
Surya terbelalak matanya tak berkedip, dan menjadi salah tingkah melihat penampilan anggunnya Imel, Surya menyukai penampilan Imel kali ini, bukan hanya suka sangat-sangat suka.
"Hai, loe kenapa lihat gue kayak begitu, gue jelek ya, memakai beginian, kalau jelek gue ganti deh" Imel pun hampir akan balik badan, namun di cegah oleh Surya.
"Jangan! Jangan ganti lagi Mel, kamu cocok kok" cegah Surya, sambil memegang tangannya.
Surya nampak kikuk melihat penampilan Imel yang begitu terlihat anggun, dan terlihat beraura banget kecantikannya.
Imel masih berdiri dan masih menunggu Surya, untuk segera mengajaknya pergi.
"Eum, mau kemana Kak? " tanya Imel, sambil menunduk, biasanya langsung gandeng tangan Surya penuh agresif, sekarang kok malu-malu meong.
Surya pun masih berfikir, hendak akan kemana.
"Keluar aja dulu ya, cari angin yang bikin seger, " ujarnya.
Surya dan Imel pun berpamitan pada Mamanya Imel. Tidak lupa menciun punggung tangan Mamanya.
Sebelum masuk ke dalam mobil Surya, Surya bertanya dulu.
" Kamu mau tidak, kalau aku ajak kamu ke kantor? Menemani pacar mu ini bekerja, supaya kamu tahu apa yang aku kerjaan selama aku di kantor " ajak Surya, antusias ingin Imel berada di samping dirinya untuk saat ini.
Imel nampaknya sedang berfikir, mau atau tidak ikut menemani Surya ke kantor.
"Eummm, boleh deh, tapi nanti jangan dicuekin ya, awas kalau dicuekin" ancam Imel.
Kemudian Imel dan Surya langsung masuk ke dalam mobil Surya.
Di perjalanan, Surya selalu melirik Imel yang dari tadi diam, biasanya selalu nyerocos kayak wartawan. Imel terlihat berbeda seperti hari biasanya.
" Mel, dari tadi diam mulu, kenapa? Sakit gigi atau sariawan? " tanya Surya, sedikit penasaran.
" Kamu tuh bertanya atau menyindir Kak? " tanya balik.
" Loh, letak menyindirnya dimana Mel? " bingung Surya.
"Tau akh gelap, nanti aku ngapain aja di dalam kantor kamu Kak? " tanya Imel, sambil menoleh Surya yang sedang fokus menyetir.
Surya pun kembali menoleh pada Imel, kini Surya tersenyum melihat wajahnya yang begitu ayu dan manis, wajahnya sangat berbeda ya ampun Surya kamu mikir apa hihi.
"Kamu, mijitin aku lah, hahaha" gurau Surya, menepuk pundak Imel.
Imel memicingkan matanya, dan mengibaskan bekas tangan Surya yang tadi ia tepuk pundaknya.
" Gak mau ih, ngapain mijit Kak Surya mending pulang aja deh" kesal Imel, memajukan bibirnya cemberut.
"Ya ampun Mel, canda kali, masa iya gadis secantik kamu nyuruh mijit aku, ya gak mungkin lah" bantah Surya.
__ADS_1
" Baru kali ini aku dipuji cantik, biasanya selalu urak-urakan, " sungut Imel.
Surya masih tersenyum melihat tingkah Imel yang menurutnya sangat luar biasa.
Sepanjang perjalanan, Imel dan Surya terlalu banyak diam, tidak seperti biasanya.
Tiba di kantor, Surya membukakan pintu mobilnya, dan tidak lupa membukakan untuk Imel. Seseorang memperhatikan tindakan Surya, tak lain adalah Sinta, adiknya sendiri.
"Ehem, cieeee jadi ratu Kakak aku nih? " ejek Sinta dari belakang.
Imel pun merasakan debaran yang sangat cepat, malu diperlakukan seperti itu, kesel kejadian ini diketahui calon iparnya, tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Apaan sih, biasa aja kalii Sinta, " menahan malu, karena kepergok Sinta.
Sinta hanya tersenyum, dan pergi meninggalkan Imel dan Surya, takut mengganggu moment mereka.
Tunggu sebentar, Sinta balik badan lagi dan menatap ke arah Imel, karena Sinta merasa ada yang aneh dengan penampilan Imel.
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu" Sinta memutari badan Imel yang masih berdiri di depan mobil dengan Surya.
Sinta memicingkan matanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat penampilan Imel yang terlihat sangat berbeda.
"Loe, Imel? " tanya Sinta, tersenyum sedikit tertawa.
"Loe, mengejek atau bertanya, Kak Sur, tuh adek loe tuh nyinyir gue mulu" adu Imel pada Surya, Surya pun geleng-geleng.
Imel cemberut, Sinta nyinyiran dirinya.
"Udah, gak usah cemberut, nanti jeleknya hilang" Ups Surya langsung membungkam.
Imel langsung mendelik, ingin marah tapi ya sudah lah, ikuti alur aja dulu.
"Udah yuk, masuk dulu, gak enak dilihat tetangga sebelah" gurau Surya, ingin menggandeng tapi bukan muhrim.
Imel masih berjalan di belakang Surya, banyak pasang mata yang melihat Imel dan Surya, berjalan beriringan. Nampaknya ada seseorang yang cemburu melihat kedekatan Imel dan Surya.
"Siapa wanita itu, baru pertama kali saya melihat wanita itu, biasanya juga Mbak Sinta yang selalu datang, tapi ini wanita lain" gumamnya, saat melihat Imel dan Surya berjalan menuju ruangan Surya.
Ceklek... Suara pintu ruangan Surya, yang ia buka sendiri. Dan ditemani Imel.
Imel sangat kagum dengan ruangan Surya yang begitu luas dan terasa sangat nyaman.
Pintu dibiarkan terbuka takut terjadi sesuatu hal yang membuat karyawan curiga.
"Mel, kamu duduk disini saja dulu ya, aku mau meeting dulu Sinta dan yang lainnya" ucapnya.
"Iya, tapi lama gak meetingnya, jenuh nih bakalan" tanya Imel.
__ADS_1
"Paling dua jam-an lah" jawabnya.
"What!! " kaget Imel.
"Duh, berisik tahu gak, Mel" Surya meringis takut Imel marah.
"Biarin, biar rame, " geram Imel.
Surya pun langsung meninggalkan Imel didalam ruangannya, pintu dibiarkan terbuka.
Sesekali Imel melihat-lihat foto, namun nampaknya tidak ada foto keluarga, hanya foto Surya seorang.
" Ya ampun, ternyata Surya tampan sekali, Pak Bima beh lewat deh! " bangga pada Surya, membayangkan wajahnya.
Tok tok tok... Suara ketukan pintu ruangan Surya, Imel menoleh dan melihat ada Office Boy, yang membawa nampan berisikan minuman dan makanan, yang sudah dipesankan oleh Surya untuk Imel.
"Permisi, maaf Nona ini ditaro dimana ya? " ucap Office Boy.
"Maaf, itu buat siapa ya? " tanya Imel sopan.
"Ini untuk Nona Imel, yang dipesankan Tuan Surya" jawab Office Boy, sopan.
"Ya sudah, letakkan saja diatas meja itu, oh iya terimakasih ya, sudah mengantarkan kesini" imbuhnya.
"Sama-sama Non, kalau begitu, saya permisi keluar dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengubungi kami Nona" Office Boy itu memberi pesan pada Imel.
Office Boy pun langsung pamit keluar, tanpa menutup pintunya.
Setelah Office Boy itu keluar dari ruangan Surya, Imel langsung duduk di tempat yang tadi sydah disediakan nampan berisi makanan dan minuman.
"Haus banget, mencicipi sedikit tidak apa kan ya?" Imel bicara sendiri.
Setelah minum sedikit, Imel masih belum bisa mencicipi makanan yang tadi diberikan oleh Office Boy tadi.
Masih menunggu Surya selesai rapatnya.
Kemudian Imel melihat ke arah jam dinding kantor, ternyata hampir dua jam lebih ia menunggu Surya, dan Sinta.
"Kok, lama sekali sih si Surya dan Sinta kelar meeting, sampai jam berapa ya kira-kira, " gumamnya dalam hati.
Seseorang masuk tanpa permisi bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sehingga Imel kaget bukan main.
"Loe siapa masuk kedalam ruangan pacar gue" seru wanita itu pada Imel, yang masih duduk santai di ruangan Surya.
"Apa tadi dia bilang, pacar? " batin Imel.
"Kamu yang siapa, kok tanya saya ini siapa" lanjut Imel, kesalnya sudah di ubun-ubun.
__ADS_1