
Farrand keluar dari gerbang sekolah dengan sebuah senyuman yang terukir di
wajahnya. Di depannya, Dion akan menyebrang ke jalan seberang yang menuju ke
arahnya. Ia tatap wajah itu, wajah tampan yang selalu ia puja dan pernah ia
cintai dulu.
Ckiitttt... brak....
"Aaaaaaaaaaa" Suara teriakan seorang wanita menarik atensi beberapa
orang yang lewat ditrotoar jalan. Matanya membelalak lebar, jantungnya berpacu
kencang merespon atas apa yang ia lihat. Dihadapannya, Dion telah terkapar
bersimbah darah dan tergeletak tak berdaya. Kakinya serasa melunak, seperti
kehilangan tulang untuk menopang tubuhnya dan seketika itu pula ia berusaha menyeret
kakinya berlari menuju Dion.
Dion yang terbaring lemah bermandikan darah kini berada dipangkuannya. Ia
peluk tubuh ringkih itu, pelukannya terasa dingin, dan setelah itu ia sadar
jika Dion telah tak bernyawa lagi.
"DIOOONNN......."Farrand menjerit, tangannya yang berlumuran darah
milik Dion ia pandangi dengan cucuran airmata yang menganak sungai. Nafasnya
memburu, dan setelah itu peluk erat Dion yang masih berada dipangkuannya sambil
menangis sesenggukan.
.
Farrand terbangun dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya
terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang, dan pandangannya menusuk tajam
dengan sedikit kilat kesedihan. Mimpinya tadi terasa begitu nyata, dan ia
langsung memeriksa tangannya. Dan ia langsung mendesah lega saat mendapati
tangannya bersih dari noda darah.
"Dion." Lirihnya.
Sedikit banyak ia bersyukur, bersyukur karena kejadian itu hanyalah mimpi
dan tidak terjadi secara nyata.
.
.
.
Waktu masih menunjukkan pukul dua dinihari. Setelah mimpi buruknya, ia tak
lagi bisa memejamkan mata. Biarlah, ia akan terjaga saja setelah ini. Lagipula
satu jam dari sekarang adalah jadwalnya berlatih bersama ayahnya. Dan ia akan
memanfaatkan waktu satu jam itu untuk memasak sarapan. Mungkin bisa dikatakan
terlalu dini, namun ia lakukan itu agar nanti setelah berlatih ia bisa langsung
tidur dan tidak memasak lagi.
Setelah memasak,Farrand masih punya waktu lima menit untuk bersiap. Ayahnya
telah bangun dan sekarang tengah bersiap untuk mengambil mobil yang ia letakkan
ditempat rahasia dengan menggunakan motor sport. Dan setelah siap, ia lantas
keluar dan beranjak menuju mobilnya yang ada digarasi.
Farrand dan Arashya tidak berangkat bersama-sama. Dan itu atas usul Farrand
sendiri. Nanti, mereka akan bertemu di bawah gunung Falen dengan Arashya yang
berjalan terlebih Dahulu. Begitulah cara mereka berlatih, Arashya yang berjalan
terlebih dulu lalu setelah itu disusul Farrand. Dengan berada dibelakang Arashya,Farrand
bisa mengamati teknik yang digunakan Arashya dan menerapkannya pada teknik
miliknya. Terkesan simple, namun butuh ketelitian dan pemahaman yang kuat untuk
bisa langsung menerapkan teknik yang hanya bisa dilihat hasilnya.
Mereka berdua telah siap, Arashya didepan dan Farrand dibelakangnya dengan
jarak yang hanya beberapa meter saja.
Iring-iringan mobil Silvia 15 dan Honda (Acura) NSX terlihat begitu indah.
Jika dilihat sepintas, dua mobil itu seperti mobil kembar yang diam dengan
pemandangan sekitarnya yang seolah berjalan. Jarak mereka selalu sama, bahkan
tentang teknik drift yang digunakan pun sama. Dan NSX merah milikFarrand
terlihat tidak mengurangi ataupun menambah jarak antara mereka berdua.
Dibalik kemudinya, Arashya tersenyum puas setelah melirik kaca spion yang
menunjukkan keberadaanFarrand dibelakangnya. Dihatinya ia merasa bangga.Farrand,
meskipun seorang wanita, dia mampu mengimbangi kecepatan yang ia miliki.
Padahal jika ia bertarung diarena balap, sudah bisa dipastikan lawan-lawannya
tertinggal dibelakang dengan jarak yang lebih lebar dari ini.
Melihat kemampuan Farrand, ia kembali teringat akan mendiang istrinya, Janitra.
Wanita itu begitu anggun dan tangguh disaat yang bersamaan. Anggun saat
bersikap, dan tangguh saat dibalik kemudi. Tak banyak yang tau akan
kemampuannya, dan hal itu dikarenakan Janitra yang menutup diri saat
pertandingan dan lebih banyak duduk disampingnya seperti seorang navigator.
Kini, kemampuan hebat Janitra sepertinya telah diturunkan kepada putri
semata wayang mereka.Farrand, ia memiliki paras manis turunan Janitra dan surai
pirang serta bola mata biru milik Arashya . Tak hanya itu, ia juga mewarisi
kemampuannya dalam menganalisa dari Janitra dan kemampuan mengendarai dari Arashya
. Perpaduan yang pas. Namun tak banyak yang tau tentang kemampuan dan bakatnya
itu. Dan sepertinya, Arashya akan
membiarkan hal itu mengalir tenang seperti yang seharusnya.
Setelah dua kali putaran, Arashya dan
danFarrand berhenti di puncak. Mobil mereka sudah terasa panas, dan ban depan
mobil mereka pun sudah mulai aus akibat terlalu banyak melakukan drift.
Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju ke pinggir pembatas jalan.
Semilir angin memainkan helai coklat yang serupa itu hingga bergoyang dan
membelai kulit mereka masing-masing.
Farrand memejamkan matanya,
bagaimanapun juga ia sangat suka keadaan yang seperti sekarang ini. Dimana
keadaan yang sunyi ditambah semilir angin yang menyejukkan dan menentramkan.
Lain denganFarrand yang memejamkan matanya, Arashya justru asyik memandangi kerlap-kerlip lampu
kota Falen yang membentang dihadapannya. Ia tersenyum, ia menyadari betapa
banyak yang berubah dari kota ini sejak dulu saat ia masih sesekali kesini
bersama Janitra.
"Kau tau,Farrand. Tempat ini adalah tempat favorit ayah dan ibu saat
kami masih bersama."Farrand melirik Arashya dan menatap sendu kearahnya. Ia tau, nada
bicara Arashya menyiratkan rasa rindu
yang mendalam untuk ibunya.
"Bukankah ayah tinggal di kota Halu?"
__ADS_1
"Ayah memang lama tinggal di Halu. Namun ketika tengah malam tak ada
balapan, kami berdua kesini, menikmati semilir angin dan memandang gemerlap
kota Falen dari sini."
"Ayah, boleh aku bertanya?"
Arashya mengangguk.
"Bagaimana cara kalian pacaran, yah?"
Blush....
Kata-kata yangFarrand lontarkan seolah menjadi mantra yang sanggup membuat
wajah Arashya memerah dalam sekejap.
"Jangan malu, yah. Aku sudah cukup umur untuk mendengar perlakuan
romantis kalian. Jadi, ayo ceritakan pada putrimu ini tentang masa lalu kalian.
Siapa tau aku bisa mengambil pelaaran darinya." Arashya terkekeh. Ia sebenarnya malu jika harus
menceritakan masalalunya bersama Janitra. Tapi biarlah. Biar saja ia akan
menceritakannya. Toh, seperti kata Farrand tadi.Farrand telah cukup umur untuk
mendengarnya.
Arashya menghela nafas. Berusaha
mempersiapkan diri untuk bercerita.
"Masa pacaran kami hanya di isi dengan balapan berdua. Itu saja." Doeenggg....Farrand
hampir saja terjungkal jika ia tak berpegangan pada pembatas jalan akibat
mendengar ucapan Arashya yang menurutnya
kelewat singkat itu.
"Bukan itu, ayah. Aku yakin ayah melakukan sesuatu pada ibu."
Wajah Arashya memerah, ia tak
menyangka jika putrinya akan mendesaknya hingga sejauh ini.
"Atau jangan-jangan ayah menghamili ibu sebelum kalian menikah." Arashya melongo, ia tak menyangka putrinya akan
mengucapkan kata-kata yang menurutnya tak masuk akal seperti itu.
"Dari mana kau mendapat asumsi seperti itu,Farrand."
"Dari tadi ayah tak bercerita. Hanya raut wajah ayah yang memerah yang
dapat kutangkap dari pernyataanku. Dan aku berasumsi seperti itu. Yah,, siapa
yang tau juga kan?"
"Jangan berkhayal terlalu jauh. Aku dan ibumu masih cukup waras untuk
melakukan hal sedini itu saat kami pacaran."
"Jadi ayah tak pernah menyentuh ibu?"
"E-etoo...."
"Atau ayah terlalu takut menghadapi ibu?"
Tatapan menyelidik yang diberikanFarrand membuat Arashya kikuk. Ia tak tau harus memulai ceritanya
darimana. Tapi yang jelas, ia harus berhati-hati agar tidak salah bicara.
"Ayah dan ibu saat itu hanya sebatas.... yah.... bagaimana
mengutarakannya ya?"
"Kiss?"
"Y-ya."
"Lalu? Tak ada lagi?"
"Y-ya."
"Jangan bohong yah, aku sedikit mengingat, setauku ibu pernah bercerita
jika tangan ayah sangat nakal. Saat itu masih kecil. Jadi aku tak tau apa yang
ibu maksud dengan tangan ayah sangat nakal."
Mampus!!!!
karena ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia tak pernah tau hal ini, fakta
bahwa Janitra bercerita kepadaFarrand kecil tentang masa dulunya bersama Arashya
. Kini menjadi bom waktu yang mampu menyudutkannya hingga tak bisa berkutik.
Dan, kini dalam hati ia mengutuk otakFarrand yang mempunyai ingatan tajam.
"A-ayah tak bisa menceritakannya."
"Mouu, aayaahh..."Farrand mengucutkan bibirnya dan menatap Arashya dengan tatapan memelas seperti kucing
yang minta dipungut. Arashya menggeleng
lemah, sepertinya ia telah luluh pada pandangan memelas milikFarrand.
"Baiklah, kami beberapa kali melakukan kiss saat sedang
balapan."
"Bagaimana ayah melakukannya?"
"Bukan ayah yang melakukannya, tapi ibumu yang mencium ayah saat ayah
sedang sibuk menyetir."
Naru melongo, "Aku tak menyangka jika ibu se agresif itu." Ia menggeleng
pelan, seolah tak percaya dengan apa yang tengah ia dengarkan saat ini.
"Dan hal itu yang ayah takutkan jika ke agresifan ibumu menurun
padamu."
"Bukankah hal itu tak masalah? Nyatanya ayah dan ibu baik-baik saja
sampai menikah."
"Kau tak mengerti, nak. Kau jangan naif, tak banyak lelaki yang bisa
menahan godaan wanita agresif."
"Jadi ayah ingin mengatakan jika ayah merupakan lelaki yang sedikit
itu?"
Arashya mengangguk dengan percaya
diri. Ia bangga, karena secara tidak langsung ia mendapat predikat laki-laki
langka dari putrinya. Dan, hey! Asumsi dari mana itu?
"Lalu apa arti dari tangan ayah nakal tadi."
"E-etto....."
"Ayah jangan mengalihkan pembicaraan seperti yang tadi ayah
lakukan."
Arashya tersenyun kikuk. Ia menghela
nafas pelan. Dan sebisa mungkin ia menormalkan detak jantungnya yang memburu.
"Ayah menyukai dua gumpalan montok ibumu." Cukup!!! Wajah Arashya sudah sangat merah sekarang. Ia bahkan berusaha
menekan hasratnya untuk tak menjitak kepalaFarrand karena ia masih sayang
kepada putri semata wayangnya itu.
SedangkanFarrand, ia tersenyum gaje sambil menutup mulutnya dengan
sebelah tangannya. Ia puas. Mengerjai ayahnya seperti ini membuatnya mendapat
kepuasan tersendiri.
"Jadi, selama aku aman sampai sebelum menikah, aku tak masalah
melakukan hal seperti yang ayah lakukan pada ibu ataupun sebaliknya?"
"TIDAK!!"
"Ayolah ayah.... bukankah ayah pernah melakukannya pada ibu?"
"TIDAK! Dan ayah akan menghukum siapapun lelaki yang melakukan hal itu
pada putri kesayangan ayah."
__ADS_1
"Lakukan hal itu, dan Farrand akan mogok masak dan pergi dari
rumah."
"Mengancam, huh?"
"Sudahlah ayah. Ayah bisa mempercayaiFarrand.Farrand tadi hanya ingin
menguji seberapa protektif ayah pada Farrand."
Farrand tersenyum lembut. Dan kini, ganti Arashya yang melongo akibat perkataan Farrand barusan.
Ia kecewa, ia merasa dijebak oleh putri kecilnya sendiri.
"Ayo,Farrand ngantuk." Ucap Farrand kemudian. Ia melenggang pergi,
meninggalkan Arashya yang masih melongo menatap
putrinya yang beranjak menuju mobilnya.
‘Nitra sayang, putri kita sudah dewasa. Dan aku berharap dia tidak mewarisi sikap
liarmu. Karena terkadang, aku sudah cukup pusing menghadapi tingkah diluar
nalarnya.' Batin Arashya .
.
.
.
Farrand menguap dan meregangkan tubuhnya sesaat setelah bel pertanda
istirahat berbunyi. Badannya terasa pegal, dan suara gemeretuk tulangnya saat
ia meregangkannya membuat orang disekitarnya bergidik ngeri. Bahkan Lingga yang
berjarak agak jauh darinya saja bisa mendengar suara generetuk itu.
"Farrand kau mengerikan." Celetuk Nadeen dengan nada horor.
"Maaf. Nadeen. Badanku sakit semua karena aku belum bisa
beristirahat dengan baik."
"Memang apa yang kau lakukanFarrand? Kau juga beberapa hari ini tak
masuk. Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku hanya membantu ayahku membereskan rumah. Kami telah pindah
lebih dari seminggu yang lalu."
"Jadi karena itu aku tak bisa menemukanmu di apartmentmu yang
lama?" Suara berat Lingga menginterupsi, membuat dua pasang mata berbeda
warna itu menoleh kearahnya.
"Ya."
"Mengapa kau tak memberitahuku, Ling?"
"Kau lupa? Siapa yang menghindariku akhir-akhir ini?" Skakmat.
Mulut Lingga terkatup rapat. Memang benar apa yang dikatakanFarrand tentang
dirinya itu. Fakta
"Ini jatah bekalmu, jangan mengikutiku. Aku ingin menenangkan diri
sebentar." Putus Farrand mutlak. Lingga dan Nadeen sama-sama terdiam
mendengar gertakan dari Farrand. Tak ada yang berani membantah, apalagi
sekarang Farrand dalam mode mengantuknya. Nadeen bahkan sampai bergidik ngeri
merasakan aura mencekam yang dikeluarkan Farrand.
Farrand berjalan pelan sambil menenteng dua kotak bekal makan siang ditangan
kirinya. Tujuannya adalah taman belakang, dan ia ingin kesana untuk menemui
seseorang.
Seulas senyum cerah bertengger dibibir cherry miliknya saat ia meluhat
siluet rambut merah cepak terduduk
disalah satu bangku. Hilang sudah kantuknya tadi, dan kini ia melajukan kakinya
dengan sedikit berlari agar cepat sampai.
"Sudah lama?" Dion tersentak kaget atas kedatangan Farrand yang
dirasanya tiba-tiba itu.
"Belum. Kau tau sendiri jika bel belum lama berbunyi."
Farrand mengangguk, ia lantas membuka kotak bekalnya dan menyerahkan satu
kepada Dion.
"Thank’s,Farrand." Ucap Dion tulus.
"Sama-sama, Dion.
Emm....., apa yang ingin kau bicarakan padaku, Dion?"
Dion terdiam, ia memegang sumpit untuk makan itu dengan erat. Ia seperti
kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas untuk ia utarakan keFarrand.
"Farrand, setelah kelulusan nanti, aku akan pindah ke Amerika."
Nyuuutttt....
HatiFarrand terasa tercubit mendengar pengakuan dari Dion yang menurutnya
terlalu tiba-tiba itu. Ia tau jika hari kelulusan sudah dekat, namun ia tidak
menyangka jika setelahnya Dion akan pergi jauh.
"Ayah berharap banyak padaku. Maka dari itu ia mengirimku kesana."
Lanjut Dion. Ia menunduk, tak kuasa untuk mendongak dan melihat wajahFarrand.
"Aku doakan yang terbaik untukmu, Dion. Aku yakin kau akan baik-baik
saja disana"
"Begitukah?" Lirih Dion.
"Ya, karena aku tau kau tak akan menyerah dengan mudah."
Dion mendongak, mencoba mencari ketenangan dibalik sorot mata teduh milik Farrand.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Aku ingin menciummu untuk yang terakhir kalinya. Dan setelah itu aku
akan merelakanmu bersama Lingga."
"Kau curang."
"Curang?"
"Kau mengikatku dalam cinta ini. Tak hanya itu, kau pun mengikat yang
lain untuk bersamamu namun kau tak melepaskanku dengan mudah."
"Farrand,..... kau tau dengan benar jika aku sangat mencintaimu."
Tes...
Setetes air mata menuruni pipiFarrand, lagi-lagi ia dihadapkan pilihan yang
sulit. Disisi lain ia ingin menerima Lingga, namun disisi ini juga ia masih
mencintai Dion.
"Lakukan, dan setelah itu jangan meminta lagi. Kau ingat jika aku sudah
memiliki Lingga dan kau memiliki Zennie, bukan."
Dion mengangguk pelan, tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya, ia
langsung menyerbu bibir Farrand dengan ciuman. Sebelah tangannya meraih tengkuk
Farrand untuk memperdalam ciuman mereka.Farrand sedikit mendesah, airmatanya
turun semakin deras saat sebelah tangan Dion menyusup ke kemeja Farrand.
Mengusap pelan sesuatu yang ada dibaliknya.
Mereka masih melakukan kegiatannya dengan tenang, tanpa tau seseorang yang
melihat mereka dibalik tembok mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
'Awas kau.' Bisiknya.
Tbc