
Farrand masih berdiri didepan pintu keluar menuju halaman sekolahnya. Ia
pandang gerbang sekolah dimana ada dua orang berbeda gender sedang
berjalan beriringan dan saling berdempetan dibawah sebuah payung berwarna
hitam. Derasnya hujan tak menyurutkan langkah mereka menuju sedan hitam yang
menjemput mereka diluar gerbang. Hatinya terasa sakit. Dan tanpa sadar kakinya
melangkah menembus lebatnya hujan yang mendera.
Rasa dingin mulai merasuk tubuhnya saat tubuhnya telah basah sepenuhnya.
Baru tiga langkah kecil, dan kini ia merasa tubuhnya ringan seperti melayang.
Ia menyesal. Menyesal memaksa masuk sekolah hingga berakhir seperti ini.
Melihat orang yang masih ia kasihi berjalan berdua dibawah sebuah payung dengan
kondisi yang bisa dikatakan begitu, err, apa ya….. Ah ya, romantis.
Greep..
Farrand tersentak saat merasakan tangannya ditarik oleh telapak tangan yang
lebih besar dari miliknya itu. Ia berhenti, dan memalingkan wajahnya sekedar
untuk melihat tangan siapa yang telah menghentikannya. Matanya sesaat terpaku,
terpaku pada sesosok pria jakung bersurai hitam dengan paras tampan yang
terlihat kepayahan. Tangan kirinya yang bertongkat dengan gagang payung yang
tersampir di pundak kiri, dan sebelah tangannya menggenggam tangan mungil
miliknya.
"Aku tau jika air hujan bisa menyamarkan airmatamu. Tapi kuharap kau
juga tau jika air hujan bisa membuatmu sakit." Ucapnya.
"Mengapa kau menghentikanku?"
"Ayo, bantu aku membawakan payungku. Kau tau, aku sedikit kepayahan
membawa payung sambil mengimbangi berjalan dengan sebelah kakiku yang
retak." Bukannya menjawab, pria itu malah melontarkan beberapa kata
tawaran untuknya.
Farrand tersenyum miris. Ingin ia memeluk pria itu, berusaha meluapkan rasa
sakitnya dan berteriak sekencang-kencangnya saat ini. Tapi, logikanya
menolaknya melakukan hal itu. Keadaan sekolah yang sepi tak serta merta
membuatnya bisa leluasa berteriak diantara hujan.
"Kau tak mau membantuku yang sedang kesusahan ini, Fa?" Lingga,
pria itu sebenarnya tau apa yang dirasakan oleh gadis pirang didepannya itu.
Namun ia harus tetap bisa berfikir rasional sekarang. Ingin ia memeluknya,
mengatakan jika disini masih ada dirinya dan siap menjadi pelampiasan disaat Dion
menyakitinya seperti tadi.
"Aku tak ingin membuat bajumu basah dengan menumpang dibawah payungmu, Ling."
Puk... sebelum Farrand menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu telah menariknya
kebawah payungnya dan mendekapnya erat.
"Tak masalah untukku jika bajuku harus basah karena berada satu payung
denganmu. Aku mempunyai sebuah jaket di dalam lokerku. Kau bisa memakainya
sementara agar kau tidak kedinginan."
Farrand mengangguk lemah. Ia lantas menarik Lingga kembali ke ruang sekolah
untuk meminjam jaket Lingga yang berada dilokernya. Setidaknya ia bersyukur,
masih ada yang mau mempedulikannya meski sedikit.
Masing-masing dari mereka larut dalam keterdiamannya. Lingga yang berjalan
tertatih-tatih sambil memikirkan Farrand, dan Farrand yang berjalan tertunduk
sambil memikirkan Dion. Hingga tak terasa mereka telah sampai didepan kompleks
apartment Lingga.
"Kau mau mampir?" Tanya Lingga.
Farrand terdiam dan menghentikan langkahnya. Ia bingung. Mampirkah ia? Atau
langsung pulang saja?
"Ikutlah ke apartmentku sampai waktu makan malam. Aku akan menjamu
sebagai ucapan terimakasihku karena sudah meminjamiku payung dan jaket."
Ucapnya kemudian.
Lingga tersenyum lega. Ia mengucap syukur meski hanya dalam hati karena ia
di undang untuk makan malam bersama. Lumayanlah. Ada yang memasakkan dan bisa
pendekatan dengan calon pasangan masa depan. Serta pendekatan pula dengan calon
mertuanya. Ck.. cari kesempatan, eh?
"Aku tak bisa menolak bukan?" Ucap Lingga. Farrand tersenyum
menatap Lingga. Senyuman hangat yang ia sunggingkan. Bukan senyuman miris
seperti saat ia melihat Dion bersama Zennie tadi.
Grep....
"Jangan jauh-jauh dariku. Payungnya kecil. Badanku bisa basah kuyup
terkena tetesan air hujan." Lingga merapatkan badannya dan memeluk Farrand.
Hangat, itu yang ia rasakan. Dan sesaat pipinya merona karena merasa keadaan
mereka seperti sepasang kekasih yang menikmati indahnya hujan.
'Ah... tak buruk juga.' Batin Farrand.
Di perjalanan mereka sudah tak sunyi lagi. Sesekali mereka melempar beberapa
kata dan omongan pedas serta gurauan kecil. Lingga bersyukur akan hal itu,
setidaknya ia bisa membuat gadis disampingnya ini tersenyum barang sedikit
saja.
Tak terasa mereka telah sampai di apartmen milik Farrand. Sepi. Itu
dirasakan Lingga saat pertama kali menginjakkan kakinya disini.
"Maaf. Apartmennya sedikit berantakan. Aku belum sempat berbenah."
Ucap Farrand. Ia berjalan mendahului Lingga dan membuka pintu apartmen dengan
kunci ditangannya.
"Aku pulang.” Farrand
tetap mengucapkan salam meski ia tau bahwa tak akan ada yang menjawabnya.
Ayahnya belum pulang. Dan ia yakin akan hal itu.
Lingga meneliti setiap inch sudut apartmen Farrand. Ia kagum. Apartmennya
lebih baik dari pembayangannya. Memang apartmen ini sedikit lebih besar dari
miliknya, namun tatanan minimalisnya mampu membuat ia berdecak kagum karena
biasanya apartmen yang dimiliki seorang wanita akan terkesan girly. Dan dihadapannya
kini kesan seperti itu tak nampak sama sekali.
"Duduklah. Aku akan ganti baju sebentar." Lingga hanya
menganggukkan kepalanya dan lansung duduk disofa dengan nuansa biru diruang
tamu. Lagi-lagi pandangannya bergulir meneliti setiap sudut, dan berhenti pada
beberapa foto yang terpajang di rak gantung di dinding sampingnya. Tak banyak
foto disana. Sebagian berisi foto tentang keluarga Farrand. Sebagian lagi
berisi foto Farrand dengan pose sendiri.
Lingga menyunggingkan senyum tipis. Difoto itu ia melihat Farrand kecil yang
cemberut dengan muka yang belepotan. Mungkin foto itu di ambil saat dirinya
sedang ditaman bermain dan makan ice cream. Lalu ia juga melihat Farrand
berada digendongan seorang wanita berambut coklat panjang yang ia tebak adalah ibunya.
Wajah wanita itu tak asing. Ia seperti melihat Farrand dewasa dengan rambut coklat
dan raut keibuannya. Disaat itu ia berfikir, mungkinkah kelak jika Farrand
dewasa dan memiliki anak ia akan secantik wanita yang ada difoto itu? Jika iya.
__ADS_1
Maka ia akan dengan senang hati mau menjadi pendamping Farrand melewati waktu
yg bergulir. Duh,,, ya. Yang bermimpi terlalu jauh.
"Maaf sedikit agak lama. Aku sedikit kesusahan mencari baju ayah yang
sekiranya muat untukmu."
Pandangan Lingga berpindah dari melihat foto itu ke Farrand. Ia agak
terkejut dengan kehadiran Farrand yang tiba-tiba.
"Kau bisa ganti baju sendiri?" Lanjutnya. Lingga mengangguk. Ia
lantas beranjak dari tempat duduknya, mengambil baju yang ada ditangan Farrand.
"Kau bisa mengganti bajumu di kamar tamu. Kamarnya ada di sebelah
dapur. Kau bisa ganti baju disana. Atau jika ingin, kau bisa mandi juga." Lingga
mengangguk dan berjalan menuju tempat yang Farrand sebutkan.
Setelah Lingga pergi untuk mengganti bajunya, ia juga beranjak menuju dapur.
Menyalakan kompor, bermaksud membuat dua cangkir teh dan menyiapkan beberapa
kudapan untuk menemani mereka.
Dering telpon rumah menghentikan aktivitas Farrand, ia yang sedang
menyiapkan teh jadi terkesiap dan berlari kecil untuk menggapainya. Farrand
yakin. Telpon itu pasti dari ayahnya. Itu sudah pasti, karena hanya ayahnya
yang akan menghubunginya lewat telpon rumah, dan bukan ponselnya.
"Farrand sayang. Ayah tak pulang dulu untuk malam ini. Ada hal yang
mesti ayah perbuat. Kalau kau kesepian, aku akan menelpon ayah Dhiaz untuk
menjemputmu dan kau bisa bermalam disana." Ucapan ayahnya yang lembut
membuat hati Farrand menghangat. Ayahnya selalu seperti ini. Memberikan
perhatian yang besar bahkan saat dirinya tengah sibuk.
"Ayah jangan khawatir. Telpon saja Dhiaz, katakan padanya untuk
menginap disini. Dan aku akan menelpon Nadeen untuk menginap juga. Bukankah
dengan begitu rumah akan ramai?"
"..."
"Oh ya, katakan juga padanya agar datang sebelum makan malam. Aku
menyiapkan banyak makanan dan kita akan makan malam bersama."
Terdengar suara Arasya yang menghembus nafas berat. Sepertinya ia berat akan
keputusan putrinya. Namun biarlah, setidaknya putrinya tak akan merasa kesepian
tanpa kepulangannya malam ini.
"Baiklah. Akan ayah telpon. Dan jangan lupa untuk menelpon ayah jika
ada hal yang terjadi, ya?" Lanjut Arasya kemudian.
"Tentu ayah. Oh ya, bilang juga kepadanya agar menjemput Nadeen. Sudah
yah. Itu saja yang ingin Farrand sampaikan. Bye. Farrand sayang
ayah." Klik.. telpon ditutup oleh Farrand dan terdengar helaan berat
setelahnya.
Ia tau. Hal ini pasti terjadi lagi setelah perusahaan kembali. Ayahnya yang
jarang pulang, sebentar- sebentar pergi, dan ia yang kesepian. Tapi biarlah.
Itu seharusnya bukan masalah besar sekarang. Ia memiliki teman-teman yang bisa
menemaninya saat kesendiriannya. Tak seperti saat di Kota Halu dulu. Yang
menemaninya hanya Dion seorang.
Membayangkan meja makan akan ramai membuatnya tersenyum. Pasti ada
gurauan-gurauan dan gelak tawa disana. Ah, jika membayangkan seperti itu,
bukankah ia harus menelpon Nadeen dulu agar ia bisa bersiap-siap? Dan sebaiknya
dirinya juga mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasak nanti.
Setelah ia menghubungi Nadeen dengan ponselnya, ia bergegas menuju dapur. Ia
ingat. Teh yang ia buat tadi masih belum disiapkan. Dan setelah ia sampai
serta kudapannya dengan kaki yg tertatih.
"Maafkan aku, aku lupa jika aku sedang membuat teh." Ucapnya. Ia
lantas menuju kearah Lingga dan mengambil nampan yang berisi teh dan kue untuk
kudapannya.
"Kau pasti kesulitan melakukannya. Aku benar-benar minta maaf."
Tambah Farrand.
"Tak masalah. Lagipula biarkan aku membantumu. Aku tak enak jika harus
menunggu saja." Lingga tersenyum. Namun Farrand tetap mengambil alih
nampan yang dipegang Lingga dan menuju keruang tamu.
Mau tak mau Lingga mengangguk dan menuruti perintah Farrand begitu saja. Ia
menuju salah satu sofa yang menghadap Farrand dan duduk menyender dengan
tenang. Hatinya merasa damai merasakan keadaan yang tenang.
"Silahkan diminum" ucap Farrand. Lingga mengangguk. Namun ia tak
langsung mengangkat cawan cangkirnya begitu saja.
"Ayah tadi menelpon dan mengatakan jika dia tak pulang."
Sringgg.....
capan Farrand membuat mood Lingga menjadi lebih baik. Secara tak langsung Farrand
seperti mengatakan jika mereka akan makan malam berdua saja. Seperti kencan
romantis yang dilakukan dua orang yang menjadi pasangan. Kira-kira begitulah
difikirkan oleh Lingga.
"Jadi aku menghubungi Nadeen untuk kesini dan menyuruh Dhiaz untuk
menjemput Nadeen dan berangkat bersamanya."
Gagal sudah.
Hancur sudah impian Lingga untuk makan malam romantis berdua dengan Farrand
begitu ia mendengar Farrand juga mengajak dua orang itu.
'Aku menyedihkan." Batin Lingga miris.
"Ano.. tadi itu terimakasih sudah mau meminjamiku jaket dan
payungmu, Ling."
"Hm. Tak masalah."
"Ling.... " mata Farrand menyipit tajam. Lantas ia menghampiri Lingga
dan duduk disebelahnya.
Jantung Lingga berdegub kencang dan pipinya memanas akibat keberadaan Farrand
yang semakin mendekat. Bisa ia rasakan deru nafas Farrand yang pelan. Entah apa
yang terjadi pada Farrand hingga ia mendekat kearah Lingga.
"Jangan bergerak." Bisik Farrand.
Lingga hanya diam mematung mendebgar perintah Farrand. Bisa ia lihat tangan Farrand
yang menuju kewajahnya. Dan sesaat setelah Lingga memejamkan matanya. Tangan
hangat Farrand terasa di pipi sebelah kirinya. Seperti mengambil sesuatu. Namun
hal itu cukup bisa membuat jantung Lingga berdegup semakin kencang.
"Ternyata hanya semut. Kukira nyamuk." Ucap Farrand setelahnya. Lingga
mendesah lega. Ia fikir Farrand akan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya
berbunga-bunga. Seperti menciumnya, mungkin?
Berada dalam posisi sedekat ini membuat Lingga tanpa sadar menggerakkan
tangannya untuk memeluk Farrand. Ia rangkul leher Farrand dan setelah itu ia
mengecup bibir lembut Farrand. Tak ada lumatan. Hanya sebatas menempel erat.
Farrand yang pulih dari keterkejutannya segera mendorong dada bidang Lingga
dan membuatnya menjauh. Nafasnya kembang kempis mendapat perlakuan spontan Lingga
yang sangat diluar dugaannya.
__ADS_1
"Farrand, maafkan aku. Aku... "
"Aku akan menyiapkan makanan. Mungkin sebentar lagi Nadeen dan Dhiaz datang." Farrand menyela Lingga begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Lingga
berikutnya.
Lingga hanya bisa diam. Ia tau Farrand pasti terkejut dan syok atas
perlakuannya yang tiba-tiba. Ia juga tak menyangka, jika dirinya sebegitu
menginginkan Farrand hingga tanpa sadar telah menciumnya.
"Bodoh." Lirih Lingga. Ia merutuki dirinya sendiri atas kejadian
itu. Dan ia mewanti-wanti dirinya sendiri karena bukan tak mungkin setelah ini Farrand
akan menjaga jarak darinya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ia tau. Nadeen dan Dhiaz pasti
telah sampai. Lingga yang duduk di sofa sudah akan beranjak menuju pintu untuk
membukanya. Namun kedatangan Farrand membuatnya mengurungkan kembali niatnya.
"Aku sedang menyiapkan makan malam. Kalian duduklah." Farrand
mempersilahkan mereka duduk dan dibalas anggukan oleh Dhiaz dan Nadeen yang
menyeretnya.
"Aku akan membantumu memasak." Farrand mengangguk. Lalu ia
tersenyum dan mengajak Nadeen menuju dapur.
"Jadi. Mengapa kau bisa ada disini, Lingga." Ucapan Dhiaz yang
seolah mengintrogasinya membuat Lingga mendongakkan kepalanya dan menatap Dhiaz yang berada diseberang tempatnya duduk. Lelaki itu terlihat garang. Entah
itu hanya perasaan Lingga atau memang Dhiaz terlihat seperti seorang
ayah yang mengkhawatirkan putri kecilnya.
"Farrand mengundangku untuk makan malam. Tadi kami pulang bersama
karena Farrand tidak membawa payung."
"Jadi kalian pulang bersama saat hujan deras tadi?"
Lingga mengangguk. "Jadi sebagai ucapan rasa terimakasihnya ia
mengajakku mekan malam bersama."
"Dan kau sudah tau jika paman tak pulang?" Lingga mengangguk lagi.
Dhiaz hanya memutar mata bosan. Lalu ia beranjak dari duduknya dan
berpindah duduk kesebelah Lingga.
"Apa kau tak mengungkapkan perasaanmu?" Bisik Dhiaz.
"Apa maksudmu?"
"Kau menyukai Farrand bukan?"
Blush....
Mendengar ucapan Dhiaz yang telalu to the point membuat wajah Lingga
memanas. Ia tak menyangka jika usahanya untuk menyembunyikan perasaannya bisa
diketahui dengan mudah oleh kakak
kelasnyayang selalu terlihat malas itu.
"Aku akan membantumu. Tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak
menghianatinya apapun yang terjadi nanti."
Lingga mengangguk. Namun sekejap setelahnya ia menggeleng keras."Aku
tidak menyukainya, Dhiaz." Kilahnya.
"Tak perlu menyangkalnya, Lingga. Aku sudah tau hal itu hanya dari
tatapanmu pada Farrand." Dhiaz menjeda. "Atau kau lebih suka
jika aku mencarikannya lelaki lain saja?"
"Jangan!" Lagi-lagi Lingga merutuki dirinya. Bisa-bisanya ia
bicara dengan segera seperti itu setelah Dhiaz mengucapkan mengucapkan
hal yang seolah menantangnya.
Dhiaz menyeringai puas. Ia tau. Pancingannya pasti berhasil dan bisa
ia lihat kini raut wajah Lingga yang melemas.
"Baiklah, baiklah. Aku akan berjanji untuk tidak menghianatinya. Tapi apa yang bisa kuperbuat agar
dia bisa mengetahui perasaanku?"
"Aku akan mencarikan moment yang pas untuk kalian berdua."
"Tapi bagaimana nanti? Bukankah dihatinya masih ada Dion? Aku bisa
melihat diwajahnya betapa sakit hatinya karena melihat Dion pulang bersama Zennie
tadi siang."
"Farrand melihatnya?"
"Tentu saja! Ia bahkan sampai menerobos hujan karena ingin mengejar
mereka."
"Apa kau bilang?"
"Farrand menerobos hujan karena melihat Dion dan Zennie pulang bersama
memakai satu payung. Mereka terlihat mesra. Jadi aku mencoba menghiburnya
dengan mengajaknya pulang bersama."
"Ck. Mungkin besok aku akan membuat perhitungan dengan Dion."
"Aku takut ia akan menolakku." Lingga mendesah lirih.
Sebenarnya dalam hatinya ia menyerah, menyerah akan usulan Dhiaz agar
dirinya mengatakan perasaannya pada Farrand.
Puk...
Tangan Dhiaz dengan ringannya mampir begitu saja di pucuk kepala Lingga.
Membuat Lingga yang berada dalam mode mello nya melotot lucu kearah Dhiaz.
"Kalau kau takut patah hati. Pakai rok sana. Dan jadi perempuan
saja." Ucap Dhiaz dengan nada ketus.
"Aku tak mau."
"Lalu apa yang kau inginkan? Membuat Farrand mencintaimu dan menunggu Farrand
yang memintamu jadi pacarnya? Menggelikan. Dimana harga dirimu sebagai seorang
laki-laki? Kau gantung di pohon toge yang ditanam ayahku disebelah rajangnya?"
Lingga mengangakan mulutnya, sungguh, apa-apaan dengan menanam pohon toge
disebelah ranjang itu? Ingin jadi ilmuan mendadak dan berhenti jadi montir?
Gila!
"Bukan begitu. Hanya saja...."
"Hanya saja apa? Kau takut akan penolakannya?"
"Iya." Lingga menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika ia akan
mengakui perasaannya begitu saja dihadapan Dhiaz. Apa Dhiaz punya bakat
hipnotis hingga dirinya larut begitu saja dalam pembicaraan mereka dan
membuatnya mengekuarkan uneg-uneg hatinya? Atau pemikiran konyol itu hanya ada
dalam benaknya?
"Tak ada salahnya mencoba, bukan? Kau tak pernah tau apa yang akan
terjadi jika kau ungkapkan perasaanmu padanya."
Seperti tercerahkan. Begitulah keadaan Lingga saat ini. Ia seperti mendapat
suntikan semangat dari Dhiaz dan sepertinya ia akan membulatkan tekadnya
untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Farrand.
"Aku akan mengaturnya. Jadi manfaatkan waktumu sebaik mungkin."
Lingga mengangguk, lagi. Tekadnya sudah ia mantapkan dan ia berjanji dalam
hati untuk mengatakannya disaat ia berdua dengan Farrand. Sebenarnya ia tak
tau. Rencana apa yang akan diperbuat oleh Dhiaz untuk membuatnya
memiliki waktu bersama Farrand. Tapi yang yakini, Dhiaz pastilah punya
suatu rencana yang ia tak bisa menebak apa itu.
Tbc
__ADS_1