Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 42


__ADS_3

'Aku sedang tak enak badan. Surat keterangan dokternya sudah ku kirimkan lewat Muku tadi.'


Fyuuhhhh.


Farrand menghela nafas bosan. Dirinya tak habis pikir, bagaimana bisa Lingga tak mengabarinya jika ia sedang sakit? Jika ia dikabari lebih awal, tentunya ia bisa berangkat lebih pagi dan memasakkan sarapan dulu untuknya.


"Mengapa tak mengabariku?" Tanyanya. Ia masih menempelkan benda persegi itu di telinganya dan berbicara dengan tenang.


'Aku tak ingin membuatmu khawatir dan berangkat pagi-pagi demi membuatkanku sarapan.'


"Tapi setidaknya kabari aku mulai tadi. Kau tau, aku hampir kehilangan konsentrasiku di jam pertama saat tau kau tak masuk karena sakit."


'Aku tau. Maafkan aku. Tapi kemarin aku sudah menelpon dokter dan aku juga sudah meminum obat.'


"Tak dimaafkan."


'Mengapa kau tega padaku, Fa? Ayo lah... maafkan aku. Aku janji tak akan mengulanginya.'


"Aku maafkan jika aku sudah disana dan merawatmu."


'Kapan kau akan kesini?'


"Tentu saja sepulang sekolah aku akan langsung mampir ke sana."


'Kau tak pulang lebih dulu?'


"Tidak. Ayahku berada di luar Kota dan mungkin baru pulang esok."


'Lagi?'


"Sudahlah. Matikan sambungannya karena aku lapar."


'Kau akan makan bersama siapa?'


"Aku bisa mengajak Nadeen."


'Lalu jatah bekal ku?'


"Kuberikan anjing penjaga sekolah."


Terdengar helaan nafas berat di seberang sana. Lingga pasti merasa maklum. Akhir-akhir ini Farrand memang sering emosi meski penyebabnya hanya masalah sepele.


'Ya sudah. Aku akan istirahat dahulu. Sampai nanti.'


Tak ada jawaban. Dan Lingga memutuskan sambungannya dengan menekan tombol merah setelah ia menghitung lima detik. Seakan sudah hafal, Farrand yang sedang emosi tak akan menjawab lagi. Jadi ia memutuskan untuk mematikan sambungannya. Biarlah, ia akan urus nanti setelah emosi Farrand mereda.


"Ada apa lagi?" Suara Nadeen dan tepukannya pada pundak Farrand menghentikan lamunan si rambut pirang dan menurunkan ponselnya. Farrand menggeleng lemah. Ia tak mengerti atas dirinya yang sering merasakan emosinya yang meluap-luap sedari tadi.


"Ayo. Kita ke taman belakang seperti biasa. Aku sekarang membawa bekal buatanku sendiri."


"Tumben?" Farrand mengernyit heran. Setahunya, teman berambut pendeknya itu anti sekali membuat bekal. Bukan karena apa, ia yang sekarang tinggal di apartment Abel sejak enam bulan lalu kini mengandalkan makannya pada Abel. Beruntung, Abel lumayan jago memasak hingga ia tak perlu kesusahan akan makanan. Terkadang Abel juga memberinya uang saku untuk makan di kantin sekolah.


"Abel sedang berdompet tipis dan lumayan sibuk. Jadi kuputuskan untuk menghemat dan membawa bekal saja."


"Kau sudah seperti ibu-ibu rumah tangga saja ya, Na."


"Mau bagaimana lagi? Aku perlu menghemat uang pemberian ayah untuk biaya kuliah ku di Dafan. Kau tau, ayah semakin jarang mengirimkan ku uang akhir-akhir ini. Atau mungkin dia sudah lupa jika memiliki anak yang sudah remaja."


"Jangan begitu. Bagaimanapun juga dia ayahmu." Farrand hanya bisa terenyuh mendengar ucapan sahabatnya itu. Semenjak perceraian orang tuanya, ia tersisihkan. Ayahnya yang ternyata telah menikah diam-diam kini telah memiliki buah hati lain dari wanita yang baru dinikahinya itu. Siapa yang menyangka? Di balik ketentraman keluarga Nadeen ternyata menyimpan luka menganga yang begitu dalam.


"Sudahlah. Ayo, jangan membicarakannya lagi. Aku sudah muak dengan mereka."


Farrand tak bisa lagi menahan tatapan sendunya pada sang sahabat yang telah berjalan mendahuluinya menuju taman belakang. Ia tau, sejak saat itu, Nadeen selalu berusaha tegar. Farrand sudah tau seluk beluk kehidupan Nadeen yang sekarang ini. Ibu Nadeen menikah lagi tak lama setelah ayahnya menikah secara resmi, menyebabkan Nadeen enggan pulang kerumah ayah atau ibunya. Nadeen pernah bilang padanya, untuk apa pulang jika disana dirinya hanya di pandang sebagai orang asing. Pernah ia menawarkan rumahnya, namun Nadeen hanya menolaknya mentah-mentah. Ia lebih memilih tinggal di apartment Abel karena pemuda itu telah sukarela mengungsi ke apartment milik sahabatnya.


Sekarang sudah hampir setahun sejak kejadian itu, dan kini mereka hanya menanti hari saja untuk upacara kelulusan. Selama itu pula Nadeen tak pernah pulang kerumahnya lagi. Memang, terkadang Nadeen akan menerima kiriman uang dari ayahnya untuk biaya hidupnya. Namun seperti yang Nadeen bilang, akhir-akhir ini sudah jarang menerima kiriman itu.


Terkadang ia bingung, Nadeen lebih menerima bantuan dari Abel. Ia tak ingin berpikiran negatif, tapi ia merasa jika mereka menyembunyikan suatu hubungan. Dan karena Nadeen selalu menolak bantuannya, diam-diam ia memberikan bantuan finansial pada Abel dengan dalih untuk membantu Nadeen. Ia pernah diam-diam mengirim uang pada rekening Nadeen, berharap Nadeen mengira jika uang itu kiriman dari ayahnya. Tapi setelah itu Nadeen tau, dan ia mendapatkan Nadeen yang mendiamkannya selama seminggu. Alhasil, ia hanya bisa meminta bantuan Abel secara diam-diam untuk itu.


Dan mengenai hidupnya kini, Farrand juga sering merasakan jika dirinya sering lepas kontrol emosi. Entah karena apa, ia sendiri tak tau tentang hal itu. Terkadang Lingga yang tak salah apa-apa juga terkena dampak mengerikan dari emosinya yang melonjak naik. Pernah ia berpikir jika ia positif hingga menyebabkan seperti itu. Namun setelah ia cek, hasilnya selalu negatif. Itu wajar, bagaimanapun juga ia sering mengkonsumsi pil pencegah meski Lingga jarang menyentuhnya.


"Mengapa kau melamun? Untung saja kau tak menabrak tembok." Ucap Nadeen.


Farrand tersadar. Ia segera menolehkan kepalanya ke arah sekitar dan menemukan dirinya telah sampai di tempat yang di tuju.


"Ah, maaf. Akhir-akhir ini aku hanya sering kepikiran sesuatu." Balasnya.


Nadeen terkesiap, setahunya sahabat pirangnya itu tak pernah memiliki masalah hingga membuatnya sering melamun. Ia sangat tau watak Farrand, dan si pirang itu seolah memiliki batas hati yang terlalu dalam hingga masalah seberat apapun hanya bisa nangkring sebentar di benaknya.


"Aku akan mendengarkan dan memberi solusi jika kau mau bercerita."


Sejenak Farrand merasa ragu, namun ia juga tak mau memungkiri jika yang ia butuhkan saat ini adalah bercerita.


"Aku merasa jika emosiku akhir-akhir ini cepat meledak."


Akhirnya, dengan berat hati Farrand mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya.


"Hanya itu?" Tanya Nadeen.


"Kau bilang hanya itu? Kau tau, aku hampir setiap hari membentak Lingga karena masalah kecil hingga terkadang ayah juga merasakan amukanku."


"Kau tak sedang hamil bukan?"


"Tentu saja tidak. Aku selalu mengkonsumsi pil dan baru kemarin ku cek dengan hasil negatif."


Ups!


Wajah Farrand memerah sempurna saat ia sadar apa yang dikatakannya. Meski mereka telah lama melakukannya, ia masih tak menceritakan perihal itu pada Nadeen. Entah karena apa, yang jelas Nadeen pasti akan mencandainya habis-habisan jika ia bercerita. Namun sepertinya hari ini semuanya kandas. Ia terlalu terbawa emosi hingga tak sadar mengatakan hal itu.


"Sudah ku duga." Sebuah seringaian mampir di bibir cantik milik Nadeen. Seperti mendapat jakpot besar, ia bisa mendapat suatu rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh sahabat pirangnya itu. Ia yakin, Farrand telah menyimpannya sejak lama tanpa berniat memberitahukan hal itu padanya.

__ADS_1


"Na-Nadeen."


"Kau memakai pil dalam jangka waktu yang lama?"


"...." Habis sudah. Jika sudah begini, Farrand tak akan bisa mungkir dari intimidasi Nadeen.


"Ku sarankan lebih baik kau beralih menggunakan pelindung saja atau memakai implan. Pil tak bagus jika di konsumsi dalam jangka waktu yang lama."


"A-apa maksudmu, Nadeen."


Sebuah keringat mengalir di pelipis wajah Farrand. Jantungnya berdebar dengan kencang, ia merasa seperti dirinya sedang ketahuan mencuri.


"Kau tau benar maksudku. Kau telah lama bersama Lingga bukan? Kurasa kau sudah menghabiskan pil yang kuberikan padamu saat itu."


Jleb....


Perkataan Nadeen tepat pada sasaran. Farrand sudah merasa kalah dan sekarang ia hanya bisa pasrah menanti ultimatum Nadeen yang berikutnya.


"Melihat dari reaksimu, kurasa aku benar. Dengar Farrand. Pil bisa mempengaruhi hormonmu. Wajar jika kau merasakan emosi yang tak stabil. Jika kau tak rutin mengkonsumsinya, pil pencegah bisa membuat rahimmu subur. Membuatmu menjadi positif hanya dengan melupakannya minum sehari saja."


Farrand ternganga. Serumit itukah hal yang ia hadapi saat ini? Jika itu benar, maka ia akan mencari jalan lain untuk menghindarinya.


"Aku tau banyak tentang hal itu. Kau tau, aku berniat menjadi dokter dan melanjutkan pendidikanku ke kota Dafan." Sambung Nadeen.


"...." Lidah Farrand masih terlalu kelu untuk di ajak berbicara. Ia bahkan hanya bisa mendengarkan ucapan Nadeen sambil sesekali menyuapkan bekal yang dibawanya ke dalam mulut.


"Tapi semua terserah padamu. Aku bisa mengenalkanmu pada dokter di sebuah klinik kecil tempatku bekerja untuk memasangkannya padamu jika kau mau."


"Tunggu. Kau bekerja?"


"Tentu saja. Sudah hampir sebulan aku bekerja. Abel mengenalkanku pada kenalannya di klinik dan berakhir dengan bekerjanya aku disana."


"Jadi itu sebabnya kau tau banyak tentang hal ini?"


Nadeen hanya bisa terkekeh kecil dan dibalas dengusan kasar oleh Farrand. Farrand semakin merasa menyesal. Sebenarnya apa yang selama ini ia lewatkan dari sahabat yang kian menjaga jarak darinya itu? Apa kesibukannya dengan Lingga membuatnya semakin mengikis waktu antara dirinya dengan sang sahabat?


"Nadeen, ayo kita bersama-sama ke Dafan. Aku akan mengajukan permintaan pada ayahku untuk membiayaimu juga. Kau tak perlu mencari kerja sampingan lagi dan fokus lah pada pendidikanmu."


"Aku tak bisa. Aku tak ingin menyusahkan orang lain lebih dari ini. Karena sikapku yang menyusahkanlah makanya orang tuaku meninggalkanku. Meninggalkan seorang putri yang hanya bisa menyusahkan mereka." Nadeen tertunduk. Kini Farrand tau mengapa Nadeen selalu menolak bantuan darinya. Tapi sebenarnya, hal yang mengganjal di benaknya adalah bantuan Abel. Nadeen menolak bantuan Farrand, tapi mengapa tidak dengan Abel?


"Sekali lagi kau menolaknya, aku akan benar-benar membencimu. Kau sama sekali tidak menolak bantuan dari Abel tapi bantuanku selalu kau tolak. Sebenarnya aku ini sahabatmu atau bukan, Nadeen?"


Nadeen mendongakkan kepalanya menatap wajah Farrand yang memerah. Ia yakin, Farrand telah memendam emosi padanya karena sikapnya.


"Fa-Farrand, bukan begitu."


"Lalu apa?"


"Aku tak ingin menyusahkan paman."


"Ayahku tidak akan merasa tersusahkan, Na. Kau dan pikiranmu membuatku muak."


"Kalau begitu, terima tawaranku dan kita hidup bersama di Dafan."


"Apa bisa?" Tanya Nadeen.


"Ya."


"Tapi... aku mencintai Abel. Aku tak bisa meninggalkannya disini sendiri."


Gotcha!


Farrand tersenyum miring saat ia berhasil menjebak Nadeen. Kini ia tau kedekatan mereka. Dan seperti jelas sudah jika mereka memiliki suatu hubungan.


"Aku akan berbicara pada Abel tentang hal ini. Kalau bisa, ia juga akan ku ajak ke Dafan. Bukankah rumah keluarga Abel juga ada di Dafan?"


******!


Nadeen tak tau jika Farrand tau tentang Abel sampai sejauh itu. Sepertinya untuk kali ini ia akan menyerah paksa pada sahabat pirangnya itu.


Dengan menghela nafas, Nadeen mengangguk dan menyetujui tawaran si pirang. Ia menyerah sekarang, sudah tak ada waktu lagi menyusun rencana untuk di kota Dafan karena ia tau dengan pasti, Abel tak bisa membantunya dalam biaya pendaftaran lusa dan tabungannya juga belum cukup.


"Aku akan menghubungi ayahku sekarang. Ku pastikan jika kita akan bersama-sama berangkat ke Dafan bulan depan."


"Bulan depan? Secepat itu?"


Farrand mengangguk. Sebenarnya ia telah menyusun rencana ini jauh-jauh hari, dengan bantuan Abel tentunya. Ia lah yang membuat Nadeen terpojok. Dan sepertinya Abel setuju-setuju saja akan rencananya.


.


.


.


"Kau bilang kau sakit. Tapi masih punya tenaga sebesar ini? Kau gila!"


Farrand mendesah lelah. Niatnya datang untuk menjenguk Lingga dan meminta maaf atas sikap buruknya akhir-akhir ini kandas saat dengan bertubi-tubi ia menggempur Farrand.


"Aku memang sakit. Tapi aku punya cukup tenaga untuk membuatmu berkeringat. Lagi pula dokter juga menyarankanku untuk lebih banyak berkeringat."


"Kau bisa pergi ke gym jika ingin berkeringat. Atau kau bisa berlari keliling kompleks."


"Lebih asyik saat olahraga bersamamu seperti ini, Fa. Lagipula bukankah kau juga menikmatinya?"


"Berisik!"


"Kau mengelak? Siapa tadi yang menjerit-jerit meminta lebih padaku?"


Huh,

__ADS_1


Farrand memalingkan mukanya ke samping. Ia masih ingat betapa gilanya ia saat berada di dalam kungkungan Lingga. Seolah tak ingin kehilangan kesempatan, Lingga yang telah 'berpuasa' selama sebulan pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya itu. Memang, mereka telah memiliki kesepakatan tak akan melakukannya jika ayahnya ada di kota ini.


"Sudahlah Fa. Lagi pula berkat dirimu aku bisa sembuh lebih cepat."


Farrand mensidekapkan tangannya di depan dadanya yang tertutupi selimut yang ia bagi dengan Lingga. Ia yang bersandar pada sandaran ranjang Lingga hanya bisa mengalihkan pandangannya saat Lingga mencoba kembali menggodanya.


"Jangan mencari alasan seperti itu."


"Aku tak bohong, Fa. Kau ingat dengan benar jika tadi badanku sangat panas."


"....."


"Dan lihat, setelah aku berkeringat cukup banyak karena aktivitas kita barusan suhu tubuhku mendingin."


Farrand kembali mendengus,


"Belikan aku coklat biasa satu karton sebagai permintaan maafmu."


"Itu terlalu banyak, Fa."


"Terima atau tak ku maafkan."


Dengan mendesah lelah, Lingga menyanggupi permintaan Farrand. Tak apalah ia harus merogoh koceknya terlalu dalam. Padahal gaji dari ayahnya masih seminggu lagi ia terima. Ia bisa atur itu nanti, dan sepertinya menarik beberapa uang tabungannya adalah hal yang terbaik.


Selama hampir setahun belakangan ini Lingga telah bekerja pada ayahnya. Rupanya ia benar-benar melakukan apa yang telah ia katakan pada Farrand tentang ia yang akan belajar bisnis. Meski tak langsung datang ke kantor yang ada di Kota Halu, ia bisa mengerjakan pekerjaannya disini dan mengirimkannya via e-mail.


Ia lakukan hal itu semata-mata agar ia lebih cepat menguasai tatanan perusahaan. Karena bagaimanapun juga, ia tak mau menunda waktu lagi untuk bisa meminang Farrand. Ia bahkan selalu menyisihkan sebagian besar gajinya untuk ditabung. Beruntung, Farrand selalu bisa membuatkan bekal untuknya, jadi ia bisa menghemat pengeluaran lebih banyak.


"Tapi jangan habiskan dalam waktu kurang dari sebulan." Sambung Lingga. Terkadang ia heran, kekasihnya itu selalu makan coklat jika dalam waktu senggang dan bisa menghabiskan ramen dalam porsi besar. Namun dengan semua hal itu, kekasihnya itu tak pernah mengeluhkan berat badan seperti wanita di luar sana yang selalu menjerit ketika melihat angka di timbangan bertambah satu. Lingga memang pernah sesekali merasakan pipi Farrand mengembang, namun setelah beberapa hari, bentuk itu akan kembali seperti semula.


"Satu karton itu hanya cukup untuk dua minggu, Fa."


"Ru, satu karton itu berisi 20 bungkus coklat. Bagaimana bisa kau menghabiskannya dalam waktu dua minggu saja? Kau tak takut gendut?"


"Gendut? Aku tak akan gendut dengan coklat sebanyak itu."


"Tapi wanita di luaran sana selalu mengeluhkan hal itu."


"Kau takut aku gendut? Kalau kau tak suka melihatku gendut, kau bisa bersama Ava yang selalu bisa menjaga asupan makannya hingga punya bentuk tubuh yang kau inginkan."


Glek.


Ah... Sepertinya Lingga telah salah bicara lagi.


"Bukan itu maksudku, Fa."


"Kalau begitu jangan banyak protes atau aku akan menghabiskan se karton coklat dalam waktu seminggu."


Fyuuuhhh.


Lingga menggelengkan kepalanya. Percuma berdebat dengan jika pada akhirnya ia hanya bisa mendapat ancaman lainnya.


"Aku mau mandi. Bau ini menggangguku."


"Mau ku mandikan?" Sebuah seringai mesum terpampang jelas di wajah Lingga. Ia yang tak menyangka akan serangan susulan hanya bisa tergeletak tak berdaya saat dengan kecepatan kilat kaki Farrand telah menghampiri kepalanya.


"Aku tak mau ada ronde tambahan." Ujar Farrand ketus.


Lingga pasrah saja. Ia tak akan mencari gara-gara lagi pada Farrand jika akan berakhir seperti ini. Memangnya ia belum puas setelah menghabiskan banyak waktu tadi?


Drrttttt.... drrttttt.


Melirik layar ponsel yang berkedip di meja sebelah ranjangnya, Lingga mengernyit karena ia mendapati nama ibunya yang tertera disana. Tidak biasanya, karena ibunya akan menelpon secara teratur dua kali setiap pagi setelah bangun dan malam sebelum tidurnya. Bukan di jam seperti sekarang ini.


"Hallo."


'Ling, apa kau bersama Farrand?' Suara di seberang terdengar panik. Jantungnya berdebar kencang, firasatnya tidak enak saat mendengar nada kepanikan dari ibunya.


"Iya, ada apa ma?"


'Bisa kau bawa Farrand kesini secepat mungkin?'


"Memang ada apa ma? Mengapa mama terdengar panik?"


‘Ayahnya mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan ke kantornya yang berada disini. Keadaannya kritis, tapi jangan katakan secara detail pada Farrand.'


"Paman kecelakaan?"


'Ya. Dan kini tengah dilarikan ke rumah sakit pusat kota.'


"Baiklah, aku akan segera kesana."


Bruk.


Suara sesuatu yang terjatuh memmbuat Lingga menolehkan kepalanya ke arah suara itu berasal. Disana, ia melihat Farrand yang telah jatuh terduduk dengan tubuh yang masih terbalut handuk dengan pandangan mata yang kosong. Jika melihat dari keadaan itu, Farrand pasti telah mendengar semua percakapannya dengan sang ibu. Tak mengherankan, suara percakapan mereka terdengar karena ruangan Lingga yang tenang.


"Fa-Farrand."


"Ayo kita bergegas ke sana." Putus Farrand.


tbc


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2