
Lingga sedang berdiri dipembatas jalan bersama dengan Madhiaz.
Malam ini malam kesepakatan mereka, dan mereka tetap bersikeras mengadakan
balapan meski salju menebal dan jalanan menjadi licin.
Mereka berdua terdiam dengan fikirannya masing-masing.
Madhiaz yang masih mengkhawatirkan kondisi ibunya, dan Lingga yang memikirkan
kondisi Farrand. Jika ditilik lebih jauh lagi, Lingga sebenarnya sedikit
menyesal telah menghalangi kekasihnya itu pergi kesini untuk menemaninya. Jauh
didalam hatinya ia ingin balapan malam ini ditemani oleh Farrand-nya, namun
lagi-lagi pemikirannya itu dibuntukan oleh ingatannya saat menelpon tadi.
Farrand yang kondisinya sedikit memburuk lagi itu ia
ketahui dari suaranya yang tak berhenti bersin saat ia telpon. Sebenarnya ia ingin
bicara lebih banyak dan lebih lama lagi. Namun suara serak Farrand dan
bersinnya lagi-lagi menghalanginya untuk menelpon lebih lama.
Saat ini jalanan memang agak sepi jika untuk ukuran
balapan, namun hal itu masihlah tergolong wajar jika mengingat kondisi cuaca
musim dingin seperti ini. Dan sepertinya, keputusannya untuk pergi setengah jam
lebih awal sebelum pertandingan kini harus disesalinya.
"Kau gugup?" Ucapan Madhiaz membuyarkan
lamunan-lamunannya tadi. Ia sedikit berjengit kaget, namun dengan cepat ia
menguasai diri dan berdiri dengan sikap santai lagi.
"Sedikit." Balas Lingga. Ia tersenyum tipis,
dan setelahnya ia mendongakkan kepalanya untuk menatap bintang dilangit.
"Aku tak tau aku harus berjadapan dengan siapa,
namun yang jelas aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Begitupun denganku. Meski aku rasa
saat ini ada yang kurang karena saat ini kita berdiri tanpa kehadiran Farrand."
"Anggaplah ini pembelajaran untukmu, Ling.
Yakinlah Farrand akan selalu bangga
dengan hasil apapun yang kau raih nantinya."
Lingga mengangguk pelan,"Ya. Semoga saja."
Ucapnya kemudian.
"Lalu apa yang kalian bicarakan tadi? Apakah Farrand
memberimu beberapa saran?"
Lingga mengangguk lemah, "Sedikit." Ucapnya.
"Apa yang ia katakan? Boleh kutau?"
"Tentu. Ia mengatakan padaku untuk berhati-hati
terhadap mantan pembalap reli itu."
"Ia tak mengatakan alasannya?"
"Tentu saja ia mengatakannya."
Lingga menghela nafas pelan, entah mengapa ia merasa
jika atmosfernya sedikit memberat saat ini. Entah karena rasa gugupnya, atau
suhu udara yang kian menipis disekitarnya.
"Dia bilang jika pembalap reli berbeda dalam
akselerasi kaki." Lanjut Lingga.
"...."
"Pembalap reli menggunakan kaki kanannya untuk
terus menekan pedal gas, sementara kaki kirinya bergantian menginjak pedal rem
dan kopling. Berbeda dengan kita yang menggunakan kaki kanan untuk pedal gas
dan rem. Dan dia bilang hal itu untuk mengurangi resiko understeer.
Sebenarnya masuk akal juga kurasa, karena kebanyakan dari pembalap reli seperti
mereka pastinya telah melewati banyak latihan dan bimbingan serta banyak
melewati medan yang belum pernah kita coba."
"Hey, Ling. Jangan pesimis dulu, sebelum hasil
akhir kita dapatkan, kita masih bisa berharap jika kita menang. Dan, ada lagi?
Atau dia menambahkan sesuatu, mungkin saran untukku juga?"
"Dia bilang agar kau tak mendahulukan gender. Kau harus berjuang sekuat
yang kau bisa."
"Hanya itu?"
"Ya. Hanya itu."
"Lalu kau tak dapat saran lagi?"
"Sebenarnya ada. Dan dia juga menyuruhku untuk
menghemat ban."
"Sudah? Hanya itu?"
Lingga mengangguk pelan mendengar cercaan pertanyaan
dari Madhiaz yang seolah tiada habisnya itu. Dan Madhiaz, ia mengerang frustasi
mendengar penjelasan dari Lingga.
"Aku tak tau harus berterimakasih atau tidak
padanya. Kau tau? Terkadang kata-kata yang diucapkan kekasihmu itu sulit untuk
difahami." Ujar Madhiaz.
"Akupun sering merasakan hal itu, Dhi."
"Lalu mengapa kau masih tahan pacaran dengannya?
Mengapa tidak mencari wanita lain saja yang lebih menurut dan mudah kau fahami.
Kau tau, Ling. Jangan terlalu memberi harapan jika pada akhirnya kau berniat
meninggalkannya."
Lingga mengangguk lagi, sebenarnya bukan itu
masalahnya. Mengapa seakan Dhiaz menghakiminya terlebih dahulu tanpa mendengar
penjelasan Lingga, sih?
"Kau tau?
Terkadang hal itulah yang bisa membuatku semakin mengagumi sosok cantik
itu."
"Kau terlalu melankolis."
"Kau saja yang terlalu kaku dan tak
mengerti mana yang buth pengorbanan lebih, mana yang tidak. Kau tau, yang
membutuhkan pengorbanan lebih itu lebih tidak mengecewakan. Sama halnya kita membeli
sesuatu, semakin tinggi harga atau perjuangan kita mendapatkannya, semakin
tinggi pula kadar kepuasan kita setelah mendapatkannya."
Sungguh.
Dalam hati Madhiaz membenarkan perkataan Lingga dan menyetujui semua tentang Farrand.
Gadis itu, gadis yang telah ia anggap sebagai adik sendiri terkadang memiliki
sifat yang lebih dewasa dari teman sebayanya. Namun ia juga tak memungkiri jika
ia sering mendapat perlakuan menjengkelkan akibat tingkal jahil dan manjanya.
Tapi intinya, jika dijadikan kekasih Farrand merupakan type yang banyak
menguntungkan, jadi ia fikir wajar saja Lingga harus banyak-banyak menahan diri
jika harus berhadapan dengan Farrand. Karena baginya, Farrand itu sosok yang
tidak mudah bergantung pada siapapun. Cocok disandingkan dengan Lingga yang
harus menyangga dirinya sendiri sedari dini.
Tinn tinn...
Madhiaz dan Lingga menoleh bersamaan saat ia mendengar suara klakson yang
ditekan. Disana, diseberang jalan telah terhenti dua mobil berbeda warna dan
tipe. Dan salah satunya mampu membuat Lingga terkejut.
"Hai tampan, ternyata kau yang maju ya?"
Ucap Ava. Ia bergelayut manja di lengan kanan Lingga. Sedang Madhiaz, ia yang
melihat roman picisan disepannya itu hanya bisa mendengus kasar.
"Aku Samuel. Dan ini Ava."
"Aku sudah tau." Potong Lingga. Ia sedikit
geram. Namun ia kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk tak bertindak
kelewat batas saat melihat mobil s15 biru didepannya itu.
Samuel tersenyum simpul melihat sikap acuh Lingga dan
sikap manja Ava yang kini tengah berdrama dihadapannya itu.
"Kami disini bermaksud menantang kalian. Dan
tentu saja, dengan pertaruhan yang kalah harus menyerahkan mobilnya." Samuel
berkata dengan nada sopannya, dan hal itu membuat Madhiaz sedikit mendesah lega
karena hal itu tak sesuai dengan bayangannya.
"Lalu, bagaimana peraturannya? Bisa kita mulai
dengan segera? Tentu kalian tau jika semakin larut maka hawa dinginnya semakin
__ADS_1
menjadi." Kata Madhiaz. Ia tak ingin berbasa-basi omong-omong.
"Boleh kutau mengapa Ava memakai mobil itu? Dan
dia juga memakai jubah putih itu." Lingga yang terdiam dipeluk Ava
akhirnya kini membuka suaranya.
"Tentu saja karena aku sudah mengalahkan
pemiliknya."
Gigi Lingga gemeretuk pelan saat mendengar penuturan Ava.
Ia menyayangkan dirinya sendiri yang bahkan sampai selama ini ia tak bisa
menemui pengendara itu dan merebut mobilnya. Dan sekarang, melihat Ava yang
dengan ringannya mengatakan ia telah mengalahkan pengendara itu, entah mengapa
membuat hatinya memanas.
"Kalau begitu aku yang melawanmu, Ava." Ujar
Lingga.
"Kalau boleh tau, mobil apa yang kalian gunakan?
Mengingat disini ada dua mobil yang berbeda, membuatku harus menentukan
pertandingan yang imbang."
Madhiaz menoleh kearah Samuel saat pemuda itu
menyuarakan kembali atas pendapatnya. Jantungnya berdebar semakin kencang saat
merasakan aura Samuel yang begitu kuat.
"Aku, memakai GTR-34. Dan rekanku, Madhiaz,
memakai rx-7"
"AWD dan RWD ya? Sepertinya kita bisa bertanding
satu lawan satu."kata Samuel.
"Lalu, bagaimana kesepakatannya? Bisakah aku
melawan Ava?"
Ava tersenyum, mendengar nada bicara Lingga yang
terdengar tak sabar itu membuat ia ingin terkekeh geli. Sebegitu inginnyakah Lingga
melawan dirinya?
"AWD melawan AWD. Dan RWD melawan RWD. Aku
memakai Lan-Evo III. Jadi aku akan melawan GTR-34. Dan Ava, s15 melawan rx-7.
Kita bertanding dengan cara one by one. Aku bergerak kekanan,
dan Ava kekiri. Finishnya nanti ada dibawah puncak, tepat tempat parkir. Dan
disana sudah banyak yang menunggu." Putus Samuel.
Lingga ingin berontak dan mengatakan lagi jika ia
ingin melawan Ava. Namun itu di urungkannya. Mengingat Samuel telah menjabarkan
peraturan mereka dan ia membenarkan jika peraturan itu cukup imbang.
"Sebenarnya aku cukup kaget melihat kalian yang
datang. Kufikir akan ada mobil NSX merah disini." Lingga dan Madhiaz tak
bisa menahan rasa terkejut mereka. Mereka fikir, bagaimana bisa Samuel tau
tentang Farrand?
"Dia tak bisa datang." Ujar Madhiaz.
"Apa mobilnya rusak?" Tanya Samuel.
Samuel yang merasa tak puas atas jawaban Madhiaz,
ingin ia bertanya lebih jauh, namun akhirnya ia urungkan saat Madhiaz melanjutkan
ucapannya, "Kau bisa menantangnya saat musim dingin berakhir."
Samuel mengangguk. Namun ia masih tetap penasaran
tentang apa yg telah terjadi.
"Aku menantikan untuk bertanding
melawannya." Samuel tersenyum, namun Lingga yang melihatnya malah
memalingkan muka kesamping.
"Kalau kalian sudah selesai basa basinya, ayo
kita mulai." Ava, yang sedari tadi berdiam diri kini mengangkat suaranya
karena ia merasa bosan.
Ketiganya mengangguk pasti. Lalu mereka mengambil
posisi start masing-masing dan menyuruh salah satu penonton
untuk menghitung mundur waktu mulai.
"5.......4......3....." salah seorang
penonton mulai menghitung mundur, jantung Lingga berdegub kencang. Ia yang
telah mengambil posisi start bersebelahan dengan Samuel pun kini mencengkran
erat kemudi dengan tangan berkeringat.
Tak beda dengan Lingga, Madhiazpun begitu, posisinya
melangkah. Sebenarnya, ia benci mengakui ini. Fakta bahwa ia lemah jika
menghadapi makhluk bergender perempuan itu sangat sulit untuk ditampiknya.
Pantas saja tadi Farrand mengingatkannya untuk tak melihat gender, tapi tetap
saja, ia rasa hal ini adalah hal yang sulit.
"...2.....1............. GO!!!!!" Si penghitung
telah menurunkan tangannya tanda pertandingan telah dimulai. Lingga yang
memulai Start bersamaan dengan Samuel kini memimpin, entah apa yang
difikirkannya kini. Yang jelas dibalik kemudinya kini Samuel menyeringai tipis.
Lingga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh
dan sebisa mungkin meninggalkan Samuel jauh dibelakang. Fikirannya terasa
buntu. Kemunculan Ava yang memakai mobil s15 biru itu membuatnya kalang kabut.
Karena sedikit banyak Ava telah memutus harapannya untuk mengalahkan pengemudi
yang memberinya janji itu.
Lingga sedikit tersenyum saat melewati sepertiga jalan
tak menemukan Samuel dibelakangnya. Ia sebenarnya tak tau dengan apa yang
direncanakan Samuel. Tapi kembali ke perbincangannya dengan Farrand tadi, ia
sedikit mengingat bahwa ia harus menghemat pemakaian ban.
Dan hasilnya, Lingga membolakan matanya saat ia merasa
bodoh dengan asumsinya yang meninggalkan Samuel dibelakang dan melaju secepat
mungkin. Ia memukul pelan kemudinya, dan kegugupannya meningkat saat mendapati
mobil Samuel telah mendekatinya. Ia serasa kalut, bayangan kekalahan seperti
mengikutinya dan menempelinya dengan ketat.
Dalam kekalutannya kini, ia merasa kesepian dan sangat
mengharap jika Farrand ada disisinya dan memberikan saran untuknya. Ingin ia
mengambil ponsel dan menelpon Farrand, namun bayangan akan keadaan Farrand yang
buruk mau tak mau membuatnya mengurungkan lagi niat nya itu.
Saat Lingga masih bergelut dengan pemikirannya, Samuel
telah mengikis jarak diantara mereka. Dan sekarang ia telah mengambil aba-aba
untuk menyalip Lingga yang seperti kehilangan ritmenya.
Setelah mereka melalui dua per tiga lintasan, tangan Lingga
semakin basah oleh keringatnya. Ia tau ini terlalu berlebihan, namun ia tak
bisa lagi memikirkan cara untuk membuatnya berada diposisi yang sama hingga
akhir.
Sementara itu, Samuel yang berada tepat dibelakang Lingga
terkekeh pelan saat melihat mobil Lingga telah kehilangan sedikit cengkraman
bannya. Ia tau jika sekarang terdapat celah untuk menyalip, namun ia tak bisa
menyalip secepat mungkin sebelum finish didepan mata. Yah... ia memang
merencanakan hal ini sebelumnya dan ia ingin memberikan tekanan yang besar
kepada lawan-lawannya agar lawannya kehilangan mental. Terdengar picik, namun
semua bisa terjadi diarena balapan seperti ini. Baginya, pengalaman selama
menjadi pembalap pro dan berkali-kali mendapat lawan yang hebat adalah harta
berharga yang ia pertahankan hingga kini.
Dan seperti sekarang ini, melihat cara mengemudi Lingga
yang seperti tak berirama itu membuatnya mendengus geli. Satu lagi seorang
lawan yang belum berpengalaman jatuh kedalam perangkapnya. Dan ia merasa jika
kemenangan akan mutlak menjadi miliknya setelah pertandingan ini usai.
Dalam hati Samuel mensyukuri kendaraan yang ia punyai.
Lan-evo miliknya, yang seperti telah menyatu dengannya dan dengan
beberapa setting tambahan membuatnya begitu percaya diri.
Apalagi sistem Lan-Evo yang memang ditujukan untuk dikemudikan di jalanan salju
dan kontur berdebu. Meski sama-sama bersistem 4WD dengan GTR milik Lingga,
Lan-Evo miliknya masih bisa dikatakan lebih baik secara teknis.
Setelah keduanya sampai di tikungan kekiri jembatan
terakhir, Samuel mulai melancarkan serangannya. Ia menekan pedal gas dan
mengincar sisi dalam sari sudut menikung mobil Lingga yang telah sedikit
melebar akibat understeer. Lagi-lagi ia tersenyum puas. Ia telah
berhasil menyalip mobil Lingga dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang
menggila. Meninggalkan Lingga dibelakangnya dengan kondisi tertekan dan semakin
__ADS_1
kehilangan mentalnya.
Namun sebenarnya, dibalik senyum kepuasan Samuel, ia
tetap berharap banyak tentang seorang pembalap yang bisa mengalahkannya. Dan
sebenarnya, tadi ia sedikit kecewa saat tak mendapati mobil NSX merah itu
disepanjang jalan yang dilewatinya. Meski Madhiaz telah mengatakan padanya jika
ia bisa menantangnya setelah musim dingin, tetap saja hatinya tak tenang dan
diliputi rasa penasaran tak berujung. Jika saja ia bisa menemukan orang itu, ia
pasti akan menantangnya secara langsung dan membuat pertandingan menarik yang
akan ditonton oleh banyak orang seperti sekarang ini.
Wuuussshhhhhhhhh......
Sorak sorai penonton menggema disepanjang jalur finish di kaki
gunung itu. Laju mobil Samuel melambat, dan setelahnya datang mobil Lingga yang
juga melewati garis finish. Tapi itu percuma. Pemenang sudah
ditentukan dan Lingga telah kalah telak oleh seorang pendatang baru di area
itu.
Sesaat setelah sama-sama memarkirkan mobilnya, Samuel
dan Lingga keluar. Lingga yang telah kehilangan semangatnya hanya bisa berdiri
menyandar pada kap mobilnya yang sebentar lagi akan berpindah tangan. Ingin ia
menangis, namun airmatanya sebisa mungkin ia tahan agar tak jatuh.
Drrttt.... drrtttt...
Suara getar ponsel menarik atensinya, ia lantas mengambilnya dan mengangkat
panggilan itu tanpa melihat nama sipemanggil.
"Hallo...."
'Lingga,
bagaimana hasilnya?'
Lingga yang mengenali suara sipemanggil itu mendengus
pelan. Ia hanya bisa membatin, mengapa wanita itu memanggilnya sesaat setelah
balapan usai? Kebetulan atau firasatnya begitu tajam hingga tau waktu yang
tepat untuk memanggil?
"Aku kalah." Ucap Lingga dengan nada yang
sedikit pelan. Ia ingin terlihat tegar, namun hal itu sepertinya tak bisa ia
lakukan.
'Tunggu
aku. Aku akan kesana secepat mungkin.'
Tutt... tutt.... tutt....
Hei, Lingga bahkan belum sempat menjawabnya, tapi sipenelpon telah mematikan
sambungannya. Sebenarnya ia ingin melarangnya datang, namun ia tak kuasa dan
sepertinya tak mungkin bisa menghentikan kemauan kerasnya. Ia mengkhawatirkan
kondisi wanita itu, namun ia juga tak memungkiri jika ia membutuhkannya saat
ini. Biarlah, ia ingin sedikit egois untuk membiarkan Farrand datang kesini.
Lagipula, ia yakin pastilah Farrand datang dengan Sakura, mengingat temannya
itu sekarang sedang menginap dirumah Farrand.
Selang beberapa menit, Samuel datang menghampiri Lingga
yang sedang dilanda frustasi akut. Ia sedikit tersenyum, mengulurkan tangan
kanannya dan memberi sedikit salam.
"Aku datang ingin berbincang sebentar sambil
menunggu Ava yang masih balapan." Ujar Samuel. Lingga mengangguk, dan
setelahnya Samuel ikut bersandar disebelah Lingga.
"Kau tak lupa tentang taruhan kita, bukan?"
Lanjut Samuel.
"Tentu. Dan ini kesepakatannya."
Puk.....
Lingga melempar kunci mobilnya dan langsung sigap ditangkap oleh Samuel.
"Surat-suratnya ada dilaci. Aku mohon jaga
mobilku dengan baik." Terselip nada getir dari cara bicara Lingga. Matanya
memanas, namun ia tak ingin terlihat lemah saat ini.
"Terimakasih, dan tentu. Aku dan teman-temanku
akan menjaganya sebaik mungkin."
Fyuuhhh...
Lagi-lagi Lingga menghela nafas. Jika mungkin saat ini Farrand berada
disampingnya, wanita itu pasti akan mengomel akan sikapnya yang terus-menerus
menghela nafas seperti itu.
"Boleh kutau tujuanmu menakhlukkan daerah
ini?" Tanya Lingga.
"Aku ingin membentuk tim balap yang mumpuni.
Dengan mobil yang didapat dari hasil pertandingan dan tanpa meminta kepada
orang tua."
"Tapi jika seperti itu, bukankah terdengar
seperti menjarah mobil?"
Samuel terkekeh pelan, jika difikir-fikir lagi,
bukankah perkataan Lingga barusan itu ada benarnya juga? Apa bedanya ia dengan
penjarah mobil?
"Ya. Kurasa memang kami seperti itu." Jawab Samuel.
"Lalu mengapa harus Kota Falen tempat permulaan
kalian?"
"Karena di Kota Falen lah, banyak mobil
berkualitas yang bisa didapatkan."
"Apa kalian tak takut jika kalian dikalahkan?
Bukankah didalam balap liar sesuatu bisa saja terjadi?"
"Aku tau. Aku memilih Kota Falen karena di tempat
inilah data-data pembalap paling banyak yang bisa kudapatkan."
"Apa maksudmu?"
"Sepak terjangmu dan temanmu itu begitu mencolok,
kalian banyak mengikuti pertandingan dan banyak yang mengetahui tentang
itu."
"...." Lingga terdiam, jadi ia berfikir
hanya karena itu mereka tak ragu melangkah? Bukankah spertinya tindakan itu
terlalu sembrono?
"Jadi aku memulai semuanya disini karena aku
sudah tau teknik yang kalian pakai disetiap pertandingan. Namun kurasa, aku
sedikit kecewa karena kau tidak sekuat yang mereka perbincangkan."
Cih....
Lingga tau apa maksud dari perkataan pria berambut panjang disampingnya ini.
Dan entah mengapa hal itu kembali membuatnya mengingat Farrand. Tak mungkin
kan, jika ia mengatakan tentang Farrand yang membantunya menang kepada pria
disebelahnya ini?
"Anggap saja sekarang aku sedang tak
beruntung." Ucap Lingga kemudian.
Samuel menggeleng lemah. Ia tersenyum kecil, "Aku
ingin percaya pada keberuntungan. Namun yang selama ini aku alami sepertinya
bukan semata keberuntungan. Melainkan kematangan teknik untuk meraih
kemenangan."
'Cih... teknik katanya? Entah mengapa telingaku
sedikit panas mendengar ocehan tak bermutunya itu.' Batin
Lingga. Ia akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun sebuah mobil
yang mengambil tempat parkir disebelahnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk
bersuara.
__ADS_1
"Lingga....."
Tbc