
" Ayah" lirih Vivi.
"Kalian kenapa, kasihan tuh mereka mau lewat" omel Ayah Vivi, sambil membuka kacamata min nya, dan menyuruh Vivi untuk mundur atau maju.
"Ish, gara-gara dia gue kena omel Ayah" gerutunya, sambil memarkirkan mobilnya.
Begitup Vino, langsung membenarkan posisi mobilnya.
Kemudian pergi dari area parkir, setelah dirasa aman, Vino membuka pintu mobilnya, dan mendekati Alvin Ayah Vivi, untuk meminta maaf.
"Maaf Tuan Alvin, saya membuat Anda marah" Vino menunduk sopan.
"Oh, tidak apa, maafkan anak saya juga Tuan Muda, " Alvin pun merasa bersalah.
Vino hanya tersenyum, dan mengangguk paham.
Kini Vino pamit pulang duluan, sebab urusannya sudah selesai, dan Vino akan mempersiapkan pernikahannya secepatnya.
" Bos, anda yakin akan memilih wanita pecicilan seperti dia, kayaknya saya ragu deh Bos " ucap Asisten pribadinya.
"Aku sangat yakin, meskipun sekarang dia masih punya pacar, " ujarnya.
Vino masih terbayang-bayang wajah galak Vivi dan begitu berisiknya Vivi, tapi Vino tertarik dengan dirinya seakan menantang.
Kembali ke kisah Cinta, Bima, dan Tian anak pertama Cinta dan Bima.
"Mama dan Papa kemana sih, kok belum pada pulang sih, ini lagi Bapaknya Tian, belum juga pulang. Duh khawatir nih" Cinta tidak tenang, bolak balik di depan pintu ruang tamu, sambil menggendong Tian.
Dari arah dalam dapur, si Bibi melihat Cinta sedang bolak-balik, jadi Bibi mendekati Cinta dan menawarkan diri untuk menggendong Tian.
Beruntung Tian mau sama Bibi, hingga Cinta bisa duduk di sofa dengan lega.
Cinta mengambil ponselnya yang ia tinggal di dalam kamarnya.
"Bi, Cinta mau mengambil handphone dulu ya" ijin Cinta pada Bibi.
Cinta melihat kearah ponselnya, dan tak disangka Papahnya menelponnya sampai berkali-kali, namun Cinta tidak mendengarnya.
Dan ada pesan di aplikasi hijaunya, ternyata mereka tidak pulang, ingin masa puber kedua.
"Ya ampun mereka beneran masa puber ke dua, tapi gak apa, yang penting mereka bahagia, amin" ucapnya, dan mendoakan kebahagiaan kedua orang tuanya.
Handphone ia bawa lalu, Cinta menelpon sang suami.
"Assalamu'alaikum, Mas pulang jam berapa sih, aku sendirian nih eh bertiga sama Bibi, " sapa Cinta melalui ponselnya
"Walaikumsalam, ya Sayang bentar lagi, ini lagi di jalan mau pulang kok, mau dipesankan apa? " balas Bima, dan menawarkan sesuatu.
Cinta diam sesaat dan berdiskusi dengan Bibi, mau minta dipesankan apa.
__ADS_1
"Bi, Mas Bima bilang mau pesan apa, nanti dibeliin" tanya Cinta pada Bibi.
"Apa aja Non, kan bertanya nya sama Nona bukan sama Bibi" jawab Bibi, yang masih menggendong Tian Pratama.
"Apa aja deh, martabak, bakso ya" lanjut Cinta, bicara di ponselnya.
"Siap Bos" ucap Bima.
"Kalau begitu, sudah dulu ya aku mau beli. Assalamu'alaikum" lanjut Bima, dan menutup sambungan teleponnya.
"Iya, hati-hati ya, Walaikumsalam, " balas Cinta.
Klik... Bunyi sambungan telepon terputus.
Bima pun mencari penjual martabak terlebih dahulu, setelah ketemu sama penjualnya.
Bima berhenti, menepikan mobilnya dipinggir penjual martabak.
"Mang, beli dua ya, coklat dan kacang" pesan Bima pada penjual martabak.
Sambil menunggu, Bima bertemu dengan Vino teman rekan kerjanya.
"Loh Mas Bima ya, apa kabar? " ucap Vino, yang tak sengaja juga beli martabak untuk dirinya sendiri, tanpa ditemani asistennya.
"Mas Vino, alhamdulillah kabar baik, kamu sendiri bagaimana, baru kelihatan nih Bos, " balas Bima.
"Kan kamu di luar Negeri, gimana mau undang kamu, kasihan ongkosnya gede, hihihi" gurau Bima.
"Masih betah melajang Vino, " lanjut Bima.
"Do'ain ya Bim, semoga dia yang terbaik" minta didoakan Bima.
" Wuih udah ada hilal nih kayaknya " ledek Bima, sambil menunggu martabak mereka temu kangen setelah tiga tahun tidak bertemu, Vino teman kuliah, teman sepermainan dan teman nyari jodoh.
"Kapan-kapan kamu main ya kerumah aku, sekalian nengok ponakan kamu, tampan sekali dia, Bapaknya aja kalah sama anak, " ajak Bima pada Vino, dan menyodorkan kartu nama dan alamat rumahnya.
"Tapi itu alamat rumah mertuaku, karena untuk sementara istri saya masih belum pulih, baru lahiran kemarin Vino, kalau dirumah sendirian kan kasihan, maklum masih remaja, " ucap Bima.
"Kamu nikahin dia tidak dalam keadaan kecelakaan kan Mas Bima? " tanya Vino penasaran.
"Tidak lah, aku jaga dia banget tahu, " ucap Bima.
"Dengan Gisel kamu menikah? " tebak Vino, karena yang Vino tahu, Bima cuma dekat dengan Gisel.
"Bukan, makanya ayo main, nanti aku kenalin dengan teman istriku" goda Bima.
Martabak pun sudah jadi, kini menunggu kepunyaan Vino yang belum mateng.
" Tumben tidak ditemani asisten " Bima baru teringat asistennya, karena biasanya Vino pasti seperti sendal kemana-mana berdua.
__ADS_1
" Ini kan jam malam Bimaaaa, Mas Bima, jadi dia pulang, " Vino jadi gemas pada Bima.
"Ya sudah ya, aku pulang dulu, jangan lupa besok mampir, mumpung minggu. " Ujarnya, lalu pergi meninggalkan Vino seorang diri di pedagang martabak.
Setelah martabak sudah ada, kini bakso yang Bima cari. Tepat di pedagang bakso tak sengaja bertemu dengan Vivi, Vivi ditemani oleh asistennya.
"Loh Pak Bima, tumben beli bakso, buat siapa tuh" kepo Vivi.
" Buat Cinta, teman kamu yang cute" ucap Bima, menaikan alisnya.
"Ya deh iya, yang cute secara dia kan istrinya, hem, " ejek Vivi.
"Pak sekalian deh bayarin ya, cuma dua mangkok bakso dan es kok, gak sampe satu lusin kok" rayu Vivi, agar dibayarin bakso yang ia makan.
" Oke" jawab Bima.
Kemudian Vivi dan asistennya pergi, sebelum pergi Bima pesan sesuatu pada Vivi.
"Vi, besok main ke rumah Cinta ya, kasihan dia butuh teman curhat, " alibinya.
"Lihat kondisi aja ya Pak, terimakasih kalau begitu kita pamit pulang duluan, " pamit Vivi.
Bakso dan martabak sudah ada, kini saatnya pulang ke rumah Cinta, pasti Cinta sedang menunggu dirinya.
" Selesai, makanan ini secepatnya harus segera dimakan nih, mumpung masih anget" gumamnya.
Sampai dirumah, Bima melihat anak dan istrinya sedang tertidur dikasur lantai.
Ingin membangunkan tapi tidak tega, maka martabaknya ia simpan dimeja makan.
Dan ikut tertidur dekat dengan Cinta dan Tian.
"Loh, kok dia tidur disini sih, jam berapa ya sekarang, ya ampun jam sebelas, pantesan " Cinta terbangun karena kebelet pipis.
Didapur masih ada Bibi yang sedang membereskan sesuatu, dan Cinta mencium aroma bakso dan martabak yang tadi Bima beli.
"Bi, bau apa ini? seperti bau bakso dan martabak ya, " tanya Cinta.
"Iya, itu ada bakso dan martabak dimeja makan Non, Den Bima menaruhnya disitu, mau membangunkan Non, tapi Den Bima tidak tega" jawab Bibi.
Cinta pun membuka tudung saji dimeja makan, dan memberikan martabak satu bungkus untuk Bibi, karena ada dua bungkus martabak dan dua bungkus bakso.
"Pah, yuk kita main happy an disini, mumpung anak mantu dan cucu tidak ada, kita pacaran lagi kayak dulu, Papah kan selalu sibuk terus" manja Bunga pada suaminya.
" Hemm, kita kemana dulu nih, pantai atau langsung " goda suaminya.
"Kita..... " Bunga sengaja menggantungkan kalimatnya, agar suaminya itu penasaran.
"Apa sih Mah, "
__ADS_1