Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 29


__ADS_3

Lingga sedang berdiri dipembatas jalan bersama dengan Madhiaz.


Malam ini malam kesepakatan mereka, dan mereka tetap bersikeras mengadakan


balapan meski salju menebal dan jalanan menjadi licin.


Mereka berdua terdiam dengan fikirannya masing-masing.


Madhiaz yang masih mengkhawatirkan kondisi ibunya, dan Lingga yang memikirkan


kondisi Farrand. Jika ditilik lebih jauh lagi, Lingga sebenarnya sedikit


menyesal telah menghalangi kekasihnya itu pergi kesini untuk menemaninya. Jauh


didalam hatinya ia ingin balapan malam ini ditemani oleh Farrand-nya, namun


lagi-lagi pemikirannya itu dibuntukan oleh ingatannya saat menelpon tadi.


Farrand yang kondisinya sedikit memburuk lagi itu ia


ketahui dari suaranya yang tak berhenti bersin saat ia telpon. Sebenarnya ia ingin


bicara lebih banyak dan lebih lama lagi. Namun suara serak Farrand dan


bersinnya lagi-lagi menghalanginya untuk menelpon lebih lama.


Saat ini jalanan memang agak sepi jika untuk ukuran


balapan, namun hal itu masihlah tergolong wajar jika mengingat kondisi cuaca


musim dingin seperti ini. Dan sepertinya, keputusannya untuk pergi setengah jam


lebih awal sebelum pertandingan kini harus disesalinya.


"Kau gugup?" Ucapan Madhiaz membuyarkan


lamunan-lamunannya tadi. Ia sedikit berjengit kaget, namun dengan cepat ia


menguasai diri dan berdiri dengan sikap santai lagi.


"Sedikit." Balas Lingga. Ia tersenyum tipis,


dan setelahnya ia mendongakkan kepalanya untuk menatap bintang dilangit.


"Aku tak tau aku harus berjadapan dengan siapa,


namun yang jelas aku akan berusaha sebaik mungkin."


"Begitupun denganku. Meski aku rasa


saat ini ada yang kurang karena saat ini kita berdiri tanpa kehadiran Farrand."


"Anggaplah ini pembelajaran untukmu, Ling.


Yakinlah  Farrand akan selalu bangga


dengan hasil apapun yang kau raih nantinya."


Lingga mengangguk pelan,"Ya. Semoga saja."


Ucapnya kemudian.


"Lalu apa yang kalian bicarakan tadi? Apakah Farrand


memberimu beberapa saran?"


Lingga mengangguk lemah, "Sedikit." Ucapnya.


"Apa yang ia katakan? Boleh kutau?"


"Tentu. Ia mengatakan padaku untuk berhati-hati


terhadap mantan pembalap reli itu."


"Ia tak mengatakan alasannya?"


"Tentu saja ia mengatakannya."


Lingga menghela nafas pelan, entah mengapa ia merasa


jika atmosfernya sedikit memberat saat ini. Entah karena rasa gugupnya, atau


suhu udara yang kian menipis disekitarnya.


"Dia bilang jika pembalap reli berbeda dalam


akselerasi kaki." Lanjut Lingga.


"...."


"Pembalap reli menggunakan kaki kanannya untuk


terus menekan pedal gas, sementara kaki kirinya bergantian menginjak pedal rem


dan kopling. Berbeda dengan kita yang menggunakan kaki kanan untuk pedal gas


dan rem. Dan dia bilang hal itu untuk mengurangi resiko understeer.


Sebenarnya masuk akal juga kurasa, karena kebanyakan dari pembalap reli seperti


mereka pastinya telah melewati banyak latihan dan bimbingan serta banyak


melewati medan yang belum pernah kita coba."


"Hey, Ling. Jangan pesimis dulu, sebelum hasil


akhir kita dapatkan, kita masih bisa berharap jika kita menang. Dan, ada lagi?


Atau dia menambahkan sesuatu, mungkin saran untukku juga?"


"Dia bilang agar kau tak mendahulukan gender. Kau harus berjuang sekuat


yang kau bisa."


"Hanya itu?"


"Ya. Hanya itu."


"Lalu kau tak dapat saran lagi?"


"Sebenarnya ada. Dan dia juga menyuruhku untuk


menghemat ban."


"Sudah? Hanya itu?"


Lingga mengangguk pelan mendengar cercaan pertanyaan


dari Madhiaz yang seolah tiada habisnya itu. Dan Madhiaz, ia mengerang frustasi


mendengar penjelasan dari Lingga.


"Aku tak tau harus berterimakasih atau tidak


padanya. Kau tau? Terkadang kata-kata yang diucapkan kekasihmu itu sulit untuk


difahami." Ujar Madhiaz.


"Akupun sering merasakan hal itu, Dhi."


"Lalu mengapa kau masih tahan pacaran dengannya?


Mengapa tidak mencari wanita lain saja yang lebih menurut dan mudah kau fahami.


Kau tau, Ling. Jangan terlalu memberi harapan jika pada akhirnya kau berniat


meninggalkannya."


Lingga mengangguk lagi, sebenarnya bukan itu


masalahnya. Mengapa seakan Dhiaz menghakiminya terlebih dahulu tanpa mendengar


penjelasan Lingga, sih?


"Kau tau?


Terkadang hal itulah yang bisa membuatku semakin mengagumi sosok cantik


itu."


"Kau terlalu melankolis."


"Kau saja yang terlalu kaku dan tak


mengerti mana yang buth pengorbanan lebih, mana yang tidak. Kau tau, yang


membutuhkan pengorbanan lebih itu lebih tidak mengecewakan. Sama halnya kita membeli


sesuatu, semakin tinggi harga atau perjuangan kita mendapatkannya, semakin


tinggi pula kadar kepuasan kita setelah mendapatkannya."


 


 


Sungguh.


Dalam hati Madhiaz membenarkan perkataan Lingga dan menyetujui semua tentang Farrand.


Gadis itu, gadis yang telah ia anggap sebagai adik sendiri terkadang memiliki


sifat yang lebih dewasa dari teman sebayanya. Namun ia juga tak memungkiri jika


ia sering mendapat perlakuan menjengkelkan akibat tingkal jahil dan manjanya.


Tapi intinya, jika dijadikan kekasih Farrand merupakan type yang banyak


menguntungkan, jadi ia fikir wajar saja Lingga harus banyak-banyak menahan diri


jika harus berhadapan dengan Farrand. Karena baginya, Farrand itu sosok yang


tidak mudah bergantung pada siapapun. Cocok disandingkan dengan Lingga yang


harus menyangga dirinya sendiri sedari dini.


 


 


Tinn tinn...


Madhiaz dan Lingga menoleh bersamaan saat ia mendengar suara klakson yang


ditekan. Disana, diseberang jalan telah terhenti dua mobil berbeda warna dan


tipe. Dan salah satunya mampu membuat Lingga terkejut.


"Hai tampan, ternyata kau yang maju ya?"


Ucap Ava. Ia bergelayut manja di lengan kanan Lingga. Sedang Madhiaz, ia yang


melihat roman picisan disepannya itu hanya bisa mendengus kasar.


"Aku Samuel. Dan ini Ava."


"Aku sudah tau." Potong Lingga. Ia sedikit


geram. Namun ia kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk tak bertindak


kelewat batas saat melihat mobil s15 biru didepannya itu.


Samuel tersenyum simpul melihat sikap acuh Lingga dan


sikap manja Ava yang kini tengah berdrama dihadapannya itu.


"Kami disini bermaksud menantang kalian. Dan


tentu saja, dengan pertaruhan yang kalah harus menyerahkan mobilnya." Samuel


berkata dengan nada sopannya, dan hal itu membuat Madhiaz sedikit mendesah lega


karena hal itu tak sesuai dengan bayangannya.


"Lalu, bagaimana peraturannya? Bisa kita mulai


dengan segera? Tentu kalian tau jika semakin larut maka hawa dinginnya semakin

__ADS_1


menjadi." Kata Madhiaz. Ia tak ingin berbasa-basi omong-omong.


"Boleh kutau mengapa Ava memakai mobil itu? Dan


dia juga memakai jubah putih itu." Lingga yang terdiam dipeluk Ava


akhirnya kini membuka suaranya.


"Tentu saja karena aku sudah mengalahkan


pemiliknya."


Gigi Lingga gemeretuk pelan saat mendengar penuturan Ava.


Ia menyayangkan dirinya sendiri yang bahkan sampai selama ini ia tak bisa


menemui pengendara itu dan merebut mobilnya. Dan sekarang, melihat Ava yang


dengan ringannya mengatakan ia telah mengalahkan pengendara itu, entah mengapa


membuat hatinya memanas.


"Kalau begitu aku yang melawanmu, Ava." Ujar


Lingga.


"Kalau boleh tau, mobil apa yang kalian gunakan?


Mengingat disini ada dua mobil yang berbeda, membuatku harus menentukan


pertandingan yang imbang."


Madhiaz menoleh kearah Samuel saat pemuda itu


menyuarakan kembali atas pendapatnya. Jantungnya berdebar semakin kencang saat


merasakan aura Samuel yang begitu kuat.


"Aku, memakai GTR-34. Dan rekanku, Madhiaz,


memakai rx-7"


"AWD dan RWD ya? Sepertinya kita bisa bertanding


satu lawan satu."kata Samuel.


"Lalu, bagaimana kesepakatannya? Bisakah aku


melawan Ava?"


Ava tersenyum, mendengar nada bicara Lingga yang


terdengar tak sabar itu membuat ia ingin terkekeh geli. Sebegitu inginnyakah Lingga


melawan dirinya?


"AWD melawan AWD. Dan RWD melawan RWD. Aku


memakai Lan-Evo III. Jadi aku akan melawan GTR-34. Dan Ava, s15 melawan rx-7.


Kita bertanding dengan cara one by one. Aku bergerak kekanan,


dan Ava kekiri. Finishnya nanti ada dibawah puncak, tepat tempat parkir. Dan


disana sudah banyak yang menunggu." Putus Samuel.


Lingga ingin berontak dan mengatakan lagi jika ia


ingin melawan Ava. Namun itu di urungkannya. Mengingat Samuel telah menjabarkan


peraturan mereka dan ia membenarkan jika peraturan itu cukup imbang.


"Sebenarnya aku cukup kaget melihat kalian yang


datang. Kufikir akan ada mobil NSX merah disini." Lingga dan Madhiaz tak


bisa menahan rasa terkejut mereka. Mereka fikir, bagaimana bisa Samuel tau


tentang Farrand?


"Dia tak bisa datang." Ujar Madhiaz.


"Apa mobilnya rusak?" Tanya Samuel.


Samuel yang merasa tak puas atas jawaban Madhiaz,


ingin ia bertanya lebih jauh, namun akhirnya ia urungkan saat Madhiaz melanjutkan


ucapannya, "Kau bisa menantangnya saat musim dingin berakhir."


Samuel mengangguk. Namun ia masih tetap penasaran


tentang apa yg telah terjadi.


"Aku menantikan untuk bertanding


melawannya." Samuel tersenyum, namun Lingga yang melihatnya malah


memalingkan muka kesamping.


"Kalau kalian sudah selesai basa basinya, ayo


kita mulai." Ava, yang sedari tadi berdiam diri kini mengangkat suaranya


karena ia merasa bosan.


Ketiganya mengangguk pasti. Lalu mereka mengambil


posisi start masing-masing dan menyuruh salah satu penonton


untuk menghitung mundur waktu mulai.


"5.......4......3....." salah seorang


penonton mulai menghitung mundur, jantung Lingga berdegub kencang. Ia yang


telah mengambil posisi start bersebelahan dengan Samuel pun kini mencengkran


erat kemudi dengan tangan berkeringat.


Tak beda dengan Lingga, Madhiazpun begitu, posisinya


melangkah. Sebenarnya, ia benci mengakui ini. Fakta bahwa ia lemah jika


menghadapi makhluk bergender perempuan itu sangat sulit untuk ditampiknya.


Pantas saja tadi Farrand mengingatkannya untuk tak melihat gender, tapi tetap


saja, ia rasa hal ini adalah hal yang sulit.


"...2.....1............. GO!!!!!" Si penghitung


telah menurunkan tangannya tanda pertandingan telah dimulai. Lingga yang


memulai Start bersamaan dengan Samuel kini memimpin, entah apa yang


difikirkannya kini. Yang jelas dibalik kemudinya kini Samuel menyeringai tipis.


Lingga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh


dan sebisa mungkin meninggalkan Samuel jauh dibelakang. Fikirannya terasa


buntu. Kemunculan Ava yang memakai mobil s15 biru itu membuatnya kalang kabut.


Karena sedikit banyak Ava telah memutus harapannya untuk mengalahkan pengemudi


yang memberinya janji itu.


Lingga sedikit tersenyum saat melewati sepertiga jalan


tak menemukan Samuel dibelakangnya. Ia sebenarnya tak tau dengan apa yang


direncanakan Samuel. Tapi kembali ke perbincangannya dengan Farrand tadi, ia


sedikit mengingat bahwa ia harus menghemat pemakaian ban.


Dan hasilnya, Lingga membolakan matanya saat ia merasa


bodoh dengan asumsinya yang meninggalkan Samuel dibelakang dan melaju secepat


mungkin. Ia memukul pelan kemudinya, dan kegugupannya meningkat saat mendapati


mobil Samuel telah mendekatinya. Ia serasa kalut, bayangan kekalahan seperti


mengikutinya dan menempelinya dengan ketat.


Dalam kekalutannya kini, ia merasa kesepian dan sangat


mengharap jika Farrand ada disisinya dan memberikan saran untuknya. Ingin ia


mengambil ponsel dan menelpon Farrand, namun bayangan akan keadaan Farrand yang


buruk mau tak mau membuatnya mengurungkan lagi niat nya itu.


Saat Lingga masih bergelut dengan pemikirannya, Samuel


telah mengikis jarak diantara mereka. Dan sekarang ia telah mengambil aba-aba


untuk menyalip Lingga yang seperti kehilangan ritmenya.


Setelah mereka melalui dua per tiga lintasan, tangan Lingga


semakin basah oleh keringatnya. Ia tau ini terlalu berlebihan, namun ia tak


bisa lagi memikirkan cara untuk membuatnya berada diposisi yang sama hingga


akhir.


Sementara itu, Samuel yang berada tepat dibelakang Lingga


terkekeh pelan saat melihat mobil Lingga telah kehilangan sedikit cengkraman


bannya. Ia tau jika sekarang terdapat celah untuk menyalip, namun ia tak bisa


menyalip secepat mungkin sebelum finish didepan mata. Yah... ia memang


merencanakan hal ini sebelumnya dan ia ingin memberikan tekanan yang besar


kepada lawan-lawannya agar lawannya kehilangan mental. Terdengar picik, namun


semua bisa terjadi diarena balapan seperti ini. Baginya, pengalaman selama


menjadi pembalap pro dan berkali-kali mendapat lawan yang hebat adalah harta


berharga yang ia pertahankan hingga kini.


Dan seperti sekarang ini, melihat cara mengemudi Lingga


yang seperti tak berirama itu membuatnya mendengus geli. Satu lagi seorang


lawan yang belum berpengalaman jatuh kedalam perangkapnya. Dan ia merasa jika


kemenangan akan mutlak menjadi miliknya setelah pertandingan ini usai.


Dalam hati Samuel mensyukuri kendaraan yang ia punyai.


Lan-evo miliknya, yang seperti telah menyatu dengannya dan dengan


beberapa setting tambahan membuatnya begitu percaya diri.


Apalagi sistem Lan-Evo yang memang ditujukan untuk dikemudikan di jalanan salju


dan kontur berdebu. Meski sama-sama bersistem 4WD dengan GTR milik Lingga,


Lan-Evo miliknya masih bisa dikatakan lebih baik secara teknis.


Setelah keduanya sampai di tikungan kekiri jembatan


terakhir, Samuel mulai melancarkan serangannya. Ia menekan pedal gas dan


mengincar sisi dalam sari sudut menikung mobil Lingga yang telah sedikit


melebar akibat understeer. Lagi-lagi ia tersenyum puas. Ia telah


berhasil menyalip mobil Lingga dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang


menggila. Meninggalkan Lingga dibelakangnya dengan kondisi tertekan dan semakin

__ADS_1


kehilangan mentalnya.


Namun sebenarnya, dibalik senyum kepuasan Samuel, ia


tetap berharap banyak tentang seorang pembalap yang bisa mengalahkannya. Dan


sebenarnya, tadi ia sedikit kecewa saat tak mendapati mobil NSX merah itu


disepanjang jalan yang dilewatinya. Meski Madhiaz telah mengatakan padanya jika


ia bisa menantangnya setelah musim dingin, tetap saja hatinya tak tenang dan


diliputi rasa penasaran tak berujung. Jika saja ia bisa menemukan orang itu, ia


pasti akan menantangnya secara langsung dan membuat pertandingan menarik yang


akan ditonton oleh banyak orang seperti sekarang ini.


 


 


Wuuussshhhhhhhhh......


Sorak sorai penonton menggema disepanjang jalur finish di kaki


gunung itu. Laju mobil Samuel melambat, dan setelahnya datang mobil Lingga yang


juga melewati garis finish. Tapi itu percuma. Pemenang sudah


ditentukan dan Lingga telah kalah telak oleh seorang pendatang baru di area


itu.


Sesaat setelah sama-sama memarkirkan mobilnya, Samuel


dan Lingga keluar. Lingga yang telah kehilangan semangatnya hanya bisa berdiri


menyandar pada kap mobilnya yang sebentar lagi akan berpindah tangan. Ingin ia


menangis, namun airmatanya sebisa mungkin ia tahan agar tak jatuh.


 


 


Drrttt.... drrtttt...


Suara getar ponsel menarik atensinya, ia lantas mengambilnya dan mengangkat


panggilan itu tanpa melihat nama sipemanggil.


"Hallo...."


'Lingga,


bagaimana hasilnya?'


Lingga yang mengenali suara sipemanggil itu mendengus


pelan. Ia hanya bisa membatin, mengapa wanita itu memanggilnya sesaat setelah


balapan usai? Kebetulan atau firasatnya begitu tajam hingga tau waktu yang


tepat untuk memanggil?


"Aku kalah." Ucap Lingga dengan nada yang


sedikit pelan. Ia ingin terlihat tegar, namun hal itu sepertinya tak bisa ia


lakukan.


'Tunggu


aku. Aku akan kesana secepat mungkin.'


 


 


Tutt... tutt.... tutt....


Hei, Lingga bahkan belum sempat menjawabnya, tapi sipenelpon telah mematikan


sambungannya. Sebenarnya ia ingin melarangnya datang, namun ia tak kuasa dan


sepertinya tak mungkin bisa menghentikan kemauan kerasnya. Ia mengkhawatirkan


kondisi wanita itu, namun ia juga tak memungkiri jika ia membutuhkannya saat


ini. Biarlah, ia ingin sedikit egois untuk membiarkan Farrand datang kesini.


Lagipula, ia yakin pastilah Farrand datang dengan Sakura, mengingat temannya


itu sekarang sedang menginap dirumah Farrand.


Selang beberapa menit, Samuel datang menghampiri Lingga


yang sedang dilanda frustasi akut. Ia sedikit tersenyum, mengulurkan tangan


kanannya dan memberi sedikit salam.


"Aku datang ingin berbincang sebentar sambil


menunggu Ava yang masih balapan." Ujar Samuel. Lingga mengangguk, dan


setelahnya Samuel ikut bersandar disebelah Lingga.


"Kau tak lupa tentang taruhan kita, bukan?"


Lanjut Samuel.


"Tentu. Dan ini kesepakatannya."


 


 


Puk.....


Lingga melempar kunci mobilnya dan langsung sigap ditangkap oleh Samuel.


"Surat-suratnya ada dilaci. Aku mohon jaga


mobilku dengan baik." Terselip nada getir dari cara bicara Lingga. Matanya


memanas, namun ia tak ingin terlihat lemah saat ini.


"Terimakasih, dan tentu. Aku dan teman-temanku


akan menjaganya sebaik mungkin."


 


 


Fyuuhhh...


Lagi-lagi Lingga menghela nafas. Jika mungkin saat ini Farrand berada


disampingnya, wanita itu pasti akan mengomel akan sikapnya yang terus-menerus


menghela nafas seperti itu.


"Boleh kutau tujuanmu menakhlukkan daerah


ini?" Tanya Lingga.


"Aku ingin membentuk tim balap yang mumpuni.


Dengan mobil yang didapat dari hasil pertandingan dan tanpa meminta kepada


orang tua."


"Tapi jika seperti itu, bukankah terdengar


seperti menjarah mobil?"


Samuel terkekeh pelan, jika difikir-fikir lagi,


bukankah perkataan Lingga barusan itu ada benarnya juga? Apa bedanya ia dengan


penjarah mobil?


"Ya. Kurasa memang kami seperti itu." Jawab Samuel.


"Lalu mengapa harus Kota Falen tempat permulaan


kalian?"


"Karena di Kota Falen lah, banyak mobil


berkualitas yang bisa didapatkan."


"Apa kalian tak takut jika kalian dikalahkan?


Bukankah didalam balap liar sesuatu bisa saja terjadi?"


"Aku tau. Aku memilih Kota Falen karena di tempat


inilah data-data pembalap paling banyak yang bisa kudapatkan."


"Apa maksudmu?"


"Sepak terjangmu dan temanmu itu begitu mencolok,


kalian banyak mengikuti pertandingan dan banyak yang mengetahui tentang


itu."


"...." Lingga terdiam, jadi ia berfikir


hanya karena itu mereka tak ragu melangkah? Bukankah spertinya tindakan itu


terlalu sembrono?


"Jadi aku memulai semuanya disini karena aku


sudah tau teknik yang kalian pakai disetiap pertandingan. Namun kurasa, aku


sedikit kecewa karena kau tidak sekuat yang mereka perbincangkan."


 


 


Cih....


Lingga tau apa maksud dari perkataan pria berambut panjang disampingnya ini.


Dan entah mengapa hal itu kembali membuatnya mengingat Farrand. Tak mungkin


kan, jika ia mengatakan tentang Farrand yang membantunya menang kepada pria


disebelahnya ini?


"Anggap saja sekarang aku sedang tak


beruntung." Ucap Lingga kemudian.


Samuel menggeleng lemah. Ia tersenyum kecil, "Aku


ingin percaya pada keberuntungan. Namun yang selama ini aku alami sepertinya


bukan semata keberuntungan. Melainkan kematangan teknik untuk meraih


kemenangan."


'Cih... teknik katanya? Entah mengapa telingaku


sedikit panas mendengar ocehan tak bermutunya itu.' Batin


Lingga. Ia akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun sebuah mobil


yang mengambil tempat parkir disebelahnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk


bersuara.

__ADS_1


"Lingga....."


Tbc


__ADS_2