Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 30


__ADS_3

Lingga melebarkan matanya saat Ava datang dan dengan secepat mungkin ia menerjang Lingga, menerjangnya dan memeluk lehernya dengan erat. Lingga merasa sedikit risih, namun ia tak bisa melepaskan pelukan Ava


begitu saja.


"Lingga. Aku menang. Kau pasti bangga padaku dan semakin mencintaiku kan?" Ucap Ava dengan nada manja.


Dibelakang Ava, Madhiaz keluar dari mobil dan menundukkan pandangannya sambil menggeleng pelan.


Lingga mengatupkan bibirnya dan menggigitnya pelan, mereka kalah. Dikalahkan oleh pendatang dengan kekalahan telak yang menyakitkan. Ia kini bahkan tak mengindahkan Ava yang bergelayut manja dilengannya. Matanya terlalu pedih, airmata telah menggenang dipelupuk matanya dan siap meluncur kapanpun ia mau. Hey, kau boleh mengatakan jika Lingga cengeng, tapi itulah kenyataannya. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan yang ada padanya. Dan bagaimana nanti ia berbicara pada Farrand? Lagipula sepertinya Madhiaz juga tak mengindahkan saran kekasihnya dan memilih tetap pada pendiriannya dengan mendahulukan gender. Mungkin jika sedari awal ia melawan Ava, keadaan bisa berubah. Tapi sudahlah. Menyesal sekarang pun percuma, tak akan mengembalikan mobilnya yang sudah akan berpindah kepemilikan.


 


 


Ckiiittt....


Suara decitan rem mobil membuat fokus Lingga berpindah. Di seberangnya, tak terlalu jauh dari mobilnya terparkir kini datang mobil berkecapatan tinggi dan bermanuver lincah lalu melakukan braking dengan akurat hingga masuk kegaris parkir dengan tepat. Pintu sebelah kanan terbuka, dan alahkah terkejutnya Lingga saat melihat Farrand keluar dari mobil itu dan berlari dengan tergesa-gesa menuju kearahnya. Lingga terkesiap. Ia lantas melepas paksa pelukan Ava dan berjalan menuju Farrand yang datang dengan keadaan yang bisa dikatakan berantakan.


"Aku mengkhawatirkanmu." Ucap Farrand. Ia langsung menerjang Lingga dan memeluknya erat saat ia menemukan sosok yang dicarinya itu.


"Aku tau. Dan maafkan aku karena tak bisa menepati janjiku untuk menang." Lirihnya.


Tes....


Lolos sudah....


Airmata yang sudah sejak tadi menggenangi pelupuk matanya kini telah terjun dan terjatuh dibahu kecil Farrand yang saat ini memeluknya. Beruntung, ia membelakangi semuanya hingga Samuel dan Ava tak melihat sisi lemahnya kini.


Dengan cepat Lingga mengusap airmatanya. Ia mencoba tersenyum, karena baginya kehadiran Farrand disini cukup bisa membuatnya merasa kuat. Dan tentu saja. Ia tak ingin Farrand melihat sisi lemahnya itu.


"Huaahhhh." Beberapa pasang mata mengalihkan pandangannya dari pasangan Lingga-Farrand ke Nadeen yang berjalan lemas keluar dari pintu mobil sebelah kiri. Dalam temaramnya lampu malam, terlihat sebersit warna pucat menghiasi muka kusut milik Nadeen. Madhiaz yang melihat hal itupun hanya menggeleng pelan karena ia pasti sudah bisa menebak tentang apa yang terjadi pada gadis berambut panjang itu.


"Na... Lingga. Mengapa kau malah memeluk wanita itu?"


Lingga menekuk wajahnya. Ia sebal, lagi-lagi Ava mengganggu waktu romantisnya bersama sang kekasih. Saat ini ia hanya bisa berdoa, semoga saja Farrand tak cemburu melihat rayuan maut yang dilayangkan Ava padanya.


"Mengapa dia bisa ada disini?" Ucap Farrand. Lingga merasakan bulu romanya merinding sesaat karena mendengar ucapan Farrand yang terkesan dingin itu.


"Hey? Kau tak tau?"


Farrand menggeleng pelan menanggapi ucapan Ava, "Aku salah satu pembalap disini. Dan kau tau, aku telah mengalahkan Madhiaz dan rx-7 nya." Lanjut Ava. Farrand muak. Mendengar nada bicara Ava yang terkesan dilembut-lembutkan itu entah mengapa membuatnya mual dan ingin muntah. Ia tau, wanita satu itu pasti berusaha menggoda kekasihnya.


'Sudah kuduga' batin Farrand. Ia lalu menoleh kearah Madhiaz. Dan Madhiaz hanya bisa menunduk karena ditatap


dengan tatapan menusuk yang dilayangkan Farrand.


"Lingga. Apa kau mau bergabung bersama kami? Kalau kau bergabung, mobilmu bisa kau pakai kembali. Dan kita bisa menaklukkan daerah-daerah sini. Kita bisa menjadi raja dan ratu jalanan." Ujar Ava. Dan.... Nyuuuttttt... Ava bergelayut manja lagi ditangan kiri Lingga yang tidak memeluk Farrand.


Grep....


Seperti seorang lelaki, Farrand menyeret lengan Lingga begitu saja dan menariknya hingga pelukan Ava terlepas. Lingga gugup. Ia lantas bergerak dan dengan gerakan cepat Farrand malah menariknya kebelakang tubuhnya. Persis seperti seorang pria yang tak ingin kekasihnya digoda pria lain. huhhh... jika dilihat, bukankah posisi mereka seakan terbalik? Farrand yang posesif dan Lingga yang pasif.


"Lingga tak akan kemana-mana. Dan aku yakin cepat atau lambat ia akan merebut kembali mobilnya dengan kemenangan yang diraihnya." Ucap Farrand sarkas. Matanya masih memicing tajam memandang Ava yang kini bersidekap anggun.


"Ho.... percaya diri sekali kau." Balas Ava. Gigi Farrand gemeretak pelan mendengar ucapan Ava yang terdengar seperti merendahkannya itu.


"Kau terlalu sombong dengan kemenanganmu yang mudah itu." Ucap Farrand meremehkan.


"Cih,,, kemenangan yang mudah katamu? Kau tau, aku bahkan telah mengalahkan Madhiaz dengan rx-7 nya. Aku bisa mengalahkan mobil nya yang bertenaga 350 hp dengan menggunakan mobil yang hanya memiliki 250 hp."


Farrand mendecih. Kemenangan mudah katanya? Ia yakin dan bahkan berani bertaruh jika sebenarnya Madhiaz hanya mengalah karena yang melawannya perempuan. Ia yakin, karena begitulah sikap Madhiaz. Ia akan mengalah jika yang dihadapinya seorang perempuan. Entah bagaimanapun kondisinya. Baginya, mendahulukan gender adalah hal yang paling utama untuknya. Bahkan jika hal itu berarti ia akan kehilangan mobilnya seperti sekarang ini.


"Aku yakin jika aku akan mengalahkanmu dengan mudah bahkan dengan mobil supermu itu." Lanjut Ava. Farrand melirik sekilas kearah mobilnya. Ia lupa, kini ia memakai mobil ayahnya karena mobilnya sedang dibawa keluar kota. Dan ia yakin jika Ava menganggap Lan-Evo itu miliknya.


"Kau mau mencoba? Aku akan dengan senang hati meladenimu saat ini juga."

__ADS_1


"Dan jika aku menang, Lingga akan menjadi kekasihku." Tambah Ava. Lingga bergidik mendengarnya. Apa maksudnya? Apakah ia sedang menjadi bahan pertaruhan saat ini? Ayolah, dia itu pria dan kini tengah diperebutkan oleh dua wanita cantik. Jadi boleh ia berbangga hati sekarang?


"Jika aku menang, serahkan kembali mobil Lingga."


"Tidak bisa." Suara berat Samuel menginterupsi perdebatan dua orang wanita dihadapannya itu. Ia berjalan pelan


menuju tempat mereka berdebat untuk memperebutkan seorang yang baru saja dikalahkannya itu. Hell.... difikirannya, tak bisakah dirinya saja yang diperebutkan? Bukankah ia yang menjadi pemenang malam ini? Mengapa harus pemuda yang dikalahkannya itu yang menjadi orang yang diperebutkan seperti itu? Duh, harga dirinya bisa tercoreng jika seperti ini.


Farrand menatap Samuel seolah mencari jawaban atas pernyataannya itu. Dan tak lama, Samuel membuka suaranya. "Aku yang telah mengalahkannya. Jadi, jika ingin mobilnya kembali, bukankah seharusnya aku yang


dikalahkan?"


Farrand mengangguk pelan, bermaksud membenarkan perkataan dari pemuda berambut panjang yang mendekati mereka itu.


"Kalau begitu, aku akan mengambil kembali rx-7 nya jika aku mengalahkanmu."


"Bagaimana, Samuel?" Ava mengalihkan pandangannya kearah Samuel dan melayangkan pertanyaan untuk meminta persetujuan Samuel.


Samuel mengangguk pelan, "Ava, mobilnya Lan-Evo IX. Mobil 4wd baru. Tidakkah kau merasa takut dikalahkan?" Ucapnya.


"Berapa kekuatannya?" Tanya Ava.


"Kurang lebih sekitar 280 hp." Jawab Farrand.


"Tak masalah. Aku bahkan bisa mengalahkan mobil dengan kekuatan 350 hp. Lalu mengapa aku takut dengan mobil yang memiliki kekuatan jauh lebih rendah? Perbedaan kekuatan yang hanya 70 hp itu tidak mungkin bisa membuatku kalah. Apalagi dia hanya seorang gadis yang bahkan lebih lemah dariku."


'Percaya diri sekali dia.' Batin Farrand. Ia mendengus pelan. Seolah merasa muak atas sikap Ava. Dan apa-apaan


itu? Lebih lemah darinya katanya? Hey, jika bukan karena musim dingin ini, ia pasti akan seperti gadis normal lainnya. Dan tentunya ia tak akan membiarkan Lingga maju sendiri di arena balap.


"Tidak Ava. Aku tidak mengizinkanmu balapan untuk malam ini. Ban mobilmu telah aus. Jadi kau akan balapan melawannya dilain waktu." Putus Samuel. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu. Ban mobil Ava yang mulai aus dan kondisi arena yang licin membuatnya sedikit ragu untuk melepas Ava balapan. Lagipula, ia juga sama sekali masih belum mengetahui beberapa hal tentang orang yang akan Ava lawan. Jadi ia tak ingin mengambil


resiko dengan menyetujui begitu saja keinginan Ava.


"Baiklah. Kita pulang. Lagipula aku sudah lelah." Ucap Ava sambil memandang Samuel. Ingin ia melawan, namun larangan Samuel tidak bisa ia lawan begitu saja. Ia tau, Samuel pasti sudah memikirkan beberapa hal untuk rencana mereka kedepannya.


menyeretnya kembali. Dengan perlahan, beberapa orang telah meninggalkan arena dan keadaan berangsur-angsur sepi.


"Tidak. Kita balapan di sabtu malam setelah hujan pertama musim semi." Ucap Farrand. Tidak, lebih tepatnya bukan ucapan, melainkan teriakan.


Ava terkesiap, musim semi? Apa wanita itu tidak merasa terlalu lama jika menunggu hujan pertama dimusim semi? Bukankah lebih baik mereka melakukannya dengan cepat? Tapi.... sudahlah. Ia akan membicarakan hal itu besok. Bukankah mereka berdua satu kelas? Dan tentunya hal itu bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk dibicarakan.


.-.


Ava menghempaskan tubuh lelahnya ke sofa empuk diruang tamu rumahnya. Teman-teman mereka sudah pulang sedari tadi, dan sekarang hanya tinggal Samuel yang duduk di sofa lain. Dengan menumpukan kepalanya pada


sandaran sofa, ia menatap lampu yang menerangi gelapnya ruang tamu.


"Aku masih belum mengerti tentang apa yang ada difikiranmu, Samuel." Ucap Ava. Ia bersedekap, sambil sesekali


menggoyangkan kaki kiri yang ia tumpukan ke kaki kanannya.


"Pertimbangkan baik-baik setiap tawaran yang dilayangkan padamu, Ava. Jika kau gegabah, kau bisa kalah dengan mudah." Samuel menegakkan kepalanya dan menatap Ava dengan tatapan tajamnya. Ia menghela nafas pelan, ia merasa sedikit tak suka atas sikap Ava yang terkesan semaunya sendiri.


"Kau sendiri yang mengatakan jika aku punya potensi."


"Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya. Kau belum tau apa yang akan kau hadapi."


"Oh, ayolah... dia hanya gadis dengan daya tahan tubuh yang lemah. Lagipula ia mengendarai Lan-Evo IX. Kau tau jika pengendara Lan-Evo itu orang yang memuja kecepatan namun tak begitu memiliki skill yang mumpuni."


"Kau lupa jika aku salah satunya?"


"Pengecualian untukmu. Kau bahkan menambahkan misfiring system pada milikmu. Aku yakin dia tak tau hal itu. Lagipula kau tau jika Lan-Evo miliknya masih standart pabrik. Yang dilakukannya hanya menambah sayap belakang saja."


"Kau benar. Namun kau juga perlu tau jika dia bisa saja mengalahkanmu."

__ADS_1


"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi." Ava menggeram marah. Perkataan Samuel tadi seolah mengejeknya dan merendahkan kemampuannya.


"Sudahlah Ava. Aku tau jika kau cemburu pada wanita yang menjadi kekasih orang yang kau cintai itu. Tapi perlu kau ingat, roda mobilmu masih aus saat itu. Pertandingan di jalanan licin lebih banyak memberi beban pada ban hingga menjadi cepat aus dan kehilangan cengkramannya pada jalan. Dan perlu kau tau juga jika Lan-Evo dan Subaru memang di setting untuk balapan reli dijalan licin dan berdebu. Jadi, meski kekutannya hanya 280hp, kau tidak boleh menyepelekannya begitu saja."


Ava mendengus pelan. Tapi sejujurnya, dalam hati ia membenarkan semua perkataan yang dilayangkan Samuel untuknya. Ingin ia mengakuinya, namun egonya terlalu tinggi untuk melakukan hal itu.


"Dan saranku, hadapi di musim semi. Dengan begitu jalanan menjadi lebih kering dan kau bisa melakukan drift dengan baik dengan s15 mu."


Ava mengangguk pelan, "aku akan mengatakannya besok di sekolah." Ucapnya.


"Bagus. Itu yang kuharapkan darimu. Oh iya, aku baru mendapat info tentang pengemudi NSX merah itu." Lanjut Samuel.


"Dimana?"


"Aku disuruh menanyakannya pada seorang pelajar SMU bernama Farrand Ainsley. Kurasa aku salah mengenai perkiraan umurnya."


"Apa maksudmu?"


"Kukira dia berumur hampir 30an. Tapi ternyata dia masih pelajar."


Tunggu, Farrand Ainsley katanya? Ava sedikit mengernyit heran mendengar nama yang diucapkan Samuel. Farrand Ainsley, nama itu terdengar tak asing bagi Ava. Namun Ava lupa dimana ia pernah mendengar nama itu.


"Maksudmu dia terlihat lebih tua? Begitu?"


"Yah... dan aku bermaksud menantangnya sehari setelah natal. Tapi rahasiakan hal ini dari yang lain dan aku sendiri yang akan kesana tanpa siapapun."


"Aku ikut."


"Tidak. Ini adalah pertandinganku dengannya. Jadi jangan sampai yang lain mendengarnya atau aku tak akan membantumu lagi dalam pertandingan apapun."


Ava mengucutkan mulutnya pelan. Ingin ia mengutarakan protesnya, namun mendengar nada mengancam nan serius dari Samuel mau tak mau membuatnya diam tak berkutik. Ava tak ingin salah langkah dalam menghadapi Samuel. Karena ia tau pria itu sangat bersungguh-sungguh terhadap ucapannya. Baginya, Samuel adalah guru yang harus didengarkan omongannya karena tanpa bantuan dari Samuel, ia tak bisa meraih kemenangan berturut-turut yang selama ini didambanya.


"Lalu aku harus bagaimana, Samuel?"


"Tugasmu adalah menahan siapapun untuk datang disaat aku sedang balapan one by one dengannya."


"Baiklah. Jika itu maumu." Ava lebih memilih untuk menyerah dalam perdebatan mereka. Ia tau, tak ada gunanya ia berpendapat jika Samuel telah menyuarakan keputusannya itu.


Tanpa obrolan yang mengalir lagi, Samuel pamit pulang dan meninggalkan Ava sendirian dirumah besarnya. Orangtuanya pebisnis ulung, dan dia sering ditinggalkan sendirian dirumah besar itu. Tak ada maid dikediamannya.


Hal itu dikarenakan mereka memiliki kediaman tersendiri di gedung terpisah.


Kesendirian yang selalu Ava alami memang seringkali ia rasakan. Bahkan ia bisa menghitung dengan jari tentang berapa hari dalam setahun orang tuanya ada dirumah untuk menemaninya. Dan hal itulah yang membuatnya ingin mencari jati diri dengan menjajaki dunia balap liar. Sebelumnya ia hanya mengemudi mengikuti apa kata hatinya dengan mengendarai supercar impor berkekuatan besar seperti lambo, Ferrari atau Mustang. Namun setelah ia bertemu Samuel, ia berubah. Ia mengembalikan supercar mewahnya pada ayahnya dan lebih memilih membeli mobil balap lokal. Dari Samuel pula ia belajar ternik drifting, sedikit modifikasi mobil dan berhasil meraih beberapa kemenangan dengan Samuel yang ada disampingnya sebagai navigatornya. Maka dari itu, ia lebih menuruti apa kata Samuel daripada apa kata hatinya.


Namun kedekatannya dengan Samuel selama ini tak serta merta membuatnya jatuh cinta pada pria berambut panjang itu. Ia hanya menganggap Samuel sebagai seorang kakak yang tak pernah dimilikinya, itu saja. Dan sebenarnya, hatinya telah lama terpaut pada pemuda yang pernah menjadi sahabatnya, seorang pemuda yang bernama Lingga.


Ya.


Lingga.


Seorang sahabat yang dulu pernah menyatakan kata cinta padanya. Namun tak pernah sekalipun ia balas karena ia tak tau rasa apa yang ia simpan pada pemuda itu. Hingga saat ia bersedia untuk menjadi kekasihnyapun, ia


tak benar-benar menganggap Lingga sebagai kekasihnya.


Dengan perlahan, sepertinya Ava mulai menerima keberadaan Lingga dihatinya. Ia merasa nyaman dengan semuanya, dengan segala perlakuan Lingga dan segala perhatiannya. Namun sepertinya, hal yang tak ia fikirkan sebelumnya terjadi, hari dimana Lingga mengatakan jika dirinya telah merasa jika cinta yang dimiliki Lingga hanya bertepuk sebelah tangan. Ava tak benar-benar mencintai Lingga. Dan setelah itu, ia dikejutkan dengan kabar kepindahan Lingga yang tak ia ketahui kemana tujuannya. Pernah ia kerumah Lingga, bermaksud untuk menanyakan tentang Lingga kepada orang tua Lingga. Namun setelah ia sampai disana, ia dikejutkan lagi tentang fakta bahwa Lingga telah pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Kepergian Lingga yang tak ia ketahui itu hanya menyisakan sepucuk surat yang ia temukan di kado yang diberikan orang tua Lingga padanya. Mereka mengatakan jika kado itu berada di kamar Lingga dan terdapat tulisan yang mengatakan agar kado itu diberikan padanya. Didalamnya, terdapat sebuah syal berwarna aquamarine seperti warna bola matanya, dan sepucuk surat yang berisi tentang rasa kecewanya atas perasaannya yang tak terbalaskan.


Hari-harinya terasa hampa setelah kepergian Lingga. Telah lama ia mencari informasi tentang Lingga, dan ia baru mengetahui jika Lingga ada di Kota Falen setelah ia memberi tahu Samuel tentang pencariannya terhadap Lingga.


Samuel yang memiliki banyak kenalan di jalanan pun akhirnya menemukan Lingga. Namun ia kembali dikejutkan oleh fakta bahwa Lingga kini berkecimpung didunia balap juga. Ia senang, hingga akhirnya Samuel mengutarakan niatnya membentuk tim balap pun langsung ia setujui begitu saja.


Dan untuk target Kota Falen, sebenarnya itu adalah masukannya. Ia memang mendengar tentang pembalap di Kota Falen dan ia membantu Samuel menyusun rencana untuk menakhlukkan daerah itu secara perlahan. Untung saja Samuel setuju, jadi ia bisa dengan leluasa kembali mendekati Lingga dan perlahan membujuk ayahnya untuk memindahkan sekolahnya ke Kota Falen.


Tapi, setelah semua usaha yang ia keluarkan untuk pencariannya terhadap Lingga, ia kembali dikejutkan lagi oleh sebuah fakta. Ya, fakta bahwa Lingga telah memiliki kekasih dengan surai rambut panjang yang hampir serupa dengannya meski dengan warna yang berbeda. Namun sekali lagi ia tak menyerah, ia masih akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat Lingga kembali kepelukannya. Bahkan jika ia harus berkorban sesuatu, ia rela. Tentunya

__ADS_1


asal Lingga mencintainya seperti yang dahulu dilakukannya. Dan hal yang pertama yang ia susun dalam otaknya, adalah tentang bagaimana ia membuat Lingga kembali terjerat pesonanya dan meninggalkan pacar barunya itu.


Tbc


__ADS_2