Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 36


__ADS_3

Farrand masih sesekali terkekeh saat mengingat kejadian yang baru dialaminya. Ia merasa bodoh, ia merasa ayahnya telah sukses membuatnya frustasi hingga titik terendah dirinya. Di sampingnya, Lingga menatapnya sambil menyesap teh hangat yang ia siapkan. Mereka kini ada di teras rumah Farrand, dan ia sangat menikmati momen berdua yang tidak ia sangka-sangka ini.


"Jika kau terlalu banyak terkekeh, orang yang lewat bisa mengira dirimu gila, Fa." Farrand tak menjawab. Ia hanya sibuk memandang wajah Lingga dan kembali terkekeh.


"Aku masih tak menyangka jika ternyata yang dijodohkan denganku adalah kau, Ling."


"...." Lingga menggeleng pelan. Namun dalam hati ia membenarkan perkataan Farrand. Sejujurnya ia sendiri juga masih tak percaya dengan apa yang ia alami. Ia bahagia, terlalu bahagia sampai-sampai ia terus menggumamkan kata semoga yang dialaminya ini bukan mimpinya seperti tempo hari.


"Aku tak tau jika ayah kita ternyata dulunya adalah rival. Terlalu mengejutkan, sampai-sampai aku masih mengira jika ini adalah mimpiku seperti tempo hari." Ujar Lingga.


"Mimpimu tempo hari? Seperti apa itu?" Sial. Lingga keceplosan.Wajah Lingga memerah sempurna dan merutuki mulut embernya dalam hati, tak mungkin bukan jika ia mengatakan jika ia memimpikan Farrand hingga berakhir dengan basahnya bagian bawah? Bisa saja Farrand menggeplaknya, atau bahkan yang lebih parah adalah marah padanya.


"Ling, wajahmu memerah. Apa kau demam?"


Lingga menggeleng keras, ia segera mencekal tangan Farrand yang terjulur padanya. Padahal niat Farrand baik, ia hanya ingin mengecek suhu badan Lingga.


"Aku tak apa, Fa. Sungguh."


Farrand tersenyum, Lingga yang masih memegang tangannya kini mengecupnya perlahan. Ah, romantisnya.....


"Ayahmu sukses membuatku hampir gila, Fa."


"Hei. Kau pikir hanya kau saja? Aku juga begitu. Aku hampir saja pingsan tadi."


"Mengapa tak kau sarankan paman untuk jadi artis saja, Fa?"


Farrand menggeleng pelan. Ia memang menyetujui usulan Lingga, tapi hal itu dirasanya adalah hal yang lucu untuk dinyatakan. Ia tak akan terima jika ayahnya terkenal dan menjadi rebutan. Bukannya narsis, hanya saja ia khawatir pada ayahnya itu. Banyak wanita muda yang mengincar ayahnya, dan ia cukup tau akan hal itu. Beruntung, ayahnya yang cuek tak terlalu mempedulikan hal itu.


Farrand dan Lingga kembali melamunkan kejadian tadi. Dimana ternyata Lingga lah yang menjadi tunangannya, ia menggeleng pelan. Dan kesunyian mereka terganggu oleh teriakan cempreng milik Daniel.


"Kakak!"


"Ada apa, Daniel. Kau mengganggu saja."


Daniel yang dengan seenaknya duduk di pangkuan Lingga langsung menyeruput teh hangat miliknya. Lingga mendengus, ia sebenarnya jengkel dengan sikap Daniel yang suka seenaknya sendiri. Namun apa boleh buat, sejujurnya ia juga masih merindukan tingkah Daniel yang seperti ini.


"Hey, hey, kakak! Ayah dan paman Arasya memanggilmu. Ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan padamu."


Lingga mengangguk, ia menurunkan Daniel dan beranjak kedalam rumah setelah mengusap pelan puncak kepala Farrand. Farrand tersenyum lembut, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja tanpa ucapan.


"Kakak Farrand, benar?" Sapa Daniel.


"Hm, iya. Daniel?"


"Kakak cantik mau mengantarku beli cemilan? Aku mau cemilan."


Kakak cantik? Apa Farrand tidak salah mendengar?


"Kau sudah pamit?"


Daniel mengangguk.


"Dan mereka sudah mengizinkanmu?"


Dan Daniel mengangguk lagi. Farrand menghela nafas, ia merasa jika mereka ingin mengatakan sesuatu yang tak boleh diketahuinya. Dan sepertinya mengajak Daniel jalan-jalan juga bukan hal buruk.


"Aku akan mengambil kunci mobil. Tunggu disini, ya."


"Hu'um," Ucap Daniel. Ia mengayun-ayunkan kakinya dan mendongakkan kepalanya menatap bintang di langit.


"Indah." Bisiknya. Dulu sekali ia sering di buat bertanya-tanya saat melihat kakaknya yang selalu memandangi langit malam dan merasa seolah ada sesuatu hal yang menarik disana. Kala itu, ia juga ikut melihatnya dan mencari tahu apa sebenarnya hal yang menarik dari langit malam. Ia yang masih dalam pemikiran anak kecil saat itu masih lah belum mengerti sama sekali sebuah keindahan yang di tawarkan sisi lain dari sebuah gelap malam berbintang. Pernah ia mengajukan pertanyaan tentang ini, namun jawaban dari kakaknya hanyalah sebuah kata singkat yang tak ia ketahui artinya. ‘Suatu saat kau akan tahu.’ Begitu katanya. Dan sekarang, barulah ia mengerti arti kata itu.


Bahwa bukan kerlip bintang yang membuat indah gelap malam, tapi perpaduan keduanya lah yang membuatnya seimbang. Malam boleh gelap, tapi bintang yang tak lebih besar dari langit hanya bisa berusaha terus benderang. Ia tahu ia tak akan bisa menerangi seluruh gelap langit, tapi ia tahu untuk tidak menyerah dan membuat keberadaannya di akui. Ia memang lebih besar dari matahari, namun jarak yang membuatnya tak terlihat di siang dan terkalahkan matahari di mata manusia saat siang. Langit boleh angkuh dengan gelapnya. Matahari boleh bersinar terang dengan kedekatannya dengan bumi, tapi bintang akan terus bersinar meski hanya saat malam lah ia akan terlihat. Dan Daniel, ia kini mengerti betapa dalam pemikiran kakak yang selalu ayahnya sebut sebagai pembangkang, tidak mendengarkan orang tua, dan mengabaikan perintah mereka. Dan ia cukup bangga, setidaknya kakak yang menjadi panutannya sama sekali tidak menyerah dengan keadaannya dan apa yang menimpanya. Kakaknya seorang lelaki yang hebat, itu yang ia tahu hingga saat ini.


Dan Daniel, tetap dalam pemikiran itu tanpa mengetahui jika sebenarnya sifat kakaknya itu di turunkan dari sifat ayahnya semasa muda, dan hal itu menjadi pemicu kebencian ayahnya pada Lingga. Ayahnya hanya tak ingin Lingga menyia-nyiakan masa mudanya dan berusaha menjadi pewaris yang layak hingga ia tak harus menyerahkan beban pewaris perusahaannya pada anak kedua. Namun apa dayanya, gen pemberontaknya ternyata lebih mendominasi dan menurun semua pada anak pertamanya hingga ia seolah melihat dirinya yang masih muda ada dalam diri Lingga. Jason –ayah Daniel dan Lingga- hanya bisa meratapi dirinya -yang begitu amat disadarinya – begitu keras kepada Lingga hingga membuat Lingga nekat pergi dari rumah. Hingga beberapa bulan setelahnya, Jason menyadari jika tak ada yang salah dengan Lingga, sulungnya itu hanya ingin mencari jati dirinya dengan sifat bawaan dari ayahnya. Beruntung, Jason bisa memantau perkembangan Lingga dengan bantuan Arasya.


Tak lama, Farrand datang dan membawa kunci mobil milik ayahnya. Ia mengajak Daniel yang terlebih dahulu menghentikan lamunannya dan menggandeng pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu.


Jalanan terasa sunyi, itu wajar karena mungkin, orang-orang akan malas memadati jalanan karena suhu yang dingin. Farrand melenggang dengan kecepatan sedang, dan hal itu diam-diam diperhatikan Daniel.

__ADS_1


"Hey, kakak cantik. Bisa kau mengajakku keliling sebentar?"


"Hm?"


"Aku selama ini penasaran, seperti apa serunya mengendarai mobil. Kakak selalu bilang jika ia berada dibalik kemudi, ia merasakan hal yang berbeda."


"Begitukah?"


"Ya. Jadi, bisa kakak cantik memberitahuku mengapa? Aku tau, seharusnya aku bertanya pada kakak. Tapi untuk saat ini sepertinya tak bisa. Karena kakak cantik pacar kakakku, kurasa kakak cantik tau banyak tentang hal itu dari kakak." Daniel menunduk, ia memelankan suaranya di akhir, dan hal itu membuat hati Farrand terenyuh. Ia telah mendengar banyak tentang Daniel dari cerita Lingga. Pemuda yang memiliki ikatan darah dengan kekasihnya itu hanyalah seorang anak kecil yang terlalu banyak mengambil gen ibunya yang penurut dan membuatnya seolah menjadi pesuruh yang tepat untuk ayahnya. Tak tahu saja jika hal itu bisa menyakiti perasaan Lingga yang merasa jika ayahnya lebih menyayangi adiknya ini. Padahal dalam nyatanya, tidak. Ayahnya hanya tak tahu harus bersikap bagaimana dalam membagi kasih sayang sama rata dengan sifat berbeda dari dua individu itu.


"Kau tau, Daniel. Kakak cantik juga pernah bermimpi menjadi pembalap loh."


"Benarkah?"


"E'em. Tapi sekarang Kakak cantik sudah memutuskan untuk berhenti."


"Kenapa?"


"Kakak cantik merasa jika kakak cantik memiliki tujuan yang lain. Kakak cantik ingin menggapai cita-cita Kakak cantik yang lain."


"Tapi, setidaknya Kakak cantik memberitahuku dulu bagaimana rasanya menjadi pembalap."


"Heee..... Kau terlalu antusias ya, Daniel."


"He'em." Daniel mengangguk mantap. Dan Farrand terkekeh geli melihat hal itu. Ia bisa melihat betapa banyak ketertarikan anak itu pada dunia di balik kemudi.


"Baiklah. Kakak cantik akan membawamu ke bukit Falen."


"Mengapa harus ke bukit?"


"Di sanalah kesenangan yang sebenarnya berada."


"Heeee....."


Farrand tersenyum puas. Ia sedikit bahagia melihat raut wajah senang yang dimiliki Daniel. Dalam hati, ia sedikit membayangkan tentang adiknya yang tidak bisa terlahir sempurna itu. Mungkin, jika adiknya terlahir dan ibunya masih ada, ia tak akan kesepian seperti sekarang ini. Tapi biarlah, ia hanya harus menikmati hidupnya. Toh, ia tak terlalu merasa kesepian yang teramat sangat. Masih ada ayahnya, Madhiaz dan keluarganya, dan kini pun ada Lingga di sampingnya.


"Kencangkan sabuk pengamanmu, Daniel. Kita akan mulai menambah kecepatan setelah ini."


"Kakak cantik KYAAAAA." Daniel menjerit. Tangan Farrand yang sebelah kiri kini membekap mulut Daniel yang berteriak seperti anak korban penculikan dan tangan kanan yang mengendalikan kemudi. Farrand tak mau ambil resiko. Ia tak ingin disangka penculik anak dibawah umur oleh warga sekitar.


"Diamlah. Atau kakak cantik akan membawamu pulang saja." Gertak Farrand.


Daniel mengangguk lagi meski rona pucat sudah menghiasi wajahnya. Ia tak ingin di ajak pulang bahkan sebelum ia di ajak menapaki trek yang biasa kakaknya lakukan. Ia dulu sering meminta kakaknya membawanya, namun penolakan dari kakaknya dan juga hardikan dari ayahnya membuat nyalinya menciut seketika. Ia tak tahu, jika hal yang dilihatnya terlihat menyenangkan itu ternyata membuat nyawanya menciut dan merasa seolah malaikat maut tersenyum mengerikan padanya.


"Bagus. Jadilah anak baik yang pendiam. Ok. Setelah ini kita akan menanjak bukit dan menuruninya. Kakak cantik tak akan ngebut selama menanjak. Tapi setelah turunan, kakak cantik harap kau tak berteriak lagi. Jika nanti kau takut, kau bisa berpegang erat pada pegangan disana. Tapi ingat, jangan sekalipun berteriak seperti tadi atau kakak cantik akan putar arah pulang."


Daniel lagi-lagi hanya bisa mengangguk cepat mengiyakan perintah Farrand. Ia bersiap. Tubuhnya perlahan menegang dan tangannya kini mencengkram erat pegangan disebelah kirinya. Jantungnya terasa semakin berpacu setelah Farrand mulai menapaki jalan menanjak. Kecepatan Farrand tak main-main, namun Daniel masih belum percaya jika Farrand tadi mengatakan jika dalam kondisi menanjak, ia belum ngebut. Gila! Belum ngebut saja kecepatannya sudah seperti ini, bagaimana jika nanti jika ia sudah ngebut? Sudahlah, lebih baik ia menikmati apa yang ada dihadapannya dulu dari pada memikirkan yang belum terjadi. Bisa saja Farrand sudah mengeluarkan kecepatannya saat ini dan membuat Daniel ketakutan hingga bocah itu meminta pulang, bukan?


Jantung Daniel semakin menggila, keringat sudah mengalir di beberapa tempat di wajahnya. Bahkan ia yakin jika sudah ada yang jatuh tertetes melewati pelipisnya. Kecepatan Farrand tak main-main, ia bahkan semakin menambahnya saat mendekati puncak.


Meski sebenarnya ia sangat menantikan hal ini, merasakan sebuah kecepatan dari kuda besi beroda empat ini. Ia merasa bosan dengan kecepatan biasa yang dilakukan ayah dan ibunya saat membawanya. Ia pernah membayangkan akan kakaknya yang turut serta membawanya dengan kecepatan tinggi ketika berada di arena balapnya hingga ia lupa satu hal, bahwa kecapatan yang berlebih itu mengerikan.


"Kau bisa menarik nafas pelan-pelan dan hembuskan perlahan. Itu lumayan efektif meredakan detak jantungmu yang menggila." Ujar Farrand. Ia tak menoleh ke arah Daniel, namun Daniel yang melihat ekspresi Farrand hanya bisa menatapnya kagum karena menurutnya, Farrand sangat menawan dengan pandangan mata yang seolah tak berkedip itu.


"Nah. Di turunan depan, aku akan mulai serius."


Daniel terkesiap. Ia akan mulai serius katanya? Lalu tadi yang ia alami itu apa namanya jika bukan serius? Dengan menggeleng pelan, Daniel mulai menghela nafas dalam dan menghembusnya pelan seperti apa yang Farrand sarankan. Dan sedikit berhasil, detak jantungnya perlahan membaik.


Set,


Farrand memindah gear dengan cepat dan menginjak pedal gas makin dalam. Nafas Daniel tercekat, ia merasa nyawanya akan keluar saat itu juga setelah Farrand dengan kecepatan gilanya membawanya melaju kencang menuju pembatas jalan. Daniel mulai berfikir sinting, ia merasa jika Farrand mulai gila dan berencana akan bunuh diri dengan membawa dirinya. Namun setelahnya, ia terengah-engah saat Farrand berbelok di jarak yang cukup dekat dengan pembatas jalan. Ia yakin, jarak body mobilnya dengan pembatas jalan tadi pastilah hanya beberapa centi saja.


"Tak usah pucat begitu. Beginilah keadaan yang selalu dilalui pembalap jalanan seperti kakakmu. Kakak cantik yakin, kemampuan kakakmu pasti sudah semakin meningkat dari sebelumnya. Akhir-akhir ini kakakmu semakin giat berlatih saja." Ujar Farrand. Daniel mengangguk saja. Ia hanya bisa membayangkan keadaan kakaknya yang setiap waktu mengalami hal seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di ruang keluarga kediaman Farrand......


Terdapat Arasya yang duduk di sofa yang memuat satu orang, di sampingnya, ada Jason, dan di depannya ada Ariana yang memeluk tubuh tegap Lingga yang duduk di sampingnya. Ia tak mau jauh-jauh dari Lingga, ia masih merindukan putra sulungnya yang pergi setelah sekian lama itu.


"Jadi, Lingga. Bisa kau jelaskan maksud ucapanmu yang tadi? Yang mengatakan Farrand sedang mengandung darah dagingmu?" Tanya Arasya, ia tersenyum pada Lingga. Tapi entah mengapa Lingga merasa jika senyuman Arasya seperti menyeramkan dan seakan siap mencincangnya kapanpun.


"I-itu... paman."


"Kyaaa.... aku tak menyangka jika sulungku akan melangkah sejauh itu. Jangan khawatir Lingga sayang, aku akan merayakan pesta pernikahanmu dengan meriah dengan waktu persiapan yang sedikit." Belum selesai kata-kata yang akan Lingga ucapkan, Ariana sudah terlebih dahulu menyelanya. Lingga menengguk ludahnya, ia tak menyangka jika masalahnya akan menjadi sepelik dan serunyam ini. Padahal niatnya tadi hanya ingin ia tak dipisahkan dengan kekasihnya. Tak tahu jika hal itu malah membuatnya seolah disudutkan.


"Jika itu benar, aku sendiri yang akan memisahkan kalian apapun caranya."


Fyuuuhhh...


Aura yang dikeluarkan Arasya sungguh kelam. Lingga tak menyangka jika calon mertuanya bisa mengeluarkan aura yang begitu mencekam seperti itu. Ia melirik ayahnya, pria paruh baya itu hanya diam bersidekap tanpa mengeluarkan beberapa kata untuknya atau bahkan, sekedar membelanya.


"Ti-tidak. Paman. Aku dan Farrand tadi hanya berbohong. Aku bahkan yakin jika Farrand masih tersegel dengan sempurna."


"Baguslah." Aura kelam Arasya perlahan memudar dan Lingga bisa bernafas sedikit lega. Namun setelahnya yang terjadi sungguh diluar dugaannya, kini ganti ibunya yang menunduk dengan mengeluarkan aura suramnya.


"Padahal aku sudah berharap menggendong cucu dengan pipi tembam yang seperti Lingga saat masih kecil." Ucap Ariana dengan pelan.


Lingga menengguk ludah lagi, ibunya seharusnya senang karena putranya tak jadi menghamili anak gadis temannya sebelum menikah. Tapi ini? Mengapa ibunya seperti itu seolah dirinya gagal memberikan cucu yang telah lama di dambanya? Hell, apa ibunya lupa jika dirinya bahkan belum lulus dari SMA nya?


"Lalu, bisa kau jelaskan beberapa tanda merah disekitar lehernya?" Sambung Arasya.


Wajah Lingga memerah dengan sempurna, ia tak menyangka jika Arasya akan menemukan tanda yang ia sematkan pada Farrand.


"Kyaa..... jadi harapanku akan segera terwujud ya?" Ariana yang tadinya menunduk dengan aura suramnya kini kembali mendongak dengan aura yang cerah.


"Ariana...."


"Kau harusnya senang, Arasya. Janitra telah lama menginginkan hal ini dan aku yakin jika dia pasti akan sama bahagianya dengan diriku." Ucapan Arasya terhenti begitu saja saat Ariana menyelanya. Tatapannya mulai menyendu, setelah Ariana mengingatkannya tentang Janitra, ia kembali mengingat mendiang istrinya itu. Ariana benar, Janitra mungkin bahagia atas kabar ini mengingat dirinya lah yang paling antusias dengan pasangan putra dan putri mereka.


"...." Arasya terdiam. Ia tak setuju karena bagaimana pun juga, ia tak ingin sesuatu hal terjadi putrinya. Namun ia juga tak memungkiri jika ia sedikit setuju dengan ucapan Ariana. Untuk menenangkan hatinya, ia mencoba menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


"Aku sangat ingat bagaimana agresifnya kau dulu. Jika melihat dari keadaan Farrand sekarang, bukankah dia lebih bisa menjaga dirinya daripada kalian dulu? Kalian bahkan melakukannya di usia yang lebih muda dua tahun dari usia Farrand saat ini."


Bruuusssshhhhhhh.


Kopi yang di seruput Arasya ia semburkan begitu saja saat mendengar kembali perkataan Ariana tentang dirinya. Wajahnya memerah, ia tak menyangka jika Ariana akan membeberkan hal itu disini.


"Ma-Mama." Lirih Lingga.


"Jangan khawatir, Lingga sayang. Mama yang akan melindungimu dari calon mertuamu yang rese itu," Ariana menjeda, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Lingga dan berbisik kecil disana."Kau boleh melakukannya dengan Farrand. Tapi harus kau ingat, kau harus selalu sedia pelindung atau pil pencegah setiap saat agar Farrand tidak berbadan dua sebelum resmi menjadi istrimu, mengerti?"


Wajah Lingga yang semula memerah kini semakin memerah dibuatnya. Ia tak menyangka jika terpisah beberapa waktu bersama sang ibu bisa membuat ibunya berbicara semesum itu.


"A-Ariana. Jangan kau kotori pikirannya hingga ia bisa melakukan hal yang tidak-tidak dengan putri kecilku itu. Aku benar-benar tak akan memaafkannya jika ia membuat Farrand ku memiliki anak sebelum usianya genap 20 tahun."


"Berarti jika usia Farrand telah mencapai 19 tahun lebih 4 bulan, kau boleh tak memakai pengaman, Sasu. Karena jika ampuh, Farrand akan melahirkan di usia lebih dari 20 tahunnya." Binar bahagia menghiasi wajah Ariana. Arasya membelalakkan matanya, sedang di sampingnya, Jason tengah tersendak karena ludahnya sendiri.


"Berhenti meracuni otak anakmu, Ariana." Jason yang sedari tadi terdiam kini mengangkat suaranya saat dirasanya Ariana semakin keterlaluan dalam berbicara.


Keadaan Lingga? Oh, jangan ditanya. Kepalanya serasa beruap karena rasa panas yang terus menderanya. Ariana terkikik geli, tak disadarinya kini Lingga mulai meneteskan darah dari hidungnya.


"Kau lihat. Dia jadi berpikiran yang tidak-tidak tentang putri ku." Ucap Arasya. Ia mengacak surainya dengan frustasi, dan hal itu malah menuai kikikan geli dari Ariana.


"Kau tenang saja, ne. Arasya. Aku yakin Lingga tak akan membuat putrimu melahirkan sebelum ia lulus dari SMA nya."


Arasya cengo. Ia menatap Lingga tajam seakan mengajaknya bermusuhan. Lingga menggeleng, ia ingin mengatakan jika ia akan menjaga Farrand, tapi lidahnya seakan kelu saat melihat tatapan tajam Arasya padanya.


"Kau membuat putra ku takut, Arasya. Percaya padaku, Lingga pasti tak akan mengecewakan kita."


Arasya mendengus dan memalingkan mukanya ke samping. Ia selalu kalah dalam berdebat jika lawan debatnya adalah wanita. Dan ia akui ia selalu lemah dalam hal itu. Nyatanya ia sekalipun tak pernah menyangkal semua pernyataan yang Janitra layangkan padanya. Ah, sudah berapa kali dalam setengah hari ini mengingat Janitra?


Tbc


 

__ADS_1


 


__ADS_2