
Semua warga sangat senang, karena mendapatkan saweran tidak sedikit.
Ada yang mendapatkan uang koin sampai lima puluh ribu, ada yang mendapatkan hanya sepuluh ribu, tergantung gesit nya yang menghadang saweran.
Semua senang hati tenang...
Cinta senang telah melahirkan sangat buah hati, Mama, Papa, mertuanya juga senang memiliki cucu pertama mereka, para sahabat memiliki keponakan pertama mereka, dan seluruh warga komplek juga senang mendapat saweran.
Semoga semuanya berkah dan barokah.
Setelah acara saweran selesai, semua masuk ke dalam rumah, dan sudah tersedia berbagai macam menu makanan, yang dihidangkan oleh Bibi.
Cinta langsung masuk kedalam kamar, ditemani Bima dan Mama Lusi juga Mama Bunga.
"Kamu istirahat aja dulu di kamar ya? " saran Bima, pada Cinta yang terlihat sangat pucat.
"Tapi, aku mau diruang tamu, mau bincang-bincang dengan mereka semua." Pinta Cinta.
Bima sebenarnya kurang setuju dengan apa yang diinginkan istrinya, namun kemungkinan istrinya butuh sesuatu, sedangkan dirinya tak ada disamping istrinya.
Jadi Bima terpaksa mengabulkan permintaan istrinya, untuk tidur dan berkumpul di ruang tamu atau ruang tengah.
Cinta dan Bima turun lagi, dan Mama Lusi dan Mama Bunga pun ikut membantu Cinta.
Kasur lantai digelar di ruang tengah, dekat dengan televisi. Apabila memerlukan sesuatu tak perlu bolak balik ke bawah.
Agar mudah memanggil Bibi dan Mamanya.
Tian terlihat tenang, tidur ditengah keramaian, apalagi Imel yang selalu bikin orang riuh.
"Duh, ponakan Tante Imel ganteng banget ya, Tian kalau udah gede jangan kayak Bapaknya ya" ucap Imel, gemes melihat Tian yang tengah tidur.
Cinta mengerutkan keningnya, Bima pun sama.
"Loh, kenapa jangan kayak Bapaknya Mel, itukan anak saya loh" protes Bima, tak terima.
Imel pun tersenyum sinis menatap Bima, yang tengah protes karena ucapannya.
"Loh, Anda lupa, waktu itu tiba-tiba nyium Cinta, tidak ada angin tidak ada hujan, wek" ejek Imel, sambil menjulurkan lidahnya ke arah Bima.
"Betul-betul" timpal Vivi, tersenyum sinis ke Bima.
Bima dan Cinta jadi bahan buly untuk Imel dan Vivi. Setelah puas meledek Bima, semuanya disuruh makan di meja makan, namun tak cukup kursi, sehingga makanan pun di gelar di lantai.
Sinta dan Arya sibuk menyiapkan makanan, sedangkan Imel dan Vivi sibuk menyiapkan minuman.
Bima, Mama Lusi, Mama Bunga, Papa Bram, Vivi, Imel, Sinta dan Arya, Sopir dan Pak Satpam pun ikut bergabung makan bersama-sama.
Kecuali Papa Tomi, ia sedang sibuk dan ada meeting.
__ADS_1
Sedangkan Cinta hanya menonton mereka makan, karena masih susah untuk bergerak.
Akhirnya Bima inisiatif untuk menyuapi Cinta.
Bima berdiri dan mendekati Cinta, Cinta pun terharu dengan kepekaan suaminya itu.
"Sayang, aku suapin kamu ya, kasihan kamu pasti capek, maaf tidak bisa menggantikan posisi kamu" ucap Bima lembut.
"Iya, ini kan tugas perempuan, masa laki-laki yang merasakannya, gak lucu deh" ujar Cinta.
Dari kejauhan Sinta memperhatikan Cinta dan Bima.
"Suami yang peka banget, istrinya jauh berasa kosong tuh" celetuk Sinta di telinga Arya, padahal Sint sedang menyindir dirinya.
"Kakak aku gitu loh" bangganya.
"Kalau kamu bagaimana, hayo" skak Sinta.
"Sama dong, aku akan melakukan hal yang sama, masa istrinya ditinggal begitu aja, " goda Arya mencolek pipi Sinta.
Sontak mata Sinta melotot melihat Arya yang bikin merinding, dan meradang.
Cinta dan Bima pun sedang menikmati momennya berdua, eh salah bertiga, kan sekarang sudah ada anak jadi bertiga.
"Udah kenyang ih, jangan main suapin begitu banyak, kagak muat tau dimulut, " kesal Cinta, karena Bima menyuapi melebihi takaran.
"Teh manis anget saja, " jawab Cinta.
Cinta pun menyudahinya, Bima juga ikut berkumpul lagi dengan yang lainnya.
Tak terasa Cinta tertidur di samping anaknya, Tian. Tian pun pulas tidur bersama-sama.
Acara makan pun selesai, Bima kembali melihat istrinya, dan ternyata istrinya sedang terlelap tidur dengan anaknya.
Bima tersenyum melihat kedua orang yang yang ia cintai. Bima mengecup Cinta dan Tian, secara bergantian.
"Semoga kalian selalu sehat" ucapnya, kemudian kembali ke perkumpulan lagi.
"Kak, ponakan lagi apa ya? " tanya Arya, saat Bima baru sampai.
"Lagi tidur, Momynya juga tidur."
Dari arah sofa, Imel dan Vivi tersedak mendengar perkataan Bima, apa tadi dia bilang Momy, ya ampun manja sekali tuh anak.
" Hah, Momy? " kaget Vivi dan Imel, bersama mengatakan itu.
Vivi dan Imel tersenyum sinis ke arah Bima.
Bima pun mengerutkan keningnya, Bima tahu apa yang ada di otak mereka.
__ADS_1
"Kalian jangan mengejek ya, aku tahu pikiran kalian kemana" skak Bima.
Vivi dan Imel pun tersenyum mengembang dikatain seperti itu.
Acara semua sudah selesai, kini Sinta dan Arya ingin berpamitan pulang.
"Om, Tante, Sinta dan Arya pamit pulang dulu ya" pamit Sinta kepada Mamanya Cinta.
Mendengar anak menantunya ingin pulang, Lusi juga segera berpamitan.
"Besan, saya juga mau pulang dulu ya," ucap Lusi pada Bunga.
"Ya sudah, kalau begitu terimakasih kasih, Sinta, Arya dan Besan, " balas Bunga, berpelukan satu persatu.
Kini giliran Vivi dan Imel yang ikut berpamitan, Sinta dan Arya di depan, disusul oleh Lusi juga Vivi dan Imel.
"Ar, pulang kemana? " tanya Mamanya.
Sekilas melirik ke Sinta.
"Mau pulang ke Apartemen Mah, kenapa? " jawab Arya.
" Tidak apa sayang, hati-hati ya, jangan ngebut pelan- pelan ya Nak, " saran Lusi.
"Iya Mah, kalau begitu Arya dan Sinta pamit dulu" Sinta dan Arya bersalaman dengan Mamanya Arya, begitu juga dengan Vivi dan Imel mengikutinya.
Lusi pulang diantar Sopir pribadinya, Sinta dan Arya sudah keluar dari pintu gerbang rumah Cinta.
Vivi dan Imel pun langsung keluar dari rumah Cinta.
Tapi sayang Mereka tak ada yang berpamitan dengan Cinta, sebab mereka tidak mau menganggetkannya. Karena Cinta sedang tertidur dengan anak lelakinya.
Rumah terasa sangat sepi, ketika semua sudah bubar dan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Bima pun membantu membereskan dan membersihkan sisa tadi.
Setelah selesai membantu, Bima mengajak Cinta masuk ke dalam kamarnya. Tapi Cinta menolaknya, karena jika butuh sesuatu kan ribet jika suaminya tak ada.
"Jadi gini Sayang, jika aku kerja kamu tidak apa tidur di luar, jika suami tampan mu ini pulang, kita pindah ke kamar ya? " saran Bima.
Cinta pun berfikir sejenak, mungkin benar apa yang dikatakan oleh suaminya.
Masa iya dari pagi sampai malam di luar terus tidurnya, kan kasihan si Bima butuh pelayanan biologisnya hihi.
Cinta pun mengangguk setuju atas saran dari suaminya.
selama seminggu ini tak apa Cinta tidur diluar, karena mungkin kalau di kamar ribet, naik turun ranjang.
Malam pun tiba saatnya untuk istirahat.
__ADS_1