
" Tenang saja Nak Bima, di dalam kamar Cinta tidak sendirian kok tapi ada sahabat nya yaitu Vivi, yuk mari Tante antar ke atas ke kamar nya Cinta, " ajak calon Mama mertua nya.
Kemudian Bima mengikuti calon Mama mertua nya dari belakang, hingga sampe di depan kamar Cinta. Mamanya Cinta mengetuk pintu kamar Cinta, tok tok tok .... Mamanya mengetuk pintu yang masih terbuka setengah.
"Cinta Mama boleh masuk gak nih, ada tamu spesial buat kamu".
" Masuk aja mah, " teriak Cinta dari dalam kamar nya, Cinta dan Vivi kaget di belakang Mamanya ada seseorang yang tak lain adalah Pak Bima tunangan Cinta yang kemarin baru saja melangsungkan lamarannya.
" Nak Bima silakan masuk, dan silahkan duduk, oh iya sekalian Tante mau ambil minuman dulu ya, " ajak Mama Cinta pada Bima.
"Iya Tante terimakasih maaf jadi merepotkan Tante, " ujar Pak Bima di depan Cinta dan Vivi.
"Tidak Nak, tidak merepotkan sama sekali, " kemudian Mamanya langsung pergi dari kamar Cinta dan langsung menuju ke dapur untuk membuat minuman untuk Pak Bima.
Cinta gugup dengan keberadaan Pak Bima meskipun Pak Bima adalah tunangan nya namun bukan hal yang mudah Cinta untuk bisa menerima Pak Bima untuk bagian dari hidup nya secepat ini, karena pertemuan dengan Pak Bima hanya bisa di hitung dengan jam belum seharian.
Eh Pak Bima malah langsung melamar nya, Vivi yang masih syok juga perlahan memundurkan langkah nya untuk memberikan kesempatan bicara pada Pak Bima dan juga Cinta, kemudian Vivi duduk di sofa samping jendela kamar Cinta sambil berpura-pura memainkan ponsel, Vivi memotret keberadaan Pak Bima di kamar Cinta dan di kirimkan ke grupnya, tak masalah Cinta mengetahui nya toh emang beneran kan....
" Emm, " Cinta gugup harus bicara apa.
"Kata teman kamu apa benar kamu beneran sakit" tanya Pak Bima penasaran dengan kepulangan Cinta ketika selesai melaksanakan Upacara bendera.
" Iya beneran lah Pak, masa gue bohongin Pak Bima kalau gue pusing, gak ada untung nya buat gue, " ujar Cinta, selintas Cinta melirik ke arah kantong plastik yang di bawa oleh Pak Bima di tangan kanan nya.
__ADS_1
" Oh iya ini aku ingin ngasih ini sama kamu, tadi pagi ketika saya mau berangkat ke Sekolah saya sempetin untuk mampir membeli ini untuk kamu, apakah kamu menyukainya? " Pak Bima memberikan tas branded untuk Cinta, karena tadi pas lamaran cuma satu yang ia beli. Cinta pun kaget ternyata benar pria yang Cinta temui tadi di toko tas ternyata Pak Bima tunangan nya yang baru kemarin.
" Sepertinya mahal" Cinta melihat dan menyentuh tas pemberian Pak Bima tadi.
" Gak mahal kok, yang mahal itu bagaimna saya bisa mendapatkan cinta kamu, " goda Pak Bima tersenyum, muka Cinta tiba-tiba panas dingin mendengar nya.
" Loe bisa aja Pak Bima" Cinta menahan malu.
Dari arah sofa sana Vivi geleng-geleng melihat muka Cinta yang sedang merah merona karena rayuan pak Bima.
" Jangan panggil Pak dong Cinta panggil saya Bima saja atau mas gitu, rasanya gak sopan sekali kamu memanggilnya gue loe tadi yang kamu katakan barusan, " tegur pak Bima, memberikan saran untuk panggilan yang lebih baik.
Cinta pun melihat ke arah Vivi yang tengah senyum senyum sendiri melihat ponselnya, ada rasa curiga di hati Cinta, pasti ada apa apanya nih...
Pak Bima masih berdiri di samping Cinta yang masih berbaring di atas kasur.
" Oh iya maaf lupa hihihi" Cinta cengengesan tanpa dosa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Tapi maaf Pak Bima di samping gue tidak ada kursi, adanya sofa di sana di tempat Vivi duduk di samping itu" tunjuk Cinta ke arah Vivi yang tepat sekali Vivi sedang menatap ke arah Pak Bima dan Cinta.
" Tenang Pak Bima, Vivi ambilkan kursi belajar Cinta aja biar Pak Bima bisa duduk di samping Cinta, " goda Vivi mengedipkan mata nya pada Cinta, Cinta manyun dengan tingkah temannya itu dan melemparkan boneka hello kitty nya ke arah Vivi yang masih duduk di sofa.
" Weekkk gak kena" ledek Vivi menjulurkan lidahnya ke Cinta.
__ADS_1
Tiba-tiba Mamanya Cinta masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan ringan untuk calon mantu nya, dan nanti akan besanan dengan mantan yaitu Tomi papanya Bima hihi.
Memang dunia itu seluas daun kelor yaaa... Bertahun tahun tidak bertemu sekalinya bertemu ehh jadi besanan.
" Loh loh loh, Nak Bima dari tadi belum juga duduk, ya ampun Cinta kamu ini bagaimana sih tunangan sendiri di biarkan berdiri terus, maafin Cinta ya Nak Bima, " sambil berjalan dan menaruh nampan nya ke meja sofa dan mengambil kursi belajar untuk tempat duduk Bima.
"Ini Nak Bima silakan duduk, kalau di sofa mungkin akan terlalu jauh mengobrol nya iya kan Nak Vivi, " goda Mamanya Cinta memberi kode pada temannya Cinta, Vivi pun mengangguk paham apa yang katakan Mamanya Cinta.
" Kalau begitu Mama mau keluar dulu ya, silakan di lanjutin ngobrol nya, " pamit Mamanya.
Tanpa diketahui Vivi diam diam menghubungi grup,
Dreeet dreeet dreeet .... Bunyi getar ponsel Imel dan Sinta yang masih setia duduk di lantai mushola karena sehabis melaksanakan ibadah sholat ashar. Sinta dan Imel masih bersantai santai di dalam musola Sekolah karena sudah saatnya jam pulang namun Sinta dan Imel masih betah ngadem di dalam mushola bersama yang lainnya.
" Assalamu'alaikum Vivi, yang cantik jelita lagi dimana loe?" tanya Imel menggebu gebu sampai semua orang yang berada di dalam mushola melihat ke arah Imel dan menyuruh Imel untuk tidak berisik, untuk menghindari amarah para guru dan murid pada akhirnya Imel dan Sinta keluar dari dalam mushola.
" Loe lagi di mushola Mel, " tebak Vivi di ujung telepon nya.
"Iya gue sama Sinta masih ngadem nih tiduran di mushola, ada apa loe telepon lewat grup segala, " lanjut nya.
Vivi disana menyoroti keberadaan Pak Bima dan Cinta sedang mengobrol berdua tanpa sadar Vivi senyum senyum sendiri melihat mereka berdua.
Sinta dan Imel masih mengamati dua anak manusia yang disoroti Vivi. Dan ternyata Pak Bima dan Cinta, berarti benar Pak Bima tidak berbohong langsung menjenguk Cinta.
__ADS_1
" Cintaaaaaaaa, loe yaaaa, enak enakan pacaran sama doiiii, kita disini seperti CCTV tahu gak" teriak Imel tak sabar. Vivi cengengesan dari arah sofa, Cinta pun melihat dan menghampiri Vivi namun oleh Pak Bima di cegah untuk tidak bergerak.
" Sudah istirahat saja ga usah perduliin mereka," ujar pak Bima.