
"Auh, sakit" Vivi meringis kesakitan, karena kepala nya terkena benturan badan seseorang.
Vivi menabrak seseorang, karena Vivi berlari dan tidak sengaja menabrak seseorang dari depan, terkena dada bidang orang itu.
"Maaf, maafkan saya, sekali lagi saya minta maaf Tuan" Vivi menunduk meminta maaf pada orang itu, Vivi belum melihat ke arah orang itu.
Pria yang ia tabrak, tersenyum melihat Vivi menunduk sampai segitunya.
Vivi masih menunduk, dan masih belum berani melihat ke depan.
Dari kejauhan Riki hanya menjadi penonton, tak mau ikut campur. Egois sekali ya si Riki.
" Jangan menunduk mulu, tidak ada uang yang jatuh atau emas yang jatuh loh" gurau Vino.
Menahan tawa, tapi terkekeh melihat tingkah Vivi yang lucu dan menggemaskan.
"Suara itu seperti orang tadi" batin Vivi mengatakan sambil melirik ke bawah, dan sepatu yang ia pakai sama persis dengan lelaki yang berada di kantin tadi pas jam istirahat.
Kemudian Vivi menaikkan kepala ke atas. Vivi melotot dan memukul dada Vino, kesal telah di permainkan.
"Ahhh sakit, Non, " keluh Vino, kesakitan akibat di pukul Vivi yang reflek.
"Gue kira siapa, ternyata elo, ya elah malu banget gue, " gerutunya. Memandang sinis ke arah Vino yang masih tersenyum seperti orang yang tak waras.
"Senyum mulu, kering tuh bibir" sungut Vivi, lalu meninggalkan Vino dan melewati dirinya, tanpa pamit, sebab Vivi masih kesal padanya.
"Tuan, dia siapa berani sekali dia seperti itu sama Tuan, apa perlu kita beri dia peringatan, atau melaporkan wanita tadi pada pemilik kantor ini, supaya para karyawan lebih sopan lagi" ujar Asisten Vino, berceramah.
Vivi mencelos dan menatap Vino sengit.
"Tidak biasanya ya Tuan, wanita kayak begitu, berarti dia unik Tuan, " Asistennya geram melihat Vivi seperti itu pada bos nya.
"Sudah biarkan saja, lebih baik kita meeting segera, " ajak Vino pada Asistennya.
Asistennya pun tak membantah, kini mereka berjalan menuju ruang meeting, dan didalam ruang meeting, sudah ada beberapa rekan yang menunggunya.
Ada kursi kosong yang Vino lihat, siapa orang itu, kenapa mereka tidak mengomentari orang yang terlambat meeting, tidak on time banget.
"Maaf Tuan Alvin, siapakah orang yang akan duduk dikursi kosong itu, " tunjuk Vino, bertanya langsung pada pemilik kantor sekaligus Alvin adalah Ayah dari Vivi.
__ADS_1
" Maaf Tuan, dia adalah putriku, dia sedang berada dibelakang sebentar , katanya mules" jawab Alvin, merasa tidak enak dengan bos muda itu.
"Oh, sebaiknya jika sedang sakit, tidak perlu dipaksakan untuk ikutan meeting, kasihan pu.." Vino belum sempat melanjutkan perkataannya, dari balik pintu, Vivi langsung masuk, dengan wajahnya yang pucat.
"Permisi semuanya, maaf saya terlambat, karena ada masalah sedikit" Vivi meminta maaf kepada seluruh rekan yang sudah berada di dalam ruang meetingnya.
"Kamu! " seru Vivi menunjuk tangannya ke arah wajah pria itu, sontak saja ia kaget, lagi-lagi yang ia temui Vino, Vino dan Vino.
Semuanya seolah-olah kantornya dipenuhi oleh seorang pria yang bernama Vino.
"kamu lagi" imbuh Vino, tak mau kalah.
"Maaf Tuan Vino, anda mengenal putri saya? " tanya Alvin, Ayah Vivi yang merupakan pemilik kantor ini.
"Baru tadi ketemu Tuan " ucapnya, sambil melirik kearah Vivi, kemudian ia tersenyum melihat Vivi yang masih cemberut.
Beruntung tidak ada Riki di dalam ruangan meeting, jadi Vivi terlihat lega. Alvin Ayah Vivi pun memperhatikan Vino dengan seksama.
"Sepertinya Bos muda ini menyukai putriku, tapi... Ah sudah lah, tidak usah mikir yang macam-macam, nanti gagal" batin Alvin Ayah Vivi. Saat melihat interaksi antara Vivi dan Vino.
Meeting pun berjalan dengan lancar, meskipun Vivi bermuka masam dihadapan Vino, tapi jika dengan orang lain terlihat manis.
Vino pun berdiri dan tepat di pintu, Vino dan Vivi bersamaan, sehingga dari mereka tidak ada yang bisa keluar, tidak ada yang mau mengalah.
"Tuan, minggir gak, gue duluan ini! " seru Vivi, tak mau mengalah.
"Loh saya duluan Nona, anda kan tuh lihat lebih mundur dari saya kan? " Vino memanfaatkan Vivi, agar bisa tetap bertahan untuk saling bicara, meskipun pembicaraan mereka tidak penting atau konyol.
Alvin yang dari tadi masih duduk di tempat meja meeting, kini berdiri dan melerai mereka.
"Kalian ini, seperti anak TK saja, " Alvin pun melewati mereka semua, Alvin mengajak Asistennya Vino untuk keluar bersama, dan membiarkan Vino dan Vivi bertengkar yang tidak ada ujungnya.
"Ayah, Ayah, jangan tinggalin Vivi dong, tunggu dong Ayah! " teriak Vivi, kemudian berlari mengejar sang Ayah.
Vino tersenyum geleng-geleng melihatnya.
"Dia sangat lucu sekali" gumamnya, ketika Vivi mengejar Ayahnya.
Tiba ditempat ruang kerja Vivi, Vivi langsung duduk sejenak, dan menghela nafas kasar, cukup kesal tadi dipertemuan meeting. Benar-benar tidak dapat diduga, bisa ketemu sama orang yang sama terus. Seketika Vivi ingin mendekati Riki, namun Riki langsung berdiri dan berjalan, entah mau kemana, sehingga Vivi urungkan niat buat ajak dia bicara mengenai tadi.
__ADS_1
" Dasar doi tidak peka! " sungutnya.
Vivi merasa bosan, dan merasa sangat lelah. Kini ia ingin pamit pulang padahal belum waktunya untuk pulang.
"Ki, mau anterin aku pulang tidak? Aku kayaknya kurang enak badan sekali, terasa nyeri semua ini badan" ucap Vivi, pada Riki yang masih bekerja.
"Aduh Vi, aku masih banyak kerjaan sekali, masih numpuk, nanti aku dipecat bagaimana? " tolak Riki, halus. Alibinya kerjaan menumpuk, padahal tidak sama sekali.
"Kamu tega sekali Ki, masa pacar sendiri gitu" manja Vivi.
"Maaf bukannya tega, tapi pekerjaan harus selesai sebelum pulang Vi" Alibinya lagi.
"Tenang aja Ki, kan ini kantor Ayah aku, jadi beliau tidak akan marah jika kamu mengantarkan aku pulang" kekeh Vivi, masih merayu.
"Jangan begitu Vi, ini adalah tanggung jawab, tidak boleh seperti itu, nanti yang lain cemburu" Riki masih tetap menolak.
"Sebenarnya Riki tuh cinta gak sih sama gue, gitu amat sih, gak ada romantisnya sekali, apakah dulu sama Cinta seperti ini? " tanya Vivi dalam hatinya sendiri.
Vivi pun pasrah, dan mengambil tas lalu pergi meninggalkan Riki, Riki pun masih belum melihat ke arah Vivi.
"Maafkan gue Vi, gue harap loe cepat mutusin gue, karena gue harus menikah dengan perjodohan kedua orang tua gue di luar Negeri" gumamnya, saat melihat kepergian Vivi.
"Tapi maaf, gue belum bisa cerita ini ke elo dulu, gue takut loe syok dan marah, maaf juga gue terpaksa mau menjadi pacar loe, supaya gue lupain Cinta, " lanjutnya.
Kini Vivi berada di halaman parkir mobil, dan menabrak sesuatu, dan lagi-lagi ia harus bertemu dengan Vino, Bos muda itu.
"Napa sih gue harus ketemu sama ELO terus, seharian ini, bikin bete banget" kesal Vivi, dihadapan Vino.
"Itu artinya kita berjodoh Nona Vivi" ucap Vino tanpa dosa.
"Dih ogah ya, loe cowok yang sok" lanjut Vivi.
"Sok apa dulu? " tanya Vivi.
Seseorang dari kejauhan melihat mereka sedang adu mulut, sehingga mobilnya tidak bisa berjalan.
"Hai, kalian kalau mau bertengkar jangan ditengah gini dong, kita semua mau jalan nih" teriak orang itu.
"Ada apa ini, kenapa mobil pada klakson dan berhenti ditengah begitu" tanya seseorang dari belakang mereka.
__ADS_1