Cinta Kilat

Cinta Kilat
28


__ADS_3

" Kalau begitu, Kakak mau menyelesaikan masalah ini dulu ya, Dek" Surya menutup teleponnya dengan Sinta.


Disamping Surya sedang sibuk teleponan, Imel penasaran, siapa yang baru saja dihubunginya.


Surya mendelik ke arah Imel yang masih menajamkan telinganya.


" Jadi cewek gak usaha kepoin orang, gak baik!! " saran Surya sedikit membentaknya.


" Loh, kali aja loe komplotan para perampokan, yang sedang berpura-pura" alibinya.


Padahal sih Imel malu, kepergok menguping pembicaraan tadi.


" Jadi, mau kalian itu apa, hem, " Surya bernada kalem.


Membuat Imel terpesona.


Beda dengan pesona Pak Bima yang hanya sekedar idola.


Kalau yang ini, beneran mempesona pake banget.


Imel harus mencari cara agar cowok itu makin lama dengan Imel.


Imel berfikir, tapi Vivi mengganggu pikiran Imel.


Jadi Imel tak fokus berfikir,


Surya pun menawarkan diri, untuk mengajaknya makan mie ayam baso,yang sudah ada di depan mata.


" Apa kalian mau makan siang dulu, di situ? " tunjuk Surya, yang ternyata adalah Kakaknya Sinta.


Imel dan Vivi pun mengangguk setuju.


Kemudian, mereka bertiga duduk dan langsung memesan makanan.


" Kalian mau pesan apa,? " tanya Surya, Imel dan Vivi yang masih tak percaya bahwa mereka akan mendapatkan makanan gratis.


Itu pun ada insiden, kalau tak ada insiden gak bakalan kayak gini.


"Oh, iya aku belum tahu nama kalian, nama kamu siapa,? " tanya Surya, mengulurkan tangannya.


"Gue Imel" jawabnya, tanpa mengulurkan tangannya.


"Gue, Vivi, kalau Kakak sendiri siapa namanya,?" jawab Vivi, dan bertanya balik, kali ini Vivi membalas uluran tangannya.


"Aku Surya," jawabnya.


Surya melirik ke Imel yang masih cemberut, dan Imel terus memegang celananya.


"Ck, ning cowok gak peka banget, ngomong apa gitu, amit-amit kayaknya misal jadi ceweknya, nanti nangis bombay, karena cowoknya gak peka" gerutunya dalam hati.


Sambil mengelap celananya, Imel menggerutu tak karuan, ada setengah senang dan kesal.


Senang, karena cowok didepan mata ganteng.


Kesal, sebab gak mau gantiin celananya.


Setidaknya ia menawarkan diri untuk beliin celana baru untuk Imel, tapi malah mentraktir makan.

__ADS_1


Itu gak seimbang.


" Ini mbak, mas, pesanannya, " ucap Mang tukang baso, memberikan pesanan mereka semuanya.


"Iya Mang, terimakasih" balas Surya.


" Cepat di makan, saya beneran ada perlu mendadak, kasihan adik saya masih menunggu, " lanjutnya.


" Mana bisa ya makan diburu-buru!!!" ketus Imel.


Surya tak menanggapi, hanya menatapnya senyum dan geleng-geleng.


" Senyum senyum, senyumin apa loe!! " Imel malu di liatin kayak gitu, campur aduk rasanya.


Acara makan gratis udah selesai, dan permintaan maaf Surya pada Imel pun udah.


" Udah clear kan masalahnya,? " tanya Surya, ketika akan membayar dan berdiri, untuk membawakan mangkok mangkok bekas makan tadi.


Imel heran ada ya cowok yang mau membawakan bekas makanan sendiri ke pedagangnya.


" Ya ampun mas, gak usah repot repot membawakan mangkok kotornya, biar Mang aja yang bawa" Mang badai jadi tak enak pada Surya.


" Tidak apa Mang, itung itung membantu Mang Bejo" imbuhnya.


Imel yang mendengar itu, tak percaya ada laki laki seperti Surya, mau kagum tapi gengsi.


" Berapa Mang semuanya? " tanya Surya.


"Enam puluh ribu, mas, " jawab Mang Bejo.


Namun Mang Bejo belum ada kembalian.


" Duh, mas, maaf tidak ada kembaliannya, " ujar Mang Bejo.


" Tak apa Mang, buat Mamang Bejo aja, itung itung bayar yang dulu, " imbuhnya. Sambil mengedipkan matanya, karena dulu sering dikasih gratis olehnya.


Mang Bejo tak mengingat dulu, tapi setelah lihat ekor matanya yang genit itu, Mang Bejo jadi teringat seorang anak laki-laki yang menangis karena tak ada yang menjemputnya.


Di dalam Taxi, Cinta menatap jendela mobilnya, dan memandang kendaraan lalu lalang, dan seketika Cinta melihat sepasang kekasih sedang duduk di Taman Kota dekat lampu merah, Cinta melihat si cowok sedang menyuapi makanan ke dalam mulut si ceweknya.


Membuat Cinta membayangkan Pak Bima.


" Kenapa sih, kisah cinta gue kek gini amat, terlalu singkat dan begitu cepat" gumamnya.


Cinta tak langsung pulang ke rumah melainkan mampir dulu ke pedagang baso.


Di sana Imel dan Vivi, makan baso, sedangkan Cinta sendirian makan baso.


"Pak, berhenti dulu ya di sini, saya mau makan dulu, saya di sini aja berhentinya. "


" Iya Neng. " Ujar Pak sopir Taxi.


Kemudian Cinta turun dari Taxi, dan mendekati pedagang baso.


" Mang, beli baso satu di makan di sini ya, jangan dikasih sayur, mie putih dan basonya aja Mang " pesan Cinta.


"Iya Neng, " balasnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Bima memperhatikan Cinta yang sudah turun dari Taxi.


Dan terlihat Cinta sedang berada di pedagang baso, Bima meminggirkan mobilnya dan memarkirkannya dekat dengan pedagang baso, sebab ada tukang parkirnya juga.


Sebelum keluar dari dalam mobil, Bima memakai topi dan kacamata hitam, agar tak di kenal oleh Cinta. Dan mengubah penampilannya, tidak seperti saat mengajar.


" Sempurna, Cinta pasti tidak mengenal ku" ucap Bima, sambil melihat dirinya sendiri di kaca spion.


Bima berjalan ke arah pedagang baso itu, yang mana Cinta sedang duduk.


" Mang, saya pesan satu ya, basonya saja" pesan Bima sama pedagang baso.


"Iya mas, silahkan duduk dulu" ucap pedagang baso sambil menunjukkan tempat duduk, yang mana disana ada Cinta seorang diri.


"Maaf mbak, bolehkah saya duduk di sebelah mbak?" tanya Bima, meminta ijin terlebih dahulu pada sang empunya.


" Iya'' jawab Cinta singkat.


" Ini mas, pesenannya, silahkan menikmati " ujar Mang pedagang baso itu sopan.


" Terima kasih, Mang" ucap Bima.


" Bentar bentar, ini suara kayak kenal, tapi siapa ya? " tanyanya dalam hati, saat akan melihat basonya.


Bima mencolek colek Cinta, sengaja menggodanya.


Cinta risih dengan pria yang di sampingnya.


Bima tersenyum jail dan genit.


" Mas, apaan sih, colak colek mulu, emang gue saos apa!! " kesal Cinta.


Cinta pun balik badan, dan memalingkan mukanya dari pria yang sudah colak colek dirinya.


Bima terus melahap basonya, tanpa perduliin omelan Cinta.


Dan melihat tingkah konyol Vinta yang bikin gemas, Bima tersenyum mengembang.


Akan tetapi Bima harus waspada.


" Mang, sudah ni, " teriak Cinta, dan bertanya berapa totalnya pada pedagang baso.


" Gak, usah bayar sayang, biar aku saja yang membayarnya" Bima melepaskan topi dan kacamata hitamnya.


Cinta melotot, kenapa bisa Pak Bima ada di sampingnya.


Pantesan tingkahnya sangat aneh sekali.


Tapi kok, Pak Bima ganteng banget sumpah.


Rasanya ingin meluk tapi tak boleh, lagi marah ini.


Cinta pun buru buru lamgsung menghabiskan baso, agar Pak Bima tak mengikutinya lagi.


Akan tetapi Pak Bima mencegahnya, kudian menyuruhnya untuk diam duduk di tempat, karena ada sesuatu yang membuat Pak Bima mengambil tissu.


"Dia mau ngapain gue..... "

__ADS_1


__ADS_2