
Maaf yaa...
Kayak nya sangat disayangkan kalau tamat.
Jadi dibikin part 2 ya...
Semoga berkenan membaca lagi...
Hari kelahiran pun telah tiba, dan bayi Cinta berjenis kelamin laki-laki, bayi yang tampan seperti Bapaknya hihihi.
"Sudah ada nama jenengan belum Bim? " tanya Mamanya.
"Sudah Ma, namanya Bastian Pratama, simple gak usah pake ribet, ya kan Sayang? " jawab Bima, sambil tersenyum melihat ke arah Cinta, yang masih lemas.
Cinta pun menanggapi nya dengan senyuman pula.
"Ya ampun, keponakan ku ganteng sekali tidak seperti Bapaknya, hehehe" celetuk Arya, mendekati keponakannya.
"Dipanggilnya siapa Cinta,?" tanya Sinta, yang kini menjadi adik iparnya.
"Emmm, Tian aja kali ya, yang mudah" ujarnya.
"Hai, Tian, ini Tante Sinta yang cantik dan baik hati" canda Sinta, pada Tian, anak Cinta.
Tian pun seolah menanggapi candaan Sinta, karena Tian tersenyum lucunya.
Tian masih berada di gendongan Mamanya Bima, sebab Mamanya Cinta, baru saja pamit pulang untuk membawa baju kotor Cinta yang penuh darah.
Karena Cinta melahirkan dengan normal, tak ada kendala apapun.
"Cintaaaaaaa, gue datang!! " teriak Imel dan ditemani Vivi dibelakangnya.
"Ststttttt! " seru Sinta, membungkam mulut Imel, sebab Imel terlalu berisik.
Imel menyingkirkan tangan Sinta.
"Apaan sih loe, " kesal Imel, cemberut.
"Berisik tau gak, anak Cinta baru saja tertidur tuh" tunjuk Sinta, ke arah mertuanya yang masih menggendong Tian.
Imel cemberut, tetapi Cinta tertawa kecil melihat Imel seperti itu, karena menurut Cinta, Imel belum berubah sifatnya, masih seperti remaja SMP.
"Eh, kok kalian cuma berdua saja sih, pasangan kalian kemana semuanya? " tanya Cinta, heran dan melihat ke arah kanan kiri mereka.
" Mereka ke Korea, mau ketemu babang tampan!" sahut Imel.
"Dari tadi loe ngegas mulu deh, lagi pms loe? " timpal Sinta.
"Tau nih, atau gak ketemu sehari jadi otak loe eror ya Mel" ejek Vivi.
Semua yang menyaksikan wajah Imel menjadi terhibur, sebab disini Imel jadi bahan lawakan.
__ADS_1
Bima yang dari tadi hanya menjadi penonton, kini mendekati Tian.
"Anak Dady, tidurnya pules banget, padahal para Tantenya berisik banget ya " ucap Bima, menyindir.
"Ini lagi yang tua, gak baik tau nyatain" sungut Imel pada Bima.
Sekarang udah gak pakai PAK lagi ya, sebab Bima nya udah off jadi Guru ataupun Dosen.
Sekarang Bima sudah meneruskan Perusahaan Papanya.
"Mah, biar Bima yang bantu gendong dong, " Bima merebutnya dari tangan Mamanya.
Mamanya menyerahkannya dengan sangat hati-hati, ketika di tangan Bima, mendadak Tian menangis.
"Oa oa oa" Suara tangisan Tian, anak Bima dan Cinta.
Bima mengerutkan keningnya, kenapa digendong Bapaknya malah nangis.
"Kok, nangis sih Nak" heran Bima, dan menyerahkan Tian pada sang Mama lagi.
"Ya ampun, cucu Mama kenapa kok gak mau sama Dady nya" Mama Lusi memenangkan Tian.
Tangisan Tian masih belum mereda, dan semakin kencang.
"Mungkin mau Asi kali Mah" sahut Cinta.
Mama Lusi pun berfikir sama, kemudian Mama Lusi menyerahkan Tian sama Ibu kandungnya, untuk diberikan Asi.
"Arya, kamu keluar dulu deh, gue mau ngasih Asi buat Tian" pinta Cinta, karena masih malu kalau ada orang lain yang melihatnya memberi Asi pada anaknya. Maklum masih pemula menjadi Ibu-ibu.
Arya pun menurut tak membantah, mengerti dengan apa yang dirasakan Kakak iparnya.
Sinta pun ikut keluar menemani suaminya, kasihan Arya keluar sendirian.
"Mah, Kak Bima, Sinta juga mau pamit keluar ya, ikutan Arya" pamit Sinta pada mertuanya dan Kakak iparnya.
Cinta pun segera menyusui Tian, setelah dipangkuan Cinta Tian langsung berhenti menangis.
Setelah selesai menyusui Tian pun tertidur lagi.
Mama Lusi langsung menggendongnya lagi.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar, dan ternyata adalah dokternya.
"Permisi, selamat sore, bagaimana keadaannya Nyonya Cinta, apa ada keluhan? " tanya dokter kandungan, beruntung dokternya perempuan.
"Alhamdulillah, tidak ada dok, " jawab Cinta bersemangat.
"Nyonya sudah diperbolehkan pulang hari ini juga, nanti obatnya silahkan diambil di bagian pengambilan obat ya" ujar dokter. Memberikan resep untuk dibawa pulang.
__ADS_1
Tian pun tidur di box bayi dekat Cinta, masih terlelap dengan tenang.
" Ya ampun, tidak menyangka gue duluan yang jadi emak-emak, " gumamnya dalam hati.
Semua sudah siap akan pulang, Cinta ingin pulang ke rumah Mamanya, karena tidak mau merepotkan Mama mertuanya.
Bima menyetujuinya, sebab di rumah Mama Lusi pun tidak akan ada orang, sebab baik itu Mama Lusi dan Papa Tomi, semua tidak ada dirumah.
Arya dan Sinta segera masuk kembali, dan ikut mengemasi barang untuk dibawa pulang.
"Apa semua sudah dimasukkan semuanya Cin,? " tanya Sinta, sambil membawa tas Cinta.
" Kayaknya udah semuanya deh, Sin " jawab Cinta.
"Ya udah yuk kita pulang, kamu perlu istirahat dirumah Sayang" Bima mengelus rambut Cinta, yang sedikit berantakan.
Cinta pun tersenyum diperlakukan begitu lembut oleh suaminya.
Imel menatap sinis, tanda iri pada pasangan sahabatnya itu.
Imel dan Vivi pun ikut mengantarkan Cinta pulang ke rumahnya.
Meskipun dalam keadaan hati yang cemberut, tapi Imel tetap setia dengan sahabatnya itu.
"Dari tadi loe manyun mulu deh, kenapa Sih? " tanya Vivi, heran dengan Imel yang dari tadi kelihatan seperti mau makan orang mulu.
" Auhhh ah gelap" jawab Imel, ketus pada Vivi.
" Dih, ditanyain baik-baik jawaban kayak gitu, loe lagi ada masalah sama Surya? " tebak Vivi, masih fokus menyetir mobilnya.
Imel melirik ke arah Vivi, dan sempat ingin menangis. Namun urung, karena percuma curhat sama Vivi.
"Huwaaaaaa huhuhu, " akhirnya tangis Imel pun pecah, suaranya yang bikin bising, membuat Vivi menutup telinganya dengan satu tangannya.
"Ish, kok nangis sih, ada apa? Cerita kek, biar gue paham, apa yang elo alami" tegur Vivi.
Imel masih melamun dalam tangisan, menatap jendela kaca mobil, melihat jalanan.
Vivi pun jadi gemas sendiri melihatnya, Vivi tak mau bertanya lagi, sebab pertnyaan tadi saja belum dijawab.
Tiba di rumah Cinta, disambut oleh kedua orang tua Cinta, dan didepan gerbang rumah Cinta sudah banyak orang untuk menyambut Cinta.
"Aduh sakit banget nih" Imel turun dari mobil Vivi, dan kepentok.
"Kebanyakan cemberut sih loe" ejek Vivi.
"Bu Bunga saweran nih, udah pada nungguin!!" teriak salah satu warga, yang antusias dari tadi nungguin saweran.
"Iya Bu Ibu bentar ya, saya mau ambil uangnya dulu di dalam" jawab Bunga.
Kemudian Bunga menghamburkan uang recehan ke arah orang-orang yang didepan gerbang, dan dicampurkan dengan beras. Itu adalah adat dari orang Jawa, jika ada kelahiran atau hajatan, dan khitanan pasti ramai orang ingin mendapatkan saweran.
__ADS_1