Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 4


__ADS_3

Farrand dan Dion menikmati semilir angin di pembatas jalan


puncak bukit Kota Falenna. Ia yang berencana menunggu Lingga dan Nadeen selesai


belajar mengitari bukit itu. Madhiaz telah pulang. Sementara mobil Lingga telah


ia antarkan kerumah Madhiaz untuk diperbaiki, dan setelah itu dia ikut mobil Nadeen.


Suasana hening masih menyelimuti mereka berdua. Belum ada yang


mau memecah keheningan. Entah apa yang mereka berdua fikirkan hingga tak ada


satupun yang bersuara.


"Aku menanti penjelasanmu, Farrand." Akhirnya Dion


membuka mulutnya. Mengeluarkan beberapa kata yang telah ia susun jauh-jauh


hari.


"Aku tak tau harus mulai darimana, Dion. Terlalu banyak


yang ingin kuceritakan padamu."


"Kalau begitu, kau bisa mulai dari hal yang membuatmu


pindah."


Farrand menghela nafas lelah. Ia sudah


menyangka hal ini akan terjadi jauh-jauh hari. Hari dimana Dion dan dirinya


bertemu dan meminta penjelasan kepadanya tentang apa yang telah terjadi dimasa


lalu.


"Baiklah. Kuharap kau tak akan bosan mendengar


ceritaku."


"Tentu." Dion tersenyum hingga menyipitkan matanya.


Haaahhhh.... Farrand menghela nafas panjang sebelum memulai


bercerita. Mencoba mengingat hal kecil yang sebenarnya ingin ia lupakan.


"Ayahku bangkrut kala itu. Mungkin kau juga sudah tau


tentangnya. Segala milik kami disita bank. Ayah tak punya pilihan lain.


Untunglah dia diam-diam menyuruh teman yang dipercayainya. Paman Birawa, ayah Dhiaz. Atau yang kau


panggil Madhiaz. Untuk menyimpankan beberapa uangnya. Dan tentu saja, tanpa


diketahui siapapun. Lalu setelah itu kami pindah kesini, ke Kota Falen. Karena


paman Birawa telah tinggal disini sebelumnya. Ayah yang sudah tak memiliki


apa-apa terlihat rapuh. Ia sudah tak memiliki pendamping disisinya. Hanya aku.


Hanya akulah yang ia miliki saat itu, Dion. Bisa kau bayangkan hal itu?


Untunglah paman Birawa benar-benar menjagakan uang ayah saat itu. Beliau yang


mencarikan peluang. Beliau pula yang mencarikan tempat usaha untuk ayahku.


Sekaligus mencarikan apartmen sederhana untuk kami tinggali. Ayah mulai sering


sakit-sakitan kala itu. Uang ayah telah habis bahkan sebelum usahanya dimulai.


Semua untuk pengobatan ayah. Paman Birawa tak patah semangat untuk menyemangati


ayahku. Hingga ayah sehat dan bisa menjalankan usaha seperti sekarang ini.


Usaha ayah sekarang, sebagai tukang cuci mobil sebenarnya sudah mulai maju.


Namun terkadang semua tak berjalan dengan yang seperti kita harapkan,


bukan?" Farrand terkekeh kecil. Namun setitik air mata mengalir di salah


satu matanya. Dan itu tak luput dari perhatian Dion.


"Salah satu pesaing ayah merencanakan hal buruk untuk


ayah. Dia menyewa preman untuk menghabisi ayah dan bisnis ayah. Mereka mencuri


semuanya. Untunglah ayah selamat meski harus berakhir dirumah sakit lagi. Dan


usaha ayah harus mulai dari nol, lagi. Untunglah tabungan ayah cukup untuk


memulai kembali. Meski sekarang kami cuma punya satu karyawan. Tapi setidaknya


cukuplah untuk kami hidup." Mengalir sudah air matanya. Pertahanannya


selama ini tak cukup untuk menahan laju air mata yang telah lama ia bendung.


"Maafkan aku, Dion. Aku telah meninggalkanmu begitu saja


tanpa penjelasan. Aku takut. Aku takut jika aku menceritakannya kepadamu, kau


akan meninggalkanku. Status kita sekarang berbeda, Dion." Farrand semakin


terisak. Airmatanya mengalir semakin deras.


Dion tak mampu berkata-kata lagi. Hatinya terasa tercubit


melihat Farrand yang menangis seperti ini. Tak ia sangka. Jika masalah Farrand


akan sepelik ini. Direngkuhnya rubuh ringkih itu kedalam pelukannya. Ia kecupi


puncak kepala Farrand, berharap bisa membuat Farrand sedikit tenang.


"Tenanglah. Aku disini sekarang. Dan aku tak akan meninggalkanmu."


Ucapnya. Farrand masih terisak dan memeluk Dion lebih erat. Dia sangat


merindukannya. Merindukan pria berambut merah yang memeluknya kini.


Suara deru mobil milik Nadeen telah terdengar. Itu berarti


jarak mereka kini telah dekat. Lingga dan Nadeen. Mereka berlatih mengitari


bukit Falenca,


mengingat kondisi bukit Falencapas untuk dijadikan latihan.


 


 


Ckiitttttt.....


Suara cengkraman rem begitu nyaring terdengar. Lingga turun dengan raut wajah


ditekuk. Sedangkan Nadeen berjalan dengan terhuyung. Farrand mengernyit heran


melihat tingkah konyol mereka berdua. Segera Farrand berlari kearah Nadeen dan


memapahnya menuju bangku yang ada disana.


"Apa yang kau lakukan padanya, Lingga. Hingga dia


berakhir seperti ini?" Farrand menyelidik. Seingatnya ia tidak pernah


melihat Nadeen mabuk seperti ini.


"Aku hanya menunjukkan beberapa teknik drift menuruni bukit padanya. Dan dia berteriak-teriak seperti orang kesetanan di


tikungan ketiga."


"Sudahlah.. Farrand... a... ku tidak apa-apa."


Brukkkk....


Nadeen terjatuh begitu saja setelah Farrand melonggarkan


papahannya.


"Aku tidak kuat, Farrand." Dion cengo... dan Lingga


mendengus. Hey.... siapa tadi yang bilang tidak apa-apa dan sekarang malah


terlihat tak berdaya?


"Dion. Aku akan ikut mobil Lingga. Tidak apa kan? Dan....


kau bisa ikut? Nanti tolong antarkan Lingga pulang." Sekarang ganti Dion


yang mendengus. Hei... dia asih sakit hati dengan guyonan Lingga tadi.


"As you wish. Babe." Farrand terkikik geli


mendengar kalimat Dion. Ah, pria itu tak berubah rupanya. Tetap menjadi pria


romantisnya dan mengatakan hal itu saat ia menerima permintaan Farrand.


"Aku besok punya kejutan untukmu. Farrand."


"Kejutan?"


"Aku yakin kau akan menyukainya besok."


"Ya.. ya... Tapi sekarang tolong bantu aku mengangkat Nadeen."

__ADS_1


"Tidak. Biar pria itu saja yang mengangkatnya. Bukahkah


dia yang menyebabkan Nadeen begini?"


"Baiklah. Baiklah. Aku yang akan mengangkatnya. Kau Farrand. Buka pintu mobilnya."


Perintah Lingga.


Farrand hanya mengangguk. Dan melaksanakan perintah Lingga


yang terdengar bossy itu. Walau dalam hatinya menggerutu, sih.


***


Mata Lingga masih belum terpejam meski saat ini waktu sudah


dini hari. Fikirannya masih mengingat semua tentang pertemuannya dengan gadis berambut panjang yang sekelas dengannya itu. Masakannya yang enak, mata coklat yang mempesona, dan dandanan manisnya saat


melihat balapan tadi dan sungguh berbeda dengan dandanan saat di sekolah. Ia


masih melirik kotak makan milik Farrand yang kemaren siang diberikan kepadanya.


Ia bertekad akan mengembalikannya dan mengucapkan terima kasihnya besok. Tapi ia


bingung. Haruskah dia kembalikan dalam keadaan kosong begitu saja? Atau ia isi


dengan sesuatu? Tapi di isi apa? Sedang ia begitu tak mahir memasak. Mau


mengajak jalan-jalan, dia sudah ada yang punya. Sungguh sial sekali nasibnya


yang sudah kurang baik ini.


Eh, tapi tunggu dulu..


Mata coklatitu? Bukankah mata itu mirif dengan pengendara Ichigo? Apakah mereka


mempunyai hubungan? Atau.... dialah Ichigo itu? Tidak... tidak.... postur tubuh


mereka sangatlah berbeda. Tidak mungkin yang ia temui itu adalah Farrand.


Diluhat sekali saja sudah ketahuan. Postur yang ia luhat saat itu adalah postur


pria dewasa, bukan postur seorang gadis kecil. Atau, hanya kebetulan mirif


saja? Seperti dirinya. Yang mempunyai mata hitam dan beberapa orang bermata


hitam yang tak punya hubungan kekerabatan dengannya? Entah lah. Dia bingung.


Dan yang bisa ia lakukan hanya berguling-guling ditempat tidur sampai matanya


terpejam.


 


 


.


.


.


Lingga sampai dikelasnya tepat satu menit sebelum bel


berbunyi. Kondisinya terlihat buruk. Matanya sayu dan terdapat lingkaran hitam


disekitarnya. Farrand yang melihat hal itu hanya menatapnya heran. Karena


setaunya, Lingga pulang tak terlalu larut.


Ketika jam pelajaran berlangsung pun, Lingga tak bisa


berkonsentrasi. Sesekali kepalanya terantuk-antuk dan ditegur oleh guru. Untung


saja dia masih terhitung siswa baru. Hukuman berat tak akan menantinya.


Paling-paling yang ia dapat hanya hukuman menghafal beberapa rumus.


Farrand melangkahkan kaki menuju bangku Lingga. Ia berencana


menanyakan keadaannya yang terlihat buruk itu. Oh ayolah.... Farrand merasa


bersalah karena sedikit banyak ia juga ikut andil dalam kebegadangan Lingga. Ia


merasa bersalah karena menyuruh Lingga untuk melakukan beberapa pekerjaan Saat


mengantar Nadeen semalam. Dan, ngomong-ngomong tentang Nadeen. Ia tak masuk


hari ini karena masih pusing. Atau, malu, mungkin? Entahlah. Hanya Nadeen


yang tau hal itu.


"Lingga." Satu panggilan. Dan Lingga masih


meja Lingga yang ditinggal pemiliknya keluar. "Lingga, hey..." dua


panggilan.. dan Lingga masih tak bergeming. "Oi..... Linggis...." di panggilan ketiga sepertinya Farrand


sudah mulai kehilangan kesabaran. Nyatanya ia sudah mengguncang-guncang bahu Lingga.


"Ada apa, Farrand?" Lingga mengangkat kepalanya enggan. Ia masih mengantuk dan ingin tidur


sekarang. Tapi makhluk berjenis


kelamin wanitapengganggu tidurnya dengan seenak jidatnya


malah membangunkan Lingga.


"Sebenarnya bagaimana cara mengemudimu semalam hingga Nadeen


sampai seperti itu?"


"Cerewet. Aku ngantuk" Lingga kesal. Matanya sangat


berat saat ini. Dan gadis didepannya ini mengusik waktunya.


"Oi... kalau kau sangat ngantuk. Mengapa tak tidur di UKS


saja sih. Kau bisa minta surat keterangan tak mengikuti pelajaran. Dan kau bisa


tidur enak disana." Clink.... mata Lingga sedikit terasa ringan


mendengar celetuk an Farrand.


'Mengapa tidak dari tadi saja.' Batinnya.


"Antar aku."


"He?" Farrand bingung. Antar? Dia mengantar Lingga ke UKS? dia mengantar?


Mengantar? Oh.. mungkin otak Lingga butuh di sleding dikit.


"Iya. Aku belum tau arah UKS. Lagipula apa kau tak


melihat jika disekeliling kita sudah tak ada orang? Semua sudah keluar untuk


mengisi perut mereka." Farrand celinguk an memandang sekelilingnya.


'Benar juga'. Batinnya. Tapi melihat siluet


pemuda berambut nanas membuat nya semangat seketika.


"Dhiaz. Kemari." Farrandberteriak senang. Dan Lingga menghela nafas bosan. Sepertinya rencana


untuk berdua dengannya gagal.


Madhiaz menoleh. Melambaikan tangan dan masuk kedalam kelas.


Namun yang tak disangka oleh Farrand adalah kemunculan pria dibelakang Madhiaz.


Mata Farrand membulat. Bibirnya mengatup menggumam lirih kata yang tak


terdengar siapapun. Sedang pemuda itu tersenyum tipis melihat reaksi lucu milik


Farrand.


"Ini kejutan untukmu, darling." Ucap Dion. Farrand


menghambur kepelukan Dion. Namun deheman dari Madhiaz memutus pelukan itu


begitu saja.


"Kenapa kau memanggilku kemari." Kata Madhiaz.


"Itu.... bisakah kau


antar Lingga ke UKS? Dia tak enak badan. Tak akan nyaman bukan, jika aku yang


mengantarnya?" Jawab Farrand.


Madhiaz menatap malas Lingga. Dalam hatinya sedikit


membenarkan ucapan Farrand jika kondisi Lingga dalam keadaan tak baik.


"Baiklah. Dia ku antar. Dan kalian bisa saling melepas


rindu." Putus Madhiaz. Lalu tanpa keterangan lebih lanjut pun Madhiaz


menyeret Lingga begitu saja ke ruang UKS. Meninggalkan Dion dan Farrand di


kelas berdua.


Farrand menyeret Dion ketempat duduk milik Nadeen. Dan ia

__ADS_1


duduk dikursinya sendiri.


"Bagaimana bisa kau sekolah disini sekarang, Dion. Apa


kau merencanakan semua ini?"


"Tidak. Sebelum menemukanmu, aku sudah jauh-jauh hari


memang akan pindah kesini. Kakakku, Allicia. Ia melanjutkan kuliah disini karena ayah yang meminta. Jadilah aku


yang ditunjuk untuk menemaninya disini. Kau tau, kak Gilangsangat tak bisa di andalkan. Yang ia


tahu hanya menggoda para gadis-gadis cantik saja. Jadi ayah tak mempercayainya


menjaga kakak perempuanku satu-satunya itu."


"Dan kenapa kau bisa bersama Dhiaz?”


"Aku sekelas dengannya"


"He.....Sekelas? Kau bercanda? Kita dulu seangkatan,


bukan? Mengapa sekarang kau


menjadi kakak kelasku?"


Dion tersenyum kecil.


"Aku ikut percepatan." Jawabnya. Farrand hanya


menganga. Ia tak menyangka jika Dion ikul kelas percepatan dan menjadi seniornya di sekolah ini.


"Kau curang."


"Tak masalah jika dengan curang aku bisa bersamamu. Kau


tau, setidaknya aku bersyukur bukan Kankurou yang ditunjuk ayah. Dengan begini


aku bisa bertemu dengamu disini."


"Mana bisa begitu, Dion. Lagipula kita tak bisa sekelas, bodoh."


"Tak masalah. Asal kita masih satu sekolah." Farrand


cemberut. Ia malas untuk membalas ucapan Dion.


"Nanti sepulang sekolah kita jalan?"


"Aku tak bisa, Dion. Aku masih harus membantu ayahku.


Mungkin kau bisa mengajakku dan pamit kepada ayahku jika sudah di atas jam 5


sore." Kata Farrand. Terselip sedikit rasa sungkan ketika ia mengatakan


itu.


"Tak masalah jika dengan menghadap paman Arashbisa membuatmu jalan


denganku." Dion terkekeh. Ah, seperti dalam keadaan melamar saja.


"Ya. Ya. Silahkan lakukan semaumu." Farrand merotate kan matanya. Terkadang ia jengkel dengan pribadi Dion yang seperti itu. Namun


dihatinya, ia bahagia. Terbukti dipipinya terselip rona merah meski samar.


 


 


.


.


.


Seperti janjinya siang tadi. Dion menjemput Farrand jam 5


lebih. Setelah ia pamit dengan ayah Farrand, Arashya atau yang biasa mereka panggil Arash. Ia


menggandeng tangan Farrand dan menuntunnya menuju mobil. Mereka berkendara


menuju taman kota. Sesampainya disana mereka mengambil tempat duduk dibawah


pohon.


"Kau tau. Aku selalu memimpikan hal seperti ini saat


kehilanganmu dulu." Mata Dion terpejam sambil mendongak dan menyandar di


sandaran belakang kursi.


"Dan tak kusangka akan menjadi kenyataan dimalam


ini."


"Maafkan aku, Dion. Aku bahkan tak pamit secara langsing


padamu." Farrand menoleh kearah Dion. Digenggamnya tangan Dion. Mencoba


meminta maaf dengan cara hangat.


"Aku tak mempermasalahkan hal itu lagi. Aku sudah


menemukanmu disini. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku


melupakannya." Ucap Dion. Diciumnya punggung tangan Farrand yang tadi


menggenggam tangannya.


"Aku tak tau kau sekarang ikut balapan, Dion. Setauku kau


tak begitu peduli akan hal itu."


"Aku ingin hal yang berbeda. Sebelumnya kufikir balapan


itu membosankan. Tapi begitu aku merasakan sebuah kemenangan. Aku


menginginkannya lagi. Hingga aku menjadi yang tercepat. Dan sepertinya pemuda bernama Linggaitu mulai


menggeser kepopuler an ku."


"Kau mengejar kepuasan atau kepopuleran?"


"Hei.. mengejar keduanya tak buruk bukan? Lagipula ada


banyak wanita yang akan menatap kagum padaku jika aku menang balapan seperti


kemarin." Dion terkekeh.


"Tidak buruk. Mungkin aku harus menemanimu setiap kau


balapan. Kau tau? Aku dapat merasakan pandangan membunuh dari setiap wanita


pemujamu yang melihat kau menciumku saat itu."


"Benarkah? Aku bahkan tak tau jika aku punya penggemar.


Kupikir mereka hanya kagum saja dan lebih dari itu." Kata Dion sambil


tersenyum menatap Farrand yang mendengus.


"Aku akan ketoilet." Ucap Farrand yang langsung ngacir begitu saja setelah menyelesaikan ucapannya.


Dion tersenyum. 'Sepertinya dia cemburu'. Batinnya.


 


 


Drtttt drttttt....


Smartphone milik Dion bergetar. Ia tatap layar hpnya sekilas. Dan ada


sebuah pesan yang berisi tentang undangan balapan di Kota Halu. Ia abaikan


begitu saja pesan itu. Karena ia tak akan datang. Persetan dengan


balapan disana. Sekarang ia masih ingin berduaan dengan yg ia rindukan.


Dion masih menatap langit bertabur bintang diatasnya. Suasana


ditaman agak sunyi kali ini. Entah karena apa. Apa alam seakan tau ia butuh


waktu berdua dengan sang terkasih, mungkin?


Lamunan Dion terusik mendengar suara derap langkah Farrand


yang terasa tergesa-gesa. Ia menoleh. Dilihatnya Farrand yang berlari menuju


kearahnya sambil terengah-engah. Dengan lelehan air mata di tiap matanya.


 


 


Brukkk...


Farrand menghambur kepelukan Dion. Ia memeluk tubub tegap bersurai merah itu


dengan erat. Bibirnya terisak dan bergetar. Menggumamkan kata tak jelas yang


tak mampu Dion tangkap dengan benar.


"Dion....."

__ADS_1


-TBC-


__ADS_2