Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 41


__ADS_3

Musim semi.


Musim yang paling Farrand sukai dari segala jenis musim yang ia lalui. Musim semi adalah musim yang membawa warna serta kehangatan setelah musim dingin berakhir. Di musim itu juga ia bisa menikmati segala warna dari bunga-bunga yang merekah indah. Dan setidaknya ia juga tak mengkhawatirkan tentang rasa dingin yang akan mengganggunya.


Waktu sudah berlalu hampir satu bulan lamanya setelah kejadian itu. Kejadian dimana ia memenangkan balapannya atas Ava dan juga kejadian setelahnya. Ava sudah tak banyak bicara padanya seperti sebelum ia mengalahkannya, dan hubungannya dengan Lingga juga baik-baik saja meski ia merasa jika Lingga tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Tak hanya itu, Nadeen juga sudah kembali pada aktivitasnya yang semula. Malam itu Nadeen datang kerumahnya untuk menceritakan tentang perubahan hidupnya yang drastis. Nadeen yang tak menyangka akan perceraian orang tuanya hanya bisa menangis dan berlari tak tentu arah. Semua ia tinggalkan, dan hal itu cukup memberi jawaban pada Farrand mengapa ia tak bisa dihubungi sama sekali. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan Abel, dan selama itu pula Abel yang selalu menenangkannya. Abel pula yang mengizinkan Nadeen memakai apartmentnya dan ia memilih menginap di apartment milik temannya yang berada di sampingnya. Tak hanya itu, Abel juga menanggung biaya hidupnya selama Nadeen ada di apartmentnya dan mengantarkannya kerumah Farrand. Dan setelah hari itu, ia merasa jika hubungan antara Abel dan Nadeen semakin dekat. Mereka sering terpergok jalan bersama, dan mereka selalu menyangkal jika mereka tak memiliki hubungan apa-apa saat ditanya tentang hal itu.


Fyuhhhh....


Jika di pikir lagi, Farrand merasa jika hidupnya selama sebulan ini terasa begitu kompleks. Ia tersenyum kecil, tak peduli tanggapan orang lewat yang melihatnya tersenyum tanpa sebab seperti itu. Yang penting sekarang ia menikmatinya, menikmati waktu santainya di sebuah kursi taman di kebun bunga yang sedang mekar. Hari ini hari minggu, dan hari ini ia mengajak Lingga berkencan di bawah pohon besar yang ada di taman itu.


Menghela nafas pelan, Farrand tak menduga jika menunggu akan terasa semembosankan ini. Tapi bagaimanapun juga ini termasuk dalam salahnya, ia datang 15 menit lebih awal dan Lingga terlambat 5 menit. Sebenarnya bukan hal yang lama, bukan? Tapi apapun itu alasannya, menunggu memang sangat menyebalkan. Dan ia akan menambahkan menunggu pada daftar yang tak ia sukai.


Farrand mendongakkan kepalanya dan menatap pohon Flamboyan di atasnya yang bergerak pelan tertiup angin. Ia kembali mengingat saat hari perpisahan di sekolahnya. Hari yang menjadi hari terakhir untuk Dion berada di kota ini karena setelahnya ia bertolak ke Amerika. Tak banyak yang ia lakukan saat itu, ia hanya bisa menatap punggung Dion yang menjauh perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Ingin ia mengejar dan memeluk punggung tegap yang dulu sering membawanya ke dalam pelukan. Namun ia masih ingin menjaga perasaan Lingga meski Lingga sendiri sedang tak ada disana. Beruntung, disaat itu Dion berbalik dan melihat ke arahnya sambil tersenyum tipis dan seolah mengatakan padanya sebuah kata perpisahan. Baginya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya lega.


Mencoba mengingat lagi untuk menghilangkan rasa penatnya akan menunggu Lingga, ia mendapatkan senyuman ayahnya yang tersungging manis. Ayahnya tak banyak menghubunginya selama pergi ke kota sebelah. Ia hanya mendapat pesan singkat tentang perhatian ayahnya yang seperti biasanya. Tak ada hal yang istimewa, ia bahkan merasa bosan dengan keadaannya. Tapi beberapa hari ini, ia merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi yang entah kapan. Dan ia juga merasa jika hal itu bukanlah hal yang baik. Entahlah, perasaannya selalu terasa tak enak akhir-akhir ini.


"Maaf membuatmu menunggu." Sebuah tepukan di pundaknya membuat ia menghentikan lamunannya dan menoleh ke arah si penepuk. Ia tersenyum, saat didapatinya Lingga datang sambil membawa bungkusan yang berisi beberapa makanan ringan.


"Mini market sedang ramai dan aku membutuhkan banyak waktu hanya untuk sekedar mengantri di kasir." Sambungnya.


"Sudahlah. Aku senang kau datang lebih cepat."


Lingga mengangguk, ia mengambil tempat duduk di sebelah Farrand duduk dan menyodorkan sekotak coklat kesukaan Farrand.


"Terima kasih." Ucap Farrand tulus.


"Sama-sama."


Mereka berdua tersenyum, dan saling menatap sambil menyelami dalamnya pandangan mereka masing-masing. Ah, serasa dunia milik berdua saja.


"Kau kesini naik apa?" Tanya Lingga.


"Motor ayah."


"Motor ayahmu?" Lingga mendelik kaget. Wajar ia kaget, motor ayah Farrand adalah sebuah motor sport yang lumayan berat untuk dikendarai. Dan Farrand mengatakannya dengan ringan seolah hal itu adalah hal yang biasa.


"Ya." Jawab Farrand.


"Dengan pakaianmu yang seperti ini kau mengendarai motor sport? Lihat, kau bahkan memakai sepatu dengan tumit tinggi setinggi 10 cm."


"Maksudmu stiletto ini? Apa yang salah dengan itu?"


Lingga menggelengkan kepalanya. Apa yang salah katanya? Tentu saja salah. Apa Farrand tak kesusahan memakai tumit tinggi seperti itu sambil mengendarai motor sport?


"Jika kau berfikir aku kesusahan, maka jawabku adalah tidak." Seolah membaca pikiran Lingga, Farrand langsung menjawab hal itu dengan spontan.


"Bagaimana caramu melakukannya? Maksudku, caramu mengendarainya dengan sepatu menyusahkan seperti itu."


"Mudah saja. Kau tinggal meletakkan bagian lekukannya di pedal kaki. Dan kau akan merasakan kakimu tak akan berpindah dari sana kecuali kau pindahkan."


"Kau tak kesusahan saat memindah gear?"


"Untuk apa kesusahan? Kau tinggal mengungkitnya untuk menambah dan menginjaknya untuk mengurangi. Aku bisa melakukannya dengan jari-jari kakiku."


Lingga kembali menghela nafas kasarnya. Seharusnya ia mengerti jika kekeras kepalaan Farrand adalah hal yang tak bisa ia menangkan dalam perdebatan apapun.


"Ayo. Pakai mobil ku dan aku akan memakai motor itu. Kau kembalikan motor itu ke garasi dan kita jalan-jalan dengan memakai mobil ku." Putus Lingga. Ia merasa tak betah jika terlalu lama melihat Farrand melakukan hal diluar bayangannya. Seperti mengendarai motor sport dengan memakai stiletto, misalnya.


.


.


.


Farrand terkikik pelan saat ia diseret ke tempat yang dulu pernah di kunjunginya bersama dengan Lingga. Tempat yang menjadi saksi bisu atas keputusan sepihaknya dan juga tempat yang menjadi saksi pertengkaran mereka untuk yang pertama kalinya.


Yah...


Tempat itu tak banyak berubah, disana masih tetap asri seperti terakhir kali ia kunjungi. Tentunya yang berbeda hanya beberapa warna yang bertambah karena musim. Tak betah karena Farrand hanya terbengong saja, Lingga segera menyeret tangan Farrand dan membawanya ke bawah pohon yang dulu mereka tempati.

__ADS_1


Bruk...


Lingga memeluk Farrand dari belakang dan menariknya agar mereka terduduk. Dengan Farrand yang berada di pangkuannya, Lingga melingkarkan tangannya ke pinggang Farrand dan mengendus leher Farrand dengan sensual.


"Ling, kau masih ingat? Saat pertama kau membawaku kesini, kita juga duduk dibawah pohon ini." Ujar Farrand.


"Ya."


"Saat itu aku berbohong padamu tentang satu hal, dan tak kusangka jika hal itu telah menjadi kenyataan saat kita kembali kesini."


Tubuh Lingga menegang, ia menghentikan ciumannya di leher Farrand dan menumpukan kepalanya di pundak Farrand.


"Maafkan aku, Fa. Seharusnya aku tak meragukanmu saat itu." Sesal Lingga.


"Sudahlah. Tanpa kejadian itu aku tak akan tau sampai sejauh mana kau mencintaiku, Ling."


"Tapi sekarang malah aku yang merengut itu darimu, Fa."


"Seberapa besar penyesalanmu tetap tak mengubah kenyataan dan mengembalikan semuanya."


"Kau benar."


Lingga dan Farrand memejamkan matanya dan masing-masing dari mereka menikmati hembusan semilir angin yang bergerak pelan. Aroma musim semi tercium wangi, dan hal itu membuat mereka semakin hanyut dalam buaian angin.


"Fa, boleh aku bertanya?"


Farrand mengangguk pelan, matanya masih terpejam menikmati hembusan angin dan tangannya kini digunakannya untuk mengusap surai kelam milik Lingga.


"Seingatku, sudah hampir satu bulan sejak kita melakukannya bukan?"


"..." Farrand kembali mengangguk. Ia kembali mengingat tentang hal itu, dan benar, sudah satu bulan sejak kejadian itu dan sifat Lingga berubah seakan menghindarinya.


"Apa kau tak merasakan sesuatu yang aneh pada dirimu, Fa?"


"Aneh?"


"Maksudku, apa kau tak merasa mual atau lainnya?"


Farrand menggeleng pelan, ia sepertinya mulai mengerti arah tujuan pembicaraan Lingga.


"Kau tau jika aku berkali-kali mengeluarkannya di dalam, bukan?"


"Lalu?"


"Apa kau tak takut jika disini....." Lingga meraba perut datar Farrand dan Farrand tersenyum tipis dibuatnya.


"Akan tumbuh kehidupan lain?" Sambung Lingga.


Farrand sedikit menyeringai, sepertinya Lingga tidak tau jika ia meminum obat pencegah waktu itu. Biarlah, ia ingin sedikit main-main dengan ini. Salahkan saja pada Lingga yang seenak jidatnya menghindari Farrand setelah kejadian itu.


"Entahlah, aku belum tau akan hal itu. Memang kenapa jika akan ada Lingga junior disini?"


"Aku, sejujurnya masih belum siap, Fa."


"Kalau kau belum siap, mengapa kau mengeluarkannya di dalam? Kau tau, saat itu sedang dalam masa suburku."


Wajah Lingga memucat, ia lumayan banyak tau tentang hal itu. Ia yang selama menjauhi Farrand terus menerus mencari tau tentang hubungan itu di Internet. Dan seingatnya, jika melakukan hal itu saat masa subur bukankah kemungkinannya lebih besar?


"Fa, jangan menakutiku."


"Menakuti? Hal mana yang membuatmu merasa jika aku menakutimu?"


Farrand benar.


Dan Lingga benci akan hal itu.


"Tidak. Aku benar-benar masih belum siap, Fa. Aku takut, bagaimana jika disini benar-benar tumbuh? Aku masih belum memiliki pekerjaan yang tetap dan belum cukup mampu untuk menghidupimu serta anak kita kelak."


"Kalau begitu, berjanji lah padaku jika kau akan belajar sungguh-sungguh untuk menggapai mimpimu."


"Aku berjanji. Aku bahkan sudah mengatakan pada ayahku jika aku akan belajar bisnis dan menjadi apa yang selama ini ayah harapkan padaku. Aku akan mengesampingkan balapan dan berusaha keras untuk itu."

__ADS_1


"Benar kah?"


"Iya, benar. Aku sudah menelpon ayah dan aku sudah memulai belajar tentang hal itu sedikit demi sedikit tanpa mengesampingkan sekolahku. Dan aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan bisnis."


Farrand tersenyum, ia puas akan jawaban Lingga karena ia akan merasa sedikit mendapat kelonggaran. Bagaimana tidak? Ayahnya pernah mengatakan jika ayahnya akan memberi kelonggaran padanya untuk memilih jurusan kuliah yang di inginkannya asalkan calon suaminya mengerti tentang bisnis. Bagaimanapun juga ayahnya mempunyai sebuah perusahaan dan ia adalah putri satu-satunya. Jika bukan putrinya yang mewarisinya, maka akan ia wariskan pada menantunya. Begitu katanya.


"Lalu bagaimana rencanamu setelah ini? Kau tau jika kita telah berada di tingkat akhir bukan? Selama yang ku tau Universitas di kota sebelah tempat kita tinggal dulu lebih berkualitas dari pada Universitas kota ini dalam bidang bisnis dan manajemennya."


"Ya. Kau benar. Dan aku telah memutuskan jika aku akan kembali ke sana setelah lulus dari sini."


"Dan meninggalkanku disini?"


Lingga menggeleng,


"Aku meninggalkanmu semata-mata untuk kebaikan kita, Fa. Aku akan kuliah di sana sekaligus belajar bekerja di perusahaan ayahku. Ku rasa hanya itu jalan tercepat yang kumiliki. Aku tak akan bisa seperti itu jika berada disini." Ujar Lingga.


"Lalu bagaimana jika banyak hal yang terjadi? Bagaimana jika benar aku tengah mengandung anakmu? Bukankah aku akan melahirkan sebelum kelulusan?"


"Jika benar, aku akan menikahi mu secepatnya. Kita akan pindah ke Halu dan aku akan meminta bantuan ibu untuk merawat mu. Mau bagaimana lagi. Aku akan menganggap ini sebuah kecelakaan kita. Aku akan berusaha memberimu nafkah meski tak akan sebanyak yang ayahmu berikan padamu. Aku akan mengambil banyak kerja paruh waktu untuk itu. Atau aku akan mengikuti balapan sebanyak mungkin dengan taruhan besar."


Hati Farrand terasa tersentuh, ia tak menyangka jika sebenarnya di balik kerenggangan hubungan mereka, Lingga telah memikirkan banyak hal untuknya. Ia tau jika ketakutan Lingga bukan lah main-main, dan ia rasa ia sudah cukup untuk mengerjainya.


Set,


Farrand mengambil posisi berbalik hingga kini ia berhadapan langsung dengan Lingga namun masih tetap duduk di pangkuannya. Lingga menyandarkan tubuhnya pada batang pohon di belakangnya dan menatap ke dalam iris menawan kekasihnya itu.


"Aku sungguh bangga padamu, Ling." Bisik Farrand.


"Apa yang banggakan dariku, Fa? Aku tak bisa mengontrol diriku sendiri."


"Kau telah banyak berpikir dewasa akhir-akhir ini, Ling. Jadi, kuharap kau benar-benar melakukan apa yang telah kau ucapkan tadi."


"Kau tak perlu khawatir. Beberapa hal telah kulakukan, dan sisanya sedang akan kulakukan."


"Bagaimana dengan obsesimu pada mobil itu?"


"Aku bisa menantang ayahmu kapan-kapan. Lagi pula aku sudah menemukan orangnya, tinggal mengasah kemampuanku dan aku akan menantangnya jika kurasa aku siap."


"Sebelum kau menantang ayahku, ada baiknya kau mengalahkanku terlebih dahulu, Ling. Kemampuan ayahku tak main-main."


"Aku tau. Dan hal itulah yang telah lama ku pikirkan."


"Aku mencintaimu, Ling." Lirih Farrand, ia membawa Lingga ke dalam ciuman memabukkan hingga secara tak sadar tangan Lingga telah bergerak untuk menjamah tubuh yang pernah ia lihat secara sempurna itu.


"Aku juga, Fa." Mereka melepaskan pautan itu saat mereka telah merasa jika pasokan oksigen untuk mereka telah habis. Farrand tersenyum, ia memejamkan matanya dan menyatukan kening mereka dengan nafas yang terngah-engah.


"Aku tadi sempat membeli tespack. Kau mau mencobanya?" Bisik Lingga. Farrand menggeleng pelan, ia melepaskan tautan kening mereka dan menangkup wajah Lingga dengan kedua tangannya.


"Itu tak akan berguna. Aku yakin jika aku masih negatif."


"Mengapa kau yakin, Fa? Aku sangat yakin jika aku mengeluarkannya di dalam berkali-kali."


Farrand kembali menggeleng,"Nadeen pernah memberiku obat pencegah, awalnya ingin kubuang. Namun kusimpan dan aku meminumnya sebelum aku melakukannya denganmu."


"Jadi?"


"Tentu saja aku negatif. Aku bahkan baru selesai atas periode ku sehari yang lalu."


Lingga tak bisa menahan rasa gembiranya saat mendengar hal itu dari Farrand. Ia bersyukur, setidaknya ia belum menjadi ayah dalam waktu dekat ini.


"Tapi meski begitu kau harus tetap melakukan apa yang kau sebutkan tadi." Lanjut Farrand.


"Tentu." Lingga mengangguk mantap dan mulai tersenyum tipis.


"Awalnya aku ingin mengatakan padamu lebih awal. Tapi melihat kau yang seakan menjauhi ku, aku mengurungkannya dan menunggumu datang dengan penyesalan. Ku pikir aku akan sedikit bersandiwara jika kau terus menerus menjauhi ku."


Lingga tak bisa menahan tangannya agar tak mencubit pipi tembam milik Farrand. Ia kesal, bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal yang seperti itu dengan nada datar dan seolah-olah hal itu adalah hal yang ringan? Tak tahukah Farrand jika ia mengalami gangguan tidur akibat memikirkan hal itu?


"Kau perlu dihukum, Fa. Dan aku tau hukuman apa yang bisa kuberikan padamu." Sebuah seringai yang terbentuk di wajah Lingga membuat Farrand bergidik ngeri. Lingga beranjak, namun ia tak melepaskan Farrand yang berada di pangkuannya. Hingga setelahnya, ia menghempaskan Farrand ke atas rerumputan di bawah pohon itu dan menguncinya dalam kungkungan tangannya.


Tbc

__ADS_1


 


 


__ADS_2