
Farrand telah bersiap dengan dandanan minimalis dan gaun selutut tanpa
lengannya. Ia masih menunggu. Menunggu Lingga yang kemarin telah berjanji untuk
menjemputnya dan pergi bersama ke pameran mobil yang telah mereka sepakati
jauh-jauh hari. Sebenarnya ia telah bosan menunggu, karena baginya menunggu itu
adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Madhiaz telah berangkat lebih dulu tadi
bersama dengan kekasihnya, Suresh.
Tin tin.
Gotcha! Itu dia. Seketika Farrand menyambar tas selempang kecilnya dan
dengan sedikit berlari ia keluar dari apartmennya. Diluar, ia telah menemukan Lingga
berdiri bersandar disamping mobilnya dengan kedua tangan dimasukkan kedalam
Saku celananya. Sok cool sekali.
"Ayo cepat. Kau terlalu lama. Kita bisa ketinggalan acara
pembukanya." Farrand melesat begitu saja dan langsung masuk kedalam mobil Lingga,
menuai decakan sebal dari mulut Lingga.
"Setidaknya biarkan aku memperlakukannya seperti tuan putri dengan
membukakan pintu mobil untuknya." Gerutu Lingga. Tapi sudahlah,
menggerutupun tak akan membuat Farrand keluar dan melakukan hal manis yang
dibayangkan oleh Lingga.
Mobil mereka melesat kencang membelah jalanan kota yang sedikit lenggang.
Seperti kata Farrand, Linggapun tak mau ketinggalan untuk melihat acara
pembukaan pameran mobil yang katanya mereka akan memunculkan salah satu mobil
legenda.
Sesampainya ditempat parkir, Lingga segera memarkirkan mobilnya dan keluar
secepat mungkin untuk mengejar langkah Farrand yang sudah berjalan terlebih
dulu. Ia bingung. Ia hanya terlambat beberapa menit dan kini mereka seperti
sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Dan saat Farrand telah sampai didalam, demo mobil yang menjadi primadonanya
telah usai, menuai decak sebal di bibir Farrand. Ia cemberut. Ia ingin tau
bagaimana demonya berlangsung. Tapi sekarang menyesal pun sudah tidak berguna
lagi. Sudahlah, mungkin ia bisa menemui montirnya untuk bertanya-tanya nanti.
Lama ia mengamati, ingin tau siapa montirnya dari kejauhan saja. Tidak
mungkin bukan jika ia bertanya pada tiap-tiap orang yang ada disini? Itu
memalukan. Dan ia tak suka hal seperti itu.
Dua orang pria berbeda surai rambut tampak selalu berdiri didekat mobil itu
sambil sesekali menyesap wine yang ada ditangan mereka. Beberapa orang
tampak kesana untuk berbincang. Dan mungkin, mereka berdualah montirnya.
Setelah kedua orang itu terlihat santai, Farrand menghampiri mereka, dan
sepertinya kedatangannya menarik atensi mereka hingga mereka berdua memandang Farrand.
"Ada yang bisa kubantu, nona?" Ujar salah satu pria itu.
"Ini mobil kalian?" Tanya Farrand.
"Lebih tepatnya mobil yang kami lelang." Timpal pria yang tadi
menyapa Farrand. Farrand melirik pria disampingnya, pria berambut merah yang
mengingatkannya pada surai merah milik Dion saat pria itu mewarnainya beberapa
waktu silam, dengan wajah yang terlihat baby face. Dan pria yang
menyapanya tadi, dengan surai panjang sepanjang miliknya dan di ikat ekor kuda.
"Tertarik dengan mobil ini, nona? Mobil ini bisa kau bawa pulang dengan
uang 3 juta dollar saja." Pria dengan surai panjang dengan
senyumnya masih menawari Farrand, sedang pria dengan surai merah masih setia
berdiam diri sambil sesekali menyesap pelan wine nya.
"3 juta dollar?" Dalam hatinya Farrand membatin, 'Hei.....
3 juta dollar dan ia bilang itu 3dollar saja? Tak berlebihankah orang itu?
Tidak taukah ia jika 3juta dollar itu bukan nominal yang kecil?'
"Ya. Kau tak akan menemukan mobil seperti ini di mall-mall yang sering
kau kunjungi itu, nona."
Farrand masih tak bergeming dan masih menatap mobil didepannya itu.
"Apakah mobil ini hebat?" Tanya Farrand kemudian.
Raut binar kebahagiaan muncul diwajah pria bersurai panjang tadi, ia
mengulurkan tangannya, bermaksud memperkenalkan diri pada Farrand. Ia merasa
jika ini adalah kesempatan yang langka dimana ada seorang waniya mau menanyakan
seberapa hebat mobil mereka.
"Aku Haris. Dan ini partnerku, Abel."
"Aku Farrand." Balas Farrand.
"Mobil ini hebat, Farrand. Boleh kupanggil begitu?" Farrand
mengangguk anggun. Sebenarnya dihatinya ia tak sabar ingin melihat mesin mobil
ford mustang dihadapannya itu. "Tentu, aku tak keberatan kau panggil
seperti itu." Ucapnya.
"Mobil ini memiliki kekuatan 900 hp."
"Apa itu banyak?" Pertanyaan Farrand menuai kernyitan dari Haris
dan Abel.
"Tentu saja banyak." Jawab Haris.
'Apa wanita ini normal? Tentu saja 900 hp itu kekuatan nyata yang tak
bisa dikatakan sedikit?' Batin Abel jengkel. Fyuh.... hatinya mencelos dan
seketika raut wajahnya murung saat Farrand melontarkan pertanyaan itu.
"Ano, Haris. Boleh kulihat mesinnya?" Mata Farrand bersinar penuh
harap dan diangguki oleh Haris. Setelah itu Abel merogoh sakunya, mengeluarkan
benda persegi kecil dan memencel salah satu tombolnya.
Cklek,
Abel berjalan menuju kap depan mobilnya dan membukanya perlahan. Farrand
memandangnya penuh takjub. Hingga tanpa ia sadari ia telah mengangakan mulutnya
sedikit.
"5,8 liter, blok aluminium, SVT Supercharger, dan pipa
pembuangan balap." Ucap Farrand tanpa sadar. Abel menoleh. Setelah tadi ia
sama sekali tak tertarik dengan wanita disampingnya itu, kini ia mulai
memandangnya dengan sedikit rasa takjub. Tak banyak wanita yang tau mesin itu
hanya dengan sekali lihat seperti yang dilakukan Farrand. Dan sepertinya
persepsi tentang Farrand akan ia ubah setelah ini.
"Kau tau?" Untuk pertama kalinya, Abel mau membuka mulutnya dan
berbicara kepada Farrand. Ia kemudian menatap Farrand dengan pandangan
menelisik, dan dengan seluruh kesadarannya ia mengakui jika penampilan Farrand
sangat menawan dimatanya. Diluar kemampuannya tadi, maksudnya. Dan, hei...
kemana saja pandangan Abel sedari tadi? Mengapa ia baru menyadari jika Farrand
memang menawan?
"Yeah, seperti yang kau lihat."
"Jadi?"
"Aku tak tau dari mana kau dapat mobil ini. Mobil ini bukan mobil
sembarangan, ini adalah Ford Mustang Shelby, mobil pertama buatan tn.
Shelby yang dibuat menggunakan body AC buatan Inggris, mesin v8 Ford,
260 CID. Dibuat Ford dan Shelby saat Carrol meninggal. Dari berita terakhir
yang ku ketahui, mobil ini hilang tanpa sebab alasan yang jelas." Abel
semakin takjub atas penuturan yang dikatakan Farrand. Ia tak menyangka,
penuturan wanita yang ia sangka hanya bisa berjalan-jalan di mall itu ternyata
begitu detail. Bahkan, ia yakin tak banyak yang mengetahui info itu.
"Aku Abel." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Farrand tak
membalasnya, ia hanya tersenyum kecil. "Temanmu tadi sudah
memperkenalkanmu." Balas Farrand.
Terbersit rasa kecewa dihati Abel. Namun ia sadar akan hal itu. Bukankah ia
sendiri tadi yang mengacuhkan wanita itu? Mengapa setelah ia tau sisi lain
wanita ini baru ia mengalihkan pandangan padanya?
__ADS_1
"Jika yang mengemudi adalah seorang pembalap, kurasa kecepatannya bisa
mengalahkan kecepatan NASCAR."
"Kau benar. Dan Abel bisa mengemudikannya hingga kecepatan diatas
370km/jam." Celetuk Haris.
"Hey,, Yang ku tau kecepatan tertinggi NASCAR 367km/jm." Sambung Farrand.
"Kau tak tertarik, nona?" Tambahnya.
Sesaat Farrand terdiam dan menimbang-nimbang, "Maaf, tapi aku lebih
suka mobil lokal saja." Balas Farrand dengan senyuman. Ia tak bohong. Ia
memang lebih menyukai mobil produksi dalam negrinya. Dan ia kesini untuk
melihat Mustang primadona itu karena rasa penasaran yang muncul dihatinya. Ia
bukan munafik dengan mengatakan tidak kagum dengan supercar yang ada
disini, namun tujuan awalnya kesini bukanlah untuk mengagumi hal di depannya,
melainkan untuk tujuan lain. Ia jadi berfikir, pantas saja mobil ini jadi
primadona. Mobil ini bukanlah mobil sembarangan yang bisa dengan mudah dipesan
di toko-toko terdekat.
.
.
.
Lingga tak dapat mencari keberadaan Farrand ditengah himpitan banyak orang.
Ia tak bisa berlari, kakinya yang belum pulih sepenuhnya membuatnya tak bisa
menyusul Farrand yang sudah melesat dari tadi. Sejujurnya ia sedikit menyesal
karena keterlambatannya itu. Namun jika difikir lagi ia tak bisa terus menerus
menyesali keterlambatan itu. Biarlah. Ia akan mencari Farrand depan pelan-pelan
saja. Siapa tau nanti ketemu dengan sendirinya. Jadi ia akan menikmati
pemandangan yang bisa membuatnya takjub dulu.
Matanya menangkap sebuah siluet mobil Nissan Skyline GT-R. Namun ia
melihat ada perbedaan antara GT-R itu dengan miliknya meski keduanya
memiliki warna yang sama. Kakinya tergerak mendekati mobil itu. Dan tanpa
disadarinya, seorang pria paruh baya berambut dan berjanggut putih
menghampirinya.
"R-35, sebutan untuk Nissan Skyline GT-R35. Mobil
generasi setelah R34 yang melanjutkan kejayaannya dengan tenaga sebesar
500hp lebih. Namun aku sudah meningkatkan powernya hingga 650."
Ucap lelaki itu. Lingga menoleh. Dan ia menduga jika lelaki disampingnya itu
pastilah montirnya.
"Kekuatan yang besar."
"Ya. Namun kekuatannya terlalu besar hingga aku sulit untuk melakukan drift."
"Drift dengan menggunakan mobil 4WD? Memang bisa?"
"Bisa. Jika kau bisa menguasai akselerasi kakimu."
"Begitukah?"
"Ya."
"Kulihat tadi kau terburu-buru. Ada sesuatukah yang kau cari?"
Astaga! Lingga baru sadar jika sudah terlalu lama berputar-putar
hingga mengalihkan atensinya pada mobil dihadapannya. Sejenak, dia kembali
memantapkan hatinya untuk kembali mencari Farrand. "Ano, boleh saya tau dimana
mobil yang menjadi primadonanya?" Tanya Lingga.
Pria itu menunjuk kerumunan orang yang berada disebelahnya. Kerumunan itu
sudah tak terlalu banyak seperti tadi ia lihat.
"Terimakasih." Ucapnya sambil tersenyum. Ia menunduk sebentar
tanda ucapan terimakasihnya dan setelah itu berlalu menuju kearah yang ditunjuk
pria itu.
Kerumunannya sudah mulai menyepi hingga ia bisa melihat Farrand yang sedang
berbincang dengan seorang pria berambut merah. Lingga sedikit jengkel. Dari
genstur tubuhnya Lingga tau jika pria itu terlihat tertarik pada Farrand.
Cemburu, eh? Lingga tak habis fikir, mengapa kali ini rambut merah lagi?
Tak cukupkah Dion saja lelaki berambut merah yang merebut hati Farrand hingga
menjadi merah agar Farrand lebih mudah mencintainya?
"Maaf, tapi aku lebih suka mobil lokal saja." Lamat-lamat
ia mendengar Farrand mengucapkannya. Dan Lingga mendapat kesimpulan jika Farrand
sedang membicarakan mobil itu.
"Mau kuantar berkeliling?" Tawar pria berambut merah itu. Lingga
mendengus kesal. Modus berkedok pendekatan, fikirnya. Dan sepertinya ia harus
bergerak cepat agar Farrand tak kembali jatuh kepelukan pria berambut merah. Huh, sepertinya saat ini Lingga sedang anti terhadap rambut merah. Tapi... Ah,
sudahlah.
"Kau kemana saja? Aku mencarimu dari tadi, honey. Kau
meninggalkanku begitu saja, padahal kau tau aku tak bisa berjalan dengan
baik." Farrand menolehkan kepalanya kearah Lingga yang tiba-tiba muncul
dan memegang lengan kirinya. Ia kaget, namun setelah itu ia menyesal karena
telah meninggalkan Lingga.
"Maafkan aku, Ling. Aku
terlalu bersemangat hingga aku meninggalkanmu." Lingga tersenyun kecil
lalu melirik kearah Abel seolah mengatakan jika dirinya memiliki posisi spesial
disamping Farrand.
"Lain kali jangan tinggalkan aku, Fa."
Farrand mengangguk pelan. Ia sedikit lega setelah melihat keadaan Lingga
yang baik-baik saja meski wajahnya terlihat sedikit berkeringat.
"Kalau mau kita bisa berkeliling bersama, Abel?" Tawar Farrand. Abel
mengangguk saja, namun Lingga menatap tajam Abel seolah ia tak mau jika Abel
ikut.
"Ayo" Lingga mengapit lengan Farrand dan beranjak dari tempatnya. Abel
mengikuti mereka, dan meninggalkan Haris yang kembali menyesap wine miliknya yang tadi tak sempat dihabiskannya.
Mereka berjalan-jalan untuk melihat beberapa mobil dan saat mata Farrand
melihat sekilas mobil berwarna merah, ia berhenti sejenak. Lingga yang
menyadarinya mengajak Farrand mendekati mobil itu.
"Honda NSX." Lirih Farrand.
"Honda NSX, dengan mesin yang sudah dimodifikasi NA(naturally
Aspirated -> cara dongkrak tenaga mesin)." Ucap Abel dengan nada
bangga.
"Kau suka?" Lanjutnya.
Farrand masih memandang takjub kearah mobil itu. Ia tau harganya, dan
sepertinya ia sedang menghitung uang dipundi-pundi yang ia punya. Hingga
pertanyaan Abel ia abaikan begitu saja.
"Farrand dan Lingga, kalian kesini juga?" Lagi. Ia kaget karena
tepukan seseorang, dan setelah ia menoleh, ia mendapati Nadeen, Madhiaz, Suresh,
dan juga Dion disana. Eh, Dion? Mengapa ia juga ada disini?
"Aku memang berencana kesini dengan mengajak Lingga, Nadeen."
Balas Farrand.
"Mengapa tak mengajakku juga?"
"Tak perlu kuajak pun kau sudah sampai sini bukan?"
"Kau jahat, Farrand."
"Aku hanya tak ingin kau mengganggu kencanku dengan Lingga." Lingga
mengucutkan bibirnya mendengar kata-kata Farrand yang sengaja agak
dikeraskannya. Sejak kejadian dipantai, Nadeen tau jika Lingga dan Farrand
telah memiliki hubungan dekat. Namun ia tak mau menanyakan hal itu lebih lanjut
karena Madhiaz telah memberitahunya. Ia tau, jika maksud Farrand mengatakan hal
tadi adalah agar Dion mendengarnya. Yaps. Ia telah menebak jika kata-kata tadi
adalah untuk Dion.
"Setidaknya biarkan aku berangkat bersama kalian meski kalian berdua
__ADS_1
pasti akan berada dimobil yang sama, dan aku tidak."
"Oke, maafkan aku." Farrand menjeda, "apa kau kesini
bermaksud untuk mencari mobil pengganti sil80mu Nadeen?" Tambahnya.
"Ya. Kurasa aku akan menggantinya. Mobil itu pantasnya masuk museum
saja."
Farrand menghela nafas jengah, labil sekali temannya ini. Bukankah dia
sendiri yang ngebet meminta mobil itu pada ayahnya? Mengapa kini ia malah
mengatakan jika mobil itu cocoknya di museum?
"Lalu bagaimana dengan mimpimu yang ingin menjadi pembalap seperti
pengemudi sil80 gunung Usui seperti yang di cerita-cerita itu?"
"Aku akan melupakannya. Sil80 sudah tak cukup kuat menurutku saat ini.
Aku butuh mobil dengan kekuatan lebih baik. Kau ada saran?"
"Bagaimana jika kau tanya Dhiaz saja. Atau, pemuda berambut merah
disebelahku ini. Dia seorang montir hebat. Namanya Abel. Kami sudah berkenalan
tadi."
Mata Nadeen berbinar saat ia dikenalkan ke pemuda berambut merah disebelah Farrand.
Ia mengulurkan tangannya, "aku Nadeen." Ucapnya.
"Abel." Ucap Abel sambil membalas uluran tangan Nadeen. Tak ada
senyuman seperti saat ia berkenalan dengan Farrand. Karena baginya, tipe wanita
yang ia sukai adalah tipe wanita seperti Farrand, wanita penuh kejutan dan
mengetahui banyak hal tentang mobil.
"Nah, Abel. Menurutmu mobil apa yang bagus untuk kukendarai dijalan
pegunungan? Apa NSX ini bagus?" Tanya Nadeen.
"Kau tadi bilang ingin mobil yang lebih bertenaga bukan?"
"Ya."
"NSX ini hanya memiliki kekuatan sebesar 250hp."
"Apa itu lebih besar dari GTR-34 milik Lingga?"
"Tentu saja tidak. R-34 standart setidaknya punya kekuatan 350hp."
"Kalau begitu aku tak akan mengambilnya." Ucap Nadeen. Abel
mendengus, ia geli atas pernyataan Nadeen tadi.
"Lalu kau ingin yang bagaimana? Nadeen?" Tanya Farrand.
"Mobil hebat dengan tenaga besar. Namun bukan mobil import." Jawab
Nadeen santai.
"Ayo, Dhiaz, Suresh, dan Dion. Kita berkeliling lagi." Lanjut Nadeen.
Madhiaz hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Suresh yang telah Nadeen
seret. Begitupun Dion. Namun sebelum ia beranjak, ia menatap sendu kearah Farrand
yang berpegangan tangan dengan Lingga.
"Dia temanmu?" Tanya Abel kepada Farrand setelah Nadeen cs
meninggalkan mereka.
"Ya. Dia sahabatku."
"Oh.. jadi, dia berencana ingin menjadi pembalap dan mencari mobil
dengan kekuatan besar? Begitu?"
"Ya. Dia sudah banyak berlatih dan kurasa kemampuannya saat ini sudah
lebih baik."
"Rute yang biasanya kalian ambil seperti apa?"
"Rute?"
"Rute balapan."
"Jalur pegunungan."
"Jalur pegunungan ya?" Abel nampak berfikir, dan setelahnya ia
membuka mulutnya untuk mengemukakan pendapatnya.
"Kurasa ia melewatkan hal kecil dalam balapan pegunungan." Ujar Abel.
"Kau benar. Jika aku jadi dia, aku akan memilih NSX ini."
"Kau menginginkannya?" Lingga yang sedari tadi terdiam kini
membuka suaranya.
Farrand menoleh, lalu menatap Lingga sendu. "Dengan tabunganku, aku
yakin tak dapat menjangkaunya."
"Kau bisa memakai seluruh tabunganku juga."
"Dan membiarkanmu kelaparan? Tidak. Kau itu hidup sendiri, bagaimana
mungkin aku meminjam semua uangmu begitu saja."
"Aku bisa makan masakan buatanmu setiap hari."
"Lagipula aku yakin, dengan seluruh uangmu pun aku masih tak sanggup
untuk membelinya."
Abel yang mendengar perdebatan keduanya mendengus. Ia di acuhkan. Dan ia
merasa jika sekarang ini ia seperti melihat perdebatan suami istri.
"Bisakah kalian menganggap aku ada disini? Mendengar perdebatan kalian
membuatku seperti orang ketiga dalam hubungan suami istri."
"Maaf, Abel. Jika perdebatan kami membuatmu terganggu." Sesal Farrand.
"Tak apa. Kalau boleh aku tau, mengapa kau menginginkan NSX ini?"
Lingga mengangguk. Sebenarnya ia juga penasaran mengapa Farrand begitu
menginginkan mobil ini. Setaunya, mobil ini hanya memiliki 250 hp, dan itu masih
dibawah GTR miliknya.
"Aku dulu pernah mempunyai NSX dan mengendarainya cukup lama. Tak
seperti yang lain, NSX ini menyingkirkan kemewahan dan menggunakan kapasitas
mesin NA besar yang dipasang ditengah sasis. Kecepatan menikungnya sangat baik
karena mesin tengahnya itu, dan NSX bisa keluar dengan cepat ditikungan tajam
karena mesin NA nya."
Lagi-lagi Lingga dan Abel dibuat takjub oleh penjelasan Farrand. Mereka
terpesona padanya, tak hanya paras menawan yang dimilikinya, namun
pengetahuannya akan mobil juga mampu membuat dua orang itu berdecak kagum.
"Mungkin Sil15 bisa menjadi alternatif untukmu." Ujar Abel.
"Aku tak suka Sil15."
"Kukira kau lebih suka mesin Nissan. Bukankah sil15 dan NSX sama-sama
memiliki tenaga 250hp?" Sela Lingga.
"Entahlah. Hatiku masih terasa nyaman dengan mesin Honda."
"Ano, Farrand. Aku mungkin bisa membantumu mendapatkan NSX itu. Tapi
dengan syarat kau harus menjadi pendampingku disamping kemudi. Seperti menjadi navigator, mungkin?" Ucap Abel yang mencoba memberanikan diri menawari Farrand
sesuatu.
"Tidak bisa. Dia sudah menjadi navigatorku, dan kau tak bisa
mengambilnya begitu saja." Potong Lingga dengan cepat. Ia tak bisa
membiarkan hal itu terjadi. Apa-apaan dengan pemuda berambut merah itu, baru
mengenal Farrand tak sampai sehari sudah main menyeretnya untuk dijadikan navigatornya.
Tak taukah pria itu jika Lingga membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Farrand
mau menjadi navigatornya?
"Siapa dirimu bagi Farrand? Aku yakin. Kau bahkan bukan pacarnya."
"Dari mana kau bisa seyakin itu, rambut merah."
"Bisa kalian hentikan perdebatan kalian? Aku bukan barang yang bisa
diperebutkan seenak kalian, para pria menyebalkan." Keduanya pria itu
terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Aura gelap yang dikeluarkan Farrand
ternyata sanggup membungkam keduanya yang terlibat pertengkaran kecil itu.
"Ayo Lingga. Kita pulang saja. Tak ada hal yang bisa kudapatkan disini
selain pertengkaran kalian berdua." Putus Farrand. Lingga mengangguk
lemah. Mau tak mau ia menurut saja pada keputusan Farrand. Yah, ada baiknya ia
cari aman saja kan?
Sedangkan Abel, ia menatap sendu punggung Farrand yang mulai berjalan
menjauh darinya. Setelah itu ia bertekad dalam hati akan mencari tau tentang Farrand.
Apapun caranya.
Tak jauh dari tempat Farrand tadi, seseorang mengamati Farrand. Ia menyunggingkan
senyuman tipis saat melihat Farrand meninggalkan pameran bersama dengan Lingga.
__ADS_1
'Jadi, NSX ya?' lirihnya.
^tbc^