
Farrand
terduduk diteras rumahnya sambil menyesap teh hangat. Ia menunggu kedatangan Lingga,
dan pagi ini mereka berencana berangkat bersama karena flu Farrand sudah agak
lebih baik dari terakhir ia masuk sekolah. Memang, sudah seminggu ini Farrand
tak masuk sekolah, dan selama itu pula Lingga selalu menghubunginya untuk
sekedar menanyakan kabarnya. Bahkan setelah Lingga datang kerumahnya beberapa
waktu yang lalu hanya untuk menceritakan murid baru itu, Lingga semakin gencar
menghubunginya. Ia tak mengerti, seberapa dekatnya murid baru itu dengan Lingga
hingga Lingga terus-menerus berkata bahwa ia tak ada hubungan apapun dengannya.
Jengah? Ya, mungkin kata itu yang pantas Farrand ucapkan kepada sikap Lingga.
Seperti
pagi ini juga, setelah ia mengatakan kepada Lingga bahwa ia akan masuk hari
ini, pemuda itu bersikeras mengatakan jika dirinya akan menjemput Farrand.
Padahal jarak apartmennya dengan sekolah lebih dekat dari jarak rumah Farrand
kesekolah. Sebal? Tentu saja. Bukankah Lingga terkesan membuang-buang waktu dan
tenaga? Tapi bak pepatah lama, apapun untuk cinta, dan sepertinya Lingga sedang
menganut pemahaman itu sekarang.
"Maaf
membuatmu menunggu lama." Perkataan Lingga membuyarkan lamunan Farrand. Ia
mengangguk, ia lantas beranjak dan berlari menuju Lingga yang telah berdiri di
gerbang.
"Tak
apa. Aku juga sedang santai sambil menikmati teh hangat."
Farrand
tersenyum manis. Dan karena senyuman itu hati Lingga menghangat ditengah
dinginnya salju.
"Tak
apakah kita berangkat naik kereta?"
"Tak
apa. Sudah lama aku tak naik kereta."
"Lalu
bagaimana kondisi kesehatanmu? Tak apa?"
"Tak
apa. Aku sudah cukup kuat sekarang. Lagipula aku sudah rutin mengkonsumsi
vitamin dan memakai bedak untuk alergiku. Tak perlu khawatir. Aku bahkan
membawanya."
Hati Lingga
sedikit tenang setelah mendengar penjelasan Farrand.
"Maaf.
Aku tak bisa mengantarmu memakai mobil. Masih beberapa bulan lagi untukku
mempunyai sim sendiri." Pandangan Lingga menyendu, ia berkata seakan ia
belum menjadi kekasih yang baik untuk gadis disampingnya itu.
"Hei...
kau fikir aku ini siapa sampai-sampai kau merasa bersalah begitu karena kau tak
bisa menjemputku menggunakan mobilmu."
"Tapi
setidaknya jika memakai mobil sakitmu tidak akan bertambah parah."
"Sudahlah.
Apa enaknya naik mobil? Aku sudah bosan. Lagipula hanya hari ini aku tak
diantar ayah. Jika kau menjemputku hanya untuk mengeluarkan gerutuanmu, lebih
baik kau pergi sendiri saja."
Glek...
Gawat. Lingga seakan mati kutu jika harus menghadapi Farrand yang sedang
merajuk seperti ini. Ok, katakanlah ia terlalu mello atau bahkan kata untuk
saat ini adalah bucin. Tapi sungguh, ia hanya ingin yang terbaik untuk
kekasihnya itu.
"Baiklah,
baiklah. Aku tak akan menyinggungnya lagi untukmu."
"Bagus.
Karena dengan begitu aku bisa dengan leluasa bercanda denganmu. Kau tau,
sikapmu tadi membuatku merasa jika aku orang lemah yang butuh belas kasihan
dari orang lain." Farrand tersenyum setelah mengatakan itu. Akhir-akhir
ini mereka sudah semakin terbuka atas apa yang mereka katakana dan Farrand
sangat mensyukuri hal itu.
"Ayo,
kita harus bergegas lebih cepat agar tak ketinggalan kereta."
Farrand
mengangguk, lalu ia menggenggam tangan Lingga dan sedikit menariknya karena
langkah cepat Farrand.
"Aku
tak sabar menaiki kereta dan berangkat bersamamu." Ucap Farrand.
Perjalanan
mereka banyak di isi oleh senda gurau yang sesekali dilayangkan keduanya.
Tangan mereka masih bergandengan erat, bahkan sampai menaiki kereta pun mereka
masih tak melepaskan genggaman tangan mereka.
Kereta
yang mereka naiki lumayan lenggang. Jadi lah mereka bisa duduk berdampingan
dikursi kereta.
"Hey, Lingga. Natal nanti kau akan
merayakannya dimana?" Ujar Farrand.
Lingga
menunduk dengan pandangan yang sedikit sendu, dan perlakuan itu membuat Farrand
merasa bersalah karena menanyakannya.
"Entahlah.
Jika tahun lalu, aku masih bisa merayakannya dirumah meski suasananya dingin
dan menegangkan."
"Menegangkan?"
"Ya,
menegangkan. Memang apalagi yang kau harapkan dari keluarga yang dingin seperti
keluargaku.? Bercanda dan saling melempar ejekan hingga mendapat suasana yang
hangat?"
"Entah.
Aku tak tau. Selama natal disini ayah selalu mengajakku merayakannya dirumah Dhiaz. Dan
saat aku masih di kota sebelah, ayah mengajakku jalan-jalan hingga aku lelah
dan tertidur dimobil."
"...."
"Ne,
Lingga. Kau mau merayakan natal bersama kami?"
"Kami?"
"Iya.
Keluarga Diaz, aku, dan ayahku. Kami berencana merayakannya dirumah
kami kali ini."
Lingga
terdiam sejenak dan mencoba memikirkan usulan Farrand."Bolehkah?"
Tanyanya.
Farrand
mengangguk,"Tentu saja. Ayah pasti dengan senang hati mau mengajakmu
bergabung."
"Terimakasih banyak atas tawaranmu. Farrand."
"E-em.
Sama-sama."
"Natal
ya? Bukankah natal itu dirayakan dua hari setelah balapan?" Lingga seperti
sedang menerawang, mencoba mengingat-ingat beberapa hal.
"Balapan?
Apakah yang maksud balapan melawan tim baru itu?"
"Ya."
"Apa
kau yang akan maju?"
Lingga
mengangguk pelan.
"Aku
dan Dhiaz berencana maju. Pembalap yang lain sudah menumpukan harapan
mereka pada kami."
"Mengapa
mereka melakukan hal itu? Tidakkah kau merasa jika mereka juga punya kewajiban
yang sama?"
__ADS_1
"Apa
boleh buat, mereka takut jika mereka memaksa mengikutinya, mereka akan
kehilangan mobil kesayangan mereka."
"Lalu
bagaimana dengamu?"
"Aku
dan mobilku cukup hebat. Kau tau itukan?" Lingga tersenyum, namun
senyumnya terasa janggal dan tak seperti senyum tulus.
Kini,
giliran pandangan Farrand yang menyendu mendengar perkataan Lingga. Ia tau,
dari nada bicara Lingga, pria itu tak sungguh-sungguh mengatakan jika dirinya
hebat. Dan entah mengapa Farrand merasa jika Lingga hanya sedang menghibur
dirinya sendiri karena rasa tertekannya.
"Aku
tau kau pasti tertekan." Ucap Farrand. Lingga menunduk, merasa tertohok
oleh ucapan Farrand barusan.
"Tak
ada pilihan lain untukku. Tapi aku sudah berlatih dengan Dhiaz beberapa
hari ini."
"Maafkan aku, Ling. Aku
masih belum bisa mendampingimu seperti biasanya dibalapan kali ini. Ayahku
masih melarangku balapan dimusim dingin ini."
"Aku
tau. Akupun setuju dengan perkataan paman Arasya. Kau harus istirahat dan tidak
boleh ikut balapan."
"Kalau
begitu, jika aku tidak boleh ikut balapan, aku akan datang untuk
menyemangatimu."
"Jangan.
Tunggulah dirumah saja. Akan kuberi kau kabar baik."
Puk...
Tangan Lingga mengusap gemas puncak kepala Farrand. Mendengar Farrand akan
datang untuk mendukungnya, entah mengapa hatinya terasa menghangat dan
berangsur-angsur mengurangi rasa ketertekanannya pada balapan yang diadakan
lusa itu. Namun ia juga tak memungkiri jika dirinya masih mengkhawatirkan
kondisi kesehatan Farrand.
"Hei...
jangan mengacak rambutku. Aku sudah susah payah merawatnya dan merapikannya
tadi." Bibir Farrand mencebik kesal, ia kesal Lingga yang dengan seenaknya
sendiri merusak tatanan rambut yang telah ia rapikan tadi.
Lingga
tersenyum, mendapati Farrand merengut sebal seperti itu membuat hatinya bahagia
dan puas disaat bersamaan. Dan entah mengapa, menjahili Farrand seperti
sekarang itu adalah momen yang menjadi candu untuknya.
"Lalu,
untuk sekarang, ayo kita bersiap. Sebentar lagi kereta berhenti." Lingga
mengangguk membenarkan perkataan Farrand. Ia lalu beranjak dan menuntun Farrand
menuju sebelah pintu keluar.
****
Sesampainya
dikelas, Farrand disuguhkan pemandangan yang membuatnya mengernyikan alisnya.
Disana, di atas meja milik Lingga terduduk seorang wanita berambut pirang pucat
yang dengan gaya bossy nya ia menggoyang-goyangkan kaki jenjangnya yang
terjuntai disisi samping meja. Tak hanya itu, wanita itu juga memakan permen
lolipop dengan gaya sensualnya hingga ia melihat beberapa pria dikelasnya
menahan darah yang menetes dari hidungnya.
"Siapa
dia?" Bisik Farrand pada Lingga.
"Dia
yang sering kuceritakan padamu." Balas Lingga.
"Oh..."
Farrand hanya menanggapinya dengan santai sambil terus berjalan bergandengan
tangan menuju bangkunya, sampai......
"Kyaaa....
dibelakangku?" Glup... Lingga menelan ludahnya dengan kasar saat Ava
tiba-tiba menerjang kearahnya dan memeluk sebelah lengan Lingga yang tidak
menggandeng Farrand. Dengan gerakan pelan dan patah-patah ia melirik Farrand
sambil meneteskan keringat.
"Hallo.
Perkenalkan aku Farrand. Kekasih Lingga." Ucap Farrand santai sambil
menyunggingkan senyumnya dan menjulurkan tangan kanannya pada Ava.
Ava
menyipitkan matanya, ia tak langsung membalas uluran tangan Farrand dan dengan
nada angkuhnya malah memalingkan mukanya kesamping.
Farrand
yang melihatnya mendengus pelan. Ia tak menyangka jika ia akan disuguhi
pemandangan seperti ini dihari pertamanya masuk setelah sakit. Ia jadi tak
heran. Pantas Lingga selalu gencar membombardir hpnya dengan pesan dan cerita yang
sama setiap harinya.
"Aku Ava.
Dan harus kau ingat. Aku akan menggeser kedudukanmu sebagai kekasih Lingga
setelah ini. Bersiap saja."
"Ho....
silahkan saja kalau bisa. Dan jika ia berpaling, dengan senang hati aku
merestui kalian." Farrand mengatakannya sambil tersenyum manis, namun
balasan Ava sungguh diluar dugaannya.
"Aku
cantik, populer, dan aku juga jago di arena balap. Dengan beberapa kelebihanku
itu, kuyakin Lingga dengan cepat bisa berpaling kepadaku. Mengingat Lingga
adalah orang yang suka dengan balapan sedari dulu." Ava menyeringai senang
dengan apa yang ia katakan.
Glek...
Lingga kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Ia heran, ini masih pagi
namun entah mengapa ia selalu kesulitan menelan ludahnya dari tadi.
"Ho....
begitukah?"
"Ya...
mau bukti? Atau kau lebih suka jika kita memperebutkannya di arena balap?"
Farrand
menggeleng, ia tak mungkin akan melayani tantangan dari wanita yang
mendeklarasikan dirinya sebagai perebut Lingga itu.
"Takut,
he?"
"Ou....
ya.. aku sangat takut, Ava. Saking takutnya aku sampai tidak mau menerima
tantanganmu." Ucap Farrand sambil terkikik geli.
Raut wajah
Ava memerah. Entah mengapa ia merasa seperti sedang dicemooh disini.
"Sudahlah.
Bel sudah berbunyi. Sebentar lagi guru pengajar pasti datang. Jadi ayo kembali ke bangku masing-masing."
Ava tak
bereaksi. Ia tak percaya jika dirinya akan menghadapi wanita macam Farrand. Ia
yakin, jika dirinya yang ada diposisi Farrand, pastilah ia akan mengamuk jika
ada wanita yang mendeklarasikan dirinya akan merebut pacarnya. Ia heran, apa
mungkin wanita itu tak mencintai Lingga? Jika ya, ia akan merebutnya dengan
cara apapun.
"Jika
kau berfikir aku tak mencintai Lingga, kau salah. Aku hanya ingin kehidupanku
tenang tanpa bentrok dengan siapapun. Tapi jika kau berniat mencari gara-gara
padaku, aku tak akan segan-segan melawanmu. Mengerti? Ava?" Ucap Farrand sambil
tersenyum. Ava bergidik, entah mengapa ucapan Farrand terdengar begitu
sungguh-sungguh dan seperti menusuk dirinya.
"Na..
Lingga. Ayo duduk. Kau tak mau kan dihukum guru." Lingga mengangguk, ia lalu berjalan ke arah
bangkunya dan duduk dengan manis tanpa ada keributan seperti hari sebelumnya.
__ADS_1
Ia bersyukur, setidaknya Farrand tidak mencak-mencak karena perkataan Ava yang
menurutnya keterlaluan itu. Bahkan tadinya ia fikir akan ada drama pertengkaran
diantara mereka? Setidaknya sedikit tamparan atau ditambah bumbu
jambrak-jambrakan mungkin sedikit seru?
Tanpa
banyak basa-basi Ava langsung menurut saja, melangkahkan kakinya dan duduk
dibangkunya sendiri. Ia terdiam, namun keterdiamannya itu sebenarnya adalah
wujud rasa dongkol dihatinya karena perkataan Farrand tadi. Dalam hati, ia
bertekad akan memberi pelajaran pada Farrand agar wanita itu jera
mempermalukannya didepan umum seperti tadi.
.
.
Di basement mereka,
Samuel mengerang frustasi. Ia sudah menyelidiki beberapa hal dalam beberapa
hari ini namun tidak juga mendapat kejelasan tentang orang yang mempunyai mobil
NSX itu. Ia juga banyak mengunjungi tempat di Kota Falen yang sekiranya bisa
digunakan untuk mencari info tentangnya.
Saat ini,
ia hanya bisa duduk dan memandang ke arah langit-langit ruang sambil
menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seharusnya ia tak bisa tak bisa
seperti ini terus, balapan akan dilaksanakan lusa dan ia belum mengecek kondisi
mobilnya sama sekali.
"Apa
yang harus kulakukan?" Monolognya.
Fyuhhhhh
Helaan nafas ia hembuskan perlahan. Ia lapar, namun ia masih harus menunggu
seseorang yang datang untuk menggantikannya menjaga basement.
.
.
.
Arasya
sudah selesai bersiap-siap saat Farrand pulang dari sekolahnya. Ia memang ingin
menunggu Farrand untuk berpamitan, dan ia tersenyum senang saat mengetahui Farrand
telah pulang.
“Aku
pulang." Ucap Farrand.
"Oh, selamat datang."
Balas Arasya. Ia keluar, menyambut putrinya yang baru pulang dari sekolah itu.
"Ayah
belum berangkat?"
"Ayah
menunggu Farrand pulang dulu. Ada yang ingin ayah sampaikan."
Arasya
mengambil tas Farrand dan membawakannya kedalam sementara Farrand melepas
sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah berbentuk kelinci.
"Ayo..
kita makan siang sambil ngobrol." lanjut Arasya.
"Ehm.."
Farrand tersenyum dan mengangguk kecil sambil mengikuti Arasya yang melangkah
menuju ruang makan.
"Ayah
yang masak? Kelihatannya enak."
"Tentu.
Tadi ayah punya banyak waktu sebelum berangkat. Jadi ayah putuskan untuk
memasak makan siang terlebih dahulu."
"Oh
iya, apa yang ingin ayah sampaikan?"
"Ayah
ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, ayo kita makan dulu."
Senyum
tersungging dibibir Farrand, meski sebenarnya ia penasaran tentang apa yang
ingin ayahnya katakan, ia akan tahan itu sampai acara makan selesai.
"Ne, Farrand.
Mungkin ayah akan ke Kota Halu selama 4 hari." Ujar Arasya membuka
percakapan mereka setelah makan.
"Selama
itu?"
"Iya."
"Mengapa
selama itu."
"Ada
yang harus ayah urus disana."
"Bukankah
itu tepat hari natal?"
"Ya."
"Lalu
ayah tak merayakannya seperti dulu?"
"Akan
ayah usahakan sebelum natal sudah dirumah."
"Apakah
kita akan merayakannya seperti tahun-tahun kemarin? Maksudku kita
merayakannya bersama keluarga paman Mirza?"
"Entahlah,
istri Mirza belum membaik dan masih berada dirumah sakit saat ini."
Pandangan Arasya
menyendu, ia sedikit menundukkan pandangannya dan menatap meja makan yang masih
belun dibersihkan.
"Aku
ingin menjenguk bibi."
"Kurasa
jangan dulu. Kondisimu masih belum membaik saat ini."
"Lalu
mereka akan merayakan natal di rumah sakit?"
"Entahlah..
mungkin iya."
"Ano..
ayah. Boleh aku mengajak Lingga dan Nadeen merayakan natal disini? Lingga
sendirian. Begitu pula Nadeen. Ayahnya sedang keluar negeri hingga bulan
depan."
Arasya
tersenyum, "tentu." Jawabnya.
"Dan
ayah akan membawa NSX nya ya."
"loh... mengapa ayah
memakai mobilku? Bukankah ayah sudah membeli mobil sendiri?"
"Ayah
hanya butuh sedikit tempat. Dan mungkin lan-evo nya akan sedikit berguna jika
ayah tinggal."
"Maksud
ayah?"
Puk....
Arasya berdiri dan langsung menepuk puncak kepala Naeu dan mengusapnya sedikit.
"Kau
akan tau nanti."
"..."
"Ayah
berangkat ya."
Farrand
mengangguk pelan. Tak menjawab ucapan ayahnya dan hanya diam sambil
mengantarkannya kedepan pintu.
"Ayah
__ADS_1
selalu memberiku teka-teki seperti itu." Bisiknya.
Tbc