Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 28


__ADS_3

Farrand


terduduk diteras rumahnya sambil menyesap teh hangat. Ia menunggu kedatangan Lingga,


dan pagi ini mereka berencana berangkat bersama karena flu Farrand sudah agak


lebih baik dari terakhir ia masuk sekolah. Memang, sudah seminggu ini Farrand


tak masuk sekolah, dan selama itu pula Lingga selalu menghubunginya untuk


sekedar menanyakan kabarnya. Bahkan setelah Lingga datang kerumahnya beberapa


waktu yang lalu hanya untuk menceritakan murid baru itu, Lingga semakin gencar


menghubunginya. Ia tak mengerti, seberapa dekatnya murid baru itu dengan Lingga


hingga Lingga terus-menerus berkata bahwa ia tak ada hubungan apapun dengannya.


Jengah? Ya, mungkin kata itu yang pantas Farrand ucapkan kepada sikap Lingga.


Seperti


pagi ini juga, setelah ia mengatakan kepada Lingga bahwa ia akan masuk hari


ini, pemuda itu bersikeras mengatakan jika dirinya akan menjemput Farrand.


Padahal jarak apartmennya dengan sekolah lebih dekat dari jarak rumah Farrand


kesekolah. Sebal? Tentu saja. Bukankah Lingga terkesan membuang-buang waktu dan


tenaga? Tapi bak pepatah lama, apapun untuk cinta, dan sepertinya Lingga sedang


menganut  pemahaman itu sekarang.


"Maaf


membuatmu menunggu lama." Perkataan Lingga membuyarkan lamunan Farrand. Ia


mengangguk, ia lantas beranjak dan berlari menuju Lingga yang telah berdiri di


gerbang.


"Tak


apa. Aku juga sedang santai sambil menikmati teh hangat."


Farrand


tersenyum manis. Dan karena senyuman itu hati Lingga menghangat ditengah


dinginnya salju.


"Tak


apakah kita berangkat naik kereta?"


"Tak


apa. Sudah lama aku tak naik kereta."


"Lalu


bagaimana kondisi kesehatanmu? Tak apa?"


"Tak


apa. Aku sudah cukup kuat sekarang. Lagipula aku sudah rutin mengkonsumsi


vitamin dan memakai bedak untuk alergiku. Tak perlu khawatir. Aku bahkan


membawanya."


Hati Lingga


sedikit tenang setelah mendengar penjelasan Farrand.


"Maaf.


Aku tak bisa mengantarmu memakai mobil. Masih beberapa bulan lagi untukku


mempunyai sim sendiri." Pandangan Lingga menyendu, ia berkata seakan ia


belum menjadi kekasih yang baik untuk gadis disampingnya itu.


"Hei...


kau fikir aku ini siapa sampai-sampai kau merasa bersalah begitu karena kau tak


bisa menjemputku menggunakan mobilmu."


"Tapi


setidaknya jika memakai mobil sakitmu tidak akan bertambah parah."


"Sudahlah.


Apa enaknya naik mobil? Aku sudah bosan. Lagipula hanya hari ini aku tak


diantar ayah. Jika kau menjemputku hanya untuk mengeluarkan gerutuanmu, lebih


baik kau pergi sendiri saja."


Glek...


 


 


Gawat. Lingga seakan mati kutu jika harus menghadapi Farrand yang sedang


merajuk seperti ini. Ok, katakanlah ia terlalu mello atau bahkan kata untuk


saat ini adalah bucin. Tapi sungguh, ia hanya ingin yang terbaik untuk


kekasihnya itu.


"Baiklah,


baiklah. Aku tak akan menyinggungnya lagi untukmu."


"Bagus.


Karena dengan begitu aku bisa dengan leluasa bercanda denganmu. Kau tau,


sikapmu tadi membuatku merasa jika aku orang lemah yang butuh belas kasihan


dari orang lain." Farrand tersenyum setelah mengatakan itu. Akhir-akhir


ini mereka sudah semakin terbuka atas apa yang mereka katakana dan Farrand


sangat mensyukuri hal itu.


"Ayo,


kita harus bergegas lebih cepat agar tak ketinggalan kereta."


Farrand


mengangguk, lalu ia menggenggam tangan Lingga dan sedikit menariknya karena


langkah cepat Farrand.


"Aku


tak sabar menaiki kereta dan berangkat bersamamu." Ucap Farrand.


Perjalanan


mereka banyak di isi oleh senda gurau yang sesekali dilayangkan keduanya.


Tangan mereka masih bergandengan erat, bahkan sampai menaiki kereta pun mereka


masih tak melepaskan genggaman tangan mereka.


Kereta


yang mereka naiki lumayan lenggang. Jadi lah mereka bisa duduk berdampingan


dikursi kereta.


"Hey, Lingga. Natal nanti kau akan


merayakannya dimana?" Ujar Farrand.


Lingga


menunduk dengan pandangan yang sedikit sendu, dan perlakuan itu membuat Farrand


merasa bersalah karena menanyakannya.


"Entahlah.


Jika tahun lalu, aku masih bisa merayakannya dirumah meski suasananya dingin


dan menegangkan."


"Menegangkan?"


"Ya,


menegangkan. Memang apalagi yang kau harapkan dari keluarga yang dingin seperti


keluargaku.? Bercanda dan saling melempar ejekan hingga mendapat suasana yang


hangat?"


"Entah.


Aku tak tau. Selama natal disini ayah selalu mengajakku merayakannya dirumah Dhiaz. Dan


saat aku masih di kota sebelah, ayah mengajakku jalan-jalan hingga aku lelah


dan tertidur dimobil."


"...."


"Ne,


Lingga. Kau mau merayakan natal bersama kami?"


"Kami?"


"Iya.


Keluarga Diaz, aku, dan ayahku. Kami berencana merayakannya dirumah


kami kali ini."


Lingga


terdiam sejenak dan mencoba memikirkan usulan Farrand."Bolehkah?"


Tanyanya.


Farrand


mengangguk,"Tentu saja. Ayah pasti dengan senang hati mau mengajakmu


bergabung."


"Terimakasih banyak atas tawaranmu. Farrand."


"E-em.


Sama-sama."


"Natal


ya? Bukankah natal itu dirayakan dua hari setelah balapan?" Lingga seperti


sedang menerawang, mencoba mengingat-ingat beberapa hal.


"Balapan?


Apakah yang maksud balapan melawan tim baru itu?"


"Ya."


"Apa


kau yang akan maju?"


Lingga


mengangguk pelan.


"Aku


dan Dhiaz berencana maju. Pembalap yang lain sudah menumpukan harapan


mereka pada kami."


"Mengapa


mereka melakukan hal itu? Tidakkah kau merasa jika mereka juga punya kewajiban


yang sama?"

__ADS_1


"Apa


boleh buat, mereka takut jika mereka memaksa mengikutinya, mereka akan


kehilangan mobil kesayangan mereka."


"Lalu


bagaimana dengamu?"


"Aku


dan mobilku cukup hebat. Kau tau itukan?" Lingga tersenyum, namun


senyumnya terasa janggal dan tak seperti senyum tulus.


Kini,


giliran pandangan Farrand yang menyendu mendengar perkataan Lingga. Ia tau,


dari nada bicara Lingga, pria itu tak sungguh-sungguh mengatakan jika dirinya


hebat. Dan entah mengapa Farrand merasa jika Lingga hanya sedang menghibur


dirinya sendiri karena rasa tertekannya.


"Aku


tau kau pasti tertekan." Ucap Farrand. Lingga menunduk, merasa tertohok


oleh ucapan Farrand barusan.


"Tak


ada pilihan lain untukku. Tapi aku sudah berlatih dengan Dhiaz beberapa


hari ini."


"Maafkan aku, Ling. Aku


masih belum bisa mendampingimu seperti biasanya dibalapan kali ini. Ayahku


masih melarangku balapan dimusim dingin ini."


"Aku


tau. Akupun setuju dengan perkataan paman Arasya. Kau harus istirahat dan tidak


boleh ikut balapan."


"Kalau


begitu, jika aku tidak boleh ikut balapan, aku akan datang untuk


menyemangatimu."


"Jangan.


Tunggulah dirumah saja. Akan kuberi kau kabar baik."


 


 


Puk...


Tangan Lingga mengusap gemas puncak kepala Farrand. Mendengar Farrand akan


datang untuk mendukungnya, entah mengapa hatinya terasa menghangat dan


berangsur-angsur mengurangi rasa ketertekanannya pada balapan yang diadakan


lusa itu. Namun ia juga tak memungkiri jika dirinya masih mengkhawatirkan


kondisi kesehatan Farrand.


"Hei...


jangan mengacak rambutku. Aku sudah susah payah merawatnya dan merapikannya


tadi." Bibir Farrand mencebik kesal, ia kesal Lingga yang dengan seenaknya


sendiri merusak tatanan rambut yang telah ia rapikan tadi.


Lingga


tersenyum, mendapati Farrand merengut sebal seperti itu membuat hatinya bahagia


dan puas disaat bersamaan. Dan entah mengapa, menjahili Farrand seperti


sekarang itu adalah momen yang menjadi candu untuknya.


"Lalu,


untuk sekarang, ayo kita bersiap. Sebentar lagi kereta berhenti." Lingga


mengangguk membenarkan perkataan Farrand. Ia lalu beranjak dan menuntun Farrand


menuju sebelah pintu keluar.


****


Sesampainya


dikelas, Farrand disuguhkan pemandangan yang membuatnya mengernyikan alisnya.


Disana, di atas meja milik Lingga terduduk seorang wanita berambut pirang pucat


yang dengan gaya bossy nya ia menggoyang-goyangkan kaki jenjangnya yang


terjuntai disisi samping meja. Tak hanya itu, wanita itu juga memakan permen


lolipop dengan gaya sensualnya hingga ia melihat beberapa pria dikelasnya


menahan darah yang menetes dari hidungnya.


"Siapa


dia?" Bisik Farrand pada Lingga.


"Dia


yang sering kuceritakan padamu." Balas Lingga.


"Oh..."


Farrand hanya menanggapinya dengan santai sambil terus berjalan bergandengan


tangan menuju bangkunya, sampai......


"Kyaaa....


dibelakangku?" Glup...  Lingga menelan ludahnya dengan kasar saat Ava


tiba-tiba menerjang kearahnya dan memeluk sebelah lengan Lingga yang tidak


menggandeng Farrand. Dengan gerakan pelan dan patah-patah ia melirik Farrand


sambil meneteskan keringat.


"Hallo.


Perkenalkan aku Farrand. Kekasih Lingga." Ucap Farrand santai sambil


menyunggingkan senyumnya dan menjulurkan tangan kanannya pada Ava.


Ava


menyipitkan matanya, ia tak langsung membalas uluran tangan Farrand dan dengan


nada angkuhnya malah memalingkan mukanya kesamping.


Farrand


yang melihatnya mendengus pelan. Ia tak menyangka jika ia akan disuguhi


pemandangan seperti ini dihari pertamanya masuk setelah sakit. Ia jadi tak


heran. Pantas Lingga selalu gencar membombardir hpnya dengan pesan dan cerita yang


sama setiap harinya.


"Aku Ava.


Dan harus kau ingat. Aku akan menggeser kedudukanmu sebagai kekasih Lingga


setelah ini. Bersiap saja."


"Ho....


silahkan saja kalau bisa. Dan jika ia berpaling, dengan senang hati aku


merestui kalian." Farrand mengatakannya sambil tersenyum manis, namun


balasan Ava sungguh diluar dugaannya.


"Aku


cantik, populer, dan aku juga jago di arena balap. Dengan beberapa kelebihanku


itu, kuyakin Lingga dengan cepat bisa berpaling kepadaku. Mengingat Lingga


adalah orang yang suka dengan balapan sedari dulu." Ava menyeringai senang


dengan apa yang ia katakan.


Glek...


 


 


Lingga kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Ia heran, ini masih pagi


namun entah mengapa ia selalu kesulitan menelan ludahnya dari tadi.


"Ho....


begitukah?"


"Ya...


mau bukti? Atau kau lebih suka jika kita memperebutkannya di arena balap?"


Farrand


menggeleng, ia tak mungkin akan melayani tantangan dari wanita yang


mendeklarasikan dirinya sebagai perebut Lingga itu.


"Takut,


he?"


"Ou....


ya.. aku sangat takut, Ava. Saking takutnya aku sampai tidak mau menerima


tantanganmu." Ucap Farrand sambil terkikik geli.


Raut wajah


Ava memerah. Entah mengapa ia merasa seperti sedang dicemooh disini.


"Sudahlah.


Bel sudah berbunyi. Sebentar lagi guru  pengajar pasti datang. Jadi ayo kembali ke bangku masing-masing."


Ava tak


bereaksi. Ia tak percaya jika dirinya akan menghadapi wanita macam Farrand. Ia


yakin, jika dirinya yang ada diposisi Farrand, pastilah ia akan mengamuk jika


ada wanita yang mendeklarasikan dirinya akan merebut pacarnya. Ia heran, apa


mungkin wanita itu tak mencintai Lingga? Jika ya, ia akan merebutnya dengan


cara apapun.


"Jika


kau berfikir aku tak mencintai Lingga, kau salah. Aku hanya ingin kehidupanku


tenang tanpa bentrok dengan siapapun. Tapi jika kau berniat mencari gara-gara


padaku, aku tak akan segan-segan melawanmu. Mengerti? Ava?" Ucap Farrand sambil


tersenyum. Ava bergidik, entah mengapa ucapan Farrand terdengar begitu


sungguh-sungguh dan seperti menusuk dirinya.


"Na..


Lingga. Ayo duduk. Kau tak mau kan dihukum guru." Lingga mengangguk, ia lalu berjalan ke arah


bangkunya dan duduk dengan manis tanpa ada keributan seperti hari sebelumnya.

__ADS_1


Ia bersyukur, setidaknya Farrand tidak mencak-mencak karena perkataan Ava yang


menurutnya keterlaluan itu. Bahkan tadinya ia fikir akan ada drama pertengkaran


diantara mereka? Setidaknya sedikit tamparan atau ditambah bumbu


jambrak-jambrakan mungkin sedikit seru?


Tanpa


banyak basa-basi Ava langsung menurut saja, melangkahkan kakinya dan duduk


dibangkunya sendiri. Ia terdiam, namun keterdiamannya itu sebenarnya adalah


wujud rasa dongkol dihatinya karena perkataan Farrand tadi. Dalam hati, ia


bertekad akan memberi pelajaran pada Farrand agar wanita itu jera


mempermalukannya didepan umum seperti tadi.


 


 


.


.


Di basement mereka,


Samuel mengerang frustasi. Ia sudah menyelidiki beberapa hal dalam beberapa


hari ini namun tidak juga mendapat kejelasan tentang orang yang mempunyai mobil


NSX itu. Ia juga banyak mengunjungi tempat di Kota Falen yang sekiranya bisa


digunakan untuk mencari info tentangnya.


Saat ini,


ia hanya bisa duduk dan memandang ke arah langit-langit ruang sambil


menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seharusnya ia tak bisa tak bisa


seperti ini terus, balapan akan dilaksanakan lusa dan ia belum mengecek kondisi


mobilnya sama sekali.


"Apa


yang harus kulakukan?" Monolognya.


 


 


Fyuhhhhh


Helaan nafas ia hembuskan perlahan. Ia lapar, namun ia masih harus menunggu


seseorang yang datang untuk menggantikannya menjaga basement.


 


 


.


.


.


Arasya


sudah selesai bersiap-siap saat Farrand pulang dari sekolahnya. Ia memang ingin


menunggu Farrand untuk berpamitan, dan ia tersenyum senang saat mengetahui Farrand


telah pulang.


“Aku


pulang." Ucap Farrand.


"Oh, selamat datang."


Balas Arasya. Ia keluar, menyambut putrinya yang baru pulang dari sekolah itu.


"Ayah


belum berangkat?"


"Ayah


menunggu Farrand pulang dulu. Ada yang ingin ayah sampaikan."


Arasya


mengambil tas Farrand dan membawakannya kedalam sementara Farrand melepas


sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah berbentuk kelinci.


"Ayo..


kita makan siang sambil ngobrol." lanjut Arasya.


"Ehm.."


Farrand tersenyum dan mengangguk kecil sambil mengikuti Arasya yang melangkah


menuju ruang makan.


"Ayah


yang masak? Kelihatannya enak."


"Tentu.


Tadi ayah punya banyak waktu sebelum berangkat. Jadi ayah putuskan untuk


memasak makan siang terlebih dahulu."


"Oh


iya, apa yang ingin ayah sampaikan?"


"Ayah


ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, ayo kita makan dulu."


Senyum


tersungging dibibir Farrand, meski sebenarnya ia penasaran tentang apa yang


ingin ayahnya katakan, ia akan tahan itu sampai acara makan selesai.


"Ne, Farrand.


Mungkin ayah akan ke Kota Halu selama 4 hari." Ujar Arasya membuka


percakapan mereka setelah makan.


"Selama


itu?"


"Iya."


"Mengapa


selama itu."


"Ada


yang harus ayah urus disana."


"Bukankah


itu tepat hari natal?"


"Ya."


"Lalu


ayah tak merayakannya seperti dulu?"


"Akan


ayah usahakan sebelum natal sudah dirumah."


"Apakah


kita akan merayakannya seperti tahun-tahun kemarin? Maksudku  kita


merayakannya bersama keluarga paman Mirza?"


"Entahlah,


istri Mirza belum membaik dan masih berada dirumah sakit saat ini."


Pandangan Arasya


menyendu, ia sedikit menundukkan pandangannya dan menatap meja makan yang masih


belun dibersihkan.


"Aku


ingin menjenguk bibi."


"Kurasa


jangan dulu. Kondisimu masih belum membaik saat ini."


"Lalu


mereka akan merayakan natal di rumah sakit?"


"Entahlah..


mungkin iya."


"Ano..


ayah. Boleh aku mengajak Lingga dan Nadeen merayakan natal disini? Lingga


sendirian. Begitu pula Nadeen. Ayahnya sedang keluar negeri hingga bulan


depan."


Arasya


tersenyum, "tentu." Jawabnya.


"Dan


ayah akan membawa NSX nya ya."


"loh... mengapa ayah


memakai mobilku? Bukankah ayah sudah membeli mobil sendiri?"


"Ayah


hanya butuh sedikit tempat. Dan mungkin lan-evo nya akan sedikit berguna jika


ayah tinggal."


"Maksud


ayah?"


 


 


Puk....


Arasya berdiri dan langsung menepuk puncak kepala Naeu dan mengusapnya sedikit.


"Kau


akan tau nanti."


"..."


"Ayah


berangkat ya."


Farrand


mengangguk pelan. Tak menjawab ucapan ayahnya dan hanya diam sambil


mengantarkannya kedepan pintu.


"Ayah

__ADS_1


selalu memberiku teka-teki seperti itu." Bisiknya.


Tbc


__ADS_2