
" Dia mau ngapain gue, " lirihnya.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan?" lanjutnya dalam hati.
Pak Bima mendekati Cinta, dan mengusapkan tissu dibibirnya, karena ada sisa makanan disudut pojokan bibirnya.
Cinta tersentak kaget, dengan tindakan Pak Bima yang mengusapkan tissu dibibirnya.
"Ehem, " Cinta berdehem malu.
Pak Bima pun menghentikannya, dan tersenyum melihat Cinta yang begitu polosnya.
Tak ada make up tebal, yang ada hanya lipgloss dan bedak tipis tipis.
Namun tetap terlihat cantik dan tak bosan untuk di pandang mata.
" Maafkan aku ya, " Pak Bima mengulurkan tangannya.
" Untuk...." Cinta menggantung ucapannya.
" Untuk yang tadi, sikap Gisel yang masih agresif sama saya, apakah kamu marah? " tanya Bima, tangannya masih mengulur.
Cinta diam sesaat, dan tersenyum manis di depannya.
Pak Bima mengerutkan keningnya tak paham.
" Kerjain dulu aja kali yaaaa" Cinta tertawa sendiri dalam hati, kali ini Cinta ingin mengerjainya, guna ingin tahu, apakah Pak Bima beneran cinta dan sayang dengannya.
" Gue masih kesal ya Pak, sama Pak Bima, emang gak bisa gitu menghindari cewek agresif itu! " ketus Cinta.
" Dia erat banget meluknya Cin, " ujar Pak Bima.
"Oh, jadi Pak Bima seneng ya, dipeluk peluk erat gitu sama Gisel, " sindir Cinta.
Pak Bima pun tetap merayu Cinta yang masih cemberut.
" Padahal gue belum suka banget sama dia, tapi kok gue berasa kek gimana gitu, " gumamnya dalam hati, bersedih dan kecewa.
Cinta pun, langsung pergi dan meninggalkan Pak Bima yang masih menikmati makanannya.
Tapi dengan cepat Pak Bima langsung menarik lengannya, sehingga Cinta jatuh di pangkuan Pak Bima.
Pak Bima pun tersenyum, namun Cinta menahan malu dan pura-pura memukul lengannya.
" Udah, duduk yang anteng di sini, atau saya cium kamu lagi, hem, " bisik Pak Bima, ketika masih dipangkuannya, Cinta pun bergidik ngeri mendengar bisik itu.
" Malu Pak, ini ditempat umum, masa iya kayak begini sih, " sungut Cinta. Wajahnya cemberut dan bibirnya manyun manyun.
"Oh, jadi kalau dirumah kamu atau aku, boleh begini, hem" Pak Bima menjebak Cinta.
" bu- bukan begitu Pak," gugup Cinta.
__ADS_1
Cinta pun menoleh ke belakang, tepat di wajah Pak Bima. Membuat Pak Bima tersenyum gemas melihat tunangan kecilnya seperti itu.
Beginilah nasib dan resiko memiliki tunangan masih SMA.
Harus banyak sabar menghadapi sikapnya yang masih labil.
Kemudian, Cinta berdiri dari pangkuan Pak Bima.
Dan duduk lagi di samping Pak Bima, untuk menemani Pak Bima menghabiskan makanannya.
" Ok, gue tungguin Pak Bima, sampai makanannya habis tak tersisa, jangan lupa piring dan gelasnya juga dihabiskan! " ketus Cinta.
Pak Bima tak menyauti perkataan Cinta yang tak masuk akal itu.
Dan dengan cepat Pak Bima segera menghabiskan makanannya.
Agar bisa mengantarkan Cinta pulang ke rumahnya.
Sinta masih menunggu Kakaknya, karena Taxi belum juga lewat, angkot juga belum ada.
" Haloooooo, Kak, Kakak dimana sih, cepetan dong jemput, Sinta belum naik Taxi ataupun angkot umum lainnya!!!" teriak Sinta.
" Iya, sayang bentar, masalah Kakak disini mau selesai, tunggu Kakak ya" ujar Surya, sedikit cemas sebab adiknya belum juga pulang.
Sinta bolak-balik tak karuan, namun alhasil ada Arya datang dari arah seberang.
"Itu kan Sinta, ngapain dia di sana sendirian, " gumamnya.
Kemudian, Arya belok arah, dan mendekati Sinta yang masih di Halte seorang diri.
Membuat Sinta pangling dan tidak mengenalinya.
Bahkan, tidak menjawab sapaan dari Arya.
" Hai, kok diam saja, ini aku Arya, Sin, " ujarnya, kemudian Arya membuka helmnya.
Sinta melongo melihat penampilan Arya, yang sangat keren sekali tidak seperti biasanya, kalem.
" Kenapa kamu lihat aku kayak gitu, Sin." Ucapnya.
Sinta gugup, tak bisa berkata apa apa, hanya bisa terkagum melihat penampilan Arya yang menggunakan sepeda motor sportnya.
Keren, cool dan begitu tampan.
"Ya ampun beneran ini kamu Ar,? gue tak percaya itu kamu, biasanya kamu gak kayak gini" Sinta masih terpesona dengan Arya.
"Kamu menunggu siapa? " tanya Arya.
" Nungguin kakak gue, tapi lama banget, katanya, lagi ada masalah dijalan." Jawabnya.
"Aku anterin kamu boleh? " Arya menawarkan dirinya untuk mengantarkan Sinta pulang.
__ADS_1
" Tidak usah Ar, terimakasih atas ajakannya" tolak Sinta halus.
"Ya sudah, aku akan temani kamu saja, sampe jemputannya datang, kasihan kamu sendirian, takut terjadi sesuatu sama kamu bagaimana" Arya pun, duduk disamping Sinta agak berjauhan.
Arya tidak tega meninggalkan Sinta seorang diri, apalagi Sinta adalah perempuan.
" Mel, udah dulu ya, aku mau jemput adik aku dulu, udah kan tanggungjawab aku sama kamu,ok? " tanya Surya. Dan mau pamit untuk menjemput adiknya, yang tidak lain adalah sahabat mereka sendiri yaitu Sinta.
" Loh, gak bisa gitu dong, celana gue bagaimana, loe harus ganti!" ketus Ime.
" Itu gampang, tinggal kamu cuci saja kan" Surya pun buru buru setengah berlari menuju ke mobilnya.
Lalu dengan cepat melajukan mobilnya sedikit mengebut.
" Gila ya tuh cowok, main pergi aja, urusan celana bagaimana dong Vi," rengek Imel.
" Bener kata cowok tadi, tinggal elo cuci aja, " balas Vivi.
Vivi gak tahu aja rencananya.
Seeeeett...
Surya mendadak ngerem di depan Sinta yang masih di Halte.
Namun, Surya mengerutkan keningnya, siapa cowok yang berada duduk di samping adiknya.
" Dek, maafin Kakak ya, " Surya meminta maaf pada Sinta adiknya.
Kemudian, Surya menatap ke arah Arya, yang menurutnya seperti kenal, dan pernah bertemu.
" Kamu siapa? " tanya Surya.
" Aku Arya Kak, " jawabnya.
" Seperti pernah ketemu, tapi dimana ya" Surya berfikir.
" Iya Kak, kita pernah ketemu, dulu waktu masih di Pesantren, Kakak kan yang menjenguk Sinta, dan yang bertemu dengan Kakak itu adalah aku." Arya menjelaskan.
"Oh, itu kamu, tampan juga ya kamu, pantesan adik saya sering menceritakan kamu dulu, " ucap Surya tanpa dosa. Sinta yang mendengar Kakaknya bercerit seperti itu membuat Sinta melotot ke arah Kakaknya, dan malu untuk melihat ke arah Arya, yang ternyata Arya tersenyum melirik ke arah Sinta.
Melihat adiknya dan Arya saling tersenyum malu, membuat Surya terkekeh geli, melihat tingkah parah Abege.
" Udah senyum senyumnya" Surya mengagetkan Sinta dan Arya.
"Apaan sih Kak" Sinta malu.
"Oh iya, kalau begitu saya dan Sinta pamit pulang dulu ya Ar, kamu mau ikut bersama kami atau disini saja, " pamit Surya, ketika Sinta sudah berada di dalam mobilnya.
" Tidak, Kak, terimakasih, aku disini saja dulu, setelah itu saya juga mau balik ke rumah, " imbuhnya.
" Ya sudah, kita pergi dulu ya" ucap Surya, meninggalkan Arya, yang masih berada di Halte.
__ADS_1
Sinta melambaikan tangannya dari luar jendela, karena jendela mobil dibuka separuh.
Arya pun melambaikan tangannya juga, dan tersenyum senang, sebab hari ini bisa menemani Sinta berduaan, meskipun di tempat umum, namun setidaknya bisa berlama-lama dengannya.