Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 2


__ADS_3

Lingga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia harus


bisa. Malam ini adalah malam penentuan yang menegangkan baginya. Bagaimana


tidak? Saat ini ia tengah bertarung di arena balap melawan orang yang pernah ia


kagumi, Yasa. Rupanya kabar ketenarannya telah sampai pada telinga Yasa. Ia -Lingga-


pembalap muda dari Kota Halu yang berpindah ke Kota Falen, dalam waktu tak


sampai 3 bulan telah menjadi primadona arena balap Kota Falen.


Lingga -yang kabarnya tak terkalahkan- membuat telinga Yasa memanas.


Ia ingin melihat secara langsung bagaimana sepak terjang pembalap muda yang –katanya-kini menjadi raja balap di Kota Falen.


Sebenarnya hati Lingga saat ini sedang kelabakan. Ia tak


menyangka jika secepat ini akan bertanding melawan Yasa. Ia belumlah siap,


telah ia utarakan ketidaksiapannya dengan menolak tantangan Yasa. Namun Yasa


tak menyerah begitu saja. Ia bahkan menawarkan untuk bertaruh dengan hadiah


mobil. Jika Lingga menang darinya. Dengan suka rela ia akan menyerahkan


tunggangannya kini, sebuah Nissan Skyline GT-R berwarna hitam. Dan


begitu pula sebaliknya. Jika Lingga kalah, maka Ford Mustang miliknya harus ia


relakan dibawa pulang Yasa.


Dan beginilah keadaanya, ia yg sekarang harus berjuang


mati-matian mendapatkan GT-R itu dan menpertahankan Mustang miliknya. Atau jika


tidak, ia akan berhenti menjadi pembalap. Bagaimana mungkin ia akan meneruskan


balapan jika ia tak memiliki mustangnya disisinya?


Lingga telah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh


sebisanya. Jujur, ia tak ingin berakhir disini. Bilapun dia harus berakhir, ia


ingin berakhir setelah melawan pengendara Ichigo itu. Tapi bukan berarti pula


ia ingin berakhir begitu saja setelah melawannya, tidak. Ia tidak ingin


hal itu terjadi.


Yasa masih memimpin. Kali ini sulit bagi Lingga untuk bisa


mendahului Yasa. Jalan yang sempit membuat nya mati kutu untuk sekedar mencari


celah. Maklum, rute kali ini melewati rute gang kecil di area pemukiman padat


penduduk.


Lingga, hanya bisa merapal doa dalam hati. Semoga Tuhanmau berbaik hati memberikannya kesempatan untuk menang.


Mata Yasa menyipit tajam. Kurang dari 100m lagi adalah ujung


gang ini. itu berarti di depan adalan jalan besar lagi. Maka sebisa mungkin


matanya diharuskan untuk jeli mengamati jalur depan yang berupa pertigaan itu.


Ia tak ingin kecolongan. Ia juga tak ingin kalah pada pertandingan ini.


Bagaimanapun juga ia harus menang. Meski pengendara Mustang dibelakangnya


adalah seorang pemula, ia tak bisa meremehkan dan menganggapnya enteng begitu


saja. Karena bagaimanapun juga pembalap yang rumornya pemula itu memiliki hal


yang bagus untuk di perhitungkan.


Yasa masih mempertahankan kecepatannya. Sedikitpun ia tak


ingin menoleh kebelakang dimana Lingga berada. Dan begitu samapai di ujung


lorong, braaakkkk........ Tabrakan kecil pun tak terelakkan. Ia tak menyangka


jika akan ada pejalan kaki yang mendorong gerobak melintasi pertigaan itu.


Keterkejutannya membuat Yasa menginjak pedal rem dalam-dalam.


'Shit' Umpatnya.


Seketika, ia merasa seakan dunianya runtuh. Hal ini pasti


berakibat fatal, namun sebelum garis akhir menentukan semuanya, ia ingin


berusaha lebih keras. Siapa tau nanti ada keajaiban.


Sementara itu, Lingga tak menyia-nyiakan kesempatan yang


datang. Berbeda dengan Yasa yang menginjak pedal rem, Ia malah menginjak pedal


gas kuat-kuat, sama sekali tak ingin melewatkan kesempatan yang Kami-Sama berikan untuknya. Dan, Great!. Ia telah melewati Yasa yang melambatkan


laju mobil akibat kecelakaan kecil tadi. Sekarang tinggal sedikit lagi mencapai


finish. Tinggal memasuki jalan terowongan di bawah jembatan dan pertandingan


selesai di ujung jalan.


Lingga yang masih memimpin semakin melajukan Ford Mustang


miliknya ketitik tertinggi kecepatan dan kekuatannya. Jantungnya berdebar


semakin kencang saat mendekati finish. Disisi lain hatinya ia tahu. Yasa tak


kan menyerah begitu saja. Dan benar saja, ia memakai sisi lain jalan untuk


mencapai garis akhir. Meski itu artinya ia harus berkendara melawan arus.


Yasa melebarkan matanya. Kedangan mobil box didepannya kini


bukanlah hal yang ia harapkan. Mobil yang cukup besar, hingga untuk melajukan


kendaraan nya lebih cepat tak bisa ia lakukan. Ia tak boleh membuat mobilnya


lecet. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi mobilnya itu.


Dan hasilnya kali ini sudah bisa ditebak. Lingga lah yang


pulang dengan membawa serta GT-R milik Yasa. Yasa tersenyum. Meski ia kalah, ia


lega. Setidaknya ia kalah dengan terhormat. Setelah sampai finish ia segera


menghampiri Lingga yang masih berada di dalam mobil miliknya. Ia merasa jika


dirinya haruslah melakukan hal ini. Ini pertandingan yang ia ajukan, dan


sebagai kompensasinya ia tak akan lari dari tanggung jawabnya menyerahkan


hadiah yang telah ia janjikan.


"Aku akan mengendarainya dan mengantarkannya hingga


sampai di apartmen milikmu. Bolehkah? Nanti temanku akan menyusul dan membawaku


pulang." Ucap Yasa.


"Baiklah. Dengan senang hati akan kuizinkan. Dan tidak


perlu menghubungi temanmu. Aku akan mengantarkanmu sampai rumahmu nanti."


"Ok." Yasa tersenyum. Ternyata tidak buruk juga. Ia


fikir ia akan ditertawakan mati-matian oleh bocah yang telah mengalahkannya


ini. Tapi fikirannya justru meleset. Pemuda didepannya tak seperti yang ia


bayangkan. Lingga itu masih muda dan memiliki bakat di dunia balap. Ia tadi


sempat berpikir jika nantinya Lingga akan menertawakannya. Namun tidak, Lingga


sama sekali tak melakukan hal itu. Ia malah menawarkan dirinya untuk mengantar Yasa.


----------------------------****-------------------------


Lingga masih setia memandangi buku tebal didepannya itu sambil


sesekali mengernyit. Sungguh, mengerjakan soal essay seperti ini


bukanlah keahliannya. Sebuah buku tebal mungkin bisa jadi obat tidur yang ampuh


untuk membuatnya terpejam saat ini juga. Jika tak mengindahkan kehadiran

__ADS_1


seorang guru killer macam  pak Djayantadidepan


kelas tentunya.


Sementara itu, seorang perempuan yang duduk di dua bangku


depan tempat duduk Lingga...


Farrand sudah menyelesaikan soal yang diberikan sang guru di


depan kelas itu. Ia mengantuk-atuk kan jari tangan kirinya di atas mejanya. Ia


bingung. Sesuatu mengganjal fikirannya saat ini. Begitu banyak


pemikiran-pemikiran yang berseliweran dikepalanya. Tentang kesehatan ayahnya


yang kian hari terlihat semakin lemah, dan tentang keinginannya turun ke arena


jalan yang ditentang Madhiaz. Ya.... ia dan Madhiaz sudah saling kenal.


Ia biasanya akan mampir sebentar atau berkunjung kesana ketika sedang tidak di


tempat cuci mobil. Ia dan Madhiaz sudah mengenal sedari kecil. Dan yang


menjadikannya mengenal Madhiaz adalah karena ayahnya yg sering mengajaknya


kebengkel tempat ayah Madhiaz. Ayah Madhiaz adalah seorang montir langganan


ayahnya dan juga mungkin mereka sudah dekat sejak remaja.


Tapi bukan hal itu saja yang mengganjal difikirannya.


Masalahnya dengan Nadeen-rekan sebelah mejanya- juga membebaninya.


Bagaimana tidak? Tadi pagi, pagi-pagi sekali ia datang kerumah Farrand dengan


wajah berseri. Menyeret Farrand yg masih menyiapkan sarapan untuk ayahnya agar


lekas berangkat ke sekolah. Hingga ia harus merelakan ayahnya sarapan sendiri


dan dia sarapan di Sekolah. ‘Nadeen syaland!’ Makinya dalam hati.


Sebenarnya bukan apa-apa. Nadeen hanya memintanya untuk


menemaninya menemui Lingga, siswa baru yang pindah satu bulan lalu itu. Dengan


semangat yg menggebu-gebu Nadeen menceritakan jika ia semalam melihat


pertandingan Lingga melawan Yasa. Pertandingan yang menakjubkan -menurut Nadeen-


hingga ia membulatkan tekad untuk dekat dengan Lingga saat itu juga. Dan


menyeret Farrand, untuk mengurangi kegugupannya nanti saat bicara dengan Lingga.


Farrand benar-benar bingung kali ini. Apa hubungan antara kehadiran dirinya


dengan mengurangi kegugupan Nadeen nanti?


Jika bukan karena janji konyol yang ia langgar, ia tak kan


pernah mau menuruti keinginan teman berambut pendek sebahunyaitu.


Tet... tet... tet...


"Ketua kelas, kumpulkan lembar tugas dan bawa ke mejaku." Titah Djayanta. Sang ketua


kelas, Haris.


Mendengus. Dan murid lain mendesah lega.


Nadeen merebut kertas soal yang diberikan Djayantatadi begitu saja.


Untung Farrand sudah menyelesaikannya. Jika belum? Mungkin ia akan memberikan


pelajaran tambahan untuk Nadeen nanti.


"Farrand, kau tak lupa janjimu bukan?" Tanya Nadeen


setelah selesai mengunpulkan kertas ke ketua kelas.


"Janji? Aku tak ingat punya sebuah janji padamu, Nona


manis." Farrand mengerjapkan matanya. Berpura-pura lupa dengan menampakkan


wajah polosnya.


"Oh.. berlagak lupa ternyata. Apa harus kuingatkan jika


pada paman Arash jika kau pernah dihukum karna ketahuan memanjat


pag......" kalimat yang dikatakan Nadeen terpotong begitu saja saat tangan


mungil Farrand lebih dulu membekap bibirnya.


"Baiklah. Nona manis. Ayo. Kutemani kau. Tapi ingat! Aku


hanya menemani. Dan aku akan membawa bekalku serta. Aku sangat lapar


sekarang."


"Tentu." Nadeen nyengir. Ah. Temannya ini sangat dabestsekali. dan tanpa ba


bi bu lagi ia menyeret Farrand menuju bangku Lingga.


Sementara itu dibangkunya, Lingga sedang merapikan bangkunya


dari kelacauan akibat tugas tadi. Matanya mengernyit heran saat mendapati dua


orang bergender ladies berbeda modelsurai tengah menuju ke arahnya. Ia menoleh


kekiri dan kekanan. Mungkin saja yang dituju dua gadis itu bukan dirinya?


"A... ano .. Lingga. Aku... aku  ingin bicara


denganmu. Bolehkah?" Wajah Nadeen telah memerah. Ia gugup. Ia remat tangan


Farrand yg ia genggam. Menyebabkan sang pemilik tangan menatapnya kesal.


"Bicaralah" ujar Lingga dingin. Sementara tangannya


masih merapikan mejanya.


"Bisa kita bicara ditaman belakang saja? Ini tentang yang


semalam.?" Lingga mengehentikan gerakan tangannya. Hanya tinggal


memasukkan buku. Tapi pernyataan Nadeen membuatnya sedikit kaget.


"Apa maksudmu dengan yang semalam?"


"Tentu saja hal yang terjadi antara kau dan.... Yasa?"


Mata Lingga membulat. Ia tak menyangka jika gadis didepannya ini tau hal


semalam.


"Aku ikut." Putusnya kemudian. Dan yang Lingga


lakukan hanya mengekor saja dibelakang punggung kedua-nya.


.***.


Sesampainya ditaman belakang yang sepi, Lingga mengedarkan


pandangannya ke penjuru taman. Tempat yang asri. Namun jarang siswa yang


kesini. Nadeen memilih tempat duduk dibawah pohon cemara yang menjulang dan


memberikan effect asri menenangkan. Terdapat satu buah meja dan empat


kursi yang mengelilinginya.


Nadeen duduk di tengah. Di sebelah kirinya ada Lingga, dan


disebelah kanannya ada Farrand. Suasana canggung masih menyelimuti mereka


bertiga. Farrand yg asyik dengan smartphonenya, dan pasangan Lingga-Nadeenyang


terdiam..


"Apa kalian akan diam sampai bel masuk berbunyi? Oh, come


on... babe. Aku disini seperti obat nyamuk saja." Ucap Farrand memecah


kesunyian. Lingga bersedekap. Sedikit banyak ia membenarkan apa yg Farrand


katakan.


"Cepatlah. Aku sudah.... " dan.. kraukkkkkk.... perut

__ADS_1


Lingga menginterupsi. Wajahnya memerah. Hell, perutnya minta diisi


disaat yang tidak tepat. Disaat ada dua orang wanita disampingnya.


"Ini." Farrand menyodorkan kotak bekalnya ke arah Lingga


dan ia beranjak. "Aku kenyang. Kau bisa makan bersama Nadeen sambil


membicarakan apa yang ingin kau katakan, Nadeen." Farrand berbalik dan


berjalan menuju kantin. Sepertinya ia harus merelakan perutnya hanya terganjal


sebungkus roti dan sekotak susu. Haaahhhhh.... membayangkannya saja sudah bisa


membuat perutnya berisik. Untung saja ia telah jauh dari dua makhluk berbeda gender itu.


Setelah kepergian Farrand, Lingga segera mengambil kotak bekal


milik Farrand yang ditinggalkan kepadanya. Perutnya sudah bergejolak minta di


isi. Ah, persetan dengan makhluk surai dengan sedikit pewarnaan pink disampingnya ini. Ia akan


fikirkan malu itu nanti. Sekarang yang terpenting baginya adalah mengisi


perutnya yang kelaparan.


"Jadi, kau menahanku disini, hanya untuk mendiamkanku dan


membiarkanku kelaparan seperti ini?" Lingga memulai pembicaraan. Tak enak


rasanya jika waktu terbuang begitu saja.


"Ano.. bukan begitu maksudku, Lingga. Aku ingin


mengatakan padamu jika aku, mengagumimu. Aku melihat pertandinganmu semalam,


kau sangat menakjubkan dengan kendaraanmu." Kata Nadeen. Ia menghela


nafas. Setidaknya sedikit bebannya berkurang. Dan, yah... ia akan


berterimakasih pada Farrand nanti.


"Aku tidak tau bagaimana bisa kau berada di arena balap


semalam. Tapi yang pasti, bagaimana mungkin seorang gadis sepertimu berada


disana. Bukankah seharusnya seorang gadis harusnya dirumah dijam itu?" Lingga


mulai melahap hidangannya. Sejenak matanya membulat, namun tak disadari Nadeen.


'Masakannya enak. Buatan ibunya kah?' Batinnya.


"Ayah dan ibuku sedang berada diluar negeri. Jadi aku


bisa diam-diam keluar malam hari. Lagipula Madhiaz bersamaku. Jadi kau tidak


perlu khawatir." Nadeen tersenyum ke arah Lingga yang sedang asyik makan


bekal milik Farrand.


"Bolehkan kapan-kapan aku ikut bersamamu?"


Lanjutnya.


"Apa yang kau harapkan dariku?" Tanya Lingga.


"Tidak ada, dari dulu aku ingin terjun ke dunia balap


malam. Kau tau? Aku bahkan meminta mobil kepada ayahku agar aku bisa belajar


menjadi pembalap. Aku ingin mencetak sejarah sebagai pembalap wanita tercepat


di Kota Falen. Aku ingin seperti cerita pengendara s80 di gunung Usui itu. Menoreh sejarah sebagai


wanita yang tercepat." Mata Nadeen berbinar saat menceritakan mimpinya.


"Kau tau, dunia balap tak seindah bayanganmu." Lingga


menggeleng pelan. Apa gadis didepannya ini tidak tau akan hal itu?


"Aku tau. Tapi aku tak akan menyerah. Setidaknya rekor


untuk pembalap wanita tercepat disini belumlah ada. Aku akan mencetak rekor


itu."


"Langkah apa yang akan kau mulai?"


"Aku ingin kau mengajariku mengendarai mobil. Aku sudah


minta di ajari Madhiaz. Tapi dia tak cukup hebat. Lagipula dia hanya


bisa memarahiku saat mengajariku. Mengatakan hal yang seharusnya tidak


kudengar. Dan aku sangat membenci hal itu."


"Lalu, apa hubungannya denganku?"


"Kau hebat, Yasa  saja


bisa kau kalahkan. Siapa tau dengan belajar kepadamu kau bisa membuatku sehebat


dirimu."


"Aku tidak tertarik mengajari wanita."


"Oh. Ayolah... ayahku sudah membelikanku s80 tahun lalu.


Aku tak ingin menyia-nyiakannya."


Lingga mencebik kesal. Ternyata gadis di depannya ini tipe


nona muda sulit dibantah tentang keinginannya.


"Kau bahkan belum punya SIM."


"Kupikir kau pun pasti belum punya juga. Aku akan


membayarnya perbulan. Kudengar dari Madhiaz  jika kau hidup sendiri tanpa orang


tuamu."


'Oh, shit!' Lingga mengumpat dalam hati. Ia tak memungkiri jika ia


butuh aliran dana untuk hidupnya. Dan penawaran gadis itu lumayan menggiurkan.


Ia bisa menabungkan hasil balapannya untuk biaya kuliah nanti. "Ok, aku


akan mengajarimu. Jadwalnya. Kau yang atur. Tapi hanya seminggu sekali. Tidak


lebih dari itu. Dan untuk honornya. Aku minta lebih. Selalu ada harga di atas


kualitas, bukan?"


"Setuju. Kau bisa percaya padaku. Dan aku akan menjemputmu


nanti malam. Kita mulai nanti malam."


Nadeen tersenyum cerah, ia tau jika dalam negosiasi, ia


ahlinya.


"Nanti malam aku balapan."


"Setelah balapan. Lagipula bukankah besok libur?"


"Baiklah, baiklah. Nanti malam setelah balapan. Tapi kau


tidak boleh protes dengan caraku mengajar. Atau aku berhenti mengajarimu."


Nadeen tersenyum senang. Ah, dia dapat 2 kesempatan sekarang.


Kesempatan di ajari oleh Lingga, dan kesempatan pendekatan dengannya. Dia


mengangguk mantap. Rona kemerahan menjalar dipipinya. Ia tak sabar menantikan


nanti malam. Ah, sepertinya ia akan mengajak Farrand serta.


'Ide bagus. Aku akan meminta Farrand untuk menginap dirumahku sebagai


alibi ke paman Arash. Aku harus berhasil membawa Farrand serta. Akan


kutunjukkan padanya kemampuanku nanti. Dan aku juga ingin melihat bagaimana


rupa Farrand saat melihatku menyetir.' Batin Nadeen.


Sementara itu bel telah berbunyi dan Lingga telah beranjak


dari sana meninggalkan Nadeen yang masih asyik dengan fikiran senangnya.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2