
Karin tak bisa untuk tak menatap kagum pada sesosok pria di hadapannya kini. Pipinya sedikit merona, pria yang katanya lebih muda darinya itu membuatnya sanggup untuk menahan nafas sejenak. Di sampingnya, Vian dan Erick hanya bisa mendengus melihat Karin yang tengah mematung sambil memandangi Lingga.
"Jadi, kalian bertiga yang akan magang disini? Saya sudah mendapat surat pengantar dari Universitas. Dan katanya, ada empat orang. Bukan tiga." Ujar Lingga.
"Maaf, hal itu karena teman kami yang terakhir sedang sakit dan belum bisa datang untuk perkenalan." Vian sedikit membungkuk atas permintaan maafnya. Sebenarnya itu bukan tugasnya, melainkan tugas Karin selalu ketua kelompok. Tapi apa boleh dikata, Karin terlalu sibuk dengan lamunannya.
Lingga mengangguk pelan,
"Selama disini kalian akan mendapat bimbingan dari Paman Aland."
"A-ano, mengapa bukan anda selaku CEO?" Akhirnya, Karin mengangkat suaranya saat mendengar bukan Lingga yang menjadi pembimbing lapangan mereka.
"Itu bukan tugas saya. Lagi pula saya belum memiliki pengalaman yang lebih untuk membimbing yang lebih senior dari saya."
Wajah Karin makin memerah, ia terpukau atas sikap Lingga yang menurutnya keren itu.
"Jika ada yang ditanyakan perihal perusahaan, silahkan menemui paman Aland."
"Iya."
Mereka bertiga menjawab dengan kompak, setelah mereka bertiga pergi ia mendesah lelah. Pekerjaannya terasa begitu menguras tenaga. Untung saja masih dibantu Aland selaku sekretarisnya. Kalau tidak, mungkin ia bisa menelantarkan kuliah dan pekerjaannya.
"Sepertinya dua malam kemarin belum bisa mengobati rasa rinduku." Monolognya. Ia melirik jam tangannya, sebuah jam tangan berwarna hitam pemberian Farrand sebagai hadiah pernikahannya. Angka disana masih menunjukkan pukul 2 sore. Itu berarti masih ada waktu tiga jam sampai jam kerja berakhir.
"Mungkin nanti aku akan menemuinya. Lagi pula aku tak ada jadwal perkuliahan malam." Bisiknya. Saat membayangkan Farrand, semangat yang ada dalam diri Lingga muncul dan dengan sebuah seringai, ia mengambil berkas di hadapannya dan mengerjakan bagiannya secepat dan dengan hasil yang sebagus mungkin.
"Ah, membayangkannya saja sudah bisa membuat juniorku bangun."
Lain dengan Lingga, di tempatnya Farrand tengah bersin mendadak. Ia yang sedang menikmati Burger jumbonya kini meringis karena lidahnya ikut tergigit saat bersin tadi. Selera makannya mendadak hilang, dan burger yang masih tinggal separuh itu ia abaikan begitu saja. Ruang makan apartment mereka yang semula ramai akibat dentingan alat makan dari Nadeen kini mendadak hening.
"Aku merindukan Lingga." Bisiknya.
Nadeen yang sedikit mendengarnya mengernyitkan dahinya. Hei, apa dirinya tak salah dengar? Baru dua hari yang lalu temannya itu pulang. Saling melepas rindu dan bercengkrama dua hari dua malam. Dan kini, ia kembali mendengar kata rindu. Menggeleng pelan, ia hanya bisa membatin jika menurutnya Farrand tengah di landa kasmaran.
"Hey, Deen. Nanti malam kita masak apa untuk makan malam?" Tanya Farrand.
Nadeen menggeleng pelan, ia tak tau menu apa yang harus di hidangkannya karena rencananya, nanti malam Abel akan ikut makan malam di apartment mereka.
"Kau yang masak ya?" Sambung Farrand.
"Masakanku sedikit buruk. Kau saja."
"Hei. Yang akan makan malam disini itu kekasihmu. Bukan kekasihku. Jadi kau yang mengambil tugas memasak."
"Kalau begitu tinggal hubungi juga kekasihmu itu. Apa susahnya sih."
Farrand menunduk, ia merasa sangat sensitif jika di ajak membahas masalah kekasihnya.
"Kalau begitu aku akan makan di luar saja." Putusnya.
"Hei. Tak bisa begitu. Lalu siapa yang akan membantuku menyiapkan semuanya?"
"Mengapa tak kau ajak saja kekasih rambut merahmu itu? Dia lumayan pandai memasak bukan?"
Wajah Nadeen memerah, bukan karena apa. Tapi jika hanya mereka berdua yang di biarkan menyiapkan makanan, maka sudah bisa di pastikan masakan mereka tak akan matang secepat mungkin. Akan ada acara selingan yang menemani kegiatan memasak mereka.
"Jangan bilang kalau kau tak bisa menolak godaannya?" Tebak Farrand.
Wajah Nadeen semakin memerah. Ia tak bisa menyangkal pernyataan Farrand dan dirinya juga sedikit membenarkannya.
Huhhhh.....
Farrand menghela kan napasnya dengan kasar. Ia tak menyangka jika tebakannya bisa langsung tepat sasaran. Jika melihat keadaan Nadeen, pastilah mereka lumayan sering melakukan hal itu.
"Kalau kau mau membantuku, aku bersedia memasak sarapan untuk kita selama seminggu ke depan." Tawar Nadeen. Farrand menggeleng. Ia hafal bagaimana tabiat Nadeen. Wanita itu lebih banyak menelantarkannya saat mendapat jatah menyiapkan sarapan. Dan hal itu cukup membuatnya semakin jengkel. Jika Nadeen menawarkan hal itu, tidak dan terimakasih. Ia masih sayang dompetnya jika ingin menghemat.
"Ayolah Farrand. Tolong bantu aku. Atau kau bisa mengajak pria yang sedang dekat denganmu itu untuk makan malam disini juga."
"Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi jika bukan pria Dafandra itu? Kau tau, bahkan seluruh penghuni kampus sudah tau hal ini."
"Kau salah sangka. Aku masih setia pada Lingga dan aku juga tak tertarik dengan pria rambut panjang itu."
Nadeen mendengus, ia yang masih tak mengetahui tentang pernikahan sahabatnya itu hanya bisa menyayangkan sikap Farrand. Ia merasa jika Farrand telah melewatkan kesempatan langka untuk mendekati pria potensial macam Felix Dafandra.
"Felix itu pria potensial, Farrand. Dia keturunan bangsawan Dafandra dan menjadi pewaris utama."
"Lalu?"
"Lalu kau bilang? Hei. Dia pria dengan segudang kelebihan. Selain dia Dafandra, dia juga prince kampus. Dia mengambil dua jurusan sekaligus. Di jurusan bisnis dia sudah mencapai semester 5, dan dia baru menapakkan kakinya di jurusan yang sama denganmu tahun ini. Otaknya sudah tak bisa di ragukan lagi. Kau bisa menjadi nyonya besar jika menerima pinangannya."
Sebenarnya Farrand tak ingin menjatuhkan penjelasan Nadeen yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Ia tak ingin menghianati Lingga. Ia juga berpikir jika sebenarnya Lingga tak kalah potensial dari pemuda berambut merah itu. Lingga itu punya bakat terpendam, dan yang terpenting adalah Lingga kini telah menjadi suaminya. Suami sahnya.
"Na, jika kau ingin, kau bisa mengambilnya. Aku masih punya Lingga." Ujar Farrand.
Nadeen menggeleng pelan,
"Sudah ku lakukan jika dia mendekatiku. Sayang nya dia hanya mendekatimu, dan lagi pula juga aku sudah punya kekasih. Meski hanya keluarga cabang, kekasihku juga masih termasuk kerabat dekat Dafandra."
"Kalau kau saja tak mau berpisah dengan Abel, bukankah aku juga seperti itu? Aku juga tak mau meninggalkan Lingga. Lingga itu tak kalah potensial darinya."
__ADS_1
"Ups... slow, babe. Aku hanya menyuarakan pendapatku saja, ok?"
Farrand kembali mendengus, ia tak terima jika Lingganya di banding-bandingkan seperti ini.
"Lagi pula aku baru mengenalnya sebulan. Pertemuan kami tak selalu bagus dan berakhir buruk. Bagaimana bisa kalian para penghuni kampus menggosipkan aku dengannya?"
"Bagaimana kau tau jika kau digosipkan seperti itu?"
"Kau lupa? Aku juga punya telinga yang masih berfungsi dengan baik."
Nadeen terkekeh kecil,
"Baiklah, baiklah. Aku tak akan membahasnya lagi, ok. Kalau begitu begini saja. Aku akan membawa seorang lagi dan kita masak bersama. Itu lebih baik dari pada kita makan bertiga dan kau menjadi obat nyanuk untuk kita berdua."
"Aku bisa makan diluar. Sekali-kali menghabiskan uang untuk makan di restoran bukanlah hal yang buruk."
Nadeen tak ingin menyerah begitu saja. Ia punya rencana, dan mau tak mau Farrand harus menyetujuinya.
"Ayolah, ku mohon. Ini makan malam pertamaku dengan Abel sejak kita pindah kesini dua bulan yang lalu." Pinta Nadeen.
Farrand yang mensidekapkan tangannya di depan dadanya hanya bisa mendengus. Jika sudah begini, ia akan sulit untuk menolak permintaan Nadeen. Ia kemudian mengangguk pelan dan di sambut pekikan senang oleh Nadeen.
"Nanti kau yang belanja. Aku ada perkuliahan sampai jam 6 nanti. Dan aku akan membantumu setelah pulang kuliah."
Nadeen mengangguk mantap. Tak masalah jika dirinya yang belanja. Lagi pula jam kuliahnya sudah kosong. Ia bisa meminta bantuan Abel untuk mengantarnya belanja disertai kencan dan suatu maksud terselubung. Ah, Nadeen merasa senang hanya dengan memikirkannya saja.
.
.
.
Wajah Farrand berubah masam saat ia membuka pintu untuk tamunya. Makanan belum siap sepenuhnya karena jam makan malam yang di tentukan masih setengah jam lagi.
"Hai, Fa."
Farrand menatap tajam pria jakung berambut panjang di sebelah Abel. Dan setelah tatapannya beralih ke Abel, pria itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia kesal setengah mati, dengan kedatangannya saja sudah membuatnya kesal, apalagi dengan panggilan itu? Hei, panggilan itu adalah panggilan sayang dari Lingga untuknya.
"Mengapa kau membawa Felix kesini?"
Glup,
Abel menengguk ludah kasar, ia yang masih merasa bergidik karena tatapan Farrand merasakan lidahnya kelu bahkan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
"Di-dia yang meminta untuk di ajak. Me-mengapa tak kau suruh kami masuk dulu? Dimana Nadeen? Aku merindukannya."
Sebuah senyuman menawan Felix layangkan ke arah Farrand. Namun seolah tak terpengaruh, Farrand hanya mencebikkan bibirnya karena kesal.
Seolah mendapat angin segar, Abel mengangguk dan bersyukur karena Farrand tidak melakukan hal yang lebih menyeramkan. Ia kenal wanita itu, kejadian bersama Lingga dulu masih terekam begitu jelas di benaknya dan seakan mewanti-wanti dirinya agar tidak mengusik Farrand. Tapi apa daya, Felix dengan kearoganannya dan keputusan mutlaknya memaksa dirinya untuk menyelenggarakan ini. Dan hadiahnya tak main-main, Abel yang penggila American Muscle di iming-imingi Ford Mustang keluaran terbaru. Tentu saja ia tak mau melewatkan kesempatan itu.
Di dapur, Farrand menemukan Nadeen sedang tersenyum paksa. Ia tau Nadeen ikut andil dalam hal ini, dan ia sudah tak bisa marah lagi padanya karena merasa hal itu percuma. Akhirnya, mereka melanjutkan acara memasaknya dengan keterdiaman dari keduanya.
Dua puluh menit berlalu, masakan hampir selesai dan tinggal menghidangkannya saja. Mereka berdua masih terdiam, hingga suara denting bel membuat perhatian mereka teralihkan.
"Na, gantian."
Nadeen mengangguk, ia tau maksud dari ucapan Farrand. Ia yang tadi menyuruh Farrand membukakan pintu kini harus rela dia yang membuka. Ia heran, tamu mana yang datang berkunjung? Setahunya ia tak pernah menerima tamu di jam ini, yah, terkecuali untuk dua orang yang sudah ada di ruang tamu.
"Lingga!." Nadeen terpekik, Abel dan Felix yang duduk di ruang tamu pun ikut melongokan kepalanya.
"Dimana dia?" Ujar Lingga dingin.
"A-ah. Dia sedang memasak di dapur."
"Bagus lah. Karena aku sedang lapar."
Tanpa di persilahkan masuk, Lingga langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Aroma masakan yang kuat membuat Lingga menyunggingkan senyuman tipis. Ia kenal masakan ini, masakan yang selalu ia nanti setelah soup tomat.
"Sainganmu berat, Fe." Ucap Abel. Ia menepuk pelan pundak Felix seolah memberi rasa bela sungkawa.
"Siapa dia?" Tanya Felix.
"Dia kekasih Farrand sejak SMA."
Felix hanya bisa ber'oh' ria karena ia merasa yakin jika dirinya bisa menaklukkan hati Farrand. Ia memang merasa jika saingannya itu bertampang lumayan, tapi ia juga tak mau mundur dan menyerah begitu saja pada keadaan. Biar bagaimana pun juga darah Dafandra mengalir kental di pembuluh darahnya. Dan Dafandra benci kekalahan.
Di dapur, tangan Lingga langsung memeluk pinggang ramping Farrand dan menyesap aroma yang ia rindukan di perpotongan lehernya. Farrand berjengit kaget, ia hampir memukulkan centong sayur yang dipegangnya ke kepala si pemeluk jika saja ia tak melihat jam tangan melilit tangan kiri itu. Ia hafal bentuk jam itu, karena ialah yang membelinya khusus untuk suaminya.
"Kapan kau datang?" Tanya Farrand. Ia menghentikan sejenak acara memasaknya dan mengusap lembut surai kelam yang mampir di leher kanannya itu dengan tangannya yang bebas.
"Baru saja. Aku sangat merindukanmu. Jadi kuputuskan untuk langsung kesini saat jam kerja selesai."
"Kau gila. Kau berkendara hanya dalam waktu kurang dari dua jam saja?"
"Hu'um. Kekuatan cinta yang menangguhkanku."
"Kau berlebihan. Kalau begitu kau belum makan dan mandi?"
Lingga mengangguk.
"Mandilah dulu, ada beberapa pakaianmu di dalam lemariku. Aku memang sengaja membawa beberapa agar jika sewaktu-waktu kau kesini kau tidak kesulitan mencari baju ganti." Farrand berbohong. Ia mengatakan hal itu karena ia tak ingin ketahuan jika alasannya membawa pakaian Lingga adalah karena kerinduannya. Ia tak mungkin mengatakan jika saat ia rindu ia akan memeluk pakaian Lingga dan menyesap aromanya, bukan?
__ADS_1
"Sebentar lagi. Aku masih merindukan aromamu."
"Cepatlah, sebentar lagi kita makan malam bersama. Atau kau lebih memilih tak makan?"
Lingga menggeleng, sungguh. Ia lebih memilih untuk di hadapkan pada preman dan di suruh menghabisinya dari pada menghadapi ancaman Farrand. Bukan karena apa, Farrand dalam mode ngambek karena keinginannya tak di turuti itu lebih menakutkan dari pada bos yakuza sekalipun.
Krruuukkkkk....
Farrand tersenyum, ia kemudian terkikik geli karena Lingga yang selalu tak bisa menyembunyikan rasa laparnya.
"Sudahlah, cepat mandi atau aku tak akan memberimu jatah malam ini."
Setelah mengangguk dan ******* bibir Farrand, Lingga bergegas ke kamar Farrand dan mandi disana. Jika Farrand sudah menyangkut pautkan soal jatah, mau tak mau Lingga akan menurut saja seperti anak kecil.
"Dia tak pernah berubah." Bisik Farrand.
Mood Farrand yang sebelumnya buruk karena kedatangan Felix kini berubah membaik karena kedatangan Lingga. Dengan penuh senyuman ia menghidangkan makan malam sambil menunggu Lingga yang tengah mandi. Nadeen tergugu di ruang makan, ia yang duduk bersebelahan dengan Abel hanya bisa terdiam. Sedangkan Felix, ia mati-matian menahan perasaan dongkolnya karena Farrand memaksanya duduk di sebelah Abel dan berhadapan langsung dengan pasangan Lingga-Farrand. Untung saja Lingga belum selesai mandi, kalau sudah, ia tak yakin bisa menahan kegondokan hatinya.
"Dimana Lingga?"
Abel yang bosan dengan keheningan itu membuka suaranya dan bermaksud mencairkan suasanya yang mencekam akibat aura kelam yang di keluarkan Felix.
"Dia masih mandi, sebentar lagi pasti selesai." Jawab Farrand.
Tak,
"Mengapa kau mengizinkan seorang pria mandi di kamarmu?" Tangan Felix terhentak begitu saja di meja makan saat mendengar jawaban Farrand. Ia sudah tak bisa membendung emosinya, dan kini amarahnya sudah meluap.
"Apa urusanmu, ini apartmentku. Kamar itu juga kamarku, jadi bukankah wajar jika aku mempersilahkan kekasihku untuk mandi di kamarku?"
"Kau bilang itu wajar? Dia bahkan bukan suamimu. Harusnya kau menyuruhnya memakai kamar mandi di dekat dapur saja."
"Itu urusanku." Sebisa mungkin Farrand menahan rasa kesalnya. Bukan suami katanya? Jika saja ia tak mengingat janjinya pada ayahnya, ia akan berteriak dengan lantang jika mereka telah resmi menjadi suami istri.
"Hei. Apa kau tak mengerti juga? Kau itu perempuan. Apa ayah dan ibumu tidak pernah mengajarimu tata krama dan cara memperlakukan pria di tempatmu tinggal?"
Cukup,
Wajah Farrand terasa terbakar dan matanya serasa memanas karena mendengar ucapan Felix. Ia tak terima, secara tidak langsung Felix telah menghina ayah dan ibunya.
Set,
Dengan gerakan kasar Farrand menarik tangan Felix dan menyeretnya keluar apartment. Ia mengeluarkannya dengan menghentakkan tangan Felix dan mendorongnya. Felix bingung, ia merasa hanya mengatakan hal yang sebenarnya dan tiba-tiba Farrand begitu marah. Tanpa kata lagi, Farrand berbalik, membanting kasar pintunya dan meninggalkan Felix di luar apartmentnya.
"Sial!" Umpat Felix. Ia tak tau jika Farrand akan sebegitu marahnya setelah ia mengatakan hal itu. Ia berasal dari keluarga terpandang dan menjunjung tinggi tata krama. Tentunya hal itu mengganggu benaknya, karena menurut keluarganya, tak pantas seorang pria yang belum menjadi suaminya masuk ke dalam kamar pribadi seorang wanita.
Dengan emosi yang memuncak, Felix pergi dari apartment Farrand dan membawa mobilnya dengan kecepatan yang gila. Ia ingin meluapkan kekesalannya, dan mungkin ia akan pergi ke bar saja agar pusing di kepalanya hilang. Dan sepertinya ia lupa jika Abel tak membawa mobil lain.
.
.
.
Farrand semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lingga yang bertelanjang dada dan kembali menyesap aroma tubuh Lingga, aroma yang selalu di rindukannya. Lingga membawanya ke sebuah penginapan di bukit Dafan yang terdapat pemandian air panas campuran. Ia berencana menginap di penginapan saja daripada di apartment. Bagaimanapun juga ia masih sadar kondisi, perlakuan mereka di apartment nanti hanya akan menyiksa telinga Nadeen dengan suara berisik mereka. Dan Farrand tak ingin jika esoknya Farrand di olok habis-habisan oleh Nadeen. Dan tentunya ia membayar semua tagihan itu dengan uang tabungannya yang telah lama ia kumpulkan. Hei... sekali-kali mengeluarkan uang berlebih untuk sang istri tak apa bukan? Lagi pula, anggap saja ini bulan madu mereka yang tertunda.
"Ne, Ling. Kau tak keberatan jika keadaan kita selalu begini?" Kata Farrand.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, apa tak apa kita menyembunyikan status kita begitu lama?"
"Entahlah Fa. Tapi aku masih belum mengerti mengapa ayah menyuruh kita menyembunyikan hal ini."
"Menurut perkiraanku, ayah menyuruh kita menyembunyikannya bukan tanpa alasan. Usia kita masih terlalu muda, dan ayah ingin kita mendewasakan pemikiran kita terlebih dahulu. Ayah tau jika sesuatu tengah mengincar ayah, dan dia menyiapkan hal ini agar aku tak sendirian. Akan ada dirimu yang menjagaku, dan ayah tak akan khawatir tentang hubungan kita jika kita telah terikat pernikahan."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan itu? Dari yang kulihat, paman Aland saja sudah lebih dari cakap dalam mengurusnya."
"Ayah percaya padamu. Itu maksud yang bisa ku tangkap dari sana."
"Percaya?"
"Ya. Ayah percaya kau mampu menjagaku dan perusahaan disaat yang bersamaan. Kau tau, ayahlah yang menyuruhku memasang implan. Dan ayah mengatakan padaku jika ayah percaya aku akan menuruti semua keinginannya."
"Bahkan meski harus mengorbankan mimpi kita?"
"Bukan mengorbankan mimpi kita. Tapi semata-mata agar kita menata mimpi kita sendiri. Selama ini aku percaya pada ayah, dan ayah tak pernah mengecewakanku."
"Fa, terkadang aku bersyukur kita telah menikah. Tapi terkadang aku juga mengeluh akan kondisi kita yang terpisah seperti ini."
"Sudahlah, dari pada mengeluh, mengapa tak kita nikmati malam ini? Bukankah besok kau harus berangkat pagi-pagi sekali agar tak terlambat masuk kerja?"
"Kau benar."
Lingga tersenyum, ia melepaskan pelukan Farrand dan membawa Farrand kedalam ciuman yang memabukkan. Untung saja pemandian itu sudah ia sewa sepenuhnya, jadi dirinya dan Farrand bisa menikmati malam panas di pemandian tanpa khawatir ada orang yang mengganggu kegiatan mereka.
Tbc
__ADS_1