Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 18


__ADS_3

Lingga menikmati suasana yang ada dihadapannya saat ini. Musim panas yang


cerah, angin yang sepoi-sepoi berhembus menerbangkan helai kelamnya dan juga


rambut gelap panjang milik Farrand. Ia menikmatinya, menikmati keadaan dimana


dirinya sedang tiduran dipangkuan Farrand. Wajah Farrand terlihat begitu cantik


dengan pipinya yg agak tirus dan sebuah senyuman manis yang terukir diwajahnya.


Tangan Farrand terulur, mengusap helai kelam milik Lingga yang berada


dipangkuannya. Sesekali matanya terlihat terpejam, mencoba menikmati semilir


angin dan cerahnya sinar matahari yang menyembul disela-sela dedaunan pohon


tempatnya berteduh.


"Papa." Seorang anak perempuan yang berusia sekitar 7 tahunan


menguncang pelan tangan Lingga. Lingga terperanjat, ia dengan cepat terduduk


dan menoleh kearah bocah kecil itu.


"Papa mau? Makanan buatan mama sangat enak." Ujarnya dengan nada


gembira.


"Terimakasih Luna. Papa mau tidur sebentar dulu dipangkuan mama."


Entah apa yang membuat Lingga tiba-tiba mengucapkan hal itu, ia tak tau.


Lidahnya seperti tergerak begitu saja untuk mengatakannya.


Lama ia pandangi gadis kecil disebelahnya itu. Rambut kelam sepertinya dan


iris teduh yang serupa dengan Farrand, begitu pula raut wajah yang seperti


perpaduan dirinya dan Farrand. Jika ditilik lebih dalam, bukankah gadis kecil


itu sangat sempurna menjadi putrinya? Eh, tunggu dulu. Putrinya? Benarkah itu?


"Ada apa, sayang?"


Suara Farrand yang mengalun lembut terdengar sesaat setelah Lingga terduduk


lagi. Ia pandangi wajah Farrand, wajah itu terlihat lebih dewasa sejak terakhir


kali ia ingat. Tapi, bukankah mereka memang baru saja melakukan makan malam


bersama? Ini hanya asumsi dikepalanya. Tapi Lingga merasa jika dirinya sedang


bermimpi saat ini.


"Ini mimpiku kan?" Ujarnya pelan.


"Sayang, kau tidak lupa


bukan? Jika kita berencana mengajak Luna kepantai besok siang?" Lagi!


Suara Farrand terdengar begitu lembut menyapa indra pendengarannya.


"Papa. Luna ingin belajar menyelam bersama mama ya? Luna ingin melihat


terumbu karang dan Nemo dari dekat." Ujar gadis kecil itu. Hati Lingga


menghangat, ia tak tau jika hanya dengan interaksi kecil seperti ini saja sudah


bisa membuat rasa bahagia membuncah difikirannya.


Lingga mengangguk, seperti mengiyakan begitu saja permintaan gadis kecil


yang dipanggilnya Luna tadi. Farrand terkekeh sebentar. Dan menoleh kearah Lingga


dengan memasang senyuman yang menurut Lingga itu adalah senyuman termanis yang


pernah ia lihat dari Farrand.


"Kalian adalah sumber kabahagiaan ku." Lirihnya.


.


.


.


Drtttt... drtt........


Suara getar ponsel milik Lingga yang ia letakkan disamping kepalanya mau tak


mau membuat Lingga bangun. Ia mengucek matanya pelan, dan melihat sebuah


notifikasi yang tertera dilayar datarnya itu. Seketika matanya membulat, ia


ingat sesuatu. Semalam ia berencana ikut olah raga pagi sebelum matahari terbit


bersama dengan Madhiaz, Nadeen, dan juga Farrand. Sekarang sudah jam 8:00.


Memang ini hari libur. Tapi ia sudah sangat terlambat untuk mengikutinya.


'Sial.' makinya. Mereka bertiga pasti sudah meninggalkannya saat ia


terlelap tadi.


Ia termenung dan terduduk dipinggiran ranjang yang ia tempati saat ini. Ia


edarkan pandangannya kepenjuru kamar tamu di apartment milik Farrand. Yah,


mereka sepakat untuk menginap disini dan ia tidur bersama dengan Madhiaz,


sedangkan Nadeen tidur dengan Farrand. Ia masih teringat mimpinya. Mimpi indah


yang ia harapkan untuk jadi kenyataan. Dan ia berdoa semoga kenyataan itu akan


menghampirinya jika saatnya tiba.


Cklek.,


Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok malas Madhiaz yang berjalan menuju Lingga.


Ia menguap pelan. Sepertinya keadaan Lingga yang sudah bangun tak membuatnya


terkejut sama sekali.


"Tidurmu sangat nyenyak. Jadi aku tak tega membangunkanmu dan akhirnya


kami hanya pergi bertiga saja." Ujar Madhiaz. Ia rebahkan badan yang telah


basah oleh peluh itu keranjang dengan posisi kaki menggantung dan berada


disamping Lingga. Lingga tak menjawab dengan suara. Sebagai gantinya ia hanya


menganggukkan kepalanya saja.


"Sambil jalan-jalan kami memperbincangkan banyak hal. Termasuk


dirimu."


"Aku?"


"Ya. Dan kurasa Nadeen memiliki ketertarikan padamu."


"Aku tak tau."


"Ya. Kau pasti tak tau. Karena yang ada dalam pandanganmu hanya ada Farrand


dan kau juga cukup tak peka dengan sekitarmu. Benar begitu?"


Lingga terdiam lagi. Memang benar apa yang dikatakan Madhiaz tentang


dirinya. Tentang pandangannya yang hanya kepada Farrand, ketidakpekaannya, dan


tentang ketidak tahuannya akan perasaan Nadeen.


"Aku tak tau apa yang telah kauperbuat pada Farrand. Kuperhatikan dia


saat pembicaraan kami tadi, ia seperti menghindari perbincangan tentangmu. Atau


bahkan ketika Nadeen dengan semangat menceritakanmu, dia pura-pura tak


mendengarnya."


Lingga menunduk. Ia tahu jika perbuatannya semalam pasti memberikan dampak


yang kentara untuk Farrand. Sedikit terbersit rasa bersalah dihatinya. Namun


untuk saat ini ia bingung harus bagaimana.


"Aku memang membuat kesalahan sebelum kau datang." Akunya.


"Boleh aku tau?" Madhiaz masih setia dengan posisinya yang


memandang langit-langit kamar yang ia dan Lingga tempati. Sedikitpun ia tak


ingin melihat ekspresi Lingga saat ini. Meski sebenarnya ia penasaran dengan


itu.


"Aku telah mengecup bibirnya."


"Apa?" Mata Madhiaz membola mendengar pernyataan singkat Lingga.


Ia kaget, ia benar-benar tak menyangka Lingga akan mengatakan hal itu. Saking kagetnya


ia bahkan sampai berjingkat dan mengubah posisinya menjadi terduduk.


"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar refleks saat itu. Melihat Farrand


mendekatiku membuat jiwaku terguncang."


"Farrand mendekatimu?"


Lingga mengangguk lemah. "Ia mengira ada nyamuk diwajahku. Tapi


ternyata itu hanya semut." Ucapnya kemudian.


"Dan kau menciumnya begitu saja setelah itu?"


Lingga mengangguk, lagi.


"Tanpa sadar tanganku meraih tengkuknya, dan aku menciumnya begitu


saja."


"Kau tau jika Farrand akan menjaga jarak padamu setelah ini


bukan?"


"...." Lingga mengangguk.


"Dan kau juga harus tau jika kau harus mengucapkan maaf padanya agar


hubungan kalian membaik lagi."


Dan lagi, Lingga menanggapi pertanyaan Madhiaz hanya dengan anggukan kecil.


"Aku sudah mengucapkannya sesaat setelah mengecupnya."


"Itu tak akan cukup. Kau tau sendiri jika hati Farrand sekarang


masihlah belum sepenuhnya baik. Penghianatan Dion masihlah belum ia hilangkan


dari hatinya. Dan aku yakin jika dihatinya masih mencintai Dion."


"Aku tau."


"Kau tahu jika tugasmu membuat Farrand mencintaimu tak akan mudah


bukan?"


"Aku tau."


Fyuh......


Lingga menghela nafas seperti seorang kakek-kakek yang termakan usia.


Pikirannya memberat, ia tak menyangka jika hal yang ia anggap sepele bisa


berakibat sangat fatal seperti ini. Jika tau akan menjadi rumit, tentunya ia

__ADS_1


tak akan mementingkan egonya sendiri waktu itu dan menekan hasratnya untuk


tidak mengecup bibir Farrand..


"Kami berencana akan kepantai setelah ini. Kurasa kau harus


memanfaatkannya."


Raut wajah Lingga berubah cerah, ia seperti akan menemukan sesuatu yang


menarik untuk dilakukan.


"Benarkah?"


"Hn."


"Aku akan siap-siap." Lingga segera meraih tongkatnya dan bersiap


dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ah, jatuh cinta memang bisa


membalikkan mood seseorang dengan cepat sekali, ya?


"Tapi tunggu, kita kepantai naik apa? Dhi?"


"Aku sudah memikirkannya. Kau tenang saja. Aku menyuruh Nadeen mengatar


Farrand mengambil mobilmu dibengkel. Nanti aku dan Nadeen akan mengendarai


mobilku. Kau dan Farrand mengendarai mobilmu. Jangan khawatirkan Nadeen, aku


sudah punya alasan yang tepat agar dia bersamaku nanti."


"terimakasih banyak atas


bantuanmu, aku tak akan tau harus berbuat apa jika kau tak membantu hingga


sejauh ini. " Lingga tersenyum dan melanjutkan langkahnya


tadi yang sempat tertunda.


"Aku tak akan berharap lebih, namun aku mendukung pilihan paman saat


ini. Aku akan berdoa, semoga adik kecilku itu menemukan kebahagiaanya bersama Lingga."


Monolog Madhiaz. Ini memang pilihannya sendiri setelah ayah Farrand


mendeklarasikan kesetujuannya atas Lingga padanya. Maka dari itu, ia bermaksud


membantu Lingga untuk mendekati Farrand sebisanya.


.


.


.


Lingga masih terdiam dalam kecanggungannya. Sebenarnya banyak kata yang


ingin ia ucapkan pada Farrand, namun entah mengapa hal itu tersangkut begitu


saja ditenggorokannya. Sesekali ia melirik Farrand yang terdiam sambil menyetir


mobil miliknya dengan ekor matanya. Jantungnya berdegup kencang, dan sebisa


mungkin ia meredamnya.


"Kudengar dari Dhiaz, mobilmu sudah tak terselamatkan." Lingga


menghela nafas lega. Ia bersyukur untuk saat ini, bersyukur karena Farrand


telah mau berbicara kepadanya.


"Yah, aku mungkin bisa mengendarainya dengan kecepatan normal. Tapi


jika untuk balapan, kurasa hal itu mustahil."


"Benar-benar parah ya?"


"Yeah, tapi aku bersyukur aku masih hidup untuk saat ini. Setidaknya


cedera ini tak membuatku cacat permanent."


"Apakah masih sakit?"


"Sedikit. Mungkin minggu depan aku akan kontrol lagi kedokter. Jika


memungkinkan mungkin aku sudah bisa melepasnya saat kita menghadiri pameran


nanti."


Farrand melongo, ia lupa akan hal itu. Bukankah mereka berencana pergi ke


pameran mobil bersama? Dan bukankah saat itu dia sendiri yang mengajak Lingga?


"Tolong jangan katakan kau lupa, Fa." Tebak Lingga. Farrand


sedikit nyengir, ia malu untuk mengakui jika dirinya telah melupakan janji itu.


"Tidak. Aku tidak lupa. Aku hanya mengingat sesuatu hal tadi. "


elak Farrand.


Lingga tersenyum. Ia tau jika Farrand hanya mengelak dan memberi alasan saja


akan hal itu. Sudut hatinya menghangat. Ia senang Farrand telah kembali


menunjukkan keakrabannya pada Lingga meski hanya sebatas cengiran seperti tadi.


"Ano..... Fa. Aku minta maaf."


"Minta maaf?" Farrand melirik Lingga yang menunduk disampingnya


itu. Muncul sebersit rasa bersalah pada Lingga karena ia telah mendiamkan


pemuda itu cukup lama.


"Atas kejadian semalam. Tanganku reflek begitu saja."


"Tak apa-apa. Anggap saja semalam itu kau tak pernah


melakukannya."


"Kenapa? Apa yang kau harapkan dari itu?"


Lingga semakin menundukkan kepalanya dalam diam. Ia disuruh melupakan


kejadian itu begitu saja? Tentu saja ia tak akan bisa. Mengingat ia telah jatuh


hati pada gadis disampingnya.


Farrand memarkirkan mobil Lingga setelah ia merasa menemukan tempat yang


cocok untuk berhenti. Tak ia pedulikan Madhiaz yang telah melaju lebih dulu


bersama Nadeen.


"Aku tau aku bukan apa-apa bagimu. Tapi aku hanya ingin kau tau jika


aku mencintaimu. Don soal ciumanku waktu itu, aku tak akan pernah melupakannya.


Karena itu ciuman pertamaku dan kulakukan bersama orang yang kucintai. Aku tau


jika aku terlalu cepat mengatakan ini padamu, tapi aku benar-benar serius atas


ucapanku."


Mobil Lingga telah berhenti, namun tangan Farrand masih menggenggam erat


kemudi didepannya itu.


"Kau tau dengan pasti hatiku milik siapa." Ujarnya dengan nada


dingin.


"Aku tau. Tapi tak bisakah kau mengizinkanku untuk merubah hatimu?


Kalian sudah tak mungkin bersatu bukan?"


"Tapi aku masih mencintainya, Ling."


"Tak masalah. Asal kau tak menjauhiku dan mencoba menerimaku itu sudah


lebih dari cukup untukku bertahan."


Setetes air mata lolos dari dagu mungil milik Farrand. Lingga menatapnya


sendu, ia bukan penghibur yang baik. Dan ia tak tau harus bagaimana untuk


menghiburnya. Apalagi ia menyadari jika tangisan Farrand itu karena dirinya


yang mengorek luka lama Farrand.


"Kau pasti tau jika kau akan terluka karena hal ini." ucap Farrand


disela isak tangisnya.


"Aku tau. Tapi aku akan tetap bertahan pada pendirianku."


"Aku tak ingin melukai hati siapapun."


Isakan Farrand semakin menjadi-jadi. Lingga tak tau harus bagaimana


menghadapinya. Ia menghela nafas kasar dan setelah itu membuka sabuk pengamannya.


Cup..


Ia kecup lagi bibir mungil Farrand. Matanya membola. Mendapat kecupan lagi dari


Lingga membuat jantungnya merasa tak nyaman dan bergerak lebih cepat.


Lingga melepaskan kecupannya. Ia satukan dahi mereka dan tangan Lingga


mengusap pelan rambut panjang Farrand.


"Aku tak akan melepaskanmu. Dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk


merebut hatimu." Bisiknya. Setelah itu yang Lingga lakukan adalah mengecup


kembali bibir Farrand diselingi dengan lumatan kecil. Lingga terus


melakukannya, meski airmata Farrand masih mengalir dan membasahi ciuman mereka.


"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega. Tapi berjanjilah padaku


setelah itu tersenyumlah untukku." Lingga menghentikan lumatannya, dan


tangannya terulur mengusap jejak airmata Farrand yang mengalir dipipinya.


Farrand tak tau harus bagaimana lagi, hatinya terlalu kalut untuk sekedar


menjawab pernyataan Lingga. Ia bingung. Disisi lain ia ingin menerima Lingga,


namun dihatinya juga masih ada Dion. Tak mudah baginya untuk melupakan Dion dan


kenangannya begitu saja.


"Boleh aku mencoba? Setidaknya maafkan aku jika aku menyakiti


hatimu." Putusnya kemudian.


Lingga tersenyum mendengar keputusan Farrand. Ia senang. Masih ada harapan


untuknya bersama dengan Farrand. Ia berjanji. Berjanji untuk membuat Farrand


jatuh cinta padanya.


"Aku akan selalu menunggumu membuka hatimu untukku."


Farrand mengusap kasar pipinya yang masih berisi jejak basah airmatanya. Ia


menghela nafas. Lingga benar, setelah puas menangis hatinya terasa sedikit


lebih lega. Ia kini telah memantapkan hatinya untuk mencoba menerima Lingga dan


belajar mencintainya setelah ini.


"Aku juga akan belajar mencintaimu, tapi perlu kau tau jika aku tak


suka berbagi. Dan aku tak mau kau dekat dengan wanita lain selain aku."

__ADS_1


Lingga mengangguk mendengar ucapan Farrand. Tak masalah. Ia akan selalu


menempel pada Farrand agar Farrand hanya bisa melihat dirinya saja.


.


.


.


Nadeen mendengus kasar melihat Lingga dan Farrand yang berjalan kearahnya


dan Madhiaz dengan sesungging senyuman merekah diwajah mereka berdua. Madhiaz


yang melihatnya mendesah lega, ia bersyukur karena Lingga berhasil memanfaatkan


kesempatan yang ia berikan padanya.


Nadeen mendengus melihat tubuh sintal Farrand. Ia iri. Tubuh Farrand


terlihat sempurna dengan bikini sexy nya meski bagian bawahnya ia tutupi dengan


kain sarung sebatas lututnya. Namun begitu melirik kearah Lingga, matanya


berbinar. Ia tak menyangka jika tubuh Lingga juga tak kalah mulus. Meski otot Lingga


tak terbentuk sempurna seperti binaraga, ia tetap takjub melihatnya. Apalagi otot


perutnya yang…. Oh, ia jadi membandingkan otot perut Lingga dengan artis k-pop


bernama asli jong…. Jong… ah,,, siapa pula itu.


"Suresh!!" Madhiaz berteriak saat matanya melihat siluet wanita


berambut pirang dikuncir dua sedang berjalan santai dibibir pantai. Melihat hal


itu Farrand menyeringai senang. Ia tau siapa wanita itu.


Bruk..


Madhiaz terjerembap dan jatuh menghantam pasir dihadapannya saat Farrand


mendorongnya dengan kuat. Ia tertawa puas melihat Madhiaz kehilangan


kharismanya dihadapan Suresh, wanita yang disukai Madhiaz.


"Rasakan." Desis Farrand.


"Aku tak tau sebegitu dendamnya kah kau padaku hingga kau tega


membuatku malu seperti ini di depan gebetanku, Rand."


"Itu balasan perbuatanmu tadi."


"Hei. Seharusnya kau berterimakasih padaku. Bukan malah mencelakaiku


seperti ini."


"Ups... terimakasih, Dhiaz yang ganteng tanpa tandingan." Madhiaz


berdecak kesal mendengar nada bicara Farrand yang terkesan dibuat-buat itu.


Suresh menghampiri Madhiaz dan mengusap pelan dahinya yang masih terdapat


beberapa butir pasir pantai. Dibelakangnya ada adik-adiknya, Dion dan Denny


yang berdiri menjulang sambil bersedekap dada.


"Long time no see, Farrand." Sapa Denny. Farrand


mengangguk pelan dan matanya beralih ke arah Dion yang berdiri terdiam


memandangnya.


"Senang bertemu dengan kalian semua, para penerus Birawa." Lingga


merangkul pundak Farrand dan tersenyum mengejek kearah Dion yang memandangnya


dengan tatapan menyelidik. Ia merasa menang. Menang dari seorang Dion Birawa


karena Farrand diam saja atas aksinya itu.


Sedangkan Dion, giginya gemeretuk pelan melihat kemesraan keduanya. Tapi ia


juga tak memungkiri jika ia merasa senang atasnya karena Farrand sudah terlihat


lebih hidup dari terakhir kali ia lihat. Biarlah, jika memang Lingga bisa


memberikan kebahagiaan untuk Farrand, ia akan merelakannya. Lagipula ia sudah


merelakan jika hubungan keduanya tak akan mendapat restu ayahnya sampai kapan pun  juga.


"Farrand, kau tak berenang?" Nadeen berhasil mengusik ketegangan


di antara mereka, terbukti, semua atensi mata kini tertuju padanya.


"Aku akan berjalan-jalan sebentar. Jika kau ingin berenang,


berenanglah." Putus Farrand kemudian.


Mata Dion menyipit tajam. Ia tau alasan sebenarnya Farrand tidak mau


berenang. Karena setaunya, Farrand mengidap Thalassofobia*. Dan ia yakin


jika saat ini Farrand tengah menyembunyikan kegugupannya. Tak mungkin jika


Farrand mengakui secara terang-terangan jika ia benci laut, bukan?


Thalassofobia adalah sebuah


ketakutan yang sangat kuat dan terus-menerus akan laut. Mudahnya, mereka yang


mengidap Thalassofobia akan sangat ngeri berada di laut atau samudera karena


pikiran-pikiran mereka menimbulkan hal-hal mengerikan hingga mengancam nyawa.


"Aku ikut." Ucap Dion.


"Tidak. Aku yang akan menemaninya." Potong Lingga. Farrand


mendesah, ia harus memutuskan sesuatu atau beberapa hal akan terjadi di antara


mereka.


"Biar Lingga yang menemaniku, Dion. Kau tak usah repot-repot


menemaniku." Putus Farrand kemudian.


Sesungging senyuman terukir dibibir Lingga, ia merasa menang lagi. Entahlah,


ia seperti merasa Farrand telah sedikit membukakan hati untuknya.


"Ayo, Lingga." Ucap Farrand. Ia merangkul lengan tangan kanan Lingga


dan menyeret pemuda itu begitu saja tanpa menoleh kearah Dion.


Grep...


"Aku ikut." Cekalan Dion pada tangan Farrand membuatnya menghentikan


langkahnya. Ia menoleh, dan menatap sendu pada Dion.


"Jangan mempersulitku, Dion." Lirihnya.


Dion melepaskan tangannya dan menunduk. Suresh, Madhiaz, Nadeen dan Denny


telah meninggalkan mereka dan pergi berenang, jadi keadaan mereka sudah tidak


ada yang menonton.


Setelahnya Farrand pergi bersama Lingga tanpa Dion. Hati Dion mencelos


sakit, namun ia masih cukup tau diri untuk tidak mengejar wanita yang pernah


mengisi hari-harinya itu. Biarlah sudah ia pergi, setidaknya ia bisa sedikit


tenang sekarang karena Farrand sudah memiliki penjaga lainnya.


***


Farrand terduduk dibatang kayu tumbang dibibir pantai yang sepi bersama Lingga.


Ia tadi telah berjalan lumayan jauh berdua dan menemukan tempat ini. Dan kini,


suasana hening masih menyelimuti mereka berdua karena dari salah satunya tak


ada yang berani mengambil percakapan.


"Akan kupinjamkan bahuku jika kau membutuhkannya." Ucapan dari Lingga


membuat Farrand menoleh padanya. Ia semakin merasa bersalah pada Lingga karena


membuatnya menjadi pelarian cintanya.


"Maafkan aku karena menyeretmu hingga sejauh ini."


"Kau salah, aku sendirilah yang telah memilih untuk masuk kedalam


hidupmu dan berusaha mengikutimu."


"Dan lagi-lagi aku menyakitimu, Lingga."


"Sejujurnya aku lebih menyukai kau memanggilku Ling saja. Seperti saat


itu."


"Bolehkah?"


"Tentu saja, Fa. Dan kurasa itu adalah panggilan spesial kita."


Farrand terkekeh, panggilan spesial katanya? Panggilan spesial apanya?


Buaknkah panggilan itu seperti hanya mengambil panggilan yang paling singkat


saja dari namanya?


"Seperti aku ingin saja kau panggil seperti itu." Lirihnya.


"Mau tak mau kau harus mau."


"Pemaksaan, huh?"


"Jika dengan memaksa bisa membuatku bersamamu, maka akan kulakukan


sampai kau jatuh kepelukanku."


"Kalau begitu berdirilah."


"Huh?" Lingga mengernyit heran, berdiri katanya? Tapi meskipun ia


bingung, ia tetap berdiri mengikuti perintah Farrand.


Bruukk.


Farrand langsung menubrukkan dirinya kedada bidang milik Lingga. Untunglah tak


terlalu keras. Jika keras, sudah pasti ia akan oleng dan bahkan mungkin


terjatuh akibat kondisi kakinya yang belum sembuh sepenuhnya. Tangan Lingga


terulur, mengusap lembut helaian panjang milik Farrand dan mengecup puncak


kepalanya. Tinggi badan Farrand yang hanya sebatas dagunya memudahkannya untuk


melakukan itu.


"Aku berjanji akan selalu berusaha untuk tidak menyakitimu lebih dalam.


Jadi tolong bantu aku untuk belajar mencintaimu." Lirih Farrand.


"Aku tau ini ini terdengar naif. Tapi maukah kau memelukku lebih lama


lagi?" Farrand mengangguk lemah. Lingga mengeratkan pelukannya, dan


setitik airmata turun lagi dipipi mulus milik Farrand. Dan hal itu tentu tanpa


disadari Lingga.


"Izinkan aku belajar mencintaimu, Ling." Bisiknya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2