Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 5


__ADS_3

Lingga masih memfokuskan pandangannya ke Madhiaz yang sedang


memperbaiki mobilnya. Sesekali ia bertanya. Apa yang perlu ia butuhkan untuk


mempercepat laju kendaannya itu. Ia senang, dan sepertinya Madhiaz orang yang asyik untuk di


ajak sharing tentang tunggangannya itu dan segala ***** bengeknya. Ia bahkan membawa GTR


nya serta. Ia meminta Madhiaz untuk mengecek suspensi, kondisi rem, dan roda


serta kemudinya. Ia banyak bertanya tentang bagian-bagian itu. Hingga membuat Madhiaz sedikit


jengah menghadapi ocehan-ocehan


yang dilontarkan Lingga padanya.


Lingga menghentikan pertanyaannya saat melihat tatapan tajam Madhiaz yang seolah tengah dalam keadaan yang tidak bias


di ganggu lagi. Ia hanya bisa nyengir kuda. Sepertinya Madhiaz


mulai lelah akan dirinya yang terus bertanya ini dan itu selama Madhiaz


memperbaiki mobilnya. Ia yang sekarang hanya duduk berdiam sambil mengamati Madhiaz


mencoba mencari pengalihan kebosanan. Jujur saja ia merasa bosan.


Bagaimana tidak bosan, dirinya sama sekali tak mengerti tentang otomotif dan


ingin belajar tentang hal itu. Namun sepertinya belajar sekarang ini bukan


dalam kondisi yang tepat. Dan sepertinya hanya ponselnya


lah tujuan satu-satunya. Hei.. wajar ia bosan. Ia telah disini sejak


sepulang sekolah dan ini sudah pukul 9 malam. Cukup lama bukan?


Drttt.. drrttttt


Ponsel pintar milik Madhiaz yang ada disebelah Lingga bergetar. Diliriknya dan


terdapat nama Yellow Flash disana.


"Dhiaz. Yellow Flash memanggil." Panggilnya. Ah, tidak. Dari nadanya ia bukan sekedar memanggil. Tapi


berteriak kencang.


"Sebentar." Madhiaz meyelesaikan sentuhan


terakhirnya dan mengelap tangan penuh olinya. "Kau angkat dulu. Aku akan


kesitu sebentar lagi setelah selesai membersihkan tanganku." Lanjutnya. Lingga hanya mengangguk mendapat perintah darinya.


"Ya, Hallo.” Ucap Lingga


setelah menggeser tombol hijau.


Terdengar suara terisak diseberang. Ia bingung. Belum ada


kata-kata dari sang penelpon dan Lingga langsung men-speaker panggilan


itu."Dhiaz. Ayah.. dia... dia...." Madhiaz yang


mendengar suara itu langsung membulatkan matanya. Seketika dia berlari tanpa mempedulikan tangannya sudah bersih atau


belum dan merebut ponsel itu dari tangan Lingga hingga Lingga dibuat heran karenanya.


"Katakan Farrand. Dimana kau sekarang." Kata Madhiaz.


Lingga mengernyit heran. Apakah Farrand sicewek yang biasanya itu?Memang ada apa dengannya


hingga senior yang ia tau biasa bersikap kalem itu kini terlihat panik.


"Rumah Sakit Falen. Ruang Peoni nomor 34." Clikk.


Madhiaz mematikan ponsel begitu saja setelah mendengarnya. Ia


sudah tau maksud dari panggilan Farrand kepadanya di malam yang semakin larut


dan dengan suara yang seperti itu. Jika sudah seperti ini, ia tak bisa menunggu


lagi. Ia harus bergegas, dan sepertinya megganti baju pun benar-benar tak akan


ia lakukan. Waktunya tak akan sempat.


"Ayo Lingga. Kita bergegas." Dengan secepat kilat Lingga


diseret begitu saja oleh Madhiaz. Ia tak tau apa yang terjadi. Tapi sepertinya


sesuatu itu adalah hal yang gawat. Jika tidak, tidak mungkin Madhiaz sampai


tergopoh-gopoh seperti itu. Ia langsung meluncur begitu saja mengendarai mobil


miliknya tanpa mengganti pakaian kotor yang ia kenakan untuk membengkel. Begitu


pula Lingga.


"Apa yang terjadi, Dhiaz?" Lingga baru berani membuka suara saat mereka berada di dalam


mobil. Sebenarya sudah sedari tadi ia penasaran dengan


kondisi kejiwaan Dhiaz yang seperti tengah di kejar setan itu. Namun melihat


gurat wajah Dhiaz, ia urungkan dan menyimpan pertanyaannya hingga suasana sudah


dirasa memungkinkan untuk bertanya.


"Terjadi sesuatu dengan ayah Farrand. Dan dia sekarang


dirumah sakit." Jelas Dhiaz. Kini Lingga tau mengapa Dhiaz


begitu terburu-buru pergi setelah menerima telpon itu.


"Memangnya


ada apa? Apakah sesuatu yang gawat telah terjadi?"


"Aku tak tau. Kita akan tau lebih lengkapnya saat


disana."


Lag-lagi Lingga merasa kicep. Sepertinya


sekarang Madhiaz dalam mode serius dan tak bisa diganggu meski hanya


untuk sekedar dimintai penjelasan. Dan akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya


duduk diam lagi seperti di bengkel dan mengikuti langkah Madhiaz ketika telah sampai dirumah


sakit. Terlalu banyak yang berseliweran di pikirannya


saat ini. Namun sepertinya keinginannya untuk mengetahui semua itu harus ia


pendam dalam-dalam. Ia merasa harus diam. Toh, nanti ia akan mengetauinya


sedikit demi sedikit setelah masalah tenang.


Madhiaz yang melihat siluet Farrand langsung menghampiri gadis


yang terdiam di tempat duduk depan kamar rawat inapitu. Wajahnya terlihat lebih berantakan dari


terakhir kali ia bertemu dengannya. Sebenarnya hal ini bukan lagi hal yang


tidak wajar atau baru saja ia temui. Namun entah mengapa setiap kali melihat


keadaan Farrand seperti itu mau tak mau hatinya mencelos sakit. Bgaimanapun juga,

__ADS_1


sosok wanita yang lebih muda setahun darinya itu sudah ia anggap adik sejk


lama.


"Farrand kau tak apa?" Tanyanya.


Farrand mendongak. Wajahnya telah kusut akibat terlalu banyak


menangis. Masih terlihat lelehan air mata di kedua pipinya saat Dhiaz datang dan kini, ia mengusapnya


kasar. "Ayah... ayahku.... mereka datang lagi. Dhiaz.Aku harus bagaimana?"


"Bagaimana keadaan paman?"


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi belum sadar. Dokterbilang kemungkinan beliau akan sadar


esok. Aku bingung sekarang. Masalah


yang satu belum selesai, kini muncul lagi yang lainnya. Sebenarnya apa salah


ayahku hingga diperlakukan seperti itu?"


"Percayalah paman akan baik-baik saja seperti sebelumnya.


Kau sudah tau jika paman itu kuat, bukan? Beliau pasti bisa melalui ini sama seperti yang telah lalu."


"Aku tau. Aku benar-benar tau. Tapi yang tidak kuketahui


adalah apakah aku kuat? Tidak... aku terlalu lemah saat ini. Aku tidak sekuat yang kau bayangkan, Dhiaz. Lama-lama aku terlalu lelah


menghadpi semua ini." Farrand menggeleng. Dia remat


rambut panjangnya yang telah kusut dibeberapa helai hingga rontok dan menempel di sela-sela


jemarinya.Jujur saja, Lingga merasa kasihan saat melihat wanita itu menunjukkan raut


kesedihan yang begitu mendalam seperti saat ini.


"Dimana Dion? Aku tak melihatnya. Bukankah dia mengajakmu


kencan?" Tanya Dhiaz. Lingga cengo, bagaimana bias seniornya


ini tau jika mereka berdua tengah kencan?


"Dia sudah pergi 5 menit yang lalu. Aku menyuruhnya pulang duluan. Awalnya ia bersikukuh tak mau pulang dan ingin menemaniku menunggui ayah


disini. Tapi setelah aku mengatakan kau sedang dalam


perjalanan kemari, ia menurut dan


pulang. Mungkin kalian berpapasan dijalan rumah sakit ini."


Dhiaz mengangguk pelan. Benar juga ya,


mungkin mereka berpapasan di lorong tadi. Pantas saja ia seperti melihat siluet


seseorang yang seperti ia kenal tengah berjalan dengan tergesa-gesa.


"Ehm....... Dhiaz." 2 pasang mata menoleh kearah Lingga. Farrand cengo. Sepertinya dia


tidak menyadari jika Madhiaz tak datang sendirian.


" Ada apa, Lingga? Maaf aku melupakan


kehadiranmu."


Madhiaz menggaruk tengkuknya. Ia merasa


tak enak. Ia tadi sudh seenak udelnya menarik-narik Lingga dan kini setelah


sampai disini ia mengacuhkan kehadirannya begitu saja.


"Tidak, tidak apa-apa. Sebenarnya aku hanya ingin pamit ke


toilet, Dhiaz. Badanku gatal dan aku ingin mandi. Bolehkah?"


Ucapan Farrand menghentikan gerakan bibir Madhiaz yang akan menjawab pertanyaan


Lingga. Lingga hanya mengangguk. Dan  langsung melangkah kedalam ruang


rawat Arash.


Setelah Lingga menghilang, mimik wajah Farrand berubah serius.


Ia menghela nafas, mengusap sisa air matanya dan menatap Madhiaz dengan tatapan


tajam. "Ada balapan di bukit Kota Halu. Hadiahnya cukup besar. Dan aku


akan ikut." Kata Farrand. Madhiaz melotot tak percaya dengan apa yang ia


dengar itu.Ia merasa jika Farrand


sudah kehilangan akal warasnya. Hey, ia tahu jika Farrand tak begitu mahir


dalam mengemudi. Dan untuk mengizinkannya, tentu butuh nyali yang besar dan


tanggung jawab yang tak tanggung-tanggung. Bagaimana nanti jika ada apa-apa di


dalam pertandingan? Hey, ia masih ingat dengan jelas jika paman Arashnya pernah


mewanti-wanti ia agar tidak mengizinkan Farrand ikut balapan. Pamannya itu


masih mengkhawatirkan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi di arena


balap. Kalian tau, arena balap itu rena kejam yang tak bisa di prediksi


jalannya.


"Kau serius? Selama ini bahkan aku tak tau kau bisa


menyetir atau tidak."


Farrand menggeleng, ia sudah tau jika


seperti ini jawaban yang dilontarkan Dhiaz padanya."Aku


bisa. Aku sudah sering ikut ayahku dulu."


"Tapi kau sekalipun tak pernah mencobanya bukan? Kau tau, Farrand. Arena balap itu keras dan


kejam. Kau tak akan tau hal apa yang bisa terjadi disana. Kau bisa meregang


nyawa kapan saja."


"Aku akan mencobanya malam ini. Apapun


hasilnya aku harus mencoba. Jika tidak, aku tak akan tau hal apa yang akan aku


temui disana." Ujar Farrand mantap.


"Kau gila. Kau bahkan tidak tau apa yang akan kau


hadapi."


"Aku tau, Madhiaz. Tapi aku harus mendapatkan uang dengan cepat untuk


membayar pengobatan dan ruang inap ayahku. Jika tidak, mereka akan mengusir keluar ayahku dari sini. Tenggang waktunya hanya sampai besok. Bagaimana


bisa aku mendapatkan uang yang banyak dalam waktu semalam jika bukan di arena


balap malam seperti itu? Aku tak mau ayahku dikeluarkan dari sini. Aku tak mau itu terjadi. Bagaimana pun juga ayah adalah satu-satunya tempatku


bersandar. Ayah satu-satunya orang tua yang kumiliki. Kau faham


maksudku, bukan?"

__ADS_1


"Tapi tidak begini jugabukan?"


"Lalu bagaimana? Kau pun tak mungkin bisa membantuku kan?


Aku tau paman dan kau sedang kesulitan untuk biaya pengobatan penyakit ibumu. Sedang


aku juga sama sekali tak bisa


membantunya. Tolong aku Madhiaz. Beri aku izin dan percayakan malam ini


untukku." Ucapan Farrand


sangat amat benar. Madhiaz menghela nafas. Ia menyerah dan tak bisa lagi beradu argument dengan


Farrand. Jika Farrand memanggilnya dengan nama kecilnya


berarti ia sedang dalam keadaan yang serius. Ia tak bisa menghalanginya lagi.


Menghadapi kekeras kepalaan Farrand itu sama saja seperti menggigit batu karang


sampai putus. Susah. Atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Terkadang


ia bingung, sebenarnya sifat keras kepala Farrand itu turunan dari siapa?


"Baiklah. Dan aku tak mau mendengar kabar buruk nanti.


Dan jangan sampai ada yang tau. Atau aku akan dibunuh paman  ketika ia


sadar nanti." Putusnya kemudian.


"Pergilah. Kuserahkan ini padamu." Lanjutnya


sambil menyerahkan beberapa kunci. Farrand hanya mengangguk sambil memegang


erat kunci pemberian Madhiaz. Kunci mobil itu, harapan satu-satunya agar ia bisa mendapatkan uang untuk biaya


pengobatan ayahnya yang kini terbaring tak sadarkan diri di dalam sana.Ia hanya bisa berdoa semoga keberuntungan ada dipihaknya malam ini.


"Aku titip ayahku. Jagakan dia." Farrand berbalik


dan langsung berlalu meninggalkan Madhiaz yang terduduk lemas. Setelah Farrand


menghilang di ujung belokan koridor, ia masuk keruang inap Arashdan duduk dikursi


pinggir pembaringan Arash.


Madhiaz mengusap wajahnya kasar. Ia tak menyangka jika dia akan turun secepat ini. Bayangan akan kemarahan Arash krena mengizinkan satu-satunya putri yang ia


miliki kini terngiang di fikirannya. Tapi sungguh, ia juga tak tau harus berbuat apa untuk


membantu sahabat dan orang yang ia


anggap adiknya itu. Ia ingin membantu, tapi


membantu dengan apa? Ah, andai saja ia memiliki uang yang banyak dan ibunya tak


terbring sakit. Tentunya ia akan mencegah gadis itu pergi. Tapi sudahlah, ia


hanya bisa berandai-andai sja sekarang.


Cklek...


Suara pintu terbuka yang berasal dari arah kamar mandi membuat Madhiaz menoleh.


Disana terlihat Lingga yang telah selesai dan menggosok-gosok rambut basahnya


dengan handuk namun masih memakai


pakaian kotornya. Lingga menatap Madhiaz heran, lalu mengedarkan


pandangannya kepenjuru ruangan karena sepertinya ia sadar akan sesuatu yang kurang di penglihatannya. Tapi apa?


Ah, ia ingat sekarang. Ia tak mendapati gadis yang bernama Farrand itu disana. Ngomong-ngomong, kemana dia sebenarnya?


"Mana sigadis berambut


panjang itu?" Tanya Lingga.


"Ia sedang keluar mencari makan. Ia mengatakan jika dirinya


lapar. Dan sekalian memintanya untuk mencarikanku makanan juga."


"Oh....... begitu ya. Eh, iya. Aku baru saja dapat pesan jika akan ada balapan dibukit Kota Halu jm 11


malam ini."


"Lalu?"


"Oh ayolah... aku ingin tau apakah salah satu dari


peliharaanku itu bisa kubawa? Kudengar hadiahnya lumayan banyak. Siapa tau saja aku beruntung dan bisa memenangkan perlombaannya. Kau tau,


aku bisa membeli perlengkapan yang yang lumayan untuk tungganganku dengan uang


itu. Bukankah kau tadi juga mengatakan jika tunggangaku butuh banyak hal lagi


untuk menyempurnakan performanya?" Lingga menanti


jawaban Madhiaz. Madhiaz yang mendengus sambil melipat tangannya didada menatap


Lingga dengan tajam. Sedang yang ditatap hanya menggaruk tengkuk sambil


terkekeh kecil.


"Bawalah GT-R. Ia lumayan bisa diandalkan untuk menuruni


bukit Kota Halu. Itupun jika kau mahir dalam menaklukkan keliaran mobil


itu."


"Aagney?Oh.. aku tak menyangka aku akan memakainya malam ini."


"Apa maksudmu dengan Aagney?"


"GT-R itu akan kunamai Aagney."


"Dan kau tak menamai mobil mustangmu itu? Pilih kasih


sekali."


"Tidak, Dhiaz. Aku sudah memberi nama Mustangku


dari dulu. Hanya saja kau tak tau itu."


"Terserah kau saja. Cepat berangkat atau kau akan


terlambat." Dhiaz benar dan


kini Lingga kelabakan dibuatnya. Jika ia tak bergegas, ia tak akan


sampai disana tepat waktu.


"Ini kunci mobilku. Bawa kebengkel dan ambil


mobilmu." Kata Madhiaz. Lingga tersenyum tipis. Dengan cepat disambarnya


kunci mobil milik Madhiaz dan langsung melesat menuju bengkel. Ia tak akan


ganti baju. Ah. Persetan dengan baju yang kotor. Yang ia butuhkan sekarang


adalah kemenangan. Bukan penampilan sempurna.


Dan Lingga, ia tak tau apa yang menantinya di bukit Kota Halu


nanti.

__ADS_1


-------TBC------


__ADS_2