
Lingga masih memfokuskan pandangannya ke Madhiaz yang sedang
memperbaiki mobilnya. Sesekali ia bertanya. Apa yang perlu ia butuhkan untuk
mempercepat laju kendaannya itu. Ia senang, dan sepertinya Madhiaz orang yang asyik untuk di
ajak sharing tentang tunggangannya itu dan segala ***** bengeknya. Ia bahkan membawa GTR
nya serta. Ia meminta Madhiaz untuk mengecek suspensi, kondisi rem, dan roda
serta kemudinya. Ia banyak bertanya tentang bagian-bagian itu. Hingga membuat Madhiaz sedikit
jengah menghadapi ocehan-ocehan
yang dilontarkan Lingga padanya.
Lingga menghentikan pertanyaannya saat melihat tatapan tajam Madhiaz yang seolah tengah dalam keadaan yang tidak bias
di ganggu lagi. Ia hanya bisa nyengir kuda. Sepertinya Madhiaz
mulai lelah akan dirinya yang terus bertanya ini dan itu selama Madhiaz
memperbaiki mobilnya. Ia yang sekarang hanya duduk berdiam sambil mengamati Madhiaz
mencoba mencari pengalihan kebosanan. Jujur saja ia merasa bosan.
Bagaimana tidak bosan, dirinya sama sekali tak mengerti tentang otomotif dan
ingin belajar tentang hal itu. Namun sepertinya belajar sekarang ini bukan
dalam kondisi yang tepat. Dan sepertinya hanya ponselnya
lah tujuan satu-satunya. Hei.. wajar ia bosan. Ia telah disini sejak
sepulang sekolah dan ini sudah pukul 9 malam. Cukup lama bukan?
Drttt.. drrttttt
Ponsel pintar milik Madhiaz yang ada disebelah Lingga bergetar. Diliriknya dan
terdapat nama Yellow Flash disana.
"Dhiaz. Yellow Flash memanggil." Panggilnya. Ah, tidak. Dari nadanya ia bukan sekedar memanggil. Tapi
berteriak kencang.
"Sebentar." Madhiaz meyelesaikan sentuhan
terakhirnya dan mengelap tangan penuh olinya. "Kau angkat dulu. Aku akan
kesitu sebentar lagi setelah selesai membersihkan tanganku." Lanjutnya. Lingga hanya mengangguk mendapat perintah darinya.
"Ya, Hallo.” Ucap Lingga
setelah menggeser tombol hijau.
Terdengar suara terisak diseberang. Ia bingung. Belum ada
kata-kata dari sang penelpon dan Lingga langsung men-speaker panggilan
itu."Dhiaz. Ayah.. dia... dia...." Madhiaz yang
mendengar suara itu langsung membulatkan matanya. Seketika dia berlari tanpa mempedulikan tangannya sudah bersih atau
belum dan merebut ponsel itu dari tangan Lingga hingga Lingga dibuat heran karenanya.
"Katakan Farrand. Dimana kau sekarang." Kata Madhiaz.
Lingga mengernyit heran. Apakah Farrand sicewek yang biasanya itu?Memang ada apa dengannya
hingga senior yang ia tau biasa bersikap kalem itu kini terlihat panik.
"Rumah Sakit Falen. Ruang Peoni nomor 34." Clikk.
Madhiaz mematikan ponsel begitu saja setelah mendengarnya. Ia
sudah tau maksud dari panggilan Farrand kepadanya di malam yang semakin larut
dan dengan suara yang seperti itu. Jika sudah seperti ini, ia tak bisa menunggu
lagi. Ia harus bergegas, dan sepertinya megganti baju pun benar-benar tak akan
ia lakukan. Waktunya tak akan sempat.
"Ayo Lingga. Kita bergegas." Dengan secepat kilat Lingga
diseret begitu saja oleh Madhiaz. Ia tak tau apa yang terjadi. Tapi sepertinya
sesuatu itu adalah hal yang gawat. Jika tidak, tidak mungkin Madhiaz sampai
tergopoh-gopoh seperti itu. Ia langsung meluncur begitu saja mengendarai mobil
miliknya tanpa mengganti pakaian kotor yang ia kenakan untuk membengkel. Begitu
pula Lingga.
"Apa yang terjadi, Dhiaz?" Lingga baru berani membuka suara saat mereka berada di dalam
mobil. Sebenarya sudah sedari tadi ia penasaran dengan
kondisi kejiwaan Dhiaz yang seperti tengah di kejar setan itu. Namun melihat
gurat wajah Dhiaz, ia urungkan dan menyimpan pertanyaannya hingga suasana sudah
dirasa memungkinkan untuk bertanya.
"Terjadi sesuatu dengan ayah Farrand. Dan dia sekarang
dirumah sakit." Jelas Dhiaz. Kini Lingga tau mengapa Dhiaz
begitu terburu-buru pergi setelah menerima telpon itu.
"Memangnya
ada apa? Apakah sesuatu yang gawat telah terjadi?"
"Aku tak tau. Kita akan tau lebih lengkapnya saat
disana."
Lag-lagi Lingga merasa kicep. Sepertinya
sekarang Madhiaz dalam mode serius dan tak bisa diganggu meski hanya
untuk sekedar dimintai penjelasan. Dan akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya
duduk diam lagi seperti di bengkel dan mengikuti langkah Madhiaz ketika telah sampai dirumah
sakit. Terlalu banyak yang berseliweran di pikirannya
saat ini. Namun sepertinya keinginannya untuk mengetahui semua itu harus ia
pendam dalam-dalam. Ia merasa harus diam. Toh, nanti ia akan mengetauinya
sedikit demi sedikit setelah masalah tenang.
Madhiaz yang melihat siluet Farrand langsung menghampiri gadis
yang terdiam di tempat duduk depan kamar rawat inapitu. Wajahnya terlihat lebih berantakan dari
terakhir kali ia bertemu dengannya. Sebenarnya hal ini bukan lagi hal yang
tidak wajar atau baru saja ia temui. Namun entah mengapa setiap kali melihat
keadaan Farrand seperti itu mau tak mau hatinya mencelos sakit. Bgaimanapun juga,
__ADS_1
sosok wanita yang lebih muda setahun darinya itu sudah ia anggap adik sejk
lama.
"Farrand kau tak apa?" Tanyanya.
Farrand mendongak. Wajahnya telah kusut akibat terlalu banyak
menangis. Masih terlihat lelehan air mata di kedua pipinya saat Dhiaz datang dan kini, ia mengusapnya
kasar. "Ayah... ayahku.... mereka datang lagi. Dhiaz.Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana keadaan paman?"
"Dia sudah melewati masa kritisnya. Tapi belum sadar. Dokterbilang kemungkinan beliau akan sadar
esok. Aku bingung sekarang. Masalah
yang satu belum selesai, kini muncul lagi yang lainnya. Sebenarnya apa salah
ayahku hingga diperlakukan seperti itu?"
"Percayalah paman akan baik-baik saja seperti sebelumnya.
Kau sudah tau jika paman itu kuat, bukan? Beliau pasti bisa melalui ini sama seperti yang telah lalu."
"Aku tau. Aku benar-benar tau. Tapi yang tidak kuketahui
adalah apakah aku kuat? Tidak... aku terlalu lemah saat ini. Aku tidak sekuat yang kau bayangkan, Dhiaz. Lama-lama aku terlalu lelah
menghadpi semua ini." Farrand menggeleng. Dia remat
rambut panjangnya yang telah kusut dibeberapa helai hingga rontok dan menempel di sela-sela
jemarinya.Jujur saja, Lingga merasa kasihan saat melihat wanita itu menunjukkan raut
kesedihan yang begitu mendalam seperti saat ini.
"Dimana Dion? Aku tak melihatnya. Bukankah dia mengajakmu
kencan?" Tanya Dhiaz. Lingga cengo, bagaimana bias seniornya
ini tau jika mereka berdua tengah kencan?
"Dia sudah pergi 5 menit yang lalu. Aku menyuruhnya pulang duluan. Awalnya ia bersikukuh tak mau pulang dan ingin menemaniku menunggui ayah
disini. Tapi setelah aku mengatakan kau sedang dalam
perjalanan kemari, ia menurut dan
pulang. Mungkin kalian berpapasan dijalan rumah sakit ini."
Dhiaz mengangguk pelan. Benar juga ya,
mungkin mereka berpapasan di lorong tadi. Pantas saja ia seperti melihat siluet
seseorang yang seperti ia kenal tengah berjalan dengan tergesa-gesa.
"Ehm....... Dhiaz." 2 pasang mata menoleh kearah Lingga. Farrand cengo. Sepertinya dia
tidak menyadari jika Madhiaz tak datang sendirian.
" Ada apa, Lingga? Maaf aku melupakan
kehadiranmu."
Madhiaz menggaruk tengkuknya. Ia merasa
tak enak. Ia tadi sudh seenak udelnya menarik-narik Lingga dan kini setelah
sampai disini ia mengacuhkan kehadirannya begitu saja.
"Tidak, tidak apa-apa. Sebenarnya aku hanya ingin pamit ke
toilet, Dhiaz. Badanku gatal dan aku ingin mandi. Bolehkah?"
Ucapan Farrand menghentikan gerakan bibir Madhiaz yang akan menjawab pertanyaan
Lingga. Lingga hanya mengangguk. Dan langsung melangkah kedalam ruang
rawat Arash.
Setelah Lingga menghilang, mimik wajah Farrand berubah serius.
Ia menghela nafas, mengusap sisa air matanya dan menatap Madhiaz dengan tatapan
tajam. "Ada balapan di bukit Kota Halu. Hadiahnya cukup besar. Dan aku
akan ikut." Kata Farrand. Madhiaz melotot tak percaya dengan apa yang ia
dengar itu.Ia merasa jika Farrand
sudah kehilangan akal warasnya. Hey, ia tahu jika Farrand tak begitu mahir
dalam mengemudi. Dan untuk mengizinkannya, tentu butuh nyali yang besar dan
tanggung jawab yang tak tanggung-tanggung. Bagaimana nanti jika ada apa-apa di
dalam pertandingan? Hey, ia masih ingat dengan jelas jika paman Arashnya pernah
mewanti-wanti ia agar tidak mengizinkan Farrand ikut balapan. Pamannya itu
masih mengkhawatirkan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi di arena
balap. Kalian tau, arena balap itu rena kejam yang tak bisa di prediksi
jalannya.
"Kau serius? Selama ini bahkan aku tak tau kau bisa
menyetir atau tidak."
Farrand menggeleng, ia sudah tau jika
seperti ini jawaban yang dilontarkan Dhiaz padanya."Aku
bisa. Aku sudah sering ikut ayahku dulu."
"Tapi kau sekalipun tak pernah mencobanya bukan? Kau tau, Farrand. Arena balap itu keras dan
kejam. Kau tak akan tau hal apa yang bisa terjadi disana. Kau bisa meregang
nyawa kapan saja."
"Aku akan mencobanya malam ini. Apapun
hasilnya aku harus mencoba. Jika tidak, aku tak akan tau hal apa yang akan aku
temui disana." Ujar Farrand mantap.
"Kau gila. Kau bahkan tidak tau apa yang akan kau
hadapi."
"Aku tau, Madhiaz. Tapi aku harus mendapatkan uang dengan cepat untuk
membayar pengobatan dan ruang inap ayahku. Jika tidak, mereka akan mengusir keluar ayahku dari sini. Tenggang waktunya hanya sampai besok. Bagaimana
bisa aku mendapatkan uang yang banyak dalam waktu semalam jika bukan di arena
balap malam seperti itu? Aku tak mau ayahku dikeluarkan dari sini. Aku tak mau itu terjadi. Bagaimana pun juga ayah adalah satu-satunya tempatku
bersandar. Ayah satu-satunya orang tua yang kumiliki. Kau faham
maksudku, bukan?"
__ADS_1
"Tapi tidak begini jugabukan?"
"Lalu bagaimana? Kau pun tak mungkin bisa membantuku kan?
Aku tau paman dan kau sedang kesulitan untuk biaya pengobatan penyakit ibumu. Sedang
aku juga sama sekali tak bisa
membantunya. Tolong aku Madhiaz. Beri aku izin dan percayakan malam ini
untukku." Ucapan Farrand
sangat amat benar. Madhiaz menghela nafas. Ia menyerah dan tak bisa lagi beradu argument dengan
Farrand. Jika Farrand memanggilnya dengan nama kecilnya
berarti ia sedang dalam keadaan yang serius. Ia tak bisa menghalanginya lagi.
Menghadapi kekeras kepalaan Farrand itu sama saja seperti menggigit batu karang
sampai putus. Susah. Atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Terkadang
ia bingung, sebenarnya sifat keras kepala Farrand itu turunan dari siapa?
"Baiklah. Dan aku tak mau mendengar kabar buruk nanti.
Dan jangan sampai ada yang tau. Atau aku akan dibunuh paman ketika ia
sadar nanti." Putusnya kemudian.
"Pergilah. Kuserahkan ini padamu." Lanjutnya
sambil menyerahkan beberapa kunci. Farrand hanya mengangguk sambil memegang
erat kunci pemberian Madhiaz. Kunci mobil itu, harapan satu-satunya agar ia bisa mendapatkan uang untuk biaya
pengobatan ayahnya yang kini terbaring tak sadarkan diri di dalam sana.Ia hanya bisa berdoa semoga keberuntungan ada dipihaknya malam ini.
"Aku titip ayahku. Jagakan dia." Farrand berbalik
dan langsung berlalu meninggalkan Madhiaz yang terduduk lemas. Setelah Farrand
menghilang di ujung belokan koridor, ia masuk keruang inap Arashdan duduk dikursi
pinggir pembaringan Arash.
Madhiaz mengusap wajahnya kasar. Ia tak menyangka jika dia akan turun secepat ini. Bayangan akan kemarahan Arash krena mengizinkan satu-satunya putri yang ia
miliki kini terngiang di fikirannya. Tapi sungguh, ia juga tak tau harus berbuat apa untuk
membantu sahabat dan orang yang ia
anggap adiknya itu. Ia ingin membantu, tapi
membantu dengan apa? Ah, andai saja ia memiliki uang yang banyak dan ibunya tak
terbring sakit. Tentunya ia akan mencegah gadis itu pergi. Tapi sudahlah, ia
hanya bisa berandai-andai sja sekarang.
Cklek...
Suara pintu terbuka yang berasal dari arah kamar mandi membuat Madhiaz menoleh.
Disana terlihat Lingga yang telah selesai dan menggosok-gosok rambut basahnya
dengan handuk namun masih memakai
pakaian kotornya. Lingga menatap Madhiaz heran, lalu mengedarkan
pandangannya kepenjuru ruangan karena sepertinya ia sadar akan sesuatu yang kurang di penglihatannya. Tapi apa?
Ah, ia ingat sekarang. Ia tak mendapati gadis yang bernama Farrand itu disana. Ngomong-ngomong, kemana dia sebenarnya?
"Mana sigadis berambut
panjang itu?" Tanya Lingga.
"Ia sedang keluar mencari makan. Ia mengatakan jika dirinya
lapar. Dan sekalian memintanya untuk mencarikanku makanan juga."
"Oh....... begitu ya. Eh, iya. Aku baru saja dapat pesan jika akan ada balapan dibukit Kota Halu jm 11
malam ini."
"Lalu?"
"Oh ayolah... aku ingin tau apakah salah satu dari
peliharaanku itu bisa kubawa? Kudengar hadiahnya lumayan banyak. Siapa tau saja aku beruntung dan bisa memenangkan perlombaannya. Kau tau,
aku bisa membeli perlengkapan yang yang lumayan untuk tungganganku dengan uang
itu. Bukankah kau tadi juga mengatakan jika tunggangaku butuh banyak hal lagi
untuk menyempurnakan performanya?" Lingga menanti
jawaban Madhiaz. Madhiaz yang mendengus sambil melipat tangannya didada menatap
Lingga dengan tajam. Sedang yang ditatap hanya menggaruk tengkuk sambil
terkekeh kecil.
"Bawalah GT-R. Ia lumayan bisa diandalkan untuk menuruni
bukit Kota Halu. Itupun jika kau mahir dalam menaklukkan keliaran mobil
itu."
"Aagney?Oh.. aku tak menyangka aku akan memakainya malam ini."
"Apa maksudmu dengan Aagney?"
"GT-R itu akan kunamai Aagney."
"Dan kau tak menamai mobil mustangmu itu? Pilih kasih
sekali."
"Tidak, Dhiaz. Aku sudah memberi nama Mustangku
dari dulu. Hanya saja kau tak tau itu."
"Terserah kau saja. Cepat berangkat atau kau akan
terlambat." Dhiaz benar dan
kini Lingga kelabakan dibuatnya. Jika ia tak bergegas, ia tak akan
sampai disana tepat waktu.
"Ini kunci mobilku. Bawa kebengkel dan ambil
mobilmu." Kata Madhiaz. Lingga tersenyum tipis. Dengan cepat disambarnya
kunci mobil milik Madhiaz dan langsung melesat menuju bengkel. Ia tak akan
ganti baju. Ah. Persetan dengan baju yang kotor. Yang ia butuhkan sekarang
adalah kemenangan. Bukan penampilan sempurna.
Dan Lingga, ia tak tau apa yang menantinya di bukit Kota Halu
nanti.
__ADS_1
-------TBC------