
Bibi pun selesai membuat kopi, segera ke depan kasian sudah menunggu.
" Apakah Ibu juga mau saya bikinin teh manis angetnya Bu? " ujar Bibi.
" Tidak usah Bi, kasian tuh yang didepan pasti nungguin kopi buatan Bibi" Bunga menolaknya.
Bunga mencari teh dan gula yang tersimpan diatas lemari. Setelah semuanya di sajikan kini giliran air nya yang di rebus. Tak menunggu lama hanya beberapa menit saja air sudah matang dan diseduh ke dalam gelas yang sudah berisi teh dan gula.
Sebelum naik ke atas kamar Cinta Bunga mendengar suara suaminya yang sedang berjalan.
Tap tap tap...
Suaminya menuju ke dapur karena pas di depan gerbang Bram bertanya pada Bik Asih tentang keberadaan istrinya.
Maka dari itu Bram menyusul ke dapur untuk sekalian dibuatkan teh manis anget.
" Loh Pah, udah pulang, " mencium punggung tangan suaminya.
" Iya mah, pengen pulang cepet, badan terasa sangat lelah sekali, " suaminya bermanja-manja di punggung istrinya.
" Mah, sekalian ya buatkan teh manis anget untuk papah dan tolong antarkan ke ruang televisi ya Mah, " pinta Bram suaminya.
"Iya Pah" Bunga mengangguk mengiyakannya.
Keesokan harinya, Cinta sudah mulai akan beraktivitas kembali karena badannya sudah mendingan.
Tak lupa Cinta memakai cincin pemberian Bima tunangannya, agar Ia tak kecewa padanya.
Tersenyum sendiri ke arah cermin dan memastikan semua penampilan sudah perfect.
"Loh tumben anak mama udah cantik sekali, " goda Mamanya yang melihat Cinta menuruni anak tangga.
" Ish Mama apa apaan sih, biasanya juga cantik Mah, "protes Cinta, yang tadinya tersenyum berubah jadi cemberut. Papanya yang sudah berada di tempat duduk hanya tersenyum.
Cinta pun sesekali melihat ke arah Papanya.
" Kamu kenapa liatin Papa begitu? " tanya Papanya.
"Pah, boleh gak Cinta minta di anterin sama Papa ,plisss, " Cinta memohon.
Kedua orang tuanya saling pandang dan merasa hari ini Cinta sedikit aneh, tidak seperti hari biasanya.
" Ya baiklah, Papa akan anterin kamu, " balasnya.
" Yes, terimakasih Papa, " ujarnya.
Bram dan Bunga langsung keluar ketika Cinta sudah menunggu di dalam mobil Papanya.
" Pah, cepetan dong, telat nih nantinya" teriak Cinta membuka jendela mobilnya.
" Liatlah Mah, berisik sekali Cinta seperti Mama waktu muda dulu" Papanya geleng-geleng melihat anaknya berteriak seperti anak kecil.
__ADS_1
Papanya pun langsung Menghampirinya dan membuka pintu depan mobil. Dan duduk sembari menyetir mobilnya.
" Tumbenan mau minta diantar Papa " ujar Papanya.
" Emang tidak boleh minta di antar sama orang tua sendiri, " gerutunya.
Papanya pasrah menghadapi sikap anaknya yang persis seperti mamanya.
Mobil Papanya berhenti di pinggir gerbang pintu masuk di halaman Sekolah.
Ketika Cinta keluar dari mobil Papanya, ada pasang mata menatapnya tak percaya, kok tumbenan Cinta di anter Papanya.
Cinta langsung mencium punggung tangannya, dan langsung masuk ke halaman Sekolah.
" Hai, loe tumbenan di antar bokap, kesambet apa loe" sindir Imel.
" Ya ellaaa, elo ini gimana sih, gue kan masih butuh istirahat, kalau gak terpaksa mau ujian" balasnya.
" Bilang aja mau ketemu tunangan loe yang ciwi-ciwi itu kannn" ledek Vivi disamping Imel.
Belum nampak Sinta berada di dalam kelas, biasanya Sinta paling rajin datang.
" Eh gue belum lihat Sinta deh, kemana ya tuh anak, " Cinta baru sadar diantara mereka ada yang hilang.
Dirumah Sinta, Sinta masih bermanja manja dengan Kakaknya, minta dianterin ke Sekolah.
" Kak, anterin Sinta ke Sekolah dong plis, terus sekalian jemput juga ya? " manja Cinta pada sang Kakak.
Tepat di depan gerbang, Sinta bertemu dengan Arya dan Pak Bima. Arya berpapasan dengan Sinta yang tak sengaja Sinta berpelukan dengan Surya kakaknya.
Arya melotot melihat aksi Cinta dengan pria lain.
" Aku pikir kamu wanita baik baik yang bisa menjaga marwah kamu sebagai perempuan, tapi ternyata... " ucapnya lirih.
Terdengar oleh Sinta dan Kakaknya. Namun Kakaknya Sinta diam tak berkomentar apapun, biarlah urusan adiknya dan Arya.
"Arya, kamu salah paham, hei!! " teriak Sinta mengejar Arya yang berjalan menuju mobilnya.
" Udah gak perlu di risaukan Dek, " ujar Kakaknya.
" Tapi, Kak, " putus Sinta.
" Sudah cepat masuk, nanti terlambat " perintahnya.
" Iya" Sinta pasrah.
Di dalam kelas, Sinta murung dan sedih, tidak bersemangat.
Cinta, Vivi dan Imel saling lirik satu sama lain, melihat muka Sinta yang tak bersemangat.
" Kenapa loe, belum sarapan pagi? " tanya Imel saat mendekatinya.
__ADS_1
" Tidak apa Mel, gue cuma lagi mikirin kakak gue yang tadi, " alibinya.
" Loe punya kakak? Cowok apa cewek? " tanyanya lagi.
"Cowok, Mel" jawab Sinta pelan.
Teeetttt treeetettt.... Bunyi bel masuk kelas.
" Selamat pagi anak anak... " Sapa guru baru, yang akan mengajar matematika di kelas Bisnis.
Cinta, Sinta, Vivi dan Imel langsung melihat kearahnya.
Semuanya terlihat tak suka dengan guru baru itu.
" Kok, dia masuk ke kelas kita sih Cinta " bisik Imel ke telinganya.
" Ya mana gue tahu Mel" balasnya.
Cinta dan Vivi segera duduk di bangku masing-masing.
Sinta dan Imel pun melihat ke arah Cinta yang sedang cemberut.
" Gue yakin, nanti ada perang Dunia Kedua hihi, " tawa Imel pelan.
" Ish elo nih, " nabok lengan Imel.
" Perkenalkan nama saya Widi, guru matematika yang baru untuk kelas kalian, apa ada yang di tanyakan? " Widi memperkenalkan dirinya dan memberikan kesempatan untuk para muridnya untuk bertanya.
" Bu, apakah Ibu sudah menikah? " tanya murid laki-laki di pojok yang dekat dengan posisi Imel dan Sinta.
" Saya masih single, apa ada lagi yang mau ditanyakan " jawab Widi.
" Sudah punya gebetan belum Bu? " tanyanya lagi.
Cinta mendengar lontaran pertanyaan itu pun melotot pada siswa itu.
Widi tidak menjawabnya, namun Widi membalasnya dengan senyuman.
Sebelum pelajaran dimulai, terlintas Pak Bima melewati kelas Bisnis, dan apa yang terjadi, Widi buru buru langsung keluar dari kelas Bisnis, hanya untuk berpapasan dengannya.
" Sebentar dulu ya, " pinta Widi.
Tepat di depan pintu, Pak Bima berhenti karena di panggil oleh Widi.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu? " tanya Pak Bima sopan.
Kali ini Pak Bima memakai kacamata tebal, sehingga ketampanannya sedikit berkurang.
Widi pun kaget melihat Pak Bima seperti itu. Namun Widi tak mempermasalahkan penampilan Pak Bima yang sekarang, karena yang Widi tahu kemarin, Pak Bima sangat tampan dan mempesona.
"Pak Bima, nanti jam istirahat ke kantin bareng ya Pak, " ajak Widi tanpa malu pada seluruh Siswa-siswi kelas Bisnis, bahkan dengan sengaja mengatakannya dengan nada sedikit kencang. Agar semua Siswa-siswi kelas Bisnis tahu, bahwa gebetannya adalah Pak Bima.
__ADS_1
" Ya sudah, tinggal kita ketemu saja di sana Bu, " ujarnya.