
"Huft" suara helaan nafas Cinta.
"Pulang saja sana, kalian berdua tuh bikin gaduh terus sumpah, gue budeg jadinya" candanya usir mereka secara bergurau.
Vivi dan Vino pun diam mendadak, kemudian Vivi dan Vino pamit pulang.
"Hehehe, maaf ya Cinta, kita berdua bikin rumah loe berantakan," Vivi menyadari kegaduhan antara dirinya dan Vino.
Vino pun kini mengantarkan Vivi pulang ke rumahnya, dan Vino langsung pulang lagi.
Akan tetapi Vivi mencegahnya.
"Vin, nanti dulu ya pulangnya, masa udah nganterin gue, loe langsung balik lagi, gue gak enakan sama loe" tunduk Vivi, merasa bersalah dan malu pada diri sendiri.
Karena pikir Vivi, disangka Vino akan marah padanya dan akan menurunkan dirinya ditengah jalan. Tapi kenyataannya tidak sama sekali, dan mengantarkan Vivi pulang dengan selamat.
Karena di dalam mobil sepanjang perjalanan, Vino diam dan tidak cerewet seperti biasanya.
Tetapi tadi sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga membuat rasa bersalah Vivi sangat besar.
"Vino, kok loe diem aja sih" Vivi memegang lengan Vino.
"Emm, sudah lah, lebih baik kamu istirahat ya, barang kali kamu capek dan butuh tidur, maaf sudah menyusul mu, ya sudah aku pamit pulang dulu, selamat istirahat" pamit Vino, merasa lelah dengan sikap Vivi, apa ia harus mundur atau maju ya. Sudah ada keraguan di diri Vino, mungkin karena terlalu memaksa Vivi untuk dijadikan istrinya. Dan Vivi masih belum bisa menerima kenyataan ini.
Disepanjang perjalanan Vino terus berfikir sebelum mendekati hari H. Mungkin Vino akan mengakhiri perjodohan ini, tapi tidak untuk memutuskan hubungan bisnisnya. Bisnis tetap berjalan namun period mungkin Vino sudah pasrah, karena satu tahun berhubungan pendekatan, tidak ada perubahan sama sekali.
Vivi belum bisa menerima Vino, sebagai calon suaminy.
"Apa aku harus membatalkan pernikahan ku dengannya, " batin Vino, bertanya-tanya.
"Sudah setahun lebih pendekatan, tapi tidak ada perubahan sama sekali, lelah rasanya harus terus berharap" imbuhnya dalam hati.
Vino pun mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang, dan orang itu adalah asistennya.
Sedangkan dirumah Vivi, Vivi malahan memikirkan Vino, takut ia marah atas sikap nya yang sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Vino, lagi apa ya, aduh gue ngerasa salah banget sama dia" lirih Vivi.
"Apakah dia beneran akan menikah dengan ku yang seperti ini, gue bingung harus bagaimana, pernikahan sudah mendekati" bingung nya.
Vivi menatap layar ponselnya, melihat foto Vino dan dirinya saat di kafe Vino, namun tidak ada yang namanya rasa.
Vivi pun tidak tega untuk membatalkan pernikahannya, ia tidak enak karen Vino sudah menyelamatkan perusah Ayahnya.
"Vi, besok kita ketemuan ingin membahas masalah pernikahan kita, ada baiknya kita selesaikan secara pribadi agar diantara kita tidak saling kasihani, aku menyerah Vi, jika itu mau mu, aku tidak memaksa. Tapi kamu tenang saja meskipun kita tidak jadi menikah, aku tetap akan menjadi rekan bisnis Ayahmu kok, selamat istirahat, Vino" Vino kirim pesan lewat aplikasi hijau ya secara privat.
Ada rasa tidak rela saat Vino pesan, akan menyerah, memang Vivi belum mencintaimu Vino, tapi saat Vino bilang tidak jadi menikah, itu artinya Vivi tidak akan ada pernikahan, diantara dirinya dan Vino. Ada hati yang berdesir tak terima saat Vino mengirimkan pesan seperti itu padanya.
Keesokan harinya, Vino pun menjemput Vivi dirumahnya, untuk mengantarkan Vivi ke kantor ayahnya.
Sebelum bertemu Vivi, Vino bertemu dengan ayahnya terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, Pak Alvin, gimana kabar hari ini Pak? " sapa Vino, dan menanyakan kabar hanya sekedar basa basi.
"Walaikumsalam Nak Vino, alhamdulillah hari ini baik, mau jemput Vivi ya" jawab Alvin ayah Vivi.
"Iya Pak" ucap Vino, tersenyum.
"Iya, Yah" lirihnya.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, namun Vivi tak kunjung turun juga dari kamarnya.
"Maaf Yah, Vivi jam segini kok belum keluar juga, ada apa dengan Vivi Yah?" tanya Vino pada Alvin.
"Ayah juga tidak tahu, coba aja kamu tengok didalam kamarnya, dari tadi juga Ayah sudah ketuk pintu tapi tidak ada sahutan, " Alvin memberitahu.
"Oh iya, Ayah sudah telat mau ada pertemuan, Ayah berangkat dulu ya Nak Vino, coba Nak Vino ke kamar Vivi saja, Ayah boleh kan kok, tapi jangan macam-macam, " saran Alvin, dan pamit berangkat terlebih dahulu.
Vino pun mencium punggung calon mertuanya, sebelum berangkat ke kantor.
Vino langsung ke atas menuju kamar Vivi.
__ADS_1
Tok tok tok... Tiga kali ketuk tapi tidak ada sahutan dari dalam. Vino merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Ceklek.... Vino terpaksa membuka pintu kamarnya. Vino kaget ternyata Vivi masih berbalut selimut, tanpa AC pula.
Vino memegang jidatnya dan terasa sangat panas, mungkin Vivi demam. Tapi kemarin masih baik-baik saja.
"Ya ampun panas sekali, bagaimana ini, aku panggilkan dokter kesini ya" Vino langsung meraih ponselnya di dalam saku celana bahannya.
Tapi Vivi menarik tangannya dan mengambil ponsel Vino, dan meletakkan ponselnya di samping dirinya. Vino mengerutkan keningnya heran.
"Kamu kenapa Vi? Sakit? Biar aku telpon dokter kesini, atau kita kerumah sakit" tawar Vino, mencemaskan keadaannya.
Vivi masih terdiam dan masih menutupi wajahnya. Vino bersabar menunggunya dan tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Kring kring kring... Bunyi panggilan masuk di ponsel milik Vino, dan ternyata yang menghubungi dirinya adalah asistennya.
"Hari ini aku mungkin tidak masuk kantor dulu ya, mau menemani Vivi dulu Jo, tolong gantikan dulu, bilang sama yang lain aku ada perlu yang urgent gitu" ucap Vino pada asistennya melalui sambungan telponnya.
"Kamu tinggalin aku aja, tidak apa kok Kak Vino, " sambil bergetar Vivi berbicara.
"Udah tidak apa, aku temenin kamu dulu, kamu pasti belum sarapan kan, tar aku ambilin di dapur ya sarapannya, " ucap Vino, penuh perhatian.
"Ya sudah iya, terimakasih Kak Vino" lirih Vivi, melihat Vino masih dalam posisi berdiri.
Vino tersenyum ia di panggil Kak Vino, biasanya loe gue.
Vino pun turun dan mancari Bibi, untuk minta sarapan buat Vivi.
"Bu, sarapan buat Vivi ada dimana? " tanya Vino pada Bibi yang sedang mencuci piring.
"Ada di dalam tudung saji Den, tolong buka aja Den, Bibi sedang mencuci piring" ucap Bibi.
"Iya Bi, sudah ketemu nih, terimakasih ya Bu, kalau begitu saya ke kamar Vivi dulu ya Bi, " Vino menginggalkan Bibi di dapur, dan sudah membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Tiba di dalam kamar, Vino langsung masuk dan tidak menutup pintu, sebab takut disangka yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Ini sarapannya, aku suapin ya, kamu gak boleh nolak dan harus menghabiskannya, kalau tidak nanti aku marah" ancam Vino, agar mau makan.
"Kamu.... "