Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 25


__ADS_3

Setelah malam yang panjang itu, keduanya terlihat semakin akrab


seiring musim yang kian mendingin akibat salju telah turun. Dan seperti


sekarang ini, Farrand, sedang asyik-asyiknya berjalan menuju gerbang sekolah,


dikejutkan dengan kehadiran Lingga yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Aku tidak tau jika kau akan menggunakan gelang yang


kuberikan kemarin."


Wush.....


Nafas Lingga menerpa cuping telinga Farrand yang tak tertutupi


rambutnya dan membuat sensasi geli tersendiri untuk sang empunya. Hatinya


berdesir menerima perlakuan itu, dan ia tak memungkiri jika ia merasa senang


aka perlakuan Lingga, kekasihnya.


"Kau selalu mengagetkanku."


Terkejut.


Itulah yang Lingga rasakan saat ini. Bagaimana tidak? Penampilan


Farrand kini terlihat tidak seperti biasanya. Jika biasanya perempuan yang kini


berstatus menjadi kekasihnya itu memiliki penampilan sempurna, sekarang ia


terlihat.... er..... agak menyedihkan dengan pangkal hidung dan mata yang


memerah. Dan ia yakin, hidungnya pasti terlihat lebih merah andai saja tidak


tertutupi oleh masker.


"Kau sakit?"


Farrand menggeleng pelan, "aku sudah biasa seperti ini jika


musim mendingin. Aku selalu terkena flu." Jawabnya.


"Kau terlihat menyedihkan."


"Biarlah. Jika kau takut tertular, sana pergi. Menjauh


dariku." Ucap Farrand ketus. Bisa ia lihat pancaran mata dan tatapan tak


suka yang dilayangkan Lingga padanya.


Untung saja jalanan masih lenggang dan sepi, jadinya sikap


mereka yang terlihat terlalu dekat itu tidak banyak mengundang perhatian.


"H-hei... aku tidak bilang jika aku takut tertular."


Farrand tak menjawabnya, ia hanya memalingkan muka dan kemudian


berjalan secepat mungkin.


Lingga yang tak ingin ketinggalan pun berusaha menyusulnya


dengan mempercepat laju langkah kakinya. Setelah sejajar, ia menggandeng tangan


Farrand dan membawanya kepelukannya.


"Aku tidak tau jika kau tidak tahan dengan musim


dingin." Bisik Lingga.


"Dan kini sekarang kau tau kan?"


"Y-ya."


"Dan biar kuberitahu satu hal lagi tentang musim dingin


ini."


"..."


"Aku juga alergi dingin. Jadi, lepaskan tangan kiriku agar


aku bisa menggaruk tangan kananku yang gatal."


 


 


Set....


Farrand menghentakkan tangannya dengan kasar dan kemudian mulai menggaruk kecil


lengan kanannya. Nada bicaranya terdengar ketus sejak tadi. Dan hal itu membuat


Lingga mendengus dan menggelengkan kepalanya. Ia ingin tertawa, namun dengan


segera ia urungkan karena hal itu bisa membuat kekasihnya tersinggung.


"Aku selalu benci musim dingin." Gumam Farrand.


Gumaman Farrand yang hampir terdengar lirih itu masih bisa


tertangkap oleh indra pendengaran Lingga. Ia tersenyum kecil, dan kemudian


merengkuh pundak kecil Farrand kedalam pelukannya.


"Jangan jauh-jauh dariku. Dengan begini kau akan merasa


sedikit hangat." Bisik Lingga tepat di daun telinganya.


 


 


Blush.....


Rona merah menjalari wajah mulus Farrand. Dan tanpa Lingga sadari, Farrand


menggigit bibir bawahnya yang tertutupi oleh masker.


"Hatchhiiiiii...." Suara bersin terdengar, Lingga yang


kaget reflek melepas pelukannya dan terhuyung kesamping.


"Mengapa kau masih masuk jika kau merasa sakit seperti ini?


Seharusnya kau pulang saja dan istirahat dengan baik."


"Dan membiarkanmu kembali digoda wanita kelas sebelah itu?


Tidak. Lagipula hari ini ada tugas yang harus dikumpulkan jika ingin nilaiku


aman dan bisa lulus dengan nilai yang memuaskan."


"Demi tuhan, Fa. Dia hanya anak sebelah yang ditunjuk guru untuk menjadi partnerku


saat membacakan sambutan untuk kelulusan nanti."


"Kau tak peka. Melihatnya memandangmu dengan tatapan memuja


saja sudah membuatku cukup mengetahui jika dirinya tertarik padamu. Apalagi dia


juga lumayan sering hadir dipertandingan yang selalu kau ikuti."


"Dia memang selalu ada bahkan saat aku belum aku balapan


disini." Gerutu Lingga.


"Apa kau bilang?"


Gawat!!


Lingga melupakan satu hal jika berada dekat dengan Farrand,


jangan menggerutu atau dia akan mengamuk. Hal itulah yang seharusnya ia


tanamkan baik-baik dalam mindset nya.


"T-tidak."


"Jangan menggerutu dibelakangku. Aku tak suka."


"Hei... kemana sifat lemah lembut Farrandku yang


biasanya?"


"Kubuang. Jika tak suka. Kau boleh menjauhiku."


Lagi! Farrand lagi-lagi menjawab perkataan Lingga dengan nada


ketus yang sangat kentara. Dan jika boleh jujur, Lingga ingin diam saja jika


menghadapi sifat Farrand yang baginya mirip dengan ibu-ibu pemilik apartmen


yang sedang dalam masa iblisnya karena menagih uang sewa.


 


 


Dan sepertinya, ia juga harus menambahkan ini dalam catatan


pribadi khususnya.


-Farrand dan musim dingin, perpaduan yang sangat mengerikan.


"Mulai besok panjangkan saja rambutmu dan tata seperti


dulu." Ujar Farrand.


"Kenapa?"


"Aku tak suka saat mereka menatapmu seperti singa yang


menatap mangsanya. Menjijikkan."


"Hoo..... jadi ceritanya kekasihku ini sedang cemburu


rupanya. Tak apa. Aku akan memanjangkannya lagi dan memodelnya agar tak membuat


wajahku menjadi tampan."


"B-Berisik"


"Tenanglah Fa. Meski aku menjadi idola sekolah sekalipun,


aku tak akan berpaling pada gadis-gadis cantik diluar sana."


"Mimpi."


Farrand berjalan semakin cepat dan seperti berusaha meninggalkan


Lingga yang mulai jauh dibelakangnya. Lingga kelabakan, dan ia sedikit berlari


untuk mengejar Farrand.


"H-hei.... apa kau dalam masa periodemu lagi hingga


memperlakukanku seperti ini, Fa?"


Bukan hal aneh jika Lingga menanyakan hal itu pada Farrand, ia


hanya tak ingin salah langkah karena jika wanita itu berada dalam masa


periodenya, ia mejadi segalak macan betina yang menjaga anaknya. Dan ia


memiliki trauma sendiri akan hal itu.


 


 


Set....


Farrand berbalik, tatapan tajam ia layangkan ke arah Lingga dan dengan seketika


Lingga menghentikan langkahnya. Sebulir keringat mengalir dipelipisnya, dan ia


merasa aura mencekam seketika muncul disekitarnya.


"B-baiklah. Aku tak akan menanyakannya lagi. Ayo kita ke


kelas bersama."


 

__ADS_1


 


Bagus.


Lingga sedikit bernafas lega karena Farrand sudah sedikit lebih tenang. Jika ia


tau Farrand sedang dalam masa periodenya, tentulah ia tak akan bertindak


sembarangan dan berkata hal yang dapat membuatnya naik darah. Ia masih merasa


ngeri, sungguh! Kejadian dirumah sakit beberapa waktu yang lalu masihlah


terekam jelas di ingatannya hingga kini.


 


 


.


.


.


Sementara itu, di tempat lain...


Seorang wanita bersurai pirang pucat melangkahkan kaki


jenjangnya dengan anggun menuju sebuah salon ternama dipusat kota. Wajah


cantiknya seakan menghipnotis beberapa pasang mata pejalan kaki yang tidak


sengaja berpapasan dengannya. Ia tersenyum, setelah berhenti sejenak, dengan


dagu terangkat ia kembali berjalan dengan anggun melewati kerumunan masa yang


juga berjalan kaki sepertinya.


"Tunggu aku, Lingga sayang." Bisiknya.


 


 


.


.


.


Suasana kelas Farrand saat ini lebih ramai dari biasanya.


Sekarang jam terakhir sebelum istirahat, dan entah mengapa guru yang saat ini seharusnya


mengajar malah tak ada dan meninggalkan setumpuk tugas untuk dikerjakan.


Saat yang lain sibuk berceloteh, Farrand sibuk berdiam


memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke meja. Ia merasa pusing, flu


yang dideritanya saat ini cukup mampu membuatnya kewalahan. Apalagi ditambah


dengan gatal-gatal akibat alergi dinginnya, uh, membuatnya semakin merasa


tersiksa saja. Jika saja bedak untuk alerginya tak habis, ia mungkin tak akan


setersiksa sekarang, dan saat ke apotek untuk membelinya, sialnya stoknya masih


kosong. Untungnya, Lingga bersedia membantu mengerjakan sebagian tugasnya dan


ia bisa selesai lebih cepat. Bukan maksud hati ingin memanfaatkan Lingga, tapi Lingga


sendirilah yang menawarinya.


"Farrand, kau baik?" Nadeen menyenggol sedikit lengan Farrand


yang ia jadikan sebagai tumpuan kepalanya.


"Dibagian mana aku terlihat baik, Nadeen?"


"ASTAGA!" Nadeen memekik tertahan saat melihat Farrand


mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yg mulai kusut.


"Kau tak kedokter? Atau lebih enak jika kuantar ke UKS


saja?"


"Aku tak bisa kedokter sendirian. Tadi pagi ayahku sudah


berangkat saat aku masih memasak. Aku bahkan tak tau jika sekarang keadaanku


semakin memburuk."


"Mengapa tak menelfon Dhiaz saja. Atau kau bisa


menelpon kekasihmu itu untuk mengantar.."


"Dan membuatnya membolos sekolah? Tidak."


"Ya ampun, Rand.... kau


itu selalu berfikiran terlalu jauh."


"Aku hanya tak ingin merepotkan." Farrand kembali


membenamkan wajahnya kelekukan tangannya. Kepalanya terasa semakin berat, dan


ia mulai merasa kewalahan sekarang.


"Aku pinjam hp mu."


"Untuk apa?"


"Sudah pinjami saja." Farrand mengalah, dengan lemas


ia merogoh sakunya dan mengeluarkan hpnya dari sana. Setelah ia serahkan kepada


Nadeen, Nadeen memencet tombolnya dan terlihat seperti sedang menelpon


seseorang.


"hallo" Suara berat diseberang sana menyapa


indra pendengaran Nadeen.


"Tidak. Paman baru saja menyelesaikan pekerjaan


paman."


"Bagus. Kalau begitu jemput Farrand disekolah, dia sakit


dan dia tak mau ku ajak ke UKS."


"Apa? Sejak kapan? Baiklah. Aku akan kesana segera.


Tunggulah Nadeen."


Klik...


 


 


Nadeen menghembus nafas pelan setelah telponnya diputus sepihak. Ia tau,


kekeras kepalaan Farrand sekarang hanya bisa diluluhkan jika ayahnya yang


bertindak. Jadilah ia memutuskan untuk menelpon Nadeen. Ia tak heran, meski


memakai hp Farrand sekalipun, Arasya langsung mengenali suaranya. Hal itu


dikarenakan hanya Nadeenlah yang biasa menghubunginya untuk memberitahukan


keadaan Farrand.


"Aku sudah menelpon paman. Kau bersiaplah, Farrand."


Ucap Nadeen. Ia menepuk pelan pundak Farrand dan kemudian beranjak kembali kebangkunya.


"Mengapa kau menelpon ayah? Aku bisa pulang sendiri


nanti."


"Dan membuatmu pingsan ditengah jalan? Tidak. Nadeen,


antarlah ia kebawah untuk menemui paman Nadeen. Aku yang akan meminta izin


kepada Guru penjaga"


ucap Lingga menginterupsi omongan Farrand. Sedari tadi ia memang khawatir pada Farrand,


namun ia bingung harus bagaimana. Dan jadilah, ketika Nadeen menelpon ayah Farrand,


ia berinisiatif untuk meminta izinkan Farrand.


Nadeen mengangguk pelan. Ia merasa tak masalah, toh tugasnya


telah ia selesaikan dan jam mata pelajaran sudah hampir berakhir.


Dengan cepat Lingga keluar kelas dan menuju ruang guru. Diikuti


kemudian Nadeen yang memapah Farrand dan membawa tas nya. Farrand merasa tak


enak, selain ia telah merepotkan Nadeen dan Lingga, ia juga merasa telah


mengganggu pekerjaan ayahnya.


"Lain kali kalau kau merasa tidak enak badan, minta izin


saja tak usah sekolah." Cerca Nadeen.


"Maaf. Kukira flunya ringan seperti biasa, dan aku


berencana membeli obat di apotek setelah pulang sekolah nanti. Tapi tak


kusangka jika akhirnya bisa memburuk dengan cepat seperti ini. Ini flu terburuk


yang pernah kualami."


"Sudahlah. Yang penting saat ini kau bisa pulang dulu dan


istirahat. Paman pasti akan memanggilkan dokter untukmu."


"Aku harap juga begitu, Nadeen."


"Lihat. Bahkan paman sudah datang." Nada gembira


tersirat dari pekikan Nadeen saat melihat Nadeen datang dan menunggu digerbang.


Ia tersenyum, dilambaikannya tangan yang menganggur pada Nadeen. Nadeen


membalas dengan senyum menawannya, namun Farrand yang melihat hal itu hanya


bisa mendengus dan mengucutkan bibirnya.


"Kau seharusnya bilang pada ayah jika sedang tak enak


badan." Ujar Arasya. Tangannya dengan cekatan segera memindahkan Farrand


dari papahan Nadeen ke mobil merah yang dipakainya.


"Paman beli mobil?" Tanya Nadeen.


"Ya. Tapi mobil ini paman beli untuk Farrand."


"Heee.... jadi Farrand sekarang memakai mobil ini?"


"Ya. Tapi dia jarang memakainya. Jadi daripada menganggur,


paman pakai saja. Hehehe." Arasya memberikan cengiran kecilnya saat melihat


Nadeen yang terbengong dengan tidak elitnya.


"Kau harus segera sembuh agar aku bisa mentangmu


balapan." Ucap Nadeen dengan sedikit berbisik pada Farrand yang sudah


duduk di samping kemudi. Arasya yang melihatnya hanya tersenyum kecil.


"Sampai jumpa.


Nadeen. Terima kasih"


Nadeen melambaikan tangannya pada Nadeen saat mobil Arasya  melenggang pelan menjauhi gerbang sekolah. Nadeen


mengangguk dan balas tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Entah mengapa paman Arasya terlihat selalu menawan ya.


Kyaaa...." Nadeen terpekik histeris saat melihat mobil yang dipakai Farrand


dan Arasya melenggang menjauh dari kompleks sekolahnya.


 


 


.


.


.


Farrand membuka masker yang dipakainya sesaat setelah mobil yang


ayahnya kendarai sedikit jauh dari area sekolah. Ia raih selembar tissu yang


ada diatas dashboard mobilnya, meletakkan dihidungnya dan


mengeluarkan ingus yang sedari tadi ia tahan dikelas.


"Maaf, ayah."


"Tak apa. Seharusnya ayah yang meminta maaf, ayah tak


begitu memperhatikanmu sekarang. Hingga ayah lupa jika harus membeli obat untuk


jaga-jaga."


"Sebenarnya tadi pagi aku tak terlalu buruk. Jadi


kuputuskan untuk sekolah saja. Tapi tak kusangka jika aku memburuk secepat ini.


Selama yang kuingat, ini flu yang terburuk yang pernah ku alami."


"Sudahlah. Ayah semakin merasa bersalah jika kau terus


menyalahkan diri sendiri seperti ini. Ayah merasa gagal karena ayah tidak


memperhatikan kondisimu."


"Ayah....."


"Ayah antar kerumah sakit ya."


"JANGAN!!" Arasya refleks menoleh kearah Farrand


akibat teriakan Farrand yang tiba-tiba itu. Bahkan, ia hampir saja menginjak


pedal rem dalam-dalam dan membuat lalu lintas menjadi macet.


"Kenapa?"


"Aku tak suka rumah sakit. Ayah panggil saja dokter


kerumah. Aku akan jadi anak baik dan menuruti semua perintah ayah."


"Hooo.... benarkah?"


"Ya..."


"Termasuk ayah yang akan merawatmu secara pribadi?"


"Lalu bagaimana pekerjaan ayah?"


"Bisa ditinggal. Lagipula sudah tidak terlalu sibuk."


Arasya bohong, dan untunglah ia berkata dengan nada senatural


mungkin agar Farrand tidak menyadarinya. Farrand kini adalah prioritasnya, jadi


tidak mungkin ia akan meninggalkan Farrand yang sedang sakit seperti ini


sendirian.


"Tapi ayah kan tidak mungkin menungguku setiap waktu. Ayah


bisa bekerja seperti biasa. Dan aku bisa istirahat dengan tenang."


"Kita bicarakan itu nanti."


 


 


Farrand mengangguk.


Tak lama ia kembali bersin dan mengelap ingus yang keluar. Melihatnya, Arasya


hanya bisa menatap Farrand dengan tatapa  prihatin.


"Ngomong-ngomong, ayah mendengar sesuatu yang mengejutkan


tengah terjadi."


"Sesuatu? Apa itu?"


"Ayah dengan dari paman Mirza, jika ada yang membentuk tim


balap disini. Mereka bukan orang asli sini. Hanya pendatang dan ingin menguasai


arena balap Kota Fallen."


"Siapa mereka?"


"Paman Mirza tak memberi penjelasan secara rinci. Dia hanya


mengatakan jika ia mulai khawatir, ada berita yang mengatakan mereka bergerak


secara pelan namun pasti."


"Pelan namun pasti?"


"Ya. Mereka memang tak memakai kekerasan. Namun cara mereka


bertaruh diarena itu yang membuat resah."


"Memang apa yang dipertaruhkan mereka, ayah?"


"Mereka bertaruh mobil untuk setiap pertandingan yang


diadakan."


"...."


"Yang kalah harus menyerahkan mobil yang dipakai kepada


pemenang. Tentu saja, beserta surat lengkapnya."


"Gila. Pertaruhan yang berani."


"Kau benar. Dan beberapa orang sudah kalah. Termasuk


pengendara yang dulu pernah mencelakakanmu dan Lingga."


"Maksud ayah, pengendara yang menyamar sebagai ayah waktu


itu?"


"Benar. Dan mobilnya kini telah dipakai oleh salah satu


pengendaranya."


"Lalu mengapa mereka membentuk tim itu disini? Mengapa


tidak tempat lain saja? Halu, mungkin? Bukankah disana lebih potensial daripada


disini?"


"Kau benar. Itu masih menjadi misteri. Menurut Mirza,


kemungkinan mereka masih menyusun kekuatan untuk pergi kedaerah lain."


"Apa mereka memiliki banyak anggota?"


"Ya. Yang kudengar juga mereka awalnya sekelompok pemuda


pemudi yang hanya bermodalkan satu mobil untuk balapan. Dan mobil yang


diperoleh dari balapan mereka pakaikan kepada anggota yang belum memiliki


mobil."


"Jadi mereka tim tak bermodal, eh?"


"Kira-kira begitulah."


"Lalu bagaimana dengan De Yuna? Sebagai


organisasi tua yang menyelenggarakan acara balapan, mereka seharusnya turun


tangan bukan? Bagaimanapun juga balapan di beberapa daerah di distrik Kage ini


mereka yang memegang kendali atasnya."


"Mereka hanya diam. Dan mereka mengkonfirmasi jika itu


bukanlah wewenang mereka."


"Aku tak tau harus bagaimana, ayah. Menurut ayah? Apakah


aku harus ikut?"


"Kurasa jangan. Ayah rasa pergerakan mereka masihlah wajar.


Pertaruhan itu tidak akan terjadi tanpa persetujuan kedua belah pihak. Dan


mereka tidak melakukan tindak kekerasan sama sekali."


"Ne, ayah. Ayah tidak ingin mencoba bertarung melawan


mereka? Menurutku sudah lama ayah tidak balapan, bukan?"


"hey... hey.... Farrand sayang. Ayah sudah terlalu tua


untuk bertarung melawan mereka yang masih muda. Bukankah seharusnya ayah yang


menanyakan itu padamu? Kau punya potensi, dan ayah juga sudah membelikanmu


mobil ini."


"Entahlah ayah, aku merasa masih belum percaya diri untuk


melakukan pertaruhan. Ayah tau sendiri jika aku masih belum matang dan


berpengalaman tentang teknik mengemudi."


"Kau benar. Kalau kau butuh sesuatu, bilang ayah, ya. Jika


kau butuh mobil lebih yang lebih baik pun, akan ayah belikan untukmu."


"Untuk sementara aku masih menyayangi mobil ini."


"Berarti ayah harus membeli mobil ayah sendiri."


"Lalu silvia itu? Mau ayah kemanakan?"


"Hm..... itu kn mobil untuk balapan. Maksud ayah, mobil


sedan yang bisa ayah kemudikan sehari-hari untuk kekantor."


"Ouch...."


Saking larutnya mereka dalam obrolan ringan, mereka berdua tak


sadar jika mereka telah sampai dikompleks yang mereka tinggali.


"Ayo, ayah gendong." Nadeen turun dan menyodorkan


punggungnya kepada Farrand, bermaksud untuk menggendong putrinya itu.


"Aku sudah besar, ayah."


"Tapi ayah masih menganggapmu putri kecil ayah yang selalu


ayah gendong."


Farrand mengucutkan bibirnya kesal. Tapi tanpa membantah ia naik


kepunggung ayahnya dan merebahkan kepalanya kepunggung ayahnya. Ia rindu hal


itu. Dan tanpa ia sadari, Arasya tersenyum kecil saat menggendongnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2