
" Kak Surya kan? " tebak Cinta.
Surya pun langsung menoleh ke arah Cinta.
"Iya, kamu masih ingat aku? " tanya Surya.
Bima langsung mendelik ke arah Cinta dan Surya.
"Ingat dong Kak, kan dulu sering main di rumah Sinta waktu masih kelas satu" Cinta mengingatkan.
Surya hanya membalas dengan senyuman.
Saat Surya akan membuka suara, tiba-tiba Imel terbangun.
" Aduh, gue dimana sih, kok gue berada di sini sih,? " tanya Imel pada semua orang yang berada di dalam ruang UKS.
" Elo, habis hilang ingatan " jawab Vivi sekenyanya.
" Bener gak sih? " Imel merasa seperti orang bodoh.
" Vivi itu bohong, Mel, elo percaya aja gitu sama apa yang di ucapin Vivi" timpal Sinta.
Kemudian Imel melihat semua orang yang berada di dalam UKS.
Mata Imel tertuju pada Surya dan Pak Bima.
" Loh ada Pak Bima, ngapain? " tanyanya.
" Nungguin Cinta lah, takut Cinta yang pingsan, eh terus elo jadi... " belum melanjutkan, Imel langsung memotong ucapan Vivi.
" Iya, gue tahu, mentang mentang calon suami" ketus Imel.
Surya pun melirik ke arah Pak Bima, yang sedang tersenyum pada Imel dan beralih ke Cinta.
"Jadi Pak Bima ini calon suami Cinta, gadis kecil dulu yang gue suka" Surya bermonolog sendiri.
Imel, Sinta, Vivi dan Cinta. Kembali masuk ke dalam kelas mereka.
Dan di dalam kelas, Imel masih tak semangat, masih pening dan masih syok.
Surya pun pamit pada adiknya, dan juga Pak Bima.
" Dek, Kakak mau berangkat kerja dulu ya, belajar yang rajin. Oh iya Pak Bima titip adik saya ya, dan saya permisi dulu" pamit Surya pada Sinta dan Pak Bima.
Surya tak menoleh sedikitpun pada Imel, hanya sesekali melirik Cinta.
Pak Bima mengantarkan Surya sampe parkiran bahkan sampe depan mobilnya.
"Terimakasih Pak, sudah mengantarkan saya sampe depan mobil saya, maaf merepotkan Anda Pak Bima." Ucap Surya.
" Iya sama-sama," balas Pak Bima.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Surya memikirkan Cinta dan menoleh ke arah Pak Bima yang hendak akan balik badan untuk kembali ke ruang kelas.
__ADS_1
" Pak Bima " panggil Surya, saat Pak Bima akan melangkah.
Pak Bima pun berhenti dan balik badan lagi.
" Iya, ada yang bisa saya bantu, Mas? " tanya Pak Bima, heran.
" Emmm, itu Pak, saya mau tanya, apakah Anda adalah calon suami dari Cinta? " tanya Surya. Hati-hati.
" Iya, kenapa? " jawabnya.
" Tolong jaga dia, jangan pernah sakitinya, sebab jika itu terjadi saya yang akan menjaganya" pintanya penuh penekanan.
" Maksudnya,? " Pak Bima tak paham.
"Saya dulu pernah menyimpan perasaan sama Cinta, saat dia masih kelas satu, namun sayangnya saya harus kuliah dan bekerja di luar Negeri. Dan saat ketemu kembali perasaan saya masih sama. Jadi jika Anda menyakiti dia dan saya mengetahuinya, jangan salahkan saya jika saya akan mendekatinya. " Saran Surya.
"Hem, " Pak Bima, hanya menanggapi deheman saja, karena tak mau berdebat lebih panjang.
Surya pun kembali masuk ke dalam mobil, kemudian langsung tancap gas.
Pak Bima memperhatikan kepergian Surya, kakaknya Sinta, yang ternyata memiliki rasa pada calon istrinya.
Bukan hanya Surya, Riki mantan pacar Cinta pun sepertinya masih mencintai calon istrinya.
Hufft...
" Benar-benar memiliki pasangan yang cantik itu sulit, dan harus banyak bersabar dan harus dijaga ketat." Gumam Bima, saat melihat kepergian Surya.
Pak Bima pun langsung segera mengajar di kelas lain, karena jadwal hari ini tidak ada mengajar di kelas Cinta.
" Pak Bima darimana saja, jam segini baru kelihatan? " tanya Widi, kemudian mencatat absen kehadiran Bima.
" Ada urusan mendadak " jawab Bima.
"Pak Bima, apakah Anda sudah sarapan pagi di rumah? " tanya Widi, memperlihatkan kotak makan miliknya.
" Ini buat Pak Bima, mohon di terima ya" paksa Widi, dan memegang tangan Bima.
Bima pun pada akhirnya menerim kotak nasi itu.
Supaya tidak memperpanjang lagi.
Bima sudah masuk didalam ruangan, dan disitu ada guru lain yang sedang duduk santai, sebab belum waktunya untuk mengajar.
" Loh, Pak, belum pergi mengajar di kelas? " tanya Bima pada guru yang sudah lansia.
" Belum Pak Bima, lagi mau pesan makanan dulu, sebab tadi istri saya belum sempat masak, " jawab guru yang sudah berumur itu.
Bima pun memberikan kotak nasi yang diberikan Widi tadi padanya.
" Ini Pak, ada bekal, belum saya makan, masih utuh kok" Bima menyerahkan kotak nasi itu pada guru yang sudah berumur itu.
"Terimakasih, Pak Bima" guru itu sumringah, mendapatkan sarapan dari Bima.
__ADS_1
Treteeet teettt... Bunyi bel istirahat.
Cinta dan tiga sahabat langsung berjalan menuju kantin, tidak lupa juga Cinta berkirim pesan pada tunangannya itu.
Tiba di meja kantin, Cinta memesan dua mangkok baso, yang satu pedas, yang satunya dari tidak.
Vivi, Sinta dan Imel, melirik satu sama lain.
" Loe maruk banget, Cin. Buat siapa tuh pesan sampe dua baso segala, " tanya Vivi, penasaran.
" Buat Pak Bima, Vi" jawab Cinta, tanpa malu-malu.
Sinta hanya geleng-geleng.
" Eh, bentar ya, gue mau antarkan dulu baso ini, takutnya nanti keburu dingin, kan nanti gak enak, dan takut kelamaan waktu istirahatnya" pamit Cinta pada tiga sahabatnya.
Cinta membawa mangkok dan baso yang masih dibungkus plastik, dan minuman air mineral botol.
Tiba di depan kantor, beruntunglah ada Bima didepan pintu masuk.
" Loh Pak Bima kok, " heran Cinta, yang tiba-tiba Pak Bima sudah ada di depan pintu.
" kenapa,? " tanya Bima. Pak Bima pun langsung meraih tangan Cinta yang membawa nampan yang diatasnya ada baso dan air mineral botol.
Cinta langsung menyerahkan baso dan minuman pada Pak Bima.
"Terimakasih ya Cin, udah kelaparan nih" goda Bima, sampai membuat malu Cinta.
Ketika Cinta akan kembali ke kantin, Pak Bima memegang lengan Cinta.
" Tunggu dulu, ini uang baso dan minumannya " Pak Bima menyerahkan uang selembar berwarna pink dan biru pada Cinta. Namun Cinta menolaknya. Tapi Pak Bima maksa.
" Ambillah, sekalian bayarin semua jajanan para sahabat kamu" ujarnya.
Cinta garuk garuk kepalanya yang tidak gatal,
" Tapi Pak, " tolak Cinta.
Pak Bima menatap sendu pada Cinta, sehingga Cinta pun tak kuat untuk menolaknya.
" Iya deh, tapiii...? " Cinta sengaja menggantung kalimatnya. Sambil memicingkan matanya licik.
" Tapi apa? " tanya Pak Bima, mengerutkan keningnya.
"Tapi kuraaaaaaangggg buanyaaakkk Pak Bima! " seru Cinta, menaik turunkan alisnya.
Pak Bima pun langsung memberikan uang lembaran pink sekaligus lima lembar.
Cinta langsung mengambilnya dengan gesit.
"Thank you, my huny, muachhh" Cinta langsung berlari, setelah mengambil uang yang di berikan oleh Pak Bima.
Pak Bima pun geleng-geleng melihat tingkahnya.
__ADS_1
Ketika akan balik badan ada seseorang yang memanggilnya.
" Tunggu dulu"