Cinta Kilat

Cinta Kilat
18


__ADS_3

Imel jadi penasaran apa yang akan Pak Bima lakukan untuk wanita itu.


Imel mengendap-endap ke kantor untuk melihat Pak Bima, namun tiba-tiba....


Bughhh " auuuh " Imel memegang jidatnya kaget ternyata Imel menabrak dada bidang milik Pak Bima yang tengah berdiri secara tiba-tiba di depan Imel, perasaan Imel tadi Pak Bima masih di dalam kantor kok ada di depan nya malah ditabrak lagi.


" Hehehe eh ada Pak Bima, sejak kapan ada di depan Mel Pak " Imel gugup sambil cengengesan tanpa dosa. Pak Bima menaruh bukunya di tangan Imel, Imel pun melotot tapi tidak berani untuk memarahinya, Imel pun mengekor di belakang Pak Bima hingga masuk ke kelas, Sinta kaget melihat Imel berbarengan dengan Pak Bima, yang katanya Imel mau membuang sampah tapi kok bareng sama Pak Bima, gak mungkin main belakang kan???.


Imel tiba di bangkunya yang duduk bersebelahan dengan Sinta.


" Loe kok bisa barengan sama Pak Bima sih Mel, " tanya Sinta pada Imel yang masih berdiri.


"Ehem" dari depan Pak Bima berdehem karena melihat Sinta dan Imel mengobrol sambil berdiri mengganggu ketenangan para Siswa-siswi yang lainnya.


Sambil semua murid mencatat tulisan di papan tulis, Pak Bima duduk di tempat nya dan melihat ponselnya ingin menghubungi Cinta namun belum tahu nomer ponsel Cinta, lalu Pak Bima melihat ke arah Imel dan Sinta, tapi mereka tak sadar bahwa sedari tadi mereka diperhatikan oleh Pak Bima.


Di kampus Arya, Arya sedang di perpustakaan sedang membaca buku komik doraemon yang menurut nya sangat lucu, ada perempuan yang datang menghampiri dirinya yaitu Dina, Dina adalah perempuan alim yang lulusan pesantren, maka Dina berpenampilan sangat elegan dan anggun, menutupi auratnya, siapa sih yang gak suka sama Dina gadis manis yang serba bisa, mengaji dengan suara yang sangat merdu, memasak bisa, ramah dan murah senyum.


" Assalamu'alaikum Ar, " sapa Dina ikut duduk di samping Arya namun agak jauh.


"Walaikumsalam, Din, " jawab Arya sopan dan tersenyum ramah, siapa sih yang tidak menyukai Arya yang begitu tampan dan ramah pada siapa pun.


" Sedang membaca apa Ar? " tanya Dina.


" Baca komik aja nih, buat hiburan, oh iya kamu mau membaca apa? " tanya Arya basa basi.


" Aku lagi membaca skripsi takut ada yang salah," jawab Dina ramah.

__ADS_1


" Rajin banget, rileks dong gak usah terlalu fokus gitu, " ujar Arya memberikan saran.


Dina hanya tersenyum menunjukan senyumnya yang manis dari bibirnya, Arya pun jadi salah tingkah takut takut salah mengartikannya.


Arya tak mau lama lama berdekatan dengan perempuan takut khilaf dan Arya masih memendam perasaan pada Sinta, dan pernah berjanji akan kembali.


Arya pun langsung berdiri dan keluar dari perpustakaan sebelum Arya keluar Dina mencegah nya dan bertanya," kenapa terburu buru banget Ar. "


"Maaf Din, aku harus balik ke rumah, karena mata kuliah ku sudah tidak ada lagi, " alibi Arya padahal ingin menghindari Dina, karena yang Arya tahu dari teman temannya bahwa Dina memiliki perasaan padanya, jadi untuk menghindari kesalahpahaman Arya tak terlalu baik seperti dulu. Dina mengira bahwa kebaikan Arya spesial hanya untuk dirinya, namun semua itu Arya lakukan ke semua orang bukan hanya pada Dina.


Kemudian Arya langsung berjalan setengah berlari agar tidak di tanyain lagi.


" Kenapa Arya ya" gumam Dina bingung saat melihat aksi Arya yang aneh itu, karena tak seperti biasanya.


" Huhuhuhu" Cinta menangis dibawah bantal dilihat oleh Vivi yang sedari tadi masih setia menemani Cinta karena patah semangat, Vivi mengambil minum untuk Cinta agar energi untuk mengeluarkan air mata nya berlanjut wkwkwk.


Cinta pun menghapus air matanya yang sudah banjir, huft Cinta menghembuskan nafasnya.


" Gue gak tahu Vi, baru juga kenal tapi langsung dilamar, Cinta kilat banget ya,,, othornya salah judul nih kayaknya Vi, bukan Aku dan Kamu tapi Cinta kilat gituuu, protes bisa gak ya Vi, " tanya Cinta pada Vivi yang protes perasaan nya yang tak karuan.


" Othornya mah bebas Cinta, elo nya yang terlalu pinter, " ledek Vivi mencubit pipi Cinta yang masih basah karena bekas air mata.


Cinta pun lapar pada akhirnya, dan mengajak Vivi untuk ikut makan di dapur.


Cinta dan Vivi melangkah ke arah dapur dan di dapur tak menemukan bibi ataupun mamanya.


" Kok sepi banget ya, " gumam Cinta dan melihat ke arah Vivi yang juga sedang sibuk menengok kanan dan kiri.

__ADS_1


" Mama, dari mana? " tanya Cinta saat menemukan Mamanya dari luar dapurnya. Mamanya membawa sayuran dari hasil panen di belakang rumah, karena di belakang halaman rumah nya di tanami sayuran dan buah meskipun sedikit namun bermanfaat untuk semua keluarga nya.


" Mama habis dari kebun sayang, dan memetik beberapa sayuran ini, kamu kenapa berada di rumah, kamu sakit? " jawab Mama kemudian bertanya kenapa anaknya berada di rumah bukan di Sekolah.


" Cinta pusing Mah, saat Upacara tadi bikin pening Mah" jawab Cinta selintas melirik ke arah Vivi. Mamanya pun melihat ke arah Vivi yang ternyata ikut pulang juga bersama anaknya.


" Nak Vivi juga ikutan pening? " kini Mamanya Cinta balik tanya pada Vivi.


" Tidak Tante, Vivi cuman nganterin Cinta karena Cinta tadi hampir pingsan saat mau upacara, " jawab Vivi sambil melirik ke Cinta yang nampak khawatir.


Mamanya mengerutkan keningnya dan memandang ke arah Cinta, Cinta hanya tersenyum getir.


Tak ingin di perpanjang masalah. Mamanya akan segera menyiapkan makanan untuk Cinta dan Vivi. Cinta dan Vivi langsung duduk di kursi meja makan dan langsung melahap makanan yang tersedia.


" Mama, mau ke dalam kamar dulu ya mau istirahat, kalian makan lah sampai kenyang, " ujar Mama Bunga dan meninggalkan mereka berdua yang sedang menyantap hidangan di meja makan.


Di kantin Imel dan Sinta hanya berdua saja Cinta dan Vivi pulang karena Cinta mendadak demam.


Ketika Imel dan Sinta berada di kantin nampak guru baru itu mengejar Pak Bima yang sedang berjalan menuju ke kantin.


" Lihat deh, guru baru itu mendekati Pak Bima yang sedang berjalan ke arah kita, " tunjuk Imel pada Sinta ke arah pak Bima. Imel dan Sinta terus memperhatikan guru baru itu.


Ketika Pak Bima akan duduk di samping Imel dan Sinta, guru baru itu bertanya pada Pak Bima.


" Pak Bima, mau saya pesankan makanan atau minuman?. "


" Oh tidak usah bu, saya bisa sendiri kok bu, " tolak pak Bima lembut.

__ADS_1


Mata Sinta dan Imel pun melotot ke arah pak Bima, eh pak Bima nya melihat reaksi para sahabat tunangan nya.


__ADS_2