
Selamat membaca...
-----------------------------------
Termaramnya lampu dan heningnya malam tak bisa membuat tubuh Lingga beranjak
dari tempatnya kini. Waktu sudah larut, dan kini ia masih setia dengan
kegiatannya memandang langit malam di balkon apartmennya. Ia juga masih belum
bisa memejamkan matanya dan mengistihatkan tubuh lelahnya. Ia menghela nafas
lagi, dan jika dihitung dari tadi ini entah sudah yang keberapa kali. Pikirannya
kalut. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang ia lihat tadi siang ditaman
belakang sekolah. Dan sejujurnya, ia ingin menghukum Farrand dan membuatnya
sadar jika sekarang ia milik siapa.
Giginya gemeretuk pelan saat lagi-lagi teringat Farrand yang bercumbu mesra
dengan Dion. Apalagi saat itu juga ia melihat siluet tangan Dion yang meraba
beberapa bagian tubuh Farrand.
"Aarrrrrggggghhhhh" teriaknya. Ia frustasi, dan dengan kesal ia
mengacak kasar surai rambutnya yang kini mulai memanjang.
"Seharusnya aku tadi menghampirinya dan memukul wajah menyebalkannya
itu. Apa dia tak puas dengan memiliki Zennie disisinya? Hingga Farrand yang
telah ia tinggalkan ia pungut kembali."
Ddrrtttt dddrrttttt
Suara getar hp yang ia letakkan dimeja samping ranjangnya sangat jelas
terdengar dipendengarannya. Maklum, suasana saat ini sangat sepi hingga suara
getar hp yang pelan saja bisa ia dengar. Perlahan ia beranjak, berniat
mengambilnya dan meluhat siapa gerangan yang sudah menghubunginya ditengah
malam seperti ini.
Fa-darl
Ling, kau belum tidur? Jika belum, ayo kita jalan-jalan ke bukit. Ayah
sedang tak ada dirumah.
Balas jika kau belum tidur. Dan aku akan menunggumu di minimarket blok Tulip.
Kau tau daerah itu kan?
Sejenak Lingga merenung. Ia memang membutuhkan hal ini sekarang, bertemu
dengan Farrand dan membicarakan semuanya.
Aku belum tidur. Kujemput. Tunggu
disana.
Singkat padat dan jelas. Begitulah Lingga membalas pesan singkat yang
dikirim oleh Farrand. Setelah membalas pesan itu, Lingga beranjak menuju kamar
mandi untuk membasuh mukanya yang kusut. Tak lupa ia mengelap mukanya dengan
handuk dan mengambil jaket tebal yang tersampir digantungan baju sebelum ia
menuju garasi. Maklum, sekarang sudah memasuki musin dingin, dan ia tak ingin
kedinginan saat nanti keluar dengan Farrand.
.
.
.
Ditempatnya, Farrand menghela nafas kasar. Ia merasa tak enak kepada Lingga
atas perlakuannya dengan Dion. Maka dari itu ia tak bisa tidur hingga saat ini.
Dan setelah itu, muncullah ide untuk menjelaskan pada Lingga agar ia bisa
tenang dan tidur dengan nyenyak. Sebenarnya ia bisa saja menjelaskannya lewat
telfon, namun hal itu dirasanya kurang pas. Mengingat hal yang dibicarakannya
bukanlah hal sepele untuk ukuran pasangan yang baru saja menjalin kasih.
Dan disinilah ia berada, duduk didepan minimarket yang buka 24 jam sambil
menikmati kopi panas yang ia pesan. Mengirim pesan singkat kepada Lingga dan
berharap pria itu belumlah memejamkan matanya. Dan benar saja, beberapa saat
setelah ia mengirim pesannya, Lingga membalasnya dan bersedia menemuinya.
Beruntungnya juga, Arasya sedang diluar kota saat ini. Jadi ia bisa dengan
leluasa keluar malam.
Setalah kopinya tinggal setengah, Farrand melihat sorot lampu mobil mengenai
wajahnya. Dan ia berharap mobil itu adalah mobil milik Lingga.
Saat Lingga memarkirkan mobilnya dihalaman minimarket, angin berhembus pelan
dan memainkan helai panjang rambut Farrand. Lingga tertegun, dan sepertinya ia
mematung sesaat karena menikmati pemandangan dihadapannya.
Melihat Farrand yang tak beranjak juga mau tak mau membuat Lingga keluar dan
dan menghampirinya. Farrand tersenyum menyambut Lingga, dan menawarinya duduk
disampingnya.
"Duduklah sebentar, aku akan memesankan kopi untuk mu juga." Tawar
Farrand.
"Tidak usah. Aku bisa meminum sisa kopimu."
"Tapi kopi ini sudah kuminum."
Tanpa mendengarkan ocehan Farrand, Lingga langsung menyeruput gelas kopi
milik Farrand dan meminumnya hingga isinya tandas. Farrand hanya bisa
menatapnya sambil melongo, tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Ayo." Ucap Lingga. Ia langsung menarik tangan Farrand dan
membawanya menuju mobil yang ia parkirkan. Perlakuannya sedikit keras, Farrand
sampai meringis merasakan betapa eratnya Lingga menggenggam tangannya dan
menghempaskan nya begitu saja.
"Kau kenapa Ling?"
"Ikut saja. Diam dan pakai sabuk pengamanmu."
Nyuttt...
Hati Farrand sedikit sakit mendapat perlakuan Lingga yang sedikit kasar itu.
Ini hanya prasangkanya, tapi mungkinkah Lingga tau apa yang terjadi ditaman
belakang tadi siang? Jika ya, maka ia akan bersiap-siap untuk kondisi yang
mungkin tidak ia duga sebelumnya.
Dan sekarang, disinilah mereka berada. Di parkiran taman pinggiran kota yang
telah sepi karena tiadanya pengunjung. Mengingat kini telah larut malam,
pastinya siapapun enggan pergi, apalagi musim telah beralih menjadi dingin.
Ctak....
Lingga melepas pengait sabuk pengamannya dengan kasar. Aura dingin semakin
mencekam, dan ditambah sifat dingin Lingga yang sedari tadi diam mau tak mau
membuat Farrand diam tak bergeming.
Set....
Mata Farrand membola saat Lingga dengan kasar ******* bibirnya dan menyusupkan
tangan kanannya menuju dada Farrand. Dan tanpa Farrand sadari, tangan kanan Farrand
sudah dicekal erat oleh tangan kiri Lingga. Sedangkan tangan kirinya, ia
mencoba memberontak namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga milik Lingga.
"Dia memperlakukanmu seperti ini, bukan?" Ucap Lingga. Kilat
kemarahan tergambar jelas di raut wajahnya, dan ia menatap tajam mata Farrand
yang sedikit berair.
"Dan aku akan menghapus bekasnya." Lanjutnya.
"Ling!"
Tanpa berkata lagi, Lingga melanjutkannya. ******* kasar bibir lembut Farrand,
melepas syalnya dan setelahnya menyusuri leher jenjang Farrand sambil
mengecupnya.
Sedang Farrand, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang
berusaha keluar dari bibirnya. Ingin ia berontak lebih keras, namun apa dayanya
saat Lingga telah mengukungnya dan mencekal kedua tangannya. Saat ini ia
pasrah, namun jemari tangannya ia kepalkan begitu erat hingga ia yakin bahwa
buku-buku jarinya telah memutih.
"Hentikan!" Lirih Farrand.
ia berusaha menghentikan Lingga bertindak lebih jauh, namun Lingga tetap pada
perlakuannya.
__ADS_1
"Diamlah. Bukankah ini yang kau inginkan? Mengapa kau menyuruhku
berhenti."
"Hentikan, Ling. Kumohon..."
Tes....
Lolos sudah air mata yang sedari tadi menggenak dipelupuk mata Farrand. Ia
memohon, memohon dengan nada lirih dan berharap Lingga menghentikannya sekarang
juga.
"Kenapa? Bukankah kau pernah menantangku sebelumnya? Atau kau lebih
suka melakukannya bersama mantan kekasihmu itu."
"Tidak."
"Lalu mengapa kau menerima sentuhannya begitu saja disaat kau
menerimaku? Katakan. Apa dia begitu memuaskanmu hingga kau tak bisa berhenti
menerima sentuhannya? KATAKAN!!"
Farrand semakin terisak dan menggeleng keras saat mendengar bentakan dari Lingga.
Sungguh, ia tak menyangka jika Lingga akan menjadi semarah ini sekarang.
"Hentikan Ling. Aku tak ingin kita seperti ini."
"Lalu, apa yang kau inginkan? Ingin lebih dari ini? Seperti ini?"
Sett...
Lingga lepaskan pegangan tangan kanannya dan berusaha melepas dalaman bawah
milik Farrand dengan mencoba menyusupkan tangannya. Farrand berusaha berontak,
namun lagi-lagi tenaganya tak cukup untuk membuat Lingga menghentikan
kegiatannya.
"TIDAK... Hentikan Lingga! Hentikan.."
Lingga menghentikan tangannya yang menyusup kedalam rok pendek milik Farrand.
Namun ia tak berhenti begitu saja dan mengalihkan tangannya untuk kembali
memegang tangan Farrand dan menariknya keatas. Setelahnya, mengukung Farrand
dan duduk dipangkuannya. Membuat Farrand memejamkan mata dan memalingkan
mukanya kearah samping.
"Kenapa.. kenapa kau lakukan hal ini padaku?" Lirih Lingga. Farrand
mematung mendengarnya. Dan isak tangisnya pun perlahan mereda.
"..."
"Aku tak pernah memiliki cinta hingga seperti ini. Tapi mengapa begitu
aku mencintaimu, kau lakukan hal ini padaku?" Lingga mendongak, ia menatap
mata Farrand yang kini menatapnya dengan wajah sayu.
"..." Farrand masihlah terdiam, dan mencoba mendengar penuturan Lingga
dan menatap dalam mata Lingga yang berada dihadapannya.
"Aku mencintaimu, Fa. Dan kau telah bersedia menerimaku. Tapi mengapa?
Kau masih saja berhubungan dengannya dan melakukan hal itu dibelakangku?"
"Ling....."
Lingga terdiam tak menjawab panggilan Farrand. Dan kembali, ia menyusupkan
kepalanya keperpotongan leher Farrand. Mengecupnya pelan dan setelahnya
menggigit cuping telinga Farrand yang lembut.
"Kau ingin lebih? Aku bisa memberikannya malam ini juga." Bisik Lingga.
Hembusan nafas Lingga ditelinga Farrand benar-benar mampu membuat nafas Farrand
menjadi kembang kempis.
"Jangan lakukan itu, Ling"
"Kenapa? Bukankah kau sudah kehilangan yang berharga untukmu?"
Farrand kembali terisak saat Lingga mengatakan lagi tentang hal itu. Ia tak
menyangka jika Lingga bisa mengingatkannya kembali dan berbuat senekad itu.
"Kau dan aku bisa menyesal jika kau lakukan itu, Ling."
"Kenapa? Kau takut hamil? Aku bisa mengendalikan diriku untuk tak
mengeluarkannya didalam."
Farrand terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa Lingga bisa mengatakan hal
frontal seringan itu padanya?
"Bukan, bukan itu." Farrand menggeleng keras, "Aku tidak
benar-benar kehilangan mahkotaku. Kau dan aku akan menyesalinya jika kau
"Apa maksudmu?"
"Aku mengatakan hal itu semata-mata agar kau siap dengan semua
kemungkinan terburuk tentang kekuranganku."
"...."
"Aku berani bersumpah, Ling. Aku belum pernah melakukannya dengan
siapapun."
"Termasuk Dion?"
"Ya. Termasuk dia."
"Namun mengapa kau diam saja saat ia mencumbumu di taman belakang
sekolah?"
"Itu, karena.... karena....."
"Kau tak bisa menjawabnya bukan? Apa itu berarti kau akan kembali lagi
padanya dan melupakan apa yang kau katakana di pantai waktu itu? Jawab aku, Fa!"
"Aku akan menjawabnya, Ling. Jika penjelasanku yang ingin kau dengar
saat ini."
"Lupakan." Lirih Lingga. Ia melepaskan kungkungannya atas Farrand
dan setelah itu ia kembali duduk dikursi kemudinya. Memegang steer dan
menjedukkan kepalanya kepinggirannya.
"Bodohnya aku." Lirih Lingga.
Farrand mengusap airmatanya dengan kasar. Meredam isaknya sebaik mungkin,
dan mencoba memperbaiki penampilannya yang telah berantakan disana-sini akibat
perlakuan Lingga.
"Aku tak tau jika kau mengetahui kejadian tadi." Ucap Farrand. Ia
berkata sepelan mungkin, namun masih bisa didengar oleh Lingga karena suasana
yg teramat sepi.
"Jadi jika aku tak membututimu dan melihatmu melakukan hal itu, kau
merasa aman-aman saja dan tak menceritakannya sama sekali padaku? Demi tuhan, Fa.
Terkadang aku merasa jika aku sama sekali tak bisa mengenal dirimu." Ujar Lingga,
ia mengangkat kepalanya dan menyandarkannya kebelakang hingga menyadar pada
sandaran jok yang ia duduki.
"Bukan itu maksudku, Ling. Aku tak bisa tidur karena selalu memikirkan
hal itu. Jadi aku menghubungimu, mengajakmu keluar dan bermaksud menjelaskan
semuanya padamu."
"..." Lingga membisu, ia masih ingin mendengar kata selanjutnya
dari Farrand dan berusaha mengontrol mosinya yang mulai menaik sedari tadi.
"Dion memang memintaku menemuinya ditaman belakang sekolah saat jam
istirahat. Ia ingin mengatakan sesuatu. Dan ia memberitahuku bahwa setelah
kelulusan nanti ia akan berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studinya
disana."
"Lalu dia meminta ciuman terakhir sebagai tanda perpisahan,
begitu?"
"Y-ya."
"Alasan klise! Bodoh!"
Farrand menunduk. Sungguh, ia merasa takut yang teramat sangat saat
menghadapi Lingga yang kini dalam mode marahnya. Auranya terasa begitu
mencekam, dan ia sama sekali tak mampu untuk sekedar menatap mata Lingga.
"Maafkan aku, Ling. Aku benar-benar merasa jika yang kulakukan ini
salah."
"Lalu apa yang kau perbuat setelah ini? Kau tau? Aku bisa saja
memperkosamu saat ini juga jika mengingat amarah yang kupendam padamu."
"M-maaf"
"Kau mengatakan maaf berulang kalipun tak akan bisa merubah sesuatu
yang telah terjadi. Kau mengatakan memberiku kesempatan namun yang kau lakukan
sungguh bisa membuatku gila. Kau membuatku terbang kea wan dan menghempaskanku
__ADS_1
dalam sekejap. Demi tuhan, Fa! Tidakkah kau mengerti akan posisiku saat ini? Baru
kali ini aku merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun kau membuat apa yang
kurasakan semakin rumit. Jujur saja, aku sama sekali tak pernah memiliki
pengalaman dalam hal ini."
Farrand semakin menundukkan kepalanya. Tubuhnya menegang, dan ia meremas
kain roknya untuk menyalurkan ketegangannya saat ini.
"KELUAR!!!" Hardik Lingga.
"L-Ling."
"Kubilang KELUAR!!!" Farrand berjengit kaget mendengar bentakan Lingga
yang teramat keras tersebut. Tubuhnya bergetar, dan mau tak mau ia keluar dari
mobil untuk mengikuti keinginan Lingga.
Tanpa Farrand duga, Lingga menyusulnya keluar. Farrand yang masih didekat
mobil pun segera dikejar oleh Lingga dan menghimpitnya hingga badan Farrand
membentur badan mobil Lingga. Dan beginilah kondisi mereka sekarang, Farrand
lagi-lagi dibuat tak berdaya berada di dalam kungkungan Lingga.
Lingga menunduk, menyembunyikan raut wajahnya tanpa sedikitpun merubah
posisinya atas Farrand.
"Maafkan aku." Lirih Farrand. Ia mengangkat tangannya dan mengusap
lembut pipi Lingga yang ternyata kini sudah basah oleh airmatanya.
"Maafkan aku, Ling. Aku terlalu jahat hingga membuatmu terluka seperti
ini."
Greep...
Lingga melepas kungkungannya dan memeluk Farrand, membenamkan kepalanya dileher
Farrand dan menyesap aroma yang selama ini selalu ia rindukan.
"Kau tau, tadi siang aku hampir saja menghampirimu dan ingin membuat pria
itu babak belur."
"..."
"Tapi kemudian aku urungkan. Mengingat aku tak pernah ada dihatimu. Benar
begitu kan?"
"Itu tak benar, Ling."
"Aku mencintaimu. Melihat kau bercumbu dengan pria lain membuatku marah
dan hampir kehilangan kendali emosiku."
"....." air mata mengucur semakin deras melewati pipi Lingga. Ia tak
kuat, dan untuk pertama kalinya ia menangis karena seorang perempuan yang
menyakiti hatinya.
"Namun kutekankan lagi pada hatiku. Bahwa aku bukanlah satu-satunya
orang yang kau cintai."
"Ling...."
Dan bersamaan dengan itu, Farrand mencoba menatap mata Lingga ditengah
temaramnya lampu. Namun sedetik kemudian, Lingga membalikkan badannya. Membuat Farrand
hanya bisa melihat punggung tegapnya sambil menggigit bibit bawahnya.
"Itu benar bukan? Fakta bahwa kau masihlah mencintai mantan kekasihmu
itu tak terbantahkan lagi."
"Hentikan Ling. Kumohon."
Farrand menggelengkan kepalanya dengan kasar. Sungguh! Bukan ini maunya, dan
bukan ini juga inginnya.
"Dan kini aku merasa kecewa pada diriku sendiri yang dengan seenaknya
ingin membuatmu hanya menjadi milikku."
"Apa yang kau bicarakan, Ling."
"Itu benar bukan? Nyatanya aku hanya pria asing yang masuk begitu saja kedalam
kehidupanmu. Menyatakan cinta saat kau dihempaskan oleh cintamu, dan ingin
menjadikanmu milikku. Aku naif ya?" Suara Lingga memelan di akhir kata
yang ia ucapkan, namun bukan berarti Farrand tak bisa mendengarnya. Karenanya,
Farrand maju dan memeluk tubuh Lingga dari belakang.
"Tidak, Ling. Tidak. Itu tidak benar." Farrand mengeeleng. Airmata
kembali turun dari wajahnya dan membasahi punggung tegap Lingga.
"Aku bahkan mengacuhkanmu begitu saja, setelah aku mengucapkan jika aku
tak akan meninggalkanmu."
"...."
"Tapi ketahuilah. Tak ada sedikitpun rasa dihatiku yang menyuruhku
meninggalkanmu begitu saja."
"..."
"Aku menghindarimu selama itu karena aku masih tak menyangka akan hal
itu. Dan sesal dihatiku semakin membuncah saat kau menghilang beberapa hari
setelahnya."
"..."
"Aku senang, saat mendapatimu kembali dihadapanku. Tapi aku kembali
sedih saat aku tau hatimu belumlah bisa menerimaku."
Airmata Farrand mengalir semakin deras mendengar penuturan Lingga yang
meskipun ia mengatakannya dengan pelan, ia dengar jelas dan terasa sangat
menusuk dihatinya. Ia seperti dipukul telak, dan hal itu dikarenakan sikap
egoisnya sendiri.
"Maafkan aku, Ling. Aku tau kesalahanku sangat fatal. Tapi aku mohon,
beri aku kesempatan."
"Aku memang akan selalu memberimu kesempatan. Bahkan sekalipun jika itu
tanpa kau minta."
"....."
"Karena aku sudah bertekad. Setelah ini aku tak akan melepaskanmu
begitu saja. Aku mencintaimu, Fa. Dan aku telah menemukan tujuanku, bahwa aku
tak akan menyerah untukmu dan akan memperjuangkanmu."
Farrand mengangguk, kembali, ia mengusap airmatanya dengan kasar dan melepas
pelukan Lingga begitu saja. Lingga kaget dan memutar badannya dan setelah Farrand
mengecup bibirnya ia membulatkan matanya dan berdiri mematung seperti tak
percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Setelah Farrand mengecupnya agak lama, Lingga baru tersadar dan langsung
memeluk Farrand kembali. Kali ini dengan lembut, tidak seperti sebelumnya.
"Kau tau, aku mempunyai banyak kekurangan. Dan kuharap kau tak
menjauhiku atau meninggalkanku karena hal itu." Bisik Farrand. Ia
berjinjit untuk mencapai telinga Lingga dan membisikkan beberapa kata itu
padanya. Maklum, tinggi Farrand hanyalah sebatas dagu Lingga.
"Setelah ini, kekuranganmu adalah kelebihanku, Fa. Dan mulai saat ini
juga jadikan aku sandaran hatimu. Karena setelahnya aku tak akan melonggarkan
pandanganku padamu."
"Tolong terima aku apa adanya, Ling."
"Tentu. Aku bahkan akan menunggu hatimu berbalik kepadaku dengan
sendirinya."
"Bahkan jika itu selamanya?"
"Jika selamanya itu berarti jika aku juga harus menikahimu, aku
mau."
Blush......
Rona merah menjalari pipi Farrand yang masih sembab akibat banyaknya airmata
yang mengalir melewatinya. Hatinya menghangat, mendengar Lingga yang secara tak
langsung melamarnya begini mau tak mau membuat jantungnya berdegup lebih
kencang.
"Sebelum kau mengatakan akan menikahiku, selesaikan dulu sekolah kita
dan carilah pekerjaan. Aku tak mau memiliki suami seorang pengangguran."
"Tentu." Sebuah senyuman kini terkembang dibibir Lingga dan juga Farrand.
Keduanya merasa lega, lega karena keduanya telah sama-sama mengeluarkan hal
yang masing-masing mereka pendam.
Tbc
__ADS_1