
Lingga menikmati suasana yang ada dihadapannya saat ini. Musim panas yang
cerah, angin yang sepoi-sepoi berhembus menerbangkan helai kelamnya dan juga
rambut gelap panjang milik Farrand. Ia menikmatinya, menikmati keadaan dimana
dirinya sedang tiduran dipangkuan Farrand. Wajah Farrand terlihat begitu cantik
dengan pipinya yg agak tirus dan sebuah senyuman manis yang terukir diwajahnya.
Tangan Farrand terulur, mengusap helai kelam milik Lingga yang berada
dipangkuannya. Sesekali matanya terlihat terpejam, mencoba menikmati semilir
angin dan cerahnya sinar matahari yang menyembul disela-sela dedaunan pohon
tempatnya berteduh.
"Papa." Seorang anak perempuan yang berusia sekitar 7 tahunan
menguncang pelan tangan Lingga. Lingga terperanjat, ia dengan cepat terduduk
dan menoleh kearah bocah kecil itu.
"Papa mau? Makanan buatan mama sangat enak." Ujarnya dengan nada
gembira.
"Terimakasih Luna. Papa mau tidur sebentar dulu dipangkuan mama."
Entah apa yang membuat Lingga tiba-tiba mengucapkan hal itu, ia tak tau.
Lidahnya seperti tergerak begitu saja untuk mengatakannya.
Lama ia pandangi gadis kecil disebelahnya itu. Rambut kelam sepertinya dan
iris teduh yang serupa dengan Farrand, begitu pula raut wajah yang seperti
perpaduan dirinya dan Farrand. Jika ditilik lebih dalam, bukankah gadis kecil
itu sangat sempurna menjadi putrinya? Eh, tunggu dulu. Putrinya? Benarkah itu?
"Ada apa, sayang?"
Suara Farrand yang mengalun lembut terdengar sesaat setelah Lingga terduduk
lagi. Ia pandangi wajah Farrand, wajah itu terlihat lebih dewasa sejak terakhir
kali ia ingat. Tapi, bukankah mereka memang baru saja melakukan makan malam
bersama? Ini hanya asumsi dikepalanya. Tapi Lingga merasa jika dirinya sedang
bermimpi saat ini.
"Ini mimpiku kan?" Ujarnya pelan.
"Sayang, kau tidak lupa
bukan? Jika kita berencana mengajak Luna kepantai besok siang?" Lagi!
Suara Farrand terdengar begitu lembut menyapa indra pendengarannya.
"Papa. Luna ingin belajar menyelam bersama mama ya? Luna ingin melihat
terumbu karang dan Nemo dari dekat." Ujar gadis kecil itu. Hati Lingga
menghangat, ia tak tau jika hanya dengan interaksi kecil seperti ini saja sudah
bisa membuat rasa bahagia membuncah difikirannya.
Lingga mengangguk, seperti mengiyakan begitu saja permintaan gadis kecil
yang dipanggilnya Luna tadi. Farrand terkekeh sebentar. Dan menoleh kearah Lingga
dengan memasang senyuman yang menurut Lingga itu adalah senyuman termanis yang
pernah ia lihat dari Farrand.
"Kalian adalah sumber kabahagiaan ku." Lirihnya.
.
.
.
Drtttt... drtt........
Suara getar ponsel milik Lingga yang ia letakkan disamping kepalanya mau tak
mau membuat Lingga bangun. Ia mengucek matanya pelan, dan melihat sebuah
notifikasi yang tertera dilayar datarnya itu. Seketika matanya membulat, ia
ingat sesuatu. Semalam ia berencana ikut olah raga pagi sebelum matahari terbit
bersama dengan Madhiaz, Nadeen, dan juga Farrand. Sekarang sudah jam 8:00.
Memang ini hari libur. Tapi ia sudah sangat terlambat untuk mengikutinya.
'Sial.' makinya. Mereka bertiga pasti sudah meninggalkannya saat ia
terlelap tadi.
Ia termenung dan terduduk dipinggiran ranjang yang ia tempati saat ini. Ia
edarkan pandangannya kepenjuru kamar tamu di apartment milik Farrand. Yah,
mereka sepakat untuk menginap disini dan ia tidur bersama dengan Madhiaz,
sedangkan Nadeen tidur dengan Farrand. Ia masih teringat mimpinya. Mimpi indah
yang ia harapkan untuk jadi kenyataan. Dan ia berdoa semoga kenyataan itu akan
menghampirinya jika saatnya tiba.
Cklek.,
Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok malas Madhiaz yang berjalan menuju Lingga.
Ia menguap pelan. Sepertinya keadaan Lingga yang sudah bangun tak membuatnya
terkejut sama sekali.
"Tidurmu sangat nyenyak. Jadi aku tak tega membangunkanmu dan akhirnya
kami hanya pergi bertiga saja." Ujar Madhiaz. Ia rebahkan badan yang telah
basah oleh peluh itu keranjang dengan posisi kaki menggantung dan berada
disamping Lingga. Lingga tak menjawab dengan suara. Sebagai gantinya ia hanya
menganggukkan kepalanya saja.
"Sambil jalan-jalan kami memperbincangkan banyak hal. Termasuk
dirimu."
"Aku?"
"Ya. Dan kurasa Nadeen memiliki ketertarikan padamu."
"Aku tak tau."
"Ya. Kau pasti tak tau. Karena yang ada dalam pandanganmu hanya ada Farrand
dan kau juga cukup tak peka dengan sekitarmu. Benar begitu?"
Lingga terdiam lagi. Memang benar apa yang dikatakan Madhiaz tentang
dirinya. Tentang pandangannya yang hanya kepada Farrand, ketidakpekaannya, dan
tentang ketidak tahuannya akan perasaan Nadeen.
"Aku tak tau apa yang telah kauperbuat pada Farrand. Kuperhatikan dia
saat pembicaraan kami tadi, ia seperti menghindari perbincangan tentangmu. Atau
bahkan ketika Nadeen dengan semangat menceritakanmu, dia pura-pura tak
mendengarnya."
Lingga menunduk. Ia tahu jika perbuatannya semalam pasti memberikan dampak
yang kentara untuk Farrand. Sedikit terbersit rasa bersalah dihatinya. Namun
untuk saat ini ia bingung harus bagaimana.
"Aku memang membuat kesalahan sebelum kau datang." Akunya.
"Boleh aku tau?" Madhiaz masih setia dengan posisinya yang
memandang langit-langit kamar yang ia dan Lingga tempati. Sedikitpun ia tak
ingin melihat ekspresi Lingga saat ini. Meski sebenarnya ia penasaran dengan
itu.
"Aku telah mengecup bibirnya."
"Apa?" Mata Madhiaz membola mendengar pernyataan singkat Lingga.
Ia kaget, ia benar-benar tak menyangka Lingga akan mengatakan hal itu. Saking kagetnya
ia bahkan sampai berjingkat dan mengubah posisinya menjadi terduduk.
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar refleks saat itu. Melihat Farrand
mendekatiku membuat jiwaku terguncang."
"Farrand mendekatimu?"
Lingga mengangguk lemah. "Ia mengira ada nyamuk diwajahku. Tapi
ternyata itu hanya semut." Ucapnya kemudian.
"Dan kau menciumnya begitu saja setelah itu?"
Lingga mengangguk, lagi.
"Tanpa sadar tanganku meraih tengkuknya, dan aku menciumnya begitu
saja."
"Kau tau jika Farrand akan menjaga jarak padamu setelah ini
bukan?"
"...." Lingga mengangguk.
"Dan kau juga harus tau jika kau harus mengucapkan maaf padanya agar
hubungan kalian membaik lagi."
Dan lagi, Lingga menanggapi pertanyaan Madhiaz hanya dengan anggukan kecil.
"Aku sudah mengucapkannya sesaat setelah mengecupnya."
"Itu tak akan cukup. Kau tau sendiri jika hati Farrand sekarang
masihlah belum sepenuhnya baik. Penghianatan Dion masihlah belum ia hilangkan
dari hatinya. Dan aku yakin jika dihatinya masih mencintai Dion."
"Aku tau."
"Kau tahu jika tugasmu membuat Farrand mencintaimu tak akan mudah
bukan?"
"Aku tau."
Fyuh......
Lingga menghela nafas seperti seorang kakek-kakek yang termakan usia.
Pikirannya memberat, ia tak menyangka jika hal yang ia anggap sepele bisa
berakibat sangat fatal seperti ini. Jika tau akan menjadi rumit, tentunya ia
__ADS_1
tak akan mementingkan egonya sendiri waktu itu dan menekan hasratnya untuk
tidak mengecup bibir Farrand..
"Kami berencana akan kepantai setelah ini. Kurasa kau harus
memanfaatkannya."
Raut wajah Lingga berubah cerah, ia seperti akan menemukan sesuatu yang
menarik untuk dilakukan.
"Benarkah?"
"Hn."
"Aku akan siap-siap." Lingga segera meraih tongkatnya dan bersiap
dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ah, jatuh cinta memang bisa
membalikkan mood seseorang dengan cepat sekali, ya?
"Tapi tunggu, kita kepantai naik apa? Dhi?"
"Aku sudah memikirkannya. Kau tenang saja. Aku menyuruh Nadeen mengatar
Farrand mengambil mobilmu dibengkel. Nanti aku dan Nadeen akan mengendarai
mobilku. Kau dan Farrand mengendarai mobilmu. Jangan khawatirkan Nadeen, aku
sudah punya alasan yang tepat agar dia bersamaku nanti."
"terimakasih banyak atas
bantuanmu, aku tak akan tau harus berbuat apa jika kau tak membantu hingga
sejauh ini. " Lingga tersenyum dan melanjutkan langkahnya
tadi yang sempat tertunda.
"Aku tak akan berharap lebih, namun aku mendukung pilihan paman saat
ini. Aku akan berdoa, semoga adik kecilku itu menemukan kebahagiaanya bersama Lingga."
Monolog Madhiaz. Ini memang pilihannya sendiri setelah ayah Farrand
mendeklarasikan kesetujuannya atas Lingga padanya. Maka dari itu, ia bermaksud
membantu Lingga untuk mendekati Farrand sebisanya.
.
.
.
Lingga masih terdiam dalam kecanggungannya. Sebenarnya banyak kata yang
ingin ia ucapkan pada Farrand, namun entah mengapa hal itu tersangkut begitu
saja ditenggorokannya. Sesekali ia melirik Farrand yang terdiam sambil menyetir
mobil miliknya dengan ekor matanya. Jantungnya berdegup kencang, dan sebisa
mungkin ia meredamnya.
"Kudengar dari Dhiaz, mobilmu sudah tak terselamatkan." Lingga
menghela nafas lega. Ia bersyukur untuk saat ini, bersyukur karena Farrand
telah mau berbicara kepadanya.
"Yah, aku mungkin bisa mengendarainya dengan kecepatan normal. Tapi
jika untuk balapan, kurasa hal itu mustahil."
"Benar-benar parah ya?"
"Yeah, tapi aku bersyukur aku masih hidup untuk saat ini. Setidaknya
cedera ini tak membuatku cacat permanent."
"Apakah masih sakit?"
"Sedikit. Mungkin minggu depan aku akan kontrol lagi kedokter. Jika
memungkinkan mungkin aku sudah bisa melepasnya saat kita menghadiri pameran
nanti."
Farrand melongo, ia lupa akan hal itu. Bukankah mereka berencana pergi ke
pameran mobil bersama? Dan bukankah saat itu dia sendiri yang mengajak Lingga?
"Tolong jangan katakan kau lupa, Fa." Tebak Lingga. Farrand
sedikit nyengir, ia malu untuk mengakui jika dirinya telah melupakan janji itu.
"Tidak. Aku tidak lupa. Aku hanya mengingat sesuatu hal tadi. "
elak Farrand.
Lingga tersenyum. Ia tau jika Farrand hanya mengelak dan memberi alasan saja
akan hal itu. Sudut hatinya menghangat. Ia senang Farrand telah kembali
menunjukkan keakrabannya pada Lingga meski hanya sebatas cengiran seperti tadi.
"Ano..... Fa. Aku minta maaf."
"Minta maaf?" Farrand melirik Lingga yang menunduk disampingnya
itu. Muncul sebersit rasa bersalah pada Lingga karena ia telah mendiamkan
pemuda itu cukup lama.
"Atas kejadian semalam. Tanganku reflek begitu saja."
"Tak apa-apa. Anggap saja semalam itu kau tak pernah
melakukannya."
"Kenapa? Apa yang kau harapkan dari itu?"
Lingga semakin menundukkan kepalanya dalam diam. Ia disuruh melupakan
kejadian itu begitu saja? Tentu saja ia tak akan bisa. Mengingat ia telah jatuh
hati pada gadis disampingnya.
Farrand memarkirkan mobil Lingga setelah ia merasa menemukan tempat yang
cocok untuk berhenti. Tak ia pedulikan Madhiaz yang telah melaju lebih dulu
bersama Nadeen.
"Aku tau aku bukan apa-apa bagimu. Tapi aku hanya ingin kau tau jika
aku mencintaimu. Don soal ciumanku waktu itu, aku tak akan pernah melupakannya.
Karena itu ciuman pertamaku dan kulakukan bersama orang yang kucintai. Aku tau
jika aku terlalu cepat mengatakan ini padamu, tapi aku benar-benar serius atas
ucapanku."
Mobil Lingga telah berhenti, namun tangan Farrand masih menggenggam erat
kemudi didepannya itu.
"Kau tau dengan pasti hatiku milik siapa." Ujarnya dengan nada
dingin.
"Aku tau. Tapi tak bisakah kau mengizinkanku untuk merubah hatimu?
Kalian sudah tak mungkin bersatu bukan?"
"Tapi aku masih mencintainya, Ling."
"Tak masalah. Asal kau tak menjauhiku dan mencoba menerimaku itu sudah
lebih dari cukup untukku bertahan."
Setetes air mata lolos dari dagu mungil milik Farrand. Lingga menatapnya
sendu, ia bukan penghibur yang baik. Dan ia tak tau harus bagaimana untuk
menghiburnya. Apalagi ia menyadari jika tangisan Farrand itu karena dirinya
yang mengorek luka lama Farrand.
"Kau pasti tau jika kau akan terluka karena hal ini." ucap Farrand
disela isak tangisnya.
"Aku tau. Tapi aku akan tetap bertahan pada pendirianku."
"Aku tak ingin melukai hati siapapun."
Isakan Farrand semakin menjadi-jadi. Lingga tak tau harus bagaimana
menghadapinya. Ia menghela nafas kasar dan setelah itu membuka sabuk pengamannya.
Cup..
Ia kecup lagi bibir mungil Farrand. Matanya membola. Mendapat kecupan lagi dari
Lingga membuat jantungnya merasa tak nyaman dan bergerak lebih cepat.
Lingga melepaskan kecupannya. Ia satukan dahi mereka dan tangan Lingga
mengusap pelan rambut panjang Farrand.
"Aku tak akan melepaskanmu. Dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk
merebut hatimu." Bisiknya. Setelah itu yang Lingga lakukan adalah mengecup
kembali bibir Farrand diselingi dengan lumatan kecil. Lingga terus
melakukannya, meski airmata Farrand masih mengalir dan membasahi ciuman mereka.
"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega. Tapi berjanjilah padaku
setelah itu tersenyumlah untukku." Lingga menghentikan lumatannya, dan
tangannya terulur mengusap jejak airmata Farrand yang mengalir dipipinya.
Farrand tak tau harus bagaimana lagi, hatinya terlalu kalut untuk sekedar
menjawab pernyataan Lingga. Ia bingung. Disisi lain ia ingin menerima Lingga,
namun dihatinya juga masih ada Dion. Tak mudah baginya untuk melupakan Dion dan
kenangannya begitu saja.
"Boleh aku mencoba? Setidaknya maafkan aku jika aku menyakiti
hatimu." Putusnya kemudian.
Lingga tersenyum mendengar keputusan Farrand. Ia senang. Masih ada harapan
untuknya bersama dengan Farrand. Ia berjanji. Berjanji untuk membuat Farrand
jatuh cinta padanya.
"Aku akan selalu menunggumu membuka hatimu untukku."
Farrand mengusap kasar pipinya yang masih berisi jejak basah airmatanya. Ia
menghela nafas. Lingga benar, setelah puas menangis hatinya terasa sedikit
lebih lega. Ia kini telah memantapkan hatinya untuk mencoba menerima Lingga dan
belajar mencintainya setelah ini.
"Aku juga akan belajar mencintaimu, tapi perlu kau tau jika aku tak
suka berbagi. Dan aku tak mau kau dekat dengan wanita lain selain aku."
__ADS_1
Lingga mengangguk mendengar ucapan Farrand. Tak masalah. Ia akan selalu
menempel pada Farrand agar Farrand hanya bisa melihat dirinya saja.
.
.
.
Nadeen mendengus kasar melihat Lingga dan Farrand yang berjalan kearahnya
dan Madhiaz dengan sesungging senyuman merekah diwajah mereka berdua. Madhiaz
yang melihatnya mendesah lega, ia bersyukur karena Lingga berhasil memanfaatkan
kesempatan yang ia berikan padanya.
Nadeen mendengus melihat tubuh sintal Farrand. Ia iri. Tubuh Farrand
terlihat sempurna dengan bikini sexy nya meski bagian bawahnya ia tutupi dengan
kain sarung sebatas lututnya. Namun begitu melirik kearah Lingga, matanya
berbinar. Ia tak menyangka jika tubuh Lingga juga tak kalah mulus. Meski otot Lingga
tak terbentuk sempurna seperti binaraga, ia tetap takjub melihatnya. Apalagi otot
perutnya yang…. Oh, ia jadi membandingkan otot perut Lingga dengan artis k-pop
bernama asli jong…. Jong… ah,,, siapa pula itu.
"Suresh!!" Madhiaz berteriak saat matanya melihat siluet wanita
berambut pirang dikuncir dua sedang berjalan santai dibibir pantai. Melihat hal
itu Farrand menyeringai senang. Ia tau siapa wanita itu.
Bruk..
Madhiaz terjerembap dan jatuh menghantam pasir dihadapannya saat Farrand
mendorongnya dengan kuat. Ia tertawa puas melihat Madhiaz kehilangan
kharismanya dihadapan Suresh, wanita yang disukai Madhiaz.
"Rasakan." Desis Farrand.
"Aku tak tau sebegitu dendamnya kah kau padaku hingga kau tega
membuatku malu seperti ini di depan gebetanku, Rand."
"Itu balasan perbuatanmu tadi."
"Hei. Seharusnya kau berterimakasih padaku. Bukan malah mencelakaiku
seperti ini."
"Ups... terimakasih, Dhiaz yang ganteng tanpa tandingan." Madhiaz
berdecak kesal mendengar nada bicara Farrand yang terkesan dibuat-buat itu.
Suresh menghampiri Madhiaz dan mengusap pelan dahinya yang masih terdapat
beberapa butir pasir pantai. Dibelakangnya ada adik-adiknya, Dion dan Denny
yang berdiri menjulang sambil bersedekap dada.
"Long time no see, Farrand." Sapa Denny. Farrand
mengangguk pelan dan matanya beralih ke arah Dion yang berdiri terdiam
memandangnya.
"Senang bertemu dengan kalian semua, para penerus Birawa." Lingga
merangkul pundak Farrand dan tersenyum mengejek kearah Dion yang memandangnya
dengan tatapan menyelidik. Ia merasa menang. Menang dari seorang Dion Birawa
karena Farrand diam saja atas aksinya itu.
Sedangkan Dion, giginya gemeretuk pelan melihat kemesraan keduanya. Tapi ia
juga tak memungkiri jika ia merasa senang atasnya karena Farrand sudah terlihat
lebih hidup dari terakhir kali ia lihat. Biarlah, jika memang Lingga bisa
memberikan kebahagiaan untuk Farrand, ia akan merelakannya. Lagipula ia sudah
merelakan jika hubungan keduanya tak akan mendapat restu ayahnya sampai kapan pun juga.
"Farrand, kau tak berenang?" Nadeen berhasil mengusik ketegangan
di antara mereka, terbukti, semua atensi mata kini tertuju padanya.
"Aku akan berjalan-jalan sebentar. Jika kau ingin berenang,
berenanglah." Putus Farrand kemudian.
Mata Dion menyipit tajam. Ia tau alasan sebenarnya Farrand tidak mau
berenang. Karena setaunya, Farrand mengidap Thalassofobia*. Dan ia yakin
jika saat ini Farrand tengah menyembunyikan kegugupannya. Tak mungkin jika
Farrand mengakui secara terang-terangan jika ia benci laut, bukan?
Thalassofobia adalah sebuah
ketakutan yang sangat kuat dan terus-menerus akan laut. Mudahnya, mereka yang
mengidap Thalassofobia akan sangat ngeri berada di laut atau samudera karena
pikiran-pikiran mereka menimbulkan hal-hal mengerikan hingga mengancam nyawa.
"Aku ikut." Ucap Dion.
"Tidak. Aku yang akan menemaninya." Potong Lingga. Farrand
mendesah, ia harus memutuskan sesuatu atau beberapa hal akan terjadi di antara
mereka.
"Biar Lingga yang menemaniku, Dion. Kau tak usah repot-repot
menemaniku." Putus Farrand kemudian.
Sesungging senyuman terukir dibibir Lingga, ia merasa menang lagi. Entahlah,
ia seperti merasa Farrand telah sedikit membukakan hati untuknya.
"Ayo, Lingga." Ucap Farrand. Ia merangkul lengan tangan kanan Lingga
dan menyeret pemuda itu begitu saja tanpa menoleh kearah Dion.
Grep...
"Aku ikut." Cekalan Dion pada tangan Farrand membuatnya menghentikan
langkahnya. Ia menoleh, dan menatap sendu pada Dion.
"Jangan mempersulitku, Dion." Lirihnya.
Dion melepaskan tangannya dan menunduk. Suresh, Madhiaz, Nadeen dan Denny
telah meninggalkan mereka dan pergi berenang, jadi keadaan mereka sudah tidak
ada yang menonton.
Setelahnya Farrand pergi bersama Lingga tanpa Dion. Hati Dion mencelos
sakit, namun ia masih cukup tau diri untuk tidak mengejar wanita yang pernah
mengisi hari-harinya itu. Biarlah sudah ia pergi, setidaknya ia bisa sedikit
tenang sekarang karena Farrand sudah memiliki penjaga lainnya.
***
Farrand terduduk dibatang kayu tumbang dibibir pantai yang sepi bersama Lingga.
Ia tadi telah berjalan lumayan jauh berdua dan menemukan tempat ini. Dan kini,
suasana hening masih menyelimuti mereka berdua karena dari salah satunya tak
ada yang berani mengambil percakapan.
"Akan kupinjamkan bahuku jika kau membutuhkannya." Ucapan dari Lingga
membuat Farrand menoleh padanya. Ia semakin merasa bersalah pada Lingga karena
membuatnya menjadi pelarian cintanya.
"Maafkan aku karena menyeretmu hingga sejauh ini."
"Kau salah, aku sendirilah yang telah memilih untuk masuk kedalam
hidupmu dan berusaha mengikutimu."
"Dan lagi-lagi aku menyakitimu, Lingga."
"Sejujurnya aku lebih menyukai kau memanggilku Ling saja. Seperti saat
itu."
"Bolehkah?"
"Tentu saja, Fa. Dan kurasa itu adalah panggilan spesial kita."
Farrand terkekeh, panggilan spesial katanya? Panggilan spesial apanya?
Buaknkah panggilan itu seperti hanya mengambil panggilan yang paling singkat
saja dari namanya?
"Seperti aku ingin saja kau panggil seperti itu." Lirihnya.
"Mau tak mau kau harus mau."
"Pemaksaan, huh?"
"Jika dengan memaksa bisa membuatku bersamamu, maka akan kulakukan
sampai kau jatuh kepelukanku."
"Kalau begitu berdirilah."
"Huh?" Lingga mengernyit heran, berdiri katanya? Tapi meskipun ia
bingung, ia tetap berdiri mengikuti perintah Farrand.
Bruukk.
Farrand langsung menubrukkan dirinya kedada bidang milik Lingga. Untunglah tak
terlalu keras. Jika keras, sudah pasti ia akan oleng dan bahkan mungkin
terjatuh akibat kondisi kakinya yang belum sembuh sepenuhnya. Tangan Lingga
terulur, mengusap lembut helaian panjang milik Farrand dan mengecup puncak
kepalanya. Tinggi badan Farrand yang hanya sebatas dagunya memudahkannya untuk
melakukan itu.
"Aku berjanji akan selalu berusaha untuk tidak menyakitimu lebih dalam.
Jadi tolong bantu aku untuk belajar mencintaimu." Lirih Farrand.
"Aku tau ini ini terdengar naif. Tapi maukah kau memelukku lebih lama
lagi?" Farrand mengangguk lemah. Lingga mengeratkan pelukannya, dan
setitik airmata turun lagi dipipi mulus milik Farrand. Dan hal itu tentu tanpa
disadari Lingga.
"Izinkan aku belajar mencintaimu, Ling." Bisiknya.
__ADS_1
Tbc