
Samuel masih tak percaya dengan apa yang telah ia lihat
sebelumnya. Ia telah dikalahkan oleh orang yang tak ia ketahui asal usul dan
tidak pula ada yang memberinya data rinci. Semalam, setelah ia disalip
ditikungan itu, ia berusaha mengikuti meski jaraknya agak jauh. Dan yah.... ia
memang berhasil mengikutinya, tapi sungguh! Apa yang ia lihat dan dapatkan tak
seperti apa yang telah dipikirkannya.
Ia memang sempat melihat seorang pria, yang ia taksir mungkin
berumur hampir 30 tahunan memasuki mobil NSX merah itu setelah keluar dari
apotek di bawah bukit. Pria itu bersurai cepak agak kecoklatan dan terlihat
tergesa-gesa. Dan benar, saat ia lihat plat nomornya, plat nomornya sama dengan
mobil yang telah menyalipnya dibukit.
Ketika ia pulang dan memberi tahukan kepada teman-temannya,
mereka mengernyit heran memandang Samuel. Karena yang mereka ketahui, pengemudi
NSX itu hanya menang sekali dan itupun karena kebetulan. Tidak mungkin bukan,
orang yang bisa menang sekali bisa mengalahkan Samuel yang telah puluhan kali
memenangkan pertandingan?
Karena tidak puas dengan yang ia peroleh, ia keluar.
Meninggalkan teman-temannya di basement dan pergi ke
sebuah cafe untuk menenangkan diri sambil ditemani secangkir
kopi hitam atau teh hijau. Namun hari masihlah teramat dini, dan ia cukup
kesulitan menemukan cafe yang buka.
Setelah setengah jam berlalu dan ia tak menemukan satupun cafe yang
buka, ia putuskan ketaman saja. Mungkin tidaklah buruk jika ia berjalan-jalan
ditaman sambil menikmati segarnya udara pagi yang masih bersih. Urusan
pengemudi NSX itu, biarlah ia urus nanti. Toh, nanti saat balapan mobil itu
akan muncul dengan sendirinya.
.
.
.
Ava melangkahkan kakinya dengan riang sambil sesekali
bersenandung ria. Hari ini hari pertamanya masuk kelas. Dan kini ia tengah
berjalan menuju ruang kelas karena kemarin saat mendaftar ia telah diberitahu
akan masuk kelas mana.
Ia tak begitu kesulitan untuk menemukan ruang kelasnya karena ia
telah diberitahu tata letaknya oleh satpam digerbang. Lagipula bel sudah
berbunyi, jadi koridor kelas telah sepi dan lenggang.
Setelah menemukan plat nomor kelasnya, ia tersenyum semakin
lebar. Ia ketuk perlahan pintu geser kelas itu, dan masuk ketika guru yang mengajar
memberi aba-aba dirinya agar masuk.
"Maafkan saya
karena terlambat. Tadi salah masuk kereta karena belum
mengetahui rute mana yang di ambil." Ucapnya sambil sedikit menunduk.
Sebenarnya bukan salah masuk kereta, namun ia terlalu semangat hingga tidur
terlalu larut dan bangun terlalu siang.
Guru wanita berambut hitam panjang bermata
merah, yang ia ketahui kemarin bernama Naomi itu mengangguk pelan. Ia lantas
memberi isyarat untuk Ava berdiri dan memperkenalkan dirinya.
Ia berdiri dengan tegak dan anggun disaat yang bersamaan. Ia
edarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas, lalu seulas senyum ia sunggingkan
saat menemukan sesuatu yang menarik dimatanya.
"Halo semua,
perkenalkan namaku Ava Elios. Salam kenal, semoga kita bisa berteman dengan
baik.” Ucapnya.
Beberapa pria menatapnya dengan wajah memerah, merasa terpesona
dengan paras dan sikap anggun Ava. Berbeda dengan Lingga, pria itu tak begitu
memperhatikan karena sibuk dengan buku yang dibacanya.
"Hey?Apa
itu Lingga?"
Beberapa pasang mata menoleh kearah Lingga yang duduk paling
belakang setelah namanya disebut oleh Ava. Merasa diperhatikan, Lingga
mengalihkan pandangannya dan mengedarkannya ke penjuru kelas. Sesaat ia
terpaku, namun ia kembali menguasai diri saat melihat Ava berdiri didepan
kelas.
"Kau mengenal Lingga?" Tanya
Naomi.
Wajah Ava bersemu merah, ia lantas menangkupkan kedua tangannya
__ADS_1
kepipi, membuat hidung beberapa siswa disana meneteskan darah.
"Lingga itu, pacarku." Ucap
Ava tenang dan seolah tanpa beban sama sekali dan tak melihat raut pias yang ditunjukkan
Lingga.
Hening sesaat, lalu....
"Heeeeeeeeeeeee"
Seketika suasana kelas menjadi ramai karena teriakan sebagian besar siswa
disana.
Naomi tersenyum, "gejolak masa muda ya?" Katanya.
Sedangkan Lingga, ia yang telah pucat pasi bertambah pucat saja saat
mendengar kata-kata Ava yang menurutnya ekstrem itu. Ia tak menyangka, jika Ava
datang dan mengatakan hal itu saat mereka bertemu pertama kali setelah sekian
lama. Ia akui dulu ia pernah memiliki rasa suka pada Ava, namun akhirnya ia
menyerah karena Ava hanya menganggapnya sebatas teman.
Tak jauh berbeda dengan Lingga, Nadeen juga sedikit pucat. Ia
bersyukur Farrand sedang tak masuk. Ia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana
jadinya jika sahabatnya itu mendengar pengakuan sarkas Ava. Mengingat Farrand
bisa saja melakukan hal yang diluar batas jika keadaan mendesaknya. Dalam hal
ini, ada seorang wanita yang mengaku menjadi pacar Lingga.
" Anoo.. boleh saya duduk di bangku
sebelah Lingga ? Saya lihat disitu kosong." Tanya Ava. Naomi mengangguk,
lalu Ava segera melangkahkan kakinya menuju bangku kosong disebelah Lingga.
Wajah Lingga menjadi semakin pias saat mendengar Ava akan duduk
disebelahnya. Tubuhnya gemetar, ia bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana
ekspresi Farrand saat ia masuk sekolah dan mendengar kejadian ini. Tiba-tiba ia
merasakan semilir angin melewati tubuhnya, setelahnya, ia merasa nyawanya
perlahan keluar dari raganya. Dan ia, pingsan!
.
Lingga terbangun sesaat setelah Ava menepuk-nepukkan tangannya
ke pipi Lingga. Wajahnya masih pucat, keringatnya pun keluar sedikit demi
sedikit dari tadi. Karena hal tadi, seluruh murid dikelasnya menaruh atensi
padanya. Ia memaklumi itu, paras Ava yang sedari dulu terkenal akan
kesempurnaannya itu memanglah bukan suatu hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Dan saat ini, ia berharap ada yang memukul kepalanya hingga ia amnesia dan
padanya.kaena demi apapun, sungguh ia mau bersumpah jika Farrand yang cemburu
itu sseramnya melebihi apapun. Dan ia juga bertekad tak ingin membuat Farrand
cemburu.
Melihat Lingga yang hanya mengacuhkannya, Ava geram sendiri.
Bagaimana tidak? Setelah dulu dirinya digantung dengan rasa yang Lingga sebut
itu cinta, Lingga pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan yang lebih. Dan
setelah beberapa waktu berselang, saat ia menemukan Lingga dan berada
didekatnya, Lingga menjaga jarak. Menjauhinya seolah mereka tak pernah dekat.
Disaat pelajaran berlangsung pun, mereka saling terdiam, Ava
yang tak bisa mengacuhkan kehadiran Lingga begitu saja berusaha menarik
atensinya dengan beberapa hal. Misalnya bermaksud meminjam buku, bertanya
pelajaran, dan yang terakhir meminjam alat tulis. Namun dari kesemuanya itu
sama sekali tak membuat Lingga jadi memperhatikannya.
Lain dengan Ava yang berusaha mendekati, Lingga justru berusaha
menghindar. Ia mati-matian menahan dirinya agar tak terlihat berdekatan dengan Ava.
Ia tak ingin membuat Farrand cemburu meski saat ini wanita itu sedang tak
masuk. Dan lagi-lagi, ingatannya masih tajam dan ia juga sangat trauma dengan
apa yang terjadi padanya beberapa saat lalu.
'Setelah pulang nanti aku akan berbicara padanya. Lebih baik
dari pada dia mendengar dari orang lain.' Batin Lingga.
Ia sudah membulatkan tekadnya, dan setelah sekolah ia akan
langsung pergi menuju kerumah gadis itu dan menjelaskan semuanya sebelum ia
salah faham dan tahu dari orang lain.
.
.
.
Farrand sedang membersihkan dedaunan mati di bonsai miliknya
saat Arasya datang. Ia sedikit terkejut, matanya sedikit melebar dengan mulut
yang sedikit terbuka. Ia merasa kagum, kagum dengan penampilan Arasya yang
mengendarai sebuah mobil baru berwarna abu-abu metalik dengan velg berwarna
__ADS_1
merah menyala.
Ia memandang takjub dengan pemandangan dihadapannya itu. Mobil itu, Mitsubishi
Lancer Evo IX dengan sayap belakang yg agak berat yang ditujukan untuk menambah
performa pengeremannya. Saking takjubnya, ia bahkan sampai lupa untuk berkedip.
"Suka dengan yang ayah bawa, putriku?" Ujar Arasya, ia
tersenyum geli melihat putrinya yang tercengang seperti itu.
"Bagaimana bisa ayah membawanya." Seulas raut kagum
masih tergambar jelas diwajah cantik Farrand.
"Tentu saja karena ayah membelinya."
"Tapi ayah bilang akan membeli mobil sedan saja?"
"Bukankah mobil itu juga tipe sedan?"
Farrand cemberut, sepertinya ia lupa bagaimana perangai ayahnya
itu dalam memilih sebuah mobil.
"Kufikir ayah akan membeli sedan rumahan."
Arasya terkikik geli mendengar nada merajuk putrinya itu.
Sebenarnya ia memang merencanakan hal ini jauh-jauh hari. Namun ia sama sekali
tak berniat memberitahukan perihal jenis mobil yang akan dibelinya itu.
"Kau tenang saja. Mobil ini masih memakai tenaga awalnya,
hanya sayap belakang dan suspensinya saja yang ayah ubah."
"Ayah berniat ikut balapan menggunakan mobil itu?"
"Tentu saja bukan. Ayah hanya mengoleksinya saja."
Doenggg
Sebulir keringat mengalir dipelipis Farrand saat ia mendengar ayahnya berkata
seperti itu. Hanya untuk koleksi katanya? Hell. Mungkin
ayahnya ingin membuat dealer mobil mungkin?
Sekali lagi Arasya terkikik geli melihat reaksi putrinya yang
menurutnya lucu itu. Jarang-jarang kan putrinya itu berekspresi lucu sepeeti
sekarang ini.
"Ayah hanya ingin merasakan sensasi mengendara yang
berbeda. Bukankah s15 dan NSX itu sama-sama type penggerak roda belakang? Yah..
meski s15 tipe FR dan NSX tipe MD. Tapi lan evo ini mobil 4WD. Bukankah kau
belum mencoba mengendalikan mesin 4WD?"
Farrand mengangguk pelan. Ayahnya benar tentang itu. Meski ia
pernah sekali memakai mobil Lingga, itu sama sekali tak bisa membuatnya bisa
mengerti perbedaan mobil-mobil itu.
"Ayah benar. Mungkin akan menarik jika aku mencoba
mengendarainya."
"Ayah izinkan kau mengendarainya, tapi setelah musim dingin
ini berakhir."
"Terlalu lama yah.."
"Lalu mau bagaimana lagi? Musim ini terlalu dingin
untukmu."
"Tapi kalau untuk keluar sebentar, boleh kan?"
"Tak masalah jika sebentar asal kau tak ikut balapan
dimusim dingin ini."
Farrand tersenyum, Arasya juga balas tersenyum kepadanya.
"Ayo masuk. Terlalu lama diluar tak bagus untuk
kesehatanmu."
"Ayo... Sekalian kita makan siang. Farrand sudah memasak
untuk makan siang kita."
Arasya mengangguk, ia lantas mengikuti Farrand yang berjalan
memasuki rumahnya. Ia senang, meski kesehatan putrinya agak memburuk, ia tak
terlalu khawatir karena putrinya sudah berjanji akan menjadi anak baik dan
meminum obatnya dengan rutin.
Dan tentang balapan yang ia perbincangkan kemarin, biarlah. Ia
akan mengurusnya nanti jika ada hal yang diluar kendali. Sebenarnya Mirza sudah
menkonfirmasi jika Madhiaz tak bisa melawan pemimpinnya. Tapi ia berfikir jika
akan ada Lingga yang akan maju untuk melawannya. Sebenarnya ia bisa saja
mengikut sertakan putrinya itu, dengan syarat ia ada bersamanya saat
pertandingan. Tapi, mengingat ia akan ada janji penting di tanggal itu
membuatnya mengurungkan niatnya. Biarlah, ia akan tinggal diam untuk saat ini.
Setidaknya ia akan meminta Nadeen untuk menemaninya saat ia pergi dalam
__ADS_1
pertemuan penting itu.
Tbc