
Farrand merapikan rumahnya dengan sesekali bersenandung. Pekerjaannya sudah hampir selesai, dan itu berarti setelah ini ia akan menyiapkan makan malam dan mengundang Lingga. Hari masih sore, dan ia masih punya banyak waktu untuk bersantai sebelum kedatangan Lingga jam 6 nanti.
Tanpa terasa waktu telah bergulir dan terbangun setelah terlelap sejenak. Ia kaget, melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit. Itu berarti sudah satu jam lewat dari jam yang Lingga janjikan padanya. Ia heran, tak ada Lingga yang membangunkannya. Padahal jikalau pun ia tertidur dan Lingga telah datang, kekasihnya itu pasti membangunkannya. Lingga telah memiliki kunci duplikat rumahnya, jadi ia tak khawatir jika Lingga datang saat ia tertidur tadi.
Sambil mengucek pelan mata sayunya, ia beranjak menuju kamar mandi dan bermaksud mencuci mukanya. Dalam langkahnya ia berfikir, mengapa Lingga sama sekali tak ada kabarnya? Mungkinkah ada hal yang terjadi dengan pemuda itu? Bagaimanapun juga, pemuda itu pasti mengabarinya jika ada halangan yang berarti.
Selesai dengan air, ia beranjak mengambil ponselnya di kamar. Rasa cemas merasuk di hatinya, dan ia yakin pasti sesuatu tengah terjadi saat ini. Ia tak yakin apa itu, tapi nalurinya berkata jika hal ini pasti berhubungan dengan ketidak adanya kabar dari Lingga.
Dan benar saja, ia mendapat beberapa missed calls dari Lingga dan beberapa panggilan video dari Ava. Ia mengernyit, dari mana Ava mendapat alamat media sosialnya? Apakah dari Lingga? Ah. Lebih baik ia menelpon Lingga dan mencari tahu tentang keadaannya.
Klik.
Tersambung.
Namun dahinya mengkerut saat ada suara Ava yang menjawabnya di seberang. Perasaannya makin tak enak, saat Ava mengatakan bahwa ia akan menelpon via video.
'Sebenarnya ada apa?' Batin Farrand.
Ia semakin resah. Video Call dari Ava segera ia angkat dan ia terkejut saat melihat apa yang ada disana.
Disana, di seberang layar yang ia yakin tempat itu adalah kamar di apartment milik Lingga, Lingga terlihat kesakitan dengan nafas yang memburu dan wajah yang memerah. Lingga sedang tak baik, dan ia tak perlu memastikannya dengan lebih lanjut. Tapi sebenarnya, apa yang telah Ava perbuat hingga Lingga seperti itu?
"Suka dengan yang kau lihat, Baby?" Sebuah seringai muncul di wajah Ava, namun fokusnya masih pada keadaan Lingga yang kini terlihat seperti tengah mengamuk di antara pegangan dua orang berbadan kekar.
"Kau apakan Lingga, Ava?" Gertak Farrand.
"Tak ku apa-apakan. Ups, mungkin belum lah. Tapi tergantung padamu, jika kau cepat menyelamatkannya, ia tak akan ku apa-apakan."
"Jelaskan padaku, Ava."
"Aku hanya memberinya sedikit Viagra. Kau tau viagra? Jika tidak, ku beritahu kau sekarang. Viagra itu obat perangsang...." Seringai kembali berada di bibir tipis sang Ava. Gigi Farrand gemeretuk perlahan, ia tak menyangka jika Ava sanggup melakukan hal itu pada Lingga.
"Ku tunggu kau di bukit Falenca. Aku tak peduli kau memakai mobil apa dan milik siapa. Ku tunggu di kaki bukit sebelah barat dan kita mulai balapannya disana. Jika kau tidak datang, aku tidak bisa menjamin Lingga akan baik-baik saja. Ah,, atau mungkin nanti aku bisa mengobatinya dan berakhir menjadi malam panas kami berdua?"
Ava terkekeh pelan, ia serasa menang karena berhasil memancing Farrand dan membuatnya tidak bisa menolak. Farrand gusar, ia tak punya pilihan lain selain memakai mobil s15 milik ayahnya itu. Ia yakin pasti Lingga akan memberondong berbagai pertanyaan padanya. Tapi biarlah, ia akan mengurus itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Lingga sebelum banyak hal yang akan terjadi.
"Aku akan sampai disana 15 menit lagi. "
"He... Secepat itu? 20 menit saja. Aku harus mengurus beberapa hal."
klik.
Sambungan itu telah terputus, Farrand merasa muak. Sungguh, ia merasa jika Ava sangatlah keterlaluan. Bagaimana bisa ia menggunakan Lingga sebagai umpan dan dalam keadaan yang seperti itu? Jika nanti ia mendapatkan Lingga dalam keadaan tak baik, ia tak akan segan-segan untuk menyakiti Ava. Dan ia bisa pastikan itu.
Tanpa menunggu hal lain lagi, ia segera menyambar kunci motor sport milik ayahnya dan pergi menggunakan itu untuk mengambil mobil yang disembunyikannya di garasi tersembunyi. tekadnya sudah ia mantap kan dan ia akan mengatakan semuanya pada Lingga. Ia merasa jika sekarang lah saatnya, dan ia merasa jika harusnya sudah tak ada hal yang perlu disembunyikan lagi di antara mereka.
...
Farrand mengatupkan bibirnya dan menyandarkan tubuhnya pada sisi kanan mobilnya. Ia geram, Ava mengatakan padanya jika ia akan 20 menit dari telepon mereka, tapi apa ini? ini sudah lewat 5 menit dan Ava sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Kau tahu, meski hanya 5 menit tentu saja hal itu bisa membuatnya menggigil kedinginan di jam ini.
Setelah menunggu selama 10 menit, ia bisa melihat siluet lampu mobil menyorot kearahnya. Mobil itu, ia yakin jika itu adalah mobil yang Ava pakai. Dan mobil itu juga, mobil yang sama dengan miliknya. Sama persis, hanya plat nomor mobilnya saja yang berbeda.
"Aku tak tau jika kau sangat hobi terlambat, Ava." Sarkas Farrand. Ia menatap Ava dengan tatapan tajam, namun Ava sama sekali tak terpengaruh dan hanya memberikan cengiran bodohnya.
__ADS_1
"Aku masih harus mencari-cari si iklan shampoo." Ucap Ava.
"Waw.... aku tak tau kau bisa mendapatkan mobil yang sama persis dengan milikku." Lanjut Ava. Farrand hanya terdiam. Ia sama sekali tak berniat menggubris pernyataan-pernyataan yang Ava layangkan padanya.
"Bisa kita mulai? Lebih cepat lebih baik, bukan?" Tanya Farrand.
Ava menggeleng,"Tak sabaran rupanya." Ucapnya.
"Lalu kau ingin apa? Mengulur waktu sampai Lingga kehilangan kesadarannya?"
"Tenanglah, aku sudah menyelesaikan permasalahan itu. Ia sudah tenang dan akan kuberikan ia padamu setelah kita sampai di finish. Tapi tentunya jika kau menang. Karena jika kau kalah, ia akan menemaniku semalam suntuk."
Ava tertawa, ia merasa puas telah mampu memaksa Farrand hingga titik seperti ini. Ia yakin, hati Farrand sudah memanas dan sebentar lagi, ia terbawa emosi hingga masuk dalam permainannya.
"Karena tak ada orang lain lagi disini untuk menghitung mundur, aku akan maju duluan. Kita lakukan permainan tikus dan kucing. Di mana jika sang kucing tidak bisa mengejar tikus, ia kalah."
Farrand tentu saja sangat mengetahui teknik permainan ini. Teknik dimana mereka harus mengadu skill untuk mengejar. Dimana jika pengejar bisa mengatur jarak dengan yang di kejarnya, mereka akan berakhir seri, kalah jika mereka memiliki jarak yang lebih dari jarak awal, dan menang saat sanggup menyalipnya sebelum permainan usai. Sebenarnya cukup mudah karena tak akan membutuhkan oranag lain untuk membantu mereka menghitung waktu mundur, tapi akan sangat sulit jika kondisi jalan dan skill lawan tidak memngkinkanmu untuk menyalip hingga sampai titik akhir.
"Aku setuju." Ujar Farrand. "Dan aku akan menjadi tikusnya. Kau bisa melaju belakangan saja." Lanjutnya.
Farrand mengangguk, ia sama sekali tak keberatan dengan permainan yang Ava tantang kan padanya. Biarlah Ava melaju lebih dulu, karena jika ia berada dibelakang, ia bisa mengamati pergerakan Ava dan mencari celah untuk menyerang. Terdengar licik, tapi bukankah tadi Ava sendiri yang meminta posisi itu?
"Tunggu apa lagi? Ayo lakukan sekarang juga." Perintah Ava.
Farrand langsung masuk kedalam mobilnya dan mengambil tempat tepat dibelakang Ava. Tak ada aba-aba, hanya ada suara mesin dinyalakan dan Ava langsung melesat meninggalkan Farrand. Farrand yang tertinggal dibelakang Ava dengan jarak beberapa meter hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman.
"Bagus, ada jarak beberapa detik darinya. Karena mobilnya sama, aku bisa dengan leluasa bermain dan aku akan mulai mengambil jarak lebih lebar." Monolog Ava. Ia tak tau saja jika Farrand sudah merencanakan beberapa hal untuk menyerangnya di rute depan.
"Boros ban, eh?"
"6 detik. Dan akan bertambah seiring berjalannya waktu."
Ava masih menambah kecepatannya tanpa menghiraukan beberapa hal yang mungkin terjadi. Sesekali ia melirik spion, dan disaat ia tak mendapati Farrand di belakangnya, ia tertawa. Ia terus menginjak pedal gas dan bermanuver indah dengan tangan lentiknya yang lincah memainkan kemudi.
Benar saja, sesuai dengan perkiraan Farrand. Ava menambah jarak padanya hingga kini mereka memiliki rentang waktu 8 detik saat di puncak. Farrand tersenyum, ia mulai menambah lajunya saat mereka tengah menapaki trek menurun. Ia mengurangi jeda waktu mengeremnya dan tetap mempertahankan pedal gas agar kecepatannya tetap stabil. Dan berkat hal itu, tak sampai setengah jalan kini Farrand sudah berada di jarak 3 detik dari Ava.
"Shit!" Ava mengumpat pelan saat ia mendapati posisi Farrand yang berjarak mendekatinya. Ia tak menyangka akan hal ini, tadinya ia pikir dengan Farrand yang tertinggal jauh darinya ia bisa meninggalkannya dengan mudah. Namun perkiraannya salah, Farrand mulai menyerang di trek menurun ini. Padahal, ia mengambil langkah memakai metode ini adalah karena ia mendengar dari Samuel jika Farrand langsung meninggalkannya saat bertanding dulu. Ia memang berinisiatif memakai langkah Farrand, namun ia tak menyangka jika Farrand akan mengikis jarak lebar di antara mereka sebegini cepat.
Tepat hampir mendekati lima tikungan beruntun, Farrand mulai mengambil posisi akan menyalip dari sudut luar. Ava menyadarinya, ia memblok pergerakan Farrand dan berharap membuatnya tidak bisa menyalipnya. Namun sayang, saat Ava sedang memblok Farrand yang akan menyalipnya dari sisi luar, ban mobil Ava mulai tergelincir akibat aus dan hal itu segera dimanfaatkan Farrand untuk mengambil sisi dalam yang telah memiliki jarak cukup untuk satu mobil. Ava terperanjat, ia tak menyangka jika ia akan tertipu oleh tipuan seperti itu.
Setelah Farrand mengambil posisi Ava. Ia mulai melaju dengan kecepatan gila dan meninggalkan Ava jauh di belakangnya. Ava yang berusaha mengejar dan mengamati teknik Farrand dibuat terperanjat, di dalam pandangannya, Ava mendapati Farrand hampir tak mengerem sama sekali. Ia mengerem hanya dalam keadaan drift dan selebihnya, ia mempertahankan pedal gasnya.
Sebenarnya hal Farrand lakukan sama sekali tak berbeda jauh dengan keadaannya saat menanjak tadi. Yang membedakan hanya treknya saja. Jika dalam menanjak ia tak menambah kecepatan lebih agar ban mobilnya tak cepat aus, di dalam trek menurun ia bisa menambah kecepatan tanpa menginjak pedal gas lebih dalam. Kondisi jalan menurun sendiri yang menuntun mobilnya sedikit demi sedikit menambah lajunya. Apalagi Farrand sama sekali tak menerapkan pengereman tanpa kondisi yang sesuai.
"Sial! Harusnya aku tadi tak memboroskan ban ku, jika sudah begini ku rasa akan sulit untuk menyalipnya kembali." Lirih Ava. Ia memukul pelan kemudinya dan menggeram marah. Harusnya ia tak termakan umpan Farrand dan lebih berpikir panjang dan mengandalkan logikanya. Jika sudah begini, ia tak akan dapat lagi mengambil kesempatan untuk mengambil posisinya lagi dari Farrand.
Garis finish sudah berada di depan mata Farrand. Ia mengurangi kecepatan mobilnya, dan langsung menghampiri mobil Evo hitam yang ia yakini sebagai mobil Samuel. Ia mengetuk pelan jendelanya, dan ia menemukan Lingga tengah terduduk lemas di kursi belakang.
"Keluarkan Lingga, Samuel." Bentak Farrand. Ia sudah menanggalkan keanggunannya dengan menggedor jendela mobil Samuel.
"Tenanglah. Kekasih mu tak apa-apa." Samuel membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana dengan pelan. Farrand terdiam, ia menghentikan gedorannya pada mobil Samuel dan menatap Lingga dengan pandangan miris.
"Jika aku langsung menerima tantangan Ava, pasti kau tak akan terlibat seperti ini, Lingga." Lirihnya sendu.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan Lingga padamu jika Ava telah mengijinkannya." Ujar Samuel. Farrand menatapnya dengan tatapan tajam. Ia tak menyangka jika Ava masih bisa pongah dengan kekalahannya.
"Ava sudah ku kalahkan. Dan sesuai kesepakatan aku akan membawa Lingga."
"Lihat, Ava baru saja sampai."
Farrand menoleh kebelakang, Samuel benar, Ava baru sampai dan ia langsung keluar dari mobilnya sesaat setelah mobil itu berhenti tepat dibelakang mobilnya.
"Waw. Manisnya. Tuan putri mau membawa sang pangeran segera ya?" Cibir Ava.
Farrand mendengus pelan. Ia geram dan jengkel atas sikap Ava secara bersamaan.
"Baiklah, bawa pangeranmu itu pulang. Pastikan setelah ini kau memandikannya karena jejak percintaan kami pasti melekat di tubuhnya."
Mendengar perkataan Ava entah mengapa membuat hati Farrand terasa memanas. Ia merasa lidahnya kelu untuk sekedar mengucap dan membalas perkataan Ava.
"Jangan dengarkan dia. Lingga tak diapa-apakan dan dia sudah diberi obat penawarnya."
Ucapan Samuel seolah membawa angin sejuk untuk hati Farrand. Ia berangsur-angsur menenang, dan ia langsung membuka pintu belakang mobil Samuel saat Samuel telah membuka kuncinya.
"Ling..." Bisiknya.
"Fa-Farrand. Kau kah itu?" Tanya Lingga. Lingga yang awalnya memejamkan matanya kini dengan perlahan mulai membukanya. Tubuhnya masih terasa lemas, dan pandangan matanya juga masih sedikit mengabur. Buktinya, ia masih susah mengenali Farrand.
"Ya. Aku datang untukmu."
Farrand mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan lemah milik Lingga. Membantunya berdiri dan memapahnya pelan menuju mobilnya.
"Farrand, bagaimana bisa kau memakai mobil ini?"
Lingga tak bisa memendam rasa terkejutnya karena ia melihat mobil yang dicarinya kini ada pada Farrand. Meski ia belum sepenuhnya sadar, ia sangat tau dengan persis tentang mobil itu. Ia yakin. Ia tak lagi salah mengenalinya. Memang benar jika mobil yang Ava dan Farrand pakai itu serupa, tapi Lingga yakin, mobil Farrand lah yang 'asli' karena ia masih mengingat dengan jelas nomor yang tertera disana.
"Aku akan jelaskan di rumah. Tapi untuk sekarang, ayo kita pulang dan mengistirahatkan badanmu." Bisik Farrand. Lingga mengangguk, ia hanya menurut saat Farrand memapahnya dan membuatnya duduk di kursi penumpang. Dengan halus, Farrand membenarkan posisi duduk Lingga dan memakaikan sabuk pengaman padanya.
"Terimakasih."
Farrand mengangguk pelan saat mendengar gumaman lirih milik Lingga. Ia tersenyum, dan setelahnya ia mengecup kening Lingga dengan lembut.
"Aku pulang. Ava, tepati janjimu dan pulangkan mobil milik Madhiaz setelah Madhiaz pulang dari Kota Alison."
Ava mendecih, ia tak lagi membalas ucapan Farrand karena ia merasa lelah bermain kata-kata lagi. Tak hanya itu, sejujurnya hatinya juga masih jengkel karena melihat adegan Farrand yang mencium kening Lingga. Ia merasa muak, namun ia sama sekali tak bisa memprotesnya.
"Ava. Ayo pulang. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau dan mulai besok, berhenti merecokinya." Perintah Samuel. Ava mengangguk, ia merasa kembali patah hati untuk yang kedua kalinya oleh Lingga. Samuel benar, ia harus berhenti merecoki mereka karena ia telah di sadarkan oleh satu hal. Fakta bahwa Farrand sulit untuk di kalahkan begitu saja membuatnya harus menelan pil kekecewaan bulat-bulat. Maksud hati ia ingin memiliki Lingga untuk dirinya. Namun apa daya ia sudah tak mampu.
Sebenarnya Ava tadi ingin memanfaatkan kondisi Lingga yang dalam pengaruh berat lonjakan libidonya. Namun Samuel menghalanginya, Samuel mengatakan padanya jika Lingga hanya akan menyakitinya jika ia memaksakan kehendak Lingga padanya. Dan Ava rasa Samuel benar, untung saja ia tak gegabah dalam bertindak. Jika ia memilih mengikuti kata nafsunya, mungkin ia bisa menyesal di kemudian hati.
Tbc
__ADS_1