
"Maafkan aku, ayah" lirih Farrand.
.
.
.
Ia masih terisak, namun tak ada suara dalam isakannya. Hanya pundaknya yang tergetar menahan tangisnya, karena rasa sesal masih setia bercokol dihati Farrand.
Masih terbayang bagaimana ia balapan dengan hatinya yang menahan emosi. Ia masih ingat bagaimana raungan mesin mobilnya yang seakan merespon emosinya. Jika ada orang yang mengatakan bahwa pembalap itu haruslah menyatu dengan mobilnya, maka ia akan membenarkan perkataan itu.
Memang, ia seakan tak peduli pada keadaannya. Tapi sebenarnya ia seperti itu semata-mata karena tak ingin terlihat rapuh dimata ayahnya. Ia sangat menyayangkan emosinya, dan ia juga menyesalkan tindakannya yang merusak mobil pertama pemberian ayahnya itu.
"Aku.... aku tak ingin jadi pembalap lagi." Bisiknya.
"Aku tak ingin lagi merusak kendaraan yang ku sayangi. Aku tak ingin.... aku tak ingin....."
Farrand terlihat seperti orang yang frustasi, di rematnya rambut panjang yang sudah mulai kusut itu dengan kuat. Ia tak peduli akan rasa sakitnya, bahkan ketika rambutnya yang selalu di rawatnya rontok dan melilit jari-jarinya, ia tak peduli.
Ia mungkin masih bisa bertahan saat masalahnya hanya berkutat pada perjodohan saja. Ia juga mungkin masih bisa bertahan jika ia menerima gunjingan dan hujatan karena tak menerima tantangan Samuel. Karena bagaimanapun juga, tantangan adalah kehormatan para pembalap dan semua orang tau itu meskipun tidak ada peraturan tertulis tentangnya. Tapi ini, masalah yang ia hadapi seakan bertumpuk menjadi satu, mengendalikan emosinya dan membuat semuanya kacau balau.
Perlahan, ia bangkit. Ia raih selimut tebal yang tergeletak di ranjangnya dan mulai menutupi tubuh gemetarnya dengan selimut itu. Dengan perlahan tapi pasti, ia mulai terlelap dengan airmata yang terus menerus mengalir dari kelopak matanya.
"Aku lelah. Sungguh." Bisiknya.
.
.
Arasya tak dapat menahan lagi rasa penasarannya karena ia tak lagi mendengar isakan Farrand. Ia tau dengan rinci tentang kebiasaan Farrand menangis. Putrinya itu pasti menangisi mobilnya, dan Farrand yang menangis bukanlah hal bagus untuk dibiarkan begitu saja. Ia lebih baik mendengar putrinya menangis meronta atau meraung-raung dari pada seperti ini. Menangis terisak dengan isakan lirih dan setelah itu diam tak bersuara. Karena saat Farrand menangis tanpa suara, itu berarti penyesalannya sangat dalam, dan setelah ia diam, ia pasti tak sadarkan diri.
Sebenarnya Arasya ingin masuk kedalam kamar putrinya itu dan mencoba menenangkannya. Tapi ia berfikir lagi jika hal itu lebih baik tak ia lakukan karena dengan begitu putrinya bisa lebih dewasa. Ia memang mendidik dengan cara yang berbeda, dan hal itu ia lakukan agar Farrand bisa tumbuh dewasa se alami mungkin. Karena baginya, kedewasaan bisa didapat karena masalah yang harus dihadapi sendiri.
Setelah ia yakin putrinya tak terisak lagi, ia mengambil kunci cadangan dan masuk dengan perlahan. Ia menatap putrinya dengan tatapan miris, bagaimana tidak? Keadaan putrinya begitu mengenaskan dengan jejak airmata yang masih basah. Tapi setidaknya ia sedikit bersyukur, putrinya masih memiliki kesadaran dan tidak pingsan seperti biasa. Ia tak tau pasti, tapi mungkin karena bau minyak herbal yang aromanya telah ia kenal tercium dari wajah Farrand.
"Syukurlah, putriku mulai mengalami banyak kemajuan." Bisiknya. Ia lantas mengelus rambut kusut Farrand dan mencium keningnya dengan lembut. Namun ia tertegun saat ia mencium sedikit aroma yang berbeda. Saat ia sadari, ia menggeram marah dan menggeretakkan giginya.
"Awas kau." Ucapnya.
Sementara itu.....
Seseorang sedang melahap mie instan ekstra pedasnya dan sesaat kemudian hidungnya terasa gatal. Ia sontak bersin dengan sedikit tertahan dan mengakibatkan rasa panas merasuk kedalam hidungnya.
"Sial." Umpatnya.
.
.
.
Farrand terbangun dengan kepala yang terasa pening, ia ingin bangkit, namun tubuhnya terlalu lemas dan mengakibatkan ia kembali terbaring.
Ia berbaring dan menatap langit-langit kamarnya, matanya menerawang seolah ia kembali mengingat tentang kejadian semalam. Kejadian saat dimana ia balapan dan meledakkan mesin mobilnya, serta saat dimana ia mendengar pernyataan Lingga yang tak akan menyerah begitu saja. Lalu setelah itu, wajahnya memerah saat mengingat bagaimana Lingga memberinya banyak tanda yang ia yakin jika saat ini belumlah hilang. Ia sedikit tersenyum, karena meskipun mereka semalam bertindak hingga sejauh itu, Lingga masih bisa menahannya dan membuatnya masih seperti sebelumnya. Pengecualian untuk bercak kemerahan di lehernya, tentu saja.
Ia meringis pelan saat kembali mengingat bagaimana Lingga menghentikan kegiatan mereka. Ia sempat merasa depresi karena ia berfikir jika Lingga tak menginginkannya. Apa dirinya kurang menarik? Dan pertanyaan itulah yang berkali-kali ia lontarkan pada Lingga. Namun setelahnya, Lingga menjelaskan jika ia akan melakukannya disaat yang tepat dan bukan saat Farrand sedang terjebak masalah seperti itu. Dari situ ia bisa menangkap maksud Lingga. Laki-laki itu bukannya tak mau, ia hanya ingin menunggu saat dan waktu yang tepat. Itu saja.
Lalu ingatannya kembali bergulir dan mengingat bagaimana ia menangis hingga berakhir di ranjangnya. Ia kembali meringis, saat ia menyadari begitu bodohnya ia mengacak-acak rambutnya. Terdapat sedikit penyesalan disana, dan itu ia tujukan pada rambut rontok yang telah susah payah ia rawat.
Cklekkk....
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Farrand mengalihkan pandangannya dan terkejut saat mendapati ayahnya disana. Ia tidak mungkin lupa, karena seingatnya ia telah mengunci pintu itu semalam. Ah, tapi bagaimana mungkin ia lupa jika ayahnya memiliki kunci cadangan?
"Makanlah, ayah membuat ini khusus untuk putri ayah yang sedang sakit." Ucap Arasya. Ia membawa nampan berisi makanan, dan meletakkannya di meja kecil samping ranjang Farrand.
__ADS_1
"Maaf, ayah. Farrand kembali menyusahkan ayah."
Arasya menggeleng, ia mengambil kursi di meja rias Farrand dan memakainya untuk duduk di samping ranjang putrinya.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Sudah tugas ayah untuk merawat putrinya yang sakit."
"Ba-bagaimana ayah tau jika aku sakit?" Lirih Farrand.
Farrand menggigit bibir bawahnya dan berusaha menahan airmata yang mencoba merengsak keluar dari kelopak matanya. Ia semakin merasa bersalah, beberapa hari ini ia telah mengacuhkan ayahnya, dan kini justru dengan telaten ayahnya malah merawat dirinya yang sakit.
"Kau lupa, seorang ayah juga punya insting yang tak kalah dari seorang ibu. Dan ayah sangat tau bagaimana sifatmu."
Farrand menunduk, dan meloloskan bulir airmata yang telah menggenang sedari tadi.
"Sekali lagi maafkan aku, ayah."
"Maaf untuk hal apa?"
"Untuk aku yang telah merusakkan mobil itu. Aku telah merusak mobil pertamaku yang sudah dengan susah payah ayah membelikannya untukku. Aku tau, mobil itu tak mudah didapat karena produksinya telah lama dihentikan. Dan dengan settingan yang sudah lebih baik tentunya. Dan aku yakin, mobil itu adalah mobil kita dulu."
Arasya bersidekap, ia memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya, "Piston tempa, turbo besar, piston road baru, dan karter baru. Ayah masih ingat dengan jelas apa saja yang telah ayah dengar dari mekaniknya."
"Tapi kini, aku sudah membuatnya terdiam untuk waktu yang lama."
"Ayah tak akan memperbaikinya lagi."
"Kenapa ayah?"
"Mobil itu sudah mencapai batasnya. Jadi, biarkan ia beristirahat."
Isakan tangis Farrand semakin terdengar jelas di telinga Arasya. Meski hal itu merupakan kesalahan putrinya, ia tak bisa menyalahkannya sepenuhnya. Biarlah, biarlah Farrand mengingatnya dan menjadikan hal itu sebagai pelajaran yang harus ia ingat sampai kapan pun.
"Ayah tau, sulit bagimu untuk melepasnya. Tapi relakanlah, mobil itu akan beristirahat ditempat paman Mirza untuk waktu yang lama. Setidaknya, ia telah mencetak hal yang cukup membanggakan."
Farrand kembali menunduk.
Farrand semakin terisak dibuatnya. Penyesalannya bertambah, ia bukan hanya merusak mobil yang di sayanginya, tapi juga merusak mobil yang di sayangi mendiang ibunya. Ia yakin jika ibunya masih ada, ibunya kecewa dengannya. Atau, ibunya yang sudah ada di nirwana memandangnya dengan tatapan penuh kecewa. Ia memang menyukai warna merahnya, karena menurutnya, warna itu mengingatkannya pada warna rambut sang ibu, ibunya yang telah meninggalkannya disaat ia berumur 7 tahun. Ibunya yang ia sayangi, dan meninggal tanpa ia tau penyebab sebenarnya. Karena selama yang ia ingat, ayahnya hanya mengatakan jika ibunya pergi menyusul adik kecil yang belum terlahir.
"Maaf, mama. Maafkan anakmu yang bodoh ini." Bisiknya.
"Sudahlah. Anggap ini sebagai sebuah pelajaran berharga untukmu." Ujar Arasya.
"Aku akan berhenti balapan. Tak akan lagi." Gumam Farrand dan hal itu masih bisa di dengar dengan baik oleh Arasya. Arasya tahu, putrinya itu pasti memiliki traumanya tersendiri.
Arasya menatap putrinya dengan tatapan sendu. Putrinya itu pasti sudah memikirkan hal ini matang-matang. Memang ia sama sekali tak tau apa hal yang membuatnya mengeluarkan keputusan seperti itu. Tapi, biar bagaimanapun juga ia akan mendukung apapun keputusan yang putrinya buat.
Arasya masih mengingat dengan jelas saat dimana putrinya dengan lantang menyuarakan keinginannya menjadi seorang pembalap. Ia bahkan juga mengingat bagaimana antusiasnya saat ia mengatakan akan mengajari putrinya menyetir, bahkan disaat usianya masih lah 10 tahun. Kini, ia merasa jika kenangannya itu sangatlah tidak berarti besar.
"Kau yakin dengan keputusanmu?"
Farrand mengangguk.
"Kau tak ingin lagi melanjutkan mimpimu? Bukankah jadi pembalap merupakan keinginan lama mu?"
"Aku sudah tak mau lagi."
"Baiklah. Ayah tak akan membelikan mu mobil sport lagi."
"Tak masalah."
"Ayah hanya akan membelikan mu sedan butut."
"Aku menerima."
"Ayah akan menerima keputusanmu jika kau bisa mengalahkan ayah."
__ADS_1
"Baiklah."
"Dan ayah masih akan tetap menjodohkan mu dengan putra teman ayah."
"Ba..... TIDAK!"
"Mengapa? Kau hanya belum mengenalnya saja. Dan ayah sangat mengenal pemuda itu."
"Aku sudah memiliki Lingga di sisiku, yah. Tidakkah ayah mengerti hal itu?"
"Ayah tau pasti. Tapi, apakah kau sudah mengenal Lingga lebih jauh?"
"Tentu saja."
"Siapa dia?"
"Dia Lingga, orang yang kini menjadi kekasihku."
"Lalu, darimana dia berasal?"
"Kota Halu."
"Siapa keluarganya? Kau sama sekali belum mengenal keluarganya, bukan?"
"Etto....."
Farrand terdiam. Ia memang tak tau sama sekali tentang keluarga Lingga. Selama ini, ia hanya tau jika Lingga kabur dari rumahnya karena ia sudah tak tahan dibanding-bandingkan dengan adiknya. Ia tak tau apapun tentang keluarga Lingga selain marga keluarganya. Dan sebenarnya, ia juga tak tau lebih banyak siapa itu Lingga.
"Ayah tau kau mencintainya. Tapi ingatlah, jika kau ingin memutuskan untuk hidup dengannya, kau juga harus mengetahui jika dia orang yang patut kau perjuangkan."
"Tapi belum tentu juga aku mencintai pria pilihan ayah."
"Dan belum tentu juga kau tak mau. Percayalah, putri ayah. Ayah tidak sembarangan memilihkan pria untukmu. Yah, meski akhir-akhir ini ayah sedikit kesal atas kelakuannya. Tapi setidaknya ayah tau dia lebih banyak darimu."
"......" Farrand terdiam. Ia masih menunggu kata-kata selanjutnya dari ayahnya.
"Selain ayahnya yang sudah ayah kenal dari dulu, ibunya pun sahabat ibumu. Ayah hanya ingin melaksanakan wasiat terakhir mendiang ibumu."
"Aku tau. Aku masih ingat jika ayah dulu pernah mengatakan jika kelak aku menikahi putra teman ayah."
"Jadi, mengapa tak kau coba untuk menerimanya? Siapa tau kalian akan saling cocok satu sama lain."
"Aku masih belum mengatakan jika aku mau."
"Dan kau juga belum menolak sepenuhnya, bukan?"
"....." Farrand terdiam. Ayahnya memang benar atas segala sesuatu yang memang tengah mereka debatkan. Ia tak ingin mengakuinya secara lantang jika ia sebenarnya setuju dengan apa yang ayahnya sampaikan. Ia juga merasa jika ia belum mengenal siapa Lingga lebih jauh. Karena selama ini, ia hanya mengenal sebatas hal-hal yang biasa terhadap pemuda itu.
"Begini saja. Ayah akan mempertimbangkan keputusanmu..." Arasya menjeda.
"Benarkah, ayah?" Binar bahagia terlihat di wajah Farrand yang mulai sumringah. Arasya tersenyum, dan mulai bersiap melanjutkan ucapan selanjutnya.
“Ya! Itu benar. Tapi dengan syarat kau harus mau bertemu dengan mereka di malam tahun baru besok." Lanjut Arasya.
"ITU SAMA SAJA. AYAH!"
"Tak usah berteriak begitu, putriku. Telinga ayah masih cukup normal untuk mendengar suaramu tanpa teriakan."
"Sudahlah. Ayah harus membatalkan perjodohan jika ku pinta setelah aku bersedia menemui mereka."
"Ya. Kau bisa pegang ucapan ayah."
Arasya tersenyum, ia lega. Setidaknya meskipun mereka berdebat, Farrand masih mau berbicara dengannya lagi dan setidaknya mau memikirkan tawarannya. Sekarang yang di pikirannya hanya satu, bagaimana cara agar Farrand menerima perjodohannya itu? Haruskah ia melakukan sesuatu?
Tbc
__ADS_1