Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 27


__ADS_3

Samuel masih tak percaya dengan apa yang telah ia lihat


sebelumnya. Ia telah dikalahkan oleh orang yang tak ia ketahui asal usul dan


tidak pula ada yang memberinya data rinci. Semalam, setelah ia disalip


ditikungan itu, ia berusaha mengikuti meski jaraknya agak jauh. Dan yah.... ia


memang berhasil mengikutinya, tapi sungguh! Apa yang ia lihat dan dapatkan tak


seperti apa yang telah dipikirkannya.


Ia memang sempat melihat seorang pria, yang ia taksir mungkin


berumur hampir 30 tahunan memasuki mobil NSX merah itu setelah keluar dari


apotek di bawah bukit. Pria itu bersurai cepak agak kecoklatan dan terlihat


tergesa-gesa. Dan benar, saat ia lihat plat nomornya, plat nomornya sama dengan


mobil yang telah menyalipnya dibukit.


Ketika ia pulang dan memberi tahukan kepada teman-temannya,


mereka mengernyit heran memandang Samuel. Karena yang mereka ketahui, pengemudi


NSX itu hanya menang sekali dan itupun karena kebetulan. Tidak mungkin bukan,


orang yang bisa menang sekali bisa mengalahkan Samuel yang telah puluhan kali


memenangkan pertandingan?


Karena tidak puas dengan yang ia peroleh, ia keluar.


Meninggalkan teman-temannya di basement dan pergi ke


sebuah cafe untuk menenangkan diri sambil ditemani secangkir


kopi hitam atau teh hijau. Namun hari masihlah teramat dini, dan ia cukup


kesulitan menemukan cafe yang buka.


Setelah setengah jam berlalu dan ia tak menemukan satupun cafe yang


buka, ia putuskan ketaman saja. Mungkin tidaklah buruk jika ia berjalan-jalan


ditaman sambil menikmati segarnya udara pagi yang masih bersih. Urusan


pengemudi NSX itu, biarlah ia urus nanti. Toh, nanti saat balapan mobil itu


akan muncul dengan sendirinya.


 


 


.


.


.


Ava melangkahkan kakinya dengan riang sambil sesekali


bersenandung ria. Hari ini hari pertamanya masuk kelas. Dan kini ia tengah


berjalan menuju ruang kelas karena kemarin saat mendaftar ia telah diberitahu


akan masuk kelas mana.


Ia tak begitu kesulitan untuk menemukan ruang kelasnya karena ia


telah diberitahu tata letaknya oleh satpam digerbang. Lagipula bel sudah


berbunyi, jadi koridor kelas telah sepi dan lenggang.


Setelah menemukan plat nomor kelasnya, ia tersenyum semakin


lebar. Ia ketuk perlahan pintu geser kelas itu, dan masuk ketika guru yang mengajar


memberi aba-aba dirinya agar masuk.


"Maafkan saya


karena terlambat. Tadi salah masuk kereta karena belum


mengetahui rute mana yang di ambil." Ucapnya sambil sedikit menunduk.


Sebenarnya bukan salah masuk kereta, namun ia terlalu semangat hingga tidur


terlalu larut dan bangun terlalu siang.


Guru wanita berambut hitam panjang bermata


merah, yang ia ketahui kemarin bernama Naomi itu mengangguk pelan. Ia lantas


memberi isyarat untuk Ava berdiri dan memperkenalkan dirinya.


Ia berdiri dengan tegak dan anggun disaat yang bersamaan. Ia


edarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas, lalu seulas senyum ia sunggingkan


saat menemukan sesuatu yang menarik dimatanya.


"Halo semua,


perkenalkan namaku Ava Elios. Salam kenal, semoga kita bisa berteman dengan


baik.” Ucapnya.


Beberapa pria menatapnya dengan wajah memerah, merasa terpesona


dengan paras dan sikap anggun Ava. Berbeda dengan Lingga, pria itu tak begitu


memperhatikan karena sibuk dengan buku yang dibacanya.


"Hey?Apa


itu Lingga?"


Beberapa pasang mata menoleh kearah Lingga yang duduk paling


belakang setelah namanya disebut oleh Ava. Merasa diperhatikan, Lingga


mengalihkan pandangannya dan mengedarkannya ke penjuru kelas. Sesaat ia


terpaku, namun ia kembali menguasai diri saat melihat Ava berdiri didepan


kelas.


"Kau mengenal Lingga?" Tanya


Naomi.


Wajah Ava bersemu merah, ia lantas menangkupkan kedua tangannya

__ADS_1


kepipi, membuat hidung beberapa siswa disana meneteskan darah.


"Lingga itu, pacarku." Ucap


Ava tenang dan seolah tanpa beban sama sekali dan tak melihat raut pias yang ditunjukkan


Lingga.


Hening sesaat, lalu....


 


 


"Heeeeeeeeeeeee"


Seketika suasana kelas menjadi ramai karena teriakan sebagian besar siswa


disana.


Naomi tersenyum, "gejolak masa muda ya?" Katanya.


Sedangkan Lingga, ia yang telah pucat pasi bertambah pucat saja saat


mendengar kata-kata Ava yang menurutnya ekstrem itu. Ia tak menyangka, jika Ava


datang dan mengatakan hal itu saat mereka bertemu pertama kali setelah sekian


lama. Ia akui dulu ia pernah memiliki rasa suka pada Ava, namun akhirnya ia


menyerah karena Ava hanya menganggapnya sebatas teman.


Tak jauh berbeda dengan Lingga, Nadeen juga sedikit pucat. Ia


bersyukur Farrand sedang tak masuk. Ia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana


jadinya jika sahabatnya itu mendengar pengakuan sarkas Ava. Mengingat Farrand


bisa saja melakukan hal yang diluar batas jika keadaan mendesaknya. Dalam hal


ini, ada seorang wanita yang mengaku menjadi pacar Lingga.


" Anoo.. boleh saya duduk di bangku


sebelah Lingga ? Saya lihat disitu kosong." Tanya Ava. Naomi mengangguk,


lalu Ava segera melangkahkan kakinya menuju bangku kosong disebelah Lingga.


Wajah Lingga menjadi semakin pias saat mendengar Ava akan duduk


disebelahnya. Tubuhnya gemetar, ia bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana


ekspresi Farrand saat ia masuk sekolah dan mendengar kejadian ini. Tiba-tiba ia


merasakan semilir angin melewati tubuhnya, setelahnya, ia merasa nyawanya


perlahan keluar dari raganya. Dan ia, pingsan!


.


Lingga terbangun sesaat setelah Ava menepuk-nepukkan tangannya


ke pipi Lingga. Wajahnya masih pucat, keringatnya pun keluar sedikit demi


sedikit dari tadi. Karena hal tadi, seluruh murid dikelasnya menaruh atensi


padanya. Ia memaklumi itu, paras Ava yang sedari dulu terkenal akan


kesempurnaannya itu memanglah bukan suatu hal yang bisa diabaikan begitu saja.


Dan saat ini, ia berharap ada yang memukul kepalanya hingga ia amnesia dan


padanya.kaena demi apapun, sungguh ia mau bersumpah jika Farrand yang cemburu


itu sseramnya melebihi apapun. Dan ia juga bertekad tak ingin membuat Farrand


cemburu.


Melihat Lingga yang hanya mengacuhkannya, Ava geram sendiri.


Bagaimana tidak? Setelah dulu dirinya digantung dengan rasa yang Lingga sebut


itu cinta, Lingga pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan yang lebih. Dan


setelah beberapa waktu berselang, saat ia menemukan Lingga dan berada


didekatnya, Lingga menjaga jarak. Menjauhinya seolah mereka tak pernah dekat.


Disaat pelajaran berlangsung pun, mereka saling terdiam, Ava


yang tak bisa mengacuhkan kehadiran Lingga begitu saja berusaha menarik


atensinya dengan beberapa hal. Misalnya bermaksud meminjam buku, bertanya


pelajaran, dan yang terakhir meminjam alat tulis. Namun dari kesemuanya itu


sama sekali tak membuat Lingga jadi memperhatikannya.


Lain dengan Ava yang berusaha mendekati, Lingga justru berusaha


menghindar. Ia mati-matian menahan dirinya agar tak terlihat berdekatan dengan Ava.


Ia tak ingin membuat Farrand cemburu meski saat ini wanita itu sedang tak


masuk. Dan lagi-lagi, ingatannya masih tajam dan ia juga sangat trauma dengan


apa yang terjadi padanya beberapa saat lalu.


'Setelah pulang nanti aku akan berbicara padanya. Lebih baik


dari pada dia mendengar dari orang lain.' Batin Lingga.


Ia sudah membulatkan tekadnya, dan setelah sekolah ia akan


langsung pergi menuju kerumah gadis itu dan menjelaskan semuanya sebelum ia


salah faham dan tahu dari orang lain.


 


 


.


.


.


Farrand sedang membersihkan dedaunan mati di bonsai miliknya


saat Arasya datang. Ia sedikit terkejut, matanya sedikit melebar dengan mulut


yang sedikit terbuka. Ia merasa kagum, kagum dengan penampilan Arasya yang


mengendarai sebuah mobil baru berwarna abu-abu metalik dengan velg berwarna

__ADS_1


merah menyala.


 


 


 


 


Ia memandang takjub dengan pemandangan dihadapannya itu. Mobil itu, Mitsubishi


Lancer Evo IX dengan sayap belakang yg agak berat yang ditujukan untuk menambah


performa pengeremannya. Saking takjubnya, ia bahkan sampai lupa untuk berkedip.


"Suka dengan yang ayah bawa, putriku?" Ujar Arasya, ia


tersenyum geli melihat putrinya yang tercengang seperti itu.


"Bagaimana bisa ayah membawanya." Seulas raut kagum


masih tergambar jelas diwajah cantik Farrand.


"Tentu saja karena ayah membelinya."


"Tapi ayah bilang akan membeli mobil sedan saja?"


"Bukankah mobil itu juga tipe sedan?"


Farrand cemberut, sepertinya ia lupa bagaimana perangai ayahnya


itu dalam memilih sebuah mobil.


"Kufikir ayah akan membeli sedan rumahan."


Arasya terkikik geli mendengar nada merajuk putrinya itu.


Sebenarnya ia memang merencanakan hal ini jauh-jauh hari. Namun ia sama sekali


tak berniat memberitahukan perihal jenis mobil yang akan dibelinya itu.


"Kau tenang saja. Mobil ini masih memakai tenaga awalnya,


hanya sayap belakang dan suspensinya saja yang ayah ubah."


"Ayah berniat ikut balapan menggunakan mobil itu?"


"Tentu saja bukan. Ayah hanya mengoleksinya saja."


Doenggg


 


 


Sebulir keringat mengalir dipelipis Farrand saat ia mendengar ayahnya berkata


seperti itu. Hanya untuk koleksi katanya? Hell. Mungkin


ayahnya ingin membuat dealer mobil mungkin?


Sekali lagi Arasya terkikik geli melihat reaksi putrinya yang


menurutnya lucu itu. Jarang-jarang kan putrinya itu berekspresi lucu sepeeti


sekarang ini.


"Ayah hanya ingin merasakan sensasi mengendara yang


berbeda. Bukankah s15 dan NSX itu sama-sama type penggerak roda belakang? Yah..


meski s15 tipe FR dan NSX tipe MD. Tapi lan evo ini mobil 4WD. Bukankah kau


belum mencoba mengendalikan mesin 4WD?"


Farrand mengangguk pelan. Ayahnya benar tentang itu. Meski ia


pernah sekali memakai mobil Lingga, itu sama sekali tak bisa membuatnya bisa


mengerti perbedaan mobil-mobil itu.


"Ayah benar. Mungkin akan menarik jika aku mencoba


mengendarainya."


"Ayah izinkan kau mengendarainya, tapi setelah musim dingin


ini berakhir."


"Terlalu lama yah.."


"Lalu mau bagaimana lagi? Musim ini terlalu dingin


untukmu."


"Tapi kalau untuk keluar sebentar, boleh kan?"


"Tak masalah jika sebentar asal kau tak ikut balapan


dimusim dingin ini."


Farrand tersenyum, Arasya juga balas tersenyum kepadanya.


"Ayo masuk. Terlalu lama diluar tak bagus untuk


kesehatanmu."


"Ayo... Sekalian kita makan siang. Farrand sudah memasak


untuk makan siang kita."


Arasya mengangguk, ia lantas mengikuti Farrand yang berjalan


memasuki rumahnya. Ia senang, meski kesehatan putrinya agak memburuk, ia tak


terlalu khawatir karena putrinya sudah berjanji akan menjadi anak baik dan


meminum obatnya dengan rutin.


Dan tentang balapan yang ia perbincangkan kemarin, biarlah. Ia


akan mengurusnya nanti jika ada hal yang diluar kendali. Sebenarnya Mirza sudah


menkonfirmasi jika Madhiaz tak bisa melawan pemimpinnya. Tapi ia berfikir jika


akan ada Lingga yang akan maju untuk melawannya. Sebenarnya ia bisa saja


mengikut sertakan putrinya itu, dengan syarat ia ada bersamanya saat


pertandingan. Tapi, mengingat ia akan ada janji penting di tanggal itu


membuatnya mengurungkan niatnya. Biarlah, ia akan tinggal diam untuk saat ini.


Setidaknya ia akan meminta Nadeen untuk menemaninya saat ia pergi dalam

__ADS_1


pertemuan penting itu.


Tbc


__ADS_2