
Lingga telah sampai dikaki bukit dan masih ada waktu untuk
menunggu Nadeen sampai. Biarlah ia
menunggu, setidaknya ia bisa curi-curi kesempatan berdua
dengan Farrand dengan alibi mengajarinya. Hueks... trik lama sekali. Apakah Lingga sama sekali tidak bisa
memikirkn trik lainnya untuk mengejar Farrand? Ah, mungkin kalian lupa jika
sebelum ini Lingga tak pernah menjalin kisah dengan makhluk yang bernama wanita
selain ibunya. Tapi sudahlah, mau itu trik lama atau baru,
setidaknya ia ingin mencobanya bukan? Lagipula Farrand sudah putus dengan kekasihnya dan peluang itu
bisa ia dapat dengan perlahan. Dan untuk permulaan, ia bisa membuat Farrand
terpesona dengan keahliannya menyetir. Hey, Nadeen saja bisa terpesona dan
memintanya untuk mengajarinya. Mengapa tidak dengan Farrand? Bisa saja kan Farrand
se tipe dengan Nadeen?Bukankah
biasanya sepasang sahabat itu memiliki beberapa kemiripan satu sama lain?
"Ehm.. Lingga. Aku tak
punya uang loh untuk membayarmu seperti yang Nadeen lakukan."ucap Farrand.
"Kau bisa membayarku dengan sekotak bekalsetiap hari." Sebuah senyuman mangkir di bibir kemerahan Lingga.
Ia bisa menjawab dengan lancar tentunya karena jauh-jauh waktu ia sudah
memikirkan hal ini.
"Benarkah??? Tapi masakanku tak enak. Jika kau
sakit perut bagaimana?" Farrand menunduk. Ia takut jika Lingga tak
menyukai rasa masakannya. Meski ia telah memasak setiap hari dan setiap kali mencicipi masakannya ia tak
menemukan kesalahan dalam rasanya, ia masih merasa tak
percaya diri dengannya.
"Kau pernah memberikanku bekal buatanmu kan?
Selama rasanya masih seperti itu kurasa tak masalah." Farrand mengangguk.
Setidaknya sekotak bekal makan
siangtak kan menguras dompetnya terlalu dalam.
"Tapi bagaimana jika tidak setiap hari. Kau tau, aku
harus menghemat untuk biaya pengobatan ayahku. Dan aku juga tak bisa
membuatkanmu menu mewah." Lingga melirik Farrand dengan ekor matanya. Ada
rasa sesak dalam ucapannyadan
Lingga sangat mengerti hal itu. Sebenarnya ia tak ingin memaksa, tapi mau bagaimana
lagi? Jika ia berikan Cuma-Cuma, bukankah malah menunjukkan jika ada maksud
tersembunyi darinya?
'Ah, kurasa tak
masalah asal aku bisa memakan bekal buatannya lagi.' Batin Lingga.
"No problem."katanya kemudian.
Mata Farrand berbinar senang dan ia mengangguk cepat. Ia tak menyangka jika Lingga sangat mudah dinego. Ah, tak tau saja
Farrand jika Lingga hanya modus.
"Sekarang perhatikan baik-baik. Aku akan mulai melakukan drifting dari sini." Lingga memulai mode seriusnya.
"Dimulai dari menanjak?"
"Ya."
"Tak khawatir roda cepat aus?"
"Aku bisa menghematnya dengan mengurangi kecepatannya."
"Tapi jika kau balapan dan lawanmu lebih cepat?"
"Itu urusan nanti. Hey, mengapa seakan-akan kau
yang mau mengajariku?"
"Ups... maafkan aku. Aku terlalu
bersemangat." Farrand tertawa kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak
gatal. Kebiasaannya saat ia dalan kondisi grogi.
"Tak masalah. Mulai ini perhatikan baik-baik." Lingga
mulai menginjak pedal gas agak dalam. Tangan kiri Farrand mencari pegangan dan
matanya dengan jeli memperhatikan betapa cekatannya tangan dan kaki Lingga
melakukan kombinasi drift empat roda. Meski tak bisa dikatakan sempurna, tapi ia cukup puas melihat Lingga
melakukannya Sedetik ia kagum. Tenaga GT-R tak bisa ia
sepelekan begitu saja. Namun ketika sampai di puncak. Perutnya mulai terasa melilit. Ia tak
tahan ingin segera mengeluarkan isi perutnya. Lingga membuatnya kagum sesaat
dan menghempaskannya
begitu setelah ia terpesona. Ia akui, cara mengemudi Lingga yang masih sedikit
kasar membuatnya mabuk kendaraan.
Huek........ Huek.....
Farrand memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi air itu
setelah Lingga menepikan mobilnya. Lingga tak habis fikir. Sebegitu kasarnya
kah ia mengemudi hingga wanita yang ia suka itu mabuk kendaraan seperti ini?Ah, mungkin setelah ini ia harus belajar dan
menghabiskan bensin lebih banyak lagi agar skill mengemudinya lebih baik dari
sekarang. Atau jika tidak ia bisa membuat Farrand mati lemas ditengah jalan
akibat mabuk darat.
Hahhhhh......
Farrand mengusap bibirnya dengan menggunakan punggung
tangannya. Ia lemas. Setelah seharian perutnya tak terisi makanan, kini minuman
yang ia minum tadi dikeluarkan paksa dari perutnya.Sungguh! Ia merasa jika hari ini teramat berat
untuk pencernaannya. Ia tak menyangka sama sekali jika patah hati bisa membuat
orang bisa menjadi sedemikian rupa. Ia bahkan tak menyangkal jika ada orang
patah hati yang berakhir masuk dirumah sakit.
"Ini, minumlah." Lingga menghampirinya dan
menyodorkan sebotol air mineral yang selalu ia siapkan dilaci mobil.Jaga-jaga jika ada masa dimana ia kehausan.
Dan ternyata hal itu berguna disaat seperti ini.
"Thanks,
Ling." Ucap Farrand. Ia
mengambil botol minuman itu dan menenggaknya rakus. Perutnya yang terasa
sedikit perih membuatnya sedikit mengernyitkan wajahnya.Sepertnya saat ini lambungnya mulai memberi
respon atas mogok makannya seharian ini. Dan ia sungguh berharap jika dirinya
tak sampai mengalami infeksi lambung karenanya.
"Kau kenapa?" Tanya Lingga.
"Perutku terasa perih."
"Kau sudah makan?"
Farrand menggeleng pelan. Badannya terasa sedikit gemetar
karena lapar.Ia bahkan merasa
sedikit tak berkonsentrasi atas apa yang di alaminya tadi.
"Apa patah hati bisa membuat orang menjadi begitu idiot,
hingga makan pun sampai dilupakan?"
Farrand mendengus, idiot katanya?Hey, apa Lingga tidak merasa jika kata-kata
itu terdengar sedikit kasar? Tidak bisakah ia memakai bahasa yang sedikit lebih
halus?
"Hey..... Tak bisakah kau berbaik hati sedikit dengan tidak mengeluarkan
kata-kata pedas seperti itu?"Protes Farrand
Ups...niat Lingga ingin memberi
perhatian kepada Farrand, apalah daya mulut pedasnya susah dikendalikan dan
berbuntut tersinggungnya hati Farrand.
"Hehehe..sorry... aku hanya asal menebak tadi. Melihat yang
kau muntahkan hanya air. Aku menarik kesimpulan kau tidak makan sedari
siang." Lingga tersenyum kikuk. Tapi syukurlah. Kemarahan Farrand akibat
salah bicaranya tak berlarut-larutseperti yang ada dalam benaknya.
"Aku memang tak makan, dari tadi pagi."
"What?"
"Aku tak makan dari pagi. Ling-ga..." Farrand jengkel.
'Selain bermulut pedas, ternyata ia juga punya telinga yang
sedikit bolot' batin Farrand.
Otak Lingga blank seketika. Tak menyangka jika niatnya pamer
akan pupus begitu saja. "Aku akan menelpon Nadeen. Mungkin nanti dia bisa
membelikanmu beberapa bungkus roti di minimarket 24 jam dan membawakannya kesini. Kau tau bukan, tak aka nada restoran dengan
makanan enak yang buka di jam segini" Putusnya
kemudian.
"Thank
you. Lingga." Farrand tersenyum. Seulas senyum
tipis bertengger dibibirnya. Dan hal itu membuat pipi Lingga terjalari rona
merah. Farrand tak menyadari itu. Bersyukur saja temaramnya lampu malam mampu
menyamarkan rona pipi Lingga.
.
.
.
Dikamar inap Arasya, setelah kepergian ayah Diondan kedatangan Madhiaz..
"Dhiaz. Kurasa tugasmu sekarang hanya mengawasi Farrand."
__ADS_1
"Memangnya kenapa, paman?”
"Yogatelah menyerahkan kembali perusahaanku." Madhiaz menatap Arasya
dengan pandangan yang seolah menuntut jawaban. Ia memang sedikit mendengar perbincangan mereka berdua. Tapi sama sekali tak tau apa maksudnya.
"Aku tak mengerti. Paman."
"Yogatak menyetujui hibungan Farrand dan Dion. Maka dari itu dia berusaha
memisahkan mereka. Dia pula yang berulang kali mengganggu ku."
"Apa dia juga yang melakukannya kemarin?"
"Bukan dia. Tapi orang suruhannya." Gigi Madhiaz
gemeretak menahan emosi. Ia tak menyangka jika ada orang yang begitu keji
seperti itu.
"Kau tau jika mereka telah bertemu?" Madhiaz
mengangguk. Ia bahkan tau jika mereka berdua bertengkar dan memilih untuk mengakhiri kisah mereka
berdua.
"Dion pindah kesekolah kami." Arasya menatap Madhiaz.
Ia tak tau jika Dion dan Farrand sekarang satu sekolah. Seingatnya Farrand tak
menceritakannya. Atau mungkin, belum.Mengingat putrinya yang selalu bercerita padanya tentang apa di
alaminya. Ia yakin cepat atau lambat putrinya akan memberitahunya akan hal itu.
"Tapi seperti yang pamankatakan. Mereka
telah berpisah."
"Seingatku cinta Farrand begitu besar padanya. Tapi
mengapa mereka memutuskan berpisah?"
“ Ceritanya panjang,
paman"
"Dan aku punya banyak waktu untuk mendengarkan, Dhiaz."
Madhiaz menghela nafas. Tak ayah tak anak. Mereka sama-sama
punya kepala yang keras dengan
pendirian yang tak mudah untuk di ubah semudah membalik telapak tangan. Kemauan mereka seteguh
batu karang, jika sudah memutuskan sesuatu, maka sesuatu itu harus berjalan
sesuai keinginannya. Mungkin benar tentang pepatah yang
mengatakan jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya.Sifat keras Arasya, ia turunkan pada putrinya.
"semua
seakan terjadi dan berlalu begitu cepat hingga aku tak bisa mengingat setiap
detail yang terjadi. Maaf paman, aku hanya bisa menceritakan padamu kisah yang
begitu singkat saja. Mereka bertemu saat ada balapan di
kota. Sehari sebelum Dion pindah ke sekolah kami. Farrand yang saat itu di ajak
Nadeen melihat balapan pun mau tak mau terpaksa ikut dan bertemu Dion. Mereka
kembali dekat. Dan esoknya mereka dekat saat bertemu disekolah. Dan malamnya,
dihari saat penyerangan anda. Farrand ikut balapan untuk pertama kalinya."
"Tunggu." Arasya menginterupsi. "Kau bilang Farrand
ikut balapan untuk pertama kali? Dengan S15 kesayanganku itu?" Madhiaz hanya bisa
mengangguk. Sungguh, andaipun Arashya marah dan memukulnya saat ini, ia akan terima begitu saja.Ia akan memaklumi hal itu, mengingat bagaimana
Arasya begitu menyayangi mobil itu bahkan melebihi apapun yang ia tau selama
ini. Tapi entah, jika ia dintanya tentang apa yang akan Arash pilih jika
pilihan tu antara mobilnya atau anaknya, ia tak tau. Ia belum melihat sendiri
hati Arash akan berat ke bagian mana.
"Untuk apa dia ikut, Dhiaz? Bukankah aku memintamu untuk
mencegahnya ikut balapan bagaimanapun caranya? Kau tau jika pengalaman mengemudinya sangat
sedikit dan caranya agak sedikit kasar dengan pengetahuan yang sedikit itu bisa
membahayakannya bukan?"
Dhiaz menunduk, Ia sangat tahu akan
hal itu sejak lama. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan ia tak
bisa mencegah apalagi mengembalikan semuanya.
"Maafkan aku, paman. Farrand
bilang dia terpaksa ikut. Hadiahnya lumayan untuk membayar administrasi rumah
sakit." Madhiaz menunduk. Ia merutuki mulutnya yang telah membocorkan
keadaan Farrand saat itu.
Arashya dan Madhiaz sama-sama terdiam.
Sejujurnya, di dalam hati Arash, ia menyimpan sedikit sesal dan rasa bersalah
pada putrinya. Andai saja ia tak seperti ini dan memiliki kekuatan lebih,
putrinya pasti tak akan melangkah sejauh itu.
"Tidak, Dhiaz. Ini bukan salahmu. Bagaimanapun juga aku
pun ikut andil dalam masalah ini. Jika saja aku memiliki cukup tabungan. Farrand
tak kan senekat itu ikut balapan." Arasya menghembuskan nafas kasar dan
menyadari keadaannya. Bagaimanapun juga, ia juga merasa ikut andil dalam
"Lalu bagaimana hasilnya?" Tambahnya.
"Farrand menang. Dengan sedikit melecetkan mobil kesayangan anda tentu saja. Entah bagaimana cara dia mengemudi. Yang jelas ia bisa mengalahkan Lingga
dengan GT-R nya dan Dion dengan
Agera nya." Madhiaz terkekeh kecil. Ia masih bingung
dan tak habis fikir, bagaimana cara Farrand menang dalam balapan kemaren.
Seingatnya Lingga dan Dion bukan lawan yang mudah dikalahkan. Apalagi oleh Farrand yang masih
pemula dalam hal itu.Dilihat dari
segi manapun, Farrand masih kalan pengalaman dengan para pesaingnya. Tapi yang
dilupakan oleh Dhiaz adalah, Farrand putri Arash. Dan kemampuan bisa diturunkan
dengan mudah.
"Lingga?"
"Iya, paman. Lingga Pranaja. Pemuda pindahan
dari Halu, namun sepak terjangnya didunia balap malam berhasil menggeser para
jawara Falen."
Arasya tersenyum mendengar hal itu. Ia tak menyangka jika dia
akan bertemu Lingga secepat ini.
"Berarti Lingga dan Farrand kemungkinan bertemu di arena
balap?" Tanyanya kemudian.
"Kemungkinan sekali, paman. Memangnya ada apa dengan hal itu?”
"ah, tidak. Tidak ada, Dhiaz.
Hanya saja.... entah mengapa aku sedikit gembira."
Madhiaz mengernyit, gembira katanya? Ia tak salah dengar kan? Atau lebih baik ia memeriksakan telinga ke Dokter THT setelah ini?
"Jika kau merasa salah dengar dan telingamu bermasalah,
kau salah Dhiaz. Aku memang gembira mendengar Lingga dan Farrand bertemu."
"Memang ada apa diantara mereka berdua?"
"Kau tak perlu tau banyak hal, Dhiaz. Yang perlu kau tau
hanya memastikan Farrand dan Lingga selalu bersama. Jaga
merek juga, tapi tak usah terlalu dekat seperti kau menjaga Farrand dulu." Madhiaz masih bingung. Tentang Arasya yang gembira mendengar Farrand
balapan, dan sekarang dia mendengar seolah-olah Farrand dan Lingga harus ia
dekatkan. Hei.... ini bukan tanggal satu April kan? Hingga
Arash bercanda dengan koyolnya akibat April Mop.
"Kau akan tau nanti, Dhiaz. Dan nanti aku ingin bicara
dengan Farrand masalah balapannya. Ngomong-ngomong. Dimana dia sekarang?
Mengapa ia tak disini?"
"Ini ada hubungannya dengan berpisahnya mereka berdua, Farrand
dan Dion. Paman.”
"Oh ya?"
"Farrand pergi dengan Dion. Bermaksud meminta penjelasan Dion
setelah tadi siang Farrand memergoki Dion dengan wanita lain disekolah."
"Begitukah?. Jadi
itulah alasan mengapa Yogamengatakan jika dia berhasil memisahkan Farrand dengan Dion. Tak
kusangka ia benar-benar mau ikut campur masalah mereka sejauh ini."
"Yah...... itu mungkin saja, Paman."
Arasya mengangguk lemah. Ah... ia menantikan putrinya saat
ini. Semoga saja putrinya itu cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dan kembali
kekamar inapnya ini. Ia ingin memastikan sesuatu. sesuatu yang telah
lama ia persiapkan.
.
.
Farrand hanya menunggu di pembatas jalan dengan tenang. Ia
menatap gemerlap kota dan menarik nafas dalam-dalam. Beban dipundaknya yang
terasa berat seakan menambah sesak nafasnya. Jika boleh ia mengadu, ia akan
mengadu. Tapi pada siapa? Ia tak mungkin mengadu pada ayahnya. Pelik masalah
yang ayahnya hadapi sudah cukup banyak. Dan ia tak ingin menambahnya lagi. Ah,
jika sudah seperti ini, ia rindu ibunya. Mungkin jika ibunya masih ada, ia akan
berkeluh kesah padanya. Tapi semua sudah terjadi. Dan takdir telah mengambil
ibunya terlebih dahulu. Ia tak boleh menyalahkan takdir, bukan? Seharusnya ia
bersyukur masih ada seorang ayah baik hati yang ada disisinya.
Lingga masih berkeliling bersama Nadeen, meninggalkan ia
__ADS_1
sendiri disini bersama mobil Lingga. Suasana jalanan yang sepi membuatnya
merasa tenang dan was-was disaat yang bersamaan. Tenang karena ia menyukai
kesunyian. Dan was-was karena ia hanya sendiri disini. Bagaimana jika ada
gerombolan orang tak baik yang datang kesana? No, memikirkannya saja
sudah cukup membuat bulu kuduk Farrand merinding.
Jantung Farrand berdegub lebih kencang saat ia mendengar suara
deru mobil mendekat. Ia takut jika bayangannya menjadi kenyataan. Bagaimana
jika yang datang beneran gerombolan preman? Atau yakuza? Atau mafia?
Lalu mereka mengeroyok Farrand? Dan... dan.... memperkosanya ramai-ramai...
tidak!!! Ia ingin melakukannya dengan pria yang dicintainya. Dengan Dion
mungkin? Oh, lupakan Dion. Dia sekarang tak masuk itungan. Dan.. hei...... itu
pemikiran yang terlalu jauh. Tapi sungguh, beginilah Farrand
jika ia sedang berfikir. Segala sesuatunya akan menjalar kemana-mana hingga hal
yang sepertinya mustahil terjadi pun bisa ia fikirkan.
fyuuuuhhhhhhh....
Farrand menghembus nafas. Ia lega. Ternyata suara deru mobil yang ia dengar
adalah suara mobil milik Nadeen. Yang artinya mereka telah dekat. Dan setelah
mereka sampai, barulah Farrand bisa menormalkan degub jantungnya.
"Kalian lama." Farrand bersedekap dan menatap mereka
berdua dengan tatapan tajam.
"maafkan kami.Farrand.
Lingga banyak memberikanku arahan tadi."
"Hn"
"Untung saja tak ada yang mengangguku."
Nadeen terkekeh, ucapan Farrand seolah memberitahunya jika
sahabat anehnya
itu ketakutan saat ditinggal sendiri tadi.
"Antarkan aku pulang, Lingga. Dan pastikan kau menyetir
dengan halus kali ini." Lingga hanya bisa mengangguk. Kejadian tadi
membuatnya sedikit menarik kesimpulan bahwa wanita itu tak bisa berkendara
ekstrem.
Lingga hanya bisa mengangguk. Mungkin keinginannya untuk
menahan wanita itu lebih lama saat ini harus ia urungkan. Malam sudah mulai
larut dan dirinya tak pantas berduaan dengan lawan jenis.
Nadeen langsung melajukan mobilnya begitu ia berpamitan kepada
Farrand dan Lingga. Seperti yang Farrand minta. Kali ini ia mengemudi dengan
hati-hati dan mengusahakan mobil melaju dalam keadaan sehalus mungkin.
Peejalanan mereka masih diselimuti kesunyian. Tak ada yang mau membuka mulut
sekedar menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
"Kau perlu mengganti ban depanmu jika akan balapan."
Farrand meulai memecah keheningan. Lingga yang mendengarnya hanya bisa
mengernyit heran dengan ucapan Farrand.
"Apa maksudmu?"
"Ban depanmu akan semakin aus jika kau gunakan untuk
balapan lagi. Beruntung jika jalanan lurus. Jika menurun, kau mungkin akan
mendapati mobilmu understeer." Ucap Farrand sambil menyilangkan
tangan didadanya. Kaki kanan yang ia topangkan pada kaki kirinya ia
ayun-ayunkan ringan.
"Dari mana kau tau?"
"Tidak kah kau merasakannya? Rasanya sedikit tidak
stabil." Lingga terdiam. Mencoba mencerna perkataan Farrand. Dan benar
saja, setelah agak lama merasakannya, hati Lingga sedikit membenarkan
perkataan Farrand.
"Kau punya indra perasa yang peka." Farrand hanya
melirik kearah Lingga saat Lingga mengatakan hal itu. Temaramnya lampu jalan
embuat pandangannya terhadap wajah Lingga tidaklah jelas. Tapi tanpa ia sadari,
wajahnya perlahan merona. Melihat wajah serius Lingga yang sedang menyetir
dalam jarak yang sedekat ini tak pernah ia lakukan. Ia akui, wajah Lingga yang
terbias cahaya rembulan yang temaram membuatnya menambah nilai tampan. Hatinya
sedikit berdebar melihat pemandangan itu.
'Mungkin dengan sedikit permak, ia tak kalah tampan dengan Dion.
Huhhhhhhhh...... Dion lagi... mengapa aku selalu memikirkannya?' Batin Farrand.
"Ano,,, kau punya indra perasa yang lumayan tajam." Lingga
mulai memecah leheningan lagi. Sesekali ia mencuri pandang kearah Farrand.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, bisa merasakan beberapa kekurangan mesin. Apa
kau bisa membengkel?"
"Tidak. Aku hanya sedikit tau. Ayahku sering
memberitahuku beberapa hal tentang mobil dulu."
"Dulu?"
"Ya. Saat ayah masih punya segalanya. Ia sering
mengajakku mengotak-atik mobilnya. Yah.... meski pada saat itu aku hanya bisa
menambah pekerjaannya dan membuatnya repot dengan rentetan pertanyaan yang ku
lontarkan padanya." Pandangan Farrand yang menyendu bisa Lingga lihat dari
ujung matanya. Kesedihan mendalam jelas tercetak diwajah ayu milik Farrand.
"Mobil apa yang biasa ayahmu otak-atik?". Deg... Farrand terkesiap. Hampir saja ia membocorkan jati dirinya kepada Lingga.
Mengingat betapa gencarnya Lingga mengejarnya saat ia menjadi sosok berjubah
itu, tentulah Lingga pasti tidak akan melewatkan sesuatu. Ia harus bisa
menutupinya dari Lingga. Harus. Dan Lingga tak boleh tau jika pengendara s15
malam itu adalah dirinya.
"Acura NSX." Ucap Farrand singkat. Ia tak bohong.
Selain s15 ayahnya dulu memiliki mobil lain.
"Mobil yang bagus. Lalu dimana sekarang mobil itu?"
"Dijual."
"Maaf sudah mengingatkanmu."
"Tak apa. Itu sudah lama terjadi. Lagipula sekarang aku
sudah bisa melupakan kenangan tentang mobil itu."
"Apa itu mobil kesayanganmu?"
"Tentu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi pembalap malam
dengan mengendarai mobil itu."
"Maafkan aku mengingatkanmu lagi."
"Tak apa. Aku sudah merelakannya. Dan, hei.... kau
mengatakan maaf lagi. Sudah kubilang aku sudah melupakannya."
Lingga terkekeh pelan. Ia tak menyangka jika wanita disisinya
itu punya mimpi yang sama dengan dirinya. Hanya saja, ia agak sanksi dengan
keadaannya. Mengingat wanita itu mudah sekali mabuk kendaraan.
"Hei. Aku tak separah yang kau fikirkan. Aku tak pernah
mabuk jika ayahku yang mengendarai." Gotcha!!! Sepertinya Farrand
bisa menangkap suara batin Lingga yang mengatainya mudah mabuk.
"Heheheheh... maaf... aku tak tau sehebat
apa ayahmu mengemudi hingga kau tak mabuk."
"Ayahku pengemudi yang hebat. Jika kau letakkan gelas
berisi air ditempat gelas mobilmu, ia tak akan menumpahkannya setetespun bahkan
jika mengitari bukit dengan kecepatan diatas rata-rata." Ups.... Farrand
menyadari jika dirinya hampir berbicara kelewatan. Semoga saja Lingga tak
menyadarinya.
"Sehebat itukah ayahmu?"
Farrand menganggukkan kepalanya
mantap."Ya."
"Lalu kenapa kau tak minta diajari?"
"Kau tak tau betapa rumitnya ayah mengajariku. Kata-kata
yang ia pakai terlalu dalam. Aku tak bisa mengerti secara langsung yang ia
ajarkan. Apalagi ia hanya mengucapkannya sekali."
"Kurasa kau saja yang kurang pintar."
Tak!
Farrand menggeplak tempurung kepala Lingga begitu saja saat
mendengar celetukan pria berambut raven disebelahnya itu."Secara tak sadar
kau mengataiku bodoh. Begitu?"
Lingga kicep. Merutuki dalam hati mulutnya yang kelewat
ceplas-ceplos dan mengeluarkan kata-kata tajam begitu saja. Hanya kekehan kecil
yang ia keluarkan untuk membalas perkataan Farrand. Dan begitupun Farrand. Ia
ikut terkekeh begitu saja. Sejenak ia melupakan sakit hatinya kepada Dion.
"Ano... Farrand... maukah kau......."
__ADS_1
Tbc