
Cup
" Hah" Cinta melongo, Pak Bima mencium keningnya, tanpa permisi.
" Maaf, aku sengaja, selamat malam, aku pulang dulu ya" pamit Pak Bima.
Sebelum pergi, Mamanya Cinta menghampiri mereka, niat mau menengok apakah masih belajar atau sudah pulang.
" Loh, Nak Bima, sudah mau pulang ya, apakah mau ditemani sopir? " tawar Mamanya Cinta.
" Tidak usah Tan, terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu istirahat Tante. Kalau begitu Bima pamit pulang dulu ya " Bima menyalami tangan Mamanya Cinta.
Cinta dan Mamanya mengantarkan Bima sampe depan mobilnya, sampe Bima masuk ke dalam mobil hingga keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Setelah kepergian Bima, Cinta pun masuk kembali ke dalam rumah.
" Sudah selesai pekerjaan sekolahnya? " tanya Mamanya.
"Sudah Mah, ini juga udah mau tidur, ngantuk banget Mah, " ucap Cinta.
" Ya sudah, cepatlah istirahat dan jangan bergadang, nanti terlambat " saran Mamanya.
"Iya Mah, " balas Cinta pelan.
Masih dengan Riki dan Surya di Apartemen Riki.
" Gue tadi ketemu mantan bro, dia nambah cantik, dan begitu dewasa, tapi sayangnya dia akan menjadi istri orang. Salah gue juga sih dulu, udah ninggalin dia. " Sedih Riki, jika mengingat masa lalu bersama Cinta.
Surya hanya menjadi pendengar setia Riki, Surya tidak tahu bahwa mantan yang Riki maksud adalah Cinta. Orang yang sama, Cinta temannya Sinta adiknya sendiri yang dulu Surya kagumi, karena keceriaan Cinta yang membuat orang terhibur.
Surya pun pamit pulang, dan tidak jadi untuk ikut nongkrong, karena kasihan melihat sahabatnya bersedih.
Ketika keluar dari dalam Apartemen Riki, Riki mengantarkan Surya sampe depan lift.
Dan tiba-tiba di dalam lift, ada Bima seorang diri dan keluar dari dalam lift.
Dan bergantian Surya yang masuk.
Surya hanya menyapa dengan senyum, sesama manusia saling tegur, meskipun tidak saling mengenal, setidaknya saling senyum.
Dan Surya pun sudah masuk ke dalam lift. Kini Riki dan Bima berjalan bersamaan menuju ke Apartemen nya masing-masing.
" Anda yang tadi bersama Cinta kan,? " tanya Riki.
" Iya, anda Riki, temannya Cinta? " Bima bertanya balik.
" Iya" jawab Riki singkat.
Mereka pun langsung berjalan dalam keheningan. Saling lirik dan senyum canggung.
Bima masuk duluan, karena Apartemen Bim lebih dekat.
" Saya, masuk duluan ya Ki, sampai jumpa besok tetangga" pamit Bima pada Riki.
" Iya" lirihnya.
__ADS_1
Keesokannya, Sinta seperti biasa diantar oleh Kakaknya yaitu Surya.
Tiiinnnnn.....
Surya mengklakson mobilnya, sebab ada gadis SMA berjalan di tepian jalan yang salah.
" Berisik tahu gak!!! " teriak gadis SMA itu, dan tak lain adalah Imel. Tumben tidak bareng dengan Vivi, berjalan sendirian.
" Imel, " gumam Surya.
Sinta pun mendengar gumamnya.
" Kak Surya kenal sama Imel? " tanya Sinta.
" Iya, baru kemarin kenal" jawab Surya.
Surya pun keluar dari dalam mobilnya, Sinta masih ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Kakaknya dan Imel. Sinta masih mengamati keduanya.
" Perang dimulai, " gumam Sinta, masih memperhatikan Imel dan Kakaknya.
Imel melotot pada Surya, ternyata Surya lagi Surya lagi.
Yang sudah membuat darah Imel mendidih, Imel tak ada teman yang menemani dirinya, setidaknya ada Vivi, tapi sayangnya Vivi hari ini di antar oleh Papanya.
" Astagfirullah, kenapa dunia ini sempit sekali, ketemu manusia tak peka seperti ini, kemarin saja belum di ganti eh sekarang bikin gue jantungan! " seru Imel mengomel ngomel.
"Lah, kan kemarin celananya juga masih bisa di cuci kan?" ucap Surya.
" Imel, kamu Sekolah disini juga sama kayak adik aku? " tanya Surya.
"Dek, keluar, dia teman kamu bukan? " Surya menyuruh Sinta keluar dari dalam mobilnya.
Sinta pun keluar dengan wajahnya yang sudah akan meledek Imel.
Sinta cengengesan tak karuan, menatap Imel dengan tatapan seperti itu.
" Loe! Sinta, itu loe beneran kan itu loe? " tanya Imel kaget, melihat bahwa adiknya adalah Sinta sahabatnya sendiri.
" Iya, kenapa? " tanya Sinta senyum senyum meledek.
" Loe jangan bilang, kemarin yang loe maksud ada yang jemput loe adalah cowok tak peka ini, " tunjuk Imel pada Surya.
Sinta mengerutkan keningnya tak paham.
Tiiinnnnn... Suara klakson mobil Pak Bima dari arah lain.
"Imel, Sinta tolong parkir mobil yang benar, kasihan nanti yang di belakang" perintah Pak Bima untuk segera maju atau mundur.
Surya pun langsung masuk dan memarkirkan mobilnya maju ke depan.
Disaat memarkirkan mobil, Surya teringat tadi malam, seperti pria yang ia temui saat bersama Riki di Apartemen.
" Pria tadi seperti tidak asing, kayaknya Pria itu yang tadi malam bukan ya" pikir Surya.
Surya pun selesai memarkirkan mobilnya, dan keluar dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Kemudian menyuruh Sinta untuk segera sarapan.
Sebab tadi pagi belum sempat sarapan, karena bangun kesiangan.
"Tumben loe belum sarapan!!" seru Imel.
" Iya, gue begadang tadi malam, ngerjain tugas dari Pak Bima " alibinya, padahal tugas dari Pak Bima sudah selesai pukul tujuh malam.
Setelahnya, Sinta main ponsel chatingan dengan Arya melalui aplikasi biru, karena mereka belum ada yang mengetahui nomornya masing-masing.
"Jadi, Kakak loe itu dia?" tuding Imel pada Surya.
"Iya" jawab Sinta cepat.
Imel pun mendadak pingsan.
Gubrakk.... Imel pening dan mendadak pingsan.
Dari jauh Cinta baru sampe, dan berlari ketika melihat sahabatnya jatuh pingsan di tanah.
Sinta dan Surya langsung memapahnya.
Dan dengan segera Surya terpaksa menggendong Imel, dan masuk ke dalam UKS Sekolah.
Surya sempat melirik ke arah Cinta, tak terduga pertemuannya dengan Cinta di Sekolah adiknya.
Pak Bima pun ikut serta berlari menuju ke ruangan UKS.
" Ada apa ini Cinta? " tanya Pak Bima padanya.
" Tidak, tahu Pak, saya saja baru tahu tadi, makanya saya berlari ke sini. " Jawabnya.
Sinta dan Surya saling pandang, dan merebahkan tubuh Imel diatas ranjang UKS.
Imel belum sadar, padahal sudah setengah jam Imel terbaring.
" Sin, kenapa dengan dirinya? " Vivi bertanya yang baru saja tiba.
" Dia pingsan pas liat Kakak gue itu Surya, " tunjuk Sinta ke arah Kakaknya yang duduk di atas sofa bersama dengan Cinta dan Pak Bima.
Vivi pun menoleh ke arah Surya, dan benar Surya adalah cowok yang kemarin.
" Loh, itu kan cowok yang kemarin ya, cowok yang sudah bikin celana Imel menjadi kotor, " Vivi teringat wajah Surya, Kakaknya Sinta itu.
" Jadi, maksudnya, loe dan Imel kemarin ngerjain Kakak gue gitu, " tebak Sinta memastikan.
" Bukan ngerjain, lebih tepatnya Kakak loe, harus bertanggung jawab atas perbuatan dia sendiri, " Vivi menjelaskan.
" Maksudnya bagaimana Vi? " bingung Sinta.
Sinta pun mendekati Kakaknya, dan menarik lengan Kakaknya.
"Ada apa sih, main tarik aja, bukan lomba taruk tambang tahu" Surya tak paham.
" Kak Surya kan? "
__ADS_1