
Cinta yang mendengarnya merasakan tenggorokannya kering.
" Vi, elo bawa minuman gak! " bisik Cinta.
" Tidak" jawabnya.
Pak Bima yang masih berada di depan kelas Bisnis, menengok ke dalam kelas, ingin melihat Cinta.
Tapi Pak Bima menangkap tatapan Cinta yang melotot ke arahnya, sehingga Pak Bima buru buru kembali.
" Maaf Bu, saya permisi mau mengajar ke kelas lain dulu, " pamitnya.
" Oh iya, silahkan Pak," ucap Widi.
Widi pun langsung masuk kembali kedalam kelas, karena Pak Bima sudah pergi.
" Pacar Bu Widi, Pak Bima ya Bu? " tanya Siswinya.
" Hem" Widi tak menjawabnya. Hanya helaan nafas yang terdengar.
Cinta yang mendengar perkataan itu, hanya diam dan tak mau berkomentar.
Kemudian Bu Widi, melanjutkan pelajaran matematika dengan lancar.
Teeet... Bel berbunyi tanda istirahat. Semua murid berebutan mencari tempat makan. Yang masih di dalam kelas hanya Cinta, katanya masih kenyang.
Pak Bima masih di dalam kantor, masih membereskan buku buku latihan anak kelas Bisnis lainnya.
Tok tok tok... Suara ketukan pintu ruangan Pak Bima.
"Boleh saya masuk Pak? " tanya Widi, yang masih di depan pintu ruangan Pak Bima.
" Ya, ada apa Bu Widi? " Pak Bima tanya balik.
" Ini Pak Bima, saya bawakan makanan dari kantin, makanan kesukaan Pak Bima, " dengan pede nya Widi langsung menaruh makanannya diatas meja Pak Bima, akan tetapi Pak Bima tak menoleh sedikitpun.
Karena tak ada sahutan sama sekali dari Pak Bima, Widi meliriknya kemudian tersenyum, seakan paham bahwa Pak Bima tengah sibuk membereskan pekerjaannya.
" Cin, elo gak mau ke kantin dulu " tanya Vivi.
" Gak, Vi, gue masih kenyang, dan males banget untuk keluar " lesunya.
" Ya udah, kita semua mau ke kantin dulu ya, " pamit Vivi.
__ADS_1
" Atau elo mau nitip makanan apa gitu, nanti kita bawain ke kelas, " tawar Sinta, mendekati Cinta.
" Emmm, baso aja ya, gak pake mie, " pinta Cinta pada Sinta.
" Ok" serentak mereka.
Kemudian mereka semua keluar dari kelas, dan berjalan ke arah kantin, cukup jauh sih kantin dari arah kelas Bisnis.
Sinta langsung memesan makanan, agar tidak terlalu panjang mengantri, sedangkan Vivi dan Imel berebut tempat duduk.
Tak sengaja ada Pak Bima yang sedang memesan minuman, ketika Pak Bima berada di antrian ternyata Pak Bima melihat Sinta yang sedang memesan makanan juga ada Imel dan Vivi duduk di tempat meja makan, namun tak terlihat Cinta disana.
Pak Bima mendekati Sinta, dan berbisik, " Cinta kenapa tidak ikut dengan kalian? " Sinta pun kaget dikira siapa yang berbisik ternyata Pak Bima.
" Tidak Pak, Cinta pengen pesan makanan baso saja, lagi males keluar katanya, " jawab Sinta.
" Ya sudah, biar saya saja yang mengantarkan makanan inipadanya, " ujarnya.
" Baiklah, " Sinta memberikan basonya pada Pak Bima. Akan tetapi Pak Bima meminta notanya juga pada Sinta, karena Pak Bima yang akan membayar semua makanan para sahabat Cinta.
Tak hanya baso yang Pak Bima bawa untuk Cinta, tetapi minuman pun ia pesan untuk Cinta.
Sinta berjalan ke arah meja Vivi dan Imel, dan Vivi heran kenapa tidak di tagih uang.
" Kalian gak usah bayar, udah dibayar sama tunangan Cinta tadi, " jawabnya.
Imel mengerutkan kening tak paham.
" Kok bisa, kok gue dari tadi gak liat ya" tak percaya bahwa Pak Bima yang Membayarnya.
" Gimana loe mau liat, dari tadi main game mulu di ponsel, " sindir Vivi, gemas dengan sikap Imel yang sok tahu.
Di kelas, Pak Bima menemui Cinta, beruntung di dalam kelas tidak ada siapa siapa, hanya Cinta seorang, akan tetapi Pak Bima tidak berani untuk masuk sendiri takut akan terjadi hal yang seperti insiden kemarin.
Ada Siswi kelas satu lewat di samping Pak Bima dan Pak Bima memberhentikan Siswi itu.
" Dek, bisa tolong saya tidak,? " tanya Pak Bima.
" Iya Pak, ada yang bisa saya bantu Pak" tanyanya lagi dengan sopan terhadap gurunya.
" Tolong anterin makanan ini kepada siswi di kelas ini yang sedang duduk disebelah sana, dia bernama Kak Cinta, kasih tahu dia dari saya, dan tolong kasih kan kertas ini juga ya, " pinta Pak Bima.
Siswi itu pun langsung segera masuk ke dalam kelas Bisnis, dan benar saja di sana ada cewek cantik yang sendirian sedang menulis sesuatu. Pak Bima memperhatikannya dari luar jendela kelasnya, sebelum Siswi kelas satu itu masuk dan keluar lagi.
__ADS_1
"Kak, apakah Kakak yang bernama Kak Cinta? ini ada kiriman dari Pak Bima, dia lagi di jendela Kak liatin Kakak, " ujar Siswi kelas satu itu.
" Terima kasih ya Dek, " ucap Cinta.
" Oh iya Kak, ada surat cintanya lohh" goda Siswi itu dengan beraninya menggoda Kakak kelas yang jelas jelas belum kenal.
Cinta bersemu merah mendengar ucapan adik kelasnya dan melihat ke arah jendela, ternyata Pak Bima ada disana sambil tersenyum.
Siswi itu pun ikut tersenyum, melihat mereka pandang pandang. Siswi itu sebenarnya anak Mang Rudi jadi Pak Bima pun berani meminta tolong padanya.
" Terimakasih Mona, " ucap Pak Bima.
" Iya Om, upsss Pak Bima hehe" Mona menutup mulutnya. Dan meninggalkan Pak Bima seorang diri di depan jendela kelas Bisnis sambil menatap ke arah Cinta, dan mengamati Cinta agar makanan yang diberikannya benar benar di makan oleh nya.
Cinta membuka isi surat yang diberikan Pak Bima, dan tertulis...
* Jangan diabaikan makanannya, segera di makan sebelum bel masuk, aku akan mengamatimu di luar jendela kelas. By tunangan sehari selamanya.*
Cinta pun tersenyum membaca kalimat itu, dan secepatnya Cinta memakan makanan yang di bawa olehnya.
Cinta sekilas melihat ke arah jendela, dan tersenyum melihat Pak Bima, meskipun memakai kacamata tebal tapi Pak Bima tetap tampan.
Cinta lebih suka Pak Bima memakai kacamata tebal dari pada tidak sama sekali, sebab nanti banyak cewek yang klepek-klepek pada pesonanya.
Setelah Cinta menghabiskan makanan yang diberikan oleh Pak Bima, Cinta segera membuang bekasnya ke tempat sampah. Disitu masih ada Pak Bima yang sedang duduk di samping kelas Bisnis, dan duduk bareng dengan Siswa-siswi kelas Bisnis.
Cinta kaget ternyata Pak Bima masih mengamati dirinya, mungkin takut Cinta tidak mau makan pemberiannya.
" Loh, Pak Bima tumben ada di sini, " tanya Cinta, setelah membuang sampah bekas makanan tadi.
Cinta pura-pura bertanya, agar tidak ada yang mencurigainya.
" Lagi pengen gabung saja, seru kayaknya, mereka bernyanyi menggunakan alat musik gitarnya, seperti saya dulu masih sekolah seumur kalian" alibinya.
" Loh, Pak Bima juga suka main gitar waktu masih sekolah? " tanya Siswa di sampingnya.
" Iya, pernah juga memberikan grup band loh" lanjutnya.
" Wah, dulu Pak Bima bandel yaaa" tebak Siswa itu lagi.
" Semua akan ada masanya, asal jangan melewati batas saja, kalian mengerti, " saran Pak Bima.
Semua mengangguk paham.
__ADS_1