
"Kamu ngapain di sini? " tanya Surya yang tiba-tiba saja muncul.
"Loh, kok ngapain sih, gue jauh- jauh dari Luar Negeri untuk menjemput kamu lah, kamu hampir setahun tidak pulang lagi ke sana, " ucap wanita itu, seakan menahan emosi.
"Gue gak bakal ke sana lagi, karena gue akan menikah dengan dia! " seru Surya, menunjuj Imel sebagai calon istrinya.
Jantung Imel kalang kabut, tapi masa iya Surya mengatakan hal itu, apa karena ada wanita itu, Surya mengatakan akan menikah dengan dirinya.
Imel masih menyimak drama kolosal, antara Surya dan wanita itu.
Wanita itu sangat sexy dan cantik, dengan pakaian yang serba terbuka, sebab ia adalah model busana berbagai macam model.
Lain tempat yaitu di tempat kerja Vivi dan Riki.
"Ki, makan siang yuk, udah laper banget nih, cacing diperut udah pada demo, " rayu Vivi, minta makan siang bareng, Riki masih fokus bekerja. Masih mengabaikan ajakan Vivi.
"Ki! " teriak Vivi ditelinga Riki.
"Astaghfirullah, Vi, jangan teriak gitu dong, aku tuh tidak tuli Vi, dan ini kantor, malu lah teriak begitu, nanti disangka ada kebakaran lagi" kaget Riki, sampai salah mengetik.
"Iya, aku yang kebakaran jenggot, " imbuhnya kesal, melihat Riki begitu perdulinya dengan pekerjaan dan mengabaikan dirinya.
Vivi pun kesal, dan meninggalkan Riki yang masih sibuk dengan dunia nya.
"Huft, kesel banget punya doi, gak mau gitu temenin gue hanya sekedar makan siang, " gerutunya sepanjang perjalanan menuju kantin kantor.
Vivi masih cemberut dan kesal, Vivi memesan makanan yaitu bakso yang levelnya pedas sangat pedas, biar kekesalan hilang.
"Mbok, bakso yang sangat pedas ya, sepuluh sendok makan ya Mbok" Vivi memesan dengan level yang tak kira-kira. Mbok pun kaget, tidak biasanya anak pemilik perusahaan meminta yang pedas.
"Ya ampun, Nduk, beneran ini minta yang sangat pedas, katanya punya penyakit maag, kenapa pesan sampai sepedas ini, " si Mbok terlihat khawatir, dengan kondisi Vivi.
" Tidak apa Mbok, Vivi lagi kesel aja Mbok sama orang, kalau bisa sih mau makan orangnya langsung " ucap Vivi ngegas, Vivi masih menatap menu yang ia pesan, mau makan tapi terlihat pedas, tidak dimakan tapi sayang.
"Yawes, Mbok mau kembali lagi ya, kalau butuh apa-apa, tinggal panggil Mbok aja disana ya, " pamit Mbok padanya.
__ADS_1
Saat memandang bakso penuh sambal, Vivi menelan salivanya, bisa gak ya ia makan, makanan sepedas itu.
Tapi Vivi sudah niat akan memakannya, ketika sendok hampir masuk ke mulut.
Prank.... Seseorang menjatuhkan sendok yang hampir Vivi telan.
" Kalau loe gak berani makan yang pedas, gak usah sok mau makan pedas deh loe! " seru orang itu. Karena dari tadi ia memperhatikan Vivi, yang sepertinya masih ragu-ragu untuk memakannya.
Orang itu kemudian mengambil sendoknya lagi, dan menaruhnya di samping mangkok berisi bakso pedas. Dan memberikan sendok yang baru.
"Siapa loe, ikut campur urusan makanan gue, gue mau makan atau tidak, bukan urusan loe dan loe gak usah ikut campur, atau loe mau makanan gue, hah" emosi Vivi memuncak.
"Maaf bukannya gue mau ikut campur sama menu makanan loe, tapi gue perhatikan loe dari tadi seperti ragu ingin memakannya" skak orang itu. Sebenarnya ada benarnya juga orang itu, dari tadi emang Vivi ragu ingin memakannya.
"Huft, " Vivi menghembuskan nafas kasarnya.
"Maaf Mbak, jika ada masalah jangan cari penyakit, tapi cari solusi, anda sudah tua tapi masih belum paham apa artinya solusi" sindir orang itu, terang-terangan.
"Mana bisa begitu, loe tahu dari mana gue bermasalah, kenal juga kagak! " seru Vivi, melirik ke arah orang itu.
"Emang Mbak tidak mengenal aku, dan aku pun sama sekali tidak kenal dengan Mbak, karena aku disini orang baru, atau bisa dibilang rekan bisnis, dan ingin bertemu dengan seseorang, tapi keburu waktu istirahat, jadi aku kesini mencari makan terlebih dahulu, tapi aku dari tadi merhatiin Mbak, dengan raut wajah yang sangat kacau" jujur orang itu, sambil menatap wajah Vivi yang masih cemberut.
Orang itu pun berdiri, dan memesan makanan yang sama seperti yang Vivi pesan. Setelah pesanan yang ia bawa, dan menaruhnya diatas meja di depan Vivi, menggantikan makanan yang pedas dengan yang tidak pedas.
"Makanlah, ini tidak ada racunnya kok, dan tidak pedas, kalau punya penyakit jangan cari penyakit, bisa berbahaya, " orang itu menyodorkan makanan dihadapan Vivi, dengan sukarela dan ikhlas. Kemudian orang itu tersenyum.
"Kamu siapa sih, gue baru lihat loe deh di kantor ini? " akhirnya Vivi penasaran dan bertanya juga.
"Oh iya, aku belum memperkenalkan diri, kenalin nama aku Vino" jawab Vino, memperkenalkan dirinya pada Vivi, dan mengulurkan tangannya.
"Gue Vivi, karyawan disini" ujarnya, tak mau dibilang anak pemilik, takut nanti dimanfaatkan maka Vivi terpaksa berbohong.
"Oh, salam kenal saja ya, yuk makan dulu baksony sebelum jam kerja mulai lagi, " ajaknya.
"Perhatian banget, huh si Riki mana ada dia perhatian kayak gini, cuek bebek, harus gue duluan yang nyosor, jadi gue nya kan yang kayak bebek, " gumamnya dalam hati, memperhatikan Vino makan bakso tanpa sambal.
__ADS_1
Jam istirahat pun habis, kini Vivi berpamitan akan kembali bekerja lagi.
"Maaf ya, gue harus balik ke dalam lagi, loe gak apa kan gue tinggal, eh tunggu loe mau kan bayarin makanan gue, maklum gue karyawan biasa hihi, salam kenal Vino bye.... " Vivi pamitan dan melambaikan tangannya, setengah berlari takut ditagih untuk membayar bakso yang ia makan. Suruh siapa Vino menemani dirinya.
"Ada ya cewek model begitu, unik sekali cewek itu, " gumamnya pelan, Vino masih melahap makanannya, karena belum habis, karena ia termasuk santai jika makan, tanpa buru-buru.
"Mbok, semua ini berapa ya, apakah cewek yang bernama Vivi tadi pesan yang pertama sudah bayar, Mbok? " tanya Vino.
Si Mbok memperhatikan Vino, dari atas sampai bawah, dan memperhatikan wajah tampannya.
"Tuan, orang baru ya disini? " tanya si Mbok.
"Iya Mbok, saya cuma mau ada meeting aja kesini, dan kebetulan waktunya istirahat jadi saya mampir dulu kesini, " jawab Vino lugas.
"Oh, mau bayarin semua makanan Non Vivi? tanya di Mbok lagi.
" Iya, Mbok, " balasnya.
Setelah si Mbok menghitung semua makanan Vivi dan dirinya, dan uangnya tidak ada kembaliannya.
"Aduh Tuan, tidak ada kembaliannya, bagaimana ini, Tuan? " tanya si Mbok. Terlihat sangat malu tapi mau.
"Buat si Mbok aja kembaliannya, maaf ya Mbok saya harus segera masuk ke dalam mau meeting dulu" pamitnya.
"Aduh, bagaimana ya Tuan, tapi memang benar ini buat si Mbok semua, atau untuk Non Vivi aja jika Non Vivi pesan makan di Mbok lagi, " ucap si Mbok tidak enakan.
"Iya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum, " pamitnya sambil salam.
"Walaikumsalam. Hati-hati ya Tuan," jawab Mbok membalas salam dari Vino.
Mbok pun terlihat kagum dengan pria tadi, sekiranya berharap akan menjadi jodoh Vivi.
Karena si Mbok kan sudah lama bekerja di kantor keluarga Vivi, jadi tahu semua orang yang berada di kantor.
Bughh....
__ADS_1
"Auh sakit" Vivi meringis kesakitan.
Vivi menabrak seseorang.