
Farrand masih duduk bersedekap di sofa ruang tamu rumah Nadeen.
Ia tak habis fikir. Bagaimana mungkin ia yang sedang asyik-asyiknya
bercengkrama dengan ayah tercintanya dipisahkan begitu saja oleh makhluk surai pendek sebahudi depannya ini. Dengan dalih ingin belajar bersama, namun setelah
sampai ia malah mengajak ke arena balapan. Bibirnya manyun. Ia masih bingung
harus bagaimana lagi menghadapi teman nya itu.
"Kau menyeretku kesini, pamit ingin aku menginap disini
untuk belajar bersama. Dan sekarang aku hanya duduk-duduk disini? Ada apa ini Nadeen?
Kau ingin menjelaskannya?" Ucap Farrand pongah. Ia kesal setengah mati.
Temannya itu tak mengatakan apapun setelah pertemuannya dengan Lingga tadi.
Tapi sekarang, lihatlah. Tanpa aba-aba peringatan ia kerumahnya setelah senja
dan mengatakan pada ayahnya jika ia ingin mengajak Farrand belajar bersama. Dan
sesampainya disini ia hanya dianggurin. Yaps. Alias dikacangin. Hei...
ini bukan dapur kan?
"Gomen ne, Farrand. Jika aku tiba-tiba menyeretmu
begitu saja. Kujelaskan pun kau pasti tak akan mau ku ajak kesini."
"It's ok. Tapi bisa kau jelaskan ada apa dibalik
semua ini?"
"Aku meminta Lingga untuk
mengajari ku mengemudi. Dan ia bersedia."
"Lalu, apa hubungannya denganku disini? Bukankah jika kau
ingin belajar, kau tinggal panggil orangnya. Lalu ajak dia keliling kota
bersamamu?"
"Hey... Hey...Farrand... Dengarkan dulu...."
"Ya... kudengarkan. Dan ceritakan secara rinci." Farrand
menatap Nadeen dengan pandangan tajam nya.
"Dia mau mengajariku. Tapi setelah balapan nanti. Dan aku
mengajakmu ikut serta adalah untuk menemaniku tentu saja. Bukankah tidak asyik
jika hanya aku yang wanita disana? Bisa-bisa aku digoda oleh pria hidung belang
diluar sana."
Farrand mendesah pelan, jika saja ia tak ingat jika Nadeen
satu-satunya sahabat yang ia punya, ia tak akan mengikutinya dan segera pulang
secepat mungkin. Hey, Ayolah!besok hari libur dan ia ingin menamatkan satu novel yang baru ia beli
beberapa hari yang lalu.
"Kau akan belajar mengendara di malam buta? Kau
gila."
"Ya.. aku gila. Tapi untuk hal ini saja. Oh, ayolah Farrand.
Bukankah kau tau ambisiku menjadi pembalap wanita tercepat disini? Ini tiketku.
Aku meminta Lingga yang mengajariku bukan tanpa alasan. Ia yang sekarang
pembalap tercepat disini pastilah akan mengajariku caranya menjadi cepat."
"Lalu Madhiaz? Bukankah kemaren-kemaren kau belajar
kepadanya?"
"Huhhh... Farrand. Madhiaz tak cukup cepat."
"Hei, Nadeen. Cepat atau tidak nya dirimu
dilintasan bukan karena yang mengajarimu. Tapi karena dirimu sendiri yang
menentukan kau cepat atau tidaknya."
Nadeen menggeleng, "Kau berbicara seolah kau faham
tentang ini. Kau kan tak pernah turun kejalanan. Ku ajak kau menuruni bukit Falenci
yang tak seberapa dibanding Puncak Falen saja kau sudah mabuk perjalanan. Dan
selama ini juga kau tak pernah mengendarai mobil sekalipun. Bagaimana bisa kau
tau rasanya dilintasan balap?"
'Kau hanya tidak tau saja jika aku lebih dari sering
melintasi arena balap bersama ayahku, Nadeen.' Batin Farrand.
"Yah... aku ikut. Tapi sekarang kita bagaimana? Dan...
kapan balapannya dimulai?" Lanjutnya.
"Balapan dimulai jam 10, di jalan poros kota. Jalan yang
tak terlalu menantang sih. Lebih banyak jalan lurus dari pada tikungan
dan terjalnya."
"Lalu, kita kesana naik apa? Dan dimana tempat
berkumpulnya?"
"Tenanglah Farrand. Kau ikut denganku. Kita pakai
mobilku. S80. Dan kita menuju lapangan Falen 2 karena balapannya dimulai dan
berakhir disana."
"Baiklah.. aku tak kan ganti baju. Aku tak bawa pakaian
ganti, and you know that. Ayo kita sekarang berangkat. Sudah jam
9."
"Oh Tidak!....aku
terbawa suasana sampai hampir lupa jika Lingga akan menungguku."
"Percaya diri sekali kau."
"Tentu. Siapa yang mampu menolak pesonaku, eh? Mungkin
saja Lingga sudah melamunkanku sekarang." Farrand hanya memutarkanmatanya mendengar
kalimat kelewat narsis Nadeen. Dan dia hanya bisa berdoa dalam hati agar ia tak
mabuk lagi nanti. Mengingat cara mengemudi Nadeen yang agak kasar. Dan
sejujurnya, ia memiliki rasa trauma tersendiri jika ia menemani Nadeen
menyetir.
"Ayo, Farrand. Para pria telah menanti kita disana untuk
menyorakinya." Nadeen menyeret Farrand keluar begitu saja. Ia bebas keluar
malam. Penjaga dirumahnya sudah hafal akan kelakuan nona mudanya jika sang tuan
besar tak dirumah. Penjaga itu menghela nafas dalam-dalam. Ia hanya bisa berdoa
semoga nona mudanya selalu baik-baik saja agar dirinya dan pekerjannya juga
baik-baik saja. Merepotkan.
.
.
.
Nadeen memarkirkan mobil s80 miliknya tepat disamping kanan
mobil Mustang milik Lingga. Dan disamping kiri mobil Lingga ada mobil rx-7
milik Madhiaz. Lingga dan Madhiaz terlihat sedang berbincang sambil bersandar
di depan kap mobil Lingga.
Hoek.... hoek....
Farrand langsung muntah-muntah begitu turun dari mobil Nadeen. Lingga dan Madhiaz
menoleh. Madhiaz yang mengetahui Farrand muntah langsung bergegas mengambil
minuman di dalam mobilnya, sedang Lingga hanya mengernyit melihat Farrand yang
kepayahan.
"Ini, minumlah." Madhiaz sigap menyodorkan botol air
mineral ke Farrand. Sedang Nadeen memijit tengkuk Farrand.
"Thank
you, Dhiaz." Farrand mengambil botol yang berada
ditangan Madhiaz dan menenggaknya dengan rakus. Tubuhnya lemas. Makan malam
yang ia makan tadi serasa dikeluarkan lagi.
"Kau memalukan, Farrand." Ucap Nadeen sambil
mengelap tangannya menggunakan tissue.
"Hei. Kau fikir salah siapa aku seperti ini. Sudah tau
aku seperti ini, dan kau masih membawaku dengan cara ngebut? Tau begini aku
minta tolong Dhiazsaja untuk membawaku kemari." Nadeen mencebikkan mulutnya. Jika
difikir lagi. Ini memang salahnya yang tak mengemudikan mobil dengan benar. Ia
tadi bergegas ingin segera sampai di arena. Jadinya tak memperdulikan lagi jika
Farrand memprotes tindakan kebut-kebutannya.
"Sudahlah. Yang penting kalian sudah sampai disini dengan
selamat." Ucap Madhiaz. Ia tak ingin mendengar dua sahabat ini adu mulut
lebih lama.
"Jadi, bagaimana Madhiaz? Apa saja yang kau ketahui
tentang balapan malam ini?" Lingga menginterupsi perbincangan mereka
bertiga. Ia jengah jika harus mendengar perdebatan tak bermutu itu.
Ketiganya menoleh kearah Lingga. Sungguh, bagaimana mungkin
mereka bisa melupakan eksistensi Lingga disini?Sebegitu tak terkenalkah Lingga hingga dirinya di abaikan oleh tiga
orang di dekanya itu?
"Hehehe.. Maafkan aku, Lingga. Kemarilah. Akan kuceritakan beberapa informasi yang ku
tau." Lingga berjalan menuju ketiganya. Madhiaz yang bersandar di pintu
mobil Lingga, Farrand dan Nadeen bersandar dimobil Nadeen.
"Tak apakah jika mereka ikut mendengar?" Ucap Lingga
sambil bersandar di sebelah Madhiaz. Dan posisinya sekarang berhadapan dengan Farrand.
"Tak apa. Aku sudah kenal dekat dengan mereka
berdua." Farrand dan Nadeen hanya mengangguk mendengar penuturan Madhiaz.
__ADS_1
"Aku rasa kali ini kau tak akan menang, Lingga." Lingga
dan Nadeen mengernyit. Sedang Farrand mensedekapkan tangannya didada sambil
menunduk.
"Apa maksudmu, Madhiaz?" Nadeen mengepalkan
tangannya erat. Ia tak terima jika Lingga sudah di vonis kalah bahkan sebelum
bertanding. Hey, demi apa? Lingga bahkan sudah mengantongi beberapa kemenangan
yang patut di perhitungkan.
"Jelaskan mengapa kau bisa berasumsi begitu. Sedang
permainan pun belum dimulai."Lanjutnya.
"Dengar, Lingga. Hanya karena aku dekat dengan mulah aku
akan mengatakan ini." Madhiaz menjeda sejenak, "Mobilmu sedang dalam
keadaan tak baik. Arena kita arena poros kota. Yang dimana jalannya lebih
banyak jalan lurus. Tak ada tanjakan atau tikungan berarti. Juga tak ada
penghalang yang cukup. Sedang disana, lawan kita cukup banyak. Ada Dion, dengan
Koenigsegg Agera nya. Lawan tangguh yang tak mudah dikalahkan. Juga Julius dan Julio. Sikembar tak
terpisahkan dengan Lamborghini Elementonya. Dibanding mereka, mustang milikmu
tak ada artinya. Apalagi kau tak memodif mobilmu bukan? Lalu apa yang kau
banggakan untuk bisa menang melawan mereka?Ini bukan rute pegunungan yang bisa
kau takhlukkan dengan teknik drift mu"
"Bagaimana jika aku pulang dan mengambil GT-R ku? Ku rasa
mobil itu sudah memiliki beberapa modif di dalamnya."
"Tak kan cukup waktu, Lingga. Pertandingan akan dimulai 5
menit lagi. Dan kalian berdua telah dipanggil untuk bersiap di arena."
Suara Nadeen menginterupsi percakapan keduanya. Lingga hanya bisa mengacak
surai gelapnya.
Ia tak tau jika ini akan brakhir seperti ini.
"Bawalah mobilmu ke bengkelku jika pertandingan ini telah
berakhir. Aku dan ayahku akan memperbaikinya untukmu." Ucap Madhiazsambil menepuk
pundak Lingga.
"Dan mungkin kita bisa menambahkan beberapa hal di dalamnya."
Tambah Madhiaz.
"Semangat ya.. Lingga." Nadeen menyodorkan
tangannya sambil tersenyum manis ke arah Lingga. Berharap Lingga membalas
uluran tangannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lingga hanya
mengacuhkannya. Nadeen kecewa. Namun sudahlah, ia tak akan memperpanjang
masalah itu.
"Hn." Ucapnya ambigu.
'Dion? Dia ikut?' Batin seseorang.
.
.
.
Seperti yang telah dijelaskan oleh Madhiaz. Hasil kali ini
cukup mengecewakan untuk Lingga. Ia kalah telak. Ia sama sekali tak dapat
mengejar Dion, sakon dan ukon bersaudara. Padahal hasil pertaruhan kali ini
cukuplah banyak. Lebih banyak dari biasanya. Dan ia cukup kecewa karena itu.
Tapi setidaknya ia menerimanya dengan lapang dada. Ia sadar diri dan
menerimanya, kemampuan mobilnya sama sekali tak sebanding dengan mobil mereka.
Farrand melangkahkan kakinya menuju finis dimana Dion sedang
bersenang-senang dengan kemenangannya. Ia cukup merasa puas pada Agera nya.
Senyum terkembang tak henti-dari bibir ranumnya. Tangannya bersedekap. Dan ia
sandarkan tubuhnya di depan kap mobilnya.
"Dion, it's that you?" Ucap Farrand lirih. Ia
gugup. Ia takut jika yang ia sapa bukanlah Dionnya. Dion yang ia kenal
dulu.
Dion mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pangling. Benar-benar
pangling. Sosok dihadapannya kini
Adalah sosok yang paling ia rindukan dulu. Penampilannya berbeda. Namun ia tak
salah mengenali helai panjang dan iris coklatmempesona tersebut.
"Fa-Farrand." Dion merubah posisi bersandernya. Menghampiri Farrand
dan langsung memeluk tubuh ramping dihadapannya itu.
"Dion. Ini benar kau. Aku tak menyangka jika akan
menemukanmu disini." Farrand membalas pelukan Dion. Setitik air mata jatuh
"Aku mencarimu. Aku mengingkari janjiku untuk tidak
mencarimu. Kau menghilang begitu saja, Farrand. Tak tau kah kau jika aku tak
ingin hubungan kita berakhir begitu saja?"
"Maafkan aku, Dion.
Banyak hal yang saat itu tak bisa kuberitau padamu. Waktu ku tak banyak saat
itu."
"Jadi, boleh kudengar itu sekarang?" Farrand
melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Dion, pria yang dulu pernah mengisi
hatinya. Mengisi hari-harinya. Yang kini ada dihadapannya.
"Akan kupertimbangkan." Ucapnya, ia mengedarkan pandangannya
kesekitar. Semua melihatnya. Melihat adegan peluk-pelukan Dion-Farrand. Dion pun
mengikuti pandangan Farrand. Sedetik kemudian ia langsung menyambar bibir
kenyal Farrand dan melumatnya, membuat penonton ber'waw' ria. Hey.....
siapa yang tak kan mengatakan waw jika sang juara malam ini yang digosipkan tak
pernah dekat dengan wanita tiba-tiba dihampiri wanita cantik, memeluknya lalu
menciumnya dihadapan semua orang begitu saja? Tidak kah hal itu mengesankan?
Atau hanya penulis disini yang merasa jika itu mengesankan?
Setelah selesai atas kegiatannya mengambil pusat perhatian, Dion
menyeret Farrand masuk kedalam mobilnya. Namun terhenti saat dirasanya Farrand
berdiam.
"Aku kesini di ajak teman. Kurasa aku harus
memperkenalkan mereka padamu, ya?Bagaimanapun juga aku tak kan disini dan bertemu
denganmu jika tak ia seret." Dion memandang tatapan memohon dari Farrand.
Ia tak tega melihat wajah memelas dihadapannya itu.
"Baiklah." Putus Dion.
Senyum sumringah muncul di wajah Farrand. Lalu tanpa basa-basi
lagi ia menyeret Dion menuju teman-temannya, Madhiaz dan Nadeen. Oh, jangan
lupakan pula Lingga. Ia bersama Madhiaz dan Nadeen.
"Nadeen" Teriak Farrand saat ia telah dekat ketempat
Nadeen dan dua pria itu.
Ketiganya mengernyit melihat Farrand yang berjalan kearah
mereka sambil menggandeng seorang pria. Dan pria itu bukan pria sembarangan.
Seorang berambut merah yang memenangkan balapan malam ini. Mereka bertiga
berpikir kompak, bagaimana bisa Farrand mengenal pemuda yang jarang terlihat
itu?
"Farrand. Kau berhutang penjelasan padaku." Ucap Nadeen.
"Dhiaz, Nadeen, Lingga. Perkenalkan. Ini Dion."
Kata Farrand. Senyumnya masih bertengger dibibirnya.
"Aku sudah tau." Ucap ketinganya kompak. Farrand
cengo, ok! Mereka pasti tau karena tadi mereka menonton pertandingannya.
Apalagi Lingga. Dia yang melawan pemuda itu.
"Perkenalkan. Aku Dion, pacar Farrand." Mereka
terkejut dan langsung menoleh kearah Dion dan Farrand secara bergantian.
"Apa maksudnya ini, Dion. Kau tidak membual dengan
mengatakan Farrand pacarmu bukan? Kau fikir aku percaya begitu saja?" Madhiaz
menatap tajam Dion. Yang ditatap hanya cuek, menyilangkan tangan didada dan
bersander di kap mobil Lingga.
"Aku tidak bercanda. Silahkan tanya yang bersangkutan
jika kau ingin tau." Madhiaz dan Nadeen langsung melotot kearah Farrand.
Namun Farrand hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil nyengir dan
memasang wajah tak berdosa.
"Ya. Dia pacarku saat aku masih di Kota Halu. Saat aku
pindah kesini aku telah memutuskannya. Namun rupanya ia tak menerima itu. Dan
yah... Mungkin benar kata Dion jika kami masih pacaran."
"Hei. Kau itu masih pacarku. Aku tak menerima keputusan
sepihakmu." Lanjut Dion.
"Farrand, kau tidak mengatakan apapun padaku jika kau
memiliki lelakiini sebagai pacarmu" Nadeen menepuk pundak Farrand. Tanda ia
meminta penjelasan kepada temannya itu.
"Kau tidak bertanya padaku, Nadeen."
"Lalu, aku harus bertanya dulu padamu, begitu?"
"Ya."
__ADS_1
"Arrggghhhhh" Nadeen mengusak rambut frustasi.
Terkadang ia bingung. Kenapa ia betah berteman dengan makhluk menjengkelkan
macam Farrand itu? Nadeen menyeret paksa Farrand menjauh dari para pria itu. Ia
mengajak Farrand berjongkok dan mengapit leher Farrand.
"Jadi. Apa yang terjadi diantara kalian?" Nadeen
berbisik. Mungkin ia tidak ingin pembicaraan berdua dengan Farrand-nya didengar
orang.
"Dia pacarku saat kami di Junior High." Jawab Farrand
sambil berbisik pula.
"Kau pernah sekelas dengannya?"
"Tentu saja."
"Lalu mengapa kau pindah kesini dan meninggalkan pria
tampan nan hebat itu begitu saja? Si bodoh Farrand."
"Kau tidak mengerti, Nadeen. Perusahaan ayahku bangkrut.
Kami kehilangan segalanya begitu saja. Dan ayah memutuskan untuk pindah kesini
secepat menungkin. Dan seperti yang kau lihat sekarang. Status kami sudah
berbeda. Dia yang putra konglomerat. Dan aku hanya putri tukang cuci mobil. Apa
yang bisa kuharapkan dari itu?"
"Kau bodoh." Nadeen menjitak kepala kuning Farrand.
Ia tak mengerti dengan isi kepala kuning itu. Sementara yang dijitak hanya
memasang wajah masamnya.
"Bisa saja ia tak mempermasalahkan hal itu bukan? Kau
lihat sendiri tentang raut wajahnya saat bertemu denganmu?" Tambah Nadeen.
"Ya. Aku tau." Farrand menunduk. Sedikit banyak ia
menyesali keputusannya meninggalkan Dion dulu.
"Nah. Sekarang perbaiki lagi. Ok? Aku akan
mendukungmu." Nadeen tersenyum. Dan halitu membuat Farrand tersenyum juga.
Sementara itu di bagian para laki-laki, sesaat setelah Nadeen
menyeret Farrand.
"Jadi, kau pacar Farrand? Kau tidak membual bukan?"
Tanya Madhiaz menyelidik. Lingga hanya diam. Ia merasa jika ini bukan zona nya.
"Ya. Aku berpacaran dengannya saat masih di Junior
School." Jawab Dion. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam Nadeen
celananya sambil menatap langit malam.
"Aku mencintainya. Dia pergi meninggalkanku begitu saja
dan hanya meninggalkan sebuah surat yg berisi permohonannya agar aku tak
mencarinya dan juga mengatakan jika hubungan kita berakhir."lanjutnya.
"Farrand tak bercerita jika ia memiliki pacar." Ujar
Madhiaz dengan tenang.
"Apa kau pacarnya?" Madhiaz mengernyit mendengar
pertanyaan Dion.
"Apa maksudmu menanyakan hal itu padaku, Dion."
Jawab Madhiaz.
"Siapa tau. Selama jauh dariku dia berpacaran denganmu, rambut nanas." Jujur,
Dion dongkol atas ucapan Madhiaz.
"Kalau aku memang pacarnya Farrand disini, kau mau apa? heh."
"Kurebut dia darimu seperti aku merebut gelar juara malam
ini."
"Wow... santai... dude. Aku hanya menganggapnya adik kecilku.
Lagipula aku sudah punya tambatan hati." Dion mendesah lega. Namun
setelahnya ia melirik kearah Lingga.
"Apa kau pacarnya?" Lingga mendelik mendengar ucapan
Dion. Hei, akrab saja tidak. Bagaimana ia bisa dituduh pacaran dengannya? Ah,
tapi bagaimana jika ia bermain sebentar. Menjahili seseorang sedikit tak apa
kan?
"Menurutmu? Jika aku pacarnya, kau mau apa?" Lingga
tersenyum miring. Membuat Dion memasang wajah jengkel.
"Tentu saja akan kurebut kembali. Aku tak akan
melepaskannya begitu saja."
"Hei, biar kuberitahu." Lingga mendekat. Dan
membisikkan sesuatu ditelinga Dion.
"Aku sudah mencicipinya....." Mata Dion membulat.
Kilat kemarahan terlihat dimata jade miliknya . Dan Lingga terlihat menahan
tawanya.
Nadeen dan Farrand telah mendekat. Sepertinya mereka telah
menyelesaikan pembicaraan mereka.
Terlihat pipi Farrand yang sesekali bersemu merah.
Dion yang tersulut emosinya menghampiri Farrand. Ia cekal
tangan kiri Farrand menggunakan tangan kanannya. Farrand yang kaget hanya
mengerjapkan matanya. Ia bingung dengan sikap Dion yang mendadak kasar.
"Jelaskan padaku apa yang kau lakukan disini selama jauh
dariku, Farrand."
"Apa yang kau maksud, Dion?"
"Jelaskan padaku. Bagaimana bisa kau pacaran dengan pria
itu. Dan bagaimana bisa dia.... dia..... dia..... sampai mencicipimu juga?" Dion memelankan kata terakhirnya sambil menunduk. Sungguh. Hal ini
tidak masuk dalam perkiraannya.
"Apa maksudmu, Dion. Aku sama sekali tak faham apa yang
kau katakan dari tadi."
"Katakan Farrand. Kau pacaran dengan pria berambut kelam
itu kan?" Dion menunjuk Lingga yang bersedekap disamping Madhiaz.
"Dan kau juga telah dicicipinya." Alis Farrand menukik
sebelah. Ia mulai faham apa yang Dion bicarakan.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku pacaran dengannya?
Sedang aku bicara dengannya saja baru tadi siang. Itupun karena Nadeen yang
mengajakku. Dia siswa pindahan sebulan yang lalu. Dan.... dan.... apa-apaan
kata mencicipi itu? Kau fikir aku kue? Yang bisa dicicipi begitu saja?" Dion
memandang Farrand. Ia menelisik wajah Farrand, siapa tau ada kebohongan disana.
Dan hasilnya nihil. Tak ada kebohongan disana. Ia hafal betul perangai Farrand.
Gadis itu sama sekali tak pandai berbohong.
Farrand menghampiri Lingga dan mengceram kerah bajunya. "Lingga.
Apa yang kau katakan padanya? Kau bilang pada Dion jika aku pacarmu dan kau
pernah mencicipiku? Kau membual tentang semua ini." Melihat wajah Farrand
dari dekat seperti ini membuat pipinya bersemu merah. Jika boleh jujur, ia tak
pernah ditatap sebegitu intens oleh perempuan seperti ini. Untung saja lampunya
temaran, membuat semu merah di pipinya tak begituterlihat.
"Aku tidak bilang jika berpacaran denganmu. Aku juga tak
bilang pernah mencicipimu." Lingga tersenyum kikuk. "Mungkin dia
salah mengartikan omonganku tadi." Lanjutnya.
"Apa maksudmu, Lingga." Celetuk Dion.
"Hei... ku fikir tadi kau salah sangka saja. Kau tadi
bertanya jika aku pacar Farrand, bukan? Dan aku menjawab 'menurutmu, jika aku
pacarnya? Kau mau apa?'. Begitu?" Dion kicep. Mengangguk samar membenarkan
perkataan Lingga. "Kau juga mendengarnya kan? Madhiaz?" Madhiaz juga
hanya bisa mengangguk.
"Dan.. apa maksudmu dengan kata-kata mencicipi
tadi?" Tambah Dion.
"Aku memang pernah mencicipinya. Mencicipi masakannya
maksudku." Lingga terkekeh pelan.
"Tadi siang dia memberikan bekalnya padaku. Jadi aku
telah mencicipinya. Mencicipi masakannya." Dion cengo. Ia malu telah
berburuk sangka.
"Jadi. Bisa kau lepaskan cengkramanmu, nona. Atau kau
lebih suka kita berdekatan seperti ini?" Farrand mengerjap. Lalu
menyentakkan tangannya kasar sambil mendengus.
"Kau dengar, Dion. Tak ada yang perlu kau khawatirkan
sekarang." Madhiaz tersenyum tipis. Lalu menepuk pelan pundak Lingga."
Kau hebat bermain kata-kata. Hingga membuat darah Dion mendidih seperti
tadi." Lingga menahan tawanya hingga pundaknya bergetar. Ada kesenangan
tersendiri saat melihat Dion termakan omongannya.
"Kau harus berterimakasih pada Lingga, Farrand. Karenanya
kau tau jika Dion masih sangat mencintaimu." Madhiaz terkekeh. Sendangkan Farrand
memalingkan wajahnya. Wajahnya bersemu, lagi. Jantungnya berdebar-debar. Namun
tak sekencang dulu.
Tbc
__ADS_1