
Farrand memilih duduk ditepi jendela karena ia suka akan hal ini.
Pemandangan seperti ini membuatnya tenang, apalagi ditambah dengan keheningan
disekitarnya. Sekarang masihlah sore dan suasana cafe lenggang di jam segini.
"Sudah lama?" Sebuah suara seseorang membuatnya menoleh, ia
terpaku, seorang pemuda tampan menghampirinya. Tapi, tunggu dulu. Jika
difikir-fikir, bukankah itu Lingga? Orang yang mengajaknya bertemu di cafe ini?
'Astaga'... Farrand hampir saja menelan serangga jika ia tak
buru-buru mengatupkan mulutnya yang menganga akibat melihat penampilan Lingga.
Ia tak menyangka, hanya dengan memangkas rambut dan mengubah modelnya sedikit
bisa membuat pria itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Hei... aku bertanya padamu." Lingga langsung duduk begitu saja
tanpa mempedulikan jika Farrand mengangakan mulutnya dan menutupnya secepat
kilat seperti orang gugup.
"Be-belum lama." Ucap Farrand sambil menormalkan detak jantungnya
yang mulai tak stabil.
"Sudah pesan?" Farrand mengangguk. Sedikitpun ia tak mengeluarkan
suaranya akibat sibuk meneliti penampilan Lingga yang lebih tampan itu.
"Hentikan tatapan menjijikkanmu itu. Kau seperti nenek-nenek tua mesum
kurang belaian."
Raut muka Farrand berubah. Hei... ia baru saja disebut seperti nenek-nenek
tua mesum kurang belaian? Tidak salahkah telinganya mendengar? Atau kalimat itu
bukan ditujukan untuknya? Oh, jika memang kalimat itu untuknya, ia akan membuat
perhitungan dengan pemuda itu nanti.
"Aku hanya memangkas sedikit rambutku dan kau sudah terkagum-kagum
begitu kepadaku? Tau begini tadi aku tak akan memangkasnya dan membiarkannya
panjang saja. Jika perlu ku ikat dua sekalian."
"Ck.... Kau ingin meniru si golden maknae itu? Lupakan! Yang ada malah
kau seperti seorang transgend yang gagal.”
“Jahatnya! Padahal kan aku juga tak kalah tampan dari sigolden maknae itu.
Kau saja yang kelilipan bus kecil yg bisa bicara dan katanya ramah itu
sampai-sampai tidak bisa melihat betapa tampannya aku ini.”
“Sudahlah! Berdebat dengnmu membuat mood ku turun saja. Cepat katakan
apa yang ingin kau sampaikan." Ujar Farrand. Ia mensidekapkan tangannya
karena gondok akan ucapan Lingga tadi yang mengatainya nenek-nenek. Heol,
padahal kan ia hanya tidak terbiasa dengan tampilan Lingga yang seperti itu.
"Aku ingin memberikan bagianmu. Bagaimanapun juga kerjamu semalam
sangat membuatku terkesan. Jadi aku menambahnya sedikit."
Farrand mendecakkan bibirnya kesal, "Kau
terkesan dan hanya menambahnya sedikit? Cih... kau menyebalkan. Tau begitu
semalam aku menyetir sendiri saja."
"Jadi kau memutuskan akan berhenti dan berkarir solo karena bayaran
dariku kurang, begitu maksudmu?"
"Ya."
Lingga terkekeh. Ucapan Farrand terdengar seperti guyonan ditelinganya.
Apa-apaan itu? Ia menyangsikan atas apa yang telah ia dengar barusan, Farrand
akan balapan sendiri? Apa yang akan dipakainya? Ia bahkan tak punya mobil yang
bisa ia gunakan untuk balapan. Memang, ia akui skll balapan Farrand mampu
membuatnya berdecak kagum. Tapi dengan balapan sendiri? Heh, ia bahkan tak bisa
melihat Farrand mampu membawa sebuah mobil pun untuk balapan. Bukannya mau
merendahkan Farrand, tapi bukankah hal itu merupakan sebuah kenyataan?
"Kau ingin balapan dengan apa jika sebuah mobil pun tak kau
punyai." Sebisa mungkin Lingga menahan tawanya hingga pundaknya bergetar.
"Aku akan berusaha. Aku akan mengumpulkan uangku sendiri dan membeli
mobil dengan uang itu."
"Dan itu akan memakan waktu cukup lama."
"Aku akan berusaha memangkasnya secepat mungkin. Aku akan berhenti
belajar darimu."
"Kenapa?"
"Setelah kufikir-fikir, aku akan belajar dengan caraku sendiri
saja." Farrand mengatupkan mulutnya dan mensidekapkan tangannya. Ia kesal,
ucapan-ucapan Lingga terdengar seolah-olah jika dia meremehkan tekad Farrand.
"Aku akan menemukan gaya mengemudiku sendiri." Lanjutnya.
"Itu bagus. Dan setelah kau punya mobil sendiri, akulah orang pertama
yg akan mengalahkanmu." Dengan ucapan penuh percaya dirinya Lingga
menantang Farrand. Ia yakin pada dirinya sendiri jika dia tidak akan kalah dari
wanita itu. Apalagi kondisi Farrand yang saat ini saja belum memiliki mobil.
Pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk Farrand memilikinya dan dijeda
waktu tersebut, Lingga akan terus mengasah kemampuan mengemudinya.
"Lalu bagaimana dengan posisiku sebagai navigator?"
"Lanjutkan saja. Kudengar mereka masih belum menyelenggarakan lagi
selama satu bulang kedepan."
"Haa? Kau bercanda?."
"Aku tak bercanda sama sekali dengan itu."
"Lalu bagaimana dengan mimpiku punya mobil?"
"Kau sungguh-sungguh ingin punya mobil?"
"Tentu saja."
"Aku punya Ford Mustang GT. Kau mau pakai? Itu mobil pertamaku. Mobil
yang kupakai untuk memenangkan GTR itu."
"Heee???? Kau punya mobil itu?"
"Kau tak pernah tau? Oh... ya. Yang kau tau aku sudah balapan dengan
GTR ini."
"Tapi aku tak begitu suka mobil impor." Farrand menunduk dan
memelankan suaranya. Sebenarnya ia mau saja menerima tawaran Lingga mengingat
ia tak punya mobil untuk dipakai. Tapi benar apa yang ucapkan tadi, ia memang
tak suka mobil impor. Mau memakai s15 itu? Itu hal terakhir jika ia sudah
kepepet saja dan tak ada jalan lain selain maju menggunakannya. Ah, atau ia
meminta ayahnya mengizinkannya memakai mobil itu? Siapa tau saja diperbolehkan.
Tapi bagaimana? Setaunya mobil itu bukan mobil yang bisa gunakan secara
sembarangan. Karena bagaimanapun juga di mobil itu terselip juga harga diri
ayahnya sebagai orang yang mengendarainya. Atau dia meminta tolong pada Madhiaz
saja? Tapi, sudahlah... dia hanya bisa berdoa semoga cepat bisa membeli mobil.
"Ya sudah kalau tak mau kupinjami Ford Mustang nya." Sebenarnya
hati Lingga agak tercubit melihat wanita itu murung. Tapi mau bagaimana lagi?
Ia pun tak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Yah, mengesampingkan jika
dirinya juga justru senang dengan keadaan itu.
.
.
.
Farrand masih setia dengan pekerjaan didapurnya. Senandung kecil terlantun
dari bibir mungilnya saat mengikuti alunan musik yang ia putar. Ia memang
__ADS_1
terbiasa memutar musik saat memasak. Karena baginya dengan memutar musik bisa
membuat suasana hatinya lebih baik. Jadi dia bisa menyajikan makanan dengan
baik pula.
Saat Farrand asyik berkutat dengan kegiatannya, Arasya datang dengan pelan
hingga kedatangannya tak disadari oleh Farrand. Ia sengaja tak ingin Farrand
tau akan kehadirannya karena dirinya ingin memberikan kejutan untuk Farrand.
Farrand berbalik, dan terlonjak kaget saat melihat siluet ayahnya telah
duduk tenang dimeja makan. Biasanya, ayahnya itu akan sampai setelah ia selesai
masak.
"Ayah mengagetkanku. Sudah lama?"
Arasya menyunggingkan senyumannya. Ia tau pasti putrinya akan melontarkan
pertanyaan itu.
"Belum lama. Apa suasana hatimu sedang bagus? Ayah lihat kau semangat
sekali kali ini."
"Mou.... ayah. Biasanya juga aku seperti ini. Dan ayah, tak
seperti biasanya ayah datang lebih awal?"
"Apa tak boleh?"
"Tentu saja boleh. Bahkan Farrand senang ayah bisa selesai bekerja
lebih awal. Farrand bisa berlama-lama berbincang dengan ayah."
Arasya tersenyum, ia tak menyangka jika Farrand begitu merindukannya hingga
merasa senang bahkan hanya dengan ia pulang lebih awal. Ia sebenarnya menyadari
hal itu sudah sejak lama sekali. Kan tetapi lagi-lagi waktu belum
mengizinkannya hingga ia baru bisa meluangkan waktunya saat ini.
"Besok-besok ayah akan pulang lebih awal seperti ini lagi ya."
Farrand terkejut. Ia tak menyangka ayahnya mengabulkan permintaan
langsungnya begitu saja. Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui? Karena jujur
saja, biasanya ayahnya sangat sulit untuk meluangkan waktunya barang sejenak.
"Oh iya,... ayah. Apa
ayah menyembunyikan sesuatu dariku? Soalnya, melihat dari gelagat ayah, sepertinya
iya."
Arasya terkekeh. Putrinya itu selalu saja bisa menebaknya. "Ada yang
ingin ayah bicarakan. Tapi sebelum itu, ayo kita makan malam dulu."
Farrand hanya bisa mengangguk. Segera ia menyelesaikan pekerjaannya dan
menatanya di meja makan. Arasya membantunya. Dan itu membuatnya semakin curiga
atas sikap ayahnya yang tak seperti biasanya ini.
"Ayah akan memangkas waktu buka tempat pencucian mobilnya." Ucapan
Arasya membuat denting sendok yang beradu dipiring Farrand menjadi terhenti.
"Apa ayah terlalu capek dengan jam kerja yang panjang?"
"Tidak. Ada yang ingin ayah beritahukan kepadamu tantang perusahaan
kita dulu."
"Perusahaan kita dulu? Bukankah ayah sudah menjualnya?"
"Tidak sepenuhnya. Ayah tidak benar-benar menjualnya. Ayah hanya
menitipkannya pada seseorang. Dan ayah jalankan secara diam-diam." sebisa
mungkin Arasya mempertahankan raut wajahnya. Ia tak ingin bumbu kebohongannya
terbaca putrinya.
"Lalu?"
"Perusahaanya sudah kembali seperti semula. Dan ayah rasa, akan ayah
pindahkan saja kesini. Tak masalah kan jika kita tak tinggal di kota kita dulu?
Bagaiamana, apakah kau setuju usulan ayah?"
"Terserah ayah saja. Jika ayah ingin memindahkannya, tak masalah.
Lagipula kita sudah terlalu nyaman tinggal disini. Bagiku tak masalah tinggal
“Tapi bukankah di kota Halu banyak kenangan tentang ibumu? Bagaimana pun
juga sedari kecil kau tumbuh disana.”
“Sudahlah Yah, tak masalah bagiku. Aku masih bisa mengunjungi Halu kapanpun
aku mau. Lagipula tak hanya knangan yang manis saja yang ada disana. Bukankah
ada kenangan buruk juga?”
"Baiklah. Lalu, apakah kau tak ingin pindah ke apartment yang lebih
baik dari ini?"
Farrand terdiam mendengar ucapan ayahnya. Pindah katanya? Pindah apartment
yang lebih baik? Apa tak sebaiknya mereka membeli rumah saja? Karena jujur
saja, a lebih nyaman tinggal di rumah daripada apartmen.
"Ayah, apa tak sebaiknya kita membeli rumah saja? Aku tak masalah jika
rumahnya kecil. Asal nyaman untuk ditempati, memiliki pekarangan, dan garasi.
Kurasa itu cukup untuk tempat tinggal kita berdua."
"Begitukah? Ayah fikir kau akan meminta ayah membeli rumah besar
seperti rumah kita dulu? Dan mempekerjakan beberapa pelayan di dalamnya."
"Tidak. Aku tak ingin ada pelayan. Cukup rumah sederhana saja. Yang
penting aku bisa merawatnya sendiri."
"Ah, anak ayah rupanya sudah besar ya."
Arasya terkekeh geli mendengar jawaban putrinya. Tadinya, ia fikir Farrand
akan meminta sebuah rumah besar dengan beberapa pelayan seperti rumah mereka
dulu. Namun nyatanya tidak, justru sebaliknya. Farrand ingin mandiri dan
memiliki sebuah rumah kecil saja. Ia tak menyangka jika Farrand akan dewasa
lebih cepat dari perkiraannya. Ah ya, sebenarnya ia masih ingin menikmati kemanjaan
Farrand lebih lama. Tapi sudahlah, salahnya juga yang terlalu sibuk pada
pekerjaan hingga mengabaikan tumbuh kembang putri manisnya itu.
"Ano, ayah. Boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Hm?"
"Maukah ayah mengajariku mengemudi lagi seperti dulu?"
Dalam hati Arasya masih menimbang-nimbang keinginan putrinya itu. Bukan
karena apa, tapi ia sanksi dengan putrinya. Bagaimana jika ada sesuatu hal yang
terjadi? Seperti kecelakaan, mungkin?
"Ayah akan mengajarimu, tapi dengan beberapa syarat. Dan sebelum itu, ayah
ingin bertanya sesuatu. Boleh?” Tanya Arasya. Farrand tersenyum dan mengangguk
kecil yang menandakan jika ia menyetujuinya.
“Apakah kau ikut balapan semalam?"
Farrand tersenyum kikuk. Ia memang ikut balapan. Namun ia hanya jadi
pendamping. H, tapi tunggu! Darimana ayahnya tau?
"Em.... hehehe..."
"Jadi, anak ayah tak mau bercerita lagi tentang apa yang telah
dilakukannya seperti dulu lagi? Apa secepat ini anak ayah tumbuh dewasanya
hinggalebih memilih menyembunyikan sesuatu?"
"Bukan begitu, ayah. Farrand ingin cerita kok. Tapi Farrand
belum punya waktu untuk bercerita. Lagipula, ayah baru keluar dari rumah sakit
dan dalam kondisi pemulihan, bukan?"
"Ayah akan mendengarkan. Sekarang ayah punya banyak waktu." Oh tidak!... Farrand mengumpat
dalam hati. Ayahnya ini senang sekali memojokkannya. Tak taukah ayahnya jika
dirinya gugup jika harus menceritakan yang semalam?
"Aku ikut balapan. Tapi hanya sekedar ikut. Sebenarnya Lingga yang
balapan dan Farrand hanya jadi navigatornya."
__ADS_1
"Farrand jadi navigator?"
"Ya.. Lingga yang memintanya. Dan Farrand mendapat upah sepertiga dari
hasil balapannya."
"Begitukah???"
"Heemm..."
"Hey... putri
ayah, apa kau tak ingin punya mobil sendiri?"
Farrand tersentak. Secara tak langsung ayahnya sedang menawarinya sebuah
mobil. Haruskah ia utarakan keinginannya? Tapi bagaimana? Ia sendiri masihlah
bimbang. perusahaan ayahnya masihlah baru kembali dan mereka juga belum
membeli rumah. Haruskah ia juga membeli mobil? Ia tak ingin merepotkan ayahnya.
Atau, apa sebaiknya ia tolak saja? Dan berusaha sendiri untuk membeli mobil
impiannya?
"Sudahlah ayah. Masalah mobil aku tak terlalu mempermasalahkannya. Aku
masih menjadi navigator Lingga bukan? Aku akan menyempurnakan teknik
mengemudiku dulu. Lagipula aku juga belum mempunyai SIM. Jadi mungkin aku harus
mendapatkan SIM dulu, yah." Jawab Farrand. Ia bersorak dalam hati akan
kelancaran ucapannya. Mungkin ia harus masuk manajemen keartisan setelah ini.
Mengingat kemampuannya menyembunyikan perasaan hati dan kenyataannya dengan
sangat baik.
"Baiklah. Ayah hanya akan mencari rumah baru saja untuk kita."
Fyuuhhhhh....
Rasa lega merasuk di hati Farrand. Ia bersyukur jika ayahnya tidak memaksanya.
Sedangkan Arasya, ia sebenarnya tau bahwa putrinya itu menginginkan sebuah
mobil sport. Namun sikap putrinya yang berfikir terlalu banyak pasti
mengurungkan niatnya untuk meminta. Itulah sebabnya dia tidak memberitahukan
perihal kejadian yang sebenarnya tentang Dion dan keluarganya. Ia tak
ingin fikiran putrinya semakin terbebani. Jika putrinya tau yang sebenarnya,
bukan tidak mungkin jika putrinya merasa sangat bersalah tentang keadaannya dan
menyalahkan dirinya terus menerus. Ah, biarlah seperti ini. Nanti ia bisa
meminta Madhiaz menyelidiki tentang mobil yang di inginkan putrinya, dan
dirinya akan membelikannya diam-diam. Untuk sureprise mungkin?
Setelahnya, hanya keheningan yang tercipta setelah mereka menyelesaikan
makannya. Tak ada yang ingin bercerita lagi. Keduanya sibuk dengan pemikirannya
masing-masing. Arasya yang kemudian menonton tv, dan Farrand yang membereskan
bekas makan malam mereka.
.
.
.
Lingga masih bergelung diranjangnya tanpa bisa memejamkan mata. Ia
terlentang menatap langit-langit. Ingatannya tentang balapan kemarin masih
mengusiknya. Bagaimana ia melihat betapa tajamnya tatapan Farrand saat sedang
dalam keadaan serius, dan..... blussshhhhhh...... tentang bagaimana posisinya
saat Farrand duduk didepannya. Ah... mengingat hal itu saja sudah sukses
membuat wajahnya memerah. ingin ia dekap punggung tegap yang berada didepannya
saat itu. Namun ia urungkan begitu saja mengingat mereka dalam kondisi balapan.
Saat Farrand membuka bajunya pun masih terekam jelas dipelupuk matanya.
Jemari lentiknya yang dengan sensual membuka satu persatu kancing nya itu,
membuat hati Lingga berdesir. Bagaimana jika..... ah... sudahlah. Lupakan. Ia
menggelengkan kepalanya keras. Ia tak mau membayangkan hal itu lebih lama lagi.
Fikirannya masih mengingat setiap detail saat itu. Farrand benar-benar penuh
kejutan. Melihat bagaimana lemah lembutnya wanita itu saat bersikap, betapa
mudahnya ia mabuk saat berkendara. Tentunya tak terbersit difikirannya jika ia
mempunyai kemampuan yang mengagumkan. Ia tak sanggup membayangkan jika ia
berhadapan dengannya dalam keadaan Farrand sudah mahir dan memakai kendaraan
sendiri. Ia yakin. Kemampuan Farrand bukanlah sebatas yang ia ketahui semalam.
Ia berbeda dengan Nadeen. Jika Nadeen membutuhkan banyak hal saat belajar dan
bertanya ini-itu, Farrand lebih banyak diam dan memperhatikan.
Ting..
Sebuah notifikasi muncul di gadget nya dan membuyarkan lamunannya
tentang Farrand. Saat ia melihatnya, muncul nama Madhiaz disana.
Dhiaz.
Datanglah kebukit Falenca jm 11, kudengar akan ada sesuatu yang menarik
disana.
Begitulah isi pesan Madhiaz.
Jam 11 katanya? Ia bercanda? Ini sudah hampir waktunya. Jam sebelas itu
setengah jam dari sekarang. Ia harus bergegas secepat mungkin. Ia yakin hal
yang ia temui disana adalah hal yang sangat menarik. Jika tidak, tidak mungkin Madhiaz
mau memberitahunya diwaktu yang mepet seperti ini. Meski sebenarnya ia
penasaran, ia tak mungkin mendesak Madhiaz untuk mengatakannya. Itu hanya akan
membuang-buang waktunya. Dan ia bertekad untuk sampai disana sebelum jam yang
ditentukan.
Ia sambar kunci mobil dan jaket secepat yang ia bisa. Setelahnya ia bergegas
menuju garasi dan mengambil Ford Mustangnya. Ia sengaja tak membawa GTR. Ia
ingin mengistirahatkan mobil itu untuk sementara waktu. Untuk itu ia menaruhnya
dibengkel Madhiaz untuk diganti oli dan ganti beberapa komponen yang sudah
lama.
Ia memacu kendaraannya secepat yang ia bisa. Meski ia sedikit kelabakan juga
dan harus membiasakan diri lagi mengendarai mobil yang berbeda.
Sesampainya disana, ia disuguhkan pemandangan yang mengejutkan. Disana sudah
ramai oleh beberapa orang, dia antaranya ada Madhiaz yang bersandar di kap
mobilnya bersama Farrand dan Nadeen. Tunggu, Farrand? Farrand telah sampai
disini terlabih dahulu daripada dirinya?
Ia mengambil tempat parkir didekat Madhiaz dan bersebelahan dengan mobil
milik Nadeen. Ia yakin pastilah hal ini merupakan sesuatu hal yang besar. Jika
tidak, tidak mungkin akan ada banyak orang disini.
"Ada apa?."
Lingga langsung menyeloroh begitu saja saat ia telah memarkirkan mobilnya.
Dilihatnya wajah Madhiaz yang tegang beserta dua orang wanita itu.
"Pengemudi s15 itu akan datang kesini." Nyuttt.... jantung Lingga
berdenyut nyeri saat mendengar Madhiaz mengatakan hal itu. Tidak ia sangka ia
akan bertemu lagi.
"Bagaimana kau bisa
tau?"
"Ia yang mengumumkan akan kedatangannya." Ada hal yang tak beres
saat ia mendengar hal itu. Setaunya, pengemudi Silvia itu tak pernah
mendeklarasikan kedatangannya. Ia datang dan pergi sesuka hatinya tanpa
pemberitahuan. Tentu sangat aneh bukan, jika kali ini ia datang dengan
pengumuman seperti itu? Seperti itu seolah kedatangannya ingin disambut dan
diketahui banyak orang. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
***tbc***