Cinta Kilat

Cinta Kilat
35


__ADS_3

" Tunggu dulu " seseorang di belakang Bima.


Bima menoleh dan ternyata itu adalah Cinta.


Ya ampun tuh anak ada-ada saja.


" Ada apa Cinta? " tanya Pak Bima, masih menunggu reaksi Cinta.


"Emm, lupa mau mengatakan kalau sudah habis jangan lupa di bawa sendiri ke kantin ya Pak, hehehe" Cinta jail, mengerjai nya.


Bima hanya mengangguk paham.


Setelah melihat kepergian Cinta, Bima langsung masuk ke ruangannya.


Sambil memakan bakso yang tadi Cinta kasih, Bima tak lupa untuk memotretnya.


Dan dikirim ke aplikasi hijau milik Cinta.


Tiba di kantin, Cinta langsung duduk dan terdengar suara ponsel berbunyi.


Klik... Suara pesan di aplikasi hijau.


"Ya ampun lebay banget sih" melihat pesan dari Pak Bima.


' Jangan lupa dihabiskan Pak, ' balasan isi pesan Cinta untuk Pak Bima.


'Oke, see you' balasnya.


Cinta terlihat senyum sendiri, melihat keanehan Cinta, Vivi pun langsung menyenggol lengan Cinta.


" Senyum senyum, dikasih apa loe sama tunangan loe, " Vivi terheran-heran melihat wajahnya yang mengembang.


" Iniiiii!!! " tukas Cinta, memperlihatkan uang lembaran pink enam lembar dan biru satu lembar.


Semua mata melotot ke arah Cinta, yang kipasin duitnya.


" Uang saku loe, banyak banget Cinta. " tanya Sinta.


" Bukan dong" jawabnya.


" Terus? " timpal Imel.


" Ini buat kalian semuanya, gue traktir deh, " pamer Cinta, kipas kipasin duit.


"Wuihhhhh, ada yang dapat jatah nih" goda Imel.


" Jatah apaan? " Cinta tak paham


" Jatah duit lah" lanjut Imel.


Mereka pun tak mau bertanya lagi, mereka langsung nambah porsinya.


Seketika Imel teringat Surya, rasanya malu sekali jika teringat kejadian kemarin.


Sinta dan Vivi pergi ke toilet sebentar karena ingin buang air kecil.


Dan setelah keluar dari dalam toilet, Sinta dan Vivi melihat ada wanita yang kemarin.


Wanita yang kemarin yang membuat Cinta di cium oleh Pak Bima.

__ADS_1


" Vi, lihat deh, itu kan cewek yang kemarin kan? " tanya Sinta pada Vivi yang masih tak melihat wanita itu.


" Mana sih" tanya Vivi, sambil mencari wanita itu.


" Itu Vi, dia mau masuk ke dalam kantor, mau apa lagi dia? " Sinta khawatir, takut akan menggangu ketenangan Cinta dan Bima.


Gisel muncul lagi di hadapan mereka, tak ada rasa malu sama sekali,


Gisel bertemu dengan Widi, Widi menatap intens ke arah Gisel.


" Maaf, mbak mencari siapa ya, main nyelonong aja masuk ke ruang orang, tanpa permisi pula" Widi kesal.


" Kamu siapa? Guru baru ya, pantesan gak tahu siapa saya" sombongnya.


" Sombongnya, " sungut Widi.


Gisel tak mau meladeni Widi, langsung saja masuk ke dalam ruang Bima, dan Bima masih terlihat memakan baksonya.


Uhuk uhuk.. Bima tersedak, melihat kedatangan Gisel yang tanpa mengetuk pintu sama sekali.


" Kamu mau ngapain lagi kesini Sel!! " geram Bima, yang melihat Gisel tiba-tiba muncul di hadapan dirinya,


" Kangen sama kamu " menggoda Bima.


" Aku akan berhenti bekerja dari dunia model, demi kamu Bima, yang penting aku bisa bersama kamu lagi, kamu mau kan kembali lagi dengan ku? " pede Gisel.


Gisel mengusel di lengan Bima, sampai dari balik pintu Widi mengintip.


"Cih, dasar perempuan gatel" gumam Widi pelan.


"Dorrrr" seorang guru mengagetkan Widi.


Terdengar latahan Widi oleh Bima dan Gisel.


Gisel pun mendekati Widi yang masih mematung tak berkutik, ingin pergi sudah kepergok.


" Ngapain kamu, ngintip !! "tegur Gisel geram.


" Iya, eh enggak enggak, cuma lewat aja kok, ehhhh telinga saya mau mampir kesini hehe " Widi tanpa dosa.


Gisel tak banyak bicara, langsung saja menutup pintu.


BRAKKK...!!!! Suara pintu terdengar keras.


" Gisel, ini bukan kamar kamu ya, jaga etika kamu, jangan sesukamu, menutup pintu seperti itu!! " emosi Bima mulai memuncak.


Di luar, Vivi dan Sinta mengintip dari jendelanya.


Dan dibelakang mereka ada Bu Widi, yang baru saja keluar dari pengintipan.


"Ehem" Bu Widi berdehem.


Tapi Vivi dan Sinta belum mendengar deheman Bu Widi, yang sedari tadi sudah berada di belakang mereka.


" Lagi pada ngapain, guys" tanya Bu Widi pura-pura menjadi teman mereka.


" Lagi ngintip nih, model itu mantan pacarnya guys, " jawab Vivi, masih fokus mengintai dari jendela.


Bu Widi akhirnya ikutan mengintai Bima, seperti yang dilakukan Vivi dan Sinta.

__ADS_1


Sinta dan Vivi menoleh ke samping, dan disamping Vivi ada Bu Widi yang tersenyum lebar.


"He he he, " Vivi jadi malu sendiri.


"Sudah belum? " sindir Bu Widi.


Bu Widi kemudian menarik lengan Vivi.


" Kalian ini, gak takut apa jika wanita itu tahu kalian mengintai dari jendela, Ibu aja tadi ketahuan." Ujarnya.


Kini giliran Vivi dan Sinta yang menanyai gurunya.


" Ibu tadi mengintip lewat pintunya? " tanya Vivi.


"Iya, karena curiga aja, kok ada tamu yang semena mena tidak bertanya terlebih dahulu sama guru lain, tapi wanita itu main nyelonong aja, apa itu pantas, hem, " skak Bu Widi.


Mereka diam tak bisa menjawabnya, sebab apa yang dikatakan Bu Widi memang benar.


" Iya juga ya Bu, " Vivi pun kembali berfikir demikian.


" Tapi sudahlah, bukan urusan kita juga, cuma kita sebagai orang yang punya etika, kalau ingin bertemu seseorang itu, setidaknya kita bertanya terlebih dahulu, jangan main masuk aja, itu namanya maling! " ujar Bu Widi.


"Setuju, maling hati itu namanya Bu" lanjut Vivi.


"Hatinya siapa? " tanya Bu Widi.


"Hatinya Pak Bima dong Bu, masa maling hati ayam" gurau Vivi.


Bu Widi pun geleng-geleng, lalu pergi dari hadapan mereka


Vivi dan Sinta pun kembali masuk ke dalam kelas mereka.


Tiba di depan kelas, Cinta dan Imel menunggu mereka disamping pintu.


" Kalian berdua lama banget, habis dari mana saja sih kalian ini" tegur Cinta.


"Antri, " jawab Vivi, sekenyanya.


Vivi dan Sinta langsung masuk, tak mau berlama-lama di ambang pintu.


Vivi dan Sinta diam tak ada yang bicara, aneh menurut Imel dan Cinta.


Tapi Vivi tetap bersikap biasa saja, Vivi dan Sinta harus bisa merahasiakan kehadiran wanita gatal itu.


Drrrrt... suara getar ponsel Vivi.


' Vi, kita tak boleh bilang, kalau ada mantan Pak Bima, bisa gawat ini, ' ketik Sinta di aplikasi hijau secara privat di ponsel Vivi.


Vivi pun langsung membalas pesan dari Sinta, tapi tanpa menoleh ke arah Sinta.


' Elo tenang saja, gue bakal bungkam. ' Balas Vivi.


' Awas loe entar elo ember pecah lagi ' ancam Sinta.


Keduanya pun saling menutup ponsel bersamaan.


Dari tadi Imel memperhatikan Vivi dan Sinta, yang dari tadi sibuk melihat ke ponsel mereka masing-masing.


"Sebenarnya apa ada yang disembunyikan ya dari mereka, ah entar gue tanya Vivi, atau Sinta, " batin Imel bertanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2