
Setelah malam yang panjang itu, keduanya terlihat semakin akrab
seiring musim yang kian mendingin akibat salju telah turun. Dan seperti
sekarang ini, Farrand, sedang asyik-asyiknya berjalan menuju gerbang sekolah,
dikejutkan dengan kehadiran Lingga yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku tidak tau jika kau akan menggunakan gelang yang
kuberikan kemarin."
Wush.....
Nafas Lingga menerpa cuping telinga Farrand yang tak tertutupi
rambutnya dan membuat sensasi geli tersendiri untuk sang empunya. Hatinya
berdesir menerima perlakuan itu, dan ia tak memungkiri jika ia merasa senang
aka perlakuan Lingga, kekasihnya.
"Kau selalu mengagetkanku."
Terkejut.
Itulah yang Lingga rasakan saat ini. Bagaimana tidak? Penampilan
Farrand kini terlihat tidak seperti biasanya. Jika biasanya perempuan yang kini
berstatus menjadi kekasihnya itu memiliki penampilan sempurna, sekarang ia
terlihat.... er..... agak menyedihkan dengan pangkal hidung dan mata yang
memerah. Dan ia yakin, hidungnya pasti terlihat lebih merah andai saja tidak
tertutupi oleh masker.
"Kau sakit?"
Farrand menggeleng pelan, "aku sudah biasa seperti ini jika
musim mendingin. Aku selalu terkena flu." Jawabnya.
"Kau terlihat menyedihkan."
"Biarlah. Jika kau takut tertular, sana pergi. Menjauh
dariku." Ucap Farrand ketus. Bisa ia lihat pancaran mata dan tatapan tak
suka yang dilayangkan Lingga padanya.
Untung saja jalanan masih lenggang dan sepi, jadinya sikap
mereka yang terlihat terlalu dekat itu tidak banyak mengundang perhatian.
"H-hei... aku tidak bilang jika aku takut tertular."
Farrand tak menjawabnya, ia hanya memalingkan muka dan kemudian
berjalan secepat mungkin.
Lingga yang tak ingin ketinggalan pun berusaha menyusulnya
dengan mempercepat laju langkah kakinya. Setelah sejajar, ia menggandeng tangan
Farrand dan membawanya kepelukannya.
"Aku tidak tau jika kau tidak tahan dengan musim
dingin." Bisik Lingga.
"Dan kini sekarang kau tau kan?"
"Y-ya."
"Dan biar kuberitahu satu hal lagi tentang musim dingin
ini."
"..."
"Aku juga alergi dingin. Jadi, lepaskan tangan kiriku agar
aku bisa menggaruk tangan kananku yang gatal."
Set....
Farrand menghentakkan tangannya dengan kasar dan kemudian mulai menggaruk kecil
lengan kanannya. Nada bicaranya terdengar ketus sejak tadi. Dan hal itu membuat
Lingga mendengus dan menggelengkan kepalanya. Ia ingin tertawa, namun dengan
segera ia urungkan karena hal itu bisa membuat kekasihnya tersinggung.
"Aku selalu benci musim dingin." Gumam Farrand.
Gumaman Farrand yang hampir terdengar lirih itu masih bisa
tertangkap oleh indra pendengaran Lingga. Ia tersenyum kecil, dan kemudian
merengkuh pundak kecil Farrand kedalam pelukannya.
"Jangan jauh-jauh dariku. Dengan begini kau akan merasa
sedikit hangat." Bisik Lingga tepat di daun telinganya.
Blush.....
Rona merah menjalari wajah mulus Farrand. Dan tanpa Lingga sadari, Farrand
menggigit bibir bawahnya yang tertutupi oleh masker.
"Hatchhiiiiii...." Suara bersin terdengar, Lingga yang
kaget reflek melepas pelukannya dan terhuyung kesamping.
"Mengapa kau masih masuk jika kau merasa sakit seperti ini?
Seharusnya kau pulang saja dan istirahat dengan baik."
"Dan membiarkanmu kembali digoda wanita kelas sebelah itu?
Tidak. Lagipula hari ini ada tugas yang harus dikumpulkan jika ingin nilaiku
aman dan bisa lulus dengan nilai yang memuaskan."
"Demi tuhan, Fa. Dia hanya anak sebelah yang ditunjuk guru untuk menjadi partnerku
saat membacakan sambutan untuk kelulusan nanti."
"Kau tak peka. Melihatnya memandangmu dengan tatapan memuja
saja sudah membuatku cukup mengetahui jika dirinya tertarik padamu. Apalagi dia
juga lumayan sering hadir dipertandingan yang selalu kau ikuti."
"Dia memang selalu ada bahkan saat aku belum aku balapan
disini." Gerutu Lingga.
"Apa kau bilang?"
Gawat!!
Lingga melupakan satu hal jika berada dekat dengan Farrand,
jangan menggerutu atau dia akan mengamuk. Hal itulah yang seharusnya ia
tanamkan baik-baik dalam mindset nya.
"T-tidak."
"Jangan menggerutu dibelakangku. Aku tak suka."
"Hei... kemana sifat lemah lembut Farrandku yang
biasanya?"
"Kubuang. Jika tak suka. Kau boleh menjauhiku."
Lagi! Farrand lagi-lagi menjawab perkataan Lingga dengan nada
ketus yang sangat kentara. Dan jika boleh jujur, Lingga ingin diam saja jika
menghadapi sifat Farrand yang baginya mirip dengan ibu-ibu pemilik apartmen
yang sedang dalam masa iblisnya karena menagih uang sewa.
Dan sepertinya, ia juga harus menambahkan ini dalam catatan
pribadi khususnya.
-Farrand dan musim dingin, perpaduan yang sangat mengerikan.
"Mulai besok panjangkan saja rambutmu dan tata seperti
dulu." Ujar Farrand.
"Kenapa?"
"Aku tak suka saat mereka menatapmu seperti singa yang
menatap mangsanya. Menjijikkan."
"Hoo..... jadi ceritanya kekasihku ini sedang cemburu
rupanya. Tak apa. Aku akan memanjangkannya lagi dan memodelnya agar tak membuat
wajahku menjadi tampan."
"B-Berisik"
"Tenanglah Fa. Meski aku menjadi idola sekolah sekalipun,
aku tak akan berpaling pada gadis-gadis cantik diluar sana."
"Mimpi."
Farrand berjalan semakin cepat dan seperti berusaha meninggalkan
Lingga yang mulai jauh dibelakangnya. Lingga kelabakan, dan ia sedikit berlari
untuk mengejar Farrand.
"H-hei.... apa kau dalam masa periodemu lagi hingga
memperlakukanku seperti ini, Fa?"
Bukan hal aneh jika Lingga menanyakan hal itu pada Farrand, ia
hanya tak ingin salah langkah karena jika wanita itu berada dalam masa
periodenya, ia mejadi segalak macan betina yang menjaga anaknya. Dan ia
memiliki trauma sendiri akan hal itu.
Set....
Farrand berbalik, tatapan tajam ia layangkan ke arah Lingga dan dengan seketika
Lingga menghentikan langkahnya. Sebulir keringat mengalir dipelipisnya, dan ia
merasa aura mencekam seketika muncul disekitarnya.
"B-baiklah. Aku tak akan menanyakannya lagi. Ayo kita ke
kelas bersama."
__ADS_1
Bagus.
Lingga sedikit bernafas lega karena Farrand sudah sedikit lebih tenang. Jika ia
tau Farrand sedang dalam masa periodenya, tentulah ia tak akan bertindak
sembarangan dan berkata hal yang dapat membuatnya naik darah. Ia masih merasa
ngeri, sungguh! Kejadian dirumah sakit beberapa waktu yang lalu masihlah
terekam jelas di ingatannya hingga kini.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain...
Seorang wanita bersurai pirang pucat melangkahkan kaki
jenjangnya dengan anggun menuju sebuah salon ternama dipusat kota. Wajah
cantiknya seakan menghipnotis beberapa pasang mata pejalan kaki yang tidak
sengaja berpapasan dengannya. Ia tersenyum, setelah berhenti sejenak, dengan
dagu terangkat ia kembali berjalan dengan anggun melewati kerumunan masa yang
juga berjalan kaki sepertinya.
"Tunggu aku, Lingga sayang." Bisiknya.
.
.
.
Suasana kelas Farrand saat ini lebih ramai dari biasanya.
Sekarang jam terakhir sebelum istirahat, dan entah mengapa guru yang saat ini seharusnya
mengajar malah tak ada dan meninggalkan setumpuk tugas untuk dikerjakan.
Saat yang lain sibuk berceloteh, Farrand sibuk berdiam
memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya ke meja. Ia merasa pusing, flu
yang dideritanya saat ini cukup mampu membuatnya kewalahan. Apalagi ditambah
dengan gatal-gatal akibat alergi dinginnya, uh, membuatnya semakin merasa
tersiksa saja. Jika saja bedak untuk alerginya tak habis, ia mungkin tak akan
setersiksa sekarang, dan saat ke apotek untuk membelinya, sialnya stoknya masih
kosong. Untungnya, Lingga bersedia membantu mengerjakan sebagian tugasnya dan
ia bisa selesai lebih cepat. Bukan maksud hati ingin memanfaatkan Lingga, tapi Lingga
sendirilah yang menawarinya.
"Farrand, kau baik?" Nadeen menyenggol sedikit lengan Farrand
yang ia jadikan sebagai tumpuan kepalanya.
"Dibagian mana aku terlihat baik, Nadeen?"
"ASTAGA!" Nadeen memekik tertahan saat melihat Farrand
mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yg mulai kusut.
"Kau tak kedokter? Atau lebih enak jika kuantar ke UKS
saja?"
"Aku tak bisa kedokter sendirian. Tadi pagi ayahku sudah
berangkat saat aku masih memasak. Aku bahkan tak tau jika sekarang keadaanku
semakin memburuk."
"Mengapa tak menelfon Dhiaz saja. Atau kau bisa
menelpon kekasihmu itu untuk mengantar.."
"Dan membuatnya membolos sekolah? Tidak."
"Ya ampun, Rand.... kau
itu selalu berfikiran terlalu jauh."
"Aku hanya tak ingin merepotkan." Farrand kembali
membenamkan wajahnya kelekukan tangannya. Kepalanya terasa semakin berat, dan
ia mulai merasa kewalahan sekarang.
"Aku pinjam hp mu."
"Untuk apa?"
"Sudah pinjami saja." Farrand mengalah, dengan lemas
ia merogoh sakunya dan mengeluarkan hpnya dari sana. Setelah ia serahkan kepada
Nadeen, Nadeen memencet tombolnya dan terlihat seperti sedang menelpon
seseorang.
"hallo" Suara berat diseberang sana menyapa
indra pendengaran Nadeen.
"Tidak. Paman baru saja menyelesaikan pekerjaan
paman."
"Bagus. Kalau begitu jemput Farrand disekolah, dia sakit
dan dia tak mau ku ajak ke UKS."
"Apa? Sejak kapan? Baiklah. Aku akan kesana segera.
Tunggulah Nadeen."
Klik...
Nadeen menghembus nafas pelan setelah telponnya diputus sepihak. Ia tau,
kekeras kepalaan Farrand sekarang hanya bisa diluluhkan jika ayahnya yang
bertindak. Jadilah ia memutuskan untuk menelpon Nadeen. Ia tak heran, meski
memakai hp Farrand sekalipun, Arasya langsung mengenali suaranya. Hal itu
dikarenakan hanya Nadeenlah yang biasa menghubunginya untuk memberitahukan
keadaan Farrand.
"Aku sudah menelpon paman. Kau bersiaplah, Farrand."
Ucap Nadeen. Ia menepuk pelan pundak Farrand dan kemudian beranjak kembali kebangkunya.
"Mengapa kau menelpon ayah? Aku bisa pulang sendiri
nanti."
"Dan membuatmu pingsan ditengah jalan? Tidak. Nadeen,
antarlah ia kebawah untuk menemui paman Nadeen. Aku yang akan meminta izin
kepada Guru penjaga"
ucap Lingga menginterupsi omongan Farrand. Sedari tadi ia memang khawatir pada Farrand,
namun ia bingung harus bagaimana. Dan jadilah, ketika Nadeen menelpon ayah Farrand,
ia berinisiatif untuk meminta izinkan Farrand.
Nadeen mengangguk pelan. Ia merasa tak masalah, toh tugasnya
telah ia selesaikan dan jam mata pelajaran sudah hampir berakhir.
Dengan cepat Lingga keluar kelas dan menuju ruang guru. Diikuti
kemudian Nadeen yang memapah Farrand dan membawa tas nya. Farrand merasa tak
enak, selain ia telah merepotkan Nadeen dan Lingga, ia juga merasa telah
mengganggu pekerjaan ayahnya.
"Lain kali kalau kau merasa tidak enak badan, minta izin
saja tak usah sekolah." Cerca Nadeen.
"Maaf. Kukira flunya ringan seperti biasa, dan aku
berencana membeli obat di apotek setelah pulang sekolah nanti. Tapi tak
kusangka jika akhirnya bisa memburuk dengan cepat seperti ini. Ini flu terburuk
yang pernah kualami."
"Sudahlah. Yang penting saat ini kau bisa pulang dulu dan
istirahat. Paman pasti akan memanggilkan dokter untukmu."
"Aku harap juga begitu, Nadeen."
"Lihat. Bahkan paman sudah datang." Nada gembira
tersirat dari pekikan Nadeen saat melihat Nadeen datang dan menunggu digerbang.
Ia tersenyum, dilambaikannya tangan yang menganggur pada Nadeen. Nadeen
membalas dengan senyum menawannya, namun Farrand yang melihat hal itu hanya
bisa mendengus dan mengucutkan bibirnya.
"Kau seharusnya bilang pada ayah jika sedang tak enak
badan." Ujar Arasya. Tangannya dengan cekatan segera memindahkan Farrand
dari papahan Nadeen ke mobil merah yang dipakainya.
"Paman beli mobil?" Tanya Nadeen.
"Ya. Tapi mobil ini paman beli untuk Farrand."
"Heee.... jadi Farrand sekarang memakai mobil ini?"
"Ya. Tapi dia jarang memakainya. Jadi daripada menganggur,
paman pakai saja. Hehehe." Arasya memberikan cengiran kecilnya saat melihat
Nadeen yang terbengong dengan tidak elitnya.
"Kau harus segera sembuh agar aku bisa mentangmu
balapan." Ucap Nadeen dengan sedikit berbisik pada Farrand yang sudah
duduk di samping kemudi. Arasya yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Sampai jumpa.
Nadeen. Terima kasih"
Nadeen melambaikan tangannya pada Nadeen saat mobil Arasya melenggang pelan menjauhi gerbang sekolah. Nadeen
mengangguk dan balas tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Entah mengapa paman Arasya terlihat selalu menawan ya.
Kyaaa...." Nadeen terpekik histeris saat melihat mobil yang dipakai Farrand
dan Arasya melenggang menjauh dari kompleks sekolahnya.
.
.
.
Farrand membuka masker yang dipakainya sesaat setelah mobil yang
ayahnya kendarai sedikit jauh dari area sekolah. Ia raih selembar tissu yang
ada diatas dashboard mobilnya, meletakkan dihidungnya dan
mengeluarkan ingus yang sedari tadi ia tahan dikelas.
"Maaf, ayah."
"Tak apa. Seharusnya ayah yang meminta maaf, ayah tak
begitu memperhatikanmu sekarang. Hingga ayah lupa jika harus membeli obat untuk
jaga-jaga."
"Sebenarnya tadi pagi aku tak terlalu buruk. Jadi
kuputuskan untuk sekolah saja. Tapi tak kusangka jika aku memburuk secepat ini.
Selama yang kuingat, ini flu yang terburuk yang pernah ku alami."
"Sudahlah. Ayah semakin merasa bersalah jika kau terus
menyalahkan diri sendiri seperti ini. Ayah merasa gagal karena ayah tidak
memperhatikan kondisimu."
"Ayah....."
"Ayah antar kerumah sakit ya."
"JANGAN!!" Arasya refleks menoleh kearah Farrand
akibat teriakan Farrand yang tiba-tiba itu. Bahkan, ia hampir saja menginjak
pedal rem dalam-dalam dan membuat lalu lintas menjadi macet.
"Kenapa?"
"Aku tak suka rumah sakit. Ayah panggil saja dokter
kerumah. Aku akan jadi anak baik dan menuruti semua perintah ayah."
"Hooo.... benarkah?"
"Ya..."
"Termasuk ayah yang akan merawatmu secara pribadi?"
"Lalu bagaimana pekerjaan ayah?"
"Bisa ditinggal. Lagipula sudah tidak terlalu sibuk."
Arasya bohong, dan untunglah ia berkata dengan nada senatural
mungkin agar Farrand tidak menyadarinya. Farrand kini adalah prioritasnya, jadi
tidak mungkin ia akan meninggalkan Farrand yang sedang sakit seperti ini
sendirian.
"Tapi ayah kan tidak mungkin menungguku setiap waktu. Ayah
bisa bekerja seperti biasa. Dan aku bisa istirahat dengan tenang."
"Kita bicarakan itu nanti."
Farrand mengangguk.
Tak lama ia kembali bersin dan mengelap ingus yang keluar. Melihatnya, Arasya
hanya bisa menatap Farrand dengan tatapa prihatin.
"Ngomong-ngomong, ayah mendengar sesuatu yang mengejutkan
tengah terjadi."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Ayah dengan dari paman Mirza, jika ada yang membentuk tim
balap disini. Mereka bukan orang asli sini. Hanya pendatang dan ingin menguasai
arena balap Kota Fallen."
"Siapa mereka?"
"Paman Mirza tak memberi penjelasan secara rinci. Dia hanya
mengatakan jika ia mulai khawatir, ada berita yang mengatakan mereka bergerak
secara pelan namun pasti."
"Pelan namun pasti?"
"Ya. Mereka memang tak memakai kekerasan. Namun cara mereka
bertaruh diarena itu yang membuat resah."
"Memang apa yang dipertaruhkan mereka, ayah?"
"Mereka bertaruh mobil untuk setiap pertandingan yang
diadakan."
"...."
"Yang kalah harus menyerahkan mobil yang dipakai kepada
pemenang. Tentu saja, beserta surat lengkapnya."
"Gila. Pertaruhan yang berani."
"Kau benar. Dan beberapa orang sudah kalah. Termasuk
pengendara yang dulu pernah mencelakakanmu dan Lingga."
"Maksud ayah, pengendara yang menyamar sebagai ayah waktu
itu?"
"Benar. Dan mobilnya kini telah dipakai oleh salah satu
pengendaranya."
"Lalu mengapa mereka membentuk tim itu disini? Mengapa
tidak tempat lain saja? Halu, mungkin? Bukankah disana lebih potensial daripada
disini?"
"Kau benar. Itu masih menjadi misteri. Menurut Mirza,
kemungkinan mereka masih menyusun kekuatan untuk pergi kedaerah lain."
"Apa mereka memiliki banyak anggota?"
"Ya. Yang kudengar juga mereka awalnya sekelompok pemuda
pemudi yang hanya bermodalkan satu mobil untuk balapan. Dan mobil yang
diperoleh dari balapan mereka pakaikan kepada anggota yang belum memiliki
mobil."
"Jadi mereka tim tak bermodal, eh?"
"Kira-kira begitulah."
"Lalu bagaimana dengan De Yuna? Sebagai
organisasi tua yang menyelenggarakan acara balapan, mereka seharusnya turun
tangan bukan? Bagaimanapun juga balapan di beberapa daerah di distrik Kage ini
mereka yang memegang kendali atasnya."
"Mereka hanya diam. Dan mereka mengkonfirmasi jika itu
bukanlah wewenang mereka."
"Aku tak tau harus bagaimana, ayah. Menurut ayah? Apakah
aku harus ikut?"
"Kurasa jangan. Ayah rasa pergerakan mereka masihlah wajar.
Pertaruhan itu tidak akan terjadi tanpa persetujuan kedua belah pihak. Dan
mereka tidak melakukan tindak kekerasan sama sekali."
"Ne, ayah. Ayah tidak ingin mencoba bertarung melawan
mereka? Menurutku sudah lama ayah tidak balapan, bukan?"
"hey... hey.... Farrand sayang. Ayah sudah terlalu tua
untuk bertarung melawan mereka yang masih muda. Bukankah seharusnya ayah yang
menanyakan itu padamu? Kau punya potensi, dan ayah juga sudah membelikanmu
mobil ini."
"Entahlah ayah, aku merasa masih belum percaya diri untuk
melakukan pertaruhan. Ayah tau sendiri jika aku masih belum matang dan
berpengalaman tentang teknik mengemudi."
"Kau benar. Kalau kau butuh sesuatu, bilang ayah, ya. Jika
kau butuh mobil lebih yang lebih baik pun, akan ayah belikan untukmu."
"Untuk sementara aku masih menyayangi mobil ini."
"Berarti ayah harus membeli mobil ayah sendiri."
"Lalu silvia itu? Mau ayah kemanakan?"
"Hm..... itu kn mobil untuk balapan. Maksud ayah, mobil
sedan yang bisa ayah kemudikan sehari-hari untuk kekantor."
"Ouch...."
Saking larutnya mereka dalam obrolan ringan, mereka berdua tak
sadar jika mereka telah sampai dikompleks yang mereka tinggali.
"Ayo, ayah gendong." Nadeen turun dan menyodorkan
punggungnya kepada Farrand, bermaksud untuk menggendong putrinya itu.
"Aku sudah besar, ayah."
"Tapi ayah masih menganggapmu putri kecil ayah yang selalu
ayah gendong."
Farrand mengucutkan bibirnya kesal. Tapi tanpa membantah ia naik
kepunggung ayahnya dan merebahkan kepalanya kepunggung ayahnya. Ia rindu hal
itu. Dan tanpa ia sadari, Arasya tersenyum kecil saat menggendongnya.
Tbc
__ADS_1