Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 23


__ADS_3

 


 


Farrand keluar dari gerbang sekolah dengan sebuah senyuman yang terukir di


wajahnya. Di depannya, Dion akan menyebrang ke jalan seberang yang menuju ke


arahnya. Ia tatap wajah itu, wajah tampan yang selalu ia puja dan pernah ia


cintai dulu.


Ckiitttt... brak....


"Aaaaaaaaaaa" Suara teriakan seorang wanita menarik atensi beberapa


orang yang lewat ditrotoar jalan. Matanya membelalak lebar, jantungnya berpacu


kencang merespon atas apa yang ia lihat. Dihadapannya, Dion telah terkapar


bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya. Kakinya serasa melunak, seperti


kehilangan tulang untuk menopang tubuhnya dan seketika itu pula ia berusaha menyeret


kakinya berlari menuju Dion.


Dion yang terbaring lemah bermandikan darah kini berada dipangkuannya. Ia


peluk tubuh ringkih itu, pelukannya terasa dingin, dan setelah itu ia sadar


jika Dion telah tak bernyawa lagi.


"DIOOONNN......."Farrand menjerit, tangannya yang berlumuran darah


milik Dion ia pandangi dengan cucuran airmata yang menganak sungai. Nafasnya


memburu, dan setelah itu peluk erat Dion yang masih berada dipangkuannya sambil


menangis sesenggukan.


.


Farrand terbangun dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya


terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang, dan pandangannya menusuk tajam


dengan sedikit kilat kesedihan. Mimpinya tadi terasa begitu nyata, dan ia


langsung memeriksa tangannya. Dan ia langsung mendesah lega saat mendapati


tangannya bersih dari noda darah.


"Dion." Lirihnya.


Sedikit banyak ia bersyukur, bersyukur karena kejadian itu hanyalah mimpi


dan tidak terjadi secara nyata.


.


.


.


Waktu masih menunjukkan pukul dua dinihari. Setelah mimpi buruknya, ia tak


lagi bisa memejamkan mata. Biarlah, ia akan terjaga saja setelah ini. Lagipula


satu jam dari sekarang adalah jadwalnya berlatih bersama ayahnya. Dan ia akan


memanfaatkan waktu satu jam itu untuk memasak sarapan. Mungkin bisa dikatakan


terlalu dini, namun ia lakukan itu agar nanti setelah berlatih ia bisa langsung


tidur dan tidak memasak lagi.


Setelah memasak,Farrand masih punya waktu lima menit untuk bersiap. Ayahnya


telah bangun dan sekarang tengah bersiap untuk mengambil mobil yang ia letakkan


ditempat rahasia dengan menggunakan motor sport. Dan setelah siap, ia lantas


keluar dan beranjak menuju mobilnya yang ada digarasi.


Farrand dan Arashya tidak berangkat bersama-sama. Dan itu atas usul Farrand


sendiri. Nanti, mereka akan bertemu di bawah gunung Falen dengan Arashya yang


berjalan terlebih Dahulu. Begitulah cara mereka berlatih, Arashya yang berjalan


terlebih dulu lalu setelah itu disusul Farrand. Dengan berada dibelakang Arashya,Farrand


bisa mengamati teknik yang digunakan Arashya dan menerapkannya pada teknik


miliknya. Terkesan simple, namun butuh ketelitian dan pemahaman yang kuat untuk


bisa langsung menerapkan teknik yang hanya bisa dilihat hasilnya.


Mereka berdua telah siap, Arashya didepan dan Farrand dibelakangnya dengan


jarak yang hanya beberapa meter saja.


Iring-iringan mobil Silvia 15 dan Honda (Acura) NSX terlihat begitu indah.


Jika dilihat sepintas, dua mobil itu seperti mobil kembar yang diam dengan


pemandangan sekitarnya yang seolah berjalan. Jarak mereka selalu sama, bahkan


tentang teknik drift yang digunakan pun sama. Dan NSX merah milikFarrand


terlihat tidak mengurangi ataupun menambah jarak antara mereka berdua.


Dibalik kemudinya, Arashya tersenyum puas setelah melirik kaca spion yang


menunjukkan keberadaanFarrand dibelakangnya. Dihatinya ia merasa bangga.Farrand,


meskipun seorang wanita, dia mampu mengimbangi kecepatan yang ia miliki.


Padahal jika ia bertarung diarena balap, sudah bisa dipastikan lawan-lawannya


tertinggal dibelakang dengan jarak yang lebih lebar dari ini.


Melihat kemampuan Farrand, ia kembali teringat akan mendiang istrinya, Janitra.


Wanita itu begitu anggun dan tangguh disaat yang bersamaan. Anggun saat


bersikap, dan tangguh saat dibalik kemudi. Tak banyak yang tau akan


kemampuannya, dan hal itu dikarenakan Janitra yang menutup diri saat


pertandingan dan lebih banyak duduk disampingnya seperti seorang navigator.


Kini, kemampuan hebat Janitra sepertinya telah diturunkan kepada putri


semata wayang mereka.Farrand, ia memiliki paras manis turunan Janitra dan surai


pirang serta bola mata biru milik Arashya . Tak hanya itu, ia juga mewarisi


kemampuannya dalam menganalisa dari Janitra dan kemampuan mengendarai dari Arashya


. Perpaduan yang pas. Namun tak banyak yang tau tentang kemampuan dan bakatnya


itu. Dan sepertinya, Arashya  akan


membiarkan hal itu mengalir tenang seperti yang seharusnya.


Setelah dua kali putaran, Arashya  dan


danFarrand berhenti di puncak. Mobil mereka sudah terasa panas, dan ban depan


mobil mereka pun sudah mulai aus akibat terlalu banyak melakukan drift.


Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke pinggir pembatas jalan.


Semilir angin memainkan helai coklat yang serupa itu hingga bergoyang dan


membelai kulit mereka masing-masing.


Farrand  memejamkan matanya,


bagaimanapun juga ia sangat suka keadaan yang seperti sekarang ini. Dimana


keadaan yang sunyi ditambah semilir angin yang menyejukkan dan menentramkan.


Lain denganFarrand yang memejamkan matanya, Arashya  justru asyik memandangi kerlap-kerlip lampu


kota Falen yang membentang dihadapannya. Ia tersenyum, ia menyadari betapa


banyak yang berubah dari kota ini sejak dulu saat ia masih sesekali kesini


bersama Janitra.


"Kau tau,Farrand. Tempat ini adalah tempat favorit ayah dan ibu saat


kami masih bersama."Farrand melirik Arashya  dan menatap sendu kearahnya. Ia tau, nada


bicara Arashya  menyiratkan rasa rindu


yang mendalam untuk ibunya.


"Bukankah ayah tinggal di kota Halu?"

__ADS_1


"Ayah memang lama tinggal di Halu. Namun ketika tengah malam tak ada


balapan, kami berdua kesini, menikmati semilir angin dan memandang gemerlap


kota Falen dari sini."


"Ayah, boleh aku bertanya?"


Arashya  mengangguk.


"Bagaimana cara kalian pacaran, yah?"


Blush....


Kata-kata yangFarrand lontarkan seolah menjadi mantra yang sanggup membuat


wajah Arashya  memerah dalam sekejap.


"Jangan malu, yah. Aku sudah cukup umur untuk mendengar perlakuan


romantis kalian. Jadi, ayo ceritakan pada putrimu ini tentang masa lalu kalian.


Siapa tau aku bisa mengambil pelaaran darinya." Arashya  terkekeh. Ia sebenarnya malu jika harus


menceritakan masalalunya bersama Janitra. Tapi biarlah. Biar saja ia akan


menceritakannya. Toh, seperti kata Farrand tadi.Farrand telah cukup umur untuk


mendengarnya.


Arashya  menghela nafas. Berusaha


mempersiapkan diri untuk bercerita.


"Masa pacaran kami hanya di isi dengan balapan berdua. Itu saja." Doeenggg....Farrand


hampir saja terjungkal jika ia tak berpegangan pada pembatas jalan akibat


mendengar ucapan Arashya  yang menurutnya


kelewat singkat itu.


"Bukan itu, ayah. Aku yakin ayah melakukan sesuatu pada ibu."


Wajah Arashya  memerah, ia tak


menyangka jika putrinya akan mendesaknya hingga sejauh ini.


"Atau jangan-jangan ayah menghamili ibu sebelum kalian menikah." Arashya  melongo, ia tak menyangka putrinya akan


mengucapkan kata-kata yang menurutnya tak masuk akal seperti itu.


"Dari mana kau mendapat asumsi seperti itu,Farrand."


"Dari tadi ayah tak bercerita. Hanya raut wajah ayah yang memerah yang


dapat kutangkap dari pernyataanku. Dan aku berasumsi seperti itu. Yah,, siapa


yang tau juga kan?"


"Jangan berkhayal terlalu jauh. Aku dan ibumu masih cukup waras untuk


melakukan hal sedini itu saat kami pacaran."


"Jadi ayah tak pernah menyentuh ibu?"


"E-etoo...."


"Atau ayah terlalu takut menghadapi ibu?"


Tatapan menyelidik yang diberikanFarrand membuat Arashya  kikuk. Ia tak tau harus memulai ceritanya


darimana. Tapi yang jelas, ia harus berhati-hati agar tidak salah bicara.


"Ayah dan ibu saat itu hanya sebatas.... yah.... bagaimana


mengutarakannya ya?"


"Kiss?"


"Y-ya."


"Lalu? Tak ada lagi?"


"Y-ya."


"Jangan bohong yah, aku sedikit mengingat, setauku ibu pernah bercerita


jika tangan ayah sangat nakal. Saat itu masih kecil. Jadi aku tak tau apa yang


ibu maksud dengan tangan ayah sangat nakal."


Mampus!!!!


karena ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia tak pernah tau hal ini, fakta


bahwa Janitra bercerita kepadaFarrand kecil tentang masa dulunya bersama Arashya


. Kini menjadi bom waktu yang mampu menyudutkannya hingga tak bisa berkutik.


Dan, kini dalam hati ia mengutuk otakFarrand yang mempunyai ingatan tajam.


"A-ayah tak bisa menceritakannya."


"Mouu, aayaahh..."Farrand mengucutkan bibirnya dan menatap Arashya  dengan tatapan memelas seperti kucing


yang minta dipungut. Arashya  menggeleng


lemah, sepertinya ia telah luluh pada pandangan memelas milikFarrand.


"Baiklah, kami beberapa kali melakukan kiss saat sedang


balapan."


"Bagaimana ayah melakukannya?"


"Bukan ayah yang melakukannya, tapi ibumu yang mencium ayah saat ayah


sedang sibuk menyetir."


Naru melongo, "Aku tak menyangka jika ibu se agresif itu." Ia menggeleng


pelan, seolah tak percaya dengan apa yang tengah ia dengarkan saat ini.


"Dan hal itu yang ayah takutkan jika ke agresifan ibumu menurun


padamu."


"Bukankah hal itu tak masalah? Nyatanya ayah dan ibu baik-baik saja


sampai menikah."


"Kau tak mengerti, nak. Kau jangan naif, tak banyak lelaki yang bisa


menahan godaan wanita agresif."


"Jadi ayah ingin mengatakan jika ayah merupakan lelaki yang sedikit


itu?"


Arashya  mengangguk dengan percaya


diri. Ia bangga, karena secara tidak langsung ia mendapat predikat laki-laki


langka dari putrinya. Dan, hey! Asumsi dari mana itu?


"Lalu apa arti dari tangan ayah nakal tadi."


"E-etto....."


"Ayah jangan mengalihkan pembicaraan seperti yang tadi ayah


lakukan."


Arashya  tersenyun kikuk. Ia menghela


nafas pelan. Dan sebisa mungkin ia menormalkan detak jantungnya yang memburu.


"Ayah menyukai dua gumpalan montok ibumu." Cukup!!! Wajah Arashya  sudah sangat merah sekarang. Ia bahkan berusaha


menekan hasratnya untuk tak menjitak kepalaFarrand karena ia masih sayang


kepada putri semata wayangnya itu.


SedangkanFarrand, ia tersenyum gaje sambil menutup mulutnya dengan


sebelah tangannya. Ia puas. Mengerjai ayahnya seperti ini membuatnya mendapat


kepuasan tersendiri.


"Jadi, selama aku aman sampai sebelum menikah, aku tak masalah


melakukan hal seperti yang ayah lakukan pada ibu ataupun sebaliknya?"


"TIDAK!!"


"Ayolah ayah.... bukankah ayah pernah melakukannya pada ibu?"


"TIDAK! Dan ayah akan menghukum siapapun lelaki yang melakukan hal itu


pada putri kesayangan ayah."

__ADS_1


"Lakukan hal itu, dan Farrand akan mogok masak dan pergi dari


rumah."


"Mengancam, huh?"


"Sudahlah ayah. Ayah bisa mempercayaiFarrand.Farrand tadi hanya ingin


menguji seberapa protektif ayah pada Farrand."


Farrand tersenyum lembut. Dan kini, ganti Arashya  yang melongo akibat perkataan Farrand barusan.


Ia kecewa, ia merasa dijebak oleh putri kecilnya sendiri.


"Ayo,Farrand ngantuk." Ucap Farrand kemudian. Ia melenggang pergi,


meninggalkan Arashya  yang masih melongo menatap


putrinya yang beranjak menuju mobilnya.


‘Nitra sayang, putri kita sudah dewasa. Dan aku berharap dia tidak mewarisi sikap


liarmu. Karena terkadang, aku sudah cukup pusing menghadapi tingkah diluar


nalarnya.' Batin Arashya .


.


.


.


Farrand menguap dan meregangkan tubuhnya sesaat setelah bel pertanda


istirahat berbunyi. Badannya terasa pegal, dan suara gemeretuk tulangnya saat


ia meregangkannya membuat orang disekitarnya bergidik ngeri. Bahkan Lingga yang


berjarak agak jauh darinya saja bisa mendengar suara generetuk itu.


"Farrand kau mengerikan." Celetuk Nadeen dengan nada horor.


"Maaf. Nadeen. Badanku sakit semua karena aku belum bisa


beristirahat dengan baik."


"Memang apa yang kau lakukanFarrand? Kau juga beberapa hari ini tak


masuk. Apa kau sakit?"


"Tidak. Aku hanya membantu ayahku membereskan rumah. Kami telah pindah


lebih dari seminggu yang lalu."


"Jadi karena itu aku tak bisa menemukanmu di apartmentmu yang


lama?" Suara berat Lingga menginterupsi, membuat dua pasang mata berbeda


warna itu menoleh kearahnya.


"Ya."


"Mengapa kau tak memberitahuku, Ling?"


"Kau lupa? Siapa yang menghindariku akhir-akhir ini?" Skakmat.


Mulut Lingga terkatup rapat. Memang benar apa yang dikatakanFarrand tentang


dirinya itu. Fakta


"Ini jatah bekalmu, jangan mengikutiku. Aku ingin menenangkan diri


sebentar." Putus Farrand mutlak. Lingga dan Nadeen sama-sama terdiam


mendengar gertakan dari Farrand. Tak ada yang berani membantah, apalagi


sekarang Farrand dalam mode mengantuknya. Nadeen bahkan sampai bergidik ngeri


merasakan aura mencekam yang dikeluarkan Farrand.


Farrand berjalan pelan sambil menenteng dua kotak bekal makan siang ditangan


kirinya. Tujuannya adalah taman belakang, dan ia ingin kesana untuk menemui


seseorang.


Seulas senyum cerah bertengger dibibir cherry miliknya saat ia meluhat


siluet rambut merah  cepak terduduk


disalah satu bangku. Hilang sudah kantuknya tadi, dan kini ia melajukan kakinya


dengan sedikit berlari agar cepat sampai.


"Sudah lama?" Dion tersentak kaget atas kedatangan Farrand yang


dirasanya tiba-tiba itu.


"Belum. Kau tau sendiri jika bel belum lama berbunyi."


Farrand mengangguk, ia lantas membuka kotak bekalnya dan menyerahkan satu


kepada Dion.


"Thank’s,Farrand." Ucap Dion tulus.


"Sama-sama, Dion.


Emm....., apa yang ingin kau bicarakan padaku, Dion?"


Dion terdiam, ia memegang sumpit untuk makan itu dengan erat. Ia seperti


kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas untuk ia utarakan keFarrand.


"Farrand, setelah kelulusan nanti, aku akan pindah ke Amerika."


Nyuuutttt....


HatiFarrand terasa tercubit mendengar pengakuan dari Dion yang menurutnya


terlalu tiba-tiba itu. Ia tau jika hari kelulusan sudah dekat, namun ia tidak


menyangka jika setelahnya Dion akan pergi jauh.


"Ayah berharap banyak padaku. Maka dari itu ia mengirimku kesana."


Lanjut Dion. Ia menunduk, tak kuasa untuk mendongak dan melihat wajahFarrand.


"Aku doakan yang terbaik untukmu, Dion. Aku yakin kau akan baik-baik


saja disana"


"Begitukah?" Lirih Dion.


"Ya, karena aku tau kau tak akan menyerah dengan mudah."


Dion mendongak, mencoba mencari ketenangan dibalik sorot mata teduh milik Farrand.


"Boleh aku meminta sesuatu padamu?"


"Apa itu?"


"Aku ingin menciummu untuk yang terakhir kalinya. Dan setelah itu aku


akan merelakanmu bersama Lingga."


"Kau curang."


"Curang?"


"Kau mengikatku dalam cinta ini. Tak hanya itu, kau pun mengikat yang


lain untuk bersamamu namun kau tak melepaskanku dengan mudah."


"Farrand,..... kau tau dengan benar jika aku sangat mencintaimu."


Tes...


Setetes air mata menuruni pipiFarrand, lagi-lagi ia dihadapkan pilihan yang


sulit. Disisi lain ia ingin menerima Lingga, namun disisi ini juga ia masih


mencintai Dion.


"Lakukan, dan setelah itu jangan meminta lagi. Kau ingat jika aku sudah


memiliki Lingga dan kau memiliki Zennie, bukan."


Dion mengangguk pelan, tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya, ia


langsung menyerbu bibir Farrand dengan ciuman. Sebelah tangannya meraih tengkuk


Farrand untuk memperdalam ciuman mereka.Farrand sedikit mendesah, airmatanya


turun semakin deras saat sebelah tangan Dion menyusup ke kemeja Farrand.


Mengusap pelan sesuatu yang ada dibaliknya.


Mereka masih melakukan kegiatannya dengan tenang, tanpa tau seseorang yang


melihat mereka dibalik tembok mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


'Awas kau.' Bisiknya.


Tbc


__ADS_2