Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 15


__ADS_3

Suasana hening masih mencekam diruang inap Farrand-Lingga. Tak ada yang


berani membuka percakapan. Dion dan Dhiaz, yang mengambil tempat duduk


disamping kiri ranjang Farrand, dan Nadeen, yang duduk disamping kanan ranjang Lingga.


Entah mengapa, masing-masing dari mereka hanya bisa mengatupkan mulutnya


rapat-rapat dan taka da yang berani membuka percakapan barang sepatah atau dua


patah kata.


Huh......


Farrand menghembus nafas kasar. Suasana hatinya saat ini sedang buruk, dan


kehadiran ketiga orang diruangannya itu kini menambah buruk saja.


"Jika kalian disini hanya untuk menumpang duduk. Enyahlah. Aku tak


butuh pajangan tambahan ikamar ini. Mengganggu pandanganku saja." Farrand


mendengus kasar. Ia sungguh tak suka suasana ini. Suasana yang tenang memang


sangat ia sukai, namun tidak dengan suasana ini.


Dion mensidekapkan tangannya sambil terpejam. Ia bingung. Kata-kata yang


sudah ia susun saat perjalanan kesini serasa menguap dan hilang tak berbekas.


Ingin ia memecah kesunyian dan menanyakan keadaan si wanita yang pernah berada


di hatinya. Namun bibirnya terasa kelu, tertutup rapat dan mengunci seluruh


suara yang akan ia keluarkan. Ingin menanyakan kabar pun, pasti akan ada yang


menjawab dengan ketus jika keadaan Farrand bisa dilihat dengan mata kepalanya


sendiri.


"Aku akan ketoilet." Farrand menggerakkan kakinya dan berusaha


untuk duduk ditepi ranjang. Tangan kokoh Madhiaz terulur untuk membantunya. Namun


sepertinya ia kalah cepat. Tangan Dion telah lebih dulu menangkap pergerakan Farrand.


"Biar kuantar." Kata Dion.


Wajah Farrand memerah. Tangan kanannya yang memegang tiang gantungan infus


terkepal erat. Tidak mengertikah Dion? Dia ingin ketoilet, dan Dion ingin


mengantarnya? Tidak salah dengarkah ia? Dia itu perempuan, dan Dion laki-laki.


Ada batasan yang tak ingin Farrand langgar dalam hal ini.


"Aku bisa sendiri." Ucap Farrand kemudian setelah menepis uluran


tangan Dion padanya.


Dion tak bisa melanjutkan lagi. Lidahnya terlalu kelu, bahkan keinginannya


membantu Farrand ia urungkan begitu saja saat mendengar suara dengan nada


dingin itu. Sedangkan Madhiaz? Ia memilih diam saja dari pada nanti malah


menjadi sasaran empuk kemarahan Farrand.


"Dia sudah begitu dari tadi pagi." Suara bisikan dari Lingga


mengalihkan tiga pasang mata itu dari memandang kepergian Farrand. Kini


ketiganya menatap Lingga. Seolah bertanya 'apa maksudmu'.


Lingga mengedarkan pandangannya mencari sosok Farrand. Saat ia tak melihat Farrand,


yang mungkin sudah masuh kedalam toilet, ia kembali berbisik dengan intensitas


suara sedikit lebih keras. "Aku tadi beberapa kali kena marah. Padahal aku


merasa tak ada yang salah dengan ucapanku. Paman Arasya pun begitu. Ia sampai


tak betah dan pergi meninggalkan kami begitu saja."


Ketiganya menahan tawa, takut jika mereka mengeluarkan tawanya maka ruangan


itu menjadi berisik dan membuat Farrand curiga jika mereka sedang


membicarakannya.


"NADEEEEEEN....!!!!" ketiganya reflek menghentikan tawa


tertahannya dan menoleh kearah toilet. Dion yang cepat mengusai diri pun


langsung melesat menuju Farrand karena takut terjadi sesuatu pada gadis yang


masih ia cintai itu.


Madhiaz mendesah, disusul kemudian Nadeen yang menggelengkan kepalanya dan


kemudian berjalan pelan menuju toilet. Lingga yang melihatnya hanya mengernyit


heran dan bermaksud menyakan pada Madhiaz. Tapi sebelum ia membuka mulutnya...


"Aaaaaaaa...." Suara jeritan Farrand terdengar lagi, disusul suara


pukulan dan Dion yang terjungkal keluar sambil memegang pipinya. Entah apa yang


terjadi didalam, tapi yang pasti, Madhiaz dan Nadeen telah mengetahui sesuatu


hingga mereka bersikap santai-santai saja. Dan tanpa membantu Dion yang


terjungkal, Nadeen berjalan tenang memasuki bilik toilet.


Madhiaz kembali mengeluarkan suara tawa tertahannya dan membuat Lingga


semakin bingung. Andai saja ia bisa berjalan normal, tentulah ia akan kesana


dan mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Cklek.. srreekkkk.....


Suara pintu geser yang terbuka membuat Lingga menoleh, ia dapati Arasya berdiri


disana sambil menenteng sebuah kantong plastik yang tak ia ketahui apa isinya.


Ia bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang dibawa Arasya. Dilihat dari


bentuknya, rotikah? Jika roti, bukankah mereka telah makan siang 1,5 jam yang


lalu?


"Kemana Farrand, Dhiaz?" Tanya Arasya. Ia bingung, melihat


ekspresi mereka bertiga yang terlihat tak biasa. Lingga dengan wajah


penasarannya, Dhiaz dengan wajahnya yang menahan tawa, dan Dion yang duduk


disofa dengan wajah memerahnya sambil sesekali mengusap pipinya yang sedikit


agak bengkak. Eh, tunggu. Dion? Pemuda itu ada disini? Bukankah yang ia tau Dion


dan putrinya telah mengakhiri hubungan mereka? Arasya fikir Dion tak akan berani


menemui putrinya lagi.


"Nadeen sedang bersamanya di toilet." Arasya hanya ber'oh' ria dan


beranjak menuju toilet sambil menenteng kantong plastik itu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa, Dhiaz?" Lingga memberanikan bertanya pada Madhiaz.


Bagaimana tidak? Ia penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi. Mengapa


seakan mereka semua keluar zona normalnya?


Madhiaz tak segera menjawab. Ia hanya menunjuk kearah ranjang Farrand yang


terdapat beberapa bercak darah diatasnya.


"Wanita itu sedang dalam masa bulanannya." Tutur Madhiaz Saat


melihat Lingga yang terbengong.


Kini Lingga mengerti, wanita yang memakai ranjang rawat disampingnya itu


ternyata dalam masa periode bulanannya. Pantas saja ia dan paman Arasya selalu


kena marah meski hanya karena hal sepele. Madhiaz dan Nadeen pastilah sudah


mengetahui hal itu, mengingat sikap mereka berdua yang begitu santai. Dan Dion?


Pemuda itu pasti dipukul Farrand saat Dion kedalam tadi. Membayangkan Farrand


yang mendaratkan pukulan kewajah Dion membuatnya cukup puas. Setidaknya bukan


hanya dirinya yang menderita akibat ulah wanita yang dalam masanya itu. Lingga


pun menebak-nebak lagi, dan kali ini tentang barang yang dibawa oleh Arasya.


Melihat paman Arasya yang langsung menuju ke toilet, pastilah barang yang


dibawa paman Arasya adalah sesuatu yang 'sakral' untuk para wanita, yakni sebungkus


pembalut.


Selesai mengantar barang yang dipegangnya tadi, Arasya segera mendudukkan


dirinya disofa dan duduk bersebelahan dengan Dion. Meliriknya sebentar dan


melayangkan sebuah senyuman untuk Dion.


"Apa kabar, Dion. Tak kusangka kita bertemu lagi." Kata Arasya


sambil tersenyum.


"Baik, paman."


"Ada apa dengan wajahmu?"


"Sesuatu hal telah terjadi, dan aku cukup malu untuk


menceritakannya."


Arasya terkekeh mendengarnya. Tak salah lagi, Arasya menebak pastilah hal


yang dialami Dion berhubungan dengan mood putrinya yang sedang buruk


itu.


"Kalian tunggulah, aku akan mencari minuman. Aku tak tau jika akan ada


banyak tamu yang datang menjenguk." Arasya beranjak kembali dan keluar


ruangan, bermaksud untuk membeli beberapa kaleng Minuman di kantin rumah sakit.


Setelah Arasya keluar, tawa Madhiaz meledak. Namun setelah itu terdiam


begitu saja saat melihat Nadeen melewatinya dan menuju keluar ruangan. Nadeen


bermaksud memanggil perawat dan meminta baju pasien yang bersih sebagai ganti


baju Farrand yang kotor.


Nadeen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi Farrand


saat didalam toilet tadi. Ia, yang dengan penampilan berantakannya memegangi


jarumnya lepas dari tangannya. Entah apa yang dilakukan sahabatnya itu hingga


jarum infus yang menancap erat di punggung tangannya itu terlepas begitu saja.


Mungkinkah jarum itu terlepas saat Farrand memukul Dion? Hm.. mungkin saja hal


itu bisa terjadi mengingat Dion sampai terjungkal begitu.


Setelah Farrand selesai mengganti bajunya, perawat yang mengikuti Nadeen pun


kembali ketempatnya bertugas. Wajah Farrand masih terlihat angker. Apalagi saat


melihat Dion yang duduk tertunduk disofa, wajah angkernya bertambah angker


saja.


"Kemana ayah." Ucap Farrand dengan nada ketus.


"Membeli minuman." Jawab Lingga.


Farrand mendengus. Mengambil ponsel pintarnya dan mengatukkan jari-jarinya


di atas layar selebar 5inch itu. Mereka masih setia dengan kediamannya karena


tak ada yang berani membuka mulut lagi. Sama seperti sebelumnya.


.


.


.


"Jadi..... bisa kalian jelaskan padaku apa yang telah terjadi?" Arasya


membuka percakapan. Didepannya, ada Farrand dan Lingga yang terduduk diranjang


inapnya masing-masing. Dan Madhiaz yang duduk dikursi samping kiri ranjang Lingga


dengan keadaan menunduk. Dion dan Nadeen telah pulang saat jam besuk berakhir


setengah jam yang lalu.


"Aku melihat pengemudi sil15 biru bergaris orange lengkap dengan


jubahnya dan penutup mulutnya." Bukan Lingga ataupun Madhiaz yang menjawab,


namun Farrand.


Arasya menatap putrinya itu dengan pandangan menyelidik menuntut jawaban


yang lebih banyak.


"Aku tau jika dia bukanlah yang asli. Awalnya tak ku hiraukan. Namun


melihat sikapnya yang begitu nakal kepada wanita, hatiku meradang. Ingin tak ku


pedulikan. Namun Lingga menantangnya balapan. Aku yang mencium ketidakberesan,


mengikuti mereka bersama Dhiaz. Dan benar. Mobil Lingga terguling. Aku


mengejarnya menggunakan mobil Dhiaz. Sementara Dhiaz  menolong Lingga yang terjepit didalam mobilnya.


Dan.. ya.... setelahnya aku juga kecelakaan dengan menabrak pembatas


jalan." Farrand masih menunduk. Ia tak sanggup menatap mata ayahnya, dan


ia tak mungkin mengatakan jika pengemudi itu bukan ayahnya. Ada Lingga disana.


Dan ia tak ingin Lingga tau jika pengemudi yang dicarinya selama ini adalah


ayahnya.

__ADS_1


"Darimana kau tau jika pengemudi s15 itu akan datang malam itu?"


"Aku tau dari web balapan biasanya. Dia membuat pengumuman jika dia


pengemudi s15 yang dikabarkan hilang itu." Semua mata menoleh pada Madhiaz


yang tiba-tiba menjawab itu. Memang, dirinyalah yang secara tak langsung telah


memberi tau semuanya tentang kedatangan s15 itu.


"Lalu, kenapa Lingga juga ikut kesana?" Ucapan Arasya membuat Lingga


terhenyak. Ia mendongakkan wajahnya dan membuka mulutnya.


"Aku punya janji dengan pengemudi s15 biru itu. Bahwa jika aku


menemuinya lagi dengan kemampuan balapan yang mumpuni, aku akan menantangnya


dan jika aku menang aku akan merebut mobilnya." Jelas Lingga.


"Maka dari itu kau langsung mengajukan balapan tanpa tau jika dia benar


yang asli atau tidak?" Potong Arasya.


"Ya, paman. Tapi sebenarnya aku sedikit ragu dengannya. Aku merasa jika


dia bukanlah orang yang kutemui dulu. Dan begitu pula dengan beberapa waktu


yang lalu."


"Apa maksudmu dengan beberapa waktu yang lalu?" Arasya menoleh ke


arah Farrand. Dan yang ditoleh hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia faham yang


dimaksud Lingga tentang beberapa waktu lalu. Yang ditemui Lingga waktu itu


kemungkinan besar adalah putrinya yang balapan pertama kali menggunakan s15nya


untuk mencari biaya pengobatan dirinya.


"Beberapa waktu yang lalu aku balapan dengan s15 dibukit Falenca. Tapi


kurasa yang kutemui saat itu bukanlah yang kutemui dulu."


"Bagaimana kau bisa yakin?"


"Feeling. Mungkin." Arasya menghembus nafas dan memejamkan


matanya. Ia tak boleh berdiam diri untuk saat ini. Jika melihat kejadian yang


menimpa putrinya, pastilah pengemudi yang muncul itu bukan pengemudi baik2.


Putrinya memang tak ahli dalam mengemudi. Namun untuk kecelakaan? Ia yakin


putrinya mengalami sesuatu hal yang membuatnya menabrak pembatas jalan.


Keheningan menyergap mereka setelah itu. Tak ada yang bersuara lagi. Mereka


terlalu larut pada pemikirannya masing-masing hingga enggan untuk mengeluarkan


suaranya. Tak lama setelah itu Arasya keluar dan mengirim pesan singkat pada Madhiaz.


Tentunya tanpa diketahui oleh dua orang yg terbaring di ranjang inap itu.


.


.


.


Arasya menunggu di depan kap mobilnya. Ia telah berada dipuncak bukit Falenca


sejak lima menit yang lalu. Terlalu awal 10 dari jam yang ia katakan kepada Madhiaz.


Tapi itu memang keinginannya. Ia akan menemui pengendara s15 palsu itu. Ia,


meminta Madhiaz untuk mendeklarasikan kedatangannya. Bermaksud untuk


memancingnya datang. Tentu saja. Yang ia layangkan adalah pesan pribadi kepada


pemilik akun yang kemarin memberi pengumuman itu. Ia ingin tau. Siapa


sebenarnya orang dibalik jubah yang sama dengannya itu. Memang, hal ini sengaja


ia sembunyikan dari Farrand dan Lingga. Jika mereka tau, pastilah mereka akan


memaksa datang dengan kondisi yang tidak bisa dikatakan baik itu.


Ia sengaja datang sendiri. Biarlah ia yang akan menanggung beberapa resiko


nanti. Jika pengemudi itu memang orang yang berbahaya, ia akan mengambil resiko


terburuk. Dan menyiapkan beberapa hal jika itu terjadi.


Suasana sepi masih menyelimutinya. Disaat seperti ini, ia teringat akan


dirinya dulu. Dirinya yang selalu terjun kearena balap bersama dengan Janitra-istrinya-


disampingnya. Ia yang semasa mudanya banyak memiliki teman seperjuangan yang


memiliki misi sama sepertinya. Kini, semua telah memiliki kehidupan


masing-masing yang jauh dari jalur balapan.


Mengingat teman-temannya, ah, ia jadi tersenyum kecil saat bayangan teman


berwajah datarnya menghampiri memorinya. Ia ingat, temannya itu selalu berwajah


dingin dan kaku serta punya kepribadian yang keras. Entah bagaimana ceritanya


hingga ia berhasil menikah lebih dahulu dibandingkan dengan dirinya.


Seingatnya, temannya itu punya dua orang putra, dan ia pernah berkata bahwa


suatu saat mereka akan berbesan. Ah, Sudah lama ia tak menemuinya. Bahkan saat


mereka berada dikota yang sama pun mereka jarang bertemu.


Lain dengan teman berwajah datarnya itu, lain pula dengan rivalnya. Rival di


jalanan dan juga rival dalam asmara. Ya.. rival yang selalu mencoba mencuri


perhatian Janitra dan sayangnya Janitra hanya menempel padanya. Menyebabkan


rivalnya itu selalu menantangnya dalam keadaan apapun. Entah dimana dia


sekarang. Apa dia sudah menemukan pengganti Janitranya? Atau masih setia dan


tak pernah melupakannya?


Brrrmmmmm.....


Suara deru mesin menghentikan lamunannya tentang masa mudanya itu. Ia menoleh,


dari arah kanannya muncul mobil yang serupa dengannya. Serupa dan sama persis.


Hanya plat nomor yang membedakannya. Ia yakin. Orang inilah yang dimaksud oleh


putrinya. Orang yang menyebabkan kecelakaan yang dialami putrinya dan Lingga.


Pengemudi yang baru datang itu langsung keluar begitu saja sesaat setelah


menghentikan laju mobilnya. Ia menghampiri Arasya dengan tergesa. Dan setelah


ia berhadapan dengan Arasya, ia tersenyum dibalik masker yang ia pakai. Ia


sendirian. Tak ada wanita yang ikut bersamanya seperti saat ia datang kemarin.


"Lama tak jumpa, teman lamaku. Suka dengan kejutanku?" Ucapnya

__ADS_1


saat ia telah berhadapan dengan Arasya.


tbc


__ADS_2