
"Cinta, loe baik baik saja kan" histeris Imel langsung naik di atas kasur, dimana Cinta sedang bersandar.
Cinta tersenyum melihat para sahabat nya berada di dekatnya dan ada tunangan nya juga.
Arya dan Sinta saling lirik dan di tangkap basah oleh Kakaknya.
" Ehemh ehem, " Pak Bima berdehem melihat pasang mata Sinta dan Arya.
" Kak, maaf gak bilang dulu mau kesini, sebab Sinta mau ke sini jadi ya sekalian, " ujar Arya gugup menatap Kakaknya sambil menunduk malu pada sang Kakak.
" Iya iya iya, " Pak Bima paham.
Vivi pun langsung mendekati mereka semua yang dari tadi duduk berjauhan di sofa, kini Pak Bima dan Cinta tak bisa mengobrol berduaan.
" Gue dari tadi jadi nyamuk tahu,, kalian lama banget kesininya, " sungut Vivi pada Sinta dan Imel, Arya masih terdiam karena masih belum mengenal betul karakter teman teman Sinta dan tunangan Kakaknya.
" Oh iya Cinta, saya sama Arya pamit pulang dulu ya, barang kali butuh banyak ngobrol sama teman teman kamu, maaf sudah mengganggu dan merepotkan kalian,,cepet sembuh dan besok jangan lupa istirahat jika masih kurang enak badan, jangan lupa diminum obatnya dan di makan makanan dari saya, kamu harus sehat ok, kami permisi dulu, assalamu'alaikum, " pamit Pak Bima pada Cinta dan semua para sahabat nya dan menarik tangan Arya untuk segera keluar dari kamar Cinta.
Sinta seperti tak iklas Arya baru datang eh pulang lagi.
" Tapi Kak, Arya baru saja datang loh, kok di suruh pulang sih" gerutunya pada sang Kakak.
"Sin, pamit dulu ya Kak Bima ajak aku balik" pamit nya pada Sinta bukan pada pemilik rumahnya.
Cinta pun menoleh ke arah Arya dan menatap nya tajam.
" Loe kok pamitnya sama Sinta doang, gue ni pemilik rumahnya, lupa?? " sindir Cinta sinis , sambil melirik ke arah Sinta yang menatap datar ke arah lain,
" Iya sorry, calon Kakak ipar yang kalau bicara gak mau berhenti, " ledek Arya cemberut.
__ADS_1
" Apa loe bilang, Om adik Om kurang garam banget sihh, asem tahu gak" Cinta mengadu pada Pak Bima yang masih menarik tangan Arya yang masih di pintu kamar Cinta.
" Main ngadu ck, " Arya bersedih.
"Pulang loe sana, bikin suasana panas aja ada loe," usir Imel ketika mendengar ucapan Arya.
Imel langsung menutup pintu kamar Cinta dan buru buru mengunci nya, supaya tidak bisa balik lagi untuk membuka pintunya, Imel merasa lega udah tidak ada orang lain lagi selain mereka berempat.
Pak Bima dan Arya berjalan menuruni anak tangga dan ketika hampir mau di akhir anak tangga mama Bunga berpapasan dengan Pak Bima dan Arya.
" Loh mau pada kemana Nak Bima dan Nak Arya? " tanya mama Bunga yang ditangan nya memegang nampan berisi minuman dan makanan untuk Sinta, Imel dan Arya.
" Kami mau pamit pulang Tante, karena Bima nanti jam lima sore ada bimbingan di kampus Tante, maaf sudah merepotkan dan terimakasih udah memberi ijin kami untuk menengok Cinta Tan, " pamit Pak Bima sopan dan menjelaskan kenapa harus pulang padahal masih jam setengah empat sore.
Arya masih terdiam tak berkomentar apa apa karena masih kesel pada Kakaknya, walaupun kesel pada Kakaknya tidak membuat muka nya masam pada Mama nya Cinta karena harus bisa melihat situasi dan kondisi.
Pada Kakaknya Arya masam tapi pada Mamanya Cinta masih menunjukkan sikap ramah dan sopan.
Di kamar Cinta terdengar suara ketukan pintu
tok tok tok....
Imel langsung membuka pintu kamar nya, ternyata Mama Bunga yang datang dikira Imel Pak Bima dan Arya yang akan datang lagi.
" Maaf ya Tante lama sekali, karena tadi tante mengobrol dulu sama bibi jadi kelupaan " permohonan maaf Mama Bunga karena kelamaan memberikan minuman dan cemilan.
Ketika Mama Bunga meletakkan nampan yang berisi minuman dan cemilan mama Bunga tak sengaja melihat kantong plastik di atas kasur Cinta.
" Ini apa sayang?" tanya mama nya sambil memegang plastik itu.
__ADS_1
" Tas sama makanan dan obat mah, " jawab Cinta jujur dan memperlihatkan nya pada sang Mama. Imel dan Vivi langsung melihat karena penasaran isinya apa, tapi tak berani bertanya takut nanti disangka terlalu pengen banget tahu padahal iya pengen tahu banget hihi.
Sinta hanya geleng-geleng melihat Vivi dan Imel yang terlalu bersemangat.
" Ya ampun sayang perhatian sekali tunangan mu Nak, " ucap Mamanya.
" Iya Mah, padahal baru ketemu sehari itu pun hanya hitungan jam Mah, " terang Cinta.
" Masa sih baru sehari langsung melamar kamu Nak" Mamanyanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Cinta,
" Beneran Tante, Vivi jadi saksi nya kok" sambung Vivi meyakinkan Mamanya Cinta.
" Kalian sedang tidak membohongi Mama kan" Mama Bunga melihat ke arah Cinta dan ketiga sahabat nya satu persatu.
" Tidak Tan, " ujar Sinta.
Setelah perbincangan usai Mamanya langsung keluar, dan tak lama kemudian teman teman Cinta ingin pamit pulang karena hari sudah sore.
" Kalian nanti diantar sopir ya" pinta Mama Cinta karena Mamanya sangat berterima kasih pada para sahabat Cinta karena mau menemani Cinta di saat Cinta sedang tidak sehat.
"Baiklah" Sinta pasrah dengan perintah Mama Bunga.
Kemudian Sinta, Imel dan Vivi mencium punggung tangannya penuh dengan sopan dan langsung masuk kedalam mobil, Mama Bunga melambaikan tangan nya sambil tersenyum melihat mereka.
" Kak, kakak beneran ada bimbingan di kampus Arya di sore hari gini? " tanya Arya Penasaran, jika Kakaknya berbohong Arya pasti marah sama Kakaknya, namun di depan kampus Arya, Bima berhenti dan meminggirkan mobilnya di tepi jalan dan keluar dari dalam mobil, Arya tak mengerti apa yang akan di lakukan kakaknya.
" Ar, kamu bawa mobil Kakak yaa,,, Kakak udah hampir telat nih, nanti biar Kakak naik taxi saja dan gak perlu jemput, " perintah Kakaknya. Kemudian Bima langsung masuk ke halaman kampus, Kakaknya unik tak mau banyak yang mengetahui bahwa Kakaknya itu tampan rupawan dan kaya juga tapi tiap menjadi dosen Kakaknya selalu memakai kacamata tebal, tadi di Sekolah lupa tidak memakai kacamata tebal sehingga Widi guru baru tadi terkesima pada penampilan Bima, terlalu ganteng untuk ukuran menjadi seorang pengajar dan dosen.
Lebih pantas menjadi seorang pemimpin Perusahaan tapi sayangnya Bima belum minat untuk terjun ke dunia bisnis bersama papa nya.
__ADS_1
Dari kejauhan ada seorang wanita yang berada di dalam mobil berwarna hitam sedang memperhatikan Bima yang berjalan memasuki halaman kampusnya.