Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 17


__ADS_3

Farrand masih berdiri didepan pintu keluar menuju halaman sekolahnya. Ia


pandang gerbang sekolah dimana ada dua orang berbeda gender sedang


berjalan beriringan dan saling berdempetan dibawah sebuah payung berwarna


hitam. Derasnya hujan tak menyurutkan langkah mereka menuju sedan hitam yang


menjemput mereka diluar gerbang. Hatinya terasa sakit. Dan tanpa sadar kakinya


melangkah menembus lebatnya hujan yang mendera.


Rasa dingin mulai merasuk tubuhnya saat tubuhnya telah basah sepenuhnya.


Baru tiga langkah kecil, dan kini ia merasa tubuhnya ringan seperti melayang.


Ia menyesal. Menyesal memaksa masuk sekolah hingga berakhir seperti ini.


Melihat orang yang masih ia kasihi berjalan berdua dibawah sebuah payung dengan


kondisi yang bisa dikatakan begitu, err, apa ya….. Ah ya, romantis.


Greep..


Farrand tersentak saat merasakan tangannya ditarik oleh telapak tangan yang


lebih besar dari miliknya itu. Ia berhenti, dan memalingkan wajahnya sekedar


untuk melihat tangan siapa yang telah menghentikannya. Matanya sesaat terpaku,


terpaku pada sesosok pria jakung bersurai hitam dengan paras tampan yang


terlihat kepayahan. Tangan kirinya yang bertongkat dengan gagang payung yang


tersampir di pundak kiri, dan sebelah tangannya menggenggam tangan mungil


miliknya.


"Aku tau jika air hujan bisa menyamarkan airmatamu. Tapi kuharap kau


juga tau jika air hujan bisa membuatmu sakit." Ucapnya.


"Mengapa kau menghentikanku?"


"Ayo, bantu aku membawakan payungku. Kau tau, aku sedikit kepayahan


membawa payung sambil mengimbangi berjalan dengan sebelah kakiku yang


retak." Bukannya menjawab, pria itu malah melontarkan beberapa kata


tawaran untuknya.


Farrand tersenyum miris. Ingin ia memeluk pria itu, berusaha meluapkan rasa


sakitnya dan berteriak sekencang-kencangnya saat ini. Tapi, logikanya


menolaknya melakukan hal itu. Keadaan sekolah yang sepi tak serta merta


membuatnya bisa leluasa berteriak diantara hujan.


"Kau tak mau membantuku yang sedang kesusahan ini, Fa?" Lingga,


pria itu sebenarnya tau apa yang dirasakan oleh gadis pirang didepannya itu.


Namun ia harus tetap bisa berfikir rasional sekarang. Ingin ia memeluknya,


mengatakan jika disini masih ada dirinya dan siap menjadi pelampiasan disaat Dion


menyakitinya seperti tadi.


"Aku tak ingin membuat bajumu basah dengan menumpang dibawah payungmu, Ling."


Puk... sebelum Farrand menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu telah menariknya


kebawah payungnya dan mendekapnya erat.


"Tak masalah untukku jika bajuku harus basah karena berada satu payung


denganmu. Aku mempunyai sebuah jaket di dalam lokerku. Kau bisa memakainya


sementara agar kau tidak kedinginan."


Farrand mengangguk lemah. Ia lantas menarik Lingga kembali ke ruang sekolah


untuk meminjam jaket Lingga yang berada dilokernya. Setidaknya ia bersyukur,


masih ada yang mau mempedulikannya meski sedikit.


Masing-masing dari mereka larut dalam keterdiamannya. Lingga yang berjalan


tertatih-tatih sambil memikirkan Farrand, dan Farrand yang berjalan tertunduk


sambil memikirkan Dion. Hingga tak terasa mereka telah sampai didepan kompleks


apartment Lingga.


"Kau mau mampir?" Tanya Lingga.


Farrand terdiam dan menghentikan langkahnya. Ia bingung. Mampirkah ia? Atau


langsung pulang saja?


"Ikutlah ke apartmentku sampai waktu makan malam. Aku akan menjamu


sebagai ucapan terimakasihku karena sudah meminjamiku payung dan jaket."


Ucapnya kemudian.


Lingga tersenyum lega. Ia mengucap syukur meski hanya dalam hati karena ia


di undang untuk makan malam bersama. Lumayanlah. Ada yang memasakkan dan bisa


pendekatan dengan calon pasangan masa depan. Serta pendekatan pula dengan calon


mertuanya. Ck.. cari kesempatan, eh?


"Aku tak bisa menolak bukan?" Ucap Lingga. Farrand tersenyum


menatap Lingga. Senyuman hangat yang ia sunggingkan. Bukan senyuman miris


seperti saat ia melihat Dion bersama Zennie tadi.


Grep....


"Jangan jauh-jauh dariku. Payungnya kecil. Badanku bisa basah kuyup


terkena tetesan air hujan." Lingga merapatkan badannya dan memeluk Farrand.


Hangat, itu yang ia rasakan. Dan sesaat pipinya merona karena merasa keadaan


mereka seperti sepasang kekasih yang menikmati indahnya hujan.


'Ah... tak buruk juga.' Batin Farrand.


Di perjalanan mereka sudah tak sunyi lagi. Sesekali mereka melempar beberapa


kata dan omongan pedas serta gurauan kecil. Lingga bersyukur akan hal itu,


setidaknya ia bisa membuat gadis disampingnya ini tersenyum barang sedikit


saja.


Tak terasa mereka telah sampai di apartmen milik Farrand. Sepi. Itu


dirasakan Lingga saat pertama kali menginjakkan kakinya disini.


"Maaf. Apartmennya sedikit berantakan. Aku belum sempat berbenah."


Ucap Farrand. Ia berjalan mendahului Lingga dan membuka pintu apartmen dengan


kunci ditangannya.


"Aku pulang.” Farrand


tetap mengucapkan salam meski ia tau bahwa tak akan ada yang menjawabnya.


Ayahnya belum pulang. Dan ia yakin akan hal itu.


Lingga meneliti setiap inch sudut apartmen Farrand. Ia kagum. Apartmennya


lebih baik dari pembayangannya. Memang apartmen ini sedikit lebih besar dari


miliknya, namun tatanan minimalisnya mampu membuat ia berdecak kagum karena


biasanya apartmen yang dimiliki seorang wanita akan terkesan girly. Dan dihadapannya


kini kesan seperti itu tak nampak sama sekali.


"Duduklah. Aku akan ganti baju sebentar." Lingga hanya


menganggukkan kepalanya dan lansung duduk disofa dengan nuansa biru diruang


tamu. Lagi-lagi pandangannya bergulir meneliti setiap sudut, dan berhenti pada


beberapa foto yang terpajang di rak gantung di dinding sampingnya. Tak banyak


foto disana. Sebagian berisi foto tentang keluarga Farrand. Sebagian lagi


berisi foto Farrand dengan pose sendiri.


Lingga menyunggingkan senyum tipis. Difoto itu ia melihat Farrand kecil yang


cemberut dengan muka yang belepotan. Mungkin foto itu di ambil saat dirinya


sedang ditaman bermain dan makan ice cream. Lalu ia juga melihat Farrand


berada digendongan seorang wanita berambut coklat panjang yang ia tebak adalah ibunya.


Wajah wanita itu tak asing. Ia seperti melihat Farrand dewasa dengan rambut coklat


dan raut keibuannya. Disaat itu ia berfikir, mungkinkah kelak jika Farrand


dewasa dan memiliki anak ia akan secantik wanita yang ada difoto itu? Jika iya.

__ADS_1


Maka ia akan dengan senang hati mau menjadi pendamping Farrand melewati waktu


yg bergulir. Duh,,, ya. Yang bermimpi terlalu jauh.


"Maaf sedikit agak lama. Aku sedikit kesusahan mencari baju ayah yang


sekiranya muat untukmu."


Pandangan Lingga berpindah dari melihat foto itu ke Farrand. Ia agak


terkejut dengan kehadiran Farrand yang tiba-tiba.


"Kau bisa ganti baju sendiri?" Lanjutnya. Lingga mengangguk. Ia


lantas beranjak dari tempat duduknya, mengambil baju yang ada ditangan Farrand.


"Kau bisa mengganti bajumu di kamar tamu. Kamarnya ada di sebelah


dapur. Kau bisa ganti baju disana. Atau jika ingin, kau bisa mandi juga." Lingga


mengangguk dan berjalan menuju tempat yang Farrand sebutkan.


Setelah Lingga pergi untuk mengganti bajunya, ia juga beranjak menuju dapur.


Menyalakan kompor, bermaksud membuat dua cangkir teh dan menyiapkan beberapa


kudapan untuk menemani mereka.


Dering telpon rumah menghentikan aktivitas Farrand, ia yang sedang


menyiapkan teh jadi terkesiap dan berlari kecil untuk menggapainya. Farrand


yakin. Telpon itu pasti dari ayahnya. Itu sudah pasti, karena hanya ayahnya


yang akan menghubunginya lewat telpon rumah, dan bukan ponselnya.


"Farrand sayang. Ayah tak pulang dulu untuk malam ini. Ada hal yang


mesti ayah perbuat. Kalau kau kesepian, aku akan menelpon ayah Dhiaz untuk


menjemputmu dan kau bisa bermalam disana." Ucapan ayahnya yang lembut


membuat hati Farrand menghangat. Ayahnya selalu seperti ini. Memberikan


perhatian yang besar bahkan saat dirinya tengah sibuk.


"Ayah jangan khawatir. Telpon saja Dhiaz, katakan padanya untuk


menginap disini. Dan aku akan menelpon Nadeen untuk menginap juga. Bukankah


dengan begitu rumah akan ramai?"


"..."


"Oh ya, katakan juga padanya agar datang sebelum makan malam. Aku


menyiapkan banyak makanan dan kita akan makan malam bersama."


Terdengar suara Arasya yang menghembus nafas berat. Sepertinya ia berat akan


keputusan putrinya. Namun biarlah, setidaknya putrinya tak akan merasa kesepian


tanpa kepulangannya malam ini.


"Baiklah. Akan ayah telpon. Dan jangan lupa untuk menelpon ayah jika


ada hal yang terjadi, ya?" Lanjut Arasya kemudian.


"Tentu ayah. Oh ya, bilang juga kepadanya agar menjemput Nadeen. Sudah


yah. Itu saja yang ingin Farrand sampaikan. Bye. Farrand sayang


ayah." Klik.. telpon ditutup oleh Farrand dan terdengar helaan berat


setelahnya.


Ia tau. Hal ini pasti terjadi lagi setelah perusahaan kembali. Ayahnya yang


jarang pulang, sebentar- sebentar pergi, dan ia yang kesepian. Tapi biarlah.


Itu seharusnya bukan masalah besar sekarang. Ia memiliki teman-teman yang bisa


menemaninya saat kesendiriannya. Tak seperti saat di Kota Halu dulu. Yang


menemaninya hanya Dion seorang.


Membayangkan meja makan akan ramai membuatnya tersenyum. Pasti ada


gurauan-gurauan dan gelak tawa disana. Ah, jika membayangkan seperti itu,


bukankah ia harus menelpon Nadeen dulu agar ia bisa bersiap-siap? Dan sebaiknya


dirinya juga mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak nanti.


Setelah ia menghubungi Nadeen dengan ponselnya, ia bergegas menuju dapur. Ia


ingat. Teh yang ia buat tadi masih belum disiapkan. Dan setelah ia sampai


serta kudapannya dengan kaki yg tertatih.


"Maafkan aku, aku lupa jika aku sedang membuat teh." Ucapnya. Ia


lantas menuju kearah Lingga dan mengambil nampan yang berisi teh dan kue untuk


kudapannya.


"Kau pasti kesulitan melakukannya. Aku benar-benar minta maaf."


Tambah Farrand.


"Tak masalah. Lagipula biarkan aku membantumu. Aku tak enak jika harus


menunggu saja." Lingga tersenyum. Namun Farrand tetap mengambil alih


nampan yang dipegang Lingga dan menuju keruang tamu.


Mau tak mau Lingga mengangguk dan menuruti perintah Farrand begitu saja. Ia


menuju salah satu sofa yang menghadap Farrand dan duduk menyender dengan


tenang. Hatinya merasa damai merasakan keadaan yang tenang.


"Silahkan diminum" ucap Farrand. Lingga mengangguk. Namun ia tak


langsung mengangkat cawan cangkirnya begitu saja.


"Ayah tadi menelpon dan mengatakan jika dia tak pulang."


Sringgg.....


capan Farrand membuat mood Lingga menjadi lebih baik. Secara tak langsung Farrand


seperti mengatakan jika mereka akan makan malam berdua saja. Seperti kencan


romantis yang dilakukan dua orang yang menjadi pasangan. Kira-kira begitulah


difikirkan oleh Lingga.


"Jadi aku menghubungi Nadeen untuk kesini dan menyuruh Dhiaz untuk


menjemput Nadeen dan berangkat bersamanya."


Gagal sudah.


Hancur sudah impian Lingga untuk makan malam romantis berdua dengan Farrand


begitu ia mendengar Farrand juga mengajak dua orang itu.


'Aku menyedihkan." Batin Lingga miris.


"Ano.. tadi itu terimakasih sudah mau meminjamiku jaket dan


payungmu, Ling."


"Hm. Tak masalah."


"Ling.... " mata Farrand menyipit tajam. Lantas ia menghampiri Lingga


dan duduk disebelahnya.


Jantung Lingga berdegub kencang dan pipinya memanas akibat keberadaan Farrand


yang semakin mendekat. Bisa ia rasakan deru nafas Farrand yang pelan. Entah apa


yang terjadi pada Farrand hingga ia mendekat kearah Lingga.


"Jangan bergerak." Bisik Farrand.


Lingga hanya diam mematung mendebgar perintah Farrand. Bisa ia lihat tangan Farrand


yang menuju kewajahnya. Dan sesaat setelah Lingga memejamkan matanya. Tangan


hangat Farrand terasa di pipi sebelah kirinya. Seperti mengambil sesuatu. Namun


hal itu cukup bisa membuat jantung Lingga berdegup semakin kencang.


"Ternyata hanya semut. Kukira nyamuk." Ucap Farrand setelahnya. Lingga


mendesah lega. Ia fikir Farrand akan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya


berbunga-bunga. Seperti menciumnya, mungkin?


Berada dalam posisi sedekat ini membuat Lingga tanpa sadar menggerakkan


tangannya untuk memeluk Farrand. Ia rangkul leher Farrand dan setelah itu ia


mengecup bibir lembut Farrand. Tak ada lumatan. Hanya sebatas menempel erat.


Farrand yang pulih dari keterkejutannya segera mendorong dada bidang Lingga


dan membuatnya menjauh. Nafasnya kembang kempis mendapat perlakuan spontan Lingga


yang sangat diluar dugaannya.

__ADS_1


"Farrand, maafkan aku. Aku... "


"Aku akan menyiapkan makanan. Mungkin sebentar lagi Nadeen dan Dhiaz datang." Farrand menyela Lingga begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Lingga


berikutnya.


Lingga hanya bisa diam. Ia tau Farrand pasti terkejut dan syok atas


perlakuannya yang tiba-tiba. Ia juga tak menyangka, jika dirinya sebegitu


menginginkan Farrand hingga tanpa sadar telah menciumnya.


"Bodoh." Lirih Lingga. Ia merutuki dirinya sendiri atas kejadian


itu. Dan ia mewanti-wanti dirinya sendiri karena bukan tak mungkin setelah ini Farrand


akan menjaga jarak darinya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ia tau. Nadeen dan Dhiaz pasti


telah sampai. Lingga yang duduk di sofa sudah akan beranjak menuju pintu untuk


membukanya. Namun kedatangan Farrand membuatnya mengurungkan kembali niatnya.


"Aku sedang menyiapkan makan malam. Kalian duduklah." Farrand


mempersilahkan mereka duduk dan dibalas anggukan oleh Dhiaz dan Nadeen yang


menyeretnya.


"Aku akan membantumu memasak." Farrand mengangguk. Lalu ia


tersenyum dan mengajak Nadeen menuju dapur.


"Jadi. Mengapa kau bisa ada disini, Lingga." Ucapan Dhiaz yang


seolah mengintrogasinya membuat Lingga mendongakkan kepalanya dan menatap Dhiaz yang berada diseberang tempatnya duduk. Lelaki itu terlihat garang. Entah


itu hanya perasaan Lingga atau memang Dhiaz terlihat seperti seorang


ayah yang mengkhawatirkan putri kecilnya.


"Farrand mengundangku untuk makan malam.  Tadi kami pulang bersama


karena Farrand tidak membawa payung."


"Jadi kalian pulang bersama saat hujan deras tadi?"


Lingga mengangguk. "Jadi sebagai ucapan rasa terimakasihnya ia


mengajakku mekan malam bersama."


"Dan kau sudah tau jika paman tak pulang?" Lingga mengangguk lagi.


Dhiaz hanya memutar mata bosan. Lalu ia beranjak dari duduknya dan


berpindah duduk kesebelah Lingga.


"Apa kau tak mengungkapkan perasaanmu?" Bisik Dhiaz.


"Apa maksudmu?"


"Kau menyukai Farrand bukan?"


Blush....


Mendengar ucapan Dhiaz yang telalu to the point membuat wajah Lingga


memanas. Ia tak menyangka jika usahanya untuk menyembunyikan perasaannya bisa


diketahui dengan mudah oleh kakak


kelasnyayang selalu terlihat malas itu.


"Aku akan membantumu. Tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak


menghianatinya apapun yang terjadi nanti."


Lingga mengangguk. Namun sekejap setelahnya ia menggeleng keras."Aku


tidak menyukainya, Dhiaz." Kilahnya.


"Tak perlu menyangkalnya, Lingga. Aku sudah tau hal itu hanya dari


tatapanmu pada Farrand." Dhiaz menjeda. "Atau kau lebih suka


jika aku mencarikannya lelaki lain saja?"


"Jangan!" Lagi-lagi Lingga merutuki dirinya. Bisa-bisanya ia


bicara dengan segera seperti itu setelah Dhiaz mengucapkan mengucapkan


hal yang seolah menantangnya.


Dhiaz menyeringai puas. Ia tau. Pancingannya pasti berhasil dan bisa


ia lihat kini raut wajah Lingga yang melemas.


"Baiklah, baiklah. Aku akan berjanji untuk tidak menghianatinya. Tapi apa yang bisa kuperbuat agar


dia bisa mengetahui perasaanku?"


"Aku akan mencarikan moment yang pas untuk kalian berdua."


"Tapi bagaimana nanti? Bukankah dihatinya masih ada Dion? Aku bisa


melihat diwajahnya betapa sakit hatinya karena melihat Dion pulang bersama Zennie


tadi siang."


"Farrand melihatnya?"


"Tentu saja! Ia bahkan sampai menerobos hujan karena ingin mengejar


mereka."


"Apa kau bilang?"


"Farrand menerobos hujan karena melihat Dion dan Zennie pulang bersama


memakai satu payung. Mereka terlihat mesra. Jadi aku mencoba menghiburnya


dengan mengajaknya pulang bersama."


"Ck. Mungkin besok aku akan membuat perhitungan dengan Dion."


"Aku takut ia akan menolakku." Lingga mendesah lirih.


Sebenarnya dalam hatinya ia menyerah, menyerah akan usulan Dhiaz agar


dirinya mengatakan perasaannya pada Farrand.


Puk...


Tangan Dhiaz dengan ringannya mampir begitu saja di pucuk kepala Lingga.


Membuat Lingga yang berada dalam mode mello nya melotot lucu kearah Dhiaz.


"Kalau kau takut patah hati. Pakai rok sana. Dan jadi perempuan


saja." Ucap Dhiaz dengan nada ketus.


"Aku tak mau."


"Lalu apa yang kau inginkan? Membuat Farrand mencintaimu dan menunggu Farrand


yang memintamu jadi pacarnya? Menggelikan. Dimana harga dirimu sebagai seorang


laki-laki? Kau gantung di pohon toge yang ditanam ayahku disebelah rajangnya?"


Lingga mengangakan mulutnya, sungguh, apa-apaan dengan menanam pohon toge


disebelah ranjang itu? Ingin jadi ilmuan mendadak dan berhenti jadi montir?


Gila!


"Bukan begitu. Hanya saja...."


"Hanya saja apa? Kau takut akan penolakannya?"


"Iya." Lingga menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika ia akan


mengakui perasaannya begitu saja dihadapan Dhiaz. Apa Dhiaz punya bakat


hipnotis hingga dirinya larut begitu saja dalam pembicaraan mereka dan


membuatnya mengekuarkan uneg-uneg hatinya? Atau pemikiran konyol itu hanya ada


dalam benaknya?


"Tak ada salahnya mencoba, bukan? Kau tak pernah tau apa yang akan


terjadi jika kau ungkapkan perasaanmu padanya."


Seperti tercerahkan. Begitulah keadaan Lingga saat ini. Ia seperti mendapat


suntikan semangat dari Dhiaz dan sepertinya ia akan membulatkan tekadnya


untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Farrand.


"Aku akan mengaturnya. Jadi manfaatkan waktumu sebaik mungkin."


Lingga mengangguk, lagi. Tekadnya sudah ia mantapkan dan ia berjanji dalam


hati untuk mengatakannya disaat ia berdua dengan Farrand. Sebenarnya ia tak


tau. Rencana apa yang akan diperbuat oleh Dhiaz untuk membuatnya


memiliki waktu bersama Farrand. Tapi yang yakini, Dhiaz pastilah punya


suatu rencana yang ia tak bisa menebak apa itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2