Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 3


__ADS_3

Farrand masih duduk bersedekap di sofa ruang tamu rumah Nadeen.


Ia tak habis fikir. Bagaimana mungkin ia yang sedang asyik-asyiknya


bercengkrama dengan ayah tercintanya dipisahkan begitu saja oleh makhluk surai pendek sebahudi depannya ini. Dengan dalih ingin belajar bersama, namun setelah


sampai ia malah mengajak ke arena balapan. Bibirnya manyun. Ia masih bingung


harus bagaimana lagi menghadapi teman nya itu.


"Kau menyeretku kesini, pamit ingin aku menginap disini


untuk belajar bersama. Dan sekarang aku hanya duduk-duduk disini? Ada apa ini Nadeen?


Kau ingin menjelaskannya?" Ucap Farrand pongah. Ia kesal setengah mati.


Temannya itu tak mengatakan apapun setelah pertemuannya dengan Lingga tadi.


Tapi sekarang, lihatlah. Tanpa aba-aba peringatan ia kerumahnya setelah senja


dan mengatakan pada ayahnya jika ia ingin mengajak Farrand belajar bersama. Dan


sesampainya disini ia hanya dianggurin. Yaps. Alias dikacangin. Hei...


ini bukan dapur kan?


"Gomen ne, Farrand. Jika aku tiba-tiba menyeretmu


begitu saja. Kujelaskan pun kau pasti tak akan mau ku ajak kesini."


"It's ok. Tapi bisa kau jelaskan ada apa dibalik


semua ini?"


"Aku meminta Lingga  untuk


mengajari ku mengemudi. Dan ia bersedia."


"Lalu, apa hubungannya denganku disini? Bukankah jika kau


ingin belajar, kau tinggal panggil orangnya. Lalu ajak dia keliling kota


bersamamu?"


"Hey... Hey...Farrand... Dengarkan dulu...."


"Ya... kudengarkan. Dan ceritakan secara rinci." Farrand


menatap Nadeen dengan pandangan tajam nya.


"Dia mau mengajariku. Tapi setelah balapan nanti. Dan aku


mengajakmu ikut serta adalah untuk menemaniku tentu saja. Bukankah tidak asyik


jika hanya aku yang wanita disana? Bisa-bisa aku digoda oleh pria hidung belang


diluar sana."


Farrand mendesah pelan, jika saja ia tak ingat jika Nadeen


satu-satunya sahabat yang ia punya, ia tak akan mengikutinya dan segera pulang


secepat mungkin. Hey, Ayolah!besok hari libur dan ia ingin menamatkan satu novel yang baru ia beli


beberapa hari yang lalu.


"Kau akan belajar mengendara di malam buta? Kau


gila."


"Ya.. aku gila. Tapi untuk hal ini saja. Oh, ayolah Farrand.


Bukankah kau tau ambisiku menjadi pembalap wanita tercepat disini? Ini tiketku.


Aku meminta Lingga yang mengajariku bukan tanpa alasan. Ia yang sekarang


pembalap tercepat disini pastilah akan mengajariku caranya menjadi cepat."


"Lalu Madhiaz? Bukankah kemaren-kemaren kau belajar


kepadanya?"


"Huhhh... Farrand. Madhiaz  tak cukup cepat."


"Hei, Nadeen. Cepat atau tidak nya dirimu


dilintasan bukan karena yang mengajarimu. Tapi karena dirimu sendiri yang


menentukan kau cepat atau tidaknya."


Nadeen menggeleng, "Kau berbicara seolah kau faham


tentang ini. Kau kan tak pernah turun kejalanan. Ku ajak kau menuruni bukit Falenci


yang tak seberapa dibanding Puncak Falen saja kau sudah mabuk perjalanan. Dan


selama ini juga kau tak pernah mengendarai mobil sekalipun. Bagaimana bisa kau


tau rasanya dilintasan balap?"


'Kau hanya tidak tau saja jika aku lebih dari sering


melintasi arena balap bersama ayahku, Nadeen.' Batin Farrand.


"Yah... aku ikut. Tapi sekarang kita bagaimana? Dan...


kapan balapannya dimulai?" Lanjutnya.


"Balapan dimulai jam 10, di jalan poros kota. Jalan yang


tak terlalu menantang sih. Lebih banyak jalan lurus dari pada tikungan


dan terjalnya."


"Lalu, kita kesana naik apa? Dan dimana tempat


berkumpulnya?"


"Tenanglah Farrand. Kau ikut denganku. Kita pakai


mobilku. S80. Dan kita menuju lapangan Falen 2 karena balapannya dimulai dan


berakhir disana."


"Baiklah.. aku tak kan ganti baju. Aku tak bawa pakaian


ganti, and you know that. Ayo kita sekarang berangkat. Sudah jam


9."


"Oh Tidak!....aku


terbawa suasana sampai hampir lupa jika Lingga akan menungguku."


"Percaya diri sekali kau."


"Tentu. Siapa yang mampu menolak pesonaku, eh? Mungkin


saja Lingga sudah melamunkanku sekarang." Farrand hanya memutarkanmatanya mendengar


kalimat kelewat narsis Nadeen. Dan dia hanya bisa berdoa dalam hati agar ia tak


mabuk lagi nanti. Mengingat cara mengemudi Nadeen yang agak kasar. Dan


sejujurnya, ia memiliki rasa trauma tersendiri jika ia menemani Nadeen


menyetir.


"Ayo, Farrand. Para pria telah menanti kita disana untuk


menyorakinya." Nadeen menyeret Farrand keluar begitu saja. Ia bebas keluar


malam. Penjaga dirumahnya sudah hafal akan kelakuan nona mudanya jika sang tuan


besar tak dirumah. Penjaga itu menghela nafas dalam-dalam. Ia hanya bisa berdoa


semoga nona mudanya selalu baik-baik saja agar dirinya dan pekerjannya juga


baik-baik saja. Merepotkan.


 


 


.


.


.


Nadeen memarkirkan mobil s80 miliknya tepat disamping kanan


mobil Mustang milik Lingga. Dan disamping kiri mobil Lingga ada mobil rx-7


milik Madhiaz. Lingga dan Madhiaz terlihat sedang berbincang sambil bersandar


di depan kap mobil Lingga.


Hoek.... hoek....


 


 


Farrand langsung muntah-muntah begitu turun dari mobil Nadeen. Lingga dan Madhiaz


menoleh. Madhiaz yang mengetahui Farrand muntah langsung bergegas mengambil


minuman di dalam mobilnya, sedang Lingga hanya mengernyit melihat Farrand yang


kepayahan.


"Ini, minumlah." Madhiaz sigap menyodorkan botol air


mineral ke Farrand. Sedang Nadeen memijit tengkuk Farrand.


"Thank


you, Dhiaz." Farrand mengambil botol yang berada


ditangan Madhiaz dan menenggaknya dengan rakus. Tubuhnya lemas. Makan malam


yang ia makan tadi serasa dikeluarkan lagi.


"Kau memalukan, Farrand." Ucap Nadeen sambil


mengelap tangannya menggunakan tissue.


"Hei. Kau fikir salah siapa aku seperti ini. Sudah tau


aku seperti ini, dan kau masih membawaku dengan cara ngebut? Tau begini aku


minta tolong Dhiazsaja untuk membawaku kemari." Nadeen mencebikkan mulutnya. Jika


difikir lagi. Ini memang salahnya yang tak mengemudikan mobil dengan benar. Ia


tadi bergegas ingin segera sampai di arena. Jadinya tak memperdulikan lagi jika


Farrand memprotes tindakan kebut-kebutannya.


"Sudahlah. Yang penting kalian sudah sampai disini dengan


selamat." Ucap Madhiaz. Ia tak ingin mendengar dua sahabat ini adu mulut


lebih lama.


"Jadi, bagaimana Madhiaz? Apa saja yang kau ketahui


tentang balapan malam ini?" Lingga menginterupsi perbincangan mereka


bertiga. Ia jengah jika harus mendengar perdebatan tak bermutu itu.


Ketiganya menoleh kearah Lingga. Sungguh, bagaimana mungkin


mereka bisa melupakan eksistensi Lingga disini?Sebegitu tak terkenalkah Lingga hingga dirinya di abaikan oleh tiga


orang di dekanya itu?


"Hehehe.. Maafkan aku, Lingga. Kemarilah. Akan kuceritakan beberapa informasi yang ku


tau." Lingga berjalan menuju ketiganya. Madhiaz yang bersandar di pintu


mobil Lingga, Farrand dan Nadeen bersandar dimobil Nadeen.


"Tak apakah jika mereka ikut mendengar?" Ucap Lingga


sambil bersandar di sebelah Madhiaz. Dan posisinya sekarang berhadapan dengan Farrand.


"Tak apa. Aku sudah kenal dekat dengan mereka


berdua." Farrand dan Nadeen hanya mengangguk mendengar penuturan Madhiaz.

__ADS_1


"Aku rasa kali ini kau tak akan menang, Lingga." Lingga


dan Nadeen mengernyit. Sedang Farrand mensedekapkan tangannya didada sambil


menunduk.


"Apa maksudmu, Madhiaz?" Nadeen mengepalkan


tangannya erat. Ia tak terima jika Lingga sudah di vonis kalah bahkan sebelum


bertanding. Hey, demi apa? Lingga bahkan sudah mengantongi beberapa kemenangan


yang patut di perhitungkan.


"Jelaskan mengapa kau bisa berasumsi begitu. Sedang


permainan pun belum dimulai."Lanjutnya.


"Dengar, Lingga. Hanya karena aku dekat dengan mulah aku


akan mengatakan ini." Madhiaz menjeda sejenak, "Mobilmu sedang dalam


keadaan tak baik. Arena kita arena poros kota. Yang dimana jalannya lebih


banyak jalan lurus. Tak ada tanjakan atau tikungan berarti. Juga tak ada


penghalang yang cukup. Sedang disana, lawan kita cukup banyak. Ada Dion, dengan


Koenigsegg Agera nya. Lawan tangguh yang tak mudah dikalahkan. Juga Julius dan Julio. Sikembar tak


terpisahkan dengan Lamborghini Elementonya. Dibanding mereka, mustang milikmu


tak ada artinya. Apalagi kau tak memodif mobilmu bukan? Lalu apa yang kau


banggakan untuk bisa menang melawan mereka?Ini bukan rute pegunungan yang bisa


kau takhlukkan dengan teknik drift mu"


"Bagaimana jika aku pulang dan mengambil GT-R ku? Ku rasa


mobil itu sudah memiliki beberapa modif di dalamnya."


"Tak kan cukup waktu, Lingga. Pertandingan akan dimulai 5


menit lagi. Dan kalian berdua telah dipanggil untuk bersiap di arena."


Suara Nadeen menginterupsi percakapan keduanya. Lingga hanya bisa mengacak


surai gelapnya.


Ia tak tau jika ini akan brakhir seperti ini.


"Bawalah mobilmu ke bengkelku jika pertandingan ini telah


berakhir. Aku dan ayahku akan memperbaikinya untukmu." Ucap Madhiazsambil menepuk


pundak Lingga.


"Dan mungkin kita bisa menambahkan beberapa hal di dalamnya."


Tambah Madhiaz.


"Semangat ya.. Lingga." Nadeen menyodorkan


tangannya sambil tersenyum manis ke arah Lingga. Berharap Lingga membalas


uluran tangannya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Lingga hanya


mengacuhkannya. Nadeen kecewa. Namun sudahlah, ia tak akan memperpanjang


masalah itu.


"Hn." Ucapnya ambigu.


'Dion? Dia ikut?' Batin seseorang.


 


 


.


.


.


Seperti yang telah dijelaskan oleh Madhiaz. Hasil kali ini


cukup mengecewakan untuk Lingga. Ia kalah telak. Ia sama sekali tak dapat


mengejar Dion, sakon dan ukon bersaudara. Padahal hasil pertaruhan kali ini


cukuplah banyak. Lebih banyak dari biasanya. Dan ia cukup kecewa karena itu.


Tapi setidaknya ia menerimanya dengan lapang dada. Ia sadar diri dan


menerimanya, kemampuan mobilnya sama sekali tak sebanding dengan mobil mereka.


Farrand melangkahkan kakinya menuju finis dimana Dion sedang


bersenang-senang dengan kemenangannya. Ia cukup merasa puas pada Agera nya.


Senyum terkembang tak henti-dari bibir ranumnya. Tangannya bersedekap. Dan ia


sandarkan tubuhnya di depan kap mobilnya.


"Dion, it's that you?" Ucap Farrand lirih. Ia


gugup. Ia takut jika yang ia sapa bukanlah Dionnya. Dion yang ia kenal


dulu.


Dion mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pangling. Benar-benar


pangling. Sosok dihadapannya kini


Adalah sosok yang paling ia rindukan dulu. Penampilannya berbeda. Namun ia tak


salah mengenali helai panjang dan iris coklatmempesona tersebut.


"Fa-Farrand." Dion merubah posisi bersandernya. Menghampiri Farrand


dan langsung memeluk tubuh ramping dihadapannya itu.


"Dion. Ini benar kau. Aku tak menyangka jika akan


menemukanmu disini." Farrand membalas pelukan Dion. Setitik air mata jatuh


"Aku mencarimu. Aku mengingkari janjiku untuk tidak


mencarimu. Kau menghilang begitu saja, Farrand. Tak tau kah kau jika aku tak


ingin hubungan kita berakhir begitu saja?"


"Maafkan aku, Dion.


Banyak hal yang saat itu tak bisa kuberitau padamu. Waktu ku tak banyak saat


itu."


"Jadi, boleh kudengar itu sekarang?" Farrand


melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Dion, pria yang dulu pernah mengisi


hatinya. Mengisi hari-harinya. Yang kini ada dihadapannya.


"Akan kupertimbangkan." Ucapnya, ia mengedarkan pandangannya


kesekitar. Semua melihatnya. Melihat adegan peluk-pelukan Dion-Farrand. Dion pun


mengikuti pandangan Farrand. Sedetik kemudian ia langsung menyambar bibir


kenyal Farrand dan melumatnya, membuat penonton ber'waw' ria. Hey.....


siapa yang tak kan mengatakan waw jika sang juara malam ini yang digosipkan tak


pernah dekat dengan wanita tiba-tiba dihampiri wanita cantik, memeluknya lalu


menciumnya dihadapan semua orang begitu saja? Tidak kah hal itu mengesankan?


Atau hanya penulis disini yang merasa jika itu mengesankan?


Setelah selesai atas kegiatannya mengambil pusat perhatian, Dion


menyeret Farrand masuk kedalam mobilnya. Namun terhenti saat dirasanya Farrand


berdiam.


"Aku kesini di ajak teman. Kurasa aku harus


memperkenalkan mereka padamu, ya?Bagaimanapun juga aku tak kan disini dan bertemu


denganmu jika tak ia seret." Dion memandang tatapan memohon dari Farrand.


Ia tak tega melihat wajah memelas dihadapannya itu.


"Baiklah." Putus Dion.


Senyum sumringah muncul di wajah Farrand. Lalu tanpa basa-basi


lagi ia menyeret Dion menuju teman-temannya, Madhiaz dan Nadeen. Oh, jangan


lupakan pula Lingga. Ia bersama Madhiaz dan Nadeen.


"Nadeen" Teriak Farrand saat ia telah dekat ketempat


Nadeen dan dua pria itu.


Ketiganya mengernyit melihat Farrand yang berjalan kearah


mereka sambil menggandeng seorang pria. Dan pria itu bukan pria sembarangan.


Seorang berambut merah yang memenangkan balapan malam ini. Mereka bertiga


berpikir kompak, bagaimana bisa Farrand mengenal pemuda yang jarang terlihat


itu?


"Farrand. Kau berhutang penjelasan padaku." Ucap Nadeen.


"Dhiaz, Nadeen, Lingga. Perkenalkan. Ini Dion."


Kata Farrand. Senyumnya masih bertengger dibibirnya.


"Aku sudah tau." Ucap ketinganya kompak. Farrand


cengo, ok! Mereka pasti tau karena tadi mereka menonton pertandingannya.


Apalagi Lingga. Dia yang melawan pemuda itu.


"Perkenalkan. Aku Dion, pacar Farrand." Mereka


terkejut dan langsung menoleh kearah Dion dan Farrand secara bergantian.


"Apa maksudnya ini, Dion. Kau tidak membual dengan


mengatakan Farrand pacarmu bukan? Kau fikir aku percaya begitu saja?" Madhiaz


menatap tajam Dion. Yang ditatap hanya cuek, menyilangkan tangan didada dan


bersander di kap mobil Lingga.


"Aku tidak bercanda. Silahkan tanya yang bersangkutan


jika kau ingin tau." Madhiaz dan Nadeen langsung melotot kearah Farrand.


Namun Farrand hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil nyengir dan


memasang wajah tak berdosa.


"Ya. Dia pacarku saat aku masih di Kota Halu. Saat aku


pindah kesini aku telah memutuskannya. Namun rupanya ia tak menerima itu. Dan


yah... Mungkin benar kata Dion jika kami masih pacaran."


"Hei. Kau itu masih pacarku. Aku tak menerima keputusan


sepihakmu." Lanjut Dion.


"Farrand, kau tidak mengatakan apapun padaku jika kau


memiliki lelakiini sebagai pacarmu" Nadeen menepuk pundak Farrand. Tanda ia


meminta penjelasan kepada temannya itu.


"Kau tidak bertanya padaku, Nadeen."


"Lalu, aku harus bertanya dulu padamu, begitu?"


"Ya."

__ADS_1


"Arrggghhhhh" Nadeen mengusak rambut frustasi.


Terkadang ia bingung. Kenapa ia betah berteman dengan makhluk menjengkelkan


macam Farrand itu? Nadeen menyeret paksa Farrand menjauh dari para pria itu. Ia


mengajak Farrand berjongkok dan mengapit leher Farrand.


"Jadi. Apa yang terjadi diantara kalian?" Nadeen


berbisik. Mungkin ia tidak ingin pembicaraan berdua dengan Farrand-nya didengar


orang.


"Dia pacarku saat kami di Junior High." Jawab Farrand


sambil berbisik pula.


"Kau pernah sekelas dengannya?"


"Tentu saja."


"Lalu mengapa kau pindah kesini dan meninggalkan pria


tampan nan hebat itu begitu saja? Si bodoh Farrand."


"Kau tidak mengerti, Nadeen. Perusahaan ayahku bangkrut.


Kami kehilangan segalanya begitu saja. Dan ayah memutuskan untuk pindah kesini


secepat menungkin. Dan seperti yang kau lihat sekarang. Status kami sudah


berbeda. Dia yang putra konglomerat. Dan aku hanya putri tukang cuci mobil. Apa


yang bisa kuharapkan dari itu?"


"Kau bodoh." Nadeen menjitak kepala kuning Farrand.


Ia tak mengerti dengan isi kepala kuning itu. Sementara yang dijitak hanya


memasang wajah masamnya.


"Bisa saja ia tak mempermasalahkan hal itu bukan? Kau


lihat sendiri tentang raut wajahnya saat bertemu denganmu?" Tambah Nadeen.


"Ya. Aku tau." Farrand menunduk. Sedikit banyak ia


menyesali keputusannya meninggalkan Dion dulu.


"Nah. Sekarang perbaiki lagi. Ok? Aku akan


mendukungmu." Nadeen tersenyum. Dan halitu membuat Farrand tersenyum juga.


Sementara itu di bagian para laki-laki, sesaat setelah Nadeen


menyeret Farrand.


"Jadi, kau pacar Farrand? Kau tidak membual bukan?"


Tanya Madhiaz menyelidik. Lingga hanya diam. Ia merasa jika ini bukan zona nya.


"Ya. Aku berpacaran dengannya saat masih di Junior


School." Jawab Dion. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam Nadeen


celananya sambil menatap langit malam.


"Aku mencintainya. Dia pergi meninggalkanku begitu saja


dan hanya meninggalkan sebuah surat yg berisi permohonannya agar aku tak


mencarinya dan juga mengatakan jika hubungan kita berakhir."lanjutnya.


"Farrand tak bercerita jika ia memiliki pacar." Ujar


Madhiaz dengan tenang.


"Apa kau pacarnya?" Madhiaz mengernyit mendengar


pertanyaan Dion.


"Apa maksudmu menanyakan hal itu padaku, Dion."


Jawab Madhiaz.


"Siapa tau. Selama jauh dariku dia berpacaran denganmu, rambut nanas." Jujur,


Dion dongkol atas ucapan Madhiaz.


"Kalau aku memang pacarnya Farrand disini, kau mau apa? heh."


"Kurebut dia darimu seperti aku merebut gelar juara malam


ini."


"Wow... santai... dude. Aku hanya menganggapnya adik kecilku.


Lagipula aku sudah punya tambatan hati." Dion mendesah lega. Namun


setelahnya ia melirik kearah Lingga.


"Apa kau pacarnya?" Lingga mendelik mendengar ucapan


Dion. Hei, akrab saja tidak. Bagaimana ia bisa dituduh pacaran dengannya? Ah,


tapi bagaimana jika ia bermain sebentar. Menjahili seseorang sedikit tak apa


kan?


"Menurutmu? Jika aku pacarnya, kau mau apa?" Lingga


tersenyum miring. Membuat Dion memasang wajah jengkel.


"Tentu saja akan kurebut kembali. Aku tak akan


melepaskannya begitu saja."


"Hei, biar kuberitahu." Lingga mendekat. Dan


membisikkan sesuatu ditelinga Dion.


"Aku sudah mencicipinya....." Mata Dion membulat.


Kilat kemarahan terlihat dimata jade miliknya . Dan Lingga terlihat menahan


tawanya.


 


 


Nadeen dan Farrand telah mendekat. Sepertinya mereka telah


menyelesaikan pembicaraan mereka.


Terlihat pipi Farrand yang sesekali bersemu merah.


Dion yang tersulut emosinya menghampiri Farrand. Ia cekal


tangan kiri Farrand menggunakan tangan kanannya. Farrand yang kaget hanya


mengerjapkan matanya. Ia bingung dengan sikap Dion yang mendadak kasar.


"Jelaskan padaku apa yang kau lakukan disini selama jauh


dariku, Farrand."


"Apa yang kau maksud, Dion?"


"Jelaskan padaku. Bagaimana bisa kau pacaran dengan pria


itu. Dan bagaimana bisa dia.... dia..... dia..... sampai  mencicipimu juga?" Dion memelankan kata terakhirnya sambil menunduk. Sungguh. Hal ini


tidak masuk dalam perkiraannya.


"Apa maksudmu, Dion. Aku sama sekali tak faham apa yang


kau katakan dari tadi."


"Katakan Farrand. Kau pacaran dengan pria berambut kelam


itu kan?" Dion menunjuk Lingga yang bersedekap disamping Madhiaz.


"Dan kau juga telah dicicipinya." Alis Farrand menukik


sebelah. Ia mulai faham apa yang Dion bicarakan.


"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku pacaran dengannya?


Sedang aku bicara dengannya saja baru tadi siang. Itupun karena Nadeen yang


mengajakku. Dia siswa pindahan sebulan yang lalu. Dan.... dan.... apa-apaan


kata mencicipi itu? Kau fikir aku kue? Yang bisa dicicipi begitu saja?" Dion


memandang Farrand. Ia menelisik wajah Farrand, siapa tau ada kebohongan disana.


Dan hasilnya nihil. Tak ada kebohongan disana. Ia hafal betul perangai Farrand.


Gadis itu sama sekali tak pandai berbohong.


Farrand menghampiri Lingga dan mengceram kerah bajunya. "Lingga.


Apa yang kau katakan padanya? Kau bilang pada Dion jika aku pacarmu dan kau


pernah mencicipiku? Kau membual tentang semua ini." Melihat wajah Farrand


dari dekat seperti ini membuat pipinya bersemu merah. Jika boleh jujur, ia tak


pernah ditatap sebegitu intens oleh perempuan seperti ini. Untung saja lampunya


temaran, membuat semu merah di pipinya tak begituterlihat.


"Aku tidak bilang jika berpacaran denganmu. Aku juga tak


bilang pernah mencicipimu." Lingga tersenyum kikuk. "Mungkin dia


salah mengartikan omonganku tadi." Lanjutnya.


"Apa maksudmu, Lingga." Celetuk Dion.


"Hei... ku fikir tadi kau salah sangka saja. Kau tadi


bertanya jika aku pacar Farrand, bukan? Dan aku menjawab 'menurutmu, jika aku


pacarnya? Kau mau apa?'. Begitu?" Dion kicep. Mengangguk samar membenarkan


perkataan Lingga. "Kau juga mendengarnya kan? Madhiaz?" Madhiaz juga


hanya bisa mengangguk.


"Dan.. apa maksudmu dengan kata-kata mencicipi


tadi?" Tambah Dion.


"Aku memang pernah mencicipinya. Mencicipi masakannya


maksudku." Lingga terkekeh pelan.


"Tadi siang dia memberikan bekalnya padaku. Jadi aku


telah mencicipinya. Mencicipi masakannya." Dion cengo. Ia malu telah


berburuk sangka.


"Jadi. Bisa kau lepaskan cengkramanmu, nona. Atau kau


lebih suka kita berdekatan seperti ini?" Farrand mengerjap. Lalu


menyentakkan tangannya kasar sambil mendengus.


"Kau dengar, Dion. Tak ada yang perlu kau khawatirkan


sekarang." Madhiaz tersenyum tipis. Lalu menepuk pelan pundak Lingga."


Kau hebat bermain kata-kata. Hingga membuat darah Dion mendidih seperti


tadi." Lingga menahan tawanya hingga pundaknya bergetar. Ada kesenangan


tersendiri saat melihat Dion termakan omongannya.


"Kau harus berterimakasih pada Lingga, Farrand. Karenanya


kau tau jika Dion masih sangat mencintaimu." Madhiaz terkekeh. Sendangkan Farrand


memalingkan wajahnya. Wajahnya bersemu, lagi. Jantungnya berdebar-debar. Namun


tak sekencang dulu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2