menyembunyikan sesuatu?"


"Bukan begitu, ayah. Farrand ingin cerita kok. Tapi Farrand


belum punya waktu untuk bercerita. Lagipula, ayah baru keluar dari rumah sakit


dan dalam kondisi pemulihan, bukan?"


"Ayah akan mendengarkan. Sekarang ayah punya banyak waktu." Oh tidak!... Farrand mengumpat


dalam hati. Ayahnya ini senang sekali memojokkannya. Tak taukah ayahnya jika


dirinya gugup jika harus menceritakan yang semalam?


"Aku ikut balapan. Tapi hanya sekedar ikut. Sebenarnya Lingga yang


balapan dan Farrand hanya jadi navigatornya."

__ADS_1


"Farrand jadi navigator?"


"Ya.. Lingga yang memintanya. Dan Farrand mendapat upah sepertiga dari


hasil balapannya."


"Begitukah???"


"Heemm..."


"Hey... putri


ayah, apa kau tak ingin punya mobil sendiri?"


Farrand tersentak. Secara tak langsung ayahnya sedang menawarinya sebuah


mobil. Haruskah ia utarakan keinginannya? Tapi bagaimana? Ia sendiri masihlah


bimbang. perusahaan ayahnya masihlah baru  kembali dan mereka juga belum


membeli rumah. Haruskah ia juga membeli mobil? Ia tak ingin merepotkan ayahnya.


Atau, apa sebaiknya ia tolak saja? Dan berusaha sendiri untuk membeli mobil


impiannya?


"Sudahlah ayah. Masalah mobil aku tak terlalu mempermasalahkannya. Aku


masih menjadi navigator Lingga bukan? Aku akan menyempurnakan teknik


mengemudiku dulu. Lagipula aku juga belum mempunyai SIM. Jadi mungkin aku harus


mendapatkan SIM dulu, yah." Jawab Farrand. Ia bersorak dalam hati akan


kelancaran ucapannya. Mungkin ia harus masuk manajemen keartisan setelah ini.


Mengingat kemampuannya menyembunyikan perasaan hati dan kenyataannya dengan


sangat baik.


"Baiklah. Ayah hanya akan mencari rumah baru saja untuk kita."


Fyuuhhhhh....


Rasa lega merasuk di hati Farrand. Ia bersyukur jika ayahnya tidak memaksanya.


Sedangkan Arasya, ia sebenarnya tau bahwa putrinya itu menginginkan sebuah


mobil sport. Namun sikap putrinya yang berfikir terlalu banyak pasti


mengurungkan niatnya untuk meminta. Itulah sebabnya dia tidak memberitahukan


perihal kejadian yang sebenarnya tentang  Dion dan keluarganya. Ia tak


ingin fikiran putrinya semakin terbebani. Jika putrinya tau yang sebenarnya,


bukan tidak mungkin jika putrinya merasa sangat bersalah tentang keadaannya dan


menyalahkan dirinya terus menerus. Ah, biarlah seperti ini. Nanti ia bisa


meminta Madhiaz menyelidiki tentang mobil yang di inginkan putrinya, dan


dirinya akan membelikannya diam-diam. Untuk sureprise mungkin?


Setelahnya, hanya keheningan yang tercipta setelah mereka menyelesaikan


makannya. Tak ada yang ingin bercerita lagi. Keduanya sibuk dengan pemikirannya


masing-masing. Arasya yang kemudian menonton tv, dan Farrand yang membereskan


bekas makan malam mereka.


.


.


.


Lingga masih bergelung diranjangnya tanpa bisa memejamkan mata. Ia


terlentang menatap langit-langit. Ingatannya tentang balapan kemarin masih


mengusiknya. Bagaimana ia melihat betapa tajamnya tatapan Farrand saat sedang


dalam keadaan serius, dan..... blussshhhhhh...... tentang bagaimana posisinya


saat Farrand duduk didepannya. Ah... mengingat hal itu saja sudah sukses


membuat wajahnya memerah. ingin ia dekap punggung tegap yang berada didepannya


saat itu. Namun ia urungkan begitu saja mengingat mereka dalam kondisi balapan.


Saat Farrand membuka bajunya pun masih terekam jelas dipelupuk matanya.


Jemari lentiknya yang dengan sensual membuka satu persatu kancing nya itu,


membuat hati Lingga berdesir. Bagaimana jika..... ah... sudahlah. Lupakan. Ia


menggelengkan kepalanya keras. Ia tak mau membayangkan hal itu lebih lama lagi.


Fikirannya masih mengingat setiap detail saat itu. Farrand benar-benar penuh


kejutan. Melihat bagaimana lemah lembutnya wanita itu saat bersikap, betapa


mudahnya ia mabuk saat berkendara. Tentunya tak terbersit difikirannya jika ia


mempunyai kemampuan yang mengagumkan. Ia tak sanggup membayangkan jika ia


berhadapan dengannya dalam keadaan Farrand sudah mahir dan memakai kendaraan


sendiri. Ia yakin. Kemampuan Farrand bukanlah sebatas yang ia ketahui semalam.


Ia berbeda dengan Nadeen. Jika Nadeen membutuhkan banyak hal saat belajar dan


bertanya ini-itu, Farrand lebih banyak diam dan memperhatikan.


Ting..


Sebuah notifikasi muncul di gadget nya dan membuyarkan lamunannya


tentang Farrand. Saat ia melihatnya, muncul nama Madhiaz disana.


Dhiaz.


Datanglah kebukit Falenca jm 11, kudengar akan ada sesuatu yang menarik


disana.


Begitulah isi pesan Madhiaz.


Jam 11 katanya? Ia bercanda? Ini sudah hampir waktunya. Jam sebelas itu


setengah jam dari sekarang. Ia harus bergegas secepat mungkin. Ia yakin hal


yang ia temui disana adalah hal yang sangat menarik. Jika tidak, tidak mungkin Madhiaz


mau memberitahunya diwaktu yang mepet seperti ini. Meski sebenarnya ia


penasaran, ia tak mungkin mendesak Madhiaz untuk mengatakannya. Itu hanya akan


membuang-buang waktunya. Dan ia bertekad untuk sampai disana sebelum jam yang


ditentukan.


Ia sambar kunci mobil dan jaket secepat yang ia bisa. Setelahnya ia bergegas


menuju garasi dan mengambil Ford Mustangnya. Ia sengaja tak membawa GTR. Ia


ingin mengistirahatkan mobil itu untuk sementara waktu. Untuk itu ia menaruhnya


dibengkel Madhiaz untuk diganti oli dan ganti beberapa komponen yang sudah


lama.


Ia memacu kendaraannya secepat yang ia bisa. Meski ia sedikit kelabakan juga


dan harus membiasakan diri lagi mengendarai mobil yang berbeda.


Sesampainya disana, ia disuguhkan pemandangan yang mengejutkan. Disana sudah


ramai oleh beberapa orang, dia antaranya ada Madhiaz yang bersandar di kap


mobilnya bersama Farrand dan Nadeen. Tunggu, Farrand? Farrand telah sampai


disini terlabih dahulu daripada dirinya?


Ia mengambil tempat parkir didekat Madhiaz dan bersebelahan dengan mobil


milik Nadeen. Ia yakin pastilah hal ini merupakan sesuatu hal yang besar. Jika


tidak, tidak mungkin akan ada banyak orang disini.


"Ada apa?."


Lingga langsung menyeloroh begitu saja saat ia telah memarkirkan mobilnya.


Dilihatnya wajah Madhiaz yang tegang beserta dua orang wanita itu.


"Pengemudi s15 itu akan datang kesini." Nyuttt.... jantung Lingga


berdenyut nyeri saat mendengar Madhiaz mengatakan hal itu. Tidak ia sangka ia


akan bertemu lagi.


"Bagaimana kau bisa


tau?"


"Ia yang mengumumkan akan kedatangannya." Ada hal yang tak beres


saat ia mendengar hal itu. Setaunya, pengemudi Silvia itu tak pernah


mendeklarasikan kedatangannya. Ia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa


pemberitahuan. Tentu sangat aneh bukan, jika kali ini ia datang dengan


pengumuman seperti itu? Seperti itu seolah kedatangannya ingin disambut dan


diketahui banyak orang. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


***tbc***


__ADS_2