Cinta Kilat

Cinta Kilat
51 S2


__ADS_3

"Kamu... " Vivi menggantung ucapannya sendiri.


"Kenapa? " tanya Vino bingung.


"Tadi malam kirim pesan apa itu benar? " tanya Vivi, penasaran.


Vino diam sesaat saat Vivi melontarkan pertanyaan seperti itu.


Ingin rasanya mengutarakan tapi tidak tega, karena melihat kondisi Vivi saat ini.


Vino tidak ingin menjawabnya, melainkan terus menyuapi Vivi, tanpa mengatakan apapun.


"Kak Vino, jawab pertanyaan Vivi dong, kok diam saja malah terus menerus menyuapi aku sih, nanti gendut nih, " sedikit merayu dan manja pada Vino.


"Tidak apa, kan empuk kalau kamu gendut, " gurau Vino, sambil melihat lihat seluruh tubuhnya, membuat Vivi bergidik ngeri, saat dipandang Vino seperti itu. Vino masih mengedipkan matanya seraya menjelajahi pandangan tubuh Vivi, agar Vivi risih melihat Vino yang seperti itu, sedikit mesum lah.


"Ya ampun ternyata Kak Vino tuh, sedikit mesum ya ternyata, aku jadi curiga jangan-jangan" Vivi sengaja mengatakan hal itu, ingin memancing Vino, tapi Vino hanya tersenyum melihat Vivi dan ekspresi dugaan Vivi terhadap dirinya.


"Normal Vi, masa laki-laki tidak mesum lihat perempuan hanya berselimut seperti itu" candanya.


"Kak Vino!!! " teriaknya dan melemparkan guling ke wajah Vino, tanpa sengaja Vino melihat alat kompres dibalik selimut.


"Apa ini, oh jadi kamu pake beginian supaya kamu terlihat demam begitu, hem" goda Vino, Vivi kepergok nih.


Vino geleng-geleng kepalanya, melihat aksi Vivi yang seperti itu.


"Ini maksudnya apa Vi, tolong jelaskan, sampai aku rela tudak jadi berangkat kantor, dan membatalkan pertemuan penting, hanya karena kamu sakit, aku khawatirkan kamu loh, tapi kenapa kamu bohongin aku? " Vino sedikit marah, atas apa yang dilakukan Vivi, agar mendapatkan perhatian Vino.


"Maafkan aku Kak, " lirih Vivi, sedikit mendung, kini air matanya menetes ke pipinya.


Vino yang melihatnya, tidak tega dan duduk di atas ranjang dekat dengan Vivi.


Pintu kamar tetap dibuka lebar, takut disangka melakukan sesuatu yang tidak-tidak.


Vino meletakkan mangkok dan mulai mendekati Vivi yang sedang tertunduk malu, dan bersedih.


"Vi, maaf bukan aku ngebentak kamu, tapi maksudnya apa kamu melakukan semua ini? " tanya Vino, nada yang sedikit rendah dan lebih halus, tidak seperti tadi.


"Tapi Kak Vino jangan marah jika berkata jujur, aku melakukan ini karena tidak mau mendengar Kak Vino, yang katanya Kak Vino mau membatalkan pernikahannya, aku tak mau mengecewakan orang tua dan Kak Vino, aku tidak mau itu terjadi" jujurnya sambil bergetar.


Vino menjadi tidak tega, dan masih tetap diam. Belum bisa berkomentar apapun.


"Maksudnya apa Vi? " tanya Vino.

__ADS_1


Vivi memberanikan diri memegang tangan Vino, dan menatap wajahnya.


"Vin, jangan tinggalin aku hikhikhik, " Vivi mulai menangis tersedu-sedu, tidak dapat menahannya.


Vino pun langsung memeluk Vivi, tanpa ragu.


"Iya aku tidak akan meninggalkan kamu kok, kamu tenang saja ya. Aku akan menikah kok sama kamu, tidak akan Membatalkan" janji Vino, saat masih dalam pelukannya.


Vivi seketika melepaskan pelukannya dan menatap intens wajahnya.


Vivi tersenyum cerah, saat Vino mengatakan hal itu padanya.


"Beneran Kak Vino tidak membatalkannya? " tanya Vivi, memastikannya.


"Iya" senyum Vino, mengembang.


Vivi dan Vino pun melepaskan pelukannya, dan tertawa bersama, terlihat lucu namun menegangkan bagi Vivi.


Vino merasakan kelegaan saat Vivi mengungkapkan perasaannya. Itu artinya Vino tidak sia-sia usahanya.


"Kamu kan sudah sembuh, jadi aku mau pergi ngantor ya" ijinnya.


"Tidak boleh!!!" seru Vivi, menahan pergelangan tangan Vino. Vivi masih mau ditemani Vino.


"Ya sudah, kamu mau apa sekarang? " tanya Vino, menawarkan diri sendiri.


"Mau kamu dong" jawab Vivi, sedikit manyun. Vino gemas dengan tingkah Vivi, dan mendadak hasratnya memuncak, dan Vino sengaja menciun bibir Vivi lembut, tanpa adanya penolakan, Vino dan Vivi terbuai, setelah dirasa nafasnya kehabisan. Vino menghentikan aksinya.


"Maafkan, kelepasan hehehe" ucap Vino, takut Vivi marah.


"Itu ciuman pertama aku tahu, jadi Kak Vino harus bertanggung jawab dong" ancam Vivi, pura-pura marah, padahal senengnya bukan main.


Vino bukannya menjawab malah memeluknya sangat erat. Vivi melongo dan kaget, saat Vino memeluk dirinya.


"Sudah ku katakan aku akan bertanggung jawab Vi, jadi kamu maunya kapan? Hem, " sambil melepaskan pelukannya. Vivi bingung ditantang seperti itu oleh Vino.


"Terserah kamu saja Kak Vino, sekarang juga tidak apa-apa" tanpa malu-malu mengatakan hal seperti itu.


Vino kaget mendengar perkataan Vivi.


"Kamu yakin? Malam ini kita nikah dulu? " tawar Vino, dan Vivi pun mengangguk mengiyakan.


Vino langsung menelpon Alvin ayah Vivi.

__ADS_1


Alvin pun menyetujuinya, karena semuanya ditanggung Vino.


"Yes, gue nikah malam ni" batin Vivi ceria.


Vino pamit, mumpung masih pagi ia harus cepat-cepat mencari penghulu dan seluruhnya.


di mulai dari catering dan lain sebagainya.


Vivi pun langsung menghubungi ketiga sahabatnya, yaitu Cinta, Sinta dan Imel.


Vivi mengirimkan pesan di grup chat mereka.


"Assalamu'alaikum, guysssss, nanti malam gue mau menikah secara agama dulu ya, jangan dibully ya guys, nanti pukul delapan malam. Jangan lupa pada dateng ya, Walaikumsalam." Kirim Vivi ke mereka semua.


"Walaikumsalam, busyet gue gak mimpi kan? " tanya Imel heboh.


"Walaikumsalam, alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama aku menunggu kabar ini akhirnya terwujud juga hihi" tawa Cinta.


"Walaikumsalam, jangan lupa makanan yang banyak sebab gue bawa anak guys, " Sinta membalasnya.


"Tenang semuanya, makanan sudah diatur sama suami gue hihihi" gurau Vivi.


Cinta senyum- senyum sendiri membaca chat mereka, sehingga Bima terheran-heran melihat Cinta seperti itu.


"Sayang kamu kenapa, kok baca chat nya gitu amat ekspresinya, " tanya Bima, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aaaaaaa, Sayang kamu apa-apaan sih, kalau ada yang melihat bagaimana! " seru Cinta melihat suaminya bertelanjang dada.


Bukannya menutupi malahan mendekati istrinya dan terus menggodanya.


Beruntung pintu kamar di kunci dan anaknya belum bangun dari tidurnya.


"Jangan dekat-dekat deh, nanti nyetrum, stop Mas geli tahu" Cinta menggeliat kanan kiri, saat Bima mencium lehernya.


Bima terus menggoda istrinya, sebab tadi malam gagal.


Pagi menjelang siang Bima dan Cinta beradu kasih, sampai Tian pun belum terbangun.


Setelah selesai, Bima dan Cinta pun segera mandi dan Bima secepatnya harus berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ke kantor tak lupa Cinta mencium tangannya dan Bima mencium kening sang istri.


"Jangan malam-malam ya pulangnya, kita harus menghadiri pernikahan Vivi dan Vino pukul delapan malam" Cinta mengingatkan.


"InsyaAllah ya Sayang, kalau Mas belum pulang kamu minta tolong sama Bibi saja ya, " ucap Bima, agar tidak terlalu berharap sebab takut nanti ada pertemuan mendadak.

__ADS_1


"Baiklah"


__ADS_2