
Farrand dan Dion menikmati semilir angin di pembatas jalan
puncak bukit Kota Falenna. Ia yang berencana menunggu Lingga dan Nadeen selesai
belajar mengitari bukit itu. Madhiaz telah pulang. Sementara mobil Lingga telah
ia antarkan kerumah Madhiaz untuk diperbaiki, dan setelah itu dia ikut mobil Nadeen.
Suasana hening masih menyelimuti mereka berdua. Belum ada yang
mau memecah keheningan. Entah apa yang mereka berdua fikirkan hingga tak ada
satupun yang bersuara.
"Aku menanti penjelasanmu, Farrand." Akhirnya Dion
membuka mulutnya. Mengeluarkan beberapa kata yang telah ia susun jauh-jauh
hari.
"Aku tak tau harus mulai darimana, Dion. Terlalu banyak
yang ingin kuceritakan padamu."
"Kalau begitu, kau bisa mulai dari hal yang membuatmu
pindah."
Farrand menghela nafas lelah. Ia sudah
menyangka hal ini akan terjadi jauh-jauh hari. Hari dimana Dion dan dirinya
bertemu dan meminta penjelasan kepadanya tentang apa yang telah terjadi dimasa
lalu.
"Baiklah. Kuharap kau tak akan bosan mendengar
ceritaku."
"Tentu." Dion tersenyum hingga menyipitkan matanya.
Haaahhhh.... Farrand menghela nafas panjang sebelum memulai
bercerita. Mencoba mengingat hal kecil yang sebenarnya ingin ia lupakan.
"Ayahku bangkrut kala itu. Mungkin kau juga sudah tau
tentangnya. Segala milik kami disita bank. Ayah tak punya pilihan lain.
Untunglah dia diam-diam menyuruh teman yang dipercayainya. Paman Birawa, ayah Dhiaz. Atau yang kau
panggil Madhiaz. Untuk menyimpankan beberapa uangnya. Dan tentu saja, tanpa
diketahui siapapun. Lalu setelah itu kami pindah kesini, ke Kota Falen. Karena
paman Birawa telah tinggal disini sebelumnya. Ayah yang sudah tak memiliki
apa-apa terlihat rapuh. Ia sudah tak memiliki pendamping disisinya. Hanya aku.
Hanya akulah yang ia miliki saat itu, Dion. Bisa kau bayangkan hal itu?
Untunglah paman Birawa benar-benar menjagakan uang ayah saat itu. Beliau yang
mencarikan peluang. Beliau pula yang mencarikan tempat usaha untuk ayahku.
Sekaligus mencarikan apartmen sederhana untuk kami tinggali. Ayah mulai sering
sakit-sakitan kala itu. Uang ayah telah habis bahkan sebelum usahanya dimulai.
Semua untuk pengobatan ayah. Paman Birawa tak patah semangat untuk menyemangati
ayahku. Hingga ayah sehat dan bisa menjalankan usaha seperti sekarang ini.
Usaha ayah sekarang, sebagai tukang cuci mobil sebenarnya sudah mulai maju.
Namun terkadang semua tak berjalan dengan yang seperti kita harapkan,
bukan?" Farrand terkekeh kecil. Namun setitik air mata mengalir di salah
satu matanya. Dan itu tak luput dari perhatian Dion.
"Salah satu pesaing ayah merencanakan hal buruk untuk
ayah. Dia menyewa preman untuk menghabisi ayah dan bisnis ayah. Mereka mencuri
semuanya. Untunglah ayah selamat meski harus berakhir dirumah sakit lagi. Dan
usaha ayah harus mulai dari nol, lagi. Untunglah tabungan ayah cukup untuk
memulai kembali. Meski sekarang kami cuma punya satu karyawan. Tapi setidaknya
cukuplah untuk kami hidup." Mengalir sudah air matanya. Pertahanannya
selama ini tak cukup untuk menahan laju air mata yang telah lama ia bendung.
"Maafkan aku, Dion. Aku telah meninggalkanmu begitu saja
tanpa penjelasan. Aku takut. Aku takut jika aku menceritakannya kepadamu, kau
akan meninggalkanku. Status kita sekarang berbeda, Dion." Farrand semakin
terisak. Airmatanya mengalir semakin deras.
Dion tak mampu berkata-kata lagi. Hatinya terasa tercubit
melihat Farrand yang menangis seperti ini. Tak ia sangka. Jika masalah Farrand
akan sepelik ini. Direngkuhnya rubuh ringkih itu kedalam pelukannya. Ia kecupi
puncak kepala Farrand, berharap bisa membuat Farrand sedikit tenang.
"Tenanglah. Aku disini sekarang. Dan aku tak akan meninggalkanmu."
Ucapnya. Farrand masih terisak dan memeluk Dion lebih erat. Dia sangat
merindukannya. Merindukan pria berambut merah yang memeluknya kini.
Suara deru mobil milik Nadeen telah terdengar. Itu berarti
jarak mereka kini telah dekat. Lingga dan Nadeen. Mereka berlatih mengitari
bukit Falenca,
mengingat kondisi bukit Falencapas untuk dijadikan latihan.
Ckiitttttt.....
Suara cengkraman rem begitu nyaring terdengar. Lingga turun dengan raut wajah
ditekuk. Sedangkan Nadeen berjalan dengan terhuyung. Farrand mengernyit heran
melihat tingkah konyol mereka berdua. Segera Farrand berlari kearah Nadeen dan
memapahnya menuju bangku yang ada disana.
"Apa yang kau lakukan padanya, Lingga. Hingga dia
berakhir seperti ini?" Farrand menyelidik. Seingatnya ia tidak pernah
melihat Nadeen mabuk seperti ini.
"Aku hanya menunjukkan beberapa teknik drift menuruni bukit padanya. Dan dia berteriak-teriak seperti orang kesetanan di
tikungan ketiga."
"Sudahlah.. Farrand... a... ku tidak apa-apa."
Brukkkk....
Nadeen terjatuh begitu saja setelah Farrand melonggarkan
papahannya.
"Aku tidak kuat, Farrand." Dion cengo... dan Lingga
mendengus. Hey.... siapa tadi yang bilang tidak apa-apa dan sekarang malah
terlihat tak berdaya?
"Dion. Aku akan ikut mobil Lingga. Tidak apa kan? Dan....
kau bisa ikut? Nanti tolong antarkan Lingga pulang." Sekarang ganti Dion
yang mendengus. Hei... dia asih sakit hati dengan guyonan Lingga tadi.
"As you wish. Babe." Farrand terkikik geli
mendengar kalimat Dion. Ah, pria itu tak berubah rupanya. Tetap menjadi pria
romantisnya dan mengatakan hal itu saat ia menerima permintaan Farrand.
"Aku besok punya kejutan untukmu. Farrand."
"Kejutan?"
"Aku yakin kau akan menyukainya besok."
"Ya.. ya... Tapi sekarang tolong bantu aku mengangkat Nadeen."
__ADS_1
"Tidak. Biar pria itu saja yang mengangkatnya. Bukahkah
dia yang menyebabkan Nadeen begini?"
"Baiklah. Baiklah. Aku yang akan mengangkatnya. Kau Farrand. Buka pintu mobilnya."
Perintah Lingga.
Farrand hanya mengangguk. Dan melaksanakan perintah Lingga
yang terdengar bossy itu. Walau dalam hatinya menggerutu, sih.
***
Mata Lingga masih belum terpejam meski saat ini waktu sudah
dini hari. Fikirannya masih mengingat semua tentang pertemuannya dengan gadis berambut panjang yang sekelas dengannya itu. Masakannya yang enak, mata coklat yang mempesona, dan dandanan manisnya saat
melihat balapan tadi dan sungguh berbeda dengan dandanan saat di sekolah. Ia
masih melirik kotak makan milik Farrand yang kemaren siang diberikan kepadanya.
Ia bertekad akan mengembalikannya dan mengucapkan terima kasihnya besok. Tapi ia
bingung. Haruskah dia kembalikan dalam keadaan kosong begitu saja? Atau ia isi
dengan sesuatu? Tapi di isi apa? Sedang ia begitu tak mahir memasak. Mau
mengajak jalan-jalan, dia sudah ada yang punya. Sungguh sial sekali nasibnya
yang sudah kurang baik ini.
Eh, tapi tunggu dulu..
Mata coklatitu? Bukankah mata itu mirif dengan pengendara Ichigo? Apakah mereka
mempunyai hubungan? Atau.... dialah Ichigo itu? Tidak... tidak.... postur tubuh
mereka sangatlah berbeda. Tidak mungkin yang ia temui itu adalah Farrand.
Diluhat sekali saja sudah ketahuan. Postur yang ia luhat saat itu adalah postur
pria dewasa, bukan postur seorang gadis kecil. Atau, hanya kebetulan mirif
saja? Seperti dirinya. Yang mempunyai mata hitam dan beberapa orang bermata
hitam yang tak punya hubungan kekerabatan dengannya? Entah lah. Dia bingung.
Dan yang bisa ia lakukan hanya berguling-guling ditempat tidur sampai matanya
terpejam.
.
.
.
Lingga sampai dikelasnya tepat satu menit sebelum bel
berbunyi. Kondisinya terlihat buruk. Matanya sayu dan terdapat lingkaran hitam
disekitarnya. Farrand yang melihat hal itu hanya menatapnya heran. Karena
setaunya, Lingga pulang tak terlalu larut.
Ketika jam pelajaran berlangsung pun, Lingga tak bisa
berkonsentrasi. Sesekali kepalanya terantuk-antuk dan ditegur oleh guru. Untung
saja dia masih terhitung siswa baru. Hukuman berat tak akan menantinya.
Paling-paling yang ia dapat hanya hukuman menghafal beberapa rumus.
Farrand melangkahkan kaki menuju bangku Lingga. Ia berencana
menanyakan keadaannya yang terlihat buruk itu. Oh ayolah.... Farrand merasa
bersalah karena sedikit banyak ia juga ikut andil dalam kebegadangan Lingga. Ia
merasa bersalah karena menyuruh Lingga untuk melakukan beberapa pekerjaan Saat
mengantar Nadeen semalam. Dan, ngomong-ngomong tentang Nadeen. Ia tak masuk
hari ini karena masih pusing. Atau, malu, mungkin? Entahlah. Hanya Nadeen
yang tau hal itu.
"Lingga." Satu panggilan. Dan Lingga masih
meja Lingga yang ditinggal pemiliknya keluar. "Lingga, hey..." dua
panggilan.. dan Lingga masih tak bergeming. "Oi..... Linggis...." di panggilan ketiga sepertinya Farrand
sudah mulai kehilangan kesabaran. Nyatanya ia sudah mengguncang-guncang bahu Lingga.
"Ada apa, Farrand?" Lingga mengangkat kepalanya enggan. Ia masih mengantuk dan ingin tidur
sekarang. Tapi makhluk berjenis
kelamin wanitapengganggu tidurnya dengan seenak jidatnya
malah membangunkan Lingga.
"Sebenarnya bagaimana cara mengemudimu semalam hingga Nadeen
sampai seperti itu?"
"Cerewet. Aku ngantuk" Lingga kesal. Matanya sangat
berat saat ini. Dan gadis didepannya ini mengusik waktunya.
"Oi... kalau kau sangat ngantuk. Mengapa tak tidur di UKS
saja sih. Kau bisa minta surat keterangan tak mengikuti pelajaran. Dan kau bisa
tidur enak disana." Clink.... mata Lingga sedikit terasa ringan
mendengar celetuk an Farrand.
'Mengapa tidak dari tadi saja.' Batinnya.
"Antar aku."
"He?" Farrand bingung. Antar? Dia mengantar Lingga ke UKS? dia mengantar?
Mengantar? Oh.. mungkin otak Lingga butuh di sleding dikit.
"Iya. Aku belum tau arah UKS. Lagipula apa kau tak
melihat jika disekeliling kita sudah tak ada orang? Semua sudah keluar untuk
mengisi perut mereka." Farrand celinguk an memandang sekelilingnya.
'Benar juga'. Batinnya. Tapi melihat siluet
pemuda berambut nanas membuat nya semangat seketika.
"Dhiaz. Kemari." Farrandberteriak senang. Dan Lingga menghela nafas bosan. Sepertinya rencana
untuk berdua dengannya gagal.
Madhiaz menoleh. Melambaikan tangan dan masuk kedalam kelas.
Namun yang tak disangka oleh Farrand adalah kemunculan pria dibelakang Madhiaz.
Mata Farrand membulat. Bibirnya mengatup menggumam lirih kata yang tak
terdengar siapapun. Sedang pemuda itu tersenyum tipis melihat reaksi lucu milik
Farrand.
"Ini kejutan untukmu, darling." Ucap Dion. Farrand
menghambur kepelukan Dion. Namun deheman dari Madhiaz memutus pelukan itu
begitu saja.
"Kenapa kau memanggilku kemari." Kata Madhiaz.
"Itu.... bisakah kau
antar Lingga ke UKS? Dia tak enak badan. Tak akan nyaman bukan, jika aku yang
mengantarnya?" Jawab Farrand.
Madhiaz menatap malas Lingga. Dalam hatinya sedikit
membenarkan ucapan Farrand jika kondisi Lingga dalam keadaan tak baik.
"Baiklah. Dia ku antar. Dan kalian bisa saling melepas
rindu." Putus Madhiaz. Lalu tanpa keterangan lebih lanjut pun Madhiaz
menyeret Lingga begitu saja ke ruang UKS. Meninggalkan Dion dan Farrand di
kelas berdua.
Farrand menyeret Dion ketempat duduk milik Nadeen. Dan ia
__ADS_1
duduk dikursinya sendiri.
"Bagaimana bisa kau sekolah disini sekarang, Dion. Apa
kau merencanakan semua ini?"
"Tidak. Sebelum menemukanmu, aku sudah jauh-jauh hari
memang akan pindah kesini. Kakakku, Allicia. Ia melanjutkan kuliah disini karena ayah yang meminta. Jadilah aku
yang ditunjuk untuk menemaninya disini. Kau tau, kak Gilangsangat tak bisa di andalkan. Yang ia
tahu hanya menggoda para gadis-gadis cantik saja. Jadi ayah tak mempercayainya
menjaga kakak perempuanku satu-satunya itu."
"Dan kenapa kau bisa bersama Dhiaz?”
"Aku sekelas dengannya"
"He.....Sekelas? Kau bercanda? Kita dulu seangkatan,
bukan? Mengapa sekarang kau
menjadi kakak kelasku?"
Dion tersenyum kecil.
"Aku ikut percepatan." Jawabnya. Farrand hanya
menganga. Ia tak menyangka jika Dion ikul kelas percepatan dan menjadi seniornya di sekolah ini.
"Kau curang."
"Tak masalah jika dengan curang aku bisa bersamamu. Kau
tau, setidaknya aku bersyukur bukan Kankurou yang ditunjuk ayah. Dengan begini
aku bisa bertemu dengamu disini."
"Mana bisa begitu, Dion. Lagipula kita tak bisa sekelas, bodoh."
"Tak masalah. Asal kita masih satu sekolah." Farrand
cemberut. Ia malas untuk membalas ucapan Dion.
"Nanti sepulang sekolah kita jalan?"
"Aku tak bisa, Dion. Aku masih harus membantu ayahku.
Mungkin kau bisa mengajakku dan pamit kepada ayahku jika sudah di atas jam 5
sore." Kata Farrand. Terselip sedikit rasa sungkan ketika ia mengatakan
itu.
"Tak masalah jika dengan menghadap paman Arashbisa membuatmu jalan
denganku." Dion terkekeh. Ah, seperti dalam keadaan melamar saja.
"Ya. Ya. Silahkan lakukan semaumu." Farrand merotate kan matanya. Terkadang ia jengkel dengan pribadi Dion yang seperti itu. Namun
dihatinya, ia bahagia. Terbukti dipipinya terselip rona merah meski samar.
.
.
.
Seperti janjinya siang tadi. Dion menjemput Farrand jam 5
lebih. Setelah ia pamit dengan ayah Farrand, Arashya atau yang biasa mereka panggil Arash. Ia
menggandeng tangan Farrand dan menuntunnya menuju mobil. Mereka berkendara
menuju taman kota. Sesampainya disana mereka mengambil tempat duduk dibawah
pohon.
"Kau tau. Aku selalu memimpikan hal seperti ini saat
kehilanganmu dulu." Mata Dion terpejam sambil mendongak dan menyandar di
sandaran belakang kursi.
"Dan tak kusangka akan menjadi kenyataan dimalam
ini."
"Maafkan aku, Dion. Aku bahkan tak pamit secara langsing
padamu." Farrand menoleh kearah Dion. Digenggamnya tangan Dion. Mencoba
meminta maaf dengan cara hangat.
"Aku tak mempermasalahkan hal itu lagi. Aku sudah
menemukanmu disini. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku
melupakannya." Ucap Dion. Diciumnya punggung tangan Farrand yang tadi
menggenggam tangannya.
"Aku tak tau kau sekarang ikut balapan, Dion. Setauku kau
tak begitu peduli akan hal itu."
"Aku ingin hal yang berbeda. Sebelumnya kufikir balapan
itu membosankan. Tapi begitu aku merasakan sebuah kemenangan. Aku
menginginkannya lagi. Hingga aku menjadi yang tercepat. Dan sepertinya pemuda bernama Linggaitu mulai
menggeser kepopuler an ku."
"Kau mengejar kepuasan atau kepopuleran?"
"Hei.. mengejar keduanya tak buruk bukan? Lagipula ada
banyak wanita yang akan menatap kagum padaku jika aku menang balapan seperti
kemarin." Dion terkekeh.
"Tidak buruk. Mungkin aku harus menemanimu setiap kau
balapan. Kau tau? Aku dapat merasakan pandangan membunuh dari setiap wanita
pemujamu yang melihat kau menciumku saat itu."
"Benarkah? Aku bahkan tak tau jika aku punya penggemar.
Kupikir mereka hanya kagum saja dan lebih dari itu." Kata Dion sambil
tersenyum menatap Farrand yang mendengus.
"Aku akan ketoilet." Ucap Farrand yang langsung ngacir begitu saja setelah menyelesaikan ucapannya.
Dion tersenyum. 'Sepertinya dia cemburu'. Batinnya.
Drtttt drttttt....
Smartphone milik Dion bergetar. Ia tatap layar hpnya sekilas. Dan ada
sebuah pesan yang berisi tentang undangan balapan di Kota Halu. Ia abaikan
begitu saja pesan itu. Karena ia tak akan datang. Persetan dengan
balapan disana. Sekarang ia masih ingin berduaan dengan yg ia rindukan.
Dion masih menatap langit bertabur bintang diatasnya. Suasana
ditaman agak sunyi kali ini. Entah karena apa. Apa alam seakan tau ia butuh
waktu berdua dengan sang terkasih, mungkin?
Lamunan Dion terusik mendengar suara derap langkah Farrand
yang terasa tergesa-gesa. Ia menoleh. Dilihatnya Farrand yang berlari menuju
kearahnya sambil terengah-engah. Dengan lelehan air mata di tiap matanya.
Brukkk...
Farrand menghambur kepelukan Dion. Ia memeluk tubub tegap bersurai merah itu
dengan erat. Bibirnya terisak dan bergetar. Menggumamkan kata tak jelas yang
tak mampu Dion tangkap dengan benar.
"Dion....."
__ADS_1
-TBC-