Cinta Kilat

Cinta Kilat
37


__ADS_3

"Hai" sapanya.


Bima menyipitkan matanya kearah adiknya itu.


Arya pun balik melihat Kakaknya.


"Hai semuanya, tumbenan pada kumpul disini, ada acara apaan? " basa basi Arya.


"Healing" jawab Imel sekenyanya.


Hendak akan duduk, Arya memastikan ada tempat duduk yang kosong.


Entahlah tapi sepertinya penuh tidak ada cela untuk duduk.


Arya hanya berdiri di samping Bima.


Dan berbisik, " Kak, kok tumbenan begini. "


Bima pura-pura tidak mendengarkan Arya.


Arya pun jadi kesal dengan Kakaknya.


Sinta hanya melirik sebentar, tak berani melihatnya terlalu lama.


Cinta hanya tersenyum melihat Arya berdiri sendirian.


" Tidak capek apa berdiri terus, nih punya ku saja, aku mau kesana sebentar bersama Pak Bima " Cinta tahu Arya pasti kesal harus berdiri sendirian. Dan merasa Arya butuh bicara dengan Sinta.


" Loh, Cin, mau kemana lagi? " tanya Imel saat Cinta akan berdiri dari tempat duduknya.


Kemudian Cinta mengkode dengan mengedipkan matanya sebelah, dan melirik ke arah Sinta.


Vivi pun paham, begitu juga Imel langsung paham, namun sayangnya mereka belum habis makanannya.


"Gue duluan ya, kalau mau balik telpon dulu, gue sama Pak Bima mau ke Gramedia dulu, " ujarnya.


Cinta pun langsung menarik lengan Pak Bima.


Pak Bima pun langsung menurut, meskipun makanannya belum habis.


" Kamu kenapa sih? " tanya Pak Bima tak paham.


" Ish, Pak Bima ini kenapa tidak peka sekali sih, Arya kan sedang kasmaran sama Sinta " jawab Sinta.


" Oh" lanjutnya.


Tiba di Gramedia, Cinta memilih milih buku untuk di baca. Bima pun sama mencari buku untuk bisa dipelajari ulang.


Di ujung Gramedia, ada Riki yang sedang memilih buku bersama teman-temannya.


Tapi Cinta dan Riki belum saling mengetahui keberadaan mereka masing-masing.


Tiba-tiba..


Braaakkkk....


Buku berserakan gara-gara Cinta menabrak seseorang yang tak dikenal.


Cinta pun membantu orang yang ia tabrak.


Buku berserakan itu ada yang jatuh di bawah kakinya Riki, dan Riki pun membantu mengambilnya.

__ADS_1


Dan....


"Cinta, kok kamu ada disini? " tanya Riki sambil mengambil buku yang berada dibawah kakinya.


"Eh, iya maaf Ki, tadi aku menabrak seseorang yang tidak aku kenal dan maaf bukunya jatuh di kaki kamu" Cinta menunduj karena malu.


Bima belum sadar disampingnya tidak ada Cinta.


Dan Bima pun mencarinya, ternyata Cinta sedang bersama dua orang yang ia tak kenal.


Bima mendekati Cinta, dan ternyata Riki mantan kekasih Cinta juga ada bersama Cinta.


Namun Bima harus bisa menahannya.


Bima pun hanya tersenyum menyapa Riki.


"Loh, kamu ada disini, aku cariin dari tadi,eh ada kamu, apa kabar? " tanya Bima, menjabat tangannya pada Riki.


" Alhamdulillah baik, Mas, saya disini lagi mencari buku hiburan bersama teman-teman yang lainnya juga Mas, " jawab Riki sopan banget.


Cinta harap harap cemas, Cinta hanya diam saja.


Dan ketika Cinta dalam keadaan kayak gitu, Riki paham. Riki pun permisi.


" Kalau begitu saya permisi pamit dulu, " ucap Riki, kemudian meninggalkan Cinta dan Bima.


Cinta masih diam, begitu juga wanita yang Cinta tabrak masih disitu.


"Eh iya, maafkan aku ya tadi aku beneran tidak sengaja, maaf ya? " Cinta masih merasa bersalah.


" Iya, tidak apa apa Dek" ucap wanita itu, kemudian pamit.


" Kamu kenapa dengan wanita tadi? Saya kira tadi temannya Riki mantan kekasih kamu! " seru Bima dengan nada kasar


Deg..


Bima mengatakan Riki mantan kekasih. Ya ampun Pak Bima kok begitu banget nyindir dan menyinggung perasaan Cinta.


"Maksudnya."


"Ah, sudahlah lupakan saja, yuk kita kembali ke tempat tadi" ajak Bima.


Vivi dan Imel masih menemani dua insan yang malu malu meong, tak ada candaan dan denda gurau. Biasanya Imel yang memulai tapi sejak bertemu dengan Surya, Imel jadi banyak diam.


Tidak cerewet seperti biasanya.


"Kok, pada diem dieman sih, lagi pada sariawan ya? " ejek Vivi.


Sinta tak menjawab hanya menatap Arya dari depan.


"Udah deh Sinta, jangan main mata mulu, main hati aja sono sekalian biar deal! " Vivi gemas melihat tingkah Sinta dan Arya.


" Maklum jebolan Pesantren " cibir Imel tiba-tiba.


Sinta pun mendelik ke arah Imel dan Vivi.


"Eh, Ar, loe kesini sama siapa dan naik kendaraan apa? " tanya Imel.


" Naik mobil, sendirian, dan tadi kebetulan habis dari Gramedia dan mencari sesuatu " jawab Arya.


"Bisa kebetulan begitu ya" pikir Imel.

__ADS_1


Cinta dan Pak Bima sudah kembali, dan tidak membawa apa-apa.


"Pak, pulang yuk udah sore ini, takut Kakak saya marah, " ajak Sinta pada Pak Bima.


Pak Bima menoleh ke arah Cinta, dan Cinta menganggukan kepalanya, tanda setuju untuk pulang segera.


" Ya sudah, mari kita semua pulang.


Maafkan saya ya, karena saya kalian harus pulang sore, " Bima merasa bersalah.


" Tidak Pak, justru kami minta maaf karena sudah mengganggu momen Pak Bima dan Cinta, gara-gara kita semua, rencana Pak Bima gagal total" tebak Sinta asal.


Bima pun menoleh ke arah Cinta yang bingung harus berkata apa.


Sebenarnya apa yang dikatakan Sinta itu benar adanya.


Tapi mau bagaimana lagi, toh tidak bisa di putar kembali waktunya.


"Yuk, kita pulang" ajak Cinta.


Imel dan Vivi hanya menganggukkan kepalanya dan menurut saja.


Arya masih diam di tempat.


"Ups ada yang ketinggalan, adik ipar kok diam disini, tidak pulang kah? " Cinta balik badan dan bertanya pada calon adik iparnya.


Bima pun ikut balik badan karena Cinta bertanya pada adiknya.


"Iya Ar, kamu tidak ikut pulang juga? " timpal Bima.


"Gue tahu, elo mau antar Sinta berduaan kan? " tebak Cinta tanpa dosa.


Arya menepuk pundak Cinta tanpa rasa bersalah.


"Kamu bisa aja Cin, tahu aja apa yang aku pikirkan" ucap Arya sambil menepuk punggungnya.


Bima pun menatap tajam ke Arya, karena berani sekali menepuk calon istrinya.


" He he he, maaf Kak, sengaja " gurau Arya.


" Sinta, kamu mau kan pulangnya aku antar? " tanya Arya tanpa malu lagi pada Kakaknya.


Sinta melirik ke Vivi dan Imel, apakah boleh ikut Arya atau tidak.


" Udah sana, elo pulang bareng saja sama dia, gue dan Imel pulang bareng sama Cinta dan Pak Bima saja Sin, " Vivi memberi ijin.


Sinta malu tapi senang, akhirnya bisa berdua lagi sama Arya.


" Tapi awas, kamu jangan bikin Sinta nangis ya? " ancam Vivi.


Pada akhirnya, Vivi dan Imel masuk ke dalam mobil Cinta dan Pak Bima.


Sedangkan Sinta satu mobil dengan Arya.


Di dalam mobil Pak Bima, Cinta penasaran sama yang tadi siang. Perkataan Bu Widi tadi di parkiran.


"Imel, Vivi, gue boleh tanya tidak? " tanya Cinta.


Membuat Imel dan Vivi saling menoleh.


Deg..

__ADS_1


__ADS_2