Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 40


__ADS_3

Farrand menggeliat pelan dalam tidurnya, kesadarannya bangkit dengan perlahan seiring matanya yang terbuka sedikit demi sedikit. Ia mengerjapkan matanya saat retina matanya belum terbiasa dengan cahaya terang di sekitarnya. Sinar matahari telah menyusup ke dalam kamarnya, dan itu berarti ia bangun melebihi waktu rutin bangunnya. Tapi itu tak masalah, karena hari ini hari minggu dan ayahnya tak ada, ia bebas melakukan apapun yang di inginkan.


Setelah mata Farrand telah terbiasa dan ia bisa membuka matanya lebar-lebar, ia melirik jam dinding. Benar saja, jam sudah menunjukkan pukul 06:30. Lewat 1,5 jam dari jam rutin ia bangun. Tapi jika mengingat kegiatan mereka semalam, itu mungkin saja menjadi penyebab ia bangun terlambat.


Saat kesadarannya telah kembali sepenuhnya, ia melirik dirinya sendiri. Tubuh yang telah dihiasi beberapa tanda merah itu ditutupi sebatas dada oleh selimut bercorak bunga lili. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit, dan meringis saat merasakan ngilu dan perih di area bawahnya. Dengan mengambil posisi duduk bersandar, ia memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.


Di samping sebelah kanannya, Lingga yang juga bertubuh polos dan tertutupi selimut yang sama dengannya masih terlelap. Wajahnya terlihat damai, meski gurat lelah tak bisa serta merta hilang dan terhapus dari sana. Tubuh polos Lingga terpampang hingga sebatas perutnya, menampilkan dada bidang dengan kulit putih dan sedikit otot yang terbentuk. Wajah Farrand memerah, saat ia kembali mengingat bagaimana dada bidang itu mendekapnya dengan kuat seolah tak ingin terlepaskan.


Mencoba menggeleng pelan, Farrand sedikit bersyukur ia tidak membuang obat yang diberikan oleh Nadeen beberapa waktu lalu. Yah, obat pencegah kehamilan itu diberikan oleh Nadeen saat ia menceritakan tentang hubungannya dengan Lingga. Terdengar konyol, namun dengan senyuman misterius Nadeen memaksanya menyimpannya sebagai jaga-jaga. Entah ia harus merasa beruntung atau tidak karena ia mengurungkan niatnya untuk membuang obat itu. Tapi yang jelas, kapan-kapan ia akan mengucapkan terimakasih pada Nadeen karena hal itu.


Mengingat obat itu, ia terkekeh kecil. Ia sebenarnya tak tau banyak tentang semua hal yang menyangkut tentang ****. Tapi itu juga bukan berarti ia polos dan terlalu tak tau apa-apa. Salahkan saja Nadeen yang selalu merecokinya tentang itu, entah dari mana Nadeen tau banyak hal tentang itu, yang jelas saat ia bertanya Nadeen hanya menjawab ia tau dari film. Konyol, mengingat Nadeen yang belum pernah menjalin hubungan serius macam pacaran di usianya kini namun tahu banyak hal tentangnya. Ah, mengingat Nadeen, bagaimana keadaan temannya itu sekarang? Ia pasti akan menjerit histeris saat tau tentang apa yang ia dan Lingga alami semalam.


"Kau sudah bangun?" Tanya Lingga. Sorot mata sayu khas bangun tidur begitu jelas terlihat di wajahnya.


Farrand mengangguk pelan, ia menggunakan tangan kanannya untuk mengusap pelan surai kelam milik Lingga.


"Masih terasa sakit?" Lingga mencoba bangun dan mensejajarkan posisinya dengan Farrand.


"Sedikit. Tapi tidak sesakit semalam." Jawab Farrand.


"Maaf. Kurasa aku telah keterlaluan padamu."


Farrand tersenyum. Ucapan Lingga itu memang benar, semalam Lingga telah menggempurnya dengan sangat keterlaluan. Ia tak tau, entah itu pengaruh obat atau memang Lingga sendiri yang memiliki tenaga seperti itu.


"Sudahlah, Ling. Aku masih cukup kuat bangun hari ini."


"Kalau begitu, kau masih kuat untuk melanjutkan satu ronde lagi?"


Tak..


Farrand menggeplak kepala Lingga dengan kekuatan penuh hingga sang pemilik mengaduh kesakitan. Ia mengucutkan bibirnya dan memasang wajah masamnya. Oh, ayolah. Semalam itu adalah kali pertamanya dan digempur habis-habisan. Kini ia masih diminta untuk melanjutkan lagi? Tidak. Terima kasih. Ia masih sayang dengan tenaganya karena hari ini ia harus belanja bahan masakan.


"Sakit, Fa." Adu Lingga.


"Kau pikir aku tak lebih sakit dari itu, syaland? Dan dengan seenak jidatmu kau menginginkannya lagi."


Grep.


Lingga merengkuh Farrand dan membawanya kedalam dekapannya. Ia mengeluas rambutnya selembut mungkin dan sesekali mengecup puncaknya.


"Aku tau, maaf aku telah menyakitimu." Bisiknya.


Farrand menggeleng, ia menyamankan posisinya di dekapan dada bidang Lingga.


"Ling. Aku lelah. Aku ingin mandi namun kakiku terasa lemas."


"Mau ku gendong?"


"Aku berat, memang kau kuat?"


"Kau meragukan kekuatanku?"


Farrand menggeleng pelan, ia terkekeh setelahnya, Lingga menggendong tubuh polos Farrand menuju kamar mandi. Wajah Farrand memerah, ia membenamkan wajahnya pada tubuh Lingga saat melihat tubuh Lingga yang tak kalah polos darinya.


"Kau malu? Kau sudah melihat semuanya dan kau masih memalingkan mukamu seperti itu."


"Bu-bukan begitu."


"Lalu apa?"


"Tidak ada."


Lingga terkekeh. Ia meletakkan tubuh Farrand dengan pelan kedalam bak mandi. Mengatur suhu air dan memulai acara mandi bersama mereka untuk yang pertama kalinya.


.


Farrand mendesah lega saat ia telah menyelesaikan semua kegiatannya dibantu dengan Lingga. Ia duduk manis di sofa ruang keluarga. Tak banyak yang ia perbuat, hanya duduk menikmati secangkir teh hangat sambil menunggu cucian yang masih di keringkan di dalam mesin. Hanya tinggal itu yang belum terselesaikan, karena setelah ini mereka berencana akan belanja bersama. Mungkin terlalu dini, tapi mereka memang terlihat seperti pasangan yang sudah menikah. Ups, atau memang hal hal itu benar mengingat kegiatan mereka semalam?

__ADS_1


"Setelah ini kita kemana?" Tanya Lingga. Ia mendesah bosan, ia akui jika ia sedikit kewalahan saat membantu Farrand menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangganya. Ia memang hidup sendiri selama ini, namun ia tak pernah mengerjakan semua pekerjaan membersihkan apartmentnya. Ia hanya bisa memasak masakan yang mudah, dan untuk urusan membersihkan apartment ia serahkan pada petugas kebersihan yang disewanya seminggu sekali.


"Ke mini market. Aku sudah kehabisan bahan makanan." Ucapnya singkat.


"Kita kesana memakai kendaraan apa?"


"Jalan kaki."


"Jalan kaki? Aku tidak tau jika kau sekuat itu hingga memutuskan untuk berjalan kaki setelah malam panas kita dan kegiatan bersih-bersih kita tadi."


Wajah Farrand memerah saat di ingatkan tentang malam panas mereka. Ia akui jika kakinya sedikit pegal, tapi ia juga yakin jika dirinya masih sanggup untuk berjalan ke minimarket yang berjarak 1 km dari rumahnya itu.


"Aku sudah biasa melakukannya. Lagi pula ada kau, kau bisa menemaniku dan membantuku membawa barang belanjaan nanti."


Lingga mendesah pelan, ia kadang tak habis pikir dengan kelakuan wanita di depannya itu. Mungkin di matanya dia adalah wanita hebat dengan semua yang dilakukannya. Tapi ia juga tidak menampik kenyataan jika wanitanya itu seperti terlalu memaksakan dirinya sendiri hingga melebihi batas kemampuannya.


"Tidak bisa kah kau beristirahat saja? Aku bisa membelajakanmu jika kau memberiku daftar apa saja yang harus kubeli." Ujar Lingga. Ia memandang sayu pada Farrand, dan ia yakin jika Farrand juga sudah memiliki rasa lelah lebih dari yang terlihat.


"Tidak. Kita bisa belanja bersama. Aku tak lelah, kau saja yang memandangku lemah."


"Aku tak memandangmu lemah, Fa. Aku hanya tak ingin kau terlalu memforsir tubuhmu hingga terlalu kelelahan."


"Aku sudah biasa melakukannya, Ling. Kau tak perlu khawatir berlebih."


"Jika kita menikah, aku akan menyewakan satu orang untuk membantumu mengerjakan semuanya."


Farrand tertawa, seakan merasa jika ucapan Lingga sangat terdengar lucu.


"Kau harus mengeluarkan uang extra untuk itu, Ling. Memang kau sudah temukan tujuan hidupmu kemana?"


"Tentu saja tujuan hidupku adalah bersamamu, Fa."


"Maksudku selain itu. Kau putra pertama, apa kau tak berfikir jika ayahmu akan menyerahkan perusahaannya padamu? Atau kau memilih menjadi pembalap pro, yang kau pun belum tau bisa atau tidaknya untuk terjun ke arena balap?"


Hati Lingga seakan tertohok dengan ucapan yang Farrand layangkan padanya. Farrand benar, ia yang selama ini selalu fokus pada arena balap sama sekali tak pernah berpikir hingga kearah sana. Ia mungkin bisa berpikir jika ayahnya mewariskan perusahaannya pada Daniel yang selalu di banggakan itu. Tapi ia juga tidak bisa berpikir lebih jauh untuk merambah ke ranah pembalap pro. Apa jadinya hubungannya dengan Farrand jika ia tinggal menjajaki dunia pro?


"...." Lingga terdiam, ia masih berusaha mencerna kata-kata Farrand yang diam-diam ia benarkan itu.


"Jika perempuan, maka mimpinya tak selalu sekompleks laki-laki. Jadi menjadi hal yang sedikit mudah bagiku untuk memikirkannya."


"Apa maksudmu, Fa?"


"Wanita, punya dua hal yang berjalan bersisihan dan tidak bisa bersama dengan selaras."


"Apa itu."


"Mimpi dan kenyataan."


"...." Lingga kembali mengernyitkan dahinya. Ia semakin tidak mengerti jalan pemikiran yang di ambil Farrand.


"Jika wanita memilih mengambil jalan mimpinya, maka ia harus mengesampingkan sebuah keluarga. Ia bisa saja tidak menikah dan memilih melajang seumur hidupnya."


"....."


"Dan jika memilih kenyataan, ia harus memiliki sebuah kesadaran bahwa mimpinya tak akan bisa sempurna."


"Aku tak mengerti dengan ucapanmu, Fa."


"Begini, wanita selalu dihadapkan pada pilihan, menikah atau tidak. Tidak jika mereka -dalam artian aku juga- memilih untuk mengejar sebuah mimpi yang berwujud cita-cita."


"Lalu?"


"Jika menikah, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Selain mimpinya yang pasti akan terbengkalai karena pernikahannya, ia juga dihadapkan pada kondisi dimana ia secara halus dituntut untuk memberikan keturunan. Jika sudah ada keturunan, maka secara otomatis di hadapkan pada pilihan merawatnya. Dan itulah yang menghambat mimpinya berjalan sempurna."


"Aku sedikit mengerti. Tapi bukankah diluar sana banyak wanita yang tetap memilih berkarir meski ia telah memiliki keluarga? Bukankah itu berarti mimpi dan kenyataan berjalan berdampingan?"


"Kau tak tau penjelasannya, Ling. Jika ia memilih berkarir, pasti si anak tak akan bisa dirawatnya. Ia akan memilih menyewa seseorang untuk membantu pekerjaannya dalam merawat anaknya. Atau jika memungkinkan bisa menitipkannya pada sang nenek atau orang terdekatnya. Dia tidak mungkin bisa menjadi full mom jika mengejar karir. Naluri seorang anak adalah bersama ibunya, jika ingin ibunya selalu ada di dalam hari-harinya, maka ibunya harus rela melepas karir."

__ADS_1


"Tapi bukankah banyak pekerjaan yang bisa dilakukan sambil menjaga anak dirumah?"


" Ling, kau saja sudah mengeluh saat membantuku tadi. Padahal hal itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika ada seorang anak kecil di antara kita."


"...." Farrand benar lagi. Dan dalam hati Lingga merutuki dirinya.


"Akan lebih baik jika wanita memilih menikah, ia bisa berada di rumah dan merawat anak-anak. Mungkin ini terdengar kuno, namun aku lebih setuju jika aku harus mengubur impianku dalam berkarir dan lebih memilih keluargaku."


"...."


"Aku tak mengenal siapa kakek dan nenekku, ayah bilang jika ia telah menjadi yatim piatu sejak ia mulai mengingat dan ibu tidak pernah memberitahuku marganya. Jadi aku sama sekali tidak tau apakah kakek dan nenekku dari pihak ibu masih hidup atau tidak. Aku tak merasakan hal seperti anak-anak lain yang dititipkan pada kakek dan nenek mereka saat ditinggal ibu mereka bekerja. Yang ku tahu ibu selalu merawatku. Ibu selalu bersamaku dirumah sementara ayah bekerja, dan aku merasa nyaman dengan itu. Aku yakin jika ibu memilih keluarga dan mengesampingkan karirnya. Dan hal itulah yang menjadi pemahamanku hingga saat ini."


Farrand benar. Dan ia akui itu, ia juga selama ini merasa ia lebih bahagia dekat ibunya daripada ayahnya. Ibunya selalu ada bahkan sejak ia mulai mengingat, ibunya juga selalu ada saat ia sedang membutuhkannya. Kakek dan neneknya yang berada diluar negeri sejak ia kecil membuatnya tak bisa mengenal lebih dalam kedua sosok itu. Ia yakin dengan perkataan Farrand tadi, ibunya pasti punya mimpi yang ia korbankan demi keluarganya. Hanya ibunya yang tidak membanding-bandingkannya dengan Daniel dan selalu berkebalikan dengan sang ayah. Ia tak bisa membayangkan jika ibunya memilih berkarir dan menitipkannya pada pengasuh atau kakek dan neneknya.


"Kau tau, Ling. Di hidupku bersama ayah aku mengalami masa terpuruk. Dan di saat itu pula aku banyak berfikir tentang ini. Tidak selamanya hidup kita menjadi semudah yang dibayangkan, akan ada beberapa hal yang di alami dan bahkan hal itu adalah hal yang belum terlintas di bayangan kita."


"Kau dewasa terlalu cepat, Fa. Aku yakin kau sudah lebih dari siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga."


"Kehidupan keras yang ku alami yang membuatku dewasa lebih cepat, Ling. Hei, aku masih belum 18 tahun jika kau lupa. Kau akan dihajar habis-habisan oleh ayahku jika membawaku ke altar saat ini juga."


"Memang siapa yang mau membawamu ke altar sekarang, Fa?"


"Jadi kau tak mau membawaku ke altar?"


"Tidak."


Prangggg....


Cangkir teh yang dipegang Farrand melayang ke tembok belakang Lingga. Lingga bergidik ngeri, untung saja cangkir itu meleset. Atau mungkin Farrand sengaja membuatnya meleset?


"Jadi kau tak mau membawaku ke altar? Setelah semua yang terjadi di antara kita? Begitu?" Aura Farrand menggelap, ia seperti Dewa Kematian yang siap mencabik-cabik tubuh gemetar Lingga. Padahal tadi Lingga hanya berniat bercanda, namun ia tak menyangka jika Farrand akan merespon sebegini seriusnya.


"Bu-bu-bukan begitu Fa. Aku memang tak mau membawamu ke altar sekarang, tapi tidak nanti, setelah usia mu lebih mencukupi dan aku siap memberimu nafkah."


Tok... tok... tok....


Suara ketukan pintu membuat Farrand menoleh dan segera berbalik untuk membukakannya. Lingga menghela nafas lega, ia sangat berterimakasih pada siapapun orang yang mengetuk pintu itu. Karenanya, Farrand meredam kemarahannya pada Lingga hingga kejadian kekerasan dalam rumah tangga tak berlanjut ke jenjang yang lebih serius. (?)


Lingga kembali melamun dan memikirkan percakapan mereka tadi. Farrand benar, ia harus punya mimpi dan ia tak mungkin selamanya bersenang-senang dengan kondisinya yang seperti ini. Jika ia memang ingin menjadi pembalap pro, ia harus rela berjauhan dengan Farrand. Dan jika ia ingin selalu dekat dengan Farrand, maka tak ada pilihan selain ia harus mempelajari bagian bisnis. Pilihan yang cukup sulit, dan ia harus memutuskan hal itu secepatnya karena sebentar lagi ia akan menaiki tingkat tiga di SMA. Tak lama, karena setelahnya ia harus benar-benar memilih.


Lingga yang merasa terganggu akan kegaduhan di ruang tamu memutuskan untuk beranjak dan melihat siapa tamu yang datang. Ia terkejut, disana ia melihat orang yang akhir-akhir ini selalu Farrand tanyakan keberadaannya sekarang tengah berada di pelukan Farrand dengan airmata yang berderai. Di belakangnya, ada seorang pria berambut merah yang ia kenal sebagai Abel.


"Lingga?" Nadeen menghentikan tangisannya dan menoleh kearah Lingga yang berdiri mematung di belakang Farrand.


"Dia sudah disini sedari tadi. Ayo, Na. Duduklah dan aku akan membuatkan minuman untuk kalian. Dan Nadeen, jangan lupa kau berhutang banyak penjelasan padaku tentang kepergianmu selama ini." Ujar Farrand. Nadeen mengangguk, ia mengajak Abel duduk dan menghapus sisa-sisa tangisnya dengan tangannya.


" Ling, duduklah disana dan temani mereka selama aku membuat minum." Perintah Farrand. Lingga mengangguk pelan, ia tak ingin kemarahan Farrand kembali tersulut dan memilih untuk menuruti perkataannya. Meski sebenarnya ia enggan duduk disana karena ada Abel.


"He, Lingga. Sejak kapan kau disini?" Tanya Nadeen. Lingga heran, baru saja ia melihat perempuan ini menangis namun kini ia bertanya dengan nada jahil padanya. Kemana sisa tangisannya tadi?


"Sejak semalam."


Mata Nadeen memicing, sejak semalam katanya? "Kemana paman Arasya hingga kau bisa berada disini sejak semalam? Aku yakin, jika paman ada, ia akan menolakmu mentah-mentah."


"Paman sedang ke Kota sebelah untuk sebulan ke depan."


"Ehm.... apa kalian melakukan itu?" Sebuah seringai jahil terpatri di wajah Nadeen. Wajah Lingga memerah, Abel yang duduk di sebelah Nadeen hanya mensidekapkan tangannya dan mendengus.


"Apa maksudmu?"


"Kau mengerti maksudku! Tidak mungkin kalian tak melakukan apa-apa semalam. Apalagi dengan tampang mesum dan wajah memerahmu itu, aku sangat yakin jika kalian berdua telah melakukan sesuatu semalam." Skakmat. Lingga tak bisa berkomentar lagi karena Nadeen menebak tepat pada sasaran.


"Sudahlah. Yang penting kalian memakai pengaman kan?" Tanya Nadeen.


Lingga tertegun, pengaman katanya? Tentu saja tidak! Ia melakukannya tanpa persiapan apa-apa dan lagipula ia juga beberapa kali mengeluarkannya di dalam. Celaka! Lingga sampai berkeringat dingin membayangkan kemungkinan jika Farrand akan hamil. Ditambah pembicaraannya tadi dengan Farrand, entah mengapa ia merasa jika ia disadarkan pada kenyataan ia yang belum siap menjadi seorang ayah.


'Aku harus bagaimana jika hal itu terjadi? Aku bisa dibunuh paman. Celaka! Aku harus bagaimana setelah ini?' Batin Lingga. Ia gusar, sampai-sampai ia gelisah dalam duduknya dan hal itu tak luput dari pengamatan Nadeen dan Abel.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2