
Lingga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia harus
bisa. Malam ini adalah malam penentuan yang menegangkan baginya. Bagaimana
tidak? Saat ini ia tengah bertarung di arena balap melawan orang yang pernah ia
kagumi, Yasa. Rupanya kabar ketenarannya telah sampai pada telinga Yasa. Ia -Lingga-
pembalap muda dari Kota Halu yang berpindah ke Kota Falen, dalam waktu tak
sampai 3 bulan telah menjadi primadona arena balap Kota Falen.
Lingga -yang kabarnya tak terkalahkan- membuat telinga Yasa memanas.
Ia ingin melihat secara langsung bagaimana sepak terjang pembalap muda yang –katanya-kini menjadi raja balap di Kota Falen.
Sebenarnya hati Lingga saat ini sedang kelabakan. Ia tak
menyangka jika secepat ini akan bertanding melawan Yasa. Ia belumlah siap,
telah ia utarakan ketidaksiapannya dengan menolak tantangan Yasa. Namun Yasa
tak menyerah begitu saja. Ia bahkan menawarkan untuk bertaruh dengan hadiah
mobil. Jika Lingga menang darinya. Dengan suka rela ia akan menyerahkan
tunggangannya kini, sebuah Nissan Skyline GT-R berwarna hitam. Dan
begitu pula sebaliknya. Jika Lingga kalah, maka Ford Mustang miliknya harus ia
relakan dibawa pulang Yasa.
Dan beginilah keadaanya, ia yg sekarang harus berjuang
mati-matian mendapatkan GT-R itu dan menpertahankan Mustang miliknya. Atau jika
tidak, ia akan berhenti menjadi pembalap. Bagaimana mungkin ia akan meneruskan
balapan jika ia tak memiliki mustangnya disisinya?
Lingga telah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh
sebisanya. Jujur, ia tak ingin berakhir disini. Bilapun dia harus berakhir, ia
ingin berakhir setelah melawan pengendara Ichigo itu. Tapi bukan berarti pula
ia ingin berakhir begitu saja setelah melawannya, tidak. Ia tidak ingin
hal itu terjadi.
Yasa masih memimpin. Kali ini sulit bagi Lingga untuk bisa
mendahului Yasa. Jalan yang sempit membuat nya mati kutu untuk sekedar mencari
celah. Maklum, rute kali ini melewati rute gang kecil di area pemukiman padat
penduduk.
Lingga, hanya bisa merapal doa dalam hati. Semoga Tuhanmau berbaik hati memberikannya kesempatan untuk menang.
Mata Yasa menyipit tajam. Kurang dari 100m lagi adalah ujung
gang ini. itu berarti di depan adalan jalan besar lagi. Maka sebisa mungkin
matanya diharuskan untuk jeli mengamati jalur depan yang berupa pertigaan itu.
Ia tak ingin kecolongan. Ia juga tak ingin kalah pada pertandingan ini.
Bagaimanapun juga ia harus menang. Meski pengendara Mustang dibelakangnya
adalah seorang pemula, ia tak bisa meremehkan dan menganggapnya enteng begitu
saja. Karena bagaimanapun juga pembalap yang rumornya pemula itu memiliki hal
yang bagus untuk di perhitungkan.
Yasa masih mempertahankan kecepatannya. Sedikitpun ia tak
ingin menoleh kebelakang dimana Lingga berada. Dan begitu samapai di ujung
lorong, braaakkkk........ Tabrakan kecil pun tak terelakkan. Ia tak menyangka
jika akan ada pejalan kaki yang mendorong gerobak melintasi pertigaan itu.
Keterkejutannya membuat Yasa menginjak pedal rem dalam-dalam.
'Shit' Umpatnya.
Seketika, ia merasa seakan dunianya runtuh. Hal ini pasti
berakibat fatal, namun sebelum garis akhir menentukan semuanya, ia ingin
berusaha lebih keras. Siapa tau nanti ada keajaiban.
Sementara itu, Lingga tak menyia-nyiakan kesempatan yang
datang. Berbeda dengan Yasa yang menginjak pedal rem, Ia malah menginjak pedal
gas kuat-kuat, sama sekali tak ingin melewatkan kesempatan yang Kami-Sama berikan untuknya. Dan, Great!. Ia telah melewati Yasa yang melambatkan
laju mobil akibat kecelakaan kecil tadi. Sekarang tinggal sedikit lagi mencapai
finish. Tinggal memasuki jalan terowongan di bawah jembatan dan pertandingan
selesai di ujung jalan.
Lingga yang masih memimpin semakin melajukan Ford Mustang
miliknya ketitik tertinggi kecepatan dan kekuatannya. Jantungnya berdebar
semakin kencang saat mendekati finish. Disisi lain hatinya ia tahu. Yasa tak
kan menyerah begitu saja. Dan benar saja, ia memakai sisi lain jalan untuk
mencapai garis akhir. Meski itu artinya ia harus berkendara melawan arus.
Yasa melebarkan matanya. Kedangan mobil box didepannya kini
bukanlah hal yang ia harapkan. Mobil yang cukup besar, hingga untuk melajukan
kendaraan nya lebih cepat tak bisa ia lakukan. Ia tak boleh membuat mobilnya
lecet. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi mobilnya itu.
Dan hasilnya kali ini sudah bisa ditebak. Lingga lah yang
pulang dengan membawa serta GT-R milik Yasa. Yasa tersenyum. Meski ia kalah, ia
lega. Setidaknya ia kalah dengan terhormat. Setelah sampai finish ia segera
menghampiri Lingga yang masih berada di dalam mobil miliknya. Ia merasa jika
dirinya haruslah melakukan hal ini. Ini pertandingan yang ia ajukan, dan
sebagai kompensasinya ia tak akan lari dari tanggung jawabnya menyerahkan
hadiah yang telah ia janjikan.
"Aku akan mengendarainya dan mengantarkannya hingga
sampai di apartmen milikmu. Bolehkah? Nanti temanku akan menyusul dan membawaku
pulang." Ucap Yasa.
"Baiklah. Dengan senang hati akan kuizinkan. Dan tidak
perlu menghubungi temanmu. Aku akan mengantarkanmu sampai rumahmu nanti."
"Ok." Yasa tersenyum. Ternyata tidak buruk juga. Ia
fikir ia akan ditertawakan mati-matian oleh bocah yang telah mengalahkannya
ini. Tapi fikirannya justru meleset. Pemuda didepannya tak seperti yang ia
bayangkan. Lingga itu masih muda dan memiliki bakat di dunia balap. Ia tadi
sempat berpikir jika nantinya Lingga akan menertawakannya. Namun tidak, Lingga
sama sekali tak melakukan hal itu. Ia malah menawarkan dirinya untuk mengantar Yasa.
----------------------------****-------------------------
Lingga masih setia memandangi buku tebal didepannya itu sambil
sesekali mengernyit. Sungguh, mengerjakan soal essay seperti ini
bukanlah keahliannya. Sebuah buku tebal mungkin bisa jadi obat tidur yang ampuh
untuk membuatnya terpejam saat ini juga. Jika tak mengindahkan kehadiran
__ADS_1
seorang guru killer macam pak Djayantadidepan
kelas tentunya.
Sementara itu, seorang perempuan yang duduk di dua bangku
depan tempat duduk Lingga...
Farrand sudah menyelesaikan soal yang diberikan sang guru di
depan kelas itu. Ia mengantuk-atuk kan jari tangan kirinya di atas mejanya. Ia
bingung. Sesuatu mengganjal fikirannya saat ini. Begitu banyak
pemikiran-pemikiran yang berseliweran dikepalanya. Tentang kesehatan ayahnya
yang kian hari terlihat semakin lemah, dan tentang keinginannya turun ke arena
jalan yang ditentang Madhiaz. Ya.... ia dan Madhiaz sudah saling kenal.
Ia biasanya akan mampir sebentar atau berkunjung kesana ketika sedang tidak di
tempat cuci mobil. Ia dan Madhiaz sudah mengenal sedari kecil. Dan yang
menjadikannya mengenal Madhiaz adalah karena ayahnya yg sering mengajaknya
kebengkel tempat ayah Madhiaz. Ayah Madhiaz adalah seorang montir langganan
ayahnya dan juga mungkin mereka sudah dekat sejak remaja.
Tapi bukan hal itu saja yang mengganjal difikirannya.
Masalahnya dengan Nadeen-rekan sebelah mejanya- juga membebaninya.
Bagaimana tidak? Tadi pagi, pagi-pagi sekali ia datang kerumah Farrand dengan
wajah berseri. Menyeret Farrand yg masih menyiapkan sarapan untuk ayahnya agar
lekas berangkat ke sekolah. Hingga ia harus merelakan ayahnya sarapan sendiri
dan dia sarapan di Sekolah. ‘Nadeen syaland!’ Makinya dalam hati.
Sebenarnya bukan apa-apa. Nadeen hanya memintanya untuk
menemaninya menemui Lingga, siswa baru yang pindah satu bulan lalu itu. Dengan
semangat yg menggebu-gebu Nadeen menceritakan jika ia semalam melihat
pertandingan Lingga melawan Yasa. Pertandingan yang menakjubkan -menurut Nadeen-
hingga ia membulatkan tekad untuk dekat dengan Lingga saat itu juga. Dan
menyeret Farrand, untuk mengurangi kegugupannya nanti saat bicara dengan Lingga.
Farrand benar-benar bingung kali ini. Apa hubungan antara kehadiran dirinya
dengan mengurangi kegugupan Nadeen nanti?
Jika bukan karena janji konyol yang ia langgar, ia tak kan
pernah mau menuruti keinginan teman berambut pendek sebahunyaitu.
Tet... tet... tet...
"Ketua kelas, kumpulkan lembar tugas dan bawa ke mejaku." Titah Djayanta. Sang ketua
kelas, Haris.
Mendengus. Dan murid lain mendesah lega.
Nadeen merebut kertas soal yang diberikan Djayantatadi begitu saja.
Untung Farrand sudah menyelesaikannya. Jika belum? Mungkin ia akan memberikan
pelajaran tambahan untuk Nadeen nanti.
"Farrand, kau tak lupa janjimu bukan?" Tanya Nadeen
setelah selesai mengunpulkan kertas ke ketua kelas.
"Janji? Aku tak ingat punya sebuah janji padamu, Nona
manis." Farrand mengerjapkan matanya. Berpura-pura lupa dengan menampakkan
wajah polosnya.
"Oh.. berlagak lupa ternyata. Apa harus kuingatkan jika
pada paman Arash jika kau pernah dihukum karna ketahuan memanjat
pag......" kalimat yang dikatakan Nadeen terpotong begitu saja saat tangan
mungil Farrand lebih dulu membekap bibirnya.
"Baiklah. Nona manis. Ayo. Kutemani kau. Tapi ingat! Aku
hanya menemani. Dan aku akan membawa bekalku serta. Aku sangat lapar
sekarang."
"Tentu." Nadeen nyengir. Ah. Temannya ini sangat dabestsekali. dan tanpa ba
bi bu lagi ia menyeret Farrand menuju bangku Lingga.
Sementara itu dibangkunya, Lingga sedang merapikan bangkunya
dari kelacauan akibat tugas tadi. Matanya mengernyit heran saat mendapati dua
orang bergender ladies berbeda modelsurai tengah menuju ke arahnya. Ia menoleh
kekiri dan kekanan. Mungkin saja yang dituju dua gadis itu bukan dirinya?
"A... ano .. Lingga. Aku... aku ingin bicara
denganmu. Bolehkah?" Wajah Nadeen telah memerah. Ia gugup. Ia remat tangan
Farrand yg ia genggam. Menyebabkan sang pemilik tangan menatapnya kesal.
"Bicaralah" ujar Lingga dingin. Sementara tangannya
masih merapikan mejanya.
"Bisa kita bicara ditaman belakang saja? Ini tentang yang
semalam.?" Lingga mengehentikan gerakan tangannya. Hanya tinggal
memasukkan buku. Tapi pernyataan Nadeen membuatnya sedikit kaget.
"Apa maksudmu dengan yang semalam?"
"Tentu saja hal yang terjadi antara kau dan.... Yasa?"
Mata Lingga membulat. Ia tak menyangka jika gadis didepannya ini tau hal
semalam.
"Aku ikut." Putusnya kemudian. Dan yang Lingga
lakukan hanya mengekor saja dibelakang punggung kedua-nya.
.***.
Sesampainya ditaman belakang yang sepi, Lingga mengedarkan
pandangannya ke penjuru taman. Tempat yang asri. Namun jarang siswa yang
kesini. Nadeen memilih tempat duduk dibawah pohon cemara yang menjulang dan
memberikan effect asri menenangkan. Terdapat satu buah meja dan empat
kursi yang mengelilinginya.
Nadeen duduk di tengah. Di sebelah kirinya ada Lingga, dan
disebelah kanannya ada Farrand. Suasana canggung masih menyelimuti mereka
bertiga. Farrand yg asyik dengan smartphonenya, dan pasangan Lingga-Nadeenyang
terdiam..
"Apa kalian akan diam sampai bel masuk berbunyi? Oh, come
on... babe. Aku disini seperti obat nyamuk saja." Ucap Farrand memecah
kesunyian. Lingga bersedekap. Sedikit banyak ia membenarkan apa yg Farrand
katakan.
"Cepatlah. Aku sudah.... " dan.. kraukkkkkk.... perut
__ADS_1
Lingga menginterupsi. Wajahnya memerah. Hell, perutnya minta diisi
disaat yang tidak tepat. Disaat ada dua orang wanita disampingnya.
"Ini." Farrand menyodorkan kotak bekalnya ke arah Lingga
dan ia beranjak. "Aku kenyang. Kau bisa makan bersama Nadeen sambil
membicarakan apa yang ingin kau katakan, Nadeen." Farrand berbalik dan
berjalan menuju kantin. Sepertinya ia harus merelakan perutnya hanya terganjal
sebungkus roti dan sekotak susu. Haaahhhhh.... membayangkannya saja sudah bisa
membuat perutnya berisik. Untung saja ia telah jauh dari dua makhluk berbeda gender itu.
Setelah kepergian Farrand, Lingga segera mengambil kotak bekal
milik Farrand yang ditinggalkan kepadanya. Perutnya sudah bergejolak minta di
isi. Ah, persetan dengan makhluk surai dengan sedikit pewarnaan pink disampingnya ini. Ia akan
fikirkan malu itu nanti. Sekarang yang terpenting baginya adalah mengisi
perutnya yang kelaparan.
"Jadi, kau menahanku disini, hanya untuk mendiamkanku dan
membiarkanku kelaparan seperti ini?" Lingga memulai pembicaraan. Tak enak
rasanya jika waktu terbuang begitu saja.
"Ano.. bukan begitu maksudku, Lingga. Aku ingin
mengatakan padamu jika aku, mengagumimu. Aku melihat pertandinganmu semalam,
kau sangat menakjubkan dengan kendaraanmu." Kata Nadeen. Ia menghela
nafas. Setidaknya sedikit bebannya berkurang. Dan, yah... ia akan
berterimakasih pada Farrand nanti.
"Aku tidak tau bagaimana bisa kau berada di arena balap
semalam. Tapi yang pasti, bagaimana mungkin seorang gadis sepertimu berada
disana. Bukankah seharusnya seorang gadis harusnya dirumah dijam itu?" Lingga
mulai melahap hidangannya. Sejenak matanya membulat, namun tak disadari Nadeen.
'Masakannya enak. Buatan ibunya kah?' Batinnya.
"Ayah dan ibuku sedang berada diluar negeri. Jadi aku
bisa diam-diam keluar malam hari. Lagipula Madhiaz bersamaku. Jadi kau tidak
perlu khawatir." Nadeen tersenyum ke arah Lingga yang sedang asyik makan
bekal milik Farrand.
"Bolehkan kapan-kapan aku ikut bersamamu?"
Lanjutnya.
"Apa yang kau harapkan dariku?" Tanya Lingga.
"Tidak ada, dari dulu aku ingin terjun ke dunia balap
malam. Kau tau? Aku bahkan meminta mobil kepada ayahku agar aku bisa belajar
menjadi pembalap. Aku ingin mencetak sejarah sebagai pembalap wanita tercepat
di Kota Falen. Aku ingin seperti cerita pengendara s80 di gunung Usui itu. Menoreh sejarah sebagai
wanita yang tercepat." Mata Nadeen berbinar saat menceritakan mimpinya.
"Kau tau, dunia balap tak seindah bayanganmu." Lingga
menggeleng pelan. Apa gadis didepannya ini tidak tau akan hal itu?
"Aku tau. Tapi aku tak akan menyerah. Setidaknya rekor
untuk pembalap wanita tercepat disini belumlah ada. Aku akan mencetak rekor
itu."
"Langkah apa yang akan kau mulai?"
"Aku ingin kau mengajariku mengendarai mobil. Aku sudah
minta di ajari Madhiaz. Tapi dia tak cukup hebat. Lagipula dia hanya
bisa memarahiku saat mengajariku. Mengatakan hal yang seharusnya tidak
kudengar. Dan aku sangat membenci hal itu."
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Kau hebat, Yasa saja
bisa kau kalahkan. Siapa tau dengan belajar kepadamu kau bisa membuatku sehebat
dirimu."
"Aku tidak tertarik mengajari wanita."
"Oh. Ayolah... ayahku sudah membelikanku s80 tahun lalu.
Aku tak ingin menyia-nyiakannya."
Lingga mencebik kesal. Ternyata gadis di depannya ini tipe
nona muda sulit dibantah tentang keinginannya.
"Kau bahkan belum punya SIM."
"Kupikir kau pun pasti belum punya juga. Aku akan
membayarnya perbulan. Kudengar dari Madhiaz jika kau hidup sendiri tanpa orang
tuamu."
'Oh, shit!' Lingga mengumpat dalam hati. Ia tak memungkiri jika ia
butuh aliran dana untuk hidupnya. Dan penawaran gadis itu lumayan menggiurkan.
Ia bisa menabungkan hasil balapannya untuk biaya kuliah nanti. "Ok, aku
akan mengajarimu. Jadwalnya. Kau yang atur. Tapi hanya seminggu sekali. Tidak
lebih dari itu. Dan untuk honornya. Aku minta lebih. Selalu ada harga di atas
kualitas, bukan?"
"Setuju. Kau bisa percaya padaku. Dan aku akan menjemputmu
nanti malam. Kita mulai nanti malam."
Nadeen tersenyum cerah, ia tau jika dalam negosiasi, ia
ahlinya.
"Nanti malam aku balapan."
"Setelah balapan. Lagipula bukankah besok libur?"
"Baiklah, baiklah. Nanti malam setelah balapan. Tapi kau
tidak boleh protes dengan caraku mengajar. Atau aku berhenti mengajarimu."
Nadeen tersenyum senang. Ah, dia dapat 2 kesempatan sekarang.
Kesempatan di ajari oleh Lingga, dan kesempatan pendekatan dengannya. Dia
mengangguk mantap. Rona kemerahan menjalar dipipinya. Ia tak sabar menantikan
nanti malam. Ah, sepertinya ia akan mengajak Farrand serta.
'Ide bagus. Aku akan meminta Farrand untuk menginap dirumahku sebagai
alibi ke paman Arash. Aku harus berhasil membawa Farrand serta. Akan
kutunjukkan padanya kemampuanku nanti. Dan aku juga ingin melihat bagaimana
rupa Farrand saat melihatku menyetir.' Batin Nadeen.
Sementara itu bel telah berbunyi dan Lingga telah beranjak
dari sana meninggalkan Nadeen yang masih asyik dengan fikiran senangnya.
__ADS_1
*TBC