
Suasana hening masih mencekam diruang inap Farrand-Lingga. Tak ada yang
berani membuka percakapan. Dion dan Dhiaz, yang mengambil tempat duduk
disamping kiri ranjang Farrand, dan Nadeen, yang duduk disamping kanan ranjang Lingga.
Entah mengapa, masing-masing dari mereka hanya bisa mengatupkan mulutnya
rapat-rapat dan taka da yang berani membuka percakapan barang sepatah atau dua
patah kata.
Huh......
Farrand menghembus nafas kasar. Suasana hatinya saat ini sedang buruk, dan
kehadiran ketiga orang diruangannya itu kini menambah buruk saja.
"Jika kalian disini hanya untuk menumpang duduk. Enyahlah. Aku tak
butuh pajangan tambahan ikamar ini. Mengganggu pandanganku saja." Farrand
mendengus kasar. Ia sungguh tak suka suasana ini. Suasana yang tenang memang
sangat ia sukai, namun tidak dengan suasana ini.
Dion mensidekapkan tangannya sambil terpejam. Ia bingung. Kata-kata yang
sudah ia susun saat perjalanan kesini serasa menguap dan hilang tak berbekas.
Ingin ia memecah kesunyian dan menanyakan keadaan si wanita yang pernah berada
di hatinya. Namun bibirnya terasa kelu, tertutup rapat dan mengunci seluruh
suara yang akan ia keluarkan. Ingin menanyakan kabar pun, pasti akan ada yang
menjawab dengan ketus jika keadaan Farrand bisa dilihat dengan mata kepalanya
sendiri.
"Aku akan ketoilet." Farrand menggerakkan kakinya dan berusaha
untuk duduk ditepi ranjang. Tangan kokoh Madhiaz terulur untuk membantunya. Namun
sepertinya ia kalah cepat. Tangan Dion telah lebih dulu menangkap pergerakan Farrand.
"Biar kuantar." Kata Dion.
Wajah Farrand memerah. Tangan kanannya yang memegang tiang gantungan infus
terkepal erat. Tidak mengertikah Dion? Dia ingin ketoilet, dan Dion ingin
mengantarnya? Tidak salah dengarkah ia? Dia itu perempuan, dan Dion laki-laki.
Ada batasan yang tak ingin Farrand langgar dalam hal ini.
"Aku bisa sendiri." Ucap Farrand kemudian setelah menepis uluran
tangan Dion padanya.
Dion tak bisa melanjutkan lagi. Lidahnya terlalu kelu, bahkan keinginannya
membantu Farrand ia urungkan begitu saja saat mendengar suara dengan nada
dingin itu. Sedangkan Madhiaz? Ia memilih diam saja dari pada nanti malah
menjadi sasaran empuk kemarahan Farrand.
"Dia sudah begitu dari tadi pagi." Suara bisikan dari Lingga
mengalihkan tiga pasang mata itu dari memandang kepergian Farrand. Kini
ketiganya menatap Lingga. Seolah bertanya 'apa maksudmu'.
Lingga mengedarkan pandangannya mencari sosok Farrand. Saat ia tak melihat Farrand,
yang mungkin sudah masuh kedalam toilet, ia kembali berbisik dengan intensitas
suara sedikit lebih keras. "Aku tadi beberapa kali kena marah. Padahal aku
merasa tak ada yang salah dengan ucapanku. Paman Arasya pun begitu. Ia sampai
tak betah dan pergi meninggalkan kami begitu saja."
Ketiganya menahan tawa, takut jika mereka mengeluarkan tawanya maka ruangan
itu menjadi berisik dan membuat Farrand curiga jika mereka sedang
membicarakannya.
"NADEEEEEEN....!!!!" ketiganya reflek menghentikan tawa
tertahannya dan menoleh kearah toilet. Dion yang cepat mengusai diri pun
langsung melesat menuju Farrand karena takut terjadi sesuatu pada gadis yang
masih ia cintai itu.
Madhiaz mendesah, disusul kemudian Nadeen yang menggelengkan kepalanya dan
kemudian berjalan pelan menuju toilet. Lingga yang melihatnya hanya mengernyit
heran dan bermaksud menyakan pada Madhiaz. Tapi sebelum ia membuka mulutnya...
"Aaaaaaaa...." Suara jeritan Farrand terdengar lagi, disusul suara
pukulan dan Dion yang terjungkal keluar sambil memegang pipinya. Entah apa yang
terjadi didalam, tapi yang pasti, Madhiaz dan Nadeen telah mengetahui sesuatu
hingga mereka bersikap santai-santai saja. Dan tanpa membantu Dion yang
terjungkal, Nadeen berjalan tenang memasuki bilik toilet.
Madhiaz kembali mengeluarkan suara tawa tertahannya dan membuat Lingga
semakin bingung. Andai saja ia bisa berjalan normal, tentulah ia akan kesana
dan mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Cklek.. srreekkkk.....
Suara pintu geser yang terbuka membuat Lingga menoleh, ia dapati Arasya berdiri
disana sambil menenteng sebuah kantong plastik yang tak ia ketahui apa isinya.
Ia bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dibawa Arasya. Dilihat dari
bentuknya, rotikah? Jika roti, bukankah mereka telah makan siang 1,5 jam yang
lalu?
"Kemana Farrand, Dhiaz?" Tanya Arasya. Ia bingung, melihat
ekspresi mereka bertiga yang terlihat tak biasa. Lingga dengan wajah
penasarannya, Dhiaz dengan wajahnya yang menahan tawa, dan Dion yang duduk
disofa dengan wajah memerahnya sambil sesekali mengusap pipinya yang sedikit
agak bengkak. Eh, tunggu. Dion? Pemuda itu ada disini? Bukankah yang ia tau Dion
dan putrinya telah mengakhiri hubungan mereka? Arasya fikir Dion tak akan berani
menemui putrinya lagi.
"Nadeen sedang bersamanya di toilet." Arasya hanya ber'oh' ria dan
beranjak menuju toilet sambil menenteng kantong plastik itu.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa, Dhiaz?" Lingga memberanikan bertanya pada Madhiaz.
Bagaimana tidak? Ia penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi. Mengapa
seakan mereka semua keluar zona normalnya?
Madhiaz tak segera menjawab. Ia hanya menunjuk kearah ranjang Farrand yang
terdapat beberapa bercak darah diatasnya.
"Wanita itu sedang dalam masa bulanannya." Tutur Madhiaz Saat
melihat Lingga yang terbengong.
Kini Lingga mengerti, wanita yang memakai ranjang rawat disampingnya itu
ternyata dalam masa periode bulanannya. Pantas saja ia dan paman Arasya selalu
kena marah meski hanya karena hal sepele. Madhiaz dan Nadeen pastilah sudah
mengetahui hal itu, mengingat sikap mereka berdua yang begitu santai. Dan Dion?
Pemuda itu pasti dipukul Farrand saat Dion kedalam tadi. Membayangkan Farrand
yang mendaratkan pukulan kewajah Dion membuatnya cukup puas. Setidaknya bukan
hanya dirinya yang menderita akibat ulah wanita yang dalam masanya itu. Lingga
pun menebak-nebak lagi, dan kali ini tentang barang yang dibawa oleh Arasya.
Melihat paman Arasya yang langsung menuju ke toilet, pastilah barang yang
dibawa paman Arasya adalah sesuatu yang 'sakral' untuk para wanita, yakni sebungkus
pembalut.
Selesai mengantar barang yang dipegangnya tadi, Arasya segera mendudukkan
dirinya disofa dan duduk bersebelahan dengan Dion. Meliriknya sebentar dan
melayangkan sebuah senyuman untuk Dion.
"Apa kabar, Dion. Tak kusangka kita bertemu lagi." Kata Arasya
sambil tersenyum.
"Baik, paman."
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Sesuatu hal telah terjadi, dan aku cukup malu untuk
menceritakannya."
Arasya terkekeh mendengarnya. Tak salah lagi, Arasya menebak pastilah hal
yang dialami Dion berhubungan dengan mood putrinya yang sedang buruk
itu.
"Kalian tunggulah, aku akan mencari minuman. Aku tak tau jika akan ada
banyak tamu yang datang menjenguk." Arasya beranjak kembali dan keluar
ruangan, bermaksud untuk membeli beberapa kaleng Minuman di kantin rumah sakit.
Setelah Arasya keluar, tawa Madhiaz meledak. Namun setelah itu terdiam
begitu saja saat melihat Nadeen melewatinya dan menuju keluar ruangan. Nadeen
bermaksud memanggil perawat dan meminta baju pasien yang bersih sebagai ganti
baju Farrand yang kotor.
Nadeen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi Farrand
saat didalam toilet tadi. Ia, yang dengan penampilan berantakannya memegangi
jarumnya lepas dari tangannya. Entah apa yang dilakukan sahabatnya itu hingga
jarum infus yang menancap erat di punggung tangannya itu terlepas begitu saja.
Mungkinkah jarum itu terlepas saat Farrand memukul Dion? Hm.. mungkin saja hal
itu bisa terjadi mengingat Dion sampai terjungkal begitu.
Setelah Farrand selesai mengganti bajunya, perawat yang mengikuti Nadeen pun
kembali ketempatnya bertugas. Wajah Farrand masih terlihat angker. Apalagi saat
melihat Dion yang duduk tertunduk disofa, wajah angkernya bertambah angker
saja.
"Kemana ayah." Ucap Farrand dengan nada ketus.
"Membeli minuman." Jawab Lingga.
Farrand mendengus. Mengambil ponsel pintarnya dan mengatukkan jari-jarinya
di atas layar selebar 5inch itu. Mereka masih setia dengan kediamannya karena
tak ada yang berani membuka mulut lagi. Sama seperti sebelumnya.
.
.
.
"Jadi..... bisa kalian jelaskan padaku apa yang telah terjadi?" Arasya
membuka percakapan. Didepannya, ada Farrand dan Lingga yang terduduk diranjang
inapnya masing-masing. Dan Madhiaz yang duduk dikursi samping kiri ranjang Lingga
dengan keadaan menunduk. Dion dan Nadeen telah pulang saat jam besuk berakhir
setengah jam yang lalu.
"Aku melihat pengemudi sil15 biru bergaris orange lengkap dengan
jubahnya dan penutup mulutnya." Bukan Lingga ataupun Madhiaz yang menjawab,
namun Farrand.
Arasya menatap putrinya itu dengan pandangan menyelidik menuntut jawaban
yang lebih banyak.
"Aku tau jika dia bukanlah yang asli. Awalnya tak ku hiraukan. Namun
melihat sikapnya yang begitu nakal kepada wanita, hatiku meradang. Ingin tak ku
pedulikan. Namun Lingga menantangnya balapan. Aku yang mencium ketidakberesan,
mengikuti mereka bersama Dhiaz. Dan benar. Mobil Lingga terguling. Aku
mengejarnya menggunakan mobil Dhiaz. Sementara Dhiaz menolong Lingga yang terjepit didalam mobilnya.
Dan.. ya.... setelahnya aku juga kecelakaan dengan menabrak pembatas
jalan." Farrand masih menunduk. Ia tak sanggup menatap mata ayahnya, dan
ia tak mungkin mengatakan jika pengemudi itu bukan ayahnya. Ada Lingga disana.
Dan ia tak ingin Lingga tau jika pengemudi yang dicarinya selama ini adalah
ayahnya.
__ADS_1
"Darimana kau tau jika pengemudi s15 itu akan datang malam itu?"
"Aku tau dari web balapan biasanya. Dia membuat pengumuman jika dia
pengemudi s15 yang dikabarkan hilang itu." Semua mata menoleh pada Madhiaz
yang tiba-tiba menjawab itu. Memang, dirinyalah yang secara tak langsung telah
memberi tau semuanya tentang kedatangan s15 itu.
"Lalu, kenapa Lingga juga ikut kesana?" Ucapan Arasya membuat Lingga
terhenyak. Ia mendongakkan wajahnya dan membuka mulutnya.
"Aku punya janji dengan pengemudi s15 biru itu. Bahwa jika aku
menemuinya lagi dengan kemampuan balapan yang mumpuni, aku akan menantangnya
dan jika aku menang aku akan merebut mobilnya." Jelas Lingga.
"Maka dari itu kau langsung mengajukan balapan tanpa tau jika dia benar
yang asli atau tidak?" Potong Arasya.
"Ya, paman. Tapi sebenarnya aku sedikit ragu dengannya. Aku merasa jika
dia bukanlah orang yang kutemui dulu. Dan begitu pula dengan beberapa waktu
yang lalu."
"Apa maksudmu dengan beberapa waktu yang lalu?" Arasya menoleh ke
arah Farrand. Dan yang ditoleh hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia faham yang
dimaksud Lingga tentang beberapa waktu lalu. Yang ditemui Lingga waktu itu
kemungkinan besar adalah putrinya yang balapan pertama kali menggunakan s15nya
untuk mencari biaya pengobatan dirinya.
"Beberapa waktu yang lalu aku balapan dengan s15 dibukit Falenca. Tapi
kurasa yang kutemui saat itu bukanlah yang kutemui dulu."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Feeling. Mungkin." Arasya menghembus nafas dan memejamkan
matanya. Ia tak boleh berdiam diri untuk saat ini. Jika melihat kejadian yang
menimpa putrinya, pastilah pengemudi yang muncul itu bukan pengemudi baik2.
Putrinya memang tak ahli dalam mengemudi. Namun untuk kecelakaan? Ia yakin
putrinya mengalami sesuatu hal yang membuatnya menabrak pembatas jalan.
Keheningan menyergap mereka setelah itu. Tak ada yang bersuara lagi. Mereka
terlalu larut pada pemikirannya masing-masing hingga enggan untuk mengeluarkan
suaranya. Tak lama setelah itu Arasya keluar dan mengirim pesan singkat pada Madhiaz.
Tentunya tanpa diketahui oleh dua orang yg terbaring di ranjang inap itu.
.
.
.
Arasya menunggu di depan kap mobilnya. Ia telah berada dipuncak bukit Falenca
sejak lima menit yang lalu. Terlalu awal 10 dari jam yang ia katakan kepada Madhiaz.
Tapi itu memang keinginannya. Ia akan menemui pengendara s15 palsu itu. Ia,
meminta Madhiaz untuk mendeklarasikan kedatangannya. Bermaksud untuk
memancingnya datang. Tentu saja. Yang ia layangkan adalah pesan pribadi kepada
pemilik akun yang kemarin memberi pengumuman itu. Ia ingin tau. Siapa
sebenarnya orang dibalik jubah yang sama dengannya itu. Memang, hal ini sengaja
ia sembunyikan dari Farrand dan Lingga. Jika mereka tau, pastilah mereka akan
memaksa datang dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik itu.
Ia sengaja datang sendiri. Biarlah ia yang akan menanggung beberapa resiko
nanti. Jika pengemudi itu memang orang yang berbahaya, ia akan mengambil resiko
terburuk. Dan menyiapkan beberapa hal jika itu terjadi.
Suasana sepi masih menyelimutinya. Disaat seperti ini, ia teringat akan
dirinya dulu. Dirinya yang selalu terjun kearena balap bersama dengan Janitra-istrinya-
disampingnya. Ia yang semasa mudanya banyak memiliki teman seperjuangan yang
memiliki misi sama sepertinya. Kini, semua telah memiliki kehidupan
masing-masing yang jauh dari jalur balapan.
Mengingat teman-temannya, ah, ia jadi tersenyum kecil saat bayangan teman
berwajah datarnya menghampiri memorinya. Ia ingat, temannya itu selalu berwajah
dingin dan kaku serta punya kepribadian yang keras. Entah bagaimana ceritanya
hingga ia berhasil menikah lebih dahulu dibandingkan dengan dirinya.
Seingatnya, temannya itu punya dua orang putra, dan ia pernah berkata bahwa
suatu saat mereka akan berbesan. Ah, Sudah lama ia tak menemuinya. Bahkan saat
mereka berada dikota yang sama pun mereka jarang bertemu.
Lain dengan teman berwajah datarnya itu, lain pula dengan rivalnya. Rival di
jalanan dan juga rival dalam asmara. Ya.. rival yang selalu mencoba mencuri
perhatian Janitra dan sayangnya Janitra hanya menempel padanya. Menyebabkan
rivalnya itu selalu menantangnya dalam keadaan apapun. Entah dimana dia
sekarang. Apa dia sudah menemukan pengganti Janitranya? Atau masih setia dan
tak pernah melupakannya?
Brrrmmmmm.....
Suara deru mesin menghentikan lamunannya tentang masa mudanya itu. Ia menoleh,
dari arah kanannya muncul mobil yang serupa dengannya. Serupa dan sama persis.
Hanya plat nomor yang membedakannya. Ia yakin. Orang inilah yang dimaksud oleh
putrinya. Orang yang menyebabkan kecelakaan yang dialami putrinya dan Lingga.
Pengemudi yang baru datang itu langsung keluar begitu saja sesaat setelah
menghentikan laju mobilnya. Ia menghampiri Arasya dengan tergesa. Dan setelah
ia berhadapan dengan Arasya, ia tersenyum dibalik masker yang ia pakai. Ia
sendirian. Tak ada wanita yang ikut bersamanya seperti saat ia datang kemarin.
"Lama tak jumpa, teman lamaku. Suka dengan kejutanku?" Ucapnya
__ADS_1
saat ia telah berhadapan dengan Arasya.
tbc