Cinta Kilat

Cinta Kilat
47 S2


__ADS_3

Bram masih bingung apa yang ingin Bunga katakan, dan masih menunggu jawaban dari istrinya yang bikin penasaran.


"Mah, Papah kepo nih, " suaminya tidak sabaran.


"Kita masuk kamar aja deh, Mamah sudah mulai mengantuk" ucap Bunga tanpa dosa, padahal suaminya sudah menunggu momen kalimat romantis eh malah berakhir tragis mau tidur.


"Sabar Bram sabar" gumamnya pelan, takut istrinya mendengar.


Bram pun mengikuti istrinya dan masuk ke kamar tanpa ada gurauan, hanya dengkuran sang istri tercintanya yang ia dengar.


" Istriku tercinta, saya tidak pernah akan menduakan kamu, meskipun tidur mu mendengkur keras sampe lantai dibawah pun terdengar, suara dengkuran alunan musik yang sangat merdu, membuat mata tak bisa merem" Bram masih menggeleng melihat istrinya tertidur, tanpa mengajak suaminya tidur bersama.


Di kediaman Cinta dan Bima. Cinta pun membuka bungkusan martabak satunya lagi, dan mengambil satu potong martabak untuk ia makan, mengganjel perutnya yang lapar.


Juga mengambil mangkok untuk menumpahkan bakso ke dalam mangkok. Sebelum menumpahkan baksonya, Cinta angetin dulu bakso nya biar lebih enak.


Setelah selesai Cinta angetin baksonya, kini Cinta mulai memakan baksonya dan menikmatinya.


Setelah selesai menikmati bakso, Cinta kembali lagi tidur disamping Tian dan Bima.


"Mereka dua jagoan gue" gumam Cinta, kemudian ia berbaring lagi di samping mereka.


Paginya, Bima libur dari pekerjaannya dan akan full menemani Cinta dan anaknya.


Seperti biasa Cinta dan Tian berjemur terlebih dahulu, sebelum Tian mandi.


"Den, itu ada teman Den Bima katanya, dia sudah menunggu di depan" ucap Bibi.


"Siapa ya Bi" tanya Bima.


"Aduh, Bibi lupa tanya, dia laki-laki Den, " lanjut Bibi.


"Ya sudah, nanti saya kesana, tungguin bentar lagi gitu ya Bi" pinta Bima.


Bibi pun langsung pergi dan meninggalkan Bima.


"Ya sudah, coba dilihat dulu aja, aku mau mandiin Tian dulu ya" suruh Cinta pada suaminya.


Ketika Bima sudah berada di ruang tamu, ternyata Vino dan Asisten pribadinya.


"Eh Mas Vino, terimakasih sudah mau mampir" ucap Bima, berjabat tangan. Dan mempersilahkan Vino dan Asistennya untuk duduk terlebih dahulu, sebelum cemilan dan minuman datang.


"Eh mana anak Mas Bima? " tanya Vino.


" Dia sedang dimandiin sama Momynya" jawab Bima.

__ADS_1


"Bucin sekali anda, memanggilnya sudah Momy segala" ejek Vino, setelah mendengar panggilan sayang pada istrinya.


" Belum aja kamu nanti lebih bucin dari saya Vin, " ancam Bima menyeringai Vino.


Dari arah luar, ada suara motor seseorang dan langsung menuju ke ruang tamu. "Assalamu'alaikum, Cinta....... How are.....? " seketika Vivi melotot ke arah pojok sofa ruang tamu.


"Walaikumsalam, " semuanya serentak membalas salam dari Vivi.


Vino kaget ternyata tamu itu adalah Vivi, anak dari Pak Alvin pemilik Perusahaan yang sudah ia beli, tanpa sepengetahuan Vivi.


"Eh, ada Vivi, silahkan masuk, Cinta lagi mandiin Tian di kamar mandi bareng Bibi juga, mau disini atau...? " Bima langsung berhenti mengucapkan perkataannya, sebab Vivi sudah memotongnya.


"Langsung ke Cinta aja, gue males lihat muka tuh cowok arogan itu tuh" tunjuk Vivi, sambil mencelos dan langsung pergi ke dalam menuju ke tempat yang Bima tunjuk.


Bima tak paham apa yang Vivi katakan tadi, cowok arogan siapa? Dirinya atau Vino atau Asisten Vino?.


Bima pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Vino, Vino hanya manggut-manggut.


"Kami kenal Vivi? " tanya Bima pada Vino, yang masih acuh.


"Biasalah, lewat" enteng Vino, meremehkannya.


Bima jadi curiga pada Vino.


"Silahkan di minum" ucap Bibi, dan pamit pergi ke belakang lagi.


"Iya Bi, terimakasih" balas Bima.


"Bos, dunia kok sempit banget ya, dimana-mana wanita itu terus yang muncul dihadapan Bos, " bisik Asistennya sinis, memandang Vivi tadi.


"Itu jodoh namanya" jawab Vino lugas.


"Ih amit-amit Bos, wanita cerewet gitu, ya ampun Bos, selera anda gitu amat nanti saya punya nyonya Bos cerewet aduh pingsan ditempat kayaknya, " Asistennya membayangkan Vivi yang manjadi Nyonya Bos, yang begitu cerewetnya minta ampun.


Bima dari tadi memperhatikan interaksi kedua orang yang didepannya itu tak paham. Dan saking keponya Bima bertanya pada Asistennya itu.


" Sebenarnya ada apa sih Vino, kamu ada masalah apa? " tanya Bima penasaran.


Bukan Vino yang angkat bicara melainkan Asistennya.


"Bos saya ini ketemu sama wanita tadi sehari ada lima kali, Pak Bima" terang Asistennya.


"Kok bisa, bagaimana ceritanya Vino, padahal kan kamu baru juga datang dari luar Negeri kan? " heran Bima, memastikan kebenarannya.


"Jodoh mungkin" sambil tersenyum Vino mengatakan itu, dan terus membayangkan perjanjian antara Ayah Vivi dengan dirinya.

__ADS_1


"Dih, malahan tersenyum kayak orang kurang sehat, Bos kamu tuh kudu dibawah ke psikiater tuh" ejek Bima, karena kesel dari tadi tersenyum mulu. tanpa memperdulikan orang yang berada di depan matanya.


Sedangkan di atas sana, Vivi sedari tadi darah tinggi, marah dan ketus tidak jelas.


"Kamu cemberut gitu, kenapa? Lagi ada masalah dengan orang? " tanya Cinta, sambil menggendong Tian.


"Bukan marah lagi, tapi kayak mau makan orang" jawab Vivi, ketus.


"Emang kamu bisa makan orang, kanibal dong namanya" sahut Vino yang berada di belakang punggung Bima.


Vino mengikuti Bima ke dalam, karena penasaran dengan anaknya.


" Istri Bima cantik juga, masih muda lagi, pantesan ngebet banget minta nikah muda" batin Vino, bicara sendiri. Sambil melihat ke arah Bima dan Cinta yang sedang bertukar gendong.


Vivi yang berdiri di samping Cinta, hanya diam dan tak ingin mengatakan apapun.


"Nih, keponakan kamu, ganteng kan mirip Bapaknya?" Bima membanggakan dirinya sendiri.


" Ge er sekali kamu Bim, gantengan juga anaknya lah, kamu tuh udah tua, udah gak kelihatan tampannya" ejek Vino, sambil tertawa pelan melihat ekspresi Bima.


"Eh jangan kira ya, suami gue itu tampan sampai menua tahu, " bela Cinta, tak terima suaminya dikatain tidak tampan lagi.


"Ya elah Mbak, gitu aja sewot" tanpa dosa Vino mengatakan itu, terlihat seperti sudah akrab.


"Tahu tuh, manusia model begini tuh kudu di basmi Cinta, nyinyir mulu deh" timpal Vivi, menunjuk ke arah Vino.


"Kenapa kamu yang sewot? Punya dendam mukimin ya, hahaha" tanya Vino, kemudian ia tertawa keras.


Bima langsung melotot ke arah Vino, Vino pun langsung bungkam.


"Ya ampuuun, gue mimpi buruk apa sih ketemu cowok ghoib kayak begini, " ucap Vivi, memijit keningnya.


"Mimpi ular" celetuk Asistennya spontan.


" Eh" Asistennya langsung menutup mulutnya, tidak sengaja.


"Cinta, kok loe gak bilang punya teman ghoib model beginian sih" protes Vivi ke Cinta.


Cinta pun mengerutkan keningnya tidak paham.


"Kok, gue sih Vi, dia bukan teman gue, temannya Mas Bima tuh, coba loe tanyain sendiri" elak Cinta tidak terima.


Herannya meskipun suasana sangat ribut karena Vivi dan Vino, tapi anak Cinta Tian tidak merasakan terganggu malahan pulas tak bergerak sama sekali, hanya deruan nafas yang Cinta dan Bima lihat.


"Kalian itu jodoh tahu gak! "

__ADS_1


__ADS_2