Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 19


__ADS_3

Farrand telah bersiap dengan dandanan minimalis dan gaun selutut tanpa


lengannya. Ia masih menunggu. Menunggu Lingga yang kemarin telah berjanji untuk


menjemputnya dan pergi bersama ke pameran mobil yang telah mereka sepakati


jauh-jauh hari. Sebenarnya ia telah bosan menunggu, karena baginya menunggu itu


adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Madhiaz telah berangkat lebih dulu tadi


bersama dengan kekasihnya, Suresh.


Tin tin.


Gotcha! Itu dia. Seketika Farrand menyambar tas selempang kecilnya dan


dengan sedikit berlari ia keluar dari apartmennya. Diluar, ia telah menemukan Lingga


berdiri bersandar disamping mobilnya dengan kedua tangan dimasukkan kedalam


Saku celananya. Sok cool sekali.


"Ayo cepat. Kau terlalu lama. Kita bisa ketinggalan acara


pembukanya." Farrand melesat begitu saja dan langsung masuk kedalam mobil Lingga,


menuai decakan sebal dari mulut Lingga.


"Setidaknya biarkan aku memperlakukannya seperti tuan putri dengan


membukakan pintu mobil untuknya." Gerutu Lingga. Tapi sudahlah,


menggerutupun tak akan membuat Farrand keluar dan melakukan hal manis yang


dibayangkan oleh Lingga.


Mobil mereka melesat kencang membelah jalanan kota yang sedikit lenggang.


Seperti kata Farrand, Linggapun tak mau ketinggalan untuk melihat acara


pembukaan pameran mobil yang katanya mereka akan memunculkan salah satu mobil


legenda.


Sesampainya ditempat parkir, Lingga segera memarkirkan mobilnya dan keluar


secepat mungkin untuk mengejar langkah Farrand yang sudah berjalan terlebih


dulu. Ia bingung. Ia hanya terlambat beberapa menit dan kini mereka seperti


sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Dan saat Farrand telah sampai didalam, demo mobil yang menjadi primadonanya


telah usai, menuai decak sebal di bibir Farrand. Ia cemberut. Ia ingin tau


bagaimana demonya berlangsung. Tapi sekarang menyesal pun sudah tidak berguna


lagi. Sudahlah, mungkin ia bisa menemui montirnya untuk bertanya-tanya nanti.


Lama ia mengamati, ingin tau siapa montirnya dari kejauhan saja. Tidak


mungkin bukan jika ia bertanya pada tiap-tiap orang yang ada disini? Itu


memalukan. Dan ia tak suka hal seperti itu.


Dua orang pria berbeda surai rambut tampak selalu berdiri didekat mobil itu


sambil sesekali menyesap wine yang ada ditangan mereka. Beberapa orang


tampak kesana untuk berbincang. Dan mungkin, mereka berdualah montirnya.


Setelah kedua orang itu terlihat santai, Farrand menghampiri mereka, dan


sepertinya kedatangannya menarik atensi mereka hingga mereka berdua memandang Farrand.


"Ada yang bisa kubantu, nona?" Ujar salah satu pria itu.


"Ini mobil kalian?" Tanya Farrand.


"Lebih tepatnya mobil yang kami lelang." Timpal pria yang tadi


menyapa Farrand. Farrand melirik pria disampingnya, pria berambut merah yang


mengingatkannya pada surai merah milik Dion saat pria itu mewarnainya beberapa


waktu silam, dengan wajah yang terlihat baby face. Dan pria yang


menyapanya tadi, dengan surai panjang sepanjang miliknya dan di ikat ekor kuda.


"Tertarik dengan mobil ini, nona? Mobil ini bisa kau bawa pulang dengan


uang 3 juta dollar saja." Pria dengan surai panjang dengan


senyumnya masih menawari Farrand, sedang pria dengan surai merah masih setia


berdiam diri sambil sesekali menyesap pelan wine nya.


"3 juta dollar?" Dalam hatinya Farrand membatin, 'Hei.....


3 juta dollar dan ia bilang itu 3dollar saja? Tak berlebihankah orang itu?


Tidak taukah ia jika 3juta dollar itu bukan nominal yang kecil?'


"Ya. Kau tak akan menemukan mobil seperti ini di mall-mall yang sering


kau kunjungi itu, nona."


Farrand masih tak bergeming dan masih menatap mobil didepannya itu.


"Apakah mobil ini hebat?" Tanya Farrand kemudian.


Raut binar kebahagiaan muncul diwajah pria bersurai panjang tadi, ia


mengulurkan tangannya, bermaksud memperkenalkan diri pada Farrand. Ia merasa


jika ini adalah kesempatan yang langka dimana ada seorang waniya mau menanyakan


seberapa hebat mobil mereka.


"Aku Haris. Dan ini partnerku, Abel."


"Aku Farrand." Balas Farrand.


"Mobil ini hebat, Farrand. Boleh kupanggil begitu?" Farrand


mengangguk anggun. Sebenarnya dihatinya ia tak sabar ingin melihat mesin mobil


ford mustang dihadapannya itu. "Tentu, aku tak keberatan kau panggil


seperti itu." Ucapnya.


"Mobil ini memiliki kekuatan 900 hp."


"Apa itu banyak?" Pertanyaan Farrand menuai kernyitan dari Haris


dan Abel.


"Tentu saja banyak." Jawab Haris.


'Apa wanita ini normal? Tentu saja 900 hp itu kekuatan nyata yang tak


bisa dikatakan sedikit?' Batin Abel jengkel. Fyuh.... hatinya mencelos dan


seketika raut wajahnya murung saat Farrand melontarkan pertanyaan itu.


"Ano, Haris. Boleh kulihat mesinnya?" Mata Farrand bersinar penuh


harap dan diangguki oleh Haris. Setelah itu Abel merogoh sakunya, mengeluarkan


benda persegi kecil dan memencel salah satu tombolnya.


Cklek,


Abel berjalan menuju kap depan mobilnya dan membukanya perlahan. Farrand


memandangnya penuh takjub. Hingga tanpa ia sadari ia telah mengangakan mulutnya


sedikit.


"5,8 liter, blok aluminium, SVT Supercharger, dan pipa


pembuangan balap." Ucap Farrand tanpa sadar. Abel menoleh. Setelah tadi ia


sama sekali tak tertarik dengan wanita disampingnya itu, kini ia mulai


memandangnya dengan sedikit rasa takjub. Tak banyak wanita yang tau mesin itu


hanya dengan sekali lihat seperti yang dilakukan Farrand. Dan sepertinya


persepsi tentang Farrand akan ia ubah setelah ini.


"Kau tau?" Untuk pertama kalinya, Abel mau membuka mulutnya dan


berbicara kepada Farrand. Ia kemudian menatap Farrand dengan pandangan


menelisik, dan dengan seluruh kesadarannya ia mengakui jika penampilan Farrand


sangat menawan dimatanya. Diluar kemampuannya tadi, maksudnya. Dan, hei...


kemana saja pandangan Abel sedari tadi? Mengapa ia baru menyadari jika Farrand


memang menawan?


"Yeah, seperti yang kau lihat."


"Jadi?"


"Aku tak tau dari mana kau dapat mobil ini. Mobil ini bukan mobil


sembarangan, ini adalah Ford Mustang Shelby, mobil pertama buatan tn.


Shelby yang dibuat menggunakan body AC buatan Inggris, mesin v8 Ford,


260 CID. Dibuat Ford dan Shelby saat Carrol meninggal. Dari berita terakhir


yang ku ketahui, mobil ini hilang tanpa sebab alasan yang jelas." Abel


semakin takjub atas penuturan yang dikatakan Farrand. Ia tak menyangka,


penuturan wanita yang ia sangka hanya bisa berjalan-jalan di mall itu ternyata


begitu detail. Bahkan, ia yakin tak banyak yang mengetahui info itu.


"Aku Abel." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Farrand tak


membalasnya, ia hanya tersenyum kecil. "Temanmu tadi sudah


memperkenalkanmu." Balas Farrand.


Terbersit rasa kecewa dihati Abel. Namun ia sadar akan hal itu. Bukankah ia


sendiri tadi yang mengacuhkan wanita itu? Mengapa setelah ia tau sisi lain


wanita ini baru ia mengalihkan pandangan padanya?

__ADS_1


"Jika yang mengemudi adalah seorang pembalap, kurasa kecepatannya bisa


mengalahkan kecepatan NASCAR."


"Kau benar. Dan Abel bisa mengemudikannya hingga kecepatan diatas


370km/jam." Celetuk Haris.


"Hey,, Yang ku tau kecepatan tertinggi NASCAR 367km/jm." Sambung Farrand.


"Kau tak tertarik, nona?" Tambahnya.


Sesaat Farrand terdiam dan menimbang-nimbang, "Maaf, tapi aku lebih


suka mobil lokal saja." Balas Farrand dengan senyuman. Ia tak bohong. Ia


memang lebih menyukai mobil produksi dalam negrinya. Dan ia kesini untuk


melihat Mustang primadona itu karena rasa penasaran yang muncul dihatinya. Ia


bukan munafik dengan mengatakan tidak kagum dengan supercar yang ada


disini, namun tujuan awalnya kesini bukanlah untuk mengagumi hal di depannya,


melainkan untuk tujuan lain. Ia jadi berfikir, pantas saja mobil ini jadi


primadona. Mobil ini bukanlah mobil sembarangan yang bisa dengan mudah dipesan


di toko-toko terdekat.


.


.


.


Lingga tak dapat mencari keberadaan Farrand ditengah himpitan banyak orang.


Ia tak bisa berlari, kakinya yang belum pulih sepenuhnya membuatnya tak bisa


menyusul Farrand yang sudah melesat dari tadi. Sejujurnya ia sedikit menyesal


karena keterlambatannya itu. Namun jika difikir lagi ia tak bisa terus menerus


menyesali keterlambatan itu. Biarlah. Ia akan mencari Farrand depan pelan-pelan


saja. Siapa tau nanti ketemu dengan sendirinya. Jadi ia akan menikmati


pemandangan yang bisa membuatnya takjub dulu.


Matanya menangkap sebuah siluet mobil Nissan Skyline GT-R. Namun ia


melihat ada perbedaan antara GT-R itu dengan miliknya meski keduanya


memiliki warna yang sama. Kakinya tergerak mendekati mobil itu. Dan tanpa


disadarinya, seorang pria paruh baya berambut dan berjanggut putih


menghampirinya.


"R-35, sebutan untuk Nissan Skyline GT-R35. Mobil


generasi setelah R34 yang melanjutkan kejayaannya dengan tenaga sebesar


500hp lebih. Namun aku sudah meningkatkan powernya hingga 650."


Ucap lelaki itu. Lingga menoleh. Dan ia menduga jika lelaki disampingnya itu


pastilah montirnya.


"Kekuatan yang besar."


"Ya. Namun kekuatannya terlalu besar hingga aku sulit untuk melakukan drift."


"Drift dengan menggunakan mobil 4WD? Memang bisa?"


"Bisa. Jika kau bisa menguasai akselerasi kakimu."


"Begitukah?"


"Ya."


"Kulihat tadi kau terburu-buru. Ada sesuatukah yang kau cari?"


Astaga! Lingga baru sadar jika sudah terlalu lama berputar-putar


hingga mengalihkan atensinya pada mobil dihadapannya. Sejenak, dia kembali


memantapkan hatinya untuk kembali mencari  Farrand. "Ano, boleh saya tau dimana


mobil yang menjadi primadonanya?" Tanya Lingga.


Pria itu menunjuk kerumunan orang yang berada disebelahnya. Kerumunan itu


sudah tak terlalu banyak seperti tadi ia lihat.


"Terimakasih." Ucapnya sambil tersenyum. Ia menunduk sebentar


tanda ucapan terimakasihnya dan setelah itu berlalu menuju kearah yang ditunjuk


pria itu.


Kerumunannya sudah mulai menyepi hingga ia bisa melihat Farrand yang sedang


berbincang dengan seorang pria berambut merah. Lingga sedikit jengkel. Dari


genstur tubuhnya Lingga tau jika pria itu terlihat tertarik pada Farrand.


Cemburu, eh? Lingga tak habis fikir, mengapa kali ini rambut merah lagi?


Tak cukupkah Dion saja lelaki berambut merah yang merebut hati Farrand hingga


menjadi merah agar Farrand lebih mudah mencintainya?


"Maaf, tapi aku lebih suka mobil lokal saja." Lamat-lamat


ia mendengar Farrand mengucapkannya. Dan Lingga mendapat kesimpulan jika Farrand


sedang membicarakan mobil itu.


"Mau kuantar berkeliling?" Tawar pria berambut merah itu. Lingga


mendengus kesal. Modus berkedok pendekatan, fikirnya. Dan sepertinya ia harus


bergerak cepat agar Farrand tak kembali jatuh kepelukan pria berambut merah. Huh, sepertinya saat ini Lingga sedang anti terhadap rambut merah. Tapi...  Ah,


sudahlah.


"Kau kemana saja? Aku mencarimu dari tadi, honey. Kau


meninggalkanku begitu saja, padahal kau tau aku tak bisa berjalan dengan


baik." Farrand menolehkan kepalanya kearah Lingga yang tiba-tiba muncul


dan memegang lengan kirinya. Ia kaget, namun setelah itu ia menyesal karena


telah meninggalkan Lingga.


"Maafkan aku, Ling. Aku


terlalu bersemangat hingga aku meninggalkanmu." Lingga tersenyun kecil


lalu melirik kearah Abel seolah mengatakan jika dirinya memiliki posisi spesial


disamping Farrand.


"Lain kali jangan tinggalkan aku, Fa."


Farrand mengangguk pelan. Ia sedikit lega setelah melihat keadaan Lingga


yang baik-baik saja meski wajahnya terlihat sedikit berkeringat.


"Kalau mau kita bisa berkeliling bersama, Abel?" Tawar Farrand. Abel


mengangguk saja, namun Lingga menatap tajam Abel seolah ia tak mau jika Abel


ikut.


"Ayo" Lingga mengapit lengan Farrand dan beranjak dari tempatnya. Abel


mengikuti mereka, dan meninggalkan Haris yang kembali menyesap wine miliknya yang tadi tak sempat dihabiskannya.


Mereka berjalan-jalan untuk melihat beberapa mobil dan saat mata Farrand


melihat sekilas mobil berwarna merah, ia berhenti sejenak. Lingga yang


menyadarinya mengajak Farrand mendekati mobil itu.


"Honda NSX." Lirih Farrand.


"Honda NSX, dengan mesin yang sudah dimodifikasi NA(naturally


Aspirated -> cara dongkrak tenaga mesin)." Ucap Abel dengan nada


bangga.


"Kau suka?" Lanjutnya.


Farrand masih memandang takjub kearah mobil itu. Ia tau harganya, dan


sepertinya ia sedang menghitung uang dipundi-pundi yang ia punya. Hingga


pertanyaan Abel ia abaikan begitu saja.


"Farrand dan Lingga, kalian kesini juga?" Lagi. Ia kaget karena


tepukan seseorang, dan setelah ia menoleh, ia mendapati Nadeen, Madhiaz, Suresh,


dan juga Dion disana. Eh, Dion? Mengapa ia juga ada disini?


"Aku memang berencana kesini dengan mengajak Lingga, Nadeen."


Balas Farrand.


"Mengapa tak mengajakku juga?"


"Tak perlu kuajak pun kau sudah sampai sini bukan?"


"Kau jahat, Farrand."


"Aku hanya tak ingin kau mengganggu kencanku dengan Lingga." Lingga


mengucutkan bibirnya mendengar kata-kata Farrand yang sengaja agak


dikeraskannya. Sejak kejadian dipantai, Nadeen tau jika Lingga dan Farrand


telah memiliki hubungan dekat. Namun ia tak mau menanyakan hal itu lebih lanjut


karena Madhiaz telah memberitahunya. Ia tau, jika maksud Farrand mengatakan hal


tadi adalah agar Dion mendengarnya. Yaps. Ia telah menebak jika kata-kata tadi


adalah untuk Dion.


"Setidaknya biarkan aku berangkat bersama kalian meski kalian berdua

__ADS_1


pasti akan berada dimobil yang sama, dan aku tidak."


"Oke, maafkan aku." Farrand menjeda, "apa kau kesini


bermaksud untuk mencari mobil pengganti sil80mu Nadeen?" Tambahnya.


"Ya. Kurasa aku akan menggantinya. Mobil itu pantasnya masuk museum


saja."


Farrand menghela nafas jengah, labil sekali temannya ini. Bukankah dia


sendiri yang ngebet meminta mobil itu pada ayahnya? Mengapa kini ia malah


mengatakan jika mobil itu cocoknya di museum?


"Lalu bagaimana dengan mimpimu yang ingin menjadi pembalap seperti


pengemudi sil80 gunung Usui seperti yang di cerita-cerita itu?"


"Aku akan melupakannya. Sil80 sudah tak cukup kuat menurutku saat ini.


Aku butuh mobil dengan kekuatan lebih baik. Kau ada saran?"


"Bagaimana jika kau tanya Dhiaz saja. Atau, pemuda berambut merah


disebelahku ini. Dia seorang montir hebat. Namanya Abel. Kami sudah berkenalan


tadi."


Mata Nadeen berbinar saat ia dikenalkan ke pemuda berambut merah disebelah Farrand.


Ia mengulurkan tangannya, "aku Nadeen." Ucapnya.


"Abel." Ucap Abel sambil membalas uluran tangan Nadeen. Tak ada


senyuman seperti saat ia berkenalan dengan Farrand. Karena baginya, tipe wanita


yang ia sukai adalah tipe wanita seperti Farrand, wanita penuh kejutan dan


mengetahui banyak hal tentang mobil.


"Nah, Abel. Menurutmu mobil apa yang bagus untuk kukendarai dijalan


pegunungan? Apa NSX ini bagus?" Tanya Nadeen.


"Kau tadi bilang ingin mobil yang lebih bertenaga bukan?"


"Ya."


"NSX ini hanya memiliki kekuatan sebesar 250hp."


"Apa itu lebih besar dari GTR-34 milik Lingga?"


"Tentu saja tidak. R-34 standart setidaknya punya kekuatan 350hp."


"Kalau begitu aku tak akan mengambilnya." Ucap Nadeen. Abel


mendengus, ia geli atas pernyataan Nadeen tadi.


"Lalu kau ingin yang bagaimana? Nadeen?" Tanya Farrand.


"Mobil hebat dengan tenaga besar. Namun bukan mobil import." Jawab


Nadeen santai.


"Ayo, Dhiaz, Suresh, dan Dion. Kita berkeliling lagi." Lanjut Nadeen.


Madhiaz hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Suresh yang telah Nadeen


seret. Begitupun Dion. Namun sebelum ia beranjak, ia menatap sendu kearah Farrand


yang berpegangan tangan dengan Lingga.


"Dia temanmu?" Tanya Abel kepada Farrand setelah Nadeen cs


meninggalkan mereka.


"Ya. Dia sahabatku."


"Oh.. jadi, dia berencana ingin menjadi pembalap dan mencari mobil


dengan kekuatan besar? Begitu?"


"Ya. Dia sudah banyak berlatih dan kurasa kemampuannya saat ini sudah


lebih baik."


"Rute yang biasanya kalian ambil seperti apa?"


"Rute?"


"Rute balapan."


"Jalur pegunungan."


"Jalur pegunungan ya?" Abel nampak berfikir, dan setelahnya ia


membuka mulutnya untuk mengemukakan pendapatnya.


"Kurasa ia melewatkan hal kecil dalam balapan pegunungan." Ujar Abel.


"Kau benar. Jika aku jadi dia, aku akan memilih NSX ini."


"Kau menginginkannya?" Lingga yang sedari tadi terdiam kini


membuka suaranya.


Farrand menoleh, lalu menatap Lingga sendu. "Dengan tabunganku, aku


yakin tak dapat menjangkaunya."


"Kau bisa memakai seluruh tabunganku juga."


"Dan membiarkanmu kelaparan? Tidak. Kau itu hidup sendiri, bagaimana


mungkin aku meminjam semua uangmu begitu saja."


"Aku bisa makan masakan buatanmu setiap hari."


"Lagipula aku yakin, dengan seluruh uangmu pun aku masih tak sanggup


untuk membelinya."


Abel yang mendengar perdebatan keduanya mendengus. Ia di acuhkan. Dan ia


merasa jika sekarang ini ia seperti melihat perdebatan suami istri.


"Bisakah kalian menganggap aku ada disini? Mendengar perdebatan kalian


membuatku seperti orang ketiga dalam hubungan suami istri."


"Maaf, Abel. Jika perdebatan kami membuatmu terganggu." Sesal Farrand.


"Tak apa. Kalau boleh aku tau, mengapa kau menginginkan NSX ini?"


Lingga mengangguk. Sebenarnya ia juga penasaran mengapa Farrand begitu


menginginkan mobil ini. Setaunya, mobil ini hanya memiliki 250 hp, dan itu masih


dibawah GTR miliknya.


"Aku dulu pernah mempunyai NSX dan mengendarainya cukup lama. Tak


seperti yang lain, NSX ini menyingkirkan kemewahan dan menggunakan kapasitas


mesin NA besar yang dipasang ditengah sasis. Kecepatan menikungnya sangat baik


karena mesin tengahnya itu, dan NSX bisa keluar dengan cepat ditikungan tajam


karena mesin NA nya."


Lagi-lagi Lingga dan Abel dibuat takjub oleh penjelasan Farrand. Mereka


terpesona padanya, tak hanya paras menawan yang dimilikinya, namun


pengetahuannya akan mobil juga mampu membuat dua orang itu berdecak kagum.


"Mungkin Sil15 bisa menjadi alternatif untukmu." Ujar Abel.


"Aku tak suka Sil15."


"Kukira kau lebih suka mesin Nissan. Bukankah sil15 dan NSX sama-sama


memiliki tenaga 250hp?" Sela Lingga.


"Entahlah. Hatiku masih terasa nyaman dengan mesin Honda."


"Ano, Farrand. Aku mungkin bisa membantumu mendapatkan NSX itu. Tapi


dengan syarat kau harus menjadi pendampingku disamping kemudi. Seperti menjadi navigator, mungkin?" Ucap Abel yang mencoba memberanikan diri menawari Farrand


sesuatu.


"Tidak bisa. Dia sudah menjadi navigatorku, dan kau tak bisa


mengambilnya begitu saja." Potong Lingga dengan cepat. Ia tak bisa


membiarkan hal itu terjadi. Apa-apaan dengan pemuda berambut merah itu, baru


mengenal Farrand tak sampai sehari sudah main menyeretnya untuk dijadikan navigatornya.


Tak taukah pria itu jika Lingga membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Farrand


mau menjadi navigatornya?


"Siapa dirimu bagi Farrand? Aku yakin. Kau bahkan bukan pacarnya."


"Dari mana kau bisa seyakin itu, rambut merah."


"Bisa kalian hentikan perdebatan kalian? Aku bukan barang yang bisa


diperebutkan seenak kalian, para pria menyebalkan." Keduanya pria itu


terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. Aura gelap yang dikeluarkan Farrand


ternyata sanggup membungkam keduanya yang terlibat pertengkaran kecil itu.


"Ayo Lingga. Kita pulang saja. Tak ada hal yang bisa kudapatkan disini


selain pertengkaran kalian berdua." Putus Farrand. Lingga mengangguk


lemah. Mau tak mau ia menurut saja pada keputusan Farrand. Yah, ada baiknya ia


cari aman saja kan?


Sedangkan Abel, ia menatap sendu punggung Farrand yang mulai berjalan


menjauh darinya. Setelah itu ia bertekad dalam hati akan mencari tau tentang Farrand.


Apapun caranya.


Tak jauh dari tempat Farrand tadi, seseorang mengamati Farrand. Ia menyunggingkan


senyuman tipis saat melihat Farrand meninggalkan pameran bersama dengan Lingga.

__ADS_1


'Jadi, NSX ya?' lirihnya.


^tbc^


__ADS_2