Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 8


__ADS_3

Lingga telah sampai dikaki bukit dan masih ada waktu untuk


menunggu Nadeen sampai. Biarlah ia


menunggu, setidaknya ia bisa curi-curi kesempatan berdua


dengan Farrand dengan alibi mengajarinya. Hueks... trik lama sekali. Apakah Lingga sama sekali tidak bisa


memikirkn trik lainnya untuk mengejar Farrand? Ah, mungkin kalian lupa jika


sebelum ini Lingga tak pernah menjalin kisah dengan makhluk yang bernama wanita


selain ibunya. Tapi sudahlah, mau itu trik lama atau baru,


setidaknya ia ingin mencobanya bukan? Lagipula Farrand sudah putus dengan kekasihnya dan peluang itu


bisa ia dapat dengan perlahan. Dan untuk permulaan, ia bisa membuat Farrand


terpesona dengan keahliannya menyetir. Hey, Nadeen saja bisa terpesona dan


memintanya untuk mengajarinya. Mengapa tidak dengan Farrand? Bisa saja kan Farrand


se tipe dengan Nadeen?Bukankah


biasanya sepasang sahabat itu memiliki beberapa kemiripan satu sama lain?


"Ehm.. Lingga. Aku tak


punya uang loh untuk membayarmu seperti yang Nadeen lakukan."ucap Farrand.


"Kau bisa membayarku dengan sekotak bekalsetiap hari." Sebuah senyuman mangkir di bibir kemerahan Lingga.


Ia bisa menjawab dengan lancar tentunya karena jauh-jauh waktu ia sudah


memikirkan hal ini.


"Benarkah??? Tapi masakanku tak enak. Jika kau


sakit perut bagaimana?" Farrand menunduk. Ia takut jika Lingga tak


menyukai rasa masakannya. Meski ia telah memasak setiap hari dan setiap kali mencicipi masakannya ia tak


menemukan kesalahan dalam rasanya, ia masih merasa tak


percaya diri dengannya.


"Kau pernah memberikanku bekal buatanmu kan?


Selama rasanya masih seperti itu kurasa tak masalah." Farrand mengangguk.


Setidaknya sekotak bekal makan


siangtak kan menguras dompetnya terlalu dalam.


"Tapi bagaimana jika tidak setiap hari. Kau tau, aku


harus menghemat untuk biaya pengobatan ayahku. Dan aku juga tak bisa


membuatkanmu menu mewah." Lingga melirik Farrand dengan ekor matanya. Ada


rasa sesak dalam ucapannyadan


Lingga sangat mengerti hal itu. Sebenarnya ia tak ingin memaksa, tapi mau bagaimana


lagi? Jika ia berikan Cuma-Cuma, bukankah malah menunjukkan jika ada maksud


tersembunyi darinya?


 'Ah, kurasa tak


masalah asal aku bisa memakan bekal buatannya lagi.' Batin Lingga.


"No problem."katanya kemudian.


Mata Farrand berbinar senang dan ia mengangguk cepat. Ia tak menyangka jika Lingga sangat mudah dinego. Ah, tak tau saja


Farrand jika Lingga hanya modus.


"Sekarang perhatikan baik-baik. Aku akan mulai melakukan drifting dari sini." Lingga memulai mode seriusnya.


"Dimulai dari menanjak?"


"Ya."


"Tak khawatir roda cepat aus?"


"Aku bisa menghematnya dengan mengurangi kecepatannya."


"Tapi jika kau balapan dan lawanmu lebih cepat?"


"Itu urusan nanti. Hey, mengapa seakan-akan kau


yang mau mengajariku?"


"Ups... maafkan aku. Aku terlalu


bersemangat." Farrand tertawa kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak


gatal. Kebiasaannya saat ia dalan kondisi grogi.


"Tak masalah. Mulai ini perhatikan baik-baik." Lingga


mulai menginjak pedal gas agak dalam. Tangan kiri Farrand mencari pegangan dan


matanya dengan jeli memperhatikan betapa cekatannya tangan dan kaki Lingga


melakukan kombinasi drift empat roda. Meski tak bisa dikatakan sempurna, tapi ia cukup puas melihat Lingga


melakukannya Sedetik ia kagum. Tenaga GT-R tak bisa ia


sepelekan begitu saja. Namun ketika sampai di puncak. Perutnya mulai terasa melilit. Ia tak


tahan ingin segera mengeluarkan isi perutnya. Lingga membuatnya kagum sesaat


dan menghempaskannya


begitu setelah ia terpesona. Ia akui, cara mengemudi Lingga yang masih sedikit


kasar membuatnya mabuk kendaraan.


Huek........ Huek.....


Farrand memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi air itu


setelah Lingga menepikan mobilnya. Lingga tak habis fikir. Sebegitu kasarnya


kah ia mengemudi hingga wanita yang ia suka itu mabuk kendaraan seperti ini?Ah, mungkin setelah ini ia harus belajar dan


menghabiskan bensin lebih banyak lagi agar skill mengemudinya lebih baik dari


sekarang. Atau jika tidak ia bisa membuat Farrand mati lemas ditengah jalan


akibat mabuk darat.


Hahhhhh......


Farrand mengusap bibirnya dengan menggunakan punggung


tangannya. Ia lemas. Setelah seharian perutnya tak terisi makanan, kini minuman


yang ia minum tadi dikeluarkan paksa dari perutnya.Sungguh! Ia merasa jika hari ini teramat berat


untuk pencernaannya. Ia tak menyangka sama sekali jika patah hati bisa membuat


orang bisa menjadi sedemikian rupa. Ia bahkan tak menyangkal jika ada orang


patah hati yang berakhir masuk dirumah sakit.


"Ini, minumlah." Lingga menghampirinya dan


menyodorkan sebotol air mineral yang selalu ia siapkan dilaci mobil.Jaga-jaga jika ada masa dimana ia kehausan.


Dan ternyata hal itu berguna disaat seperti ini.


"Thanks,


Ling." Ucap Farrand. Ia


mengambil botol minuman itu dan menenggaknya rakus. Perutnya yang terasa


sedikit perih membuatnya sedikit mengernyitkan wajahnya.Sepertnya saat ini lambungnya mulai memberi


respon atas mogok makannya seharian ini. Dan ia sungguh berharap jika dirinya


tak sampai mengalami infeksi lambung karenanya.


"Kau kenapa?" Tanya Lingga.


"Perutku terasa perih."


"Kau sudah makan?"


Farrand menggeleng pelan. Badannya terasa sedikit gemetar


karena lapar.Ia bahkan merasa


sedikit tak berkonsentrasi atas apa yang di alaminya tadi.


"Apa patah hati bisa membuat orang menjadi begitu idiot,


hingga makan pun sampai dilupakan?"


Farrand mendengus, idiot katanya?Hey, apa Lingga tidak merasa jika kata-kata


itu terdengar sedikit kasar? Tidak bisakah ia memakai bahasa yang sedikit lebih


halus?


"Hey..... Tak bisakah kau berbaik hati sedikit dengan tidak mengeluarkan


kata-kata pedas seperti itu?"Protes Farrand


Ups...niat Lingga ingin memberi


perhatian kepada Farrand, apalah daya mulut pedasnya susah dikendalikan dan


berbuntut tersinggungnya hati Farrand.


"Hehehe..sorry... aku hanya asal menebak tadi. Melihat yang


kau muntahkan hanya air. Aku menarik kesimpulan kau tidak makan sedari


siang." Lingga tersenyum kikuk. Tapi syukurlah. Kemarahan Farrand akibat


salah bicaranya tak berlarut-larutseperti yang ada dalam benaknya.


"Aku memang tak makan, dari tadi pagi."


"What?"


"Aku tak makan dari pagi. Ling-ga..." Farrand jengkel.


'Selain bermulut pedas, ternyata ia juga punya telinga yang


sedikit bolot' batin Farrand.


Otak Lingga blank seketika. Tak menyangka jika niatnya pamer


akan pupus begitu saja. "Aku akan menelpon Nadeen. Mungkin nanti dia bisa


membelikanmu beberapa bungkus roti di minimarket 24 jam dan membawakannya kesini. Kau tau bukan, tak aka nada restoran dengan


makanan enak yang buka di jam segini" Putusnya


kemudian.


"Thank


you. Lingga." Farrand tersenyum. Seulas senyum


tipis bertengger dibibirnya. Dan hal itu membuat pipi Lingga terjalari rona


merah. Farrand tak menyadari itu. Bersyukur saja temaramnya lampu malam mampu


menyamarkan rona pipi Lingga.


 


 


.


.


.


Dikamar inap Arasya, setelah kepergian ayah Diondan kedatangan Madhiaz..


"Dhiaz. Kurasa tugasmu sekarang hanya mengawasi Farrand."

__ADS_1


"Memangnya kenapa, paman?”


"Yogatelah menyerahkan kembali perusahaanku." Madhiaz menatap Arasya


dengan pandangan yang seolah menuntut jawaban. Ia memang sedikit mendengar perbincangan mereka berdua. Tapi sama sekali tak tau apa maksudnya.


"Aku tak mengerti. Paman."


"Yogatak menyetujui hibungan Farrand dan Dion. Maka dari itu dia berusaha


memisahkan mereka. Dia pula yang berulang kali mengganggu ku."


"Apa dia juga yang melakukannya kemarin?"


"Bukan dia. Tapi orang suruhannya." Gigi Madhiaz


gemeretak menahan emosi. Ia tak menyangka jika ada orang yang begitu keji


seperti itu.


"Kau tau jika mereka telah bertemu?" Madhiaz


mengangguk. Ia bahkan tau jika mereka berdua bertengkar dan memilih untuk mengakhiri kisah mereka


berdua.


"Dion pindah kesekolah kami." Arasya menatap Madhiaz.


Ia tak tau jika Dion dan Farrand sekarang satu sekolah. Seingatnya Farrand tak


menceritakannya. Atau mungkin, belum.Mengingat putrinya yang selalu bercerita padanya tentang apa di


alaminya. Ia yakin cepat atau lambat putrinya akan memberitahunya akan hal itu.


"Tapi seperti yang pamankatakan. Mereka


telah berpisah."


"Seingatku cinta Farrand begitu besar padanya. Tapi


mengapa mereka memutuskan berpisah?"


“ Ceritanya panjang,


paman"


"Dan aku punya banyak waktu untuk mendengarkan, Dhiaz."


Madhiaz menghela nafas. Tak ayah tak anak. Mereka sama-sama


punya kepala yang keras dengan


pendirian yang tak mudah untuk di ubah semudah membalik telapak tangan. Kemauan mereka seteguh


batu karang, jika sudah memutuskan sesuatu, maka sesuatu itu harus berjalan


sesuai keinginannya. Mungkin benar tentang pepatah yang


mengatakan jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya.Sifat keras Arasya, ia turunkan pada putrinya.


"semua


seakan terjadi dan berlalu begitu cepat hingga aku tak bisa mengingat setiap


detail yang terjadi. Maaf paman, aku hanya bisa menceritakan padamu kisah yang


begitu singkat saja. Mereka bertemu saat ada balapan di


kota. Sehari sebelum Dion pindah ke sekolah kami. Farrand yang saat itu di ajak


Nadeen melihat balapan pun mau tak mau terpaksa ikut dan bertemu Dion. Mereka


kembali dekat. Dan esoknya mereka dekat saat bertemu disekolah. Dan malamnya,


dihari saat penyerangan anda. Farrand ikut balapan untuk pertama kalinya."


"Tunggu." Arasya menginterupsi. "Kau bilang Farrand


ikut balapan untuk pertama kali? Dengan S15 kesayanganku itu?" Madhiaz hanya bisa


mengangguk. Sungguh, andaipun Arashya marah dan memukulnya saat ini, ia akan terima begitu saja.Ia akan memaklumi hal itu, mengingat bagaimana


Arasya begitu menyayangi mobil itu bahkan melebihi apapun yang ia tau selama


ini. Tapi entah, jika ia dintanya tentang apa yang akan Arash pilih jika


pilihan tu antara mobilnya atau anaknya, ia tak tau. Ia belum melihat sendiri


hati Arash akan berat ke bagian mana.


"Untuk apa dia ikut, Dhiaz? Bukankah aku memintamu untuk


mencegahnya ikut balapan bagaimanapun caranya? Kau tau jika pengalaman mengemudinya sangat


sedikit dan caranya agak sedikit kasar dengan pengetahuan yang sedikit itu bisa


membahayakannya bukan?"


Dhiaz menunduk, Ia sangat tahu akan


hal itu sejak lama. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan ia tak


bisa mencegah apalagi mengembalikan semuanya.


"Maafkan aku, paman. Farrand


bilang dia terpaksa ikut. Hadiahnya lumayan untuk membayar administrasi rumah


sakit." Madhiaz menunduk. Ia merutuki mulutnya yang telah membocorkan


keadaan Farrand saat itu.


Arashya dan Madhiaz sama-sama terdiam.


Sejujurnya, di dalam hati Arash, ia menyimpan sedikit sesal dan rasa bersalah


pada putrinya. Andai saja ia tak seperti ini dan memiliki kekuatan lebih,


putrinya pasti tak akan melangkah sejauh itu.


"Tidak, Dhiaz. Ini bukan salahmu. Bagaimanapun juga aku


pun ikut andil dalam masalah ini. Jika saja aku memiliki cukup tabungan. Farrand


tak kan senekat itu ikut balapan." Arasya menghembuskan nafas kasar dan


menyadari keadaannya. Bagaimanapun juga, ia juga merasa ikut andil dalam


"Lalu bagaimana hasilnya?" Tambahnya.


"Farrand menang. Dengan sedikit melecetkan mobil kesayangan anda tentu saja. Entah bagaimana cara dia mengemudi. Yang jelas ia bisa mengalahkan Lingga


dengan GT-R nya dan Dion dengan


Agera nya." Madhiaz terkekeh kecil. Ia masih bingung


dan tak habis fikir, bagaimana cara Farrand menang dalam balapan kemaren.


Seingatnya Lingga dan Dion bukan lawan yang mudah dikalahkan. Apalagi oleh Farrand yang masih


pemula dalam hal itu.Dilihat dari


segi manapun, Farrand masih kalan pengalaman dengan para pesaingnya. Tapi yang


dilupakan oleh Dhiaz adalah, Farrand putri Arash. Dan kemampuan bisa diturunkan


dengan mudah.


"Lingga?"


"Iya, paman. Lingga Pranaja. Pemuda pindahan


dari Halu, namun sepak terjangnya didunia balap malam berhasil menggeser para


jawara Falen."


Arasya tersenyum mendengar hal itu. Ia tak menyangka jika dia


akan bertemu Lingga secepat ini.


"Berarti Lingga dan Farrand kemungkinan bertemu di arena


balap?" Tanyanya kemudian.


"Kemungkinan sekali, paman. Memangnya ada apa dengan hal itu?”


"ah, tidak. Tidak ada, Dhiaz.


Hanya saja.... entah mengapa aku sedikit gembira."


Madhiaz mengernyit, gembira katanya? Ia tak salah dengar kan? Atau lebih baik ia memeriksakan telinga ke Dokter THT setelah ini?


"Jika kau merasa salah dengar dan telingamu bermasalah,


kau salah Dhiaz. Aku memang gembira mendengar Lingga dan Farrand bertemu."


"Memang ada apa diantara mereka berdua?"


"Kau tak perlu tau banyak hal, Dhiaz. Yang perlu kau tau


hanya memastikan Farrand dan Lingga selalu bersama. Jaga


merek juga, tapi tak usah terlalu dekat seperti kau menjaga Farrand dulu." Madhiaz masih bingung. Tentang Arasya yang gembira mendengar Farrand


balapan, dan sekarang dia mendengar seolah-olah Farrand dan Lingga harus ia


dekatkan. Hei.... ini bukan tanggal satu April kan? Hingga


Arash bercanda dengan koyolnya akibat April Mop.


"Kau akan tau nanti, Dhiaz. Dan nanti aku ingin bicara


dengan Farrand masalah balapannya. Ngomong-ngomong. Dimana dia sekarang?


Mengapa ia tak disini?"


"Ini ada hubungannya dengan berpisahnya mereka berdua, Farrand


dan Dion. Paman.”


"Oh ya?"


"Farrand pergi dengan Dion. Bermaksud meminta penjelasan Dion


setelah tadi siang Farrand memergoki Dion dengan wanita lain disekolah."


"Begitukah?. Jadi


itulah alasan mengapa Yogamengatakan jika dia berhasil memisahkan Farrand dengan Dion. Tak


kusangka ia benar-benar mau ikut campur masalah mereka sejauh ini."


"Yah...... itu mungkin saja, Paman."


Arasya mengangguk lemah. Ah... ia menantikan putrinya saat


ini. Semoga saja putrinya itu cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dan kembali


kekamar inapnya ini. Ia ingin memastikan sesuatu. sesuatu yang telah


lama ia persiapkan.


 


 


.


.


Farrand hanya menunggu di pembatas jalan dengan tenang. Ia


menatap gemerlap kota dan menarik nafas dalam-dalam. Beban dipundaknya yang


terasa berat seakan menambah sesak nafasnya. Jika boleh ia mengadu, ia akan


mengadu. Tapi pada siapa? Ia tak mungkin mengadu pada ayahnya. Pelik masalah


yang ayahnya hadapi sudah cukup banyak. Dan ia tak ingin menambahnya lagi. Ah,


jika sudah seperti ini, ia rindu ibunya. Mungkin jika ibunya masih ada, ia akan


berkeluh kesah padanya. Tapi semua sudah terjadi. Dan takdir telah mengambil


ibunya terlebih dahulu. Ia tak boleh menyalahkan takdir, bukan? Seharusnya ia


bersyukur masih ada seorang ayah baik hati yang ada disisinya.


Lingga masih berkeliling bersama Nadeen, meninggalkan ia

__ADS_1


sendiri disini bersama mobil Lingga. Suasana jalanan yang sepi membuatnya


merasa tenang dan was-was disaat yang bersamaan. Tenang karena ia menyukai


kesunyian. Dan was-was karena ia hanya sendiri disini. Bagaimana jika ada


gerombolan orang tak baik yang datang kesana? No, memikirkannya saja


sudah cukup membuat bulu kuduk Farrand merinding.


Jantung Farrand berdegub lebih kencang saat ia mendengar suara


deru mobil mendekat. Ia takut jika bayangannya menjadi kenyataan. Bagaimana


jika yang datang beneran gerombolan preman? Atau yakuza? Atau mafia?


Lalu mereka mengeroyok Farrand? Dan... dan.... memperkosanya ramai-ramai...


tidak!!! Ia ingin melakukannya dengan pria yang dicintainya. Dengan Dion


mungkin? Oh, lupakan Dion. Dia sekarang tak masuk itungan. Dan.. hei...... itu


pemikiran yang terlalu jauh. Tapi sungguh, beginilah Farrand


jika ia sedang berfikir. Segala sesuatunya akan menjalar kemana-mana hingga hal


yang sepertinya mustahil terjadi pun bisa ia fikirkan.


 


 


fyuuuuhhhhhhh....


Farrand menghembus nafas. Ia lega. Ternyata suara deru mobil yang ia dengar


adalah suara mobil milik Nadeen. Yang artinya mereka telah dekat. Dan setelah


mereka sampai, barulah Farrand bisa menormalkan degub jantungnya.


"Kalian lama." Farrand bersedekap dan menatap mereka


berdua dengan tatapan tajam.


"maafkan kami.Farrand.


Lingga banyak memberikanku arahan tadi."


"Hn"


"Untung saja tak ada yang mengangguku."


Nadeen terkekeh, ucapan Farrand seolah memberitahunya jika


sahabat anehnya


itu ketakutan saat ditinggal sendiri tadi.


"Antarkan aku pulang, Lingga. Dan pastikan kau menyetir


dengan halus kali ini." Lingga hanya bisa mengangguk. Kejadian tadi


membuatnya sedikit menarik kesimpulan bahwa wanita itu tak bisa berkendara


ekstrem.


Lingga hanya bisa mengangguk. Mungkin keinginannya untuk


menahan wanita itu lebih lama saat ini harus ia urungkan. Malam sudah mulai


larut dan dirinya tak pantas berduaan dengan lawan jenis.


Nadeen langsung melajukan mobilnya begitu ia berpamitan kepada


Farrand dan Lingga. Seperti yang Farrand minta. Kali ini ia mengemudi dengan


hati-hati dan mengusahakan mobil melaju dalam keadaan sehalus mungkin.


Peejalanan mereka masih diselimuti kesunyian. Tak ada yang mau membuka mulut


sekedar menghilangkan rasa canggung diantara mereka.


"Kau perlu mengganti ban depanmu jika akan balapan."


Farrand meulai memecah keheningan. Lingga yang mendengarnya hanya bisa


mengernyit heran dengan ucapan Farrand.


"Apa maksudmu?"


"Ban depanmu akan semakin aus jika kau gunakan untuk


balapan lagi. Beruntung jika jalanan lurus. Jika menurun, kau mungkin akan


mendapati mobilmu understeer." Ucap Farrand sambil menyilangkan


tangan didadanya. Kaki kanan yang ia topangkan pada kaki kirinya ia


ayun-ayunkan ringan.


"Dari mana kau tau?"


"Tidak kah kau merasakannya? Rasanya sedikit tidak


stabil." Lingga terdiam. Mencoba mencerna perkataan Farrand. Dan benar


saja, setelah agak lama merasakannya, hati  Lingga sedikit membenarkan


perkataan Farrand.


"Kau punya indra perasa yang peka." Farrand hanya


melirik kearah Lingga saat Lingga mengatakan hal itu. Temaramnya lampu jalan


embuat pandangannya terhadap wajah Lingga tidaklah jelas. Tapi tanpa ia sadari,


wajahnya perlahan merona. Melihat wajah serius Lingga yang sedang menyetir


dalam jarak yang sedekat ini tak pernah ia lakukan. Ia akui, wajah Lingga yang


terbias cahaya rembulan yang temaram membuatnya menambah nilai tampan. Hatinya


sedikit berdebar melihat pemandangan itu.


'Mungkin dengan sedikit permak, ia tak kalah tampan dengan Dion.


Huhhhhhhhh...... Dion lagi... mengapa aku selalu memikirkannya?' Batin Farrand.


"Ano,,, kau punya indra perasa yang lumayan tajam." Lingga


mulai memecah leheningan lagi. Sesekali ia mencuri pandang kearah Farrand.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, bisa merasakan beberapa kekurangan mesin. Apa


kau bisa membengkel?"


"Tidak. Aku hanya sedikit tau. Ayahku sering


memberitahuku beberapa hal tentang mobil dulu."


"Dulu?"


"Ya. Saat ayah masih punya segalanya. Ia sering


mengajakku mengotak-atik mobilnya. Yah.... meski pada saat itu aku hanya bisa


menambah pekerjaannya dan membuatnya repot dengan rentetan pertanyaan yang ku


lontarkan padanya." Pandangan Farrand yang menyendu bisa Lingga lihat dari


ujung matanya. Kesedihan mendalam jelas tercetak diwajah ayu milik Farrand.


"Mobil apa yang biasa ayahmu otak-atik?". Deg... Farrand terkesiap. Hampir saja ia membocorkan jati dirinya kepada Lingga.


Mengingat betapa gencarnya Lingga mengejarnya saat ia menjadi sosok berjubah


itu, tentulah Lingga pasti tidak akan melewatkan sesuatu. Ia harus bisa


menutupinya dari Lingga. Harus. Dan Lingga tak boleh tau jika pengendara s15


malam itu adalah dirinya.


"Acura NSX." Ucap Farrand singkat. Ia tak bohong.


Selain s15 ayahnya dulu memiliki mobil lain.


"Mobil yang bagus. Lalu dimana sekarang mobil itu?"


"Dijual."


"Maaf sudah mengingatkanmu."


"Tak apa. Itu sudah lama terjadi. Lagipula sekarang aku


sudah bisa melupakan kenangan tentang mobil itu."


"Apa itu mobil kesayanganmu?"


"Tentu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi pembalap malam


dengan mengendarai mobil itu."


"Maafkan aku mengingatkanmu lagi."


"Tak apa. Aku sudah merelakannya. Dan, hei.... kau


mengatakan maaf lagi. Sudah kubilang aku sudah melupakannya."


Lingga terkekeh pelan. Ia tak menyangka jika wanita disisinya


itu punya mimpi yang sama dengan dirinya. Hanya saja, ia agak sanksi dengan


keadaannya. Mengingat wanita itu mudah sekali mabuk kendaraan.


"Hei. Aku tak separah yang kau fikirkan. Aku tak pernah


mabuk jika ayahku yang mengendarai." Gotcha!!! Sepertinya Farrand


bisa menangkap suara batin Lingga yang mengatainya mudah mabuk.


"Heheheheh... maaf... aku tak tau sehebat


apa ayahmu mengemudi hingga kau tak mabuk."


"Ayahku pengemudi yang hebat. Jika kau letakkan gelas


berisi air ditempat gelas mobilmu, ia tak akan menumpahkannya setetespun bahkan


jika mengitari bukit dengan kecepatan diatas rata-rata." Ups.... Farrand


menyadari jika dirinya hampir berbicara kelewatan. Semoga saja Lingga tak


menyadarinya.


"Sehebat itukah ayahmu?"


Farrand menganggukkan kepalanya


mantap."Ya."


"Lalu kenapa kau tak minta diajari?"


"Kau tak tau betapa rumitnya ayah mengajariku. Kata-kata


yang ia pakai terlalu dalam. Aku tak bisa mengerti secara langsung yang ia


ajarkan. Apalagi ia hanya mengucapkannya sekali."


"Kurasa kau saja yang kurang pintar."


Tak!


Farrand menggeplak tempurung kepala Lingga begitu saja saat


mendengar celetukan pria berambut raven disebelahnya itu."Secara tak sadar


kau mengataiku bodoh. Begitu?"


Lingga kicep. Merutuki dalam hati mulutnya yang kelewat


ceplas-ceplos dan mengeluarkan kata-kata tajam begitu saja. Hanya kekehan kecil


yang ia keluarkan untuk membalas perkataan Farrand. Dan begitupun Farrand. Ia


ikut terkekeh begitu saja. Sejenak ia melupakan sakit hatinya kepada Dion.


"Ano... Farrand... maukah kau......."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2